Menyelesaikan Konflik Perbedaan Lewat Unit Keluarga


Serial Pandangan Kebangsaan Anand Krishna no 20

buku jangka-jayabaya-500x500

Negara adalah ibarat keluarga besar. Dan keluarga adalah ibarat negara yang kecil. Seorang kepala keluarga adalah kepala pemerintahan rumahnya. Seorang kepala negara adalah kepala keluarga negaranya………. Untuk menciptakan kerukunan dalam keluarga, kita membutuhkan perekat. Perekat apa yang kita miliki? Harta benda, uang? Seorang istri menghormati suaminya karena ia masih mampu mencari nafkah dan membiayai keluarga. Suami membutuhkan istri untuk menjaga rumah dan merawat anak-anak mereka. Anak pun menghormati orangtua mereka sadar akan ketergantungan pada mereka. Ujung-ujungnya duit, uang, materi. Posisi suami sebagai Pencari Nafkah bisa diganti oleh siapa saja, bahkan oleh istrinya sendiri. Posisi istri sebagai penjaga rumah dan perawat anak dapat digantikan oleh para pembantu. Dan, bagi seorang anak, posisi kedua orangtuanya sebagai sumber dana, sudah pasti berakhir pada suatu hari…… Demikian uraian Bapak Anand Krishna dalam buku “Jangka Jayabaya, Saatnya Bertindak Tanpa Rasa Takut dan Meraih Kejayaan”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005.

 

Sebelum meneruskan mengenai perekat dalam keluarga, kita perlu melihat interaksi yang terjadi dalam keluarga. Dalam sebuah talkshow Bapak Anand Krishna pernah menjelaskan bahwa keluarga berasal dari dua kata (bahasa Sansekerta) “kula” dan “warga”. Kula itu marga, klan. Seperti di Batak ada Panggabean, Panjaitan. Kula berkaitan dengan orang-orang saya yang barangkali agamanya sama, pekerjaannya sama, atau satu garis keturunan. Tetapi ketika kita berbicara warga, bisa berarti warga sedesa. Begitu kita berbicara warga maka ada interaksi dengan orang-orang yang banyak perbedaannya. Kalau kita berbicara dengan warga Indonesia, maka mayoritas beragama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha. Kita berinteraksi dengan orang-orang yang ada perbedaan. Bagaimana kita mengharmoniskan seluruh interaksi ini? Ketika ada perkawinan barangkali satu kula masuk ke kula yang lain, dan disitu ada perbedaan, terjadi interaksi,ada take and give, bagaimana kita mengakomodir perbedaan. Kalau itu terjadi maka akan terjadi keharmonisan. Interaksi antara suami istri tidak lepas dari ego masing-masing.Bagaimana meredam ego? Harus bisamengakomodir perbedaan. Itu penting sekali. Tetapi Beliau bertanya sedikit lebih jauh. Apakah keluarga itu hanya suami, istri dan anak? Celakanya sekarang tidak demikian. Berapa jam anak kita bersama kita, berapa jam bersama pembantu, berapa jam bersama TV. Pengaruhnya luar biasa. Keluarga tidak bisa kita batasi dengan bapak dan ibu saja. Perubahan yang terjadi cepat sekali. Pada zaman dulu tidak ada play station sehingga anak-anak harus berinteraksi sejak kecil dengan anak-anak yang status sosialnya berbeda, dan barangkali dari marga lain. Sehingga sudah terjadi interaksi sejak kecil. Sekarang sebatas jam sekolah dan saat mau masuk sekolah, sehingga anak kurang berinteraksi, lebih sering masuk kamar dan kutak-kutik dengan komputer, nonton TV sehingga tidak punya kesempatan melihat perbedaan dan belajar bagaimana menyesuaikan perbedaan.

 

Bapak Anand Krishna menambahkan bahwa pada zaman modern ini, kadang kita hidup bersama tapi tidak terjadi interaksi. Beliau mengingatkan bahwa kita harus kembali pada konsep dasar “keluarga besar”. Sekarang ini kita mengikuti konsep Barat dan keluarga kita semakin sempit. Beliau mengambil contoh temannya di Amerika bercerita bahwa orang tuanya di taruh di panti jompo, dia membayar untuk itu dan kemudian anaknya dia taruh di panti anak, juga dengan membayar. Padahal yang demikian bisa dilakukan di rumah. Bagaimana kita memanfaatkan grand mother-grand father untuk menjaga cucu-cucunya dirumah. Itu memberikan motivasi kepada mereka sehingga lebih bergairah menghadapi kehidupan ini.

 

Di tingkat keluarga, orang tua kadang begitu bingung antara memanjakan dan mendidik. Anak TK sering diberi uang berlebihan. Ini kecelakaan akibat orang tua tidak cerdas dan memanjakan anak. Anak SD sudah dibelikan handphone. Ini masalah psikologis, ada semacam guilty feeling karena orang tua sibuk di kantor, tetapi mereka tidak tahu bagaimana mengatasi ini semua dan memberikan materi berlebihan kepada anak. Ini menjerumuskan si anak, kesalahan yang besar. Bagaimana cara orang tua agar bisa membagi waktu antara mengajar anak-anak dan mencari uang? Kuncinya adalah harus kembali kepada ajaran leluhur, karena intinya adalah keserakahan, keinginan yang bertubi-tubi. Mahatma Gandhi mengatakan bahwa kebutuhan bisa dipenuhi, tapi keinginan, kemauan tak bisa dipenuhi. Seandainya kita pahami dengan betul, seorang ayah dapat bekerja, dan ibu dapat bekerja pula tetapi yang tidak terikat dengan pekerjaannya, sehingga masih punya waktu terhadap anaknya. Pengaruh ibu terhadap anak sangat besar.

 

Bapak Anand Krishna memandang begitu penting dan strategisnya keluarga dalam kelangsungan peradaban suatu bangsa. Kalau keluarga sudah rapuh, tinggal tunggu waktu peradaban akan hancur. Dan inti dalam peradaban adalah perempuan, Ibu. Kita harus memahami ibu anak dalam konteks memanusiakan manusia. Dalam banyak agama, kita diajarkan bahwa yang kita hormati setelah Tuhan adalah Ibu. Pada awalnya, anggaplah ibu sebagai Tuhan karena kita mengenal dunia ini lewat ibu. Selama 9 bulan kita berada dalam kandungannya. Dan sekarang sudah terbukti dalam medis-biologis bahwa dalam DNA kita kromosom X itu adalah perempuan. Kita mewarisi dari ibu kita kromosom X yang memberi energi. Kalau kita tidak mempunyai kromosom X maka kita tidak akan bergerak. Mati. Leluhur kita menyebut wanita sebagai “shakti”, nama lain dari energi. Dan karena wanita memiliki kedudukan yang begitu tinggi, Beliau menyampaikan bahwa kalau mau mengubah situasi, pertama-tama bukan cuma dengan mendapatkan kursi di DPR, akan tetapi mulai berubah dan memberdayakan diri. Bukan saja kursi di DPR, begitu banyak yang bisa ditangani oleh perempuan. Ketika wanita sudah memberdayakan dirinya. Anak akan mewarisi energi dia. Energi spiritualitas yang telah memberdayakan dirinya.

 

Setelah menyadari pentingnya interaksi dalam sebuah keluarga, kita kembali pada perekat dalam keluarga. Dalam buku “Jangka Jayabaya, Saatnya Bertindak Tanpa Rasa Takut dan Meraih Kejayaan”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005 Bapak Anand Krishna menguraikan mengenai perekat “harta benda dan uang”. Seorang istri menghormati suaminya karena ia masih mampu mencari nafkah dan membiayai keluarga. Suami membutuhkan istri untuk menjaga rumah dan merawat anak-anak mereka. Anak pun menghormati orangtua mereka sadar akan ketergantungan pada mereka. Ujung-ujungnya duit, uang, materi. Posisi suami sebagai Pencari Nafkah bisa diganti oleh siapa saja, bahkan oleh istrinya sendiri. Posisi istri sebagai penjaga rumah dan perawat anak dapat digantikan oleh para pembantu.

 

Selanjutnya diuraikan perekat “kewajiban” dalam keluarga. Bila perekat yang kita miliki adalah perekat kewajiban, kerukunan yang tercipta bisa lebih langgeng. Selama kita masih merasa bertanggungjawab terhadap anggota keluarga yang lain, kita akan hidup rukun. Kendati demikian, sense of duty, “mereka berkewajiban” pun hanyalah sebuah perasaan belaka. Dan, rasa adalah emosi, bisa naik turun, dapat mengalami pasang surut. Karena itu, kerukunan yang tercipta karena sense of duty juga tidak stabil.

 

Selanjutnya, Bapak Anand Krishna menguraikan perekat “kasih” dalam keluarga. Inilah perekat yang langgeng, abadi. Kasih bukanlah cinta yang masih merupakan “rasa” atau emosi dan sama-sama tidak stabil seperti kewajiban. Kasih berada di atas rasa; ia melampaui emosi. Ia tidak mengalami pasang surut, naik turun. Kasih merupakan jiwa kerukunan. Ia yang mengasihi, tidak bisa hidup tidak rukun, bukan dengan anggota keluarga saja, tapi dengan siapa saya. Kasih merupakan bahan baku utama bagi perekat. Kewajiban hanya sedikit saja menggunakannya, maka daya rekatnya tidak seberapa. Kasih menjamin kerukunan dalam keluarga. Keluarga-keluarga yang rukun menciptakan masyarakat yang harmonis. Masyarakat yang harmonis menjadi pilar utama bagi bangsa yang berbudaya, beradab, dan bangsa-bangsa yang beradab serta berbudaya mampu mendamaikan dunia……..

 

Diawali kasih dalam keluarga, kemudian kasih dalam bermasyarakat, akhirnya tercapai keharmonisan hubungan dan konflik terhindari……

 

Situs artikel terkait:

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: