Mengikis Sifat Egois ala Wedhatama


Seri Kearifan Lokal

buku wedhatama

“Musik, lagu, segala suatu yang lembut yang indah dapat menyentuh hati Anda. Seorang pujangga selalu berusaha untuk berdialog dengan hati Anda, untuk berkomunikasi lewat rasa. Seorang ilmuwan, seorang cendikiawan, seorang ahli matematika tidak akan melakukan hal itu, ia akan berkomunikasi lewat prosa, tidak lewat puisi. Sebaliknya, apabila seorang pujangga sedang berkomunikasi dengan Anda, prosa dia pun akan mengandung puisi. Yang sedang bicara adalah hati dia. Yang sedang diajak bicara adalah hati Anda. Demikian terjadilah hubungan dari hati ke hati. Apabila rasa berkembang, pikiran-pikiran yang kacau akan hilang dengan sendirinya. Penjernihan jiwa pun terjadi dengan sendirinya. Menyelami tembang merupakan suatu meditasi. Apa yang dapat anda alami dalam alam meditasi juga dapat anda alami lewat tembang, lewat kata-kata Sang Pujangga……” Demikian kutipan dari Buku “Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka, 1998.

 

Keceriaan di Usia Senja

Dalam salah satu bait dari Wedhatama, Sri Mangkunagara IV menulis sebuah tembang “Pocung”: “Ngelmu iku kalakone kanti laku. Lekase lawan kas. Tegese kas nyantosani. Setya budya pangekese dur angkara”. Sebelum membahas makna tembang tersebut kita perlu memahami nuansa sebuah tembang. Jenis tembang yang dipilih dalam bait ini adalah “Pocung”. Tembang “Pocung” mempunyai sifat humor, senda gurau, ceria. Di ujung usia yang sudah senja sebaiknya seorang manusia perlu berada dalam keceriaan.

Sidharta Gautama sudah hidup sejahtera di dalam istana, akan tetapi pandangan beliau sangat kritis. Ketika beliau melihat seseorang di luar istana sedang sakit, beliau tersadarkan bahwa beliau pun pada suatu saat akan mengalami hal yang sama. Saat beliau melihat orang tua-renta, kesadaran beliau pun bangkit bahwa pada suatu saat beliau pun akan mengalami keadaan tua-renta. Kemudian beliau melihat orang yang sedang sekarat dan beliau sadar bahwa pada suatu saat beliau pun akan mengalami hal yang sama. Mengapa kita yang sudah melihat orang sakit, orang tua-renta bahkan sering melihat orang yang dalam keadaan sekaratul maut, masih belum sadar juga, masih merasa bahwa kita tidak akan meninggal dunia? Sidharta Gautama di kemudian hari melihat ada seorang tua-renta yang sakit dan sedang sekarat, tetapi wajahnya memancarkan kebahagiaan, keceriaan. Beliau terpicu ingin mengetahui apa rahasia orang yang bisa memperoleh kebahagiaan sejati dan selalu berada dalam keceriaan, dan apa pula yang menyebabkan orang berduka. Akhirnya beliau meninggalkan istana untuk berupaya memperoleh cara mencapai kebahagiaan sejati yang sangat berguna bagi manusia. Para leluhur kita juga memberi nasehat agar di usia senja sebelum kita dipocong, kita selalu berada dalam keadaan ceria.

 

Kronologis Kehidupan Manusia dalam Aneka Tembang

Ada kronologis atau urutan tahapan kehidupan dalam aneka tembang. Nasehat dalam sebuah tembang disesuaikan dengan jenis tembang yang akan digunakan. Diawali Tembang “Maskumambang”, emas yang “kumambang”, terapung, saat manusia berwujud janin yang terapung dalam air ketuban. Kedua “Mijil” berarti keluar dari goa garbanya sang ibu, di saat kelahiran. Dilanjutkan “Kinanti”, di-“kanthi”, balita yang digandeng tangannya diajari berjalan menapak kehidupan. Dari kelahiran sampai menjadi remaja adaalah masa the golden years, pendidikan dalam masa ini mempunyai pengaruh sangat besar. Kemudian “Sinom”, menjadi “nom-noman”, youth, remaja usia belasan. Inilah masa Brahmacharya, remaja, melakoni pengembangan diri. Brahma adalah kekuatan mencipta, pada usia ini seorang anak menjadi sangat kreatif. Setelah itu “Asmaradhana”, gelora asmara sewaktu dewasa. Selanjutnya memasuki “Gambuh” gabungan, membentuk rumah tangga untuk membuat anak keturunan. Selanjutnya “Durma”, aktif berdharma bhakti bagi negara. Diteruskan  “Dhandhanggula”, mengolah “gula”, mengolah kehidupan. Sejak kawin hingga pensiun adalah masa Grahasthya, berumah-tangga berkomitmen dalam keluarga dan pekerjaan. Kemudian sudah saatnya “Pangkur”, mungkur, pensiun, undur diri dari keduniawian. Diteruskan “Megatruh”, persiapan “megat” ruh, memisahkan ruh dari badan. Akhirnya “Pocung”, dipocong ditutupi kain kafan. Setelah pensiun, seseorang memasuki Vanaprastha, undur diri dari kegiatan dunia dan menekuni kegiatan ruhani. Dia telah menyelesaikan tugas dan kewajiban terhadap anak-anak mereka dan melakukan spiritual purnawaktu. Bagi mereka yang punya semangat bulat, mereka bisa memasuki Sanyas, masa akhir kehidupan manusia. Ia telah melepaskan keterikatan duniawi. Ia tidak lagi membedakan antara anak kandung, anak saudara, anak orang lain, bahkan antara manusia dan makhluk-makhluk lainnya.

Ngelmu

Ngelmu iku kalakone kanti laku. Lekase lawan kas. Tegese kas nyantosani. Setya budya pangekese dur angkara.Ngelmu, ilmu berasal dari ilm.

Pada Program Neo Interfaith Studies dari One Earth College of Higher Learning http://www.oneearthcollege.com/id/ disampaikan penjelasan tentang ilm……. Maksud ilm di sini adalah knowingness bukan sekadar knowledge atau ilmu pengetahuan. Ilm adalah “pengetahuan berdasarkan pengalaman pribadi”. Iman adalah hasil dari pengalaman pribadi. Amal adalah penerapan ilm, applied knowingness dan faith. Pertanyaannya adakah kita memiliki ilm dan iman seperti itu? Pernahkah kita mengalami Tuhan? Atau kita baru sekedar berpengetahuan lewat buku, ceramah dan lain sebagainya? Jika kita memiliki pengalaman pribadi, maka Qur’an jelas sekali, kita tidak akan mempersoalkan sebutan, Allah, Rahman “atau nama yang mana saja”. Sementara ini kita masih mempersoalkan nama, sebutan, bungkusan. Kita belum masuk ke dalam isinya.

Pada materi tersebut juga disampaikan Surat Al-Israa ayat 107 yang terjemahannya: “Katakanlah, Apakah kamu percaya kepadanya atau tidak percaya (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi ilmu sebelumnya, apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menundukkan dagunya (mukanya) bersujud.” Ilm, iman dan amal adalah langkah awal menuju  tauhid. Itulah jalan lurus menuju Allah. Dan, sesungguhnya hanya itulah jalan menuju Allah. Semua nabi menunjuk pada jalan yang satu itu saja – jalan ilm,  iman, dan aml – kesadaran, keyakinan, dan pengamalan sebagai satu kesatuan, tidak terpisah-pisah.

 

Power of Firm Will, Power of Knowingness dan Power of Action

Ngelmu iku kalakone kanti laku. Lekase lawan kas. Tegese kas nyantosani. Setya budya pangekese dur angkara.” Ilmu (spiritual) itu terjadinya dengan “laku” (pengamalan dengan penuh ketekunan dan kedisiplinan). Diawali dengan tekad yang bulat. Semangat yang bulat membuat sentosa. Upaya yang gigih mengikis ego,nafsu angkara-murka.

Keberhasilan diawali dengan tekad yang bulat, “Kas” (Iccha Shakti, The Power of Firm Will, Kebulatan Tekad). Jangan melakukan sesuatu dengan setengah hati. Keberhasilan seorang sangat tergantung pada tekad yang kuat. Kemudian memiliki “ngelmu” ( Gyaana Shakti, Power of Knowingness bukan sekadar knowledge), pengetahuan berdasarkan pengalaman pribadi. Dan menerapkan “laku” (Kriya Shakti atau The Power of Action). Tujuannya adalah mengikis nafsu angkara.

 

Ahamkara

Ngelmu iku kalakone kanti laku. Lekase lawan kas. Tegese kas nyantosani. Setya budya pangekese dur angkara.” Ilmu (spiritual) itu terjadinya dengan “laku” (pengamalan dengan penuh ketekunan dan kedisiplinan). Diawali dengan semangat yang bulat. Semangat yang bulat membuat sentosa. Upaya yang gigih mengikis ego,nafsu angkara-murka.

Dur Angkara, Dur bermakna jelek, tidak baik misalnya Dursasana, Duryudana, Durjana, Duratmaka. Angkara berasal dari Ahamkara, keakuan, menganggap tubuhku dan pikiranku sebagai aku. Dalam buku “Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2012 disampaikan: “Ego selalu terburu-buru. Selalu tergesa-gesa. Selalu mencari jalan pintas, short cut. Dan, demi kepentingannya, ia bisa mengabaikan kepentingan umum. Demi keuntungannya, ia bisa menyengsarakan, merugikan orang lain.“

 

Sifat Kehewanian Dalam Ego

“Setiap kali ada yang memuji atau memaki, anjing ego di dalam diri kita mendapatkan makanan, dan ia mulai menggonggong. Ya betul, bukan saja setiap kali dipuji, tetapi setiap kali dimaki. Setiap naik maupun turun tingkat, anjing ego selalu menggonggong. Diberi makan ia memperoleh energi dan menggonggong girang, tidak diberi makan, ia menggonggong kelaparan. Dipuji atau dicaci, dimaki, ego menggonggong.”  Demikian kutipan dari buku “Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2012

Dalam buku “Sanyas Dharma” tersebut juga disampaikan: “Pusat Ego terletak di bagian bawah otak yang biasa disebut medulla oblongata. Untuk diketahui, medulla adalah bagian otak yang disebut reptilian brain—berbagai jenis hewan, termasuk jenis-jenis tertentu ikan, cicak, dan buaya, memilikinya. Jadi, medulla bukanlah bagian otak yang biasa disebut neo-cortex, atau bagian otak yang memanusiakan hewan. Berarti, ego bukanlah sifat atau sikap manusiawi. Manusia mewarisinya melalui evolusi panjang selama ratusan juta tahun.”

Dalam buku “Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut Marutnya Keadaan Bangsa, Anand Krishna dkk, One Earth Media, 2005 disampaikan: “Manusia memiliki bagian otak yang disebut Neo Cortex. Neo berarti “baru”, dan bagian ini memang ‘baru’ dimiliki oleh hewan ‘jenis manusia’. Setidaknya dalam bentuk yang jauh lebih sempurna dari hewan. Neo Cortex inilah yang menciptakan sistem nilai dan bertanggung jawab pula atas pengembangan intelektualitas kita.”

Sri Mangkunegara IV adalah pujangga yang telah waskita. Untuk mengikis sifat egoistis manusia memerlukan ngelmu, mengawalinya dengan kas, tekad yang bulat dan laku yang tekun dan disiplin. Untuk mengikis sifat egoistis manusia perlu memperhatikan kepentingan umum, bukan hanya kepentingan ego, diri pribadi. oleh TW

 

Situs artikel terkait:

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: