Kita Ini Bangsa Korawa Atau Bangsa Pandawa?


Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 18

buku the gita management

Kita dapat memahami bahwa potensi  Pandawa maupun potensi Korawa ada dalam diri kita. Semua tindakan Korawa ada alasannya. Otak, pikiran, ego kita dapat membenarkan alasan tersebut. Akan tetapi kita juga mempunyai “kesadaran” bahwa walaupun ada alasan yang dapat diterima akal, akan tetapi sebetulnya hal tersebut tidak tepat. Bila kita menggunakan nafsu keserakahan sebagai kiblat, maka kita akan menjadi Korawa. Sedangkan bila kita berkiblat kepada Kebenaran, maka kita akan menjadi Pandawa.  Pandawa dan Korawa selalu berperang di dalam diri, dan kita sendirilah yang memilih siapa yang akan menjadi pemenangnya. Semakin banyak warga negara yang memenangkan sifat Korawa, maka kita akan menjadi bangsa Korawa. Semakin banyak warga Negara yang memilih memenangkan sifat Pandawa, kita menjadi bangsa Pandawa. Pilihan di tangan kita.

 

Dalam buku “The Gita Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 Bapak Anand Krishna menyampaikan………… Keterpurukan negeri kita ini dan kebohongan publik yang sering dilakukan oleh para pemimpin kita, terjadi karena kiblat kita yang salah. Kita sudah tidak berkiblat pada Kebenaran, pada Gusti Yang Maha Benar dan Maha Baik adanya. Saat berdoa, hanya badan kita yang menghadap Bait Allah. Pikiran kita berkiblat pada harta benda. Perasaan kita berkiblat pada kenyamanan jasmani dan keuntungan materi bagi diri sendiri, keluarga, dan kelompok sendiri. Bisa saja dalam arena politik menggunakan segala macam cara untuk memenangkan pertarungan. Akan tetapi Keberadaan adalah Kekosongan yang sempurna. Pada waktu kita berteriak di depan goa yang dalam, maka pantulan suara yang sama akan kembali sebagai gema. Demikian pula setiap tindakan penuh tipu muslihat, akhirnya akan kembali pula dengan cara yang sama…….

 

Leluhur kita menggambarkan bahwa Cakra Sri Krishna akan mengejar terus, ke mana pun juga, sampai pada suatu saat, ketika lengah, cakra akan datang menyelesaikan hukum sebab-akibat. Kita serig lalai saat kita sedang menanam benih kejahatan, karena tindakan kejahatan itu dapat memuaskan keserakahan kita. Akan tetapi benih tersebut menunggu waktu untuk menjadi pohon dan berbuah. Setelah tiba waktunya, buah kejahatan akan jatuh sendiri menimpa diri kita yang telah menanam benihnya.

 

Bapak Anand Krishna menggambarkan Sun Tzu yang menggunakan segala macam cara untuk memperoleh kemenangan. Dalam buku “The Gita Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 Bapak Anand Krishna menyampaikan………… Sun Tzu mewakili manusia primordial, di mana satu-satunya hukum yang berlaku adalah “fight or flight”, melawan untuk keluar sebagai pemenang atau takut dan melarikan diri dari medan perang, menghindari peperangan. Hukum ini membuat manusia kuno, manusia zaman batu dan besi , menjadi keras, alot. Ya, otot-ototnya menjadi kuat, karena ia sering menggunakannya. Ia mesti menggunakannya. Ia harus menaklukkan binatang-binatang di hutan demi keberlangsungan hidupnya. Ia harus membunuh demi keselamatannya. Sun Tzu adalah nabi bagi para Hitler dan Napoleon, bagi para Genghis Khan dan Alexander, bagi para penguasa yang menempatkan kekuasaan di atas segalanya……… Sun Tzu adalah masa lalu manusia. Krishna adalah masa kini dan masa depannya. Sun Tzu masih terjebak dalam kegelapan pikirannya sendiri. Cahaya lilin itu tidak mampu menerangi keseluruhan mind-nya. Krishna adalah Cahaya Matahari yang mampu mengubah pikiran menjadi kesadaran. Adalah energi dari cahaya itu yang menjadi gizi, menjadi vitamin, dan kemudian mengubah sifat pikiran yang keras menjadi lembut. Sun Tzu adalah anak tangga pertama dalam kehidupan manusia. Karena itu, jangan membenci dia, tetapi juga jangan terikat padanya. Keterikatan kita akan membuat kita berhenti pada anak tangga tersebut, tidak maju-maju. Krishna adalah perjalanan dan pendakian kita saat ini. Krishna adalah anak-anak tangga yang tengah kita tapaki dan akan kita lewati……….

 

Seorang Duryudana, Raja Korawa bisa menyerang negara lain hanya karena “merasa” terancam oleh keberadaannya. Dia bisa merasa terancam dengan keyakinan kelompok lain yang berbeda dengannya. Dia bisa memperbanyak pengikut dengan melakukan intimidasi kepada orang lain. Bagi Shakuni, Patih Korawa nilai persahabatan dan kemitraan tidak berarti apa-apa. Ia melihat potensi permusuhan dalam diri setiap orang, apalagi dalam diri orang yang kuat dan aman. Baginya, seorang tetangga yang kuat, aman, apalagi kaya dan sehat, berpotensi untuk menyerangnya. Maka dia harus mempersiapkan diri. Tidak boleh terlena.

 

Dalam buku “The Gita Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 Bapak Anand Krishna menyampaikan………… Ketakselarasan dengan alam membawa bencana. Ketakharmonisan dengan Keberadaan menyebabkan musibah. Ketidakadilan adalah ketidak selarasan, ketidakharmonisan. Kebatilan adalah ketakselarasan dan ketakharmonisan………. Keberadaan para koruptor, pengkhianat bangsa, kaum radikal, ekstremis, dan sebagainya telah mengganggu keterpaduan, kesatuan dan persatuan kita……….. Jangan membiarkan para pengkhianat bangsa, kaum radikal, dan orang-orang ekstremis melecehkan hukum, hanya karena Anda membutuhkan suara atau tenaga mereka dalam pemilihan umum yang telah Anda lecehkan pula maknanya. Tidak perlu membenci ilalang, tetapi mereka harus dicabut demi keselamatan keseluruhan taman. Tapi, apakah mereka tidak memiliki hak untuk hidup? Ya, mereka memiliki hak untuk hidup, persis seperti bakteri yang baik di dalam tubuh kita, bukan sebagai virus yang mematikan. Apakah kita tidak melakukan “pembunuhan” terhadap virus-virus yang mengancam kesehatanmu? Bukankah mereka pun memiliki hak untuk hidup? Dalil seperti ini datang dari mereka yang sok suci, sok moralis. Mereka tidak praktis. Mereka hidup dalam khayalan mereka sendiri. Kesucian dan moralitas mereka semu. Hanya berlaku selama diri mereka tidak terganggu……….

 

Untuk mengaktifkan sifat ke-“Pandawa”-an di dalam diri Bapak Anand Krishna memberi nasehat agar kita  mendengarkan suara hati. Dalam buku “The Gita Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 disampaikan………… Kita perlu waspada, jangan-jangan apa yang kita anggap “suara hati” selama ini sesungguhnya bukanlah suara hati. Itu baru tuntutan pikiran dan perasaan. Mereka bergabung untuk menciptakan kebisingan  di dalam diri. Kemudian, kebisingan di dalam diri itu  membuat kita menjadi “berisik”. Dan, selama kita masih berisik, suara hati tidak terdengar. Karena itu, tenang dulu…….. Bagaimana menenangkan diri, supaya suara hati terdengar jelas? Pertanyaan ini selalu muncul karena ketololan kita dalam memahami “mekanisme” badan. Kita bisa mulai dengan memperhatikan badan. Perhatikan napas, detak jantung, denyutan otak kita. Dalam keadaan tenang, napas kita teratur; detak jantung harmonis, berirama; dan denyutan otak menjadi sangat pelan. Sebaliknya, dalam keadaan tidak tenang, napas kita tidak teratur. Detak jantung tidak harmonis. Iramanya kacau. Denyutan otak menjadi liar. Untuk menenangkan diri, aturlah napas. As simple as that! Tarik  napas dan buang napas 10 menit saja, maka kita menjadi tenang………

 

Situs artikel terkait:

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: