Tangan Yang Melayani Lebih Suci Dari Bibir Yang Berdoa Pandangan Kebangsaan Anand Krishna


Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 8

Bapak Anand Krishna pernah mengunggah sebuah video dari Youtube yang dilengkapi teks bahasa Inggris di status FBnya. Terjemahan bebas dari nyanyian tersebut sangat menyentuh hati………

…Aku pergi ke tempat ibadah dan berdoa kepada Tuhan, sementara aku berdoa tiba-tiba aku berpikir, kepada ibu dan bapakku saja aku tidak pernah melakukan pelayanan tanpa pamrih, lalu apa gunanya berdoa kepada Tuhan?…………….

…Aku pergi ke sebuah pengajian untuk belajar tentang Tuhan dan aku mendengarkan ajaran suci, sementara aku mendengar ajaran suci tiba-tiba aku berpikir, meskipun aku telah lahir sebagai manusia yang disebut mulia, aku tidak pernah melakukan perbuatan mulia yang memberikan kebaikan pada sesama. lalu apa gunanya disebut manusia?……….

…Aku telah membaca semua kitab suci, sementara membaca kitab suci tiba-tiba aku berpikir, aku tidak pernah berbagi pengetahuan dengan siapa pun, lalu apa pantas aku disebut bijak?……….

 

Doa adalah semangat di balik upaya. Doa harus mewarnai setiap upaya manusia. Doa mestinya memberi semangat untuk berjuang, untuk menyelesaikan perkara, mencari solusi…….. Doa bukan solusi. Doa adalah semangat di balik upaya manusia. Doa harus ditindaklanjuti dengan upaya.

 

Anand Krishna adalah seorang penulis buku yang produktif. Sudah lebih dari 150 buah buku baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang sudah diterbitkan. Tokoh yang berteman baik dengan Gus Dur ini bukan pesaing bisnis, pesaing politik maupun pesaing pemandu rohani. Beliau menghargai semua profesi dan berkeyakinan bahwa apa pun profesi seseorang dia dapat mempersembahkan karyanya bagi kemanusiaan dan juga mempersembahkan amalnya kepada Dia Hyang Maha Memiliki. Seorang mahasiswa, seorang aktivis ataupun dia yang sedang meniti ke dalam diri akan mendapat masukan dari segi nasionalis, internasionalis dan sipritual.

 

Bapak Anand Krishna memberikan nasehat bahwa melakukan pelayanan lebih mulia daripada berdoa di bibir belaka. Dalam buku “Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2011 Beliau menyampaikan……….. “Hands that Help are Better than Lips that Pray”, “Tangan yang membantu, melayani, lebih baik dari bibir yang berdoa,” demikian teguran Ellen Johnson, seorang aktivis kemanusiaan, yang dilontarkannya kepada Presiden A.S. saat sebagian warga Amerika terkena bencana topan Katrina (tahun 2005). Pasalnya, saat itu Presiden Bush dan Gubernur Louisiana Kathleen Blanco mengajak warga yang terkena musibah untuk berdoa! Ellen gusar: “…. judging from the speed of some relief efforts, officials should be busy working instead of preaching.” Ia mengharapkan para pejabat pemerintah lebih fokus pada pelayanan dan bantuan bagi para korban, yang ternyata terlambat tibanya. Tidak berarti kita menjadi anti-doa, atau anti-ibadah. Tidak sama sekali. Yang dimaksud adalah mempraktekan nilai-nilai keagamaan dengan membantu sesama, apalagi yang sedang menderita dan menjadi korban bencana. Sesungguhnya Ellen Johnson hanya mengutip Robert Green Ingersoll (1833-1899), seorang pemikir asal Amerika yang pertama kali mencucapkan kalimat tersebut, “Hands that Help are Better than Lips that Pray”………. Seorang Guru Spiritual kontemporer, Sri Sathya Sai Baba (lahir1926), merubah kata “better” menjadi “holier”- sepasang tangan yang membantu lebih mulia, lebih suci dari bibir yang sedang berdoa. Para Sufi memiliki ungkapan-ungkapan yang mirip……… Berarti apa? Berarti, nilai pelayanan, nilai kerelawanan, nilai berkarya tanpa pamrih adalah sebuah nilai yang universal, dan menembus segala macam perbedaan di permukaan…….. Sebuah dunia yang damai hanya akan terwujud jika kita semua bersama-sama menjunjung tinggi nilai spiritual yang satu ini. Di dalam nilai inilah tersimpan harapan bagi hari esok yang lebih cerah, harapan bagi seluruh umat manusia, dan bagi kemanusiaan!………

 

Ketika kita menyusahkan orang lain, apakah kita sendiri tidak ikut gelisah? Betapa sering kita terbakar oleh emosi amarah yang muncul dari dalam diri kita sendiri? Sebaliknya, ketika kita terlibat dalam suatu kegiatan amal – terlibat secara fisik, dan tidak hanya menyumbang saja – betapa bahagianya diri kita! Kita tidak bisa lagi berkarya bagi kepentingan, keuntungan, dan kebaikan diri saja. Kita sadar bila apa saja yang kita lakukan berdampak terhadap semesta. Maka, kita menjadi eling – waspada. Kita tidak bisa berperilaku sembrono.

 

Bapak Anand Krishna mengingatkan dalam buku “Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999……… Kepuasan batin yang kita peroleh setelah membantu, melayani orang lain sungguh tak terhingga nilainya. Hanya mementingkan diri sendiri dan bersikap “cuek” terhadap kepentingan orang lain adalah sifat hewani. Naluri hewani yang masih tersisa dalam diri manusia membuat dia bersikap demikian. Mementingkan diri sendiri, tetapi pada saat yang sama peduli juga terhadap kepentingan orang lain adalah sifat manusiawi. Siapa saja bisa bersifat demikian. Seharusnya setiap makhluk yang disebut “manusia”, “insan” bersifat demikian. Demikianlah kodrat manusia. Yang bisa menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi adalah Manusia-Plus. Saya katakan Manusia-Plus, karena banyaknya orang yang “alergi” terhadap istilah “Manusia Ilahi”, “Manusia Allah”. Jangan mempermasalahkan kata, jangan terjebak dalam permainan kata. Yang penting adalah esensinya. Apa pun istilah yang Anda gunakan, dialah Manusia Sejati. Ia telah berhasil mengembangkan potensi dirinya. Ia berada pada lapisan atas kesadaran diri. Dan berada pada lapisan kesadaran tersebut, Anda menjadi “berkah” bagi lingkungan Anda. Berada pada lapisan kesadaran tersebut, Anda menjadi Duta Damai, Utusan Kasih. Kehadiran Anda saja sudah dapat menyejukkan suasana……

 

Pada prinsipnya, apapun yang kita lakukan, pikirkan kepentingan orang lain juga. Jika kita tidak bisa membantu, setidaknya janganlah sekali-kali kita mencelakai orang lain. Jangan sampai usaha kita, pekerjaan kita, bisnis kita, berkembang dan menjadi besar di atas landasan penderitaan orang lain. Kita jangan hanya memikirkan kepentingan pribadi dan tidak peduli dengan akibatnya pada orang lain.

 

Bapak Anand Krishna mengingatkan dalam buku “Voice of Indonesia” bahwa kebajikan dimulai di luar rumah kita, yang terjemahan bebasnya………. Apa yang kita lakukan untuk kebutuhan kita, untuk rumah kita – tidak dapat dikategorikan sebagai kebajikan sama sekali. Itu sudah merupakan kewajiban kita, sudah merupakan tanggung jawab kita. Maka dari itu amal tidak dimulai di rumah. Kebajikan harus dimulai di luar rumah kita. Kebajikan lahir dari rasa belas kasihan terhadap mereka yang bukan merupakan saudara dan kerabat kita, orang yang asing bagi kita, orang yang tidak kita kenal secara pribadi.…. tetapi bagi mereka yang menderita, mereka yang membutuhkan pelayanan kita. Dengan melakukan kebijakan terhadap anggota keluarga kita, kita tidak membuktikan apapun. Bahkan kita telah menodai hubungan yang ada diantara kita sebagai anggota keluarga. Apa yang saya lakukan pada mereka adalah kewajiban saya kepada keluarga – tidak lebih dari itu. Dan ada waktunya kewajiban itu berakhir. Sebagai contoh Anda tidak berkewajiban untuk membiayai anak anda seumur hidupnya. Pada umur tertentu mereka harus berusaha untuk membiayai hidupnya sendiri. Kebajikan adalah semacam persembahan cinta yang dilakukan bukan karena kewajiban. Ketika Anda tidak berkewajiban untuk melakukan apapun, dan Anda tetap melakukannya – maka anda melakukan kebajikan. Sebuah sistem kepercayaan yang membuat anda berkewajiban untuk melakukan kewajiban, sebenarnya membentuk rasa kewajiban anda. Tidak sebuah sistem kepercayaan manapun yang dapat melahirkan hati yang dipenuhi rasa kebajikan. Seorang yang penuh rasa kebajikan tidak diharuskan untuk melakukan sebuah tindakan kewajiban. Dia tidak tergiur oleh kenikmatan surgawi setelah kematiannya. Dia tidak mempunyai pamrih apapun, pamrih apapun didalam dirinya untuk melakukan tindakan kebijakan………

 

Situs artikel terkait:

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: