Penjajahan Lewat Perobohan Nilai Budaya Bangsa, Pandangan Kebangsaan Anand Krishna


Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 10

Upaya-upaya Devide et Impera Modern terhadap kesatuan bangsa adalah dengan memasukkan virus untuk merusak seluruh program DNA manusia Indonesia. Hard disk di DNA kita disusupi virus-virus dan semua data-data penting tentang kemampuan membangun peradaban yang adiluhung seperti yang terjadi di masa silam “terancam hilang” karena terkorup virus ketidakhormatan terhadap Budaya dan Jatidiri Bangsa. Dengan menjunjung budaya asing sebenarnya kita bangsa kita telah mulai terjajah. Demikian awal sebuah bangsa terjajah.

 

Bapak Anand Krishna dalam artikel Negara Merdeka Vs Negara Terjajah dalam situs http://www.aumkar.org/ind/ mengingatkan bangsa Indonesia terhadap Sir Thomas Babington Macaulay (1800-1859), anggota dewan pemerintahan dari Perusahaan India Timur pada tahun 1834-1838, dikutip dari pidatonya yang diberikan pada tanggal 2 Februari 1835…….. “Saya telah berpergian keliling India dan tak pernah melihat satupun pengemis atau pencuri. Kekayaan semacam itu saya saksikan di seantero negara ini. Nilai moral, orang sekaliber tersebut, saya tak pernah berpikir bahwa kami dapat menjajah negara ini, kalau kami tidak mematahkan tulang punggung bangsa ini, yakni warisan spiritual dan budayanya. Oleh sebab itu, saya mengusulkan bahwa kami musti mengganti sistem pendidikan lama dan budaya mereka. Karena jika orang India berpikir bahwa budaya asing dan Inggris lebih baik dan lebih hebat dari budaya mereka sendiri, maka mereka akan kehilangan harga diri dan budaya lokal yang asli. Mereka pasti menjadi apa yang kita inginkan, bangsa yang sungguh terjajah.” ……..

 

Membaca kata-kata itu hampir dua abad silam,Bapak Anand Krishna menyadari bahwa Sir Macaulay belum mati. Oleh karena itu, Beliau memakai istilah “sekarang” dan bukan “dulu”. Idenya tetap hidup. Dia masih mempunyai banyak pengikut di seluruh dunia. Berapa dari kita di Indonesia menyadari bahwa hal yang sama tengah terjadi pada kita di zaman modern ini? Kita tak hanya dikepung oleh satu atau dua, tapi begitu banyak Macaulay. Satu perbedaannya: Macaulay yang kondang atau terkenal tersebut berkebangsaan Inggris, putih, sehingga begitu mudah dikenali. Sekarang, genre Macaulay datang dalam pelbagai warna dan bentuk, putih, coklat, merah dan bahkan hitam. Dan, mereka mencabut akar budaya kita dan peradaban leluhur dari segala sudut. Salah satu dari mereka, telah secara intensif menyusupi masyarakat dan sistem sosial kita, sampai-sampai saat ini kita bingung dan tak bisa membedakan mana nilai spiritualitas agama dan mana yang radikalisme agama. Beberapa tokoh di-“pakai” sebagai agen mereka untuk menghancurkan kita dari dalam. Mereka begitu panik dan tak akan meninggalkan satu batu pun tetap pada tempatnya untuk memastikan bahwa mereka telah mendominasi negara seperti kita.

 

Bapak Anand Krishna dalam buku “Surat Cinta Bagi Anak Bangsa”, Anand Krishna, One Earth Media, 2006 menyampaikan……. Seorang teman pernah mempertanyakan tentang budaya dan jatidiri bangsa kita di tengah-tengah imperialisme budaya yang terjadi saat ini. Ia mengingatkan kita bahwa negara dan bangsa ini telah kehilangan budayanya. Tanpa akar budaya yang menjadi jatidiri suatu bangsa, kita menjadi lemah atau tidak berdaya. Budaya adalah dasar yang kita gunakan untuk membangun, untuk mendirikan republik ini. Tanpa dasar budaya yang mempersatuan kita tempo hari, barangkali batas-batas wilayah kita tidak seperti sekarang. Hal ini terlupakan oleh para politisi masa kini yang hanya mementingkan kedudukan mereka. Tanpa dasar budaya yang luhur, let me make it clear, negara ini akan runtuh. Hancur lebur. Gunakan agama sebagai dasar, dan negara ini akan langsung terpecah belah. Dasar atau Saripati Budaya ini yang dirumuskan menjadi kelima butir Pancasila oleh para founding fathers kita. Pertanyaan teman kita membuktikan bahwa kita sudah tidak menghormati kesucian budaya kita sendiri. Kita malah mengagung-agungkan budaya asing……

 

Dalam DNA kita terdapat catatan pengalaman leluhur-leluhur kita zaman Sriwijaya, zaman Majapahit dan genetik bawaan dari pembangun Candi Monumental Borobudur. Zaman dulu dan zaman sekarang ini adalah  satu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan. Perilaku manusia saat dewasa terkait erat dengan perilaku dia sewaktu kecilnya. Sebuah kontinuitas yang melekat. Kearifan kita sudah ada sejak zaman dahulu. Kita perlu mengkoreksi klasifikasi sejarah yang mengkotak-kotakkan Sejarah Bangsa menjadi Zaman Pra Hindu, Zaman Hindu, Zaman Islam, Zaman Penjajahan dan seterusnya. Genetik kita saat ini ada kaitannya dengan masa lalu, tidak dapat dipisah-pisahkan atas dasar kepercayaan yang dianut pada beberapa masa…..

 

Dalam buku Genom, Kisah Species Manusia oleh Matt Ridley terbitan Gramedia 2005, disebutkan bahwa Genom Manusia – seperangkat lengkap gen manusia – hadir dalam paket berisi dua puluh tiga pasangan kromosom yang terpisah-pisah. Genom manusia adalah semacam otobiografi yang tertulis dengan sendirinya – berupa sebuah catatan, dalam bahasa genetis, tentang semua nasib yang pernah dialaminya dan temuan-temuan yang telah diraihnya, yang kemudian menjadi simpul-simpul sejarah species kita serta nenek moyangnya sejak pertama kehidupan di jagad raya. Genom telah menjadi semacam otobiografi untuk species kita yang merekam kejadian-kejadian penting sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kalau genom dibayangkan sebagai buku, maka buku ini berisi 23 Bab, tiap Bab berisi beberapa ribu Gen. Buku ini berisi 1 Milyar kata, atau kira-kira 5.000 buku dengan tebal 400-an halaman. Dan setiap orang mempunyai sebuah buku unik tersendiri……

 

Di Zaman Majapahit yang belum terlalu lama (500-an tahun lalu) belum ada istilah agama. Yang ada keyakinan Buddha, Shiva dan lain-lain. Jadi kalau menggunakan istilah agama untuk peninggalan-peninggalan dimaksud dimana istilah agama sendiri belum dikenal, maka bukan hanya tidak tepat tetapi memaksakan. Memang ada oknum yang dengan sengaja menggunakan sentimen agama tersebut untuk peninggalanan-peninggalan yang seharusnya memang tidak memakai istilah agama tetapi lebih tepat memakai istilah “ siapa penguasa kerajaan saat itu”, tetapi dengan menggunakan istilah agama yang membuat kita menjadi alergi dengan warisan leluhur kita sendiri. Borobudur adalah peninggalan leluhur kita Wangsa Syailendra. Masjid Demak adalah warisan Kerajaan Demak! Politik Devide et Impera jangan lagi membuat kita sebagai Satu  Bangsa pecah karena urusan apa pun, apalagi agama.

 

Semoga kita sadar kondisi bangsa kita yang telah berada dalam keadaan gawat darurat. Ada kelompok yang tidak peduli dengan keutuhan dan kesatuan bangsa. Hal demikian akan dimanfaatkan oleh para Sir Thomas Babington Macaulay dari berbagai warna. Dan, mereka mencabut akar budaya kita dan peradaban leluhur dari segala sudut.

 

Situs artikel terkait:

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: