Jangka Jayabaya dan Upaya Memutus Siklus Perbudakan Bangsa


Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 19

buku jangka-jayabaya-500x500

Bagi Seniman WS Rendra, meskipun Negara Indonesia adalah negara merdeka , tetapi Rakyat Indonesia , atau Bangsa Indonesia , belum merdeka. Adapun para penguasa yang membelenggu adalah Pemerintah dan semua partai politik yang ada . Adalah kenyataan kebudayaan sejak dari zaman raja-raja , zaman kolonialisme Belanda , kolonialisme Jepang , penjajahan rezim Orde Lama dan penjajahan rezim Orde Baru, rakyat Indonesia tidak pernah menjadi warga negara dengan hak yang penuh untuk bebas berpartisipasi dalam urusan kemasyarakatan, urusan pemerintahan dan urusan kenegaraan……….. Di zaman raja-raja dan kolonialisme Belanda , rakyat adalah “kawulo” atau hamba Sang Raja . Di zaman kolonialisme Jepang rakyat adalah barisan massa budak yang harus membantu Dai Nippon dalam perang antar imperialis yang disebut Perang Dunia ll. Sedang di zaman rezim Orde Lama, rakyat adalah massa revolusi dan bagi partai-partai politik rakyat sekadar dianggap sebagai barisan massa partai . Kemudian di zaman penjajahan rezim Orde Baru Pemerintah menganggap mereka sebagai massa pembangunan yang harus mendapatkan penataran-penataran…….. Gerakan reformasi telah terjadi. Namun, sejak permulaan Gerakan Reformasi sampai kini, kekuatan rakyat, kedaulatan rakyat, kemerdekaan rakyat tidak pernah diperjuangkan secara konkrit dan eksplisit oleh para elite politik di DPR, MPR. Yang secara getol diperjuangkan oleh para elite politik adalah posisi dan kekuatan partai-partai politik dan golongan. Bukan kedaulatan Rakyat…….. Demikian pandangan WS Rendra Seniman Besar dalam Buku “Rakyat Belum Merdeka” pada awal tahun 2000 yang sampai sekarang pun masih terasa valid. Berarti selama 12 tahun hanya sedikit sekali kemajuan yang kita capai dalam hal kedaulatan rakyat. Rakyat seperti dalam perbudakan, hanya ganti penguasa dan ganti system saja.

 

Bapak Anand Krishna memberi semangat untuk melepaskan diri dari perbudakan dengan menulis buku “JANGKA JAYABA, Saatnya Bertindak Tanpa Rasa Takut dan Meraih Kejayaan”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005. Beliau mengambil jalur yang jarang ditempuh oleh penafsir buku kuno “Jangka Jayabaya”. Alih-alih menantikan seorang tokoh hebat yang akan memimpin kita, Beliau melihat Jayabaya bicara mengenai kerinduan akan penemuan jatidiri setiap manusia Indonesia. Jangka Jayabaya adalah ajakan untuk mentransformasi diri, mengalahkan ketakutan. Lebih dari sekedar ramalan, naskah kuno ini memaparkan tuntutan waktu supaya kita hidup dalam kekinian, dengan penuh semangat, dan berkarya tanpa rasa takut. Karena itu, kita tak perlu menantikan Herumukti, sebab dia itu adalah kita! Sambut kelahirannya dalam diri kita!

 

Ramalan tentang besok menjadi basi besok lusa, akan tetapi Jangka tidak pernah menjadi basi. Mengikuti hukum alam, jangka senantiasa berubah dan tidak pernah menjadi basi. Perubahan adalah gerakan, dan gerakan adalah pertanda kehidupan. Selama kita masih berubah, masih bergerak, kita masih hidup. Begitu berhenti berubah, berhenti bergerak, kita mati. “Jangka” tidak berarti ramalan. Jangka berarti waktu. “Jangka” adalah waktu yang ikut berubah bersama keberadaan, bersama kita semua. Ramalan boleh jitu, boleh akurat seratus persen, ia tetap menjadi basi. Ramalan hanya menarik bila belum menjadi kenyataan. Bila sudah menjadi kenyataan, ia menjadi bagian dari sejarah. Tidak demikian dengan jangka, dengan jangka jayabaya. Jangka Jayabaya tidak ikut berakhir. Jayabaya, bukanlah ramalan yang dibuat di masa lalu tentang masa depan kita, melainkan “Tuntutan waktu supaya kita hidup dalam kekinian, hidup dengan penuh semangat, berkarya tanpa rasa takut” dan “kemenangan bagi para satria yang telah menaklukan rasa takut”.

 

Bapak Anand Krishna mengajak kita untuk bangkit dalam kesadaran, bangkit untuk berkarya bagi Ibu Pertiwi dengan penuh semangat. Bangkit untuk mempersembahkan jiwa dan raga kepadanya. Dalam buku “JANGKA JAYABA, Saatnya Bertindak Tanpa Rasa Takut dan Meraih Kejayaan”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005, Beliau menyampaikan……… Dunia kita terbagi dalam dua kelompok besar ini. Pertama, kelompok yang malas dan mengharapkan perubahan. Kedua, kelompok yang rajin dan mengakibatkan terjadinya perubahan. Celakanya, kelompok pertama selalu mayoritas. Dominasi mereka tidak pernah surut. Jumlah para pemalas selalu lebih banyak. Banyaknya jumlah pemalas itu telah mempengaruhi seluruh budaya kita. Lebih banyak di antara kita yang “berharap” daripada yang bekerja untuk mewujudkan harapan itu. Para New-Agers adalah kelompok yang paling malas. Dari sebutan New-Agers itu sendiri kita bisa lihat bahwa mereka tergantung pada “age”, pada zaman, pada masa, pada sesuatu yang baru, yang didatangkan oleh zaman baru. Mereka belum paham bahwa pembaharuan itu mesti terjadi dari diri sendiri………..

 

Mengutip Syair Jangka Jayabaya, dalam buku tersebut Beliau menafsirkan…….. Bila telah terlihat tanda-tanda seperti itu: Pertama, kereta tanpa kuda pancaindra merajalela, dan hidup dikuasai oleh kesadaran rendah. Kedua, berkalung besi kita terbelenggu karena ulah sendiri, dan terlilit utang karena keserakahan dan ketakmampuan kita untuk mengendalikan diri. Ketiga, perahu mengarungi di angkasa segala sesuai telah kehilangan ciri kodratinya. Keempat, sungai kehilangan lubuk air kehidupan sudah mengering, raga berkeliaran tanpa roh, penampilan lebih dipentingkan daripada isi; gengsi lebih diutamakan daripada jati diri. Kelima, pasar kehilangan keramaiannya masyarakat kehilangan dinamikanya karena kita tak berani menyuarakan kebenaran, selalu takut dan tidka hidup sepenuhnya…..  Maka ketahuilah bahwa tiba saatnya untuk melampaui rasa takut sebelum ia berhasil mematahkan semangat kita. Dan saat itu bukanlah di masa depan, atau nanti. Saat itu adalah saat ini. Here and now, lampaui rasa takut, dan raihlah kemenangan!……..

 

Bapak Anand Krishna meminta kita semua untuk introspeksi……… Para pemuka agama, urusilah akhlak umat. Untuk apa memasuki dunia politik? Apakah pekerjaan rumahmu sudah selesai? Apakah umatmu sudah cukup berakhlak, bermoral, dan kehidupan sesuai dengan nilai-nilai yang dapat dibanggakan? Para pendidik, urusi anak didikmu demi perkembangan mereka. Tragedi yang menimpa mereka adalah tragedi masa depan kita. Jangan jadikan pendidikan sebagai arena dagang sapi kepentingan politik sempit, yang dalam jangka panjang akan menjadi bumerang yang menghantam dan meluluhlantakkan Indonesia. Para seniman, sudah cukup berbudayakah kau? Atau Cuma sibuk menjual seni? Dengan senimu apakah kamu yakin dengan mengangkat keluhuran masyarakatmu, dan bukannya membawa mereka berkubang dalam nafsu-nafsu rendahnya? Para pengusaha, capailah keluhuranmu dengan menegakkan etika usaha. Dan kalian, para pejabat urusi negeri ini dengan nilai-nilai keadilan dan kebenaran; jangan cuma sibuk dagang sapi demi kepentingan sempitmu yang hanya akan merusak nama baik dan integritasmu. Manusia Indonesia, bertindak dan berkaryalah sesuai dengan kemampuanmu, didorong oleh keluhuran………..

 

Untuk itu Beliau meminta masyarakat untuk bersuara. Masyarakat yang “tak bersuara” adalah masyarakat yang mati, masyarakat yang sudah tidak memiliki semangat hidup. Biarlah masyarakat tetap bersuara. Jangan merampas hak mereka untuk bersuara, karena, jangan lupa, diri kita pun merupakan bagian dari masyarakat yang sama. Merampas hak masyarakat untuk bersuara sama dengan merampas hak kita sendiri untuk bersuara. Barangkali kita tidak merasakan pengaruhnya saat ini, tapi kelak kita pasti merasakannya. Bila kita membungkam, kita pun akan dibungkam. Inilah hukum alam yang tak terelakkan. Masyarakat yang tidak bersuara adalah masyarakat yang hidup dalam ketakutan. Dan, masyarakat yang hidup dalam ketakutan, adalah masyarakat yang bersikap tidak adil terhadap diri sendiri, masyarakat yang melakukan kekerasan terhadap diri sendiri. Masyarakat seperti itu menghancurkan dirinya sendiri………

 

Kelompok penunggu Ratu Adil, penunggu Herumukti, penunggu Satrio Piningit, penunggu berakhirnya zaman Kalabendu, harus mengubah diri. Setelah banyak yang mengubah diri, maka sesuai hukum “Law of Attraction”akan muncul dengan sendirinya pemimpin yang selaras dengan hasrat perubahan……….

 

Situs artikel terkait:

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: