Manusia Yang Egoistis Dan Alam Yang Selalu Berbagi


Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 17

buku neo spirituality

Dikatakan bahwa manusia adalah makhluk yang paling tinggi derajatnya, apalagi bila dibandingkan dengan hewan. Akan tetapi, kita belum pernah mendengar hewan menumpuk makanannya berlebihan, hewan makan hanya bila lapar, tidak menumpuk makanannya, sedangkan manusia bisa menumpuk hartanya sampai tujuh turunan. Kita belum pernah mendengar hewan sebagai penyebab bencana, akan tetapi manusia merusak hutan lindung penyebab banjir dan longsor. Kita belum pernah mendengar hewan membunuh hewan lainnya kecuali dagingnya akan dimakan, sedangkan manusia banyak membunuh sesama bukan untuk mengkonsumsinya. Penyebab global warming juga bukan hewan. Hewan hidup lebih selaras dengan alam daripada manusia.

 

Bapak Anand Krishna dalam buku “Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan”, Anand Krishna & Dr. Bambang Setiawan Ahli Bedah/Bedah Saraf (Neurosurgeon),  Gramedia Pustaka Utama, Kompas Gramedia, 2010 menyampaikan………. Setelah menjalani proses evolusi yang sangat panjang, manusia berhasil memiliki pikiran (mind), otak (brain), dan pancaindra (senses) yang cukup canggih, melebihi makhluk-makhluk lain di dunia ini. Hal ini merupakan berkah sekaligus serapah bagi dirinya. la memiliki otak dan pancaindra untuk mewujudkan apa yang dikehendakinya termasuk melawan dan menentang hukum alam……… Manusia memiliki kebebasan, baik untuk menyadari kemanuggalannya dengan alam semesta maupun untuk tidak menyadarinya. Ketika ia memilih untuk tidak menyadari kemanunggalannya maka ia berpikir bahwa dirinyalah yang Maha Kuasa dan dapat berbuat apa saja sesuai dengan kehendaknya. la merusak lingkungan, melawan alam, bertindak sesuai dengan keinginannya karena menganggap dirinya sebagai makhluk yang paling hebat, tinggi, spesial, dan berada di atas seluruh makhluk-makhluk lainnya. Jadi manusia memiliki kebebasan untuk memajukan diri atau menghancurkan dirinya sendiri………

 

Manusia yang menuruti keinginannya tanpa mempedulikan manusia lain dan lingkungannya bisa lebih ganas daripada hewan. Kita melihat perang antar manusia, sekelompok manusia menyerang kelompok manusia yang lebih lemah, keganasannya jauh melebihi hewan. Ke-“tidakmanusiawi”-annya di atas hewan. Akan tetapi bagi manusia yang sudah sadar dia diingatkan, “bila kau dipukul balaslah yang setimpal, akan tetapi memaafkan itu perbuatan yang lebih mulia”. Bagi manusia yang sadar juga diingatkan bahwa tangan yang memberi lebih baik dari tangan yang menerima, berbagi lebih baik daripada egois. Bahkan kalau bisa tangan kiri tidak perlu tahu apa yang tangan kanan berikan kepada orang lain.

 

Bapak Anand Krishna membagi manusia berdasar kesadarannya. Dalam buku “Rahasia Alam, Alam Rahasia”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2003 Bapak Anand Krishna menyampaikan………. Range pertama, range hewani, instink dan naluri hewani yang bekerja. Bila Anda mati-matian mengejar nama, kedudukan, harta dan sebagainya. Bila napsu Anda selalu membara dan Anda merasa haus terus, sehingga dapat melakukan seks dengan siapa saja. Bila Anda tidak peduli terhadap kenyamanan orang dan bisa mengorbankannya demi kenyamanan diri…….. Range kedua, range insani, bebas dari instink dan naluri hewani. Bisa jadi Anda masih mencari nama, kedudukan, harta dan sebagainya, tetapi Anda tidak mati-matian mengejarnya. Anda tidak akan mengorbankan kepentingan orang demi kepentingan pribadi. Napsu yang bersifat egois di dalam diri Anda berubah menjadi cinta yang siap berbagi………… Range ketiga, range ilahi, Anda mengikuti nurani, intuisi. Anda ntidak mengejar ataupun mencari nama, kedudukan dan harta, karena Anda sadar bahwa hal-hal itu tak ada yang langgeng. Cinta Anda sudah berubah menjadi kasih, di mana Anda akan memberi dan memberi……….

 

Mari kita baca ensiklopedia yang membicarakan tentang lebah. Sumber makanan lebah adalah nektar dari bunga-bungaan. Karena bunga hanya mekar pada musimnya, maka lebah menyimpan nektar yang mereka kumpulkan dengan menambah cairan khusus yang dikeluarkan oleh tubuh mereka untuk dipergunakan sebagai makanan pada saat pohon tidak berbunga. Campuran yang bergizi inilah yang disebut madu.  Untuk menjaga kualitasnya, temperatur madu dipertahankan sekitar 35 derajat Celcius. Pada waktu kondisi panas mereka berkumpul untuk mengipasi madu dengan sayapnya. Untuk mencegah makhluk asing masuk mereka mempunyai penjaga yang akan mengusir mereka yang mengganggu. Agar bakteri tidak mengganggu, mereka mengeluarkan ”resin” yang sekaligus dapat mengeraskan sarang mereka. Pertanyaannya adalah mengapa lebah membuat madu berlebihan yang jauh melebihi kebutuhan dirinya? Bahkan menjaga kemurnian madunya yang sebagian besar justru dipersembahkan kepada manusia?

 

Tanaman dan hewan memberikan banyak persembahan kepada makhluk lainnya. Ayam bertelur sebutir setiap hari, dan tidak semuanya dipergunakan untuk meneruskan kelangsungan jenisnya. Sapi juga memproduksi susu melebihi kebutuhan untuk anak-anaknya. Padi di sawah menghasilkan butir-butir gabah yang jauh melebihi kepentingan untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan kelompoknya. Pohon mangga juga menghasilkan buah mangga yang jauh lebih banyak dari yang diperlukan untuk mengembangkan jenisnya. Pohon singkong memberikan pucuk daunnya untuk dimakan manusia, akar ubinya pun juga dipersembahkan, mereka menumbuhkan singkong generasi baru dari sisa batang yang dibuang. Sifat alami alam adalah penuh kasih terhadap makhluk lainnya. Lebih banyak memberi kepada makhluk lainnya. Sikap yang altruistis memikirkan kepentingan orang lain selaras dengan alam. Egolah yang membuat manusia hanya mementingkan dirinya sendiri saja.

 

Dalam buku “Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 Bapak Anand Krishna menyampaikan………  Jauh sebelum ilmuwan modern mulai memperhatikan lingkungan, flora dan fauna, jauh sebelum mereka mencetak istilah baru eco system, para bijak sudah memaparkan, menjelaskan hubungan manusia dengan lingkungannya. Sekedar menjaga kebersihan lingkungan saja tidak cukup, kita harus melestarikan alam. Merawat flora dan fauna. Jaman dulu, manusia tidak bisa seenaknya menebang pohon. Adat menentukan usia pohon yang dapat ditebang.  Itu pun untuk keperluan tertentu. Ketentuan adat berlaku, Walau pohon itu berada di atas tanah kita sendiri. Kita memiliki tugas, kewajiban serta tanggungjawab terhadap kelestarian alam. Jangan mencemari air dan udara. Berhati-hatilah dengan penggunaan energi. Jangan mengeksploitasi bumi seenaknya. Gunakan ruang juga tanah yang tersedia secara bijak………..

 

Manusia telah dilayani oleh alam, sehingga perlu berterima kasih dan peduli dengan alam. Dalam Bhagavad Gita, Percakapan Ketiga, Karma Yoga, Sri Krishna menyampaikan………  Persembahanmu akan menjaga kelestarian alam. Alam pada gilirannya akan menjaga kelestarianmu. Dengan saling membantu akan membuatmu bahagia yang tak terhingga. Alam ini akan memberi apa yang kau inginkan sebagai pengganti persembahanmu. Tetapi bagi yang menikmati pemberian alam tanpa mengembalikan sesuatu dipertimbangkan sebagai seorang “pencuri”………

 

Kerusakan terhadap lingkungan disebabkan keegoisan/keserakahan manusia. Manusia mengambil pemberian alam tanpa memeliharanya (dalam Bhagavad Gita diistilahkan “pencuri”)……. Adalah suatu kearifan untuk tidak memotong pohon di daerah tangkapan air. Akar-akar pohon mampu menahan air, sehingga persediaan air di mata air tidak berkurang. Pembabatan pohon membuat persediaan mata air menyusut. Pohon perlu dihormati, tidak ditebang dengan semena-mena. Pada zaman dahulu, semasa gunung masih diselimuti hutan belantara, air “krasan” singgah di antara akar-akar pohon dan enggan mengalir kesebelah bawah. Perbedaan jumlah air di musim penghujan dan musim kemarau tidak begitu besar. Begitu selimut hutan tersingkap karena dibabat manusia yang serakah, air sudah tidak “krasan” lagi di gunung, di musim penghujan air langsung berkumpul di sungai meluap menjadi banjir, dan dimusim kemarau air di gunung sudah tidak tersedia, sehingga kekeringan terjadi dimana-mana. Butir-butir tanahpun terseret banjir dan diendapkan di sungai-sungai yang menyebabkan pendangkalan yang akhirnya mengakibatkan banjir di musim penghujan………

 

Situs artikel terkait:

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: