Antara Egois dan Kebersamaan


Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 16

buku karma yoga 438x720

Di tengah masyarakat, sering dijumpai  beberapa orang yang sangat egois, yang hanya memikirkan kepentingan diri dan keluarganya. Banyak pemimpin yang tidak bertindak sebagai pemimpin yang memikirkan kepentingan umum tetapi hanya melakukan “aji mumpung”. Ada kelompok yang merasa benar sendiri, melakukan kekerasan kepada kelompok masyarakat lain. Mereka semua  bertindak demi kelompoknya dan tidak memikirkan kepentingan masyarakat secara keseluruhan. Mereka yang egois dan merasa benar sendiri telah hidup bagi diri mereka sendiri, dan lupa hidup itu sebenarnya terkait dengan kepentingan keseluruhan.

Bapak Anand Krishna mengingatkan dalam buku “Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2011……. Kemandirian manusia tidaklah membuat dirinya menjadi pulau yang terpisah dari pulau-pulau lain. Kemandirian manusia tidaklah berarti ia bisa hidup sendiri, tanpa saling keterkaitan atau interdependency. Kemandirian manusia tetaplah menjunjung tinggi asas kebersamaan, gotong-royong, dan saling bantu-membantu. Marilah kita menyadari saling keterkaitan kita. Selama ini, barangkali kita beranggapan bahwa setiap manusia adalah pulau terpisah. Kita tidak memiliki badan yang sama, maupun otak atau hati yang sama. Memang tidak. Dan, kelainan-kelainan seperti itu memang menciptakan “kesan terpisah”. Tetapi, jangan lupa bahwa perpisahan seperti itu hanyalah sebuah kesan! Alihkan perhatian dari bagian pulau yang terlihat diatas permukaan laut. Perhatikan laut yang mempersatukan ribuan pulau dan tujuh benua. Bayangkan dasar laut yang mempersatukan seluruh planet bumi……….

Mata bukan bertindak demi kepentingan mata sendiri, tetapi bagi kepentingan keseluruhan tubuh. Kaki bukan berkarya bagi dirinya sendiri, akan tetapi bagi kepentingan keseluruhan tubuh. Mulut mengunyah dan perut mencerna tidak secara egoistis bagi kepentingan mereka sendiri tetapi bagi kepentingan seluruh tubuh. Demikianlah tindakan anggota tubuh adalah bagi kepentingan seluruh anggota tubuh. Tubuh kita adalah satu kesatuan. Pada waktu kita sehat kita akan merasa bahwa kita adalah satu. Akan tetapi pada saat ada bagian tubuh yang sakit, misalnya gigi sedang sakit, kita baru sadar bila  ada bagian tubuh yang sakit. Keterpisahan baru dirasakan saat kita tidak sehat, saat kita sedang sakit. Sehingga bila kita merasa terpisah dengan anggota masyarakat yang lain itu adalah tanda bahwa kita sedang “sakit”. Fisik kita bertindak secara alami, akan tetapi tidak demikian dengan pikiran kita. Dengan patuh buta pada pikiran, kita sering nekat bekerja walau mata sudah “lima watt” dan merasa mengantuk, walau tubuh sudah loyo dan minta istirahat. Demi kenikmatan rasa pengecap di lidah yang dinikmati oleh pikiran, kita sering berlebihan mengkonsumsi makanan lezat yang kurang baik bagi keseluruhan tubuh. Sang lidah pun tidak bersalah, dia telah diperintah oleh pikiran yang menikmati rasa kelezatan. Kita telah menjadi budak pikiran (yang tidak sehat) sehingga melupakan kesehatan tubuh.

Mari kita belajar pada sel-sel tubuh kita. Kata pakar kesehatan di dalam setiap 1 kg manusia terdapat sekitar 1 trilyun sel. Setiap sel merupakan unit kehidupan tersendiri, dia hidup – lahir untuk menjalankan tugas, dia makan sari-sari makanan yang disupply lewat aliran darah, dia bernafas mengambil oksigen yang dibawa darah, membuang sisa-sisa makanan dan karbon dioksida, dan akhirnya mati. Selanjutnya, akan ada sel baru yang menggantikannya. Dalam tubuh kita ada puluhan trilyunan kehidupan…….. Setiap sel mempunyai intelegensia. Sel darah putih bisa membedakan antara bakteri musuh yang berbahaya dan sari makanan yang bermanfaat. Informasi rasa manis yang ada pada lidah di bawa ke otak melalui barisan ribuan sel syaraf yang bersedia ber-“estafet” mengantarkan informasi. Sel-sel dalam tubuh memahami tugas sel-sel yang lain, saling membantu, bekerjasama bagi keseluruhan. Deepak Chopra memberikan uraian tentang intelegensia sel:

  1. Sel tubuh tidak mementingkan diri sendiri. Sel lebih pendek umurnya daripada umur manusia. Ribuan sel kulit mati setiap harinya. Dalam satu tahun hampir 90 % sel yang mati terbaharui. Setiap sel setuju untuk bekerja demi kesejahteraan keseluruhan. Kesejahteraan individual menjadi nomer dua. Kalau perlu ia rela mati demi melindungi tubuh. Demikian juga sel kekebalan tubuh yang memerangi mikroba yang menyerbu. Sikap mementingkan diri bukan pilihan;
  2. Rasa menyatu. Sebuah sel berhubungan dengan segala sel lainnya. Molekul-molekul utusan berpacu ke mana-mana untuk memberitahu tentang hasrat atau niat. Menarik diri atau menolak berkomunikasi bukanlah pilihan;
  3. Selalu sadar setiap saat. Sel-sel beradaptasi dari saat ke saat. Mereka tetap fleksibel agar dapat memberikan respon terhadap situasi-situasi yang ada. Terperangkap pada kebiasaan kaku bukanlah pilihan;
  4. Menerima keberadaan sel lain. Sel-sel saling mengenal satu sama lain sebagai sama pentingnya. Setiap fungsi dalam tubuh saling tergantung satu dengan lainnya. Berfungsi sendirian bukanlah pilihan;
  5. Selaras dengan keadaan. Sel-sel itu patuh kepada siklus universal berupa istirahat dan aktif. Hal tersebut diekspresikan seperti gerakan hormon, tekanan darah, irama pencernaan yang berfluktuasi. Ekspresi yang paling jelas adalah tidur. Terjadi ketidakberfungsian total apabila kita tidak tidur. Dalam keheningan istirahat, tubuh berinkubasi. Terlalu aktif atau agresif bukanlah pilihan;
  6. Efisien. Sel-sel berfungsi dengan pengeluaran energi yang sekecil mungkin. Umumnya sebuah sel menyimpan hanya tiga detik makanan dan oksigen di dalam dinding selnya. Ia sepenuhnya percaya bahwa dirinya akan dipelihara. Konsumsi makanan, udara atau air yang berlebihan bukanlah pilihan;
  7. Pembentukan ikatan. Karena kesamaan warisan genetika, sel-sel itu tahu bahwa mereka itu pada dasarnya sama. Fakta bahwa sel hati itu beda dengan sel jantung tidak meniadakan kesamaan identitas mereka, yang tidak berubah-ubah. Sel-sel yang sehat tetap terikat dengan sumbernya yang sama. Entah seberapa sering pun mereka terbelah. Menjadi sel buangan bukanlah pilihan;
  8. Memberi. Kegiatan utama sel adalah memberi, yang akan memelihara integritas sel-sel lainnya. Komitmen total terhadap memberi menjadikan menerima itu otomatis. Menumpuk bukan pilihan;
  9. Berbagi. Sel-sel bereproduksi untuk meneruskan pengetahuan, pengalaman dan bakat mereka tanpa menahan apa pun kepada anak-anak mereka. Ini semacam keabadian praktis, tunduk kepada maut di bidang fisik, tetapi mengalahkannya di bidang non fisik. Jurang antara generasi bukan pilihan…….. Bagi tubuh, kualitas hanyalah cara kerja kehidupan. Mereka adalah hasil dari intelegensi kosmos yang mengekspresikan diri selama milyaran tahun sebagai biologi.

Setiap sel memahami bahwa dirinya merupakan unit dari sistem tubuh manusia dan dia bertindak selaras dengan sistem tersebut. Berasal dari satu sel telur yang telah dibuahi dan kemudian berkembang menjadi beraneka anggota tubuh. Walau kemudian berkembang menjadi beraneka ragam, tetapi tetap berkarya demi kesatuan. Sel yang tidak sesuai dengan keselarasan tubuh dinamakan tumor, atau kanker yang bertindak semaunya sendiri, tidak selaras dengan harmoni tubuh. Tumor atau kanker harus dijinakkan atau diangkat agar tidak mengganggu keselarasan hidup secara keseluruhan.

Sudahkah kita belajar dari kehidupan sel tubuh? Sudahkah kita bertindak demi kepentingan keseluruhan? Sudahkah merasa menyatu dengan seluruh kehidupan di bumi, ataukah kita bertindak sesuai kebenaran kita sendiri tanpa memikirkan keselarasan dengan dunia, apakah kita ini merupakan tumor atau kanker bagi kehidupan dunia? Bapak Anand Krishna mengingatkan dalam buku “Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2011……. Berkarya tanpa pamrih pribadi menjadi sangat mudah jika kita memperhatikan napas kehidupan yang mempersatukan kita semua. Tidak ada satu pun makhluk yang bisa hidup tanpa napas. Pepohonan dan tumbuh-tumbuhan pun bernapas. Napas kehidupan itulah faktor pemersatu yang sangat nyata. Sesungguhnya para suci dari setiap tradisi – lahir di belahan dunia mana pun jua – sudah menyerukan kebersamaan. Itulah pesan utama mereka. Baginda Rasul membentuk ummah; Buddha Gotama membangun sangha; Yesus Kristus mendirikan komunitas. Demikian pula dengan para suci lainnya. Dan, mereka semua, tanpa kecuali, menggunakan spiritualitas, esensi keagamaan, laku batin sebagai landasan……..

Situs artikel terkait:

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: