Tepa Slira dan Budaya Loe-Loe Gue-Gue!


Seri Kearifan Lokal

buku karma yoga 438x720

Afirmasi Mind Your Own Bussiness, MYOB  yang dimaknai dengan “beresin urusan loe sendiri, jangan ikut campur urusan orang lain” sering kebablasan  dipraktekkan dengan  kebiasaan berpikir, Loe Loe Gue Gue. … ini urusan gue loe nggak usah ikut-campur, gue menikmati milik gue sendiri jangan digangguin.  Seharusnya putra-putri Bangsa  mempunyai afirmasi: “Yuk beresin diri sebelum beresin urusan negeri”.  Urusan diri adalah pemberdayaan diri dan akhirnya bermuara demi kepentingan umum. Tepa slira, berkaca pada diri sendiri, memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan adalah bagian dari pemberdayaan diri.

 

Individualisme, Materialisme Dan Hedonisme

Pengaruh “individualisme, materialisme dan hedonisme” telah menyebar ke seluruh negeri. Kekuatan dunia benda amatlah nyata. Melihat tayangan di media elektronik tentang penawaran mansion dan apartemen mewah, kenyamanan berlibur ke ujung dunia, kendaraan, perabot dan hiburan supermewah, mestinya sudah tak ada seorang warga negarapun yang kelaparan, yang tak sanggup mendapatkan nasi dalam kesehariannya. Tanpa terasa telah terbentuk “the affluent society”, masyarakat yang sangat berlebihan sifat konsumtifnya. Dana yang seharusnya bisa produktif untuk memutar roda ekonomi dipakai keperluan konsumtif pribadinya.

Di tengah masyarakat, juga sering dijumpai  beberapa orang yang sangat egois, yang hanya memikirkan kepentingan diri dan keluarganya. Banyak pemimpin yang tidak bertindak sebagai pemimpin yang memikirkan kepentingan umum tetapi hanya melakukan “aji mumpung” bagi diri pribadinya. Ada kelompok yang merasa benar sendiri, melakukan kekerasan kepada kelompok masyarakat lain. Mereka semua  bertindak demi kelompoknya dan tidak memikirkan kepentingan masyarakat secara keseluruhan. Mereka yang egois dan merasa benar sendiri telah hidup bagi diri mereka sendiri, dan lupa bahwa hidup itu sebenarnya terkait dengan kepentingan keseluruhan.

 

Memperdulikan Sesama

Semua agama menjunjung tinggi “Golden Rule”, Kaidah Utama: “Perlakukanlah orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan” . “Memperdulikan sesama!” Kalimat bijak ini adalah sebuah panggilan terhadap kesadaran kita, dari kesadaran personal, kesadaran aku menuju kesadaran transpersonal, kesadaran kita. Kondisi transpersonal dicapai kala seseorang menyadari keterkaitannya dengan keseluruhan, yang tidak hanya meliputi seluruh umat manusia, namun juga dengan semua makhluk hidup, lingkungan, dan alam semesta.

Dalam buku “Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2011 disampaikan……. Kemandirian manusia tidaklah membuat dirinya menjadi pulau yang terpisah dari pulau-pulau lain. Kemandirian manusia tidaklah berarti ia bisa hidup sendiri, tanpa saling keterkaitan atau interdependency. Kemandirian manusia tetaplah menjunjung tinggi asas kebersamaan, gotong-royong, dan saling bantu-membantu. Marilah kita menyadari saling keterkaitan kita. Selama ini, barangkali kita beranggapan bahwa setiap manusia adalah pulau terpisah. Kita tidak memiliki badan yang sama, maupun otak atau hati yang sama. Memang tidak. Dan, kelainan-kelainan seperti itu memang menciptakan “kesan terpisah”. Tetapi, jangan lupa bahwa perpisahan seperti itu hanyalah sebuah kesan! Alihkan perhatian dari bagian pulau yang terlihat diatas permukaan laut. Perhatikan laut yang mempersatukan ribuan pulau dan tujuh benua. Bayangkan dasar laut yang mempersatukan seluruh planet bumi……….

 

Apathy, Sympathy dan Empathy

Hubungan seseorang dengan lainnya bisa berupa apathy, sympathy atau empathy. Seorang yang apathy, tidak peduli urusan orang lain, dia berkutat pada urusan pribadinya. Cuek dengan penderitaan orang lain. Tidak mengakui eksistensi yang lain. Emangnya Gue Pikirin? Bukankah takdir seseorang memang lain-lain?…… Seorang yang mempunyai sympathy, merasa kasihan dengan orang yang sedang menderita, tetapi dia sendiri dia sendiri tidak merasakan penderitaannya. Lugasnya, yang menderita itu kamu, saya ikut bela sungkawa, tetapi saya sendiri tidak mengalaminya. Mungkin dia merasa hebat, diselamatkan Tuhan karena tidak terkena bencana……. Seorang artis terkenal di media televisi menyatakan syukur alhamdulillah bahwa rumahnya yang mewah tidak terkena banjir yang merendam Jakarta. Syukur sih boleh saja, akan tetapi dia tidak merasakan bahwa kata-katanya menyakiti mereka yang terkena banjir. Seorang yang mempunyai rasa empathy, ikut merasakan apa yang diderita orang lainnya. Seorang ibu merasa stress  kala anaknya tidak tidur mengerjakan tugas dari dosennya yang berada di kota berbeda. Seorang pemuda ikut merasakan kerepotan seorang  ibu tua yang berdesakan dalam bis kota, sehingga memberikan tempat duduknya. Kalau tidak suka tetangga berbuat gaduh di malam hari dengan membunyikan musik keras-keras, maka dia pun tidak berbuat demikian juga. Dalam empathy atau “tepa slira” seseorang merasa ada  connectedness dengan yang lainnya.

 

Tepa Slira

Istilah “Tepa Slira”  atau tenggang rasa berarti mengenal diri sendiri dan juga mengenal diri orang lainnya. Ini adalah falsafah hidup, suatu sikap hidup yang memandang orang lain sebagai bagian hidup yang perlu dihargainya. Menjadi dasar tindakan seseorang untuk tidak mengutamakan kepentingan pribadinya di atas kepentingan orang lainnya. Tepa slira mengandung arti ikut menghargai perasaan sesama manusia. Sikap ini sangat erat hubungannnya dengan hubungan sosial seseorang dengan bangsanya. Sikap ini mampu menjauhkan diri dari budaya modern seperti individualistis, materialistis, hedonistis yang membuat seseorang cuek, apatis dan tidak mau tahu orang lain. Seseorang yang melakukan bom bunuh diri di tengah masyarakat ramai mungkin tidak puas dengan perilaku individualis, materalis dan hedonis sekelompok orang, akan tetapi dia tidak punya rasa empathy terhadap masyarakat yang menjadi korban akibat perbuatannya. Rasa kemanusiaannya sudah membeku, sudah sirna.

 

Pengaruh Pendidikan Sejak Kecil

Seorang sahabat seorang dokter spesialis  mengirimkan pesan lewat BB…… INDONESIA INGIN CEPAT MAJU ??? HARUS BERUBAH!!!!! Mengapa bangsa Australia yang leluhurnya berasal dari Tahanan Kriminal Inggris kini mampu masuk 10 negara TERBAIK sebagai tempat tinggal manusia dan memiliki tingkat kriminalitas terendah di dunia? (Melbourne adalah yang terbaik). Mengapa bangsa Indonesia yang dulu leluhurnya adalah orang-orang yang Santun, Ramah dan Berbudi Pekerti Luhur, Bergotong-royong, kini masuk dalam kelompok Negara Gagal Dunia, dengan tingkat KORUPSI NO.3 dunia dan tingkat kriminalitas yang sangat tinggi serta moral yang sangat rendah?  Ternyata semua itu berawal dr “sistem pendidikan” Pemerintahnya.

Para Pendidik & Guru di Australia lebih khawatir jika anak-anak didik mereka tidak jujur, tidak mau mengantri dengan baik, tidak memiliki rasa empati dan hormat pada orang lain serta etika moral lainnya, ketimbang mereka tidak bisa membaca, menulis dan berhitung. Guru-guru di Australia lebih prihatin jika murid-murid mereka memiliki perilaku moral yang kurang baik daripada memiliki prestasi nilai akademik yang kurang baik. Mengapa? Karena menurut mereka untuk membuat anak mampu membaca, menulis dan berhitung atau menaikkan nilai akademik, hanya perlu waktu 3 – 6 bulan saja dengan secara intensif mengajarkannya. Akan tetapi untuk mendidik perilaku moral seorang anak, dibutuhkan waktu sekitar 15 tahun untuk mengajarkannya. Mengajarkan baca tulis, berhitung bisa di ajarkan kapan saja, bahkan setelah mereka sudah dewasa/tua sekalipun masih bisa dilakukan, Sementara mengajarkan Etika Moral waktunya sangat terbatas, dimulai saat Balita dan berakhir saat mereka Kuliah. Selain itu  untuk mengubah perilaku moral orang dewasa yang terlanjur rusak dan buruk, hampir sebagian besar orang tidak mampu melakukannya.

Bagaimana dengan pemikiran Pemerintah, Pendidik/Guru dan Orang tua di Indonesia? Jika kita semua sadar, bertindak benar dengan komitmen penuh, 15 thn kedepan Indonesia masih bisa mengubah kondisi saat ini. MULAILAH dari KELUARGA kita sendiri dan SEKARANG !!! Demikian pesan BB seorang sahabat yang peduli terhadap bangsa.

 

Mengedepankan Rasa atau Mencerdaskan Otak Belaka

Ada baiknya kita melakukan introspeksi terhadap pendidikan kita. Pengetahuan yang kita peroleh dari sistem pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan manusia. Padahal sejak zaman dahulu Sri Mangkunagoro IV dalam Wedhatama telah mengetengahkan bahwa seharusnya pengetahuan tidak bertujuan untuk  mencerdaskan otak manusia.  Dalam buku “Wedhatama Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka, 1999 disampaikan…….. Wedha (Veda) berarti “Pengetahuan”. Utama berarti “Yang Tertinggi”. Apabila dilihat dengan meminjam kacamata Sri Mangkunagoro, Pengetahuan yang Tertinggi tidak bertujuan untuk  mencerdaskan otak kita. Pengetahuan Utama tidak untuk membuat kita cerdik atau cerdas, tetapi untuk mengembangkan rasa dalam diri kita. Rasa sinonim dengan batin…… Kembangkan rasa dulu. Jangan bersikeras untuk membuat putra-putri Anda cerdas. Kecerdasan tanpa diimbangi oleh rasa akan membuat mereka manusia yang tidak utuh, manusia yang pincang jiwanya. Mereka akan membahayakan tatanan  kemasyarakatan kita.  Pengetahuan Utama tidak untuk membuat kita cerdik atau cerdas, tetapi untuk mengembangkan rasa dalam diri manusia. Rasa sinonim dengan batin manusia.  Kembangkan rasa dulu, tidak bersikeras untuk membuat generasi muda menjadi cerdik atau cerdas pikirannya. Kecerdasan pikiran tanpa diimbangi oleh rasa akan membuat manusia yang tidak utuh, manusia yang pincang jiwanya. Mereka akan membahayakan tatanan  kemasyarakatan kita.

Tidak selalu yang kuno itu ketinggalan zaman, justru ilmu tepa-slira perlu dipraktekkan untuk menumbuh-kembangkan empathy di tengah masyarakat, jangan sampai masyarakat kita terlanjur berperilaku apatis Loe-Loe Gue-Gue……….. disusun oleh TW.

 

Situs artikel terkait:

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: