Penelusuran Jejak Kehidupan Masa Lalu Anak lewat Tedak Siten?


buku medis meditasi

Ada sebuah kisah. Kisah tiga orang bijak dari Timur, tiga orang Majusi, tiga orang raja, tiga orang pengembara. Mereka mencari pertanda di langit maupun di bumi. Mereka mengikuti tradisi kuno membawa berbagai macam benda milik master-master yang berbeda yang telah meninggalkan badan kasatnya dalam kurun waktu 500 tahun terakhir. Orang pertama membawa sebuah jubah yang telah usang, peninggalan dari Ia Yang telah Tercerahkan, Ia Yang telah Terjaga. Seorang lainnya dari China membawa satu jilid Tao Teh Ching, Kumpulan dari beberapa ajaran Lao Tze, Jiwa Agung yang pernah lahir di China. Dan, satu orang lagi dari Mesir membawa sebuah replika yang indah dari Candi Agung Giza, yang sering disalahpahami sebagai piramid atau makam biasa. Mereka mempersembahkan semua benda tersebut pada Sang Bocah Ilahi….. Tentunya itu tidak terjadi di malam Ia lahir, itu terjadi ketika sang anak sudah bisa memilih..… Sang Bocah Ilahi langsung mendekati kotak berisi Jubah dan mencoba membukanya dengan tangan kecil-Nya…… Ketiga pengembara menangis bahagia… Mereka sudah tahu jalan hidup-Nya……. Di Tibet, untuk mencari seorang Pemimpin Rohani, para Tetua Adat juga mendatangi anak yang dipilih dan kemudian diminta mengambil beberapa benda peninggalan para Pemimpin Rohani masa lalu. Dari pilihan tersebut mereka bisa memperkirakan kehidupan masa lalu anak tersebut. Indonesia erat kaitannya dengan Tibet. Guru Besar Atisha belajar selama 12 tahun pada Guru Besar Dharmakirti dari Kerajaan Sriwijaya pada awal abad 12 dan kemudian menyebarkan ajarannya di Tibet.

 

Kehidupan Masa Lalu

Bagi seseorang yang percaya terhadap adanya hukum sebab-akibat, bahwa setiap tindakan akan menimbulkan akibat, maka akan ada perbuatan manusia yang sampai meninggal dunia belum datang akibatnya. Bagi mereka yang percaya tersebut, maka seseorang perlu lahir lagi untuk menerima akibatnya, baik akibat baik maupun akibat buruk. Menurut mereka itulah salah satu sebab ada anak bayi yang lahir dalam keluarga bahagia dan ada yang lahir dengan nasib tidak begitu baik.

Ada orang yang pada suatu tempat merasa memiliki sensasi kuat bahwa dia telah mengenal tersebut (deja vu). Ada sebuah penelitian di Srilangka tentang beberapa anak yang mengaku mengingat kehidupan masa lalunya (pastlife) sebelum usia 2-3 tahun. Pola kemiripan ini juga ditemukan oleh beberapa peneliti lainnya bahwa pada usia prasekolah beberapa anak-anak bisa melihat kehidupan masa lalunya, dan biasanya mereka mulai “lupa” setelah masuk sekolah.

 

Subconsious mind tidak mati, yang mati hanya tubuh fisiknya

Bila seseorang meninggal dunia maka, subconscious mind seseorang tidak mati, yang mati hanya fisik tubuhnya. Informasi, keinginan, dan obsesi yang tersimpan dalam “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” masih hidup. Dr. B. Setyawan Ahli Bedah Syaraf dalam buku “Medis dan Meditasi, Dialog Anand Krishna dengan Dr. B. Setiawan”, Gramedia Pustaka Utama, 2001 menyampaikan……… Setelah kematian tubuh, subconscious mind yang tidak ikut mati dan akan lahir kembali setelah mengalami proses “pengolahan”……. “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” yang tidak ikut mati membentuk synap-synap asli dalam otak bayi yang baru lahir. Demikian, otak bayi mewarisi informasi, keinginan, dan obsesi yang tersimpan dalam “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” tersebut. Selanjutnya, terbentuk pula bagian-bagian tubuh lainnya sebagai pelengkap pelaksana. Bahkan, “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” bisa memilih tempat dan situasi, di mana tersedia stimulus-stimulus sesuai dengan yang dibutuhkannya. Dalam arti kata lain, “kita” memilih tempat lahir. Bahkan orangtua pun pilihan kita sendiri! “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” seorang musikus bisa memilih lahir dalam keluarga yang senang dengan musik. Begitu pula, “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” seorang penjahat, bisa memilih lahir dalam keluarga di mana ia bisa melakukan kejahatan. Semuanya tergantung pada kualitas “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” kita sendiri! Semasa hidup, jika kualitas “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” kita masih rendah sekali, setelah kematian pun kita akan memilih lahir dalam keluarga yang anggotanya sama-sama memiliki “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” kualitas rendah. Kendati demikian, ada saja pengecualian. Seorang pemilik “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind” berkualitas baik, bisa memilih lahir dalam keluarga dengan kualitas rendah. Itu pun karena adanya “keinginan” yang tersimpan dalam “Medan Energi Bio-Electric Subconscious Mind“. Biasanya ada keterikatan dengan keluarga tersebut. Ada keinginan untuk membantu keluarga tersebut, dan sebagainya.

Penjelasan Almarhum Dr. B. Setyawan, ahli bedah syaraf tersebut ternyata mendukung kebiasaan di Tibet dalam mencari seorang Pemimpin Rohani. Para Tetua Adat di Tibet mendatangi “anak yang terpilih” dan kemudian diminta mengambil beberapa benda peninggalan para Pemimpin Rohani masa lalu. Dari pilihan tersebut mereka bisa memperkirakan kehidupan masa lalu anak tersebut.

 

Upacara Tedak Siten

Ada sebuah upacara ritual budaya, seorang anak yang berusia tujuh lapan (7 x 35 hari) dimandikan dengan air kembang setaman. Setelah memakai pakaian baru, sang anak dibimbing ibunya menginjak jadah (semacam nasi ketan tumbuk) 7 warna. Untuk selanjutnya sang anak dibimbing menaiki tangga yang dibuat dari tebu wulung berwarna ungu. Sang anak kemudian dimasukkan kedalam kurungan ayam berhias janur kuning dan hiasan lainnya. Dalam kurungan tersebut terdapat beberapa benda yang harus dipilih sang anak. seperti buku tulis, dompet, perhiasan, gunting, kitab sastra, alat bela diri , alat olah raga ataupun yang lainnya. Acara tersebut merupakan tradisi Jawa yang disebut Tedak Siten, peringatan di mana seorang anak mulai dilatih berjalan dengan menapakkan kedua kakinya di bumi.

Benda yang dipilih sang anak yang berusia sekitar 8 bulan tersebut, dipercaya menunjukkan bakat si anak yang perlu diperhatikan oleh orang tuanya. Apabila itu terjadi di Tibet, maka pemilihan benda tersebut akan menunjukkan pekerjaan leluhurnya yang sudah meninggal dan akan meneruskan kehidupannya masa kini. Bila almarhum kakek/nenek atau buyut si anak ada yang pernah menjadi penulis dan si anak memilih kitab sastra, maka ada kemungkinan leluhurnya lahir lagi untuk meneruskan obsesinya. Bagi mereka yang percaya reinkarnasi, biasanya seseorang yang akan lahir lagi akan memilih lahir di tengah keluarganya untuk menyelesaikan obsesi dan hutang-piutang dengan familinya. Kita sering melihat adanya anak yang semua ibu dan saudara-saudara ibunya sangat menghormatinya sejak kecil, dan bagi yang percaya mungkin sang anak adalah reinkarnasi dari kakek sang ibu yang sangat dihormatinya.

 

Ingatan kehidupan masa lalu bagi anak prasekolah

Perhitungan “lapan” sendiri diperoleh dari kombinasi kalender solar (berdasar perhitungan bumi bergerak mengelilingi matahari) dan kalender lunar (bulan mengelilingi bumi). Ada 7 hari berdasarkan perhitungan kalender solar dari Senin sampai Minggu, dan ada 5 hari pasar dari Legi sampai Kliwon. Satu lapan adalah 7×5 hari. Pada waktu seorang anak berusia 7 lapan, 7×35 hari atau 245 hari, kira-kira 8 bulan, insting bawaan genetiknya masih ada, tetapi dalam perkembangan diri selanjutnya, insting bawaan akan terdorong ke alam bawah sadar, tertutup oleh kegiatan-kegiatan baru. Pada saat anak berusia sekitar 8 bulan tersebut, potensi/bakat anak dapat diketahui. Potensi bawaan itulah yang perlu dikembangkan oleh orang tua sang anak.

Ada laporan investigasi dari empat anak di Sri Lanka yang merasa mengingat kehidupan sebelumnya di awal usia dua sampai tiga tahun. Pola yang mirip sebelumnya juga dilaporkan peneliti lainnya bahwa anak-anak yang berada pada usia prasekolah ada yang merasa bisa mengingat kehidupan masa lalunya. Dan, mereka biasanya mulai “lupa’” pada waktu mereka mulai pergi ke sekolah.

 

Mengapa Upacara Tedak Siten Penting dalam Kehidupan Manusia

Manusia mempunyai beberapa tahapan dalam perkembangan dirinya. Pertama, tahap bayi yang sangat tergantung terhadap ibu dan orang lain, bisanya hanya meminta. Tahap kedua adalah anak muda yang mandiri, bisa melakukan sendiri. Tahap ketiga adalah seorang yang dewasa, yang sudah sadar walau mandiri tetapi tidak egoistis karena menyadari bahwa seseorang mempunyai saling ketergantungan dengan orang lain, tidak bisa hidup sendiri. Dari ketergantungan menjadi mandiri dan akhirnya menyadari saling ketergantungan adalah perjalanan kedewasaan seseorang. Awal dari tahap kedua dimulai, ketika seorang anak mulai belajar berjalan, sehingga apabila menginginkan sesuatu seorang anak sudah dapat mengambil sendiri tanpa minta pertolongan orang lain. Pada waktu berjalan, kedua kaki sang anak menapak langsung dengan bumi, tidak lagi dalam gendhongan seorang ibu. Upacara menapak bumi, adalah kejadian penting dimana seorang anak sudah mulai mandiri, bisa mengambil benda keinginannya dengan berjalan mendekati dan mengambilnya.

Baik bagi yang orang tuanya percaya adanya reinkarnasi ataupun yang tidak mempercayainya, benda yang dipilih si anak mempunyai kaitan dengan si anak. Dan kegiatan yang terkait dengan benda tersebut patut diperhatikan orang tuanya dalam masa perkembangan anak selanjutnya.

 

TW

Situs artikel terkait:

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

2 Tanggapan

  1. very good…. Makasih banyak pak!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: