Menyelesaikan Konflik Perbedaan Lewat Unit Keluarga

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 20

buku jangka-jayabaya-500x500

Negara adalah ibarat keluarga besar. Dan keluarga adalah ibarat negara yang kecil. Seorang kepala keluarga adalah kepala pemerintahan rumahnya. Seorang kepala negara adalah kepala keluarga negaranya………. Untuk menciptakan kerukunan dalam keluarga, kita membutuhkan perekat. Perekat apa yang kita miliki? Harta benda, uang? Seorang istri menghormati suaminya karena ia masih mampu mencari nafkah dan membiayai keluarga. Suami membutuhkan istri untuk menjaga rumah dan merawat anak-anak mereka. Anak pun menghormati orangtua mereka sadar akan ketergantungan pada mereka. Ujung-ujungnya duit, uang, materi. Posisi suami sebagai Pencari Nafkah bisa diganti oleh siapa saja, bahkan oleh istrinya sendiri. Posisi istri sebagai penjaga rumah dan perawat anak dapat digantikan oleh para pembantu. Dan, bagi seorang anak, posisi kedua orangtuanya sebagai sumber dana, sudah pasti berakhir pada suatu hari…… Demikian uraian Bapak Anand Krishna dalam buku “Jangka Jayabaya, Saatnya Bertindak Tanpa Rasa Takut dan Meraih Kejayaan”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005.

 

Sebelum meneruskan mengenai perekat dalam keluarga, kita perlu melihat interaksi yang terjadi dalam keluarga. Dalam sebuah talkshow Bapak Anand Krishna pernah menjelaskan bahwa keluarga berasal dari dua kata (bahasa Sansekerta) “kula” dan “warga”. Kula itu marga, klan. Seperti di Batak ada Panggabean, Panjaitan. Kula berkaitan dengan orang-orang saya yang barangkali agamanya sama, pekerjaannya sama, atau satu garis keturunan. Tetapi ketika kita berbicara warga, bisa berarti warga sedesa. Begitu kita berbicara warga maka ada interaksi dengan orang-orang yang banyak perbedaannya. Kalau kita berbicara dengan warga Indonesia, maka mayoritas beragama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha. Kita berinteraksi dengan orang-orang yang ada perbedaan. Bagaimana kita mengharmoniskan seluruh interaksi ini? Ketika ada perkawinan barangkali satu kula masuk ke kula yang lain, dan disitu ada perbedaan, terjadi interaksi,ada take and give, bagaimana kita mengakomodir perbedaan. Kalau itu terjadi maka akan terjadi keharmonisan. Interaksi antara suami istri tidak lepas dari ego masing-masing.Bagaimana meredam ego? Harus bisamengakomodir perbedaan. Itu penting sekali. Tetapi Beliau bertanya sedikit lebih jauh. Apakah keluarga itu hanya suami, istri dan anak? Celakanya sekarang tidak demikian. Berapa jam anak kita bersama kita, berapa jam bersama pembantu, berapa jam bersama TV. Pengaruhnya luar biasa. Keluarga tidak bisa kita batasi dengan bapak dan ibu saja. Perubahan yang terjadi cepat sekali. Pada zaman dulu tidak ada play station sehingga anak-anak harus berinteraksi sejak kecil dengan anak-anak yang status sosialnya berbeda, dan barangkali dari marga lain. Sehingga sudah terjadi interaksi sejak kecil. Sekarang sebatas jam sekolah dan saat mau masuk sekolah, sehingga anak kurang berinteraksi, lebih sering masuk kamar dan kutak-kutik dengan komputer, nonton TV sehingga tidak punya kesempatan melihat perbedaan dan belajar bagaimana menyesuaikan perbedaan.

 

Bapak Anand Krishna menambahkan bahwa pada zaman modern ini, kadang kita hidup bersama tapi tidak terjadi interaksi. Beliau mengingatkan bahwa kita harus kembali pada konsep dasar “keluarga besar”. Sekarang ini kita mengikuti konsep Barat dan keluarga kita semakin sempit. Beliau mengambil contoh temannya di Amerika bercerita bahwa orang tuanya di taruh di panti jompo, dia membayar untuk itu dan kemudian anaknya dia taruh di panti anak, juga dengan membayar. Padahal yang demikian bisa dilakukan di rumah. Bagaimana kita memanfaatkan grand mother-grand father untuk menjaga cucu-cucunya dirumah. Itu memberikan motivasi kepada mereka sehingga lebih bergairah menghadapi kehidupan ini. Baca lebih lanjut

Iklan

Jangka Jayabaya dan Upaya Memutus Siklus Perbudakan Bangsa

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 19

buku jangka-jayabaya-500x500

Bagi Seniman WS Rendra, meskipun Negara Indonesia adalah negara merdeka , tetapi Rakyat Indonesia , atau Bangsa Indonesia , belum merdeka. Adapun para penguasa yang membelenggu adalah Pemerintah dan semua partai politik yang ada . Adalah kenyataan kebudayaan sejak dari zaman raja-raja , zaman kolonialisme Belanda , kolonialisme Jepang , penjajahan rezim Orde Lama dan penjajahan rezim Orde Baru, rakyat Indonesia tidak pernah menjadi warga negara dengan hak yang penuh untuk bebas berpartisipasi dalam urusan kemasyarakatan, urusan pemerintahan dan urusan kenegaraan……….. Di zaman raja-raja dan kolonialisme Belanda , rakyat adalah “kawulo” atau hamba Sang Raja . Di zaman kolonialisme Jepang rakyat adalah barisan massa budak yang harus membantu Dai Nippon dalam perang antar imperialis yang disebut Perang Dunia ll. Sedang di zaman rezim Orde Lama, rakyat adalah massa revolusi dan bagi partai-partai politik rakyat sekadar dianggap sebagai barisan massa partai . Kemudian di zaman penjajahan rezim Orde Baru Pemerintah menganggap mereka sebagai massa pembangunan yang harus mendapatkan penataran-penataran…….. Gerakan reformasi telah terjadi. Namun, sejak permulaan Gerakan Reformasi sampai kini, kekuatan rakyat, kedaulatan rakyat, kemerdekaan rakyat tidak pernah diperjuangkan secara konkrit dan eksplisit oleh para elite politik di DPR, MPR. Yang secara getol diperjuangkan oleh para elite politik adalah posisi dan kekuatan partai-partai politik dan golongan. Bukan kedaulatan Rakyat…….. Demikian pandangan WS Rendra Seniman Besar dalam Buku “Rakyat Belum Merdeka” pada awal tahun 2000 yang sampai sekarang pun masih terasa valid. Berarti selama 12 tahun hanya sedikit sekali kemajuan yang kita capai dalam hal kedaulatan rakyat. Rakyat seperti dalam perbudakan, hanya ganti penguasa dan ganti system saja.

 

Bapak Anand Krishna memberi semangat untuk melepaskan diri dari perbudakan dengan menulis buku “JANGKA JAYABA, Saatnya Bertindak Tanpa Rasa Takut dan Meraih Kejayaan”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005. Beliau mengambil jalur yang jarang ditempuh oleh penafsir buku kuno “Jangka Jayabaya”. Alih-alih menantikan seorang tokoh hebat yang akan memimpin kita, Beliau melihat Jayabaya bicara mengenai kerinduan akan penemuan jatidiri setiap manusia Indonesia. Jangka Jayabaya adalah ajakan untuk mentransformasi diri, mengalahkan ketakutan. Lebih dari sekedar ramalan, naskah kuno ini memaparkan tuntutan waktu supaya kita hidup dalam kekinian, dengan penuh semangat, dan berkarya tanpa rasa takut. Karena itu, kita tak perlu menantikan Herumukti, sebab dia itu adalah kita! Sambut kelahirannya dalam diri kita!

 

Ramalan tentang besok menjadi basi besok lusa, akan tetapi Jangka tidak pernah menjadi basi. Mengikuti hukum alam, jangka senantiasa berubah dan tidak pernah menjadi basi. Perubahan adalah gerakan, dan gerakan adalah pertanda kehidupan. Selama kita masih berubah, masih bergerak, kita masih hidup. Begitu berhenti berubah, berhenti bergerak, kita mati. “Jangka” tidak berarti ramalan. Jangka berarti waktu. “Jangka” adalah waktu yang ikut berubah bersama keberadaan, bersama kita semua. Ramalan boleh jitu, boleh akurat seratus persen, ia tetap menjadi basi. Ramalan hanya menarik bila belum menjadi kenyataan. Bila sudah menjadi kenyataan, ia menjadi bagian dari sejarah. Tidak demikian dengan jangka, dengan jangka jayabaya. Jangka Jayabaya tidak ikut berakhir. Jayabaya, bukanlah ramalan yang dibuat di masa lalu tentang masa depan kita, melainkan “Tuntutan waktu supaya kita hidup dalam kekinian, hidup dengan penuh semangat, berkarya tanpa rasa takut” dan “kemenangan bagi para satria yang telah menaklukan rasa takut”. Baca lebih lanjut

Kita Ini Bangsa Korawa Atau Bangsa Pandawa?

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 18

buku the gita management

Kita dapat memahami bahwa potensi  Pandawa maupun potensi Korawa ada dalam diri kita. Semua tindakan Korawa ada alasannya. Otak, pikiran, ego kita dapat membenarkan alasan tersebut. Akan tetapi kita juga mempunyai “kesadaran” bahwa walaupun ada alasan yang dapat diterima akal, akan tetapi sebetulnya hal tersebut tidak tepat. Bila kita menggunakan nafsu keserakahan sebagai kiblat, maka kita akan menjadi Korawa. Sedangkan bila kita berkiblat kepada Kebenaran, maka kita akan menjadi Pandawa.  Pandawa dan Korawa selalu berperang di dalam diri, dan kita sendirilah yang memilih siapa yang akan menjadi pemenangnya. Semakin banyak warga negara yang memenangkan sifat Korawa, maka kita akan menjadi bangsa Korawa. Semakin banyak warga Negara yang memilih memenangkan sifat Pandawa, kita menjadi bangsa Pandawa. Pilihan di tangan kita.

 

Dalam buku “The Gita Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 Bapak Anand Krishna menyampaikan………… Keterpurukan negeri kita ini dan kebohongan publik yang sering dilakukan oleh para pemimpin kita, terjadi karena kiblat kita yang salah. Kita sudah tidak berkiblat pada Kebenaran, pada Gusti Yang Maha Benar dan Maha Baik adanya. Saat berdoa, hanya badan kita yang menghadap Bait Allah. Pikiran kita berkiblat pada harta benda. Perasaan kita berkiblat pada kenyamanan jasmani dan keuntungan materi bagi diri sendiri, keluarga, dan kelompok sendiri. Bisa saja dalam arena politik menggunakan segala macam cara untuk memenangkan pertarungan. Akan tetapi Keberadaan adalah Kekosongan yang sempurna. Pada waktu kita berteriak di depan goa yang dalam, maka pantulan suara yang sama akan kembali sebagai gema. Demikian pula setiap tindakan penuh tipu muslihat, akhirnya akan kembali pula dengan cara yang sama……. Baca lebih lanjut

Manusia Yang Egoistis Dan Alam Yang Selalu Berbagi

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 17

buku neo spirituality

Dikatakan bahwa manusia adalah makhluk yang paling tinggi derajatnya, apalagi bila dibandingkan dengan hewan. Akan tetapi, kita belum pernah mendengar hewan menumpuk makanannya berlebihan, hewan makan hanya bila lapar, tidak menumpuk makanannya, sedangkan manusia bisa menumpuk hartanya sampai tujuh turunan. Kita belum pernah mendengar hewan sebagai penyebab bencana, akan tetapi manusia merusak hutan lindung penyebab banjir dan longsor. Kita belum pernah mendengar hewan membunuh hewan lainnya kecuali dagingnya akan dimakan, sedangkan manusia banyak membunuh sesama bukan untuk mengkonsumsinya. Penyebab global warming juga bukan hewan. Hewan hidup lebih selaras dengan alam daripada manusia.

 

Bapak Anand Krishna dalam buku “Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan”, Anand Krishna & Dr. Bambang Setiawan Ahli Bedah/Bedah Saraf (Neurosurgeon),  Gramedia Pustaka Utama, Kompas Gramedia, 2010 menyampaikan………. Setelah menjalani proses evolusi yang sangat panjang, manusia berhasil memiliki pikiran (mind), otak (brain), dan pancaindra (senses) yang cukup canggih, melebihi makhluk-makhluk lain di dunia ini. Hal ini merupakan berkah sekaligus serapah bagi dirinya. la memiliki otak dan pancaindra untuk mewujudkan apa yang dikehendakinya termasuk melawan dan menentang hukum alam……… Manusia memiliki kebebasan, baik untuk menyadari kemanuggalannya dengan alam semesta maupun untuk tidak menyadarinya. Ketika ia memilih untuk tidak menyadari kemanunggalannya maka ia berpikir bahwa dirinyalah yang Maha Kuasa dan dapat berbuat apa saja sesuai dengan kehendaknya. la merusak lingkungan, melawan alam, bertindak sesuai dengan keinginannya karena menganggap dirinya sebagai makhluk yang paling hebat, tinggi, spesial, dan berada di atas seluruh makhluk-makhluk lainnya. Jadi manusia memiliki kebebasan untuk memajukan diri atau menghancurkan dirinya sendiri………

 

Manusia yang menuruti keinginannya tanpa mempedulikan manusia lain dan lingkungannya bisa lebih ganas daripada hewan. Kita melihat perang antar manusia, sekelompok manusia menyerang kelompok manusia yang lebih lemah, keganasannya jauh melebihi hewan. Ke-“tidakmanusiawi”-annya di atas hewan. Akan tetapi bagi manusia yang sudah sadar dia diingatkan, “bila kau dipukul balaslah yang setimpal, akan tetapi memaafkan itu perbuatan yang lebih mulia”. Bagi manusia yang sadar juga diingatkan bahwa tangan yang memberi lebih baik dari tangan yang menerima, berbagi lebih baik daripada egois. Bahkan kalau bisa tangan kiri tidak perlu tahu apa yang tangan kanan berikan kepada orang lain. Baca lebih lanjut

Antara Egois dan Kebersamaan

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 16

buku karma yoga 438x720

Di tengah masyarakat, sering dijumpai  beberapa orang yang sangat egois, yang hanya memikirkan kepentingan diri dan keluarganya. Banyak pemimpin yang tidak bertindak sebagai pemimpin yang memikirkan kepentingan umum tetapi hanya melakukan “aji mumpung”. Ada kelompok yang merasa benar sendiri, melakukan kekerasan kepada kelompok masyarakat lain. Mereka semua  bertindak demi kelompoknya dan tidak memikirkan kepentingan masyarakat secara keseluruhan. Mereka yang egois dan merasa benar sendiri telah hidup bagi diri mereka sendiri, dan lupa hidup itu sebenarnya terkait dengan kepentingan keseluruhan.

Bapak Anand Krishna mengingatkan dalam buku “Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2011……. Kemandirian manusia tidaklah membuat dirinya menjadi pulau yang terpisah dari pulau-pulau lain. Kemandirian manusia tidaklah berarti ia bisa hidup sendiri, tanpa saling keterkaitan atau interdependency. Kemandirian manusia tetaplah menjunjung tinggi asas kebersamaan, gotong-royong, dan saling bantu-membantu. Marilah kita menyadari saling keterkaitan kita. Selama ini, barangkali kita beranggapan bahwa setiap manusia adalah pulau terpisah. Kita tidak memiliki badan yang sama, maupun otak atau hati yang sama. Memang tidak. Dan, kelainan-kelainan seperti itu memang menciptakan “kesan terpisah”. Tetapi, jangan lupa bahwa perpisahan seperti itu hanyalah sebuah kesan! Alihkan perhatian dari bagian pulau yang terlihat diatas permukaan laut. Perhatikan laut yang mempersatukan ribuan pulau dan tujuh benua. Bayangkan dasar laut yang mempersatukan seluruh planet bumi……….

Mata bukan bertindak demi kepentingan mata sendiri, tetapi bagi kepentingan keseluruhan tubuh. Kaki bukan berkarya bagi dirinya sendiri, akan tetapi bagi kepentingan keseluruhan tubuh. Mulut mengunyah dan perut mencerna tidak secara egoistis bagi kepentingan mereka sendiri tetapi bagi kepentingan seluruh tubuh. Demikianlah tindakan anggota tubuh adalah bagi kepentingan seluruh anggota tubuh. Tubuh kita adalah satu kesatuan. Pada waktu kita sehat kita akan merasa bahwa kita adalah satu. Akan tetapi pada saat ada bagian tubuh yang sakit, misalnya gigi sedang sakit, kita baru sadar bila  ada bagian tubuh yang sakit. Keterpisahan baru dirasakan saat kita tidak sehat, saat kita sedang sakit. Sehingga bila kita merasa terpisah dengan anggota masyarakat yang lain itu adalah tanda bahwa kita sedang “sakit”. Fisik kita bertindak secara alami, akan tetapi tidak demikian dengan pikiran kita. Dengan patuh buta pada pikiran, kita sering nekat bekerja walau mata sudah “lima watt” dan merasa mengantuk, walau tubuh sudah loyo dan minta istirahat. Demi kenikmatan rasa pengecap di lidah yang dinikmati oleh pikiran, kita sering berlebihan mengkonsumsi makanan lezat yang kurang baik bagi keseluruhan tubuh. Sang lidah pun tidak bersalah, dia telah diperintah oleh pikiran yang menikmati rasa kelezatan. Kita telah menjadi budak pikiran (yang tidak sehat) sehingga melupakan kesehatan tubuh. Baca lebih lanjut

Masih Menjadi Budak Belum Merdeka

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 15

buku telaga pencerahan

Kisah tentang Nabi Musa memerdekakan para budak sudah menjadi legenda. Tekan search images di  Google “legenda nabi musa” dan ribuan gambar kisah sang nabi terpampang di layar monitor. Kita disuguhi kisah para ahli sihir Firaun yang melecehkan Musa yang ingin memerdekakan para budak. Para ahli sihir lupa “mengaca”, tidak introspeksi diri, bahwa mereka telah berkarya demi harta kekayaan dan kedudukan yang dijanjikan Firaun. Mereka lupa bahwa mereka sejatinya adalah budak Firaun, yang hanya mau “mengabdi” jika dibayar, dijanjikan sesuatu. Sebaliknya Musa berkarya untuk kepentingan umum tanpa mementingkan dirinya. Karena para ahli sihir telah lama menjadi budak Firaun, mereka menganggap hal tersebut sebagi hal yang biasa. Mereka menganggap membantu Firaun adalah tugasnya. Mari Kita bertanya kepada diri sendiri, apakah selain memenuhi kebutuhan pribadi kita berkarya demi kepentingan umum? Ataukah hanya mau “berkarya” jika dibayar? Para Hakim Agung yang mengubah hukuman mati gembong narkoba perlu introspeksi, mereka berkarya demi keadilan dan kepentingan masyarakat luas ataukah hanya berkarya jika dibayar ekstra oleh siapa saja. Demikian juga bagi seluruh profesi lainnya. Agar jelas posisi kita sebagai pengikut nabi atau pengikut Firaun?

Dalam buku “Telaga Pencerahan Di Tengah Gurun Kehidupan”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999 Bapak Anand Krishna menyampaikan…….. Perbudakan yang berkepanjangan bisa membisukan nurani manusia. Manusia mulai terbiasa dengan keadaan yang menimpanya. la mulai berkompromi dengan keadaan. la menganggap perbudakan itu sebagai kodratnya. Jangan mengira manusia masa kini sudah sepenuhnya bebas dari perbudakan. Manusia masih budak. la diperbudak oleh ideologi-ideologi semu. la diperbudak oleh dogma-dogma yang sudah usang. Ia diperbudak oleh paham-paham dan kepercayaan-kepercayaan yang sudah kadaluwarsa. Tetapi ia tetap juga membisu. Jiwanya sudah mati. la ibarat bangkai yang kebetulan masih bernapas. Manusia masa lalu masih beruntung. la diperbudak oleh seorang raja atau seorang majikan. Relatif mudah membebaskan manusia dari perbudakan semacam itu. Musa berhasil melakukan hal itu. Keadaan manusia masa kini lebih parah, lebih buruk. la diperbudak oleh suatu sistem-suatu sistem yang membuat dia menjadi mesin……… Musa pasti juga heran melihat keadaan para budak. Mereka menderita, tetapi mereka diam. Mereka tidak berani bicara. Mereka tidak berani memberontak. Kenapa demikian? Karena mereka sudah terbiasa hidup dalam perbudakan. Mereka tidak tahu, kebebasan itu apa. Harus ada seorang Musa, harus ada seseorang yang bebas dan memahami arti kebebasan untuk membuat mereka sadar akan perbudakan mereka. Tugas seorang Musa memang sangat berat. la harus membangunkan mereka, membangkitkan mereka, menghidupkan kembali jiwa mereka yang sudah mati. la harus membuat mereka sadar akan arti kebebasan, nilai kemerdekaan………

Kita juga dalam keadaan yang sama, beberapa kezaliman peradilan kita biarkan, kita manut saja dan berbisik-bisik di belakang, “mereka yang punya wewenang keterlaluan”, tetapi hanya sekedar berbisik dan tidak ada tindakan nyata dari kita. Tidak demikian dengan Dr. Martin Luther King Jr yang pada saat itu melihat ketidakadilan terhadap masyarakat kulit hitam. Beliau berkata: “Kita semua harus tunduk patuh pada hukum manakala hukum itu telah mencerminkan kebenaran dan keadilan. Sebaliknya, jika produk hukum dibuat oleh oknum yang menginjak-injak nilai kebenaran dan keadilan, maka secara moral pula, harus berani melakukan perlawanan”…….. hasilnya sekarang Presiden Obama yang berkulit hitam dipilih menjadi presiden yang kedua kalinya. Kita tidak boleh diam melihat ketidakadilan, kita harus bersuara…… Baca lebih lanjut

Menghormati Perbedaan

Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 14

buku cakrawala sufi 3

Ada sapi berwarna hitam, ada yang berwarna putih, ada pula yang kecokelat-cokelatan, tetapi susu yang mereka berikan berwarna sama, putih. Mereka yang melihat perbedaan karena warna kulit sapi, belum mencicipi susu sapi. Mereka baru melihat sapi. Mereka belum merasakan manfaat susunya. Mereka yang melihat perbedaan tanpa melihat benang merah kesatuan masih berada dalam kesadaran kulit. Gus Dur menyebut benang merah kesatuan sebagai “Kebersamaan Sufi”.

Bapak Anand Krishna pernah bertemu Gus Dur dan menulis pengalamannya dalam buku “Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999. Di bawah ini adalah tulisan Bapak Anand Krishna tentang salah satu pandangan Gus Dur…… “Kebersamaan Sufi” berbeda dari apa yang kita sebut “Demokrasi”. Demokrasi akan selalu memisahkan masyarakat dalam dua kelompok – kelompok mayoritas dan kelompok minoritas. Demokrasi akan menuntut pemungutan suara. Demokrasi akan mementingkan hak-hak mereka yang didukung oleh suara “terbanyak” dan “terkeras”. Demokrasi tidak akan segan-segan menindas hak-hak mereka yang tidak memiliki suara banyak. Kelompok minoritas akan selalu ditindas oleh kelompok mayoritas. Demokrasi sangat tidak bersifat spiritual. Seseorang yang mengaku dirinya “demokrat” sebenarnya juga mengakui bahwa dia “belum” spiritual. Kalau suara terbanyak dan terkeras menghendaki Yesus disalibkan, demokrasi akan merestui penyaliban itu. Apabila suara terkeras menolak Socrates, demokrasi tidak akan berpikir dua kali sebelum meracuninya. Demokrasi akan melindungi kursi kepresidenan seorang Clinton. Apabila 51 orang mengatakan bahwa ia tidak bersalah,suara 49 orang lainnya tidak akan diperhitungkan lagi. Demokrasi sangat-kejam, jelek – dan bukanlah harapan bagi dunia yang damai. Gus Dur bukanlah seorang demokrat. la meyakini sesuatu yang lain. Yang ia yakini adalah “kebersamaan”……….

Apalagi membuat hubungan harmonis antara kelompok mayoritas dan kelompok minoritas, sedangkan dalam diri seorang manusia saja antara pikiran, ucapan dan tindakan belum dapat seirama. Dalam buku “Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2002 Bapak Anand Krishna menyampaikan……. “Persatuan” juga harus diupayakan dalam diri manusia. Persatuan antara pikiran, ucapan dan tindakannya. Dan, untuk mempersatukan ketiga-tiga unsur tersebut – anda membutuhkan bantuan dari “lembaga”, dari “institusi” yang berada di atas mereka. Yaitu, institusi “kesadaran”, lembaga “rasa”. Selama ucapan dan tindakan Anda masih dikendalikan oleh “pikiran”, jiwa Anda tidak akan pernah utuh. Sering kali tindakan Anda tidak akan “klop” dengan ucapan Anda. Demikian, Anda akan berjiwa “jereng”. Kembangkan rasa dalam dirimu. Dan dengar jiwa yang utuh, dengan penuh kesadaran, bertindaklah sesuai tuntunan nurani anda, maka Anda akan berhasil!…… Baca lebih lanjut