Indonesia on Sale: Demi Kenyamanan Pribadi Menjual Nasib Bangsa

Nilai Tukar Bangsa Yang Semakin Merosot

Menikmati harta dan kekuasaan sah-sah saja bila atas keringat dan perjuangan pribadi. Sayangnya banyak pejabat yang menggadaikan negeri demi kenyamanan pribadi.  Tanpa sadar sebagian putra-putri bangsa telah menjual Indonesia dengan harga sangat murah. Daftar panjang penukaran nasib bangsa dengan kenyamanan pribadi/kelompok sangat memprihatinkan. Mengobral murah keringanan hukum terhadap gembong narkoba dan koruptor. Mendidik sejak dini untuk tidak menghormati budaya bangsa. Menghabiskan energi dengan berfokus pada politik mempertahankan kekuasaan dan mengabaikan keutuhan NKRI. Memasukkan barang impor dengan mematikan produksi dalam negeri. Dan, berbagai penukaran aset bangsa dengan harga yang murah demi kenyaman pribadi.

 

Nasib Generasi Muda Ditukar Dengan Keringanan Hukuman Gembong Narkoba

Ada yang menggadaikan aset generasi muda dengan meringankan hukuman para gembong narkoba. Mereka mengabaikan fakta bahwa setiap tahun ada 15.000 pecandu terutama generasi muda yang meninggal dunia. Bagaimana jadinya bila putusan pembatalan hukuman mati Produsen Narkoba digunakan sebagai yurisprudensi? Akan semakin banyak gembong narkoba yang lepas dan Narkoba akan tumbuh subur di Indonesia. Satu buah tindakan merugikan bangsa demi kenyamanan pribadi segelintir oknum. Dan, itu ada kaitannya dengan Mafia Peradilan.

 

Mafia Peradilan

Aktivis ICW, Tama Satrya Langkun berbicara tentang Cara Mafia Peradilan Bekerja. Kira-kira demikianlah gambaran singkatnya. Modus mafia peradilan sudah bekerja sejak pendaftaran perkara. Panitera harus diberi uang pelicin, agar perkara cepat ditangani. Pada waktu persidangan, mafia akan menawarkan majelis hakim favorit. Pengacara sowan langsung ke Pengambil Keputusan di Pengadilan Negeri untuk menentukan majelis hakim. Saat pengambilan putusan, mafia juga akan memainkan peran sebagai negosiator putusan. Sehingga vonis dapat diatur melalui jaksa dalam sistem paket, atau langsung ke hakim. Bila uang pelicin kurang, Hakim menunda putusan sebagai isyarat agar hakim dihubungi. Hakim menyiapkan rekayasa seluruh proses persidangan. Di tingkat Mahkamah Agung, oknum MA akan menghubungi atau dihubungi pengacara untuk mengatur perkara. Mereka yang terlibat dalam kegiatan Mafia Peradilan telah menggadaikan bangsa dengan harga sangat murah, kepercayaan masyarakat mereka tukar dengan kenyamanan pribadi/kelompok.

 

Menggadaikan Budaya

Budaya bangsa pun telah digadaikan demi uang dan kekuasaan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pada saat melamar pekerjaan pada beberapa yayasan, selalu saja ditanyakan bagaimana pandangannya terhadap khilafiyah. Diduga beberapa yayasan hanya menerima karyawan yang setuju negara berdasar agama, apakah ada dana asing yang masuk terhadap yayasan-yayasan tersebut? Wallahu alam.

Anand Krishna dalam artikel Negara Merdeka Vs Negara Terjajah dalam situs http://www.aumkar.org/ind/  mengingatkan bangsa Indonesia terhadap Sir Thomas Babington Macaulay (1800-1859), anggota dewan pemerintahan dari Perusahaan India Timur pada tahun 1834-1838, dikutip dari pidatonya yang diberikan pada tanggal 2 Februari 1835…….. “Saya telah berpergian keliling India dan tak pernah melihat satupun pengemis atau pencuri. Kekayaan semacam itu saya saksikan di seantero negara ini. Nilai moral, orang sekaliber tersebut, saya tak pernah berpikir bahwa kami dapat menjajah negara ini, kalau kami tidak mematahkan tulang punggung bangsa ini, yakni warisan spiritual dan budayanya. Oleh sebab itu, saya mengusulkan bahwa kami musti mengganti sistem pendidikan lama dan budaya mereka. Karena jika orang India berpikir bahwa budaya asing dan Inggris lebih baik dan lebih hebat dari budaya mereka sendiri, maka mereka akan kehilangan harga diri dan budaya lokal yang asli. Mereka pasti menjadi apa yang kita inginkan, bangsa yang sungguh terjajah.” ……..

Membaca kata-kata itu hampir dua abad silam, Anand Krishna menyadari bahwa Sir Macaulay belum mati. Oleh karena itu, Beliau memakai istilah “sekarang” dan bukan “dulu”. Idenya tetap hidup. Dia masih mempunyai banyak pengikut di seluruh dunia. Berapa dari kita di Indonesia menyadari bahwa hal yang sama tengah terjadi pada kita di zaman modern ini? Kita tak hanya dikepung oleh satu atau dua, tapi begitu banyak Macaulay. Satu perbedaannya: Macaulay yang kondang atau terkenal tersebut berkebangsaan Inggris, putih, sehingga begitu mudah dikenali. Sekarang, genre Macaulay datang dalam pelbagai warna dan bentuk, putih, coklat, merah dan bahkan hitam. Dan, mereka mencabut akar budaya kita dan peradaban leluhur dari segala sudut. Salah satu dari mereka, telah secara intensif menyusupi masyarakat dan sistem sosial kita, sampai-sampai saat ini kita bingung dan tak bisa membedakan mana nilai spiritualitas agama dan mana yang radikalisme agama. Beberapa tokoh di-“pakai” sebagai agen mereka untuk menghancurkan kita dari dalam. Mereka begitu panik dan tak akan meninggalkan satu batu pun tetap pada tempatnya untuk memastikan bahwa mereka telah mendominasi negara seperti kita. Baca lebih lanjut

Iklan

Indonistan: Bola Gelinding Lia Eden, Aliran Sesat, Ahmadiyah, Syiah, Anand Krishna

indonistan

Lautan Internasional Membelah Indonesia

Informasi di internet belum tentu benar, akan tetapi kadang kala sudah bisa membuat berdiri bulu roma. Pernah terbaca di internet bahwa kesadaran saudara-saudara kita dari Bali sangatlah luar biasa. DNA kebesaran jiwa masih tersimpan rapi di dada mereka. Kalau saja saudara-saudara kita di Bali terprovokasi Bom Bali I 2002 dan Bom Bali I 2005, atau terprovokasi tindakan kekerasan terhadap warga Bali pada tahun lalu di Lampung dan Sumba, apa yang akan terjadi? Bali mempunyai hubungan internasional yang baik, bila tersulut dan ingin merdeka akan banyak negara luar negeri yang mendukung. Bila merdeka, Bali berhak punya lautan internasional, jalan keluar ke samudera luas. Selat Bali dan Selat Lombok akan menjadi perairan internasional. Armada-armada raksasa dari negara adikuasa bisa berseliweran di sana. Dan, terbelahlah Indonesia. Akan muncul Negara Papua dan lainnya di sebelah timur dan demikian pula beberapa negara di bagian barat. Diduga ada provokasi untuk memecah-belah Indonesia dengan membuat panas Bali. Kita jelas tidak menghendaki itu. Tetapi diduga ada kelompok yang tidak peduli dengan selalu memprovokasi Bali. Ada kelompok yang tidak sadar bahwa mereka telah menjadi agen pemecah-belah bangsa. Banyak pemimpin di India dan Pakistan yang menyesal dengan berpisahnya Negara Pakistan dengan India di tahun 1947. Mengapa kita tidak belajar juga? Bagaimana pun masyarakat dan Pemerintah khususnya Angkatan Bersenjata harus mempertahankan integrasi NKRI.

Pernah juga terbaca di internet bahwa virus-virus disintegrasi bangsa yang berbahaya sudah memasuki tubuh kita. Jumlahnya tak besar memang, tetapi mereka tak bisa dibiarkan. Bila para kesatria acuh-tak acuh demi kekuasaan. Bila para wakil rakyat terbius kemewahan. Bila masyarakat yang paham diam. Kondisi akan semakin mengenaskan. Lebih dari 80% masyarakat memang hanya diam dan mengikuti saja. Bila virus-virus berkesadaran muncul, cukup 10% virus yang baik maka tubuh kita kembali sehat. Masihkah kita diam dengan berbagai pertimbangan? Pantas beberapa pakar bilang bahwa kita telah kehilangan kepekaan terhadap hal-hal yang mendesak. Lack of Urgency. Bangkitlah saudara-saudara putra-putri Ibu Pertiwi. Arwah para founding fathers kita bersimbah air mata. Tahun 1908 Kebangkitan Nasional, tahun 1928 Sumpah Pemuda, tahun 1945 Indonesia Merdeka. Dan saat ini Pemuda-Pemudi kita asyik berchatting-ria. Bangunlah! Air bah bencana sudah setinggi dada! Informasi di internet belum tentu benar akan tetapi nasehat yang baik perlu direnungkan dalam-dalam dan diikuti juga.

 

Belajar dari “Tuanku Rao” di awal Abad 19

Dari informasi di internet juga diperoleh nasehat bahwa mereka yang hanya mencari kesejahteraan bagi keluarga mereka sendiri, semestinya membaca buku “Tuanku Rao”, Mangaraja Onggang Parlindungan, LkiS, 2007. Buku “Tuanku Rao” mengungkapkan bahayanya Tuanku Lelo seorang ultra konservatif di Minangkabau yang mengobrak-abrik masyarakat yang sudah merasa nyaman dan melalaikan bahaya yang mengancamnya. Keluarga Istana Pagaruyung dihabisi justru bukan dari musuhnya yang berbeda keyakinan, akan tetapi dari musuh dalam selimut yang merupakan kelompok ultra konservatif. Kesejahteraan keluarga tidak ada artinya bila negara berada dalam keadaan teror yang berkepanjangan. Seorang sahabat di Pakistan juga menyampaikan hal yang sama.

 

Bola Kekerasan Yang Menggelinding Terus, Who’s Next?

Membaca beberapa informasi dari internet, nampaknya masyarakat Indonesia mudah diprovokasi khususnya bila sentimen keyakinan dijadikan landasan. Pemerintah sering menutupi akar permasalahan sentimen keyakinan. Peristiwa yang terjadi beberapa kali di Ambon pun diduga mempunyai nuansa yang sama. Bola gelinding dimulai dari yang nampaknya benar-benar sesat sampai yang diduga masih abu-abu. Lia Eden 2009, beberapa aliran sesat beberapa tahun terakhir, Ahmadiyah Cikeusik 2011, Syiah Sampang 2012, GKI Yasmin sampai Anand Krishna. Who’s next?????

Pernah saat search google: “Video Kesaksian Alasan Anand Krishna Dikriminalisasikan”, kita melihat video kesaksian yang berani dan mengagetkan dari seorang dosen perempuan dan wartawan senior. Isinya mengungkap mengapa Anand Krishna dikriminalisasikan. Bila dibunuh Anand Krishna akan menjadi martir dan pandangan kebangsaannya semakin berkembang. Oleh karena itu Anand Krishna perlu dibunuh karakternya dan dijebloskan ke penjara lewat rekayasa kasus, karena ada pihak-pihak yang tak suka dengan gerakan integrasi nasional dan global harmoni. Disebutkan di video bahwa ada kelompok yang hendak mengganti dasar negara Pancasila.

 

Konflik Atas Nama Sara

Dari internet juga diperoleh informasi bahwa konflik atas nama agama terus meningkat eskalasinya. Persoalan kekerasan karena intoleransi menjadi antitesis bahwa Indonesia mengakui keberagaman. Penyerangan, pembakaran, penyegelan, pengusiran, bahkan pembunuhan terhadap kelompok yang dianggap sesat terus saja terjadi. Anand Krishna tidak dibunuh karena kalau dibunuh akan menjadi martir dan pandangan kebangsaannya akan berkembang. Anand Krishna perlu dibunuh karakternya, agar pandangannya tentang integrasi bangsa tidak berkembang. Demikian dapat kita lihat dari video kesaksian mengapa Anand Krishna harus dibungkam. Baca lebih lanjut

Membungkam Anand Krishna: dari Mafia Hukum sampai Upaya Paksa Preman

free_ak

Latar Belakang Pembungkaman Anand Krishna

Hampir setiap hari kita mendengar kekerasan yang terjadi di Pakistan. Seorang teman dari Afganistan juga bercerita bahwa di perbatasan Pakistan dan Afganistan sepanjang lebih dari 2.000 km menjadi daerah yang rawan dan sering terjadi kekerasan. Seorang teman yang lain berkata bahwa bila kita tidak waspada negara kita bisa berubah menjadi Indonistan. Paragraf berikut ini adalah pandangan Anand Krishna yang diduga membuat pembungkaman Anand Krishna dilakukan dengan berbagai cara agar berhenti bersuara.

Belajar Sejarah dari Majapahit dan Sriwijaya

Anand Krishna (pada tahun 2007): “Cari tahu, apa yang terjadi sehingga kita dijajah selama beratus-ratus tahun. Di manakah letak kesalahan kita? Sriwijaya berkuasa selama berabad-abad. Majapahit pun demikian. Semasa itu pula kita menjadi negara bahari, negara maritime yang terbesar di dunia. Kemudian, ketika agama dicampuradukkan dengan urusan ekonomi dan politik. Ketika agama digunakan sebagai alat untuk meraih kekuasaan hancur leburlah kita. Mereka yang menggunakan agama untuk meraih kekuasaan hanya dapat bertahan selama satu abad. Setelah itu, kita dijajah oleh bangsa-bangsa asing selama berabad-abad. Belajarlah dari kesalahan-kesalahan masa lalu, sehingga kita tidak melakukan kesalahan yang sama di masa kini. Belajarlah dari sejarah masa lalu, supaya kita tidak dikutuk untuk mengulanginya lagi, karena kemungkinan terjadi pengulangan sudah “hampir” menjadi kenyataan. Berkeliaran bebas di tengah kita adalah para calo dan pedagang tak bermoral yang menggunakan agama sebagai kedok untuk meraih kekuasaan dan keuntungan bagi diri mereka, bagi kelompok mereka, dan bagi ‘tuan-tuan asing’ mereka. Dikutip dari buku “Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007.

Benteng Budaya

Anand Krishna (pada tahun 2007): “Mereka yang hendak memaksakan kehendak dengan menggunakan dalih agama, dan mereka yang membiarkan atau malah setuju dan mendukungnya sama-sama bersalah atas musibah yang menimpa negeri kita. Mereka telah berdosa terhadap rakyat Indonesia. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita semua yang tidak bersuara.… karena, pada suatu ketika setiap anggota tubuh kita akan dimintai pertanggungjawaban atas segala apa yang dibuatnya atau dibiarkannya terjadi. Mereka yang hendak mengganti landasan kita bernegara jelas-jelas tidak bangga dengan budaya sendiri. Mereka malah membanggakan budaya asing. Aneh! lalu, untuk apa masih bertahan hidup di negara ini? Dulu, para pelaku makar masih takut-takut dipenjara, takut mati. Mereka lari ke luar negeri. Sekarang, mereka berkeliaran bebas, lebih ganas dan lebih berani, karena ada yang mendukung mereka. Dibalik mereka ada kekuatan-kekuatan asing dengan agenda tunggal, yaitu menjajah negeri ini, menjarah seluruh kekayaan dan sumber alam kita yang masih tersisa. Untuk itu mereka menggunakan dalih agama. Mereka berupaya untuk menghancurkan benteng pertahanan kita yang terakhir, yaitu benteng budaya. Tanpa benteng budaya, tanpa rasa bangga terhadap budaya asal, tanpa jati diri, kita dapat dijajah dengan mudah oleh siapa saja.” Dikutip dari buku “Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007.

Menghalalkan Segala Cara lewat Mafia Hukum

Anand Krishna dituduh melakukan tindakan pelecehan seksual. Tuduhan tersebut tidak terbukti dan bahkan selama lebih dari 1 tahun sidang hanya terkait dengan 10% masalah utama tersebut. Sisanya berupa penghakiman pandangan Anand Krishna yang sebenarnya telah ditulis dalam 140-an buku yang dijual bebas di luar tanpa masalah. Materi pertanyaan hakim dan jaksa 90 persen sama sekali tidak berhubungan dengan pelecehan seks.

Dugaan pelecehan seksual  Anand Krishna mirip film “Indictment : The  Mc Martin Trial”, sebuah film yang diangkat dari sebuah kisah nyata. Awal munculnya kasus seorang terapis mengaku sudah memberikan terapi kepada Tara lebih dari 40 kali selama 3 bulan dan tidak ada kontak dengan dunia luar (dikarantina) hingga kemudian disimpulkan bahwa Tara mengalami pelecehan seksual. Sesuatu yang terasa ganjil, mengapa Tara baru mengaku mengalami pelecehan setelah diterapi?

Sejak pengadilan digelar Agustus 2010, tak ada satupun saksi yang menyaksikan terjadinya pelanggaran Pasal 290 KUHP. Kesaksian pelapor dan para saksi yang memberatkan selalu berubah-berubah dan berbeda antara yang tertera di BAP dan keterangan pelapor dan saksi di dalam ruang sidang. Pelapor Tara mengaku dalam ruang sidang bahwa tanggal 21 Maret 2009 adalah hari terjadinya dugaan pelecehan seksual yang terjadi di Ciawi. Pada hari yang dimaksud, Pak Anand berada di Sunter – Jakarta, karena memberikan ceramah di acara open house yang diadakan 2 minggu sekali. Bahkan ada buku tamu yang bisa dijadikan bukti, dan puluhan orang menjadi alibi bahwa Pak Anand berada di Sunter pada hari yang dimaksud. Tara pun masih perawan seperti yang disampaikan visum Dr.Mu’im Idris dari RS Cipto Mangunkusumo.  Saksi Farahdiba Agustin dan Saksi Dian Mayasari mengaku mendapatkan pelecehan seksual dari terdakwa tahun 2002 – 2004, tapi mereka menulis dan menerbitkan buku di tahun 2006 dimana dalam buku itu ada catatan dari mereka sebagai penulis mengungkapkan rasa terima kasih dan kekaguman kepada terdakwa. Bila mengalami pelecehan seksual sebelumnya, kenapa bisa mengungkapkan rasa apresiasi dan kekaguman pada terdakwa lewat tulisan?

Surat Penetapan Penahanan tertanggal 9 Maret 2011 yang dikeluarkan diduga sangat cacat hukum. Di Kepolisian dan di Kejaksaan, Pak Anand tak pernah ditahan. Penetapan dikeluarkan ketika terdakwa selalu koperatif dalam menghadiri sidang pengadilan sejak Agustus 2010, dan proses pengadilan belum mendengarkan keterangan seluruh saksi. Hakim sudah berpihak ketika proses sidang masih berlangsung di tengah proses persidangan. Selanjutnya Anand Krishna tidak makan sampai 49 hari dan kemudian Ketua Hakim Sidang Hari Sasangka diganti oleh Hakim berintegritas Albertina Ho, karena Hakim hari Sasangka ketahuan berselingkuh dengan saksi yang memberatkan dan yang akhirnya dipindahkan ke luar Jawa sebagai hakim non-palu. Albertina Ho memanggil ulang semua saksi dan datang ke lokasi kejadian dan terungkaplah rekayasa kasus. Kemudian Anand Krishna divonis bebas pada tanggal 22 Nopember 2011. Baca lebih lanjut

Rekaman Kezaliman Hukum terhadap Anand Krishna via Ustream

free_ak

Ustream

Ustream adalah sebuah website yang menyediakan siaran langsung dari sebuah kegiatan. Ustream memungkinkan pengguna untuk menyiarkan secara langsung dan para pemirsa dapat menonton siaran langsung dari jarak jauh. Beberapa teman ahli komputer mengajari kami cara menggunakan Ustream secara online. Belum sempurna juga, karena sebagai generasi di atas 50-an kami masih gagap dengan teknologi baru. Kami melihat kejadian di Pasraman Ubud tanggal 14 dan 16 Februari 2013 via Ustream.

 

Kelanjutan Tulisan Perlunya CCTV di Sidang Pengadilan

Kami pernah menulis di kompasiana tentang: Rekaman CCTV Kezaliman Hukum terhadap Anand Krishna pada tanggal 30 Agustus 2012. Sumber:

http://hukum.kompasiana.com/2012/08/30/rekaman-cctv-kezaliman-hukum-terhadap-anand-krishna-489020.html

Boleh saja para pembaca membaca lewat media dengan berbagai versi. Akan tetapi kami melihat langsung apa yang terjadi lewat Ustream.

Pada zaman modern ini, peristiwa bisa dilihat secara langsung sehingga semua orang dapat mengetahui apa saja yang terjadi dalam peristiwa tersebut. Kejadian tersebut berikut suaranya  akan terlihat dan pemutarbalikan fakta di media akan nampak nyata.  Peraturan/hukum selalu terlambat menyikapi kemajuan zaman. Pada waktu kami menulis tentang CCTV kami menyatakan bahwa untuk mencari menangnya sendiri seorang petugas hukum bisa berkilah bahwa dasar hukum untuk rekaman CCTV belum ada aturannya. Akan tetapi keadilan sejati tidak bisa ditutup atas dasar peraturan yang terbatas. Rekaman persidangan lewat CCTV adalah catatan sejarah yang telah tercatat dan akan dibaca oleh generasi penerus kita dalam zaman yang lebih modern. Masyarakat pasti mendukung adanya rekaman CCTV di Setiap Sidang Pengadilan. Bisa saja tidak untuk dibuka untuk umum akan tetapi bagi para atasan yang bertanggung jawab sehingga dapat melihat kejadian nyata di sidang pengadilan.

Demikian pula tentang Ustream ini, kami melihat langsung apa yang terjadi seperti otak kami telah mencatatnya. Dan sebagian sudah berada di Youtube dan akan terpampang di sana.

 

Kejadian Tanggal 14 Februari 2013

Tulisan kami tentang “Eksekusi Paksa Yang Cacat Hukum di Hari Valentine” ditulis berdasarkan Ustream yang kami lihat. Silakan baca:

http://hukum.kompasiana.com/2013/02/15/eksekusi-paksa-yang-cacat-hukum-di-hari-valentine-533789.html

Bahkan video Ustream tersebut sudah ada di Youtube dan tetap akan ada di sana entah sampai kapan dan akan dilihat beberapa generasi, setelah kita semua meninggalkan dunia ini.

 

Kejadian Tanggal 16 Februari 2013

 

Ini adalah tulisan kami tentang penggunaan Ustream di tanggal 16 Februari 2013.

Kita melihat penyerangan di Ubud seperti di video:

Penyerangan Ubud 1AB

 

http://www.youtube.com/watch?v=lPRy8iPgpzs&feature=youtu.be

Aksi Premanisme di Kediaman Anand Krishna (16 Februari 2013)


http://www.youtube.com/watch?v=DATXpQL3eNs

 

Setelah kejadian yang mengenaskan terlihat seorang petugas adat Bali menenangkan suasana dan nampak seorang berpakaian dinas jaksa, Prashant putra Anand Krishna dan beberapa orang lagi berkumpul di depan petugas adat tersebut. Para preman yang dapat dilihat di video diam menunggu suasana.

Para Pecinta Anand Ashram wanita duduk memenuhi tangga menuju lantai atas.  Sedangkan sebagian berjaga-jaga dan sebagian menyanyikan bhajan dengan beberapa tamu dari luar negeri. Sesekali terlihat Mr. Sacha Stone dan temannya dari Humaitad. Para preman dan jaksa nampak memakai sepatu, sedangkan para pecinta Anand Ashram tidak beralas kaki menghormati aula yang sakral tersebut.

Bhajan terus dilantunkan paling tidak ada 14 lagu. Baca lebih lanjut

Eksekusi Paksa Yang Cacat Hukum di Hari Valentine

free_ak

Dua orang yang mengaku dari Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, dengan memakai kaus dan celana pendek menulis di buku tamu Pasraman Ubud Bali, tanpa menuliskan identitas apa pun kecuali Kejaksaan Negeri. Bersama polisi dua orang tersebut berupaya melakukan eksekusi paksa terhadap Anand Krishna. Terjadi perdebatan sengit karena para pecinta Anand Ashram bersikukuh bahwa Kasasi yang dijadikan dasar eksekusi dianggap cacat hukum.

Anand Krishna telah diputus bebas oleh Hakim Handal Albertina Ho yang terkenal tidak bisa dibayar. Kasasi cacat hukum karena banyak hal:

  1. Dasar eksekusi yang dipakai oleh kejaksaan itu adalah putusan yang batal demi hukum karena tidak terpenuhi Pasal 197 (1) Ayat d, h, e, dan f KUHAP. Apabila jaksa bersikeras untuk menjalankan eksekusi yang di luar hukum, sebagai warga negara berhak menolaknya.
  2. Jaksa Martha Berliana Tobing memasukkan perkara sengketa merk pada tahun 2006 di Pengadilan Tinggi Jawa Barat sebagai dasar pengajuan kasasi yang sama sekali tak ada kaitannya dengan perkara.
  3. 3 Hakim Agung yang menangani adalah pertama Ahmad Yamanie yang terbukti memalsukan putusan hukum dan dipecat dari Hakim Agung. Perkara yang berkaitan dengannya yaitu penetapan hukuman mati bagi gembong narkoba diubah menjadi 15 tahun penjara yang ditengarai ada sesuatu di belakangnya seperti kejadian lain di seluruh Indonesia sukar dibuktikan; Hakim Agung kedua adalah Zaharuddin Utama yang menghukum Rasminah pencuri piring dengan 140 hari dan menghukum Pritasari. Zaharuddin Utama juga diduga terlibat dalam penerimaan suap Rp 1.7 M yang sudah dilaporkan ke KPK. Akan tetapi seperti biasanya sulit juga pembuktiaannya di negeri ini. Hakim agung ketiga adalah Sofyan Sitompul.
  4. Kejanggalan Putusan MA ini juga diamini kalangan akademisi hukum, seperti Prof Dr Nyoman Serikat Putrajaya SH MH (Guru Besar Hukum Pidana Universitas Diponegoro), Prof Dr Edward Omar Sharif Hiariej SH MHum (Guru Besar Hukum Pidana Universitas Gajah Mada), Dr I Dewa Gede Palguna SH MH (Mantan Hakim Konstitusi 2003-2008) dan Dr. IB Surya Jaya SH MH (Ahli Hukum Pidana Universitas Udayana) dalam Eksaminasi Publik atas Kasus Anand Krishna ini di Jogjakarta (18/10) dan Denpasar (25/10) pada tahun 2012.
  5. Demikian pula pendapat Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang berpendapat bahwa proses kasus terhadap kasus ini berindikasi adanya pelanggaran HAM terhadap Anand. Komnas HAM telah menulis surat kepada Mahkamah Agung, Kejaksaan Agung dan Kepolisian untuk tidak menahan Anand Krishna.

 

Sampai pukul 10 malam Waktu Indonesia Tengah, rombongan yang berupaya mengeksekusi paksa masih di luar pagar, sedangkan para pecinta Anand Ashram berada di dalam pagar melakukan nyanyian bersama untuk melembutkan hati. Para pecinta Anand Ashram adalah para peserta simposium yang belum sempat pulang setelah acara selesai. Akhirnya rombongan eksekusi pulang dan bagaimana hari ini tanggal 15 Februari 2013 dan seterusnya? Who knows?

Teman-teman pecinta Anand Ashram menghimbau para pembaca yang bersimpati atas pemaksaan hukum berdasar keputusan yang cacat hukum untuk berkenan mengganti profil di facebook dan BBM dengan profil free Anand Krishna. Baca lebih lanjut

Penegakan Hukum dengan Cara Melanggar Hukum

free_ak

Hanya Percaya Penegakan Hukum oleh KPK

Seseorang  berbicara di warung kopi: “Institusi yang aku percaya saat ini hanya KPK. Aku sudah nggak percaya juga dengan Mahkamah Agung, Hakim Agung Ahmad Yamanie memang dipecat, akan tetapi dasarnya adalah memanipulasi tulisan hukuman 15 tahun menjadi 12 tahun, sedangkan keputusan dia yang membebaskan hukuman mati gembong narkoba menjadi 15 tahun yang sudah menjadi rahasia umum pasti ada apa-apa di baliknya tidak bisa terungkap.”

Masyarakat sudah apatis terhadap penegakan hukum di negeri kita. Hakim baik semacam Albertina Ho sudah tersisih dari pusat penegakan hukum. Orang tersebut juga menyatakan: “Aku heran mengapa, orang-orang jahat yang mempermainkan hukum malah hidup mewah, kok tidak ada hukuman dari Yang Maha Kuasa?” Teman disampingnya setelah menyeruput kopi dan menjawab: “Orang-orang tersebut masih mempunyai sisa tumpukan karma baik sebelumnya, bila tumpukan karma baiknya habis karena selalu berbuat jahat, maka dia akan menerima akibatnya. Ibaratnya buah kejahatan menunggu masak di pohon. Bila sudah waktunya akan jatuh sendiri!’

Berita Negatif Anand Krishna Selalu Dikaitkan Dengan Kegiatan Anand Ashram. Ada Apa?

Mungkinkah berita-berita dimunculkan untuk mensabotase kegiatan interfaith Anand Ashram? Bukan suatu hal yang kebetulan bila berita negatif tentang Anand Krishna selalu berkaitan dengan acara yang akan/sedang dilaksanakan Anand Ashram.

News.okezone.com: Kamis 2 Agustus 2012 merupakan konfirmasi Agung Mattauch kuasa hukum Tara bahwa kasasi Jaksa terhadap Anand Krishna dikabulkan 3 Hakim Agung. Ini nampaknya berkaitan dengan acara 1 Agustus Seminar Gayatri Mantra di STHD Klaten dimana Anand Krishna sebagai pembicara tunggal.

Sampai dengan tanggal 25 September 2012 tidak ada berita negatif Anand Krishna oleh Agung Mattauch dkk karena pada tanggal 14 September 2012 detik.com memuat “Astaga! Jaksa Pakai Kasus Pidana Merek untuk Kasasi Anand Krishna.”

Inonesiarayanews,com: Selasa 25 September 2012 Agung Mattauch minta Kejaksaan jangan terpedaya dengan 1001 trik terpidana untuk menggagalkan eksekusi. Eksekusi segera sebelum Anand Krishna keburu buron. Ini nampaknya berkaitan dengan pembukaan monumen Global Harmony di Ubud pada tanggal 21 September 2012 oleh beberapa tokoh interfaith nasional dan internasional serta IBMF (International Bali Meditators’ Festival)  2012 tanggal 20-23 September 2012.

Gatranews: Kamis 20 Desember 2012 Kejari Jaksel menetapkan Anand Krishna sebagai buron dan masuk DPO (daftar pencarian orang. Ini nampaknya berkaitan dengan acara pertemuan tahunan Anand Ashram (Ruwatan) 19-23 Desember 2012.

7 Februari 2013 Detik.com:  Kamis 7 Februari 2013 Kejari Jakarta Selatan terus mengupayakan eksekusi karena Anand Krishna berpindah-pindah. Ini nampaknya berkaitan dengan banyaknya berita Anand Ashram yang merayakan global interfaith harmony week oleh PBB tanggal 1-7 Februari 2013.

Semestinya Kejari tahu bahwa Anand Krishna tidak pernah berpindah-pindah, sejak adanya berita pengabulan kasasi oleh Mahkamah Agung terhadap kasusnya, masuk berita awal Agustus 2012, Anand Krishna selalu berada di Pasraman Ubud. Bahkan sudah memberitahu ke Pusat Pelayanan dan Hukum Kejagung pada tanggal 27 November 2011. Baca lebih lanjut

Mengikis Sifat Egois ala Wedhatama

Seri Kearifan Lokal

buku wedhatama

“Musik, lagu, segala suatu yang lembut yang indah dapat menyentuh hati Anda. Seorang pujangga selalu berusaha untuk berdialog dengan hati Anda, untuk berkomunikasi lewat rasa. Seorang ilmuwan, seorang cendikiawan, seorang ahli matematika tidak akan melakukan hal itu, ia akan berkomunikasi lewat prosa, tidak lewat puisi. Sebaliknya, apabila seorang pujangga sedang berkomunikasi dengan Anda, prosa dia pun akan mengandung puisi. Yang sedang bicara adalah hati dia. Yang sedang diajak bicara adalah hati Anda. Demikian terjadilah hubungan dari hati ke hati. Apabila rasa berkembang, pikiran-pikiran yang kacau akan hilang dengan sendirinya. Penjernihan jiwa pun terjadi dengan sendirinya. Menyelami tembang merupakan suatu meditasi. Apa yang dapat anda alami dalam alam meditasi juga dapat anda alami lewat tembang, lewat kata-kata Sang Pujangga……” Demikian kutipan dari Buku “Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka, 1998.

 

Keceriaan di Usia Senja

Dalam salah satu bait dari Wedhatama, Sri Mangkunagara IV menulis sebuah tembang “Pocung”: “Ngelmu iku kalakone kanti laku. Lekase lawan kas. Tegese kas nyantosani. Setya budya pangekese dur angkara”. Sebelum membahas makna tembang tersebut kita perlu memahami nuansa sebuah tembang. Jenis tembang yang dipilih dalam bait ini adalah “Pocung”. Tembang “Pocung” mempunyai sifat humor, senda gurau, ceria. Di ujung usia yang sudah senja sebaiknya seorang manusia perlu berada dalam keceriaan.

Sidharta Gautama sudah hidup sejahtera di dalam istana, akan tetapi pandangan beliau sangat kritis. Ketika beliau melihat seseorang di luar istana sedang sakit, beliau tersadarkan bahwa beliau pun pada suatu saat akan mengalami hal yang sama. Saat beliau melihat orang tua-renta, kesadaran beliau pun bangkit bahwa pada suatu saat beliau pun akan mengalami keadaan tua-renta. Kemudian beliau melihat orang yang sedang sekarat dan beliau sadar bahwa pada suatu saat beliau pun akan mengalami hal yang sama. Mengapa kita yang sudah melihat orang sakit, orang tua-renta bahkan sering melihat orang yang dalam keadaan sekaratul maut, masih belum sadar juga, masih merasa bahwa kita tidak akan meninggal dunia? Sidharta Gautama di kemudian hari melihat ada seorang tua-renta yang sakit dan sedang sekarat, tetapi wajahnya memancarkan kebahagiaan, keceriaan. Beliau terpicu ingin mengetahui apa rahasia orang yang bisa memperoleh kebahagiaan sejati dan selalu berada dalam keceriaan, dan apa pula yang menyebabkan orang berduka. Akhirnya beliau meninggalkan istana untuk berupaya memperoleh cara mencapai kebahagiaan sejati yang sangat berguna bagi manusia. Para leluhur kita juga memberi nasehat agar di usia senja sebelum kita dipocong, kita selalu berada dalam keadaan ceria.

 

Kronologis Kehidupan Manusia dalam Aneka Tembang

Ada kronologis atau urutan tahapan kehidupan dalam aneka tembang. Nasehat dalam sebuah tembang disesuaikan dengan jenis tembang yang akan digunakan. Diawali Tembang “Maskumambang”, emas yang “kumambang”, terapung, saat manusia berwujud janin yang terapung dalam air ketuban. Kedua “Mijil” berarti keluar dari goa garbanya sang ibu, di saat kelahiran. Dilanjutkan “Kinanti”, di-“kanthi”, balita yang digandeng tangannya diajari berjalan menapak kehidupan. Dari kelahiran sampai menjadi remaja adaalah masa the golden years, pendidikan dalam masa ini mempunyai pengaruh sangat besar. Kemudian “Sinom”, menjadi “nom-noman”, youth, remaja usia belasan. Inilah masa Brahmacharya, remaja, melakoni pengembangan diri. Brahma adalah kekuatan mencipta, pada usia ini seorang anak menjadi sangat kreatif. Setelah itu “Asmaradhana”, gelora asmara sewaktu dewasa. Selanjutnya memasuki “Gambuh” gabungan, membentuk rumah tangga untuk membuat anak keturunan. Selanjutnya “Durma”, aktif berdharma bhakti bagi negara. Diteruskan  “Dhandhanggula”, mengolah “gula”, mengolah kehidupan. Sejak kawin hingga pensiun adalah masa Grahasthya, berumah-tangga berkomitmen dalam keluarga dan pekerjaan. Kemudian sudah saatnya “Pangkur”, mungkur, pensiun, undur diri dari keduniawian. Diteruskan “Megatruh”, persiapan “megat” ruh, memisahkan ruh dari badan. Akhirnya “Pocung”, dipocong ditutupi kain kafan. Setelah pensiun, seseorang memasuki Vanaprastha, undur diri dari kegiatan dunia dan menekuni kegiatan ruhani. Dia telah menyelesaikan tugas dan kewajiban terhadap anak-anak mereka dan melakukan spiritual purnawaktu. Bagi mereka yang punya semangat bulat, mereka bisa memasuki Sanyas, masa akhir kehidupan manusia. Ia telah melepaskan keterikatan duniawi. Ia tidak lagi membedakan antara anak kandung, anak saudara, anak orang lain, bahkan antara manusia dan makhluk-makhluk lainnya.

Baca lebih lanjut