Jangan Mencari Kambing Hitam, Pandangan Kebangsaan Anand Krishna


Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 9

Jangan main lempar tanggung jawab, jangan menyalahkan orang. Kebiasaan melempar tanggung jawab mengikis rasa percaya diri, demikian pesan Swami Vivekananda pemikir besar idola Bung Karno. Dalam kehidupan berbangsa pun kita sering melempar tanggung jawab. Padahal secara langsung atau pun tidak langsung kita telah memilih para pemimpin dan para wakil rakyat. Bahkan mereka yang berkoalisi dalam memimpin pemerintahan pun menyalahkan koleganya atau pemimpin yang didukung koalisinya. Padahal dia menjadi pemimpin karena adanya dukungan kelompok mereka juga. Munafik, tidak konsisten adalah kata yang tepat untuk kelompok yang tidak bertanggungjawab atas tindakan dukungan mereka. Bila tahu sang pemimpin tidak sesuai dengan platform kelompoknya ya jangan didukung. Tetapi mereka tetap mendukung karena memperoleh kemudahan dan mahar karena memilih pemimpin tertentu. Apakah itu tidak sama dengan ingin memperoleh segala sesuatu dengan menghalalkan segala cara, golek penake dhewe? Beruntung kita punya Jokowi dan Ahok, akan tetapi mereka yang dulu menentangnya dengan cara yang tidak elegan tidak merasa bersalah. Tidakkah mereka merasa bertanggungjawab atas ucapan dan tindakan mereka. Padahal disebutkan akan ada suatu hari dimana mulut dikunci dan seluruh anggota tubuh diminta mempertanggungjawabkan perbuatannya. Beriman hanya di bibir dan tindakanya sudah tidak yakin dengan apa yang diimaninya.

 

Jangan main lempar tanggung jawab, jangan menyalahkan orang. Bapak Anand Krishna dalam buku “Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2002 menyampaikan………. Kurangnya “percaya diri” muncul karena kebiasaan kita mencari kambing hitam. Setiap kali ada yang tidak beres, kita menyalahkan orang lain atau keadaan yang kita anggap kurang bersahabat. Kemudian, ada juga yang akan menyalahkan “nasib”. Masih ada lagi yang beranggapan bahwa ia sedang di-“coba” oleh Tuhan. Mereka yang menyalahkan orang lain, keadaan, nasib atau yang beranggapan bahwa Tuhan sedang men-“coba” dirinya, sebenarnya sedang melarikan diri dari tanggung jawab. Mereka sedang mencari pembenaran. Mereka kurang PD – kurang percaya diri.

 

……..Pahamilah bahwa penderitaan adalah akibat dari perbuatanmu. Ya, penderitaanmu disebabkan olehmu sendiri, olehku, oleh kita semua. Kita semua bertanggung jawab atas pengalaman penderitaan kita yang menyakitkan. Saya rasa adalah suatu kejahatan jika orang disesatkan dengan teori bahwa rasa sakit dan penderitaan itu disebabkan oleh Tuhan yang duduk di singgasana surgawi sedang mencobai kita, selayaknya memberikan ujian seberapa jauh iman kita kepada-Nya. Penjelasan-penjelasan semacam itu yang diberikan oleh para pendeta, pengkhotbah, dan penguasa kita sesungguhnya sangatlah tidak terhormat. Kita sendiri yang menyebabkan segala rasa sakit dan penderitaan kita. Kita harus mengambil tanggung jawab ini sehingga dapat mencari jalan keluar dari penderitaan ini. Berhenti mencari kesalahan dalam diri orang lain. Saya bertanggung jawab atas penderitaan saya, dan karenanya saya harus bekerja untuk mengakhirinya. Seluruh bencana alam ini bukanlah kehendak Tuhan. Bukan ini yang Tuhan kehendaki dari manusia. Tidak. Ini semua salah kita sendiri. Kita telah menyebabkan “pemanasan global”. Naiknya suhu lautan telah menyebabkan berbagai bencana di bumi in], termasuk di negeri kita tercinta ini. Dan kitalah yang membuat suhu tersebut naik. Kita telah menyiksa Ibu Alam kita. Kita telah menghina lingkungan hidup dan merusak seluruh ekosistem. Kini hasilnya sangatlah jelas untuk kita lihat bersama. Sekarang, hanya sekitar 0.5% – 1% kenaikan suhu permukaan laut… dan bencana yang telah terjadi sungguh dahsyat. Kita tidak berani membayangkan apa jadinya kalau suhunya naik lebih banyak lagi. Jika kita tidak melakukan apa pun, maka 2000 pulau di kepulauan Nusantara kita tercinta ini akan tenggelam akibat pemanasan global, sebagaimana ditayangkan oleh voice of America dan disiarkan kembali oleh salah satu televisi swasta di negeri ini, Metro TV, pada tanggal 5 Februari 2007 yang lalu. Alasan mereka sangat klise: hal itu akan menyebabkan gangguan dan pengangguran pada industri mereka. Maaf, tapi saya pikir alasan itu sangatlah tidak cerdas. Apa gunanya seluruh industri dan lapangan kerja itu jika kita kehilangan planet ini? Kita harus secara serius berpikir, berkontemplasi, dan menangani masalah ini dengan lebih bijaksana, dengan lebih cerdas. Baik negara maju maupun negara berkembang harus sadar bahwa apa yang mereka lakukan tidak hanya memengaruhi diri mereka sendiri; tindakan mereka itu juga memengaruhi seluruh dunia. Demi yang namanya “pembangunan”, kita tidak bisa kehilangan planet ini. Kita tidak bisa menyebabkan punahnya begitu banyak populasi di dunia ini. Semua pembangunan material, kesuksesan, dan kemajuan yang kita miliki tidaklah ada artinya jika kita tidak punya lagi planet ini, rumah di mana kita tinggal……. Demikian pesan Bapak Anand Krishna dalam buku “Think In These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa”, Anand Krishna, Koperasi Global Anand Krishna, Bali, 2008.

 

Setiap aksi menimbulkan reaksi yang setimpal. Ini merupakan hukum alam. Setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya. Setiap orang bertanggung jawab terhadap alam, terhadap keberadaan – terhadap Tuhan. Leluhur kita berpesan…. siapa yang menanam benih akan menuai pada waktunya. Menanam benih padi akan memetik tiga setengah bulan lagi. Menanam benih mangga akan memetik 6 tahun lagi, menanam pohon jati akan menuai 25-50 tahun lagi. Akan tetapi kita diberi nasehat tanamlah pohon kebaikan walaupun kita sudah uzur, berbuatlah baik se akan-akan kita hidup selamanya.  Siapa yang tahu benih ucapan dan tindakan kita akan dituai kapan? Hukum sebab-akibat selaras dengan alam.

 

Dalam buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh  Anand Krishna”, Gramedia Pustaka Utama, 2010 Bapak Anand Krishna menyampaikan…….. Hukum Sebab-Akibat tidak bisa tidak dikaitkan dengan Reinkarnasi, atau Tumimbal-Lahir. Hukum inilah yang menjelaskan kenapa sebagian di antara kita lahir dalam keluarga baik, sebagian dalam keluarga kurang baik, dan sebagian dalam keluarga di mana sulit mengembangkan potensi diri. Hukum Karma dan Reinkarnasi menjelaskan kenapa seorang anak lahir cacat dan dalam keluarga miskin pula, sementara anak lain lahir dalam keluarga kaya-raya di mana segala kebutuhan bahkan kenyamanan hidup tersedia. Kelahiran kita “kini” adalah hasil dari perbuatan kita di masa lalu. Namun, tidak berarti kita tidak berdaya, dan mesti menerima “nasib” untuk selamanya. Tidak demikian. Di sinilah, kadang Hukum Karma tidak dipahami atau malah disalahpahami. Kelahiran kita dalam keluarga miskin tidak berarti kita mesti hidup sebagai orang miskin hingga akhir hayat. Atau, jika kita lahir dalam keluarga yang tidak berpendidikan berarti kita tidak bisa atau tidak boleh menimba ilmu. Tidak seperti itu. Kita lahir dalam keluarga miskin dan/atau tidak berpendidikan, itu adalah hasil ulah kita di masa lalu. Tapi, hidup kita selanjutnya sepenuhnya tergantung pada kemauan kita sendiri. Kita bisa memastikan hari esok yang lebih baik dengan berbuat baik hari ini. Demikian, sesungguhnya Hukum Karma adalah Hukum Penuh Harapan. Hukum Karma bukanlah Hukum Fatalistis – Hukum Tanpa Harapan – sebagaimana sering digambarkan oleh mereka yang tidak memahaminya. Hukum Karma justru adalah Hukum Penuh Harapan. Hukum Karma membuat kita bertanggung jawab atas perbuatan kita sendiri. Tuhan Maha Bijaksana dan Maha Menyaksikan. la tidak menghakimi dan menghukum kita. Kita mengalami suka dan duka karena perbuatan kita sendiri……..

 

Kita sekarang melihat pemerintah kita sibuk dan dibuat sibuk dengan sekian banyak persoalan, dan para pendidik kita, para budayawan kita memiliki agenda masing-masing. Kita harus memulai dari diri sendiri. Ini yang agak sulit. Karena kita mempunyai mitos dan berpikir kalau kita mempunyai kekuasaan, baru kita bisa mempengaruhi orang-orang. Pertama-tama ini adalah mitos yang harus kita gugurkan dahulu. Mahatma Gandhi tidak mempunyai kekuasaan, Nabi Muhamad, Nabi Isa, Swami viekananda tidak mempunyai kekuasaan. Semua orang-orang ini tidak mempunyai kekuasaan. Mereka muncul dengan kesadaran mereka dan setelah itu baru orang mendengar mereka. Jangan salahkan keadaan, percaya diri dan mulai berubah……

 

Situs artikel terkait:

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: