Mengatasi Kebobrokan Moral Bangsa lewat Meditasi

Kebobrokan Moral Bangsa Semakin Memprihatinkan

Baru saja masyarakat disuguhi drama pemalsuan vonis Hakim Agung, kali ini muncul siaran langsung episode baru seorang hakim tertangkap tangan menerima suap oleh KPK. Nampaknya pemeran utama KPK harus kerja keras, kejar tayang berbagai episode yang membutuhkan stamina yang prima. Mengapa hukum yang dipilih sebagai highlight, karena sampai saat ini sesuai perundang-undangan putusan seorang hakim tidak bisa diganggu gugat. Seperti putusan Tuhan. Walau jelas banyak oknum yang jauh dari Tuhan dan sangat sulit menemukan Hakim sekaliber Albertina Ho di tumpukan para hakim yang bersedia menggadaikan hati nuraninya.

Tindakan main hakim sendiri terhadap preman yang kita baca di media menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap peradilan formal merosot drastis. Bukti nyata dapat dilihat dari beberapa pernyataan warga masyarakat yang malah mendukung tindakan main hakim sendiri tersebut. Mereka yang kontra, yang mengutuk tindakan main hakim sendiri berpedoman pada peraturan hukum yang berlaku. Sedangkan masyarakat yang pro, yang mendukung tindakan main hakim sendiri berpedoman bahwa hukum sudah tidak dapat menjamin rasa keadilan lagi. Pengadilan yang berlarut-larut dan gampang masuk angin di tengah perjalanan membuat jenuh sebagian masyarakat. Sebagian suara pembaca bahkan menuduh para pejabat dan anggota DPR yang mengutuk aksi hakim sendiri karena mereka takut perlakuan serupa terhadap mereka. Mereka benar berdasar hukum formal dan berbagai dukungan pengacara yang ahli berkilah, akan tetapi masyarakat sudah jenuh terhadap hukum formal yang jauh dari rasa keadilan.

Pengaruh Lingkungan Jahat terhadap Karakter Warga

Mengapa moral bangsa semakin bobrok? Apakah kebobrokan moral yang berkecamuk di tengah masyarakat semakin merusak masa depan generasi muda penerus bangsa sehingga mereka akan menjadi semakin bobrok? Kita dapat merenungkan Eksperimen Penjara Stanford untuk menyadari  bahwa lingkungan yang buruk akan mempengaruhi karakter masyarakat.

Pada tahun 1971, seorang psikolog Philip Zimbardo dan rekan-rekannya mengadakan eksperimen tentang pengaruh lingkungan terhadap perilaku manusia. Mereka mendirikan simulasi penjara di ruang bawah tanah Universitas. 24 mahasiswa dipilih secara acak untuk memainkan peran sebagai sipir dan narapidana. Para peserta dipilih dari 70 orang relawan yang tidak mempunyai latar belakang kriminal, sehat medis dan psikologis. Tentu saja para relawan mereka mendapat imbalan $15 per hari. Dalam simulasi tersebut para narapidana berada seharian penuh dalam penjara sedangkan para sipir dilakukan pergantian setiap 8 jam. Peneliti memasang kamera tersembunyi dan mikrofon untuk memantau apa yang mereka lakukan. Simulasi yang direncanakan selama 2 minggu ini dihentikan setelah berjalan 6 hari. Ternyataa para sipir menjadi semakin agresif dan kasar sedangkan para narapidana menunjukkan tanda pasif dan cemas yang ekstrim.

Hanya sedikit orang yang bisa bebas dari pengaruh lingkungan kata Zimbardo dalam bukunya “The Lucifer Effect”. The Lucifer Effect memberikan penjelasan tentang bagaimana seorang baik-baik bisa menjadi pelaku kejahatan. Bukan hanya genetik dan karakter bawaan, akan tetapi lingkungan menjadi katalisator  dalam kejahatan. Bila bangsa kita tidak melakukan upaya perbaikan moral, maka jelas semakin lama kebobrokan moral akan semakin menjadi-jadi.

Hidup Di Tengah Masyarakat Tanpa Terpengaruh Masyarakat

Leluhur kita memberi nasehat: “Jadilah teratai yang berbunga indah di tengah lumpur dunia, tidak terpengaruh lingkungan! Daun teratai tidak memiliki keterikatan, berbagai debu yang menempel akan jatuh sendiri karena tetesan embun. Bunga teratai hanya melihat matahari kesadaran, akarnya boleh terendam lumpur akan tetapi tubuh dan bunganya tidak tersentuh kekotoran.” Baca lebih lanjut

Ternyata Kita di Kubu Firaun Bukannya Musa

Nabi Musa

follower @fir_aun dan follower @moses

Dalam materi program online bilingual Neo Interfaith Studies (http://www.oneearthcollege.com/id/ ), Anand Krishna menyampaikan: “Qur’an pagi ini mengantar kita ke Al-A’raaf (ayat 113). Apa yang membedakan Musa dari para ahli sihir? Musa berkarya tanpa pamrih demi kepentingan umum. Para ahli sihir berkarya karena dijanjikan harta kekayaan dan kedudukan oleh Firaun. Sekarang mari kita bertanya pada  diri kita masing-masing, kita berada di kubu mana? Adakah diantara kita seorang Musa yang sedang berkarya untuk kepentingan umum tanpa mementingkan dirinya? Sayang, kita semua adalah budak Firaun, yang hanya mau “mengabdi” jika dibayar, dijanjikan ini dan itu. Kita lupa akan kerasulan dan kekhalifahan di dalam diri kita. Maka, kita tidak mencapai ketinggian yang dijanjikan Qur’an, kesadaran kita malah semakin merosot ke bawah. Ketika Musa berada di tengah kita pun, kita masih sibuk bergaul, dan bersosialisasi dengan budak-budak Firaun. Kita lupa akan potensi diri kita. Inilah penyakit utama yang di derita oleh umat manusia, oleh kita semua – penyakit lupa.”

Mengikuti Kebiasaan Rendah demi Kepentingan Diri Pribadi

Para Hakim Agung yang mengubah hukuman mati gembong narkoba perlu introspeksi, mereka berkarya demi keadilan dan kepentingan masyarakat luas ataukah hanya berkarya jika dibayar ekstra oleh siapa saja. Seluruh aparat yang berkaitan dengan keadilan yang bersedia menjatuhkan seseorang dengan keterangan palsu, tidak memakai hati-nuraninya demi imbalan tertentu adalah kelompok Firaun yang hanya mau bekerja bila mendapatkan imbalan ekstra. Bukan hanya aparat peradilan, mereka yang membuat Peraturan Daerah atau Undang-Undang yang menguntungkan suatu pihak atau membatasi kebebasan minoritas dengan imbalan tertentu juga termasuk di dalamnya. Boleh jadi dalam pikirannya mereka sangat benci Firaun, akan tetapi dalam prakteknya mereka menggunakan cara Firaun.

Seorang sahabat kami di FB menulis status: “ketidaksadaran, ketidakpedulian kita selama ini terhadap kebiasaan-kebiasaan rendahan kita, terhadap kecenderungan kita untuk tidak peduli pada kebaikan dan kemuliaan, telah mewujud sebagai sebuan entitas ketidak-adilan yang begitu kronis.” Kemudian, seorang Polisi di Jeneponto, Sulawesi Selatan menulis artikel di suatu blog: “Pelanggaran Lalu Lintas Simbol Keterpurukan Moral.”

 

Pelanggaran Lalu-Lintas  Simbol Keterpurukan Moral Bangsa

Benar sekali ketidaksadaran, ketidakpedulian kita terhadap kebiasaan rendah, egoistis, mau menang sendiri dan melupakan diri sebagai makhluk yang luhur dan mulia, lama-kelamaan menjadi karakter kita. Dan, kita menjadi permisif terhadap etika dan moral. Pelanggaran di jalan raya dapat dijadikan model dari pelanggaran di bidang hukum.

Kita melanggar lalu lintas karena kita tidak sadar dan tidak peduli terhadap kebiasaan rendah dan melupakan jatidiri kita sebagai makhluk yang mulia. Pengendara kendaraan tidak malu dan berani terang-terangan melanggar marka lalu-lintas, masyarakat tidak malu dan terang-terangan melanggar hukum. Ketika pengendara salah jalan dan diklakson pengendara lainnya, dia malah marah dan uring-uringan. Ketika seorang pejabat diingatkan pengamat tentang kegiatannya yang melanggar hukum malah nggrundel: “jangan ngurusin orang!” Ketika ditindak petugas, pengendara minta maaf dan sodorkan uang dibalik SIM. Ketika punya masalah pelanggaran hukum, sebelum dimuat wartawan cepat-cepat deal dengan petugas. Menyerobot jalur, melewati garis pembatas di tengah jalan, melawan arah, ngebut di jalan raya yang merugikan umum. Demikian pula yang terjadi di bidang hukum. Cerita penjebakan petugas dengan memasukkan butir ekstasi pun ada di masyarakat. Yang sangat memprihatinkan adalah bila mental oknum petugas yang ingin imbalan atas pelanggaran lintas telah menjadi mental pejabat negeri kita.

Sadarkah kita dengan memikirkan kepentingan pribadi, mengabaikan umum, melanggar peraturan kita telah menjadi pengikut Firaun? Sadarkah kita bahwa dengan mengutamakan imbalan terhadap pelanggar hukum kita telah menjadi pengikut Firaun? Pengikut Musa akan selalu beretika dalam berkendara di jalan raya. Pengikut Musa akan menegakkan peraturan agar lalu-lintas tertib bukan untuk imbalan pribadi. Kebiasaan rendah yang diulang-ulang akan menjadi karakter kita. Baca lebih lanjut

Kita Ini Pengikut Abu Jahal, Firaun, Pilatus atau Pengikut Para Nabi

Abu Jahal Atau Baginda Nabi, Firaun atau Nabi Musa, Pilatus atau Nabi Isa

Sebagai seorang yang beragama kita mesti merasa sebagai pengikut para Nabi dan bukan para musuhnya. Benarkah kita pengikut para Nabi? Apabila kita merenung dalam-dalam, kelompok Nabi selalu diawali dengan sedikit pengikut dan selalu dianiaya oleh kelompok “mainstream” yang ingin mempertahankan status quo kekuasaannya. Jangan-jangan kita takut dengan Abu Jahal Modern yang menguasai masyarakat yang tidak ingin masyarakat berubah ke arah lebih baik sehingga tidak peduli dengan kebenaran yang dibawa Baginda Nabi. Jangan-jangan kita was-was terhadap intimidasi Firaun Modern dan membiarkan Musa yang berupaya membebaskan perbudakan dianiaya para aparat zalim. Jangan-jangan kita seperti Pilatus, pemimpin “gendak-genduk”, peragu yang meminta agar kasus Yesus ditangani Herodes. Ternyata Herodes hanya bicara, “Sudahlah sampeyan, tangani saja, diputuskan kau sajalah! Pilatus paham bahwa Yesus tidak bersalah karena itu hanya ingin menghukumnya dengan cambuk, akan tetapi karena desakan keras para tokoh ultra konservatif untuk menghukum Yesus, akhirnya Pilatus membiarkan Yesus menjadi bulan-bulanan di pengadilan yang zalim.

Para Nabi dan kelompoknya tidak akan membiarkan kezaliman terjadi dalam masyarakat. Hadist Riwayat Muslim: Dari Abi Sa’id Al-Khudri ra. telah berkata: Aku telah dengar Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa diantaramu melihat kemungkaran hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika ia tak sanggup maka dengan lidahnya dan jika tak sanggup maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” Akan tetapi kita diam seribu bahasa melihat kezaliman yang terjadi di depan mata kita, dan kita masih saja merasa sebagai pengikut para Nabi.

 

Pandangan Osho Master Spiritual Kontemporer dari India

Osho berkata: “Anda harus memahami satu hal, bahwa setiap kali ada seseorang yang membawa pesan bagi Anda, untuk melakukan pemberontakan terhadap sistem yang sudah usang, sudah kadaluarsa maka tokoh agama, politisi, kelompok status quo akan menentang pembawa pesan tersebut. Alasannya begitu sederhana karena dia adalah pembuat gangguan. Jika orang mendengarkan dia maka akan terjadi perubahan terhadap status quo. Perubahan tersebut akan mengubah segalanya melemparkan para status quo dan para tokoh agama yang tadinya mempunyai kuasa atas Anda.”

“Tentu mereka yang berada dalam kekuasaan tidak akan menyukainya. Lebih baik menyelesaikan satu orang daripada kehilangan semua kepentingan-kepentingan mereka. Mengapa mereka menyalibkan Yesus? Dia tidak melakukan kejahatan apa pun. Dia orang sederhana dan tidak melakukan sesuatu yang ilegal. Tetapi mengapa mereka bersikeras untup melenyapkannya? Alasannya sangat sederhana, dia mengacaukan seluruh masyarakat.  Dia mengatakan hal yang tidak sama dengan tradisi sebelumnya. Dia membawa cahaya baru, dia membuka pintu untuk kemajuan. Dan ada orang-orang yang tidak ingin kemajuan. Mereka ingin masyarakat statis, masyarakat yang mati dan mereka yang berkuasa. Setiap Buddha harus masuk penjara, dibunuh atau disalib.”

 

Para Nabi dan Pembaharu adalah Pemberontak

Anand Krishna menyatakan dalam buku “Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2012: “Krishna adalah pemberontak, Yesus adalah pemberontak, demikian pula Siddharta, Muhammad, setiap nabi, setiap avatar, setiap mesias, dan setiap sadguru. Mereka semua dikenang sebagai Pembaharu, karena mereka melakukan pemberontakan terhadap sistem yang sudah usang, kadaluarsa, tetapi mapan. Mereka semua memberontak terhadap kemapanan system yang korup. Seorang sanyasi, sadhu, bhikshu, pejalan spiritual, atau apa pun sebutannya, sedang mengikuti jejak mereka. Ia mengatakan ‘tidak’ terhadap sistem yang ingin memperbudaknya. Ia menolak menjadi bagian dari kawanan domba. Tak peduli ada yang membantunya atau tidak; ada yang mendukungnya atau tidak; ia berdiri tegak di tengah medan perang, Dan menyatakan perang dengan decisive, definite— do or die!” Baca lebih lanjut

Agama Hanya Di Bibir Saja

Belum Menyentuh Kedalaman Nurani

Kita bangga bahwa kita adalah bangsa yang beragama, di KTP selalu ada kolom agama yang kita anut. Akan tetapi betulkah kita sudah beragama? Apakah tindakan kita sudah mencerminkan tanda bahwa kita sudah beragama? Banyak terjadi korupsi, banyak praktek mafia pengadilan sehingga hanya KPK yang nampaknya masih bisa dipercaya. Diduga banyak yang mencapai tujuan dengan menghalalkan segala cara, kemudian menggunakan kekerasan dengan dalih agama, apakah semua ini sudah mencerminkan diri bahwa kita telah beragama dengan benar? Jangan-jangan agama hanya dipakai sebagai kedok, dan nafsu yang telah menguasai diri dijadikan penguasa. Kita menuruti nafsu dengan mencari pembenaran dari segi agama. Agama selalu dikaitkan dengan hati-nurani, akan tetapi nampaknya kita akan kecewa berat kala merenungkan apakah mereka yang menyalahgunakan jabatan, mereka yang memberikan vonis ringan terhadap mereka yang melanggar hukum, mereka yang merekayasa kasus untuk menjatuhkan seseorang, mereka yang menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan telah menggunakan nurani mereka dalam semua tindakannya.

 

Kasih Sayang Dan Keadilan Telah Lama Ditinggalkan

Salah satu tolok ukur nyata dari negara dengan warganegara yang beragama adalah kasih sayang dan keadilan yang berkembang di tengah masyarakat. Dan, kita akan kecewa melihat praktek peradilan di negeri kita. Sangat jauh dari rasa sayang-menyayangi dan rasa keadilan terhadap sesama. Mereka yang menggunakan kekuasaan apakah itu kekuasaan uang atau jabatan sebagai alat untuk menyingkirkan pihak yang tidak disenanginya telah memakai hukum rimba, siapa yang kuat yang akan menang. Telah terjadi kemunduran keagamaan yang besar. Kasih-sayang dan rasa keadilan sudah ditinggalkan.

Sebagai negara yang seluruh penduduknya beragama, semestinya kita memiliki pengadilan yang bebas dan tidak memihak. Perselisihan antar warga negara harus diselesaikan dengan jernih, bebas dari segala macam campur tangan. Para hakim harus menolak dan menentang campur tangan dari pihak mana pun, mereka harus menggunakan nurani dan pikiran jernih untuk memutuskan suatu perkara. Bagaimana dengan prakteknya? Para Saksi, Jaksa, Hakim, Hakim Agung benarkah telah menjalankan agamanya, bukan hanya menjalankan ritual formal akan tetapi segala tindakannya selalu bernafaskan agama? Sebuah pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban, karena selalu terjawab oleh berita di media masa.

 

Saksi Yang Bohong di Pengadilan

“Maukah aku kabarkan kepada kalian sebesar-besarnya dosa besar? Itulah Syirk, durhaka kepada kedua orang tua, dan memberi kesaksian palsu.” (HR. Bukhari).

Saksi yang bohong setidaknya telah melakukan dosa besar, pertama dia telah berbohong, tindakan yang tidak disukai Tuhan dan kedua menzalimi orang yang dia persaksikan. Bahwa seseorang berani menjadi saksi palsu, maka dia telah berani melanggar Aturan Tuhan. Akan tetapi saat ini para saksi palsu  tidak takut pada Ancaman Tuhan. Bukankah itu berarti agamanya hanya sebatas di KTP, dia lebih tunduk terhadap uang atau kekuasaan seseorang daripada Kekuasaan Tuhan?

Dalam beberapa agama juga disebutkan “apa pun benih yang kau tanam kau akan memetik hasilnya”. Mereka yang bersaksi palsu untuk menzalimi seseorang, maka akan datang suatu saat bahwa dia pun akan menghadapi masalah yang sama. Akan tetapi sejak pengadilan terhadap Socrates (470 Sebelum Masehi), terhadap Gusti Yesus di awal tahun Masehi sampai di abad modern ini masih saja banyak pengadilan yang dijadikan alat untuk menyingkirkan seseorang.

Sejak zaman dahulu, memberikan keterangan palsu dianggap tindakan nista, karena seorang yang memberikan keterangan palsu telah mengelabui masyarakat, bahkan atas nama sumpah yang dilakukannya menurut kitab suci yang dianutnya. Mengenai Sumpah Palsu dan Keterangan Palsu sudah diatur dengan Pasal 242 KUHAP. Pasal 242 ayat (1) menyatakan, Barang siapa dalam hal-hal yang menurut peraturan UU menuntut sesuatu keterangan dengan sumpah atau jika keterangan itu membawa akibat bagi hukum dengan sengaja memberi keterangan palsu, yang ditanggung dengan sumpah, baik dengan lisan atau dengan tulisan, maupun oleh dia sendiri atau kuasanya yang istimewa ditunjuk, dihukum penjara selama-lamanya tujuh tahun.

Orang tidak takut terhadap aturan negara karena yakin orang yang dipercayainya bisa menyelamatkan dirinya dari pidana. Orang tidak takut dengan larangan agama, sebab hukum sebab-akibat datangnya masih lama, apalagi surga dan neraka masih sangat panjang. Mereka yakin ada tindakan-tindakan tertentu yang dapat menghapus semua dosa yang telah mereka lakukan.

 

Contoh Nyata Rekayasa Kasus Terhadap Anand Krishna

Bukan hanya Saksi yang memberikan keterangan palsu, Berita Acara Pemeriksaan pun dapat diubah-ubah oleh petugas. Jaksa pun dengan alat bukti yang lemah pun berani menuntut. Yang penting ada 2 orang saksi atau lebih yang mau menjadi saksi. Walaupun semua saksi tidak mempunyai saksi mata, walaupun saksi tersebut terbukti rekayasa, yang penting dapat diajukan ke muka sidang pengadilan. Hakim pun entah bagaimana akan mengamini tuntutan Jaksa. Bila nanti ditengah jalan ada masalah maka Para Hakim Agung pun bisa membantu sang jaksa.

Kita akan melihat banyak sekali rekaman persidangan yang tidak dapat dibohongi. Contoh nyata adalah Tara Pradipta Laksmi yang mengaku dilecehkan Bapak Anand Krishna yang ternyata sesuai visum Dr. Mun’im Idris dari Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo masih perawan dan tak ada tanda-tanda kekerasan. Bapak Anand Krishna mempunyai penyakit diabetes dan tidak mungkin beliau melakukan perbuatan tersebut. Kita bahkan dapat membaca transkrip rekaman dengan suara asli dengan melakukan search………… “petikan dari documentary membongkar kasus rekayasa anand krishna”…….. dimana rekaman tersebut dilengkapi dengan transkripnya.

Saat di BAP (Berita Acara Pemeriksaan) pertama di Kepolisian bulan Februari 2010, Tara mengaku dilecehkan hanya di pegang, peluk, cium, dan di raba-raba. Waktu kejadian dinyatakan sekitar bulan Feb – Juni 2009. Dan hanya ada  1 saksi mata Maya Safira. Perlu di ketahui Maya sudah membantah seluruh keterangan Tara dalam persidangan.

Saat BAP ke 2 di Kepolisian sekitar bulan Maret 2010, Tara menambah pengakuan dengan menyatakan bahwa dia di masturbasi dan juga di suruh oral.  Waktu kejadian masih dipertahankan sesuai BAP sebelumnya . Mengaku juga bahwa yang melihat hanya Maya. Dan, lagi-lagi Maya membantahnya…. Baca lebih lanjut

Berapa Guru Yang Masih Kita Miliki? Tanya Kaisar Hirohito Sesaat Setelah Jepang Kalah Perang

Membangun Bangsa Lewat Bhakti Para Guru

Kekalahan dalam perang dunia II memporak-porandakan Jepang. Banyak petinggi negara yang melakukan hara-kiri, bunuh diri. Mereka malu. Kekalahan itu sangat memalukan bagi mereka. pemerintah Jepang harus melakukan inventarisasi terhadap aset dan sumber daya yang mereka miliki. Sementara yang terpikir oleh Kaisar Jepang hanya satu. “Berapa guru yang masih kita miliki? Hebat, demikianlah cara berpikir seorang negarawan. Kekurangan sumberdaya manusia hanya bisa dipenuhi oleh para guru. Tanpa guru – masyarakat dan seluruh tatanan kemasyarakatan akan hancur-lebur. *Dikutip dari buku “Self Empowerment, Seni Memberdaya Diri Bagi Para Pendidik Dan Pemimpin, Mengajar Tanpa Dihajar Stress, Berkarja Tanpa Beban Stress”, Anand Krishna Bersama Para Pelatih Program, PT. One Earth Media, 2005.

mtds magelang 1 11 maret 2013

 

mtds magelang 2 11 maret 2013

 

Sumber: http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10151522079848545&set=a.10151522077208545.1073741826.537083544&type=1&theater

 

Program Mengajar Tanpa Dihajar Stress

Demikian pula yang disampaikan dr. Stephanus Hardiyanto dalam acara Mengajar Tanpa Dihajar Stress (MTDS) kepada para guru dan beberapa pengurus Yayasan Sekolah Nasional 3 Bahasa Bhakti Tunas Harapan Magelang pada tanggal 11 Maret 2013 di Magelang. Program tersebut merupakan kerjasama antara sayap-sayap Anand Ashram: Forum Kebangkitan Jiwa dan Anand Krishna Center Joglosemar dengan Yayasan Sekolah Nasional 3 Bahasa Bhakti Tunas Harapan Magelang.

Ada 5 sesi latihan dalam program MTDS tersebut:

  1. Sesi Pertama Situasi & Solusi Bagi Para Guru dan Latihan Dasar Nafas Perut: oleh dr. Stephanus Hardiyanto.
  2. Sesi Kedua Memberdaya Diri Dengan Kasih/SELo (Self Empowerment with Love) oleh Ir. Triwidodo Djokorahardjo, M.Eng.
  3. Sesi ketiga Membudayakan Emosi/SpECT (Speedy Emotion Culturing Techniques) oleh Ir. Triwidodo Djokorahardjo, M.Eng.
  4. Sesi Keempat Membebaskan Diri Dari Kecemasan/TherFA (Therapy to Free Anxiety) oleh dr. Djoko Pramono, C.Ht.
  5. Sesi Kelima Peregangan untuk Rileksasi/SRT (Stretch to Relax Technique)

Bertindak sebagai Koordinator lapangan Lily, MC adalah Mira, grup musik Atik,Novi,Nurhayati, Ganjar, Ardi. Dokumentasi Tunggul, perlengkapan Ulum, Andre, operator komputer Adrian, lain-lain Rosita.

Dr. Stephanus Hardiyanto menyampaikan pengalamannya sebagai dokter dalam menghadapi pasien yang cemas dan ketakutan. Mengapa latihan dilakukan dengan mata tertutup dan napas perut? Karena dengan mata tertutup dan napas yang pelan hormon melatonin dan endomorphin akan keluar yang akan menyebabkan tubuh menjadi rileks. Untuk menenangkan langsung terhadap pikiran itu sulit, akan tetapi dengan melakukan pengaturan napas, detak jantung akan tenang dan gelombang otak akan tenang.

 

Latihan Self Empowerment with Love

Ir. Triwidodo Djokorahardjo, M.Eng menyampaikan bahwa pada saat mata tertutup energi yang terbiasa keluar lewat mata sebesar 70% sekarang terkumpul. Karena itu biasanya otak menjadi lebih liar ingin memikir apa saja. Dengan mengatur napas, napas akan tenang dan otak tenang kembali dan kita dapat menggunakan energi yang terkumpul untuk memberdayakan diri.

Kita merenung sejenak, apa yang dilakukan ibu-ibu dan bapak-bapak guru dan para pengurus yayasan adalah suatu tugas mulia. Berkarya bukan hanya untuk kepentingan pribadi akan tetapi mendidik putra-putri generasi penerus bangsa. Seorang guru yang hanya mengajar demi mencari nafkah, maka energinya kurang besar, asal nafkah terpenuhi sudah cukup. Akan tetapi seorang guru yang mengajar untuk mendidik putra-putri generasi penerus bangsa energinya akan besar sekali.

Mengajar adalah pekerjaan mulia, good karma. Semakin banyak tumpukan kebaikan, maka hidup kita mendatang akan semakin baik. Di zaman dahulu inilah yang disebut mereka yang berprofesi brahmana. Memberikan pengetahuan terhadap generasi penerus.

Bagaimana cara kita mencintai pekerjaan kita? Mencintai lingkungan pekerjaan kita? Lebih dari 2500 tahun yang lalu, Sang Buddha menyatakan bahwa kesehatan jasmani dan rohani seseorang ditentukan oleh minimal 4 faktor, yaitu: perbuatan (Kamma); pikiran (Citta); makanan (Ahara) keseimbangan lingkungan hidup (Utu). Bila seseorang sehat jasmani dan rohaninya maka dia akan mencintai pekerjaan dan lingkungan pekerjaannya.

Kemudian salah satu cara adalah melakukan afirmasi: afirmasi adalah otosugesti kepada pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar bagikan ladang dan otosugesti bagaikan menebar benih. Otak kita sangat luar biasa. Saat kita berniat melakukan sesuatu, otak telah merekam sebagi pekerjaan itu sendiri. Afirmasi memunculkan Kehendak di dalam diri untuk melakukan aktivitas sesuai maksud afirmasi. Kehendak tersebut mempunyai daya yang begitu besar agar kita segera bergerak, berpikir, berkarya dan mengatasi segala rintangan. Afirmasi perlu dilakukan dalam keadaan tenang, bila pikiran sedang bergejolak maka afirmasi kurang bermanfaat. Pada waktu getaran otak tenang, otak kita akan reseptif dan afirmasi akan memperbaiki diri kita dari dalam. Pada waktu otak sangat tenang maka dia akan sangat reseptif dan benih afirmasi akan ditebarkan pada lahan yang sudah siap menumbuhkannya. Kemudian sebaiknya afirmasi dilakukan secara repetitif intensif. Kala ibu/bapak Guru ke Alfa Mart untuk membeli pasta gigi, maka otak kita akan ingat iklan di televisi, atau di jalan atau di koran: pepsodent, close up atau sensodyne? Tanpa terasa saat kita melihat film/acara di TV dengan sangat fokus, artinya gelombang otak tenang, kemudian kita melihat iklan, maka  pesan dari iklan tersebut langsung membuat file di otak kita. Jadi afirmasi yang repetitif-intensif sangat penting. Baca lebih lanjut

Latihan Rutin Yoga? Very Powerful!

yoga pagi di pantai selatan

Kesalahan Fatal Akibat Pelaksanaan Latihan Yoga yang Salah

Anand Krishna: “Banyak orang yang melakukan yoga dengan sangat dinamis. Tidak ada salahnya juga. Akan tetapi otak perlu mencatat semua postur yoga dan ini membutuhkan gerakan yang lebih lambat.”

Penyiar Kali Ma dari Sonic Zen Radio (Perth): “itulah yang saya katakan bahwa kita perlu menyiapkan ruang antara agar tubuh dapat mencatat perubahan. Banyak pelaku yoga yang melakukan yoga dinamis dan tubuh mereka berakhir dengan cedera.”

Anand Krishna: “Tepat, banyak di antara mereka yang juga cedera mental. Gerakan yoga mengubah sikap mental kita, persepsi kita, mengubah semuanya. Para pelaku yoga yang benar akan menjadi responsif dan tidak reaktif.  Setelah Anda melakukan dengan lambat dan memberi kesempatan  tubuh untuk mencatatnya, Anda akan punya waktu untuk ‘pause sejenak’ dan berpikir apa yang sedang terjadi.”

Demikian terjemahaan bebas dari siaran Bapak Anand Krishna di Radio Spreaker tentang meditasi pada bulan Januari 2013.

 

Latar Belakang Penulis

Usia kami sudah hampir mencapai 59 tahun, akan tetapi kami bersama istri biasa pergi ke luar kota dengan mengendarai kendaraan sendiri. Paling tidak seminggu sekali kami melakukan perjalanan dari Solo ke Jogja dan dari Solo ke Semarang. Sejak usia 50 tahun kami ikut latihan meditasi di Anand Ashram. Sekali dalam seminggu kami latihan bersama Ananda’s Neo Stress Management di Anand Krishna Information Center Jalan Dworowati 33 Solo dan minimal sekali dalam seminggu ikut latihan Ananda’s Neo Kundalini Yoga di Anand Krishna Center Joglosemar Komplek Perumahan Dayu Permai P. 18 Jalan Kaliurang Km 8.5 Jogja. Dalam setahun entah berapa kali kami melakukan perjalanan ke luar kota tersebut disamping perjalanan ke Jakarta, Ciawi dan Ubud Bali. Semuanya berkaitan dengan kegiatan Anand Ashram dan urusan anak bungsu yang masih kuliah di Semarang.

Latihan meditasi memang membuat kami lebih percaya diri, bisa menikmati hidup dan menghadapi tantangan hidup dengan lebih tenang. Di rumah, kami melakukan tugas rumah sendiri, karena dari sejak kami nikah bisa dikatakan tidak pernah punya pembantu. Disamping melakukan tugas rumah kami latihan meditasi setiap hari dan juga aktif menulis di blog https://triwidodo.wordpress.com/ . Di blog ini tulisan kami sudah mencapai 1.087 artikel dengan pembaca blog rata-rata 150 orang per hari dengan total pembaca sampai saat ini sudah lebih dari 200 ribu pembaca.

Kami juga aktif menulis di kompasiana http://www.kompasiana.com/triwidodo . Di blog ini tulisan kami berjumlah 239 artikel dengan jumlah pembaca bervariasi antara 100- 400 pembaca per artikel dan pernah mencapai 4.279 pembaca untuk 1 artikel.

Untuk komunikasi dengan teman di dunia maya kami aktif menggunakan Facebook http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo dan juga di Twitter https://twitter.com/triwidodo3

Kami cocok dengan pandangan kehidupan Bapak Anand Krishna dan melengkapi perpustakaan keluarga dengan semua buku beliau.  Kami merasakan setelah melakukan latihan meditasi dengan rutin pemahamaan terhadap buku bacaan semakin lebih dalam.

 

Mengalami Bocor Ginjal

Kami sudah ikut latihan meditasi sejak 9 tahun yang lalu, sampai pada suatu saat kami mengantar istri yang sakit telinga ke seorang dokter THT tua. Di usianya yang 76 tahun, dokter mantan TNI dan berjiwa kebangsaan ini masih cerdas. Walau untuk menulis dengan tangan kanan sudah dibantu dengan dorongan tangan kirinya. Sambil ngobrol sang dokter berkomentar bahwa  senang mendengar kami sering latihan meditasi tetapi beliau mengingatkan bahwa tidak takut mati itu baik agar tidak cemas dalam hidup. Akan tetapi bila melihat panjang ikat pinggang yang dipakai, maka mereka yang mempunyai perut buncit jarang yang mencapai usia 65 tahun. Punya tubuh fisik juga harus dijaga. Dari obrolan tersebut kami check laboratorium dan ternyata semuanya sehat, kecuali ginjal sudah mulai bocor. Mungkin sewaktu muda bila kumat asam urat kami minum obat penghilang rasa sakit dan tidak melakukan pengaturan pola makan. Mulai saat bertemu dokter tua tersebut kami mulai menjaga makan, lebih sering vegetarian dengan mengurangi konsumsi telur.

Setelah itu kami paham bahwa tekanan darah harus dijaga tetap normal. Penurunan tekanan darah 5-6 mm Hg dapat mengurangi kemungkinan stroke sampai 40%. Juga pada waktu tekanaan darah normal, kerusakan organ tidak bertambah parah dan kemudian sedikit demi sedikit organ bisa diperbaiki. Kerusakaan organ terjadi dalam waktu lama dan karena kurang peka maka kita merasa sehat-sehat saja. Perbaikan organ juga akan memakan waktu yang tidak sebentar. Dalam beberapa minggu setelah pengobatan sang dokter tingkat kebocoran ginjal kami sudah berkurang banyak.

 

Melakukan Latihan Yoga dengan Rutin

Perubahan total terjadi dalam perjalanan hidup kami. Pada bulan Desember 2012, Bapak Anand Krishna di Anand Ashram Ubud  berbicara yang langsung mengena hati kami. Beliau menekankan bahwa bila seseorang masih saja berniat vegetarian tetapi sering gagal bisa dipastikan karena latihan yoganya tidak rutin. Beliau bahkan langsung terjun memberi latihan yoga sendiri. Yoga lain dengan aerobik. Yoga harus pelan dan sering “pause” sejenak memberi kesempatan tubuh mencatat kegiatan. Dengan yoga kita akan lebih peka. Demikian penjelasan Bapak Anand Krishna mengenai Latihan Ananda’s Kundalini Yoga. Silakan lihat ANANDA’s NEO KUNDALINI YOGA – Anand Ashram Foundation www.anandashram.asia/index.php?id…/kundaliniyoga

 

Bila seorang dokter umum akan memberi resep, maka dia akan bertanya kepada pasien apa yang dirasakaannya. Maka yang pertama kali memahami bagian tubuh mana yang sakit adalah diri kita sendiri. Untuk luka fisik gampang kelihatan, akan tetapi merasakan organ bagian dalam mana yang sakit kita sering keliru. Banyak orang orang yang kurang peka dan menyampaikan hal yang salah sehingga akibatnya diagnose sang dokter juga bisa salah. Bila kita terbiasa melakukan senam dengan sangat intensif, sering kita tidak merasa mantap bila intensitas latihan tidak ditingkatkan. Hal tersebut membuat kita tidak terlalu peka dengan perubahaan halus yang terjadi di dalam tubuh kita. Seperti halnya orang yang makan harus banyak dan bila sedikit belum merasa kenyang. Latihan yoga akan membuat kita lebih peka. Baca lebih lanjut

Para Pemberontak Terhadap Tatanan Masyarakat Yang Korup

Para Nabi, Mesias, Sadguru Adalah Pemberontak

“Krishna adalah pemberontak, Yesus adalah pemberontak, demikian pula Siddharta, Muhammad, setiap nabi, setiap avatar, setiap mesias, dan setiap sadguru. Mereka semua dikenang sebagai Pembaharu, karena mereka melakukan pemberontakan terhadap sistem yang sudah usang, kadaluarsa, tetapi mapan. Mereka semua memberontak terhadap kemapanan system yang korup. Seorang sanyasi, sadhu, bhikshu, pejalan spiritual, atau apa pun sebutannya, sedang mengikuti jejak mereka. Ia mengatakan ‘tidak’ terhadap sistem yang ingin memperbudaknya. Ia menolak menjadi bagian dari kawanan domba. Tak peduli ada yang membantunya atau tidak; ada yang mendukungnya atau tidak; ia berdiri tegak di tengah medan perang, Dan menyatakan perang dengan decisive, definite— do or die!” Demikian kutipan dari buku “Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2012.

 

Pikiran Masyarakat telah di-Hack

Dalam suatu diskusi tentang meditasi di Anand Ashram Jakarta, seorang fasilitator menyampaikan tentang pengalamannya melihat film “How To Hack The Human Brain” yang diputar di Anand Ashram Ubud. Kisah pertama adalah tentang sekelompok mahasiswa dalam sebuah eksperimen, sebagian mahasiswa diberi peran simulasi sebagai sipir penjara dan sebagian menjadi narapidana. Ternyata simulasi peran tersebut diberhentikan setelah 2 minggu, sebelum rencana waktu eksperimen berakhir. Para ‘sipir” menjadi semakin sewenang-wenang dan para ‘narapidana’ menjadi semakin depresi dan putus asa. Ternyata lingkungan mempengaruhi jiwa seseorang. Hanya melalui meditasi, tafakur, olah batin yang menembus lapisan-lapisan kesadaran luar, seseorang tidak terpengaruh lingkungan dan tetap mempunyai pikiran yang jernih. Itulah sebabnya Krishna, Yesus, Siddharta, Muhammad, setiap nabi, setiap avatar, setiap mesias, dan setiap sadguru tidak terpengaruh sistem yang zalim di masyarakat. Mereka semua hadir sebagai Pembaharu, karena mereka melakukan pemberontakan terhadap sistem yang sudah usang, kadaluarsa, walaupun sistem tersebut sudah mapan.

Kisah kedua tentang simulasi satu orang yang berada bersama dengan 6 orang lain yang sebetulnya adalah ‘aktor’ yang mengikuti skema instruksi tertentu. Seseorang bertanya kepada ke-7 orang tersebut: “Sesungguhnya, kalau direnungkan dalam-dalam antara ibu jari dan jari telunjuk itu lebih panjang yang mana?” Orang pertama menjawab menurutnya jempol lebih panjang dari pada telunjuk. Orang kedua mengernyitkan dahi dan setelah beberapa lama mengatakan bahwa jempol lebih panjang daripada telunjuk. Orang ketiga sepakat, demikian orang keempat bahwa jempol lebih panjang daripada telunjuk. Orang yang diobservasi pada urutan kelima bingung, akan tetapi tidak mau beda dengan mayoritas dan menyatakan bahwa jempol lebih panjang daripada telunjuk. Dan dia merasa aman dan nyaman karena orang keenam dan ketujuh pun berpendapat sama. Ini membuktikan bahwa dalam kelompok masyarakat seseorang merasa lebih aman dan nyaman mengikuti pandangan mayoritas. Krishna, Yesus, Siddharta, Muhammad, setiap nabi, setiap avatar, setiap mesias, dan setiap sadguru tidak terpengaruh sistem yang sudah usang yang sudah terpola di masyarakat. Mereka semua hadir sebagai Pembaharu, karena mereka melakukan pemberontakan terhadap sistem yang sudah kadaluarsa dan penuh ketidakbenaran.

Kisah ketiga mempertanyakan mengapa satu orang raja dan beberapa orang ‘pasukan’ nya bisa memerintah ribuan warganya. Rupanya masyarakat tidak berani keluar dari pola yang telah dibentuk oleh penguasa, sehingga mereka menurut saja walau raja dan ‘pasukan’nya bertindak sewenang-wenang. Seorang meditator tidak akan terbelenggu oleh kemapanan sistem, dan bila sistem telah rusak dia akan mengatakan apa adanya.

 

Pola Belenggu Pemikiran Masyarakat tentang Pengadilan

Masyarakat kita telah terpola: bahwa seseorang bisa diajukan jaksa penuntut umum ke sidang pengadilan bila telah ditemukan 2 bukti; masyarakat telah terpola bahwa 3 orang hakim adalah pribadi yang jujur dan bertindak adil. Bila hakim salah memutuskan jaksa bisa melakukan banding sehingga akhirnya keputusan terakhir di tangan 3 Hakim Agung dari Mahkamah Agung dan dinyatakan sebagai keputusan final yang mempunyai kekuatan hukum. Masyarakat terpola dengan hukum formal dan dibuat tidak jeli dengan berbagai ketidakbenaran yang terjadi dibelakang kebenaran hukum formal. Baca lebih lanjut