Memaknai Pemberian Nama Baru, Tradisi yang Mulai Pudar


Seri Kearifan Lokal

buku sanyas dharma

Ada yang berpikir dan merasa biasa-biasa saja dengan nama pemberian orang tua mereka, tapi ada pula yang senantiasa berupaya untuk memaknai nama pemberian itu. Tidak sekedar memahami maknanya, tetapi memaknai, yang berarti berupaya untuk menjalankan hidupnya sesuai dengan makna itu. Javanese Wisdom, Butir-Butir Kebijakan Kuno bagi Manusia Modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2012.

 

Tradisi Pemberian Nama Baru

Ditahun enampuluhan, di sekitar Solo masih sering terdengar penggantian nama anak dengan nama baru, disebabkan “kabotan jeneng”, nama lamanya terlalu berat yang mengakibatkan anaknya sering sakit-sakitan dan diganti dengan nama baru yang lebih sesuai. Pada saat ini hal semacam ini sudah merupakan hal yang amat langka. Pertama, kesulitan mengganti nama di Kantor Catatan Sipil dan kedua masyarakat banyak yang berpendapat, Apa Arti Sebuah Nama? Demikian masyarakat meng-quote tulisan Wiiliam Shakespeare. Penggantian nama oleh nenek moyang kita mempunyai landasan yang kuat. Nama yang dihayati betul-betul oleh yang pemiliknya, seperti sebuah afirmasi, sebuah mantra yang mujarab. Kita pernah mempunyai Presiden Sukarno, Karna yang baik, kemudian Suharto, harta yang baik, selanjutnya Susilo, sila yang baik.

Nama almarhum kakek kami adalah Darmawiyata. Beliau pernah menjelaskan nama kecilnya adalah Soedarma. Karena beliau berprofesi sebagai mantri guru namanya diubah menjadi Darmawiyata. Nama bagi profesi guru berakhiran wiyata. Almarhum Pakdhe, kakaknya ayah juga bernama Dwijawiyata yang berprofesi sebagi Guru SMA. Dulu yang berprofesi sebagai dokter namanya berakhiran husada, misalnya dr. Wahidin Soedirohusada. Kemudian yang berprofesi sebagai Dhalang, namanya berakhiran carita, misalkan ki Purbacarita. Juga yang berprofesi sebagai pejabat pemerintahan berakhiran praja. Seperti pakdhe saya yang bernama KRT Sastrapraja, atau kepala Dinas PU di Jogya sewaktu kami mahasiswa dulu, KRT Martahadipraja. Dengan pemberian nama baru tersebut diharapkan yang bersangkutan sadar akan profesinya, dan meningkatkan keprofesionalannya. Seorang Darmawiyata, seorang guru yang harus pandai mengajar dan mendidik murid-muridnya.

 

Mengubah Pola Kehidupan Lama dengan Pola Kehidupan Baru

Mind kita saat ini sudah terpola. Kelahiran membahagiakan, kematian membuat sedih, kenaikan pangkat membuat bahagia, kehilangan pangkat menggelisahkan. Perilaku kita sudah terprogram. Membuat kita gampang diperbudak. Manusia harus menjalani proses deconditioning. Kebebasan penuh. Sedikitpun conditioning yang tersisa, bisa menjadi virus, menyebar dan mengkondisikan kembali mind anda. Kita harus merubah perilaku. Menciptakan mind yang baru, created mind……. Demikian pandangan Anand Krishna dalam buku “Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2003.

Selain sebagai nama profesi juga ada nama baru yang diberikan setelah seorang memulai hidup baru. Ayah kami bernama Woekirno, dan setelah kawin namanya menjadi Woekirno Prawiradarmaja. Selain menjadi putra Eyang kami yang bernama Prawiradimeja juga sudah menjadi menantu Eyang Darmawiyata. Conditioning, kebiasaan membujang Woekirno harus dibuang, dan harus berkesadaran sudah menjadi suami orang dan wajib membawa nama baik orang tua dan mertuanya.

Sejak zaman dulu nama seorang Raja juga diberi gelar yang berbeda dengan nama kecilnya. Ken Arok diubah namanya menjadi Rajasawardhana. Rajasa bermakna Pengawal (Kerajaan), sedangkan kata Wardhana kita diingatkan tentang kasih Sri Krishna di Bukit Gowardhana. Rajasawardhana bermakna pengawal yang selalu bertambah rasa bhaktinya. Pada waktu itu banyak raja yang bergelar Wardhana seperti Girindrawardhana, Wishnuwardhana, Jayawardhana. Pada masa kini seorang yang dinobatkan sebagai raja masih diberi gelar baru. Gusti Herjuna Darpita setelah dinobatkan sebagai raja diberi gelar Sri Sultan Hamengkubuwana ke X. Diharapkan setelah menjadi Raja visi, wawasan beliau harus luas selaras dengan namanya yang baru, pengelola dunia, hamengkubuwana.

 

Pemaknaan Nama Baru Sebagai Pengingat Diri

Pemberian nama baru dalam tradisi Jawa tersebut bisa dikaitkan dengan ajaran Yang Mulia Dharmakirti Svarnadwippi, seorang Guru Besar di zaman Sriwijaya. Ajarannya tentang Boddhichitta, Kesadaran Murni dipelajari oleh Yang Mulia Atisha dari India dan disebarkan di Tibet. Dalai Lama sangat menghormati Guru Besar Dharmakirti dan Atisha. Ajaran Guru Besar Atisha yang terkenal di antaranya adalah setelah mencapai pemahaman tentang Kesadaran Murni, maka tiba saatnya untuk membuang conditioning lama, dan menggantinya dengan kesadaran baru. Memperbaiki conditioned mind dengan created mind yang harus diterapkan dalam keseharian, sehingga terjadi kelahiran kembali, kelahiran Kesucian di dalam diri. Pemberian nama baru dimaksudkan sebagai pemerkuat created mind.

Di India juga ada tradisi seorang diberi nama baru. Conditioning seorang Liny Tjeris harus ditinggalkan dan hidup baru sebagai Upasana, nama barunya yang bermakna bhakti, pelayanan pada Tuhan. Conditioning Maya Safira harus dilepaskan dan hidup sebagai Archana, nama barunya yang bermakna puja, penghormatan pada Tuhan. Seorang Wayan Sayoga setelah diberi nama Krishna Das diharapkan menjadi Bhakta Tuhan. Bagi penganut agama Katholik, seorang Prijoewo Guntoro namanya ditambah nama baptis menjadi Franxiscus Xaverius Prijoewo Guntoro. Dia harus hidup seperti Santo Frannxiscus Xaverius. Demikian juga seseorang yang telah melakukan rukun kelima dan ditambah nama Muhammad di depannya harus berkesadaran seperti nama barunya. Seorang calon Bhikshu setelah memenuhi persyaratan juga akan diberi nama baru, misalkan Sasana Bodhithera, seorang Bhikshu di Gunung Kidul yang sudah kami kenal dengan baik.

Kata “baptis” merupakan distorsi dari kata “baptejo”. Kata tersebut merupakan gabungan dari tiga kata: Ba, kependekan dari Bhagavan, yang berarti Ilahi, Apah yang berarti Air, dan Teja yang berarti Energi atau Cahaya. Baptejo merupakan sebuah ritual inisiasi yang sudah berusia sangat tua, sangat umum dilakukan di Timur. Dalam ritual ini, seorang pengelana spiritual harus melalui proses penyucian, karena itu air secara simbolis digunakan, kemudian diisi dengan energi spiritual, karena itu hanya seorang master yang layak melakukannya. Inilah ritual yang harus dijalani oleh Yesus, yang didalam ritual tersebut, Yohanes Sang Pembabtis, memposisikan diri sebagai seorang master untuk mengisi-Nya dengan energi yang akan Ia butuhkan untuk menunaikan tugas-Nya di Yerusalem. Demikian terjemahan bebas dari buku Christ of Kasmiris, karya Anand Krishna.

 

Pengendalian Diri Seorang Pejalan Spiritual

Seorang sanyasi, sadhu, bhikshu, petapa, pejalan spiritual, atau apa pun sebutannya adalah seseorang pelaku spiritual purnawaktu. Dia sudah dapat mengendalikan dirinya dan melakukan pelayanan tanpa pamrih. Dalam buku “Sanyas Dharma, Sebuah Panduan bagi Penggiat dan Perkumpulan Spiritual”, Anand Krishna, Gramedia, 2012, Anand Krishna menyampaikan……….. Jadilah tuan bagi dirimu; jadilah pelindung bagi dirimu sendiri.; kendalikan dirimu, sebagaimana seorang penunggang kuda mengendalikan kuda miliknya.

Beliau juga menyatakan dalam buku Sanyas Dharma tersebut……. Pengendalian diri, pengendalian pikiran, pengendalian perasaan, inilah bentuk pemberontakan seorang sanyasi. Ketika Anda memutuskan untuk mengendalikan diri Anda, pikiran Anda, hidup Anda, maka Anda sedang melakukan pemberontakan terhadap suatu sistem yang tidak senang dengan hal itu. Sistem yang korup namun sudah mapan tidak suka dengan kemandirian Anda. Sistem ini telah memperbudak Anda sejak berabad-abad, dan ingin memperbudak Anda hingga akhir zaman.

 

Memberontak terhadap Kemapanan Sistem yang Korup

Krishna adalah pemberontak, Yesus adalah pemberontak, demikian pula Sidharta, Muhammad, setiap nabi, setiap avatar, setiap mesias, dan setiap sadguru. Mereka semua dikenang sebagai pembaharu. Karena mereka memberontak terhadap kemapanan yang korup. Seorang sanyasi, sadhu, bhikshu, petapa, pejalan spiritual, atau apa pun sebutannya, sedang mengikuti jejak mereka. Ia mengatakan “tidak” terhadap sistem yang ingin memperbudaknya…….. Demikian pandangan Anand Krishna dalam buku “Sanyas Dharma, Sebuah Panduan bagi Penggiat dan Perkumpulan Spiritual”, Anand Krishna, Gramedia, 2012.

 

Pengaruh Nama terhadap Pemiliknya

Banyak artis yang setelah ganti nama menjadi lebih terkenal. Bila sebuah nama dihayati oleh pemiliknya maka sang pemilik akan menuju menjadi seperti makna namanya. Ibarat sebuah mantra yang diulang-ulang maka semakin lama akan semakin powerful. Mari kita menghormati nama kita dan memaknai nama kita dengan makna yang baik.

TW

Situs artikel terkait:

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: