Hidup Sekedar “Mampir Ngombe”? Masih Relevankah?

Seri Kearifan Lokal

buku bhaja-govindam-500x500
Leluhur kita mempunyai ungkapan “Urip mung mampir ngombe”, hidup hanya sesaat yang seakan hanya untuk minum beberapa tegukan. Untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju “sangkan paraning dumadi”, menuju ke asal dan juga akhir penciptaan. Sayidina Umar berkata bahwa pada hakikatnya setiap orang di dunia ini adalah seorang tamu dan harta yang dimilikinya adalah pinjaman. Seorang tamu pastilah cepat atau lambat akan pergi, dan pinjaman harus dikembalikan. Isa Sang Masiha menyatakan bahwa dunia ini ibarat jembatan, lewatilah, jangan membuat rumah diatasnya. Masihkah ungkapan-ungkapan tersebut relevan pada masa kini?

Dunia Benda Tidak Abadi


Dunia Benda tidak abadi. Apa yang kita miliki saat ini, pernah dimiliki orang lain sebelumnya. Dan, dapat berpindah tangan kapan saja dari tangan kia. Sesuatu yang bersifat tidak abadi tidak dapat memberi kebahagiaan yang kekal dan abadi. Dalam buku “Niti Sastra, Kebijakan Klasik bagi Manusia Indonesia Baru”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2008 disampaikan…….. Harta benda, ketenaran, kedudukan, kecantikan, ketampanan semuanya fana; tak ada yang langgeng. Bahkan, keberanian, semangat hidup, positive thinking pun tidak langgeng. Saat ini masih berani, sesaat kemudian takut. Saat ini masih cerdas, sesaat lagi lenyap tanpa bekas segala kecerdasan itu.

Ketenaran, Kedudukan Dan Kekayaan Juga Tidak Abadi


Ketenaran, kedudukan dan kekayaan – tiga “K” ini merupakan perkembangan dari rasa kepemilikan kita. Rasa kepemilikan ini harus diganti dengan Kesadaran. Selama ini tidak terjadi, selama itu pula kita akan selalu terombang-ambing di tengah lautan kehidupan. Kita akan selalu menderita. Mengumpulkan harta di dunia berarti mengumpulkan tiga “K” tadi. Dan tiga “K” ini tidak langgeng, tidak abadi. Sewaktu kita masih memilikinya, kita senang. Begitu kehilangan, kita kecewa, kita sedih. Harta sorgawi yang dimaksudkan oleh Yesus adalah Kesadaran. Dalam lautan kesadaran, segala rasa terlarut dan jiwa kita menjadi bersih. Sekali rasa kesadaran ini terkembangkan, kita akan terbebaskan dari keterikatan-keterikatan duniawi….. Demikian pandangan Anand Krishna dalam buku “Sabda Pencerahan, Ulasan Khotbah Yesus Di Atas Bukit Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004.

Masalah Utamanya Adalah Keterikatan Terhadap Sesuatu


Dalam buku “Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004 disampaikan bahwa…… Mahaguru Shankara tidak mencela harta-benda. Yang dicela adalah keterikatan kita. Silakan cari uang; silakan menjadi kaya dan menikmati kekayan Anda, asal tidak terikat, karena keterikatan akan menyebabkan kekecewaan. Keterikatan merampas kebebasan Anda. Keterikatan memperbudak Anda. Tidak terikat berarti tidak habis-habisan, tidak mati-matian mengejar sesuatu…… Baca lebih lanjut

Makna Sesajen, Banjir dan Penghormatan Terhadap Alam

Seri Kearifan Lokal 

buku life vorkbook

Jagalah kelestarian alam sekitarmu dan alam akan menjaga kelestarianmu. Demikianlah, dengan saling membantu, kau akan memperoleh kebahagiaan yang tak terhingga. Tidak cukup melayani Tuhan yang abstrak di tempat-tempat ibadah kita. Lihatlah Tuhan di sekitar Anda. Layanilah Dia, di mana pun Anda menyadari kehadiranNya. Apabila kau menjaga kelestarian alam sebagai persembahan, kekuatan-kekuatan alam ini pun akan memberimu, apa yang kau inginkan. Sebenarnya, ia yang menikmati pemberian alam, tanpa mengembalikan sesutu, ibarat seorang maling. Ia yang berkarya dengan semangat persembanhan dan menikmati hasilnya, ia yang memperoleh rejeki dengan cara demikian, terbebaskan dari segala macam dosa. Tapi mereka yang memperoleh rejeki dengan cara hanya mementingkan diri sendiri, sebenarnya menikmati dosa-dosa mereka sendiri………. Demikian pandangan Anand Krishna dalam buku “Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama  2002.

 

Menghormati Alam Semesta

Lima puluh tahunan yang lalu di dusun-dusun sekitar Solo, masih sering dijumpai sesajen berupa kembang setaman yang diletakkan di bawah pohon tua besar yang tumbuh dekat sendang atau mata air. Dipandang sebagian orang sebagai perbuatan syirik, maka kebiasaan menghormati pohon tua tersebut sekarang sudah jarang dilakukan. Seiring dengan berkurangnya pohon-pohon di sekitar sendang (mata air) dan volume air di sendang pun mulai menyusut. Dibalik sesajen tersebut tersembunyi suatu kearifan lokal yang mungkin kurang dipahami bahkan oleh si pembuat sesajen sendiri. Dengan pohon besar yang tidak di tebang, maka suasana terasa sejuk dan mata air juga terjaga kelestariannya.

Makanan kita, nafas kita, rumah kita, pakaian kita dan segala perlengkapan kita selalu didukung oleh alam. Misalkan rumah kita, pasir, batu, semen, air berasal dari alam. Demikian pula dalam setiap makanan bila kita telusuri sumbernya, akan berujung pada alam juga. Dalam buku “Life Workbook, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007, Anand Krishna menyampaikan……… Bhuta Rina, utang terhadap lingkungan. Jauh sebelum ilmuwan modern mulai memperhatikan lingkungan, flora dan fauna, jauh sebelum mereka mencetak istilah baru eco system, para bijak sudah memaparkan, menjelaskan hubungan manusia dengan lingkungannya. Sekedar menjaga kebersihan lingkungan saja tidak cukup, kita harus melestarikan alam. Merawat flora dan fauna. Jaman dulu, manusia tidak bisa seenaknya menebang pohon. Adat menentukan usia pohon yang dapat ditebang.  Itu pun untuk keperluan tertentu. Ketentuan adat berlaku, Walau puhon itu berada di atas tanah kita sendiri. Kita memiliki tugas, kewajiban serta tanggungjawab terhadap kelestarian alam. Jangan mencemari air dan udara. Berhati-hatilah dengan penggunaan energi. Jangan mengeksploitasi bumi seenaknya. Gunakan ruang yang tersedia, juga tanah yang tersebuda secara bijak…….. Baca lebih lanjut

Gamelan Pengantar Masuk Alam Rasa

Seri Kearifan Lokal  

buku kahlil gibran

Sewaktu mendengar lagu atau musik yang indah, sewaktu membaca sesuatu yang indah, sewaktu mencium wewangian yang indah, tiba-tiba anda terlepaskan dari pikiran. Anda memasuki alam rasa. Begitu anda memasuki alam rasa, sesungguhnya anda juga memasuki alam “spiritual”. Keindahan menjadi pemicu untuk mengantar anda ke alam spiritual. Demikian pesan Anand Krishna dalam buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999.

 

Perkembangan Gamelan dari Masa ke Masa

Gamelan berasal dari kata dalam bahasa Jawa “gamel”, yang berarti melakukan, mengerjakan. Gamelan khas Jawa Tengah terdiri dari kendang, bonang, bonang penerus, demung, saron, peking, kenong dan ketuk, slenthem, gender, gong, gambang, rebab, siter dan suling. Dari beberapa sumber disebutkan bahwa Sri Paduka Maharaja Dewa Buddha membuat gamelan “Lokananta” pada tahun 167 berwujud “wilahan yang terbuat dari gangsa sejenis bambu” yang sekarang disebut demung. Selanjutnya seiring berjalannya waktu dilakukan penambahan alat berupa rebab, gong, kendang, ketuk kenong, kempul dan gambang. Sekitar abad ke 12, setelah meninggalnya Prabu Airlangga,  Prabu Lembu Amiluhur yang berputra Raden Panji Inu Kertapati melengkapi dengan bonang dan saron serta menambah dasar-dasar nada atau laras. Pada zaman Majapahit, gamelan juga digunakan sebagai alat musik untuk pelaksanaan ritual. Selanjutnya pada zaman Mataram gamelan mulai dibuat menggunakan bahan dasar logam. Sejak saat itu gamelan menggunakan bahan dasar logam.

 

Penggunaan Gamelan Sesuai Suasana Yang Dinginkan

Anand Krishna dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 menyampaikan……… Jenis musik yang kita sukai bisa menjelaskan sifat kita, karakter kita, watak kita. Sitar, vina, harpa dan biola masuk dalam satu kategori. Alat-alat itu bisa mendatarkan gelombang otak, dan menenangkan diri manusia. Para penggemar musik sitar, tak akan pernah mengangkat senapan untuk membunuh orang. Musik gendang, drum dan alat-alat lain sejenis bisa membangkitkan semangat. Bagus, bila diimbangi dengan sitar dan alat sejenis. Bila tidak, akan membangkitkan nafsu dan gairah yang berlebihan……

Penalaan dan pembuatan gamelan adalah suatu proses yang kompleks. Gamelan di Jawa menggunakan cara penalaan slendro dan pelog. Gamelan selalu digunakan sebagai pengiring pagelaran wayang dan tari tradisional Jawa. Jenis gendhing yang dipakai untuk mengiringi wayang  kulit tergantung dari tahapan dalam pagelaran wayang kulit yang dimulai sekitar jam 21.00 dan berakhir sekitar jam 06.00 pagi. Gendhing Pathet Nem disuarakan antara pukul 21.00-24.00, mengiringi gambaran yang melambangkan masa kanak-kanak Sang Satria pemeran utama. Gending Pathet Sanga digunakan antara pukul 24.00-03.00, mengiringi penggambaran Sang Satria yang  mulai mencari Guru untuk belajar ilmu pengetahuan. Dalam tahapan ini disampaikan wejangan oleh Dewa, Prabu Kresno atau Semar. Gending Pathet Manyuro, dimunculkan antara pukul 03.00-06.00 mengiringi cerita yang memperlihatkan Sang Satria  yang telah memiliki pengetahuan memberantas ketidakadilan sehingga kehidupannya berbuah kebahagiaan. Baca lebih lanjut

Memaknai Pemberian Nama Baru, Tradisi yang Mulai Pudar

Seri Kearifan Lokal

buku sanyas dharma

Ada yang berpikir dan merasa biasa-biasa saja dengan nama pemberian orang tua mereka, tapi ada pula yang senantiasa berupaya untuk memaknai nama pemberian itu. Tidak sekedar memahami maknanya, tetapi memaknai, yang berarti berupaya untuk menjalankan hidupnya sesuai dengan makna itu. Javanese Wisdom, Butir-Butir Kebijakan Kuno bagi Manusia Modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2012.

 

Tradisi Pemberian Nama Baru

Ditahun enampuluhan, di sekitar Solo masih sering terdengar penggantian nama anak dengan nama baru, disebabkan “kabotan jeneng”, nama lamanya terlalu berat yang mengakibatkan anaknya sering sakit-sakitan dan diganti dengan nama baru yang lebih sesuai. Pada saat ini hal semacam ini sudah merupakan hal yang amat langka. Pertama, kesulitan mengganti nama di Kantor Catatan Sipil dan kedua masyarakat banyak yang berpendapat, Apa Arti Sebuah Nama? Demikian masyarakat meng-quote tulisan Wiiliam Shakespeare. Penggantian nama oleh nenek moyang kita mempunyai landasan yang kuat. Nama yang dihayati betul-betul oleh yang pemiliknya, seperti sebuah afirmasi, sebuah mantra yang mujarab. Kita pernah mempunyai Presiden Sukarno, Karna yang baik, kemudian Suharto, harta yang baik, selanjutnya Susilo, sila yang baik.

Nama almarhum kakek kami adalah Darmawiyata. Beliau pernah menjelaskan nama kecilnya adalah Soedarma. Karena beliau berprofesi sebagai mantri guru namanya diubah menjadi Darmawiyata. Nama bagi profesi guru berakhiran wiyata. Almarhum Pakdhe, kakaknya ayah juga bernama Dwijawiyata yang berprofesi sebagi Guru SMA. Dulu yang berprofesi sebagai dokter namanya berakhiran husada, misalnya dr. Wahidin Soedirohusada. Kemudian yang berprofesi sebagai Dhalang, namanya berakhiran carita, misalkan ki Purbacarita. Juga yang berprofesi sebagai pejabat pemerintahan berakhiran praja. Seperti pakdhe saya yang bernama KRT Sastrapraja, atau kepala Dinas PU di Jogya sewaktu kami mahasiswa dulu, KRT Martahadipraja. Dengan pemberian nama baru tersebut diharapkan yang bersangkutan sadar akan profesinya, dan meningkatkan keprofesionalannya. Seorang Darmawiyata, seorang guru yang harus pandai mengajar dan mendidik murid-muridnya.

 

Mengubah Pola Kehidupan Lama dengan Pola Kehidupan Baru

Mind kita saat ini sudah terpola. Kelahiran membahagiakan, kematian membuat sedih, kenaikan pangkat membuat bahagia, kehilangan pangkat menggelisahkan. Perilaku kita sudah terprogram. Membuat kita gampang diperbudak. Manusia harus menjalani proses deconditioning. Kebebasan penuh. Sedikitpun conditioning yang tersisa, bisa menjadi virus, menyebar dan mengkondisikan kembali mind anda. Kita harus merubah perilaku. Menciptakan mind yang baru, created mind……. Demikian pandangan Anand Krishna dalam buku “Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2003.

Selain sebagai nama profesi juga ada nama baru yang diberikan setelah seorang memulai hidup baru. Ayah kami bernama Woekirno, dan setelah kawin namanya menjadi Woekirno Prawiradarmaja. Selain menjadi putra Eyang kami yang bernama Prawiradimeja juga sudah menjadi menantu Eyang Darmawiyata. Conditioning, kebiasaan membujang Woekirno harus dibuang, dan harus berkesadaran sudah menjadi suami orang dan wajib membawa nama baik orang tua dan mertuanya.

Sejak zaman dulu nama seorang Raja juga diberi gelar yang berbeda dengan nama kecilnya. Ken Arok diubah namanya menjadi Rajasawardhana. Rajasa bermakna Pengawal (Kerajaan), sedangkan kata Wardhana kita diingatkan tentang kasih Sri Krishna di Bukit Gowardhana. Rajasawardhana bermakna pengawal yang selalu bertambah rasa bhaktinya. Pada waktu itu banyak raja yang bergelar Wardhana seperti Girindrawardhana, Wishnuwardhana, Jayawardhana. Pada masa kini seorang yang dinobatkan sebagai raja masih diberi gelar baru. Gusti Herjuna Darpita setelah dinobatkan sebagai raja diberi gelar Sri Sultan Hamengkubuwana ke X. Diharapkan setelah menjadi Raja visi, wawasan beliau harus luas selaras dengan namanya yang baru, pengelola dunia, hamengkubuwana. Baca lebih lanjut

Penelusuran Jejak Kehidupan Masa Lalu Anak lewat Tedak Siten?

buku medis meditasi

Ada sebuah kisah. Kisah tiga orang bijak dari Timur, tiga orang Majusi, tiga orang raja, tiga orang pengembara. Mereka mencari pertanda di langit maupun di bumi. Mereka mengikuti tradisi kuno membawa berbagai macam benda milik master-master yang berbeda yang telah meninggalkan badan kasatnya dalam kurun waktu 500 tahun terakhir. Orang pertama membawa sebuah jubah yang telah usang, peninggalan dari Ia Yang telah Tercerahkan, Ia Yang telah Terjaga. Seorang lainnya dari China membawa satu jilid Tao Teh Ching, Kumpulan dari beberapa ajaran Lao Tze, Jiwa Agung yang pernah lahir di China. Dan, satu orang lagi dari Mesir membawa sebuah replika yang indah dari Candi Agung Giza, yang sering disalahpahami sebagai piramid atau makam biasa. Mereka mempersembahkan semua benda tersebut pada Sang Bocah Ilahi….. Tentunya itu tidak terjadi di malam Ia lahir, itu terjadi ketika sang anak sudah bisa memilih..… Sang Bocah Ilahi langsung mendekati kotak berisi Jubah dan mencoba membukanya dengan tangan kecil-Nya…… Ketiga pengembara menangis bahagia… Mereka sudah tahu jalan hidup-Nya……. Di Tibet, untuk mencari seorang Pemimpin Rohani, para Tetua Adat juga mendatangi anak yang dipilih dan kemudian diminta mengambil beberapa benda peninggalan para Pemimpin Rohani masa lalu. Dari pilihan tersebut mereka bisa memperkirakan kehidupan masa lalu anak tersebut. Indonesia erat kaitannya dengan Tibet. Guru Besar Atisha belajar selama 12 tahun pada Guru Besar Dharmakirti dari Kerajaan Sriwijaya pada awal abad 12 dan kemudian menyebarkan ajarannya di Tibet.

 

Kehidupan Masa Lalu

Bagi seseorang yang percaya terhadap adanya hukum sebab-akibat, bahwa setiap tindakan akan menimbulkan akibat, maka akan ada perbuatan manusia yang sampai meninggal dunia belum datang akibatnya. Bagi mereka yang percaya tersebut, maka seseorang perlu lahir lagi untuk menerima akibatnya, baik akibat baik maupun akibat buruk. Menurut mereka itulah salah satu sebab ada anak bayi yang lahir dalam keluarga bahagia dan ada yang lahir dengan nasib tidak begitu baik.

Ada orang yang pada suatu tempat merasa memiliki sensasi kuat bahwa dia telah mengenal tersebut (deja vu). Ada sebuah penelitian di Srilangka tentang beberapa anak yang mengaku mengingat kehidupan masa lalunya (pastlife) sebelum usia 2-3 tahun. Pola kemiripan ini juga ditemukan oleh beberapa peneliti lainnya bahwa pada usia prasekolah beberapa anak-anak bisa melihat kehidupan masa lalunya, dan biasanya mereka mulai “lupa” setelah masuk sekolah.

 

Subconsious mind tidak mati, yang mati hanya tubuh fisiknya

Bila seseorang meninggal dunia maka, subconscious mind seseorang tidak mati, yang mati hanya fisik tubuhnya. Informasi, keinginan, dan obsesi yang tersimpan dalam “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” masih hidup. Dr. B. Setyawan Ahli Bedah Syaraf dalam buku “Medis dan Meditasi, Dialog Anand Krishna dengan Dr. B. Setiawan”, Gramedia Pustaka Utama, 2001 menyampaikan……… Setelah kematian tubuh, subconscious mind yang tidak ikut mati dan akan lahir kembali setelah mengalami proses “pengolahan”……. “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” yang tidak ikut mati membentuk synap-synap asli dalam otak bayi yang baru lahir. Demikian, otak bayi mewarisi informasi, keinginan, dan obsesi yang tersimpan dalam “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” tersebut. Selanjutnya, terbentuk pula bagian-bagian tubuh lainnya sebagai pelengkap pelaksana. Bahkan, “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” bisa memilih tempat dan situasi, di mana tersedia stimulus-stimulus sesuai dengan yang dibutuhkannya. Dalam arti kata lain, “kita” memilih tempat lahir. Bahkan orangtua pun pilihan kita sendiri! “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” seorang musikus bisa memilih lahir dalam keluarga yang senang dengan musik. Begitu pula, “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” seorang penjahat, bisa memilih lahir dalam keluarga di mana ia bisa melakukan kejahatan. Semuanya tergantung pada kualitas “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” kita sendiri! Semasa hidup, jika kualitas “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” kita masih rendah sekali, setelah kematian pun kita akan memilih lahir dalam keluarga yang anggotanya sama-sama memiliki “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” kualitas rendah. Kendati demikian, ada saja pengecualian. Seorang pemilik “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” berkualitas baik, bisa memilih lahir dalam keluarga dengan kualitas rendah. Itu pun karena adanya “keinginan” yang tersimpan dalam “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind“. Biasanya ada keterikatan dengan keluarga tersebut. Ada keinginan untuk membantu keluarga tersebut, dan sebagainya. Baca lebih lanjut

Simbolisasi dalam Ritual Slametan

Melihat Kearifan Lokal Berdasar Pandangan Anand Krishna

buku fengshui awreness

Sebagian masyarakat melakukan ritual karena meniru apa yang telah dilakukan banyak orang sebelumnya. Mereka melakukan ritual tanpa memahami spirit atau jiwa di balik ritual-ritual itu. Dan karena tidak memahaminya maka begitu ada yang mengatakan hal tersebut sebagai syirik, mereka pun langsung meninggalkan ritual tersebut. Padahal sebuah ritual bila dipahami dengan benar dapat meningkatkan kesadaran kita. Ritual hanyalah sarana untuk meningkatkan kesadaran.

 

Simbolisasi Pada Kehidupan Manusia

Manusia hidup di tengah hutan lebat simbol. Di mana-mana ada simbol. Dari logo perusahaan hingga merek kendaraan dan nomor penerbangan, semuanya menggunakan simbol. Kadang, simbol juga bisa berupa angka atau warna. Sesungguhnya hidup kita pun bisa “menjadi” simbol. Seorang pemersatu seperti Gajah Mada menjadi simbol persatuan. Para pelaku aksi terorisme menjadi simbol kejahatan. Gandhi menjadi simbol Ahimsa, tanpa kekerasan. Mother Theresa menjadi simbol pengabdian. Muhammad menjadi simbol iman dan keberanian. Buddha menjadi simbol kedamaian. Masih banyak simbol-simbol lain. Kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari simbol……. Demikian pandangan Anand Krishna dalam buku “Fengshui Awareness Rahasia Ilmu Kuno bagi  Manusia Modern”, Anand Krishna, One Earth Media, 2005.

Kita akan melihat beberapa simbolisasi pada ritual slametan. Pada waktu acara slametan, sejumlah orang duduk melingkar bersila di atas tikar, berdoa bersama, dan di tengah lingkaran terletak nasi tumpeng lengkap dengan lauk pauknya. Setelah doa bersama selesai dilakukan, dilanjutkan dengan makan tumpeng bersama.

 

Makna Spiritual Bentuk Geometris

Saat kita melihat matahari atau bulan yang bulat, gunung yang berbentuk segitiga lancip di atas, bintang yang bersinar, nyala api yang menyala ke atas, kita memahami adanya bentuk geometri di alam semesta. Tanpa kita sadari kita, telah ada interaksi antara bentuk-bentuk geometri dan diri kita. Itulah sebabnya para leluhur kita membuat tempat pemujaan dengan bentuk geometri tertentu untuk membangkitkan rasa terdalam dalam diri manusia. Pada saat ini kita pun sudah terbiasa melihat bentuk geometris kubah masjid, bangunan gereja, vihara ataupun pura.

Lingkaran adalah geometri yang secara tradisional dianggap mewakili Tuhan. Sebelum alam semesta diciptakan tidak ada yang lain kecuali Tuhan, bahkan tidak waktu dan ruang. Keliling lingkaran adalah batas segala yang ada. Lingkaran juga memperlihatkan bentuk simetri dilihat dari arah mana saja. Titik adalah lingkaran juga tetapi sangat kecil. Sumber https://triwidodo.wordpress.com/2012/01/31/makna-spiritual-bentuk-geometris-dari-candi-candi-dan-tempat-tempat-ibadah-di-indonesia/

 

Lingkaran Kehidupan

Bulan yang bulat mengedari bumi membentuk jejak berbentuk lingkaran, demikian pula bumi mengelilingi matahari menuruti rute berbentuk lingkaran. Semua roda kendaraan berbentuk lingkaran. Siklus kehidupanpun dapat digambarkan sebagai lingkaran dimana setelah titik akhir akan kembali ke titik awal. Air di laut menguap membentuk awan yang akhirnya turun menjadi hujan. Air hujan yang berkumpul di bumi lewat sungai-sungai akan mengalir menuju laut, sehingga terjadi siklus hidrologi. Biji mangga berkembang menjadi pohon yang berbunga, berbuah yang mempunyai biji dan bijinya akan menjadi pohon mangga lagi, yang kembali akan berbunga, berbuah, berbiji dan seterusnya. Kupu-kupu bertelur, telurnya menjadi ulat, yang kemudian menjadi kepompong dan bermetamorphose menjadi kupu-kupu yang akhirnya bertelur lagi. Sperma dan ovum bertemu menjadi bayi yang kemudian menjadi manusia dewasa. Manusia dewasa berhubungan dengan pasangannya, dimana sperma akan bertemu ovum dan menghasilkan bayi lagi. Pengalaman mangga, kupu-kupu dan manusia selama hidup akan mempengaruhi generasi berikutnya.  Sebuah siklus kehidupan dan evolusinya. Baca lebih lanjut

Kalender Jawa dan Pengaruh Rasi Perbintangan Terhadap Manusia

Melihat Kearifan Lokal Berdasar Pandangan Anand Krishna

buku spiritual-astrology

Ilmu Astrologi yang berkembang di wilayah peradaban Sindhu atau Hindia tidaklah berdasarkan takhayul. Tapi, berdasarkan pengetahuan para ahli mereka tentang ruang angkasa, sebagai hasil penelitian selama ribuan tahun. Dari penelitian-penelitian ilmiah itu pula mereka dapat menyimpulkan bila kehidupan di bumi sangat terpengaruh oleh keadaan di ruang angkasa. Konstelasi perbintangan saat kelahiran tidak hanya menentukan sifat dasar manusia, tetapi juga memengaruhinya sepanjang hidup. (Catatan: “Sifat dasar” di sini tidak berarti harga mati. Ia ibarat kain blacu yang biasa digunakan untuk batik tulis. Kita memang tidak bisa mengubah tenunan kain itu. Tapi, dengan mengetahui sifat kain, kita bisa menentukan bahan celup, dan tulis yang sesuai. Kita juga bisa menentukan corak sesuai dengan selera kita. Pada akhirnya, harga kain itu bisa meningkat beberapa kali lipat karena tambahan-tambahan” yang kita lakukan-a.k). (*Menurut pandangan Anand Krishna peradaban Sindhu terhampar dari Sungai Sindhu di India sampai Astraleya, Australia yang pada zaman dahulu masih merupakan satu Continent. Sindhu, Shin, Chin, Shintu, Hindu, Hindia, Indo mempunyai kaitan-TW). Demikian pandangan Anand Krishna dalam buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh  Anand Krishna”, Gramedia Pustaka Utama, 2010.

 

Dasar Pembuatan Kalender

Kalender atau Penanggalan adalah suatu cara yang disepakati untuk menandai unsur rentang waktu. Perhitungannya dapat berdasarkan pada gerakan matahari (kalender solar) dan gerakan bulan (kalender lunar). Ada juga kalender yang tidak berdasarkan gerakan benda langit dan hanya berupa penghitungan matematis seperti Kalender Pawukon. Patokan kalender adalah hari, bulan dan tahun. Hari dihitung  berdasarkan waktu putaran bumi pada porosnya dengan rentang waktu 24 jam. Bulan dihitung berdasarkan revolusi (putaran) bulan mengelilingi bumi dengan rentang waktu 1 bulan. Tahun dihitung berdasarkan revolusi (putaran) bumi mengelilingi matahari dengan rentang waktu 1 tahun. Kalender solar mempunyai rentang waktu 365.242819 hari untuk setiap putaran, yang dibulatkan menjadi 365 ¼ hari, sehingga dalam 1 tahun ada 365 hari dan setiap empat tahun ada tahun kabisat yang berumur 366 hari. Kalender lunar mempunyai rentang waktu 354.36707 hari yang dibulatkan dalam Kalender Jawa menjadi 354 3/8, sehingga 1 tahun Jawa ada 354 hari dan dalam 8 tahunan (windu) ada 3 tahun kabisat yang berumur 355 hari. Dalam perkiraan Kalender Hijriah 1 tahun dibulatkan menjadi 354 11/30 yang artinya dalam 30 tahun terdapat 11 tahun kabisat yang berumur 355 hari. Kalender Gregorian (Kalender Tahun Masehi yang dipakai secara internasional) dan Kalender Jawa dihitung berdasarkan matematis, sedangkan Kalender Hijriyah dan Kalender China menggunakan cara astronomis dengan melihat posisi bulan.

Kalender Jawa adalah sebuah kalender yang istimewa karena merupakan perpaduan antara budaya Islam, budaya Hindu-Buddha Jawa dan bahkan juga sedikit budaya Barat. Dalam sistem kalender Jawa, siklus hari yang dipakai ada dua: siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari seperti yang kita kenal sekarang, dan siklus pasar yang terdiri dari 5 hari pasaran. Menurut Wikipedia, pada tahun 1625 Masehi, Sultan Agung Mataram mengeluarkan dekrit untuk mengubah penanggalan Saka. Sejak saat itu kalender Jawa versi Mataram menggunakan sistem kalender lunar, namun tidak menggunakan angka dari tahun Hijriyah (saat itu tahun 1035 H). Angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan demi asas kesinambungan. Sehingga tahun saat itu 1547 Saka, diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa.

Pada tahun 1855 Masehi, karena penanggalan lunar dianggap tidak memadai sebagai patokan para petani yang bercocok tanam, maka kalender berdasarkan rasi bintang yang berpengaruh pada musim tanam yang disebut sebagai Pranata Mangsa, dikodifikasikan oleh Sri Paduka Mangkunegara IV dan digunakan secara resmi. Contohnya adalah rasi bintang Waluku (Orion) sebagai tanda musim tanam. Sebenarnya Pranata Mangsa ini adalah pembagian bulan yang asli Jawa dan sudah digunakan pada jaman pra-Sultan Agung. Oleh Sri Paduka Mangkunagara IV tanggalnya disesuaikan dengan penanggalan tarikh kalender Gregorian yang juga merupakan kalender solar.

 

Pengaruh Konstelasi Perbintangan Terhadap Manusia

Semua Rasi Bintang akan mempunyai pengaruh terhadap manusia. Nenek moyang kita mempercayai, bahwa tidak ada hari-hari penting seperti kelahiran, perkawinan dan kematian secara kebetulan. Setiap kejadian pasti sedikit banyak dipengaruhi oleh pengaruh bulan, pengaruh matahari dan pengaruh planet lainnya. Candra, atau Soma adalah penguasa Bulan, dan leluhur kita menamakan hari yang dipengaruhi bulan sebagai Soma, Senin, Monday, hari yang dipengaruhi “moon”, “manas”. Selasa dipengaruhi oleh planet Mars, leluhur kita menyebutnya Bintang Anggara. Rabu dipengaruhi oleh planet Mercurius, yang dalam bahasa Jawi Kuno hari Rabu disebut Budha, Planet Mercurius. Kamis dipengaruhi oleh planet planet Yupiter, penguasanya Brihaspati, guru para dewa, leluhur kita menyebutnya Respati. Jum’at dipengaruhi oleh planet Venus, penguasanya adalah Sukracharya, leluhur kita menyebut hari Jum’at sebagai Sukra. Saptu dipengaruhi oleh planet Saturnus, sehingga disebut Saturday, leluhur kita menyebutnya Tumpak atau Saniscara (Dewa Sani, Putera Dewa Surya, Matahari). Sedangkan Minggu dipengaruhi oleh Matahari, Surya, Ra, sehingga harinya disebut Sunday, para leluhur kita menyebut Radite. Selain Kalender Solar (berdasar matahari), leluhur kita juga memperhitungkan Kalender Lunar (berdasar bulan) dan ada 5 hari pasar Legi, Paing, Pon Wage, Kliwon. Baca lebih lanjut