Menghormati Perbedaan


Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 14

buku cakrawala sufi 3

Ada sapi berwarna hitam, ada yang berwarna putih, ada pula yang kecokelat-cokelatan, tetapi susu yang mereka berikan berwarna sama, putih. Mereka yang melihat perbedaan karena warna kulit sapi, belum mencicipi susu sapi. Mereka baru melihat sapi. Mereka belum merasakan manfaat susunya. Mereka yang melihat perbedaan tanpa melihat benang merah kesatuan masih berada dalam kesadaran kulit. Gus Dur menyebut benang merah kesatuan sebagai “Kebersamaan Sufi”.

Bapak Anand Krishna pernah bertemu Gus Dur dan menulis pengalamannya dalam buku “Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999. Di bawah ini adalah tulisan Bapak Anand Krishna tentang salah satu pandangan Gus Dur…… “Kebersamaan Sufi” berbeda dari apa yang kita sebut “Demokrasi”. Demokrasi akan selalu memisahkan masyarakat dalam dua kelompok – kelompok mayoritas dan kelompok minoritas. Demokrasi akan menuntut pemungutan suara. Demokrasi akan mementingkan hak-hak mereka yang didukung oleh suara “terbanyak” dan “terkeras”. Demokrasi tidak akan segan-segan menindas hak-hak mereka yang tidak memiliki suara banyak. Kelompok minoritas akan selalu ditindas oleh kelompok mayoritas. Demokrasi sangat tidak bersifat spiritual. Seseorang yang mengaku dirinya “demokrat” sebenarnya juga mengakui bahwa dia “belum” spiritual. Kalau suara terbanyak dan terkeras menghendaki Yesus disalibkan, demokrasi akan merestui penyaliban itu. Apabila suara terkeras menolak Socrates, demokrasi tidak akan berpikir dua kali sebelum meracuninya. Demokrasi akan melindungi kursi kepresidenan seorang Clinton. Apabila 51 orang mengatakan bahwa ia tidak bersalah,suara 49 orang lainnya tidak akan diperhitungkan lagi. Demokrasi sangat-kejam, jelek – dan bukanlah harapan bagi dunia yang damai. Gus Dur bukanlah seorang demokrat. la meyakini sesuatu yang lain. Yang ia yakini adalah “kebersamaan”……….

Apalagi membuat hubungan harmonis antara kelompok mayoritas dan kelompok minoritas, sedangkan dalam diri seorang manusia saja antara pikiran, ucapan dan tindakan belum dapat seirama. Dalam buku “Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2002 Bapak Anand Krishna menyampaikan……. “Persatuan” juga harus diupayakan dalam diri manusia. Persatuan antara pikiran, ucapan dan tindakannya. Dan, untuk mempersatukan ketiga-tiga unsur tersebut – anda membutuhkan bantuan dari “lembaga”, dari “institusi” yang berada di atas mereka. Yaitu, institusi “kesadaran”, lembaga “rasa”. Selama ucapan dan tindakan Anda masih dikendalikan oleh “pikiran”, jiwa Anda tidak akan pernah utuh. Sering kali tindakan Anda tidak akan “klop” dengan ucapan Anda. Demikian, Anda akan berjiwa “jereng”. Kembangkan rasa dalam dirimu. Dan dengar jiwa yang utuh, dengan penuh kesadaran, bertindaklah sesuai tuntunan nurani anda, maka Anda akan berhasil!……

Para founding fathers kita menerapkan “kesadaran” dan  “rasa” berbangsa untuk mengatasi perbedaan yang ada. Bahwa kita semua bersaudara, bertanah-air satu tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia, berbahasa satu bahasa Indonesia.

Kami pernah mendengar pidato Mbak Alissa Wahid, putri Gus Dur…… Tuhan mengutus Nabi Muhammad SAW untuk menjadi rahmat bagi alam semesta, bukan untuk satu golongan saja. Banyak ayat-ayat Al Quran yang mendukung “kebersamaan”, “Kami telah menciptakan kamu semua dari satu pria dan satu wanita, dan menjadikan kamu pelbagai bangsa dan suku, agar supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di mata Allah adalah orang yang bertaqwa.”…… Alissa Wahid melihat bahwa “kesadaran” dan “rasa” takwa sebagai pemersatu perbedaan. Beliau juga menambahkan bahwa dalam salah satu Hadis Nabi juga disebutkan bahwa sebaik-baiknya manusia ialah orang yang memberi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya….. Selain takwa maka bermanfaat bagi orang-orang di sekitar juga dapat menjadi pemersatu.

Michael Jackson menentang perbedaan black and white karena pada dasarnya kemanusiaan adalah satu. Dalam buku “The Gospel Of Michael Jackson”, Anand Krishna, Anand Krishna Global Co-Operation bekerja sama dengan Yayasan Anand Ashram, 2009 Bapak Anand Krishna menyampaikan…….. Kemanusiaan itu bukan hitam atau putih, atau keduanya. Kemanusiaan adalah satu. Anak adalah anugrah alam, keajaiban dan misteri. “Goresan” DNA berbeda, namun jika kita menilik cukup jauh ke belakang, kita akan temukan kita semua berasal dari satu sumber yang sama. Atom itu satu. Energi juga satu. Sumber segala kehidupan adalah satu. Perbedaan kita adalah geografis. Perbedaan biologis. Tetapi bukan perbedaan yang prinsipil. Pada dasarnya, kita semua satu. Jadi, kembali lagi pada kita. Bagaimana cara pandang kita? Apakah kita menyadari esensi yang satu dan sama, atau kita hanya melihat perbedaan-perbedaan di permukaan? Tiap orang dari kita adalah unik. Ya benar. Tetapi jangan biarkan keunikan ini memisahkan kita. Marilah kita selalu ingat bahwa pada intinya kita semua satu. Marilah kita rayakan keunikan individual kita. Namun janganlah lupa bahwa lantai dansa adalah satu juga. Kita tidak bisa berdansa tanpa lantai dansa  kesatuan ini. Keunikan tarian kita dapat terlihat hanya karena lantai dansa kesatuan. Tanpa lantai dansa ini, tidak mungkin ada tarian. Sesungguhnya, dalamnya inti, tidak ada hitam atau putih. Hitam dan putih tidak lagi menjadi masalah, atau dipandang sama rata. Melalui lagunya, sebenarnya dia sedang mengundang kita untuk masuk ke dalam diri dan menemukan esensi yang sesungguhnya. Dengan segala cara dia mencoba membuat kita memahami. Sayangnya kita tetap tidak mengerti dan dia jadi frustasi………

Mereka yang menganggap suku, agama, rasnya, lebih baik daripada milik orang lain baru “melihat kulit”. Mereka belum menghayati isinya. “Zat Kehidupan” yang ada di dalam diri saya, tidak dapat dibedakan dari “Zat Kehidupan” yang ada di dalam diri Anda. Zat itulah Roh, spirit atau apa pun sebutannya. Pun energi di dalam badan saya tidak beda dari energi di dalam badan Anda. Kesadaran di dalam diri saya tidak beda dari kesadaran di dalam diri Anda…….. Alam tidak mengenal “pengulangan”. Tidak ada dua pohon yang bentuknya persis sama. Tidak ada manusia yang wajah dan perilakunya persis sama. 6 Milyar manusia semuanya mempunyai wajah yang berbeda. Segala sesuatu dalam alam ini sangat “unik”. Jangan mempermasalahkan perbedaan-perbedaan yang ada. Perhatikan hal-hal yang bisa mempersatukan. Perbedaan tidak bisa dihindari. Yang harus kita hindari adalah pertentangan. Pertentangan yang disebabkan oleh kesadaran rendah. Pertentangan yang muncul karena kita mempermasalahkan kulit sapi dan tidak memperhatikan susu sapi.

Dalam buku “Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2002 Bapak Anand Krishna menyampaikan bahwa untuk bekerjasama, maka “aku” saya dan “aku” orang lain harus berubah menjadi “kita”……. Dalam hal kerja sama dengan pihak lain, hormatilah perbedaan-perbedaan yang ada. Temukan “sesuatu” yang dapat mempersatukan, tanpa harus mengorbankan ciri khas masing-masing pihak. Demikian, kau akan berhasil! Setiap individu adalah unik. Sepasang anak kembar yang dilahirkan oleh satu ibu bisa mirip-mirip, tetapi tidak bisa sama persis. Lalu, kalau ingin menjalin kerja sama dengan pihak lain, anda tidak bisa egois. Anda tidak bisa mempertahankan “aku” Anda. Anda harus menghormati “aku” mitra Anda. “Aku” Anda dan “aku” mitra Anda harus berubah menjadi “kita”. Ya, “kita” – di mana kedua “aku” tersebut saling menunjang dan mengisi. Partai-partai yang katanya “reformis” dan katanya pula siap-sedia “bekerja sama” dengan partai-partai lain – tetapi masih ingin mempertahankan apa yang mereka sebut “asas” partai mereka – tidak akan pernah berhasil menjalin kerja sama dengan pihak mana pun juga. Karena, apa yang mereka sebut “asas” itu sudah merupakan “proyeksi” ego mereka. Mereka sudah memiliki “keyakinan” bahwa “asas” yang mereka anut itu terbaik, tertinggi, termulia. Pokoknya “ter” dalam segala bidang. Mereka tidak membuka diri terhadap “kemungkinan-kemungkinan” lain. Mereka tidak bisa menerima keberadaan “yang lain” pada “ketinggian” yang sama. Mereka menganggap “langit”-nya paling tinggi. Sungguh bodoh mereka, karena langit kita satu adanya. Sama tinggi dan sama rendah. Asas-asas yang berbeda itu melahirkan konsep-konsep berbeda, pengertian-pengertian dan kepentingan-kepentingan berbeda. Dan, tertutuplah kemungkinan untuk “kerja sama”………..

Selama kita menggunakan pikiran yang egoistis sebagai pemandu kehidupan dan tidak mempergunakan “kesadaran” dan “rasa”, maka kita tidak akan pemah bisa melihat kesatuan dan persatuan di balik hal-hal yang berbeda. Kita harus berwawasan cukup luas, sehingga dapat menerima pandangan-pandangan yang berbeda. Pada saat yang sama, kita juga harus memiliki kesadaran yang cukup tinggi, sehingga bisa melihat keikaan di balik kebhinekaan…….

Situs artikel terkait:

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: