Pilih Yang Baik Atau Yang Nikmat, Pandangan Kebangsaan Anand Krishna


Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 7

Setiap orang selalu dihadapkan pada pilihan sebelum melakukan sesuatu: melakukannya, tidak melakukannya, atau mengambil pilihan lainnya. Oleh karena itu seseorang harus bertanggungjawab dengan apa pun yang telah dipilihnya. Bahkan jalan kehidupannya ditentukan oleh dirinya sendiri dari akumulasi pilihan-pilihan yang telah dilakukannya. Pada umumnya, orang akan mengulangi apa yang menyenangkannya, menghindari apa yang tidak disenanginya dan cuek atau tidak peduli terhadap sesuatu yang tidak langsung berkaitan dengan dirinya. Akan tetapi berdasarkan intelegensianya, seseorang berani meninggalkan hal yang disenanginya, meninggalkan kebiasaan dalam mengikuti kesenangannya, demi kebaikan dirinya. Itulah sebabnya, para pelajar memilih belajar daripada nonton tivi. Orang memilih makanan tahu tempe sayur meninggalkan makanan lezat berkolesterol tinggi. Orang yang sadar akan menolak memperoleh uang dengan kejahatan, karena percaya pada hukum alam bahwa setiap benih kejahatan akan menghasilkan buah kejahatan kepadanya, saat tanaman kejahatan telah berbuah.

Bapak Anand Krishna dalam buku “Masnawi Buku Kelima, Bersama Jalaluddin Rumi Menemukan Kebenaran Sejati” memberikan pandangan……… Bila disuruh memilih antara “yang baik” dan “yang nikmat” biasanya manusia akan memilih “yang nikmat”. Itu sebabnya, seorang anak harus diberi iming-iming kenikmatan permen, “nasinya dihabiskan dulu”, kalau sudah habis, mama berikan permen”. Permen kenikmatan sesungguhnya hanyalah iming-iming. Tidak penting. Yang penting adalah nasi. Bila masih kecil, pemberian iming-iming masih bisa dipahami. Celakanya, kita semua sudah kebablasan. Sudah dewasa, sudah bukan anak-anak lagi, tetapi masih membutuhkan iming-iming “permen kenikmatan”. Kemudian, demi “permen kenikmatan” kita akan melakukan apa saja. Jangankan nasi, batu pun kita makan. Asal mendapatkan permen. Demi “permen kenikmatan”, kita tega mengorbankan kepentingan orang lain. Kitabersedia memanipulasi apa saja. Agama dan kepercayaan akan kita gadaikan bersama suara nurani………

Anand Krishna adalah seorang penulis buku yang produktif. Sudah lebih dari 150 buah buku baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang sudah diterbitkan. Tokoh yang berteman baik dengan Gus Dur ini bukan pesaing bisnis, pesaing politik maupun pesaing pemandu rohani. Beliau menghargai semua profesi dan berkeyakinan bahwa apa pun profesi seseorang dia dapat mempersembahkan karyanya bagi bangsanya, bagi kemanusiaan dan juga bagi Dia Hyang Maha Memiliki. Seorang mahasiswa, seorang aktivis ataupun dia yang sedang meniti ke dalam diri akan mendapat masukan dari segi nasionalis, internasionalis dan sipritual.

Kita harus membedakan antara yang nikmat dan yang baik, antara kenyamanan dan kebahagiaan. Sandang, pangan, papan, seks, dan sebagainya, sekadar untuk menyamankan kita, dan tidak bisa membahagiakan kita. Tetapi, kenyamanan pun penting. Karena itu, tidak perlu meninggalkan semua itu. Cukup menyadari bahwa apa yang bisa menyamankan belum tentu bisa membahagiakan. Yang bisa membahagiakan manusia hanya Kasih. Karena sifat Kasih yang tak terbatas dan tak bersyarat itu, maka apa yang kita peroleh dari-Nya juga tidak terbatas dan tidak bersyarat. Kasih adalah “sebab”. “Akibat”-nya adalah kebahagiaan sejati…….

Bapak Anand Krishna dalam buku “Panca Aksara Membangkitkan keagamaan dalam diri manusia”, Anand Krishna, Pustaka Bali Post, 2007 menyampaikan…….. Setiap orang, setiap anak manusia, bahkan setiap makhluk, sejak awal mulanya alam ini – sesungguhnya mendambakan satu hal saja. Yaitu: Kebahagiaan Sejati. Ketika otaknya belum cukup berkembang, daya pikir serta intelejensianya masih minim – ia memahami apa yang didambakannya itu sebagai keinginan untuk “sesuatu”. Sesuatu yang “dianggapnya” dapat membahagiakan dirinya. Saat ia belum mampu medefenisikan kebahagiaan. Kenikmatan indera dan kenyamanan tubuh dianggapnya sudah cukup membahagiakan. Dalam perjalanan panjang menuju kebahagiaan, manusia menemukan banyak hal yang membuat tubuhnya menjadi nyaman. Masa yang cukup panjang dilaluinya sebelum ia dapat menyimpulkan bahwa, “Adalah Kebahagiaan Sejati atau Anand yang sedang kucari!” Manusia ingin bahagia, ia mendambakan kebahagiaan. Tetapi, bukanlah kebahagiaan biasa, kebahagiaan sesaat. Ia menginginkan Kebahagiaan yang Kekal, Abadi, Langgeng – Kebahagiaan Sejati. Kebahagiaan yang tak pernah berakhir, tak pernah melentur, tak pernah berkurang. Tak pernah hilang.  Sekali Bahagia, Tetap Bahagia…….

Kita paham bahwa segala kenyamanan tidak akan kita bawa kala kita meninggalkan dunia. Hanya satu yang kita bawa yaitu amal kebaikan. Karena itu pada hakikatnya tak ada manfaatnya mengejar kenyamanan dengan meninggalkan kebaikan. Tidak ada manfaatnya mengejar hal-hal yang semu, yang bersifat sementara dengan mengabaikan hati nurani ketika kita masih memiliki badan. Akan tetapi kebahagiaan bukan berarti bermalas-malasan, bahkan kerja keras demi melayani sesama. Ciri khas Kebahagiaan Sejati adalah aktivitas, kerja nyata, kerja keras, ketekunan, semangat. Ia yang bahagia tidak pernah bemalas-malasan. Mereka yang bermalas-malasan sesungguhnya belum bahagia. Mereka sekedar menikmati buah perbuatan mereka, hasil pekerjaan mereka dimasa lalu. Kenikmatan mereka bersifat sementara. Pikirannya lumpuh, kehendaknya lemah.”

Bapak Anand Krishna pernah memberi nasehat…… Kematian adalah keniscayaan yang tak dapat dihindari. Mau jungkir balik seperti apa pun, setiap yang lahir mesti mati. Apa yang menyertai kita saat itu? Dhammapada 16: 219/220 menjelaskan bahwa saat itu yang menyertai kita “hanyalah” kebaikan yang kita lakukan sepanjang hidup. Bagi Buddha “perbuatan baik” bukanlah sekedar “amal saleh” – tetapi amal-saleh yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Seperti itu juga yang dikatakan oleh Sufi Besar Rumi, bukan sekedar bersedekah, tetapi memastikan bahwa uang yang kita peroleh untuk menjalani hidup dan bersedekah pun kita peroleh dengan cara yang baik, dan tidak menyakiti, mencelakakan, menipu atau memeras orang lain.

Bekal utama pemberdayaan diri adalah kemampuan kita untuk memilih mana yang tepat, dan mana yang tidak tepat. Dalam buku “Shri Sai Satcharita”, Sai das, Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia, 2010 Bapak Anand Krishna menyampaikan………. Dalam hidup ini kita memang selalu berhadapan dengan dua pilihan tersebut, shreya atau preya, yang memuliakan atau yang menyenangkan. Seorang pencari jatidiri hendaknya memilih shreya, atau yang memuliakan. Dan, tidak memilih preya, yang menyenangkan. Preya, yang menyenangkan, adalah pilihan mereka yang masih sepenuhnya berada dalam alam kebendaan. Para bijak selalu memilih “yang memuliakan”. Mereka yang tidak bijak memilih “yang menyenangkan” karena keserakahan dan keterikatan mereka dengan dunia benda……..

Untuk selalu memilih “yang memuliakan” dan tidak sekedar “yang menyenangkan”, Bapak Anand Krishna memberikan solusi bekerja dengan semangat persembahan. Dalam salah satu wejangannya Beliau menyampaikan………. Menurut surat al-Anfaal ayat 29, jika kita bekerja dengan penuh kesadaran akan tujuan dan hasil pekerjaan itu, maka kita hanya menanam benih materi-dunia, dan hasilnya pun pasti sama: materi-dunia. Tapi, jika kita bekerja dengan pekerjaannya tetap sama, tetapi dengan semangat persembahan dan tidak memikirkan hasil materi-dunia, maka kita memperoleh hasil-ganda. Hasil materi-dunia sebagai akibat dari sebab pekerjaan tetaplah kita peroleh, ditambah dengan hasil berkah sebagai akibat dari “niat” – dan hasil itulah yang disebut  furqaan. Furqaan berarti “kemampuan untuk memilah/membedakan”. Farq berarti “beda”, furqaan membedakan. Inilah viveka, bodhichitta. Dengan kemampuan inilah kita baru bisa membedakan antara shreya dan preya. Shreya berarti kemuliaan diri. Preya berarti kenikmatan ragawi. Mereka yang tidak memiliki kemampuan ini jelas karena mereka bekerja dengan niat bekerja, bukan dengan niat persembahan mereka memilih preya. Mereka yang berkarya tanpa pamrih dengan semangat persembahan telah memilih shreya……… Berperanglah melawan napsu rendahan. Walau apa yang kita peroleh lewat napsu rendahan itu menyenangkan dan nikmat atau preya. Dan, terimalah yang kau peroleh dari kesadaran tinggi. Walau perolehan itu awalnya terasa tidak nikmat atau shreya.

Situs artikel terkait:

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Satu Tanggapan

  1. […] Best MoMENT wITH yOUAwal Mula KostPilih Yang Baik Atau Yang Nikmat, Pandangan Kebangsaan Anand Krishna […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: