Hidup Sekedar “Mampir Ngombe”? Masih Relevankah?


Seri Kearifan Lokal

buku bhaja-govindam-500x500
Leluhur kita mempunyai ungkapan “Urip mung mampir ngombe”, hidup hanya sesaat yang seakan hanya untuk minum beberapa tegukan. Untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju “sangkan paraning dumadi”, menuju ke asal dan juga akhir penciptaan. Sayidina Umar berkata bahwa pada hakikatnya setiap orang di dunia ini adalah seorang tamu dan harta yang dimilikinya adalah pinjaman. Seorang tamu pastilah cepat atau lambat akan pergi, dan pinjaman harus dikembalikan. Isa Sang Masiha menyatakan bahwa dunia ini ibarat jembatan, lewatilah, jangan membuat rumah diatasnya. Masihkah ungkapan-ungkapan tersebut relevan pada masa kini?

Dunia Benda Tidak Abadi


Dunia Benda tidak abadi. Apa yang kita miliki saat ini, pernah dimiliki orang lain sebelumnya. Dan, dapat berpindah tangan kapan saja dari tangan kia. Sesuatu yang bersifat tidak abadi tidak dapat memberi kebahagiaan yang kekal dan abadi. Dalam buku “Niti Sastra, Kebijakan Klasik bagi Manusia Indonesia Baru”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2008 disampaikan…….. Harta benda, ketenaran, kedudukan, kecantikan, ketampanan semuanya fana; tak ada yang langgeng. Bahkan, keberanian, semangat hidup, positive thinking pun tidak langgeng. Saat ini masih berani, sesaat kemudian takut. Saat ini masih cerdas, sesaat lagi lenyap tanpa bekas segala kecerdasan itu.

Ketenaran, Kedudukan Dan Kekayaan Juga Tidak Abadi


Ketenaran, kedudukan dan kekayaan – tiga “K” ini merupakan perkembangan dari rasa kepemilikan kita. Rasa kepemilikan ini harus diganti dengan Kesadaran. Selama ini tidak terjadi, selama itu pula kita akan selalu terombang-ambing di tengah lautan kehidupan. Kita akan selalu menderita. Mengumpulkan harta di dunia berarti mengumpulkan tiga “K” tadi. Dan tiga “K” ini tidak langgeng, tidak abadi. Sewaktu kita masih memilikinya, kita senang. Begitu kehilangan, kita kecewa, kita sedih. Harta sorgawi yang dimaksudkan oleh Yesus adalah Kesadaran. Dalam lautan kesadaran, segala rasa terlarut dan jiwa kita menjadi bersih. Sekali rasa kesadaran ini terkembangkan, kita akan terbebaskan dari keterikatan-keterikatan duniawi….. Demikian pandangan Anand Krishna dalam buku “Sabda Pencerahan, Ulasan Khotbah Yesus Di Atas Bukit Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004.

Masalah Utamanya Adalah Keterikatan Terhadap Sesuatu


Dalam buku “Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004 disampaikan bahwa…… Mahaguru Shankara tidak mencela harta-benda. Yang dicela adalah keterikatan kita. Silakan cari uang; silakan menjadi kaya dan menikmati kekayan Anda, asal tidak terikat, karena keterikatan akan menyebabkan kekecewaan. Keterikatan merampas kebebasan Anda. Keterikatan memperbudak Anda. Tidak terikat berarti tidak habis-habisan, tidak mati-matian mengejar sesuatu……
Dalam buku “Mengikuti Irama Kehidupan, Tao Teh Ching Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan bahwa…….. ia yang bijak, melewati kehidupan ini, sambil menikmati perjalanannya. Akan tetapi tidak lupa akan jati dirinya. la tidak terikat pada apa pun juga. la yang bijak tidak akan meninggalkan dunia. la tidak akan masuk hutan dan menjadi seorang pertapa. Atau hidup sangat ketat dalam lingkungan ashram, pesantren atau biara. Hidup di tengah keramaian dunia, menikmati segala pemberian alam semesta, tetapi tidak terikat pada apa pun juga. la tidak akan pernah lupa jati dirinya. la tidak akan pernah lupa bahwa ia hanyalah seorang musafir yang sedang melewati kehidupannya. Dengan sendirinya, ia tidak akan menghimpun harta kekayaan dan menambah bebannya. Perjalanannya masih panjang, ia akan menikmati segalanya, tanpa berkeinginan untuk memilikinya……..

Mengejar Dunia Dengan Mengalami Suka Duka Tanpa Henti?


Dalam buku “Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004 disampaikan……. Bila harta kekayaanmu dapat membahagiakan dirimu, kenapa kau begitu sedih saat mati dan meninggalkannya? Kenapa tidak membawanya ke alam sana? Lalu apa arti tabunganmu selama ini? Masih untung bila kau sempat menikmati harta itu semasa hidupmu. Masih untung bila kau sempat hidup nyaman dengan apa yang kau miliki…. Silakan menabung. Silakan beli properti, silakan berinvestasi. Asal tahu bahwa semua itu tidak membahagiakan (secara abadi). Tidak ada kebahagiaan (abadi) yang dapat kau peroleh dari semua itu….. Lalu apa yang dapat membahagiakan diriku? Bila harta benda, sanak-saudara, kerabat dan keluarga, tak satu pun dapat membahagiakanku, apa yang harus kulakukan? Pilihan kita tidak terlalu banyak. Hanya dua saja… masuk ke dalam alam depresi berat dan berakhir dengan bunuh diri, atau memasuki alam meditasi dan menemukan sumber segala kebahagiaan di dalam diri. Pilihan pertama membebaskan Anda dari penderitaan duniawi, dari penderitaan di dunia ini. Pilihan kedua membebaskan Anda dari penderitaan itu sendiri. Kemudian Anda berada di alam ini atau alam sana tidak menjadi soal……

Peziarah atau Pengelana Tak Bertujuan


Manusia Ditakdirkan Menjadi Peziarah, Sayang Ia Menjadi Pengelana Tak Bertujuan. Bagi para sufi yang penting adalah perjalanan. Hidup mereka sebagai seorang musafir yang terus berjalan menuju Tuhan. Nampaknya para leluhur sejalan dengan pandangan para sufi yang menghargai sebuah perjalanan kehidupan. Dalam buku “Ah, Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2000, disampaikan keteladanan Sariputra, murid Sang Buddha Gautama…… Tinggal di Hotel Bumi ini, jadilah seorang tamu seperti Sariputra. Sadar sepenuhnya dan bertindak sesuai dengan kesadarannya, dia tidak perlu dibelenggu dengan rantai peraturan dan hukum hotel yang ditamuinya. Seorang tamu seperti Sariputra akan dipercayai penuh oleh manajemen hotel yang diinapinya. Mereka yakin bahwa ia tidak akan mencuri handuk dalam kamar mandinya. Tidak akan mencuri asbak dari ruangan tamunya. Tidak akan merusak penutup klosetnya. Ia dipercayai akan menjaga kebutuhan dan keindahan kamar yang disewanya.
Dalam buku “Mengikuti Irama Kehidupan Tao Teh Ching Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan bahwa……. “Tao” berarti mengalir bagaikan sungai. Sungai yang tidak pernah berhenti, terus menerus mengalir saja. Seseorang berhenti mengalir karena terikat pada sesuatu, karena berkeinginan untuk memilikinya. Orang bijak menganggap dirinya pengembara. la melewati hidup ini tanpa membebani siapa pun juga. Demi keuntungan pribadi, jangan sampai menyusahkan sesama. Keuntungan seberapa pun yang diraih, toh akan tertinggal di sini juga. Perlu dihayati hidup sebagai seorang pengembara…… Ada pejabat arogan berkata, siapa yang dapat mencopotnya. Dia tidak beranggapan sebagai pengembara. Dia pikir dia akan selalu berkuasa selamanya. Mungkin pelajaran sejarah telah dilupakannya. Bahwa para Hitler dan Mussolini serta diktator berkuasa lainnya, ternyata akhirnya jatuh juga. Anggaplah diri sebagai seorang pengembara. Keberadaan di sini hanya untuk sesaat, sementara saja. Melakoni hidup dengan penuh kesadaran, tidak cari musuh, tidak membuat masalah dengan selalu waspada.

Perjalanan Spiritual
Kebahagiaan itu lebih bersifat ruhani dan, oleh karena itu, harus ditemukan di dalam ruh, dari dalam diri masing-masing. Kebahagiaan tidak bisa dicari di luar diri, dari benda-benda luar. Kebahagiaan bukanlah benda. Bukan pula materi. Kehidupan di dunia materi ini bersifat sementara, para leluhur kita memberi istilah sekedar “mampir ngombe”, minum sejenak dalam perjalanan pulang menuju Diri Sejati.
Dalam buku “SAI ANAND GITA Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati”, Sai Das, Koperasi Global Anand Krishna Indonesia, 2012 disampaikan……… Perjalanan spiritual, dimulai dari “aku” yang terbatas menuju “kita” yang terus menerus meluas. Ini adalah langkah pertama dalam perjalanan spiritual. Langkah kedua adalah dari “kita” menuju “Dia” Tuhan, Ayah dan Ibu Semesta yang Sejati. Perjalanan spiritual membawa kita melampaui bintang yang terjauh dan kerabat yang terdekat sekaligus. Perjalanan spiritual adalah perjalanan dari dan diatas segala perjalanan, satu-satunya perjalanan yang berharga untuk dilakukan. Perjalanan spiritual adalah perjalanan dari yang terbatas menuju yang tak terbatas………. Asato – maa Sadgamaya, Tamaso – ma Jyotirgamaya, Mrityor – maa Amritamgamaya. Perjalanan ini adalah dari asat, ketidakbenaran, saya memilih untuk menafsirkannya sebagai “kebenaran rendah”, menuju Kebenaran Sejati, sat; dari tamas atau kegelapan menuju terang Jyoti. Dan dari kematian atau mrityu menuju kehidupan Abadi, Amrita. Makna yang terkandung dalam doa yang sangat penting ini adalah: Ya Tuhan, bimbinglah kami dari kegelapan khayalan, kebencian, dan ketidaksadaran yang mengerikan ini menuju Kehidupan Abadi, Kebenaran, Kasih, dan Kebijaksanaan….. disusun oleh TW

Situs artikel terkait:
https://triwidodo.wordpress.com
http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo
http://www.kompasiana.com/triwidodo

3 Tanggapan

  1. pak, saya sering membuka site ini dari hp, nah dari hp kok menu Arsip Bulanan tidak bisa diakses ya?

    Kalo bapak gak keberatan tolong dibuat agar menu Arsip Bulanan jd bisa diakses dong, dari opera mini !
    Makasih.

    • Terima kasih Brother Robert, kami selalu memakai laptop dan arsip bulanan nampak. Kami sendiri memakai program bawaan dr wordpress. Mungkin saja dg hp akses kurang sempurna, mohon maaf kami tidak tahu cara mengaktifkannya. Salam __/\__

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: