Berapa Guru Yang Masih Kita Miliki? Tanya Kaisar Hirohito Sesaat Setelah Jepang Kalah Perang

Membangun Bangsa Lewat Bhakti Para Guru

Kekalahan dalam perang dunia II memporak-porandakan Jepang. Banyak petinggi negara yang melakukan hara-kiri, bunuh diri. Mereka malu. Kekalahan itu sangat memalukan bagi mereka. pemerintah Jepang harus melakukan inventarisasi terhadap aset dan sumber daya yang mereka miliki. Sementara yang terpikir oleh Kaisar Jepang hanya satu. “Berapa guru yang masih kita miliki? Hebat, demikianlah cara berpikir seorang negarawan. Kekurangan sumberdaya manusia hanya bisa dipenuhi oleh para guru. Tanpa guru – masyarakat dan seluruh tatanan kemasyarakatan akan hancur-lebur. *Dikutip dari buku “Self Empowerment, Seni Memberdaya Diri Bagi Para Pendidik Dan Pemimpin, Mengajar Tanpa Dihajar Stress, Berkarja Tanpa Beban Stress”, Anand Krishna Bersama Para Pelatih Program, PT. One Earth Media, 2005.

mtds magelang 1 11 maret 2013

 

mtds magelang 2 11 maret 2013

 

Sumber: http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10151522079848545&set=a.10151522077208545.1073741826.537083544&type=1&theater

 

Program Mengajar Tanpa Dihajar Stress

Demikian pula yang disampaikan dr. Stephanus Hardiyanto dalam acara Mengajar Tanpa Dihajar Stress (MTDS) kepada para guru dan beberapa pengurus Yayasan Sekolah Nasional 3 Bahasa Bhakti Tunas Harapan Magelang pada tanggal 11 Maret 2013 di Magelang. Program tersebut merupakan kerjasama antara sayap-sayap Anand Ashram: Forum Kebangkitan Jiwa dan Anand Krishna Center Joglosemar dengan Yayasan Sekolah Nasional 3 Bahasa Bhakti Tunas Harapan Magelang.

Ada 5 sesi latihan dalam program MTDS tersebut:

  1. Sesi Pertama Situasi & Solusi Bagi Para Guru dan Latihan Dasar Nafas Perut: oleh dr. Stephanus Hardiyanto.
  2. Sesi Kedua Memberdaya Diri Dengan Kasih/SELo (Self Empowerment with Love) oleh Ir. Triwidodo Djokorahardjo, M.Eng.
  3. Sesi ketiga Membudayakan Emosi/SpECT (Speedy Emotion Culturing Techniques) oleh Ir. Triwidodo Djokorahardjo, M.Eng.
  4. Sesi Keempat Membebaskan Diri Dari Kecemasan/TherFA (Therapy to Free Anxiety) oleh dr. Djoko Pramono, C.Ht.
  5. Sesi Kelima Peregangan untuk Rileksasi/SRT (Stretch to Relax Technique)

Bertindak sebagai Koordinator lapangan Lily, MC adalah Mira, grup musik Atik,Novi,Nurhayati, Ganjar, Ardi. Dokumentasi Tunggul, perlengkapan Ulum, Andre, operator komputer Adrian, lain-lain Rosita.

Dr. Stephanus Hardiyanto menyampaikan pengalamannya sebagai dokter dalam menghadapi pasien yang cemas dan ketakutan. Mengapa latihan dilakukan dengan mata tertutup dan napas perut? Karena dengan mata tertutup dan napas yang pelan hormon melatonin dan endomorphin akan keluar yang akan menyebabkan tubuh menjadi rileks. Untuk menenangkan langsung terhadap pikiran itu sulit, akan tetapi dengan melakukan pengaturan napas, detak jantung akan tenang dan gelombang otak akan tenang.

 

Latihan Self Empowerment with Love

Ir. Triwidodo Djokorahardjo, M.Eng menyampaikan bahwa pada saat mata tertutup energi yang terbiasa keluar lewat mata sebesar 70% sekarang terkumpul. Karena itu biasanya otak menjadi lebih liar ingin memikir apa saja. Dengan mengatur napas, napas akan tenang dan otak tenang kembali dan kita dapat menggunakan energi yang terkumpul untuk memberdayakan diri.

Kita merenung sejenak, apa yang dilakukan ibu-ibu dan bapak-bapak guru dan para pengurus yayasan adalah suatu tugas mulia. Berkarya bukan hanya untuk kepentingan pribadi akan tetapi mendidik putra-putri generasi penerus bangsa. Seorang guru yang hanya mengajar demi mencari nafkah, maka energinya kurang besar, asal nafkah terpenuhi sudah cukup. Akan tetapi seorang guru yang mengajar untuk mendidik putra-putri generasi penerus bangsa energinya akan besar sekali.

Mengajar adalah pekerjaan mulia, good karma. Semakin banyak tumpukan kebaikan, maka hidup kita mendatang akan semakin baik. Di zaman dahulu inilah yang disebut mereka yang berprofesi brahmana. Memberikan pengetahuan terhadap generasi penerus.

Bagaimana cara kita mencintai pekerjaan kita? Mencintai lingkungan pekerjaan kita? Lebih dari 2500 tahun yang lalu, Sang Buddha menyatakan bahwa kesehatan jasmani dan rohani seseorang ditentukan oleh minimal 4 faktor, yaitu: perbuatan (Kamma); pikiran (Citta); makanan (Ahara) keseimbangan lingkungan hidup (Utu). Bila seseorang sehat jasmani dan rohaninya maka dia akan mencintai pekerjaan dan lingkungan pekerjaannya.

Kemudian salah satu cara adalah melakukan afirmasi: afirmasi adalah otosugesti kepada pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar bagikan ladang dan otosugesti bagaikan menebar benih. Otak kita sangat luar biasa. Saat kita berniat melakukan sesuatu, otak telah merekam sebagi pekerjaan itu sendiri. Afirmasi memunculkan Kehendak di dalam diri untuk melakukan aktivitas sesuai maksud afirmasi. Kehendak tersebut mempunyai daya yang begitu besar agar kita segera bergerak, berpikir, berkarya dan mengatasi segala rintangan. Afirmasi perlu dilakukan dalam keadaan tenang, bila pikiran sedang bergejolak maka afirmasi kurang bermanfaat. Pada waktu getaran otak tenang, otak kita akan reseptif dan afirmasi akan memperbaiki diri kita dari dalam. Pada waktu otak sangat tenang maka dia akan sangat reseptif dan benih afirmasi akan ditebarkan pada lahan yang sudah siap menumbuhkannya. Kemudian sebaiknya afirmasi dilakukan secara repetitif intensif. Kala ibu/bapak Guru ke Alfa Mart untuk membeli pasta gigi, maka otak kita akan ingat iklan di televisi, atau di jalan atau di koran: pepsodent, close up atau sensodyne? Tanpa terasa saat kita melihat film/acara di TV dengan sangat fokus, artinya gelombang otak tenang, kemudian kita melihat iklan, maka  pesan dari iklan tersebut langsung membuat file di otak kita. Jadi afirmasi yang repetitif-intensif sangat penting. Baca lebih lanjut

Iklan