Gamelan Pengantar Masuk Alam Rasa


Seri Kearifan Lokal  

buku kahlil gibran

Sewaktu mendengar lagu atau musik yang indah, sewaktu membaca sesuatu yang indah, sewaktu mencium wewangian yang indah, tiba-tiba anda terlepaskan dari pikiran. Anda memasuki alam rasa. Begitu anda memasuki alam rasa, sesungguhnya anda juga memasuki alam “spiritual”. Keindahan menjadi pemicu untuk mengantar anda ke alam spiritual. Demikian pesan Anand Krishna dalam buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999.

 

Perkembangan Gamelan dari Masa ke Masa

Gamelan berasal dari kata dalam bahasa Jawa “gamel”, yang berarti melakukan, mengerjakan. Gamelan khas Jawa Tengah terdiri dari kendang, bonang, bonang penerus, demung, saron, peking, kenong dan ketuk, slenthem, gender, gong, gambang, rebab, siter dan suling. Dari beberapa sumber disebutkan bahwa Sri Paduka Maharaja Dewa Buddha membuat gamelan “Lokananta” pada tahun 167 berwujud “wilahan yang terbuat dari gangsa sejenis bambu” yang sekarang disebut demung. Selanjutnya seiring berjalannya waktu dilakukan penambahan alat berupa rebab, gong, kendang, ketuk kenong, kempul dan gambang. Sekitar abad ke 12, setelah meninggalnya Prabu Airlangga,  Prabu Lembu Amiluhur yang berputra Raden Panji Inu Kertapati melengkapi dengan bonang dan saron serta menambah dasar-dasar nada atau laras. Pada zaman Majapahit, gamelan juga digunakan sebagai alat musik untuk pelaksanaan ritual. Selanjutnya pada zaman Mataram gamelan mulai dibuat menggunakan bahan dasar logam. Sejak saat itu gamelan menggunakan bahan dasar logam.

 

Penggunaan Gamelan Sesuai Suasana Yang Dinginkan

Anand Krishna dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 menyampaikan……… Jenis musik yang kita sukai bisa menjelaskan sifat kita, karakter kita, watak kita. Sitar, vina, harpa dan biola masuk dalam satu kategori. Alat-alat itu bisa mendatarkan gelombang otak, dan menenangkan diri manusia. Para penggemar musik sitar, tak akan pernah mengangkat senapan untuk membunuh orang. Musik gendang, drum dan alat-alat lain sejenis bisa membangkitkan semangat. Bagus, bila diimbangi dengan sitar dan alat sejenis. Bila tidak, akan membangkitkan nafsu dan gairah yang berlebihan……

Penalaan dan pembuatan gamelan adalah suatu proses yang kompleks. Gamelan di Jawa menggunakan cara penalaan slendro dan pelog. Gamelan selalu digunakan sebagai pengiring pagelaran wayang dan tari tradisional Jawa. Jenis gendhing yang dipakai untuk mengiringi wayang  kulit tergantung dari tahapan dalam pagelaran wayang kulit yang dimulai sekitar jam 21.00 dan berakhir sekitar jam 06.00 pagi. Gendhing Pathet Nem disuarakan antara pukul 21.00-24.00, mengiringi gambaran yang melambangkan masa kanak-kanak Sang Satria pemeran utama. Gending Pathet Sanga digunakan antara pukul 24.00-03.00, mengiringi penggambaran Sang Satria yang  mulai mencari Guru untuk belajar ilmu pengetahuan. Dalam tahapan ini disampaikan wejangan oleh Dewa, Prabu Kresno atau Semar. Gending Pathet Manyuro, dimunculkan antara pukul 03.00-06.00 mengiringi cerita yang memperlihatkan Sang Satria  yang telah memiliki pengetahuan memberantas ketidakadilan sehingga kehidupannya berbuah kebahagiaan.

 

Kesakralan Pergelaran Gamelan

Dalam mengiringi tarian sakral seperti tarian ritual agung Bedhaya Ketawang, pada waktu latihan tari  yang diadakan pada hari Anggara Kasih (Selasa Kliwon) maupun pada waktu pergelaran, semua penari dan pemain gamelan beserta suarawatinya harus selalu dalam keadaan suci (tidak sedang haid).

Ada beberapa perangkat gamelan yang dianggap sebagai pusaka, diantaranya adalah Kyai Sekati yang dipergunakan dalam acara Sekaten. Sekati sendiri berasal dari kata Suka Ati yang merupakan irama musik ritual yang sudah ada sejak zaman Majapahit. Oleh Sunan Kalijaga dimaknai sebagai Syahadat Ain (sekaten), sebagaimana kata Kalimasada yang berasal dari Kali Maha Usada (Bunda Alam Semesta Sang Maha Penyembuh) dimaknai sebagai Kalimah Syahadat.

 

Nada Tubuh, Nada Alam Semesta dan Nada Gamelan

Setiap organ tubuh bergetar. Setiap organ tubuh memiliki ritme, nada dan irama sendiri. Di dalam tubuh manusia terdapat  irama  yang harmonis, seperti halnya alam semesta yang juga berirama. Nada-nada alam semesta yang tertangkap oleh kepekaan rasa diungkapkan menjadi nada-nada gamelan. Lewat nada-nada musik tersebut manusia melakukan pemujaan dan perenungan spiritual. Nada-nada musik bukan sekedar seni, tetapi merupakan bahasa jiwa, spirit kehidupan, musik Sang Maha Pencipta, bahasa pertama yang menjadi asal muasal kehidupan. Sebagai media dan bentuk komunikasi universal, nada-nada musik melewati bahasa verbal, diterima indera pendengaran, diteruskan ke hati, pusat rasa. Karena Rasa itulah, maka nada-nada musik melewati batas-batas etnis, agama, komunitas dan negara. Oleh karena itu bisa juga,

 

Musik Sebagai Sarana Masuk ke Alam Spiritual

Alam semesta ini adalah musik. Di mana-mana ada musik. Jika kita cukup sensitif terhadap vibrasi suara, kita dapat dengan mudah mendengar suara merdu Sang Agung. Dan di dalam suara Sang Agung itulah, di dalam lagu Sang Agung itulah, kita semua bertemu. Seorang Sofie dalam bahasa Yunani, atau Sufi dalam bahasa Arab, adalah seseorang yang tersesat dalam Senandung Agung. Seorang Sufi menjadi satu dengan Nyanyian, dengan Sang Agung. Jiwa Sufi adalah jiwa universal, jiwa Tuhan. Bangkitnya jiwa semacam itu berarti juga kebangkitan ketuhanan di dalam diri….. Demikian pandangan Anand Krishna dalam buku “The Gospel Of Michael Jackson”, Anand Krishna, Anand Krishna Global Co-Operation bekerja sama dengan Yayasan Anand Ashram, 2009.

Dalam buku, “Gamelan Stories: Tantrism, Islam, and Aesthetics in Central Java”, Judith Becker menyampaikan bahwa pada zaman pertengahan, di Indonesia, elemen Gamelan digunakan sebagai pemujaan kedalam dan keluar diri. Dia mengutip Sastrapustaka yang mengungkapkan makna esoteris nada-nada Gamelan yang berhubungan dengan chakra, panca indera dan rasa. Musik Gamelan sebagai yantra, alat, dapat membantu tahapan meditasi sebelum mencapai keadaan samadhi. Lewat musik tersebut orang bisa melakukan penjernihan pikir, pembeningan hati dan pemurnian jiwa sehingga muncul penyembuhan psikologis.

 

Pengaruh Musik terhadap Manusia

Musik bisa menjadi obat bagi tubuh dan jiwa. Musik dapat mempengaruhi suasana hati, fisik dan spiritual, juga dapat menangani berbagai masalah, dari nyeri kronis, hipertensi, kecemasan sampai penyakit-penyakit mental. Musik dapat mempengaruhi denyut nadi, tekanan darah dan pernapasan. Misalnya lagu yang temponya agak pelan denyut jantung dan pernapasan akan menyesuaikan dengan tempo musik tersebut. Demikian pandangan Anand Krishna dalam buku “Self Empowerment, Seni Memberdaya Diri Bagi Para Pendidik Dan Pemimpin”, Anand Krishna Bersama Para Pelatih Program, PT. One Earth Media, 2005.

Dr. Masaru Emoto dari Jepang membuktikan bahwa musik dapat mempengaruhi air, sehingga musik yang indah akan membuat air membentuk kristal hexagonal yang indah. Memahami bahwa baik manusia, hewan dan tanaman mengandung air, maka suara musik akan mempengaruhi semua makhluk hidup. Organ-organ manusia mempunyai getaran dengan berbagai frekuensi. Walau frekuensi yang dapat didengar manusia berkisar 20 Hz-20 KHz, frekuensi suara berbagai alat gamelan sangat bervariasi dan memungkinkan terjadinya frekuensi yang sama dengan organ tubuh. Bila getaran suara Gamelan mempunyai frekuensi yang sama dengan suatu organ tubuh yang lemah, maka resonansi yang terjadi dapat memperkuat dan menyembuhkan organ yang bersangkutan. Musik yang harmonis juga akan mebuat sapi merasa tenang dan mempengaruhi sistem kelenjar yang berhubungan dengan susu. Selanjutnya, getaran frekuensi tinggi dari Gamelan akan merangsang ‘stomata’ tanaman untuk tetap terbuka, meningkatkan proses pertumbuhan. Bunga-bunga yang beraneka warna pada umumnya mempunyai panjang gelombang sama seperti panjang gelombang warnanya. Suara alat-alat musik yang bervariasi panjang gelombangnya dapat mempengaruhi organ yang sama panjang gelombangnya.

 

Dari Perbedaan Menuju Irama Kesatuan

Dalam suatu pergelaran Gamelan, sebuah orkestra asli Indonesia, beragam alat dengan beragam nada masing-masing mempunyai peranan yang signifikan, asalkan semuanya mengikuti satu irama kesepakatan, sehingga dapat menciptakan komposisi yang indah dan harmonis. Suatu pengimplementasian dari falsafah Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi dalam bingkai satu kesatuan.

Jangan menyeragamkan dunia ini. Upaya kita untuk menyeragamkan dunia ini juga menjauhkan kita dari kehidupan, dari keindahan, dari diri sendiri. Toh, akhirnya juga penyeragaman itu tidak membawakan hasil apa pun juga. Lihatlah keindahan di balik perbedaan. Terimalah kehidupan sebagaimana adanya. Itulah esensi agama. Itulah intisari spiritualitas. Itulah keagamaan. Itulah religiositas! Demikian pandangan Anand Krishna dalam buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999.

 

Situs artikel terkait:

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: