Kita Ini Pengikut Abu Jahal, Firaun, Pilatus atau Pengikut Para Nabi


Abu Jahal Atau Baginda Nabi, Firaun atau Nabi Musa, Pilatus atau Nabi Isa

Sebagai seorang yang beragama kita mesti merasa sebagai pengikut para Nabi dan bukan para musuhnya. Benarkah kita pengikut para Nabi? Apabila kita merenung dalam-dalam, kelompok Nabi selalu diawali dengan sedikit pengikut dan selalu dianiaya oleh kelompok “mainstream” yang ingin mempertahankan status quo kekuasaannya. Jangan-jangan kita takut dengan Abu Jahal Modern yang menguasai masyarakat yang tidak ingin masyarakat berubah ke arah lebih baik sehingga tidak peduli dengan kebenaran yang dibawa Baginda Nabi. Jangan-jangan kita was-was terhadap intimidasi Firaun Modern dan membiarkan Musa yang berupaya membebaskan perbudakan dianiaya para aparat zalim. Jangan-jangan kita seperti Pilatus, pemimpin “gendak-genduk”, peragu yang meminta agar kasus Yesus ditangani Herodes. Ternyata Herodes hanya bicara, “Sudahlah sampeyan, tangani saja, diputuskan kau sajalah! Pilatus paham bahwa Yesus tidak bersalah karena itu hanya ingin menghukumnya dengan cambuk, akan tetapi karena desakan keras para tokoh ultra konservatif untuk menghukum Yesus, akhirnya Pilatus membiarkan Yesus menjadi bulan-bulanan di pengadilan yang zalim.

Para Nabi dan kelompoknya tidak akan membiarkan kezaliman terjadi dalam masyarakat. Hadist Riwayat Muslim: Dari Abi Sa’id Al-Khudri ra. telah berkata: Aku telah dengar Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa diantaramu melihat kemungkaran hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika ia tak sanggup maka dengan lidahnya dan jika tak sanggup maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” Akan tetapi kita diam seribu bahasa melihat kezaliman yang terjadi di depan mata kita, dan kita masih saja merasa sebagai pengikut para Nabi.

 

Pandangan Osho Master Spiritual Kontemporer dari India

Osho berkata: “Anda harus memahami satu hal, bahwa setiap kali ada seseorang yang membawa pesan bagi Anda, untuk melakukan pemberontakan terhadap sistem yang sudah usang, sudah kadaluarsa maka tokoh agama, politisi, kelompok status quo akan menentang pembawa pesan tersebut. Alasannya begitu sederhana karena dia adalah pembuat gangguan. Jika orang mendengarkan dia maka akan terjadi perubahan terhadap status quo. Perubahan tersebut akan mengubah segalanya melemparkan para status quo dan para tokoh agama yang tadinya mempunyai kuasa atas Anda.”

“Tentu mereka yang berada dalam kekuasaan tidak akan menyukainya. Lebih baik menyelesaikan satu orang daripada kehilangan semua kepentingan-kepentingan mereka. Mengapa mereka menyalibkan Yesus? Dia tidak melakukan kejahatan apa pun. Dia orang sederhana dan tidak melakukan sesuatu yang ilegal. Tetapi mengapa mereka bersikeras untup melenyapkannya? Alasannya sangat sederhana, dia mengacaukan seluruh masyarakat.  Dia mengatakan hal yang tidak sama dengan tradisi sebelumnya. Dia membawa cahaya baru, dia membuka pintu untuk kemajuan. Dan ada orang-orang yang tidak ingin kemajuan. Mereka ingin masyarakat statis, masyarakat yang mati dan mereka yang berkuasa. Setiap Buddha harus masuk penjara, dibunuh atau disalib.”

 

Para Nabi dan Pembaharu adalah Pemberontak

Anand Krishna menyatakan dalam buku “Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2012: “Krishna adalah pemberontak, Yesus adalah pemberontak, demikian pula Siddharta, Muhammad, setiap nabi, setiap avatar, setiap mesias, dan setiap sadguru. Mereka semua dikenang sebagai Pembaharu, karena mereka melakukan pemberontakan terhadap sistem yang sudah usang, kadaluarsa, tetapi mapan. Mereka semua memberontak terhadap kemapanan system yang korup. Seorang sanyasi, sadhu, bhikshu, pejalan spiritual, atau apa pun sebutannya, sedang mengikuti jejak mereka. Ia mengatakan ‘tidak’ terhadap sistem yang ingin memperbudaknya. Ia menolak menjadi bagian dari kawanan domba. Tak peduli ada yang membantunya atau tidak; ada yang mendukungnya atau tidak; ia berdiri tegak di tengah medan perang, Dan menyatakan perang dengan decisive, definite— do or die!”

Orang selalu lupa bahwa rasa sakit para Nabi/Pembaharu akan menjadi benih bagi Tanaman Bunga Kebenaran. Dan ini yang selalu terjadi.

 

Anand Krishna bukan Nabi hanya seorang Pecinta Indonesia

Anand Krishna telah “melihat” Indonesia Baru. Semua pernyataaan Anand Krishna di bawah ini dikutip dari buku “INDONESIA  BARU”, Anand Krishna, One Earth Media, 2005. Anand Krishna menyampaikan: “Indonesia Baru yang kulihat ialah Indonesia buatan Putera-Puterinya sendiri. Indonesia yang dibuat oleh Orang-Orang Indonesia sendiri, dengan kesadaran “keindonesiaannya”. Semangat Gotong Royong – itulah yang menjadi modal dasar bagi Indonesia Baru.”

“Gotong Royong tidak sama dengan amal saleh atau dana-punia atau charity. Gotong Royong bukanlah pemberian sedekah. Semua ini hanya menyuburkan benih-benih kelemahan dan ketakpercayaan diri dalam diri para penerima, dan keangkuhan dalam diri para pemberi. Biarlah mereka yang berjiwa lemah mengartikan Gotong Royong seperti itu. Mereka yang berjiwa kuat, atau setidaknya menginginkan kekuatan jiwa tidak boleh hidup dengan belaskasihan orang. Tidak boleh menjadi beban bagi siapa pun. Gotong Royong berarti memikul bersama beban negara dan bangsa ini. Dan, untuk memikul beban yang berat itu, kita semua harus menjadi kuat. Harus memberdayakan diri. Tidak ada seorang pun yang mau hidup dengan belas kasihan orang lain. Tidak ada lagi kerumunan massa merebutkan bungkusan mie dan lembaran seratus-ribuan. Perilaku seperti itu sungguh menjijikkan bagi Manusia Indonesia Baru. Melemahkan jiwanya, mengendurkan semangatnya. Berhentilah beramal-saleh demi kapling di surga. Berhentilah memberi sedekah demi pencucian dosa. Beramal-salehlah demi kebangkitan jiwa, semangat dan akhlak… bersedekahlah untuk menyebarluaskan cinta kasih! “

 

Pandangan Anand Krishna tentang Kebhinnekaan

“Gotong Royong tidak dapat dilakukan seorang atau kelompok masyarakat yang tidak dapat menerima perbedaan, kebhinekaan… Gotong Royong Hanya Terjadi Dalam Iklim Kesetaraan Dan Kebersamaan. Gotong Royong hanya dapat hidup dalam masyarakat yang menerima perbedaan sebagai Hukum Keberadaan yang tak dapat diganggu-gugat. Dan, semangat Gotong Royong hanya dapat dipertahankan bila kita mampu melihat benang-merah yang mempersatukan masyarakat yang berbeda-beda itu. Bagaimana aku dapat “bergotong royong” denganmu bila aku melihatmu lebih rendah dariku? Untuk bergandengan tangan denganmu, aku harus berada di atas podium yang sama bersamamu. Aku tidak bisa berada di atasmu, tidak bisa pula berada di bawahmu. Bagaimana aku dapat “bergotong royong” denganmu bila kelompokmu, agamamu, sukumu, pemahamanmu dan sebagainya kuanggap lebih rendah dari kepunyaanku? Bagaimana aku dapat “bergotong royong” denganmu bila aku belum mampu menerima perbedaan yang ada di antara kita? Perbedaan agama, perbedaan kepercayaan, perbedaan status sosial, ekonomi dan sebagainya dan seterusnya.”

“Yang Mempersatuan Kita Bukanlah Sekedar Penderitaan, Musibah Atau Kesamaan Nasib… Yang Mempersatukan Kita, Putera-Puteri Indonesia, Adalah Sebuah “Kesadaran” Bahwasanya Di Balik Segala Macam Perbedaan Yang Terpandang, Adalah Kesatuan Dan Persatuan Ilahi. Kita berbeda, namun itu tidak berarti bahwa aku harus memusuhimu, harus pilih kasih, dan berperilaku beda terhadapmu. Kau Muslim, Kau Katolik, Kau Kristen, Kau Buddhis, Kau Konghucu, Kau Hindu, Kau Bahai, Kau Tidak Berada Dalam Salah Satu Agama Formil Namun Percaya Pada Kekuatan Ilahi… Siapa Pun Kau, Kau Orang Indonesia… Dan, Aku Cinta Kau!”

 

Mohon Pengampunan Ibu Pertiwi

“Cukup sudah penderitaan yang disebabkan oleh ulahmu. Kau, saudara-saudaraku yang kurang sadar, cepat-cepatlah menyadarkan dirimu… Cepat-cepatlah memohon pengampunan dari Ibumu, Ibu Pertiwi. Ibu yang cintanya melebihi cinta seribu ibu kandung. Kembalilah ke Pangkuan Ibumu. Sebelum Qahar Allah membinasakan jiwamu. Peringatan keras ini terpaksa kuberikan kepadamu, karena aku mencintaimu. Karena kau adalah saudaraku, saudara setanah air, saudara seibu, saudara kandung! Selama ini, walau kau telah menyia-nyiakan Ibumu, ia tetaplah bersedia mengampuni ulahmu dan menerimamu di pangkuannya. Bergegaslah sebelum Allah ta’lla meminta pertanggungjawaban dari setiap anggota badanmu. Terutama dari pemikiran-pemikiranmu, dari pandangan-pandanganmu yang telah menyebabkan penderitaan bagi seluruh bangsa. Juga keputusan-keputusanmu yang arogan dan hanya menyebabkan perpecahan.”

Hanya karena menyebarkan kesadaran untuk mencintai Ibu Pertiwi, Anand Krishna telah mengalami kezaliman hukum. Saksi korban disebut banyak hanya untuk memenuhi ada bukti korban lebih dari satu. Walaupun di sidang pengadilan hanya satu yang merasa jadi korban itu pun tanpa saksi mata, akan tetapi pengadilan jalan terus. Visum et repertum masih perawan dari dr. Mun’im Idris dikesampingkan. 90% persidangan berisi penghakiman pandangan pada buku-bukunya yang dijual bebas memenuhi acara sidang. Setelah Hakim Ketua terjerumus tindakan memalukan dan diganti Albertina Ho, maka Anand Krishna diputus bebas. Putusan bebas menurut KUHAP tidak boleh dikasasi, Jaksa Agung melarang kasasi kecuali perkara vonis bebas korupsi, tetapi kasasi jalan terus. Dasar kasasi adalah sengketa merk yang sama sekali tak ada kaitan dengan kasus. Pun demikian kasasi yang cacat hukum dikabulkan Hakim Agung Ahmad Yamanie dan Zaharuddin Utama yang integritasnya diragukan (Ahmad Yamani dipecat setelah tertangkap tangan memalsu pengurangan vonis dan Zaharuddin Utama diduga menerima suap Rp. 1.7 M kasus Misbakhun) serta Sofyan Sitompul. Bila Susno Duaji ditangguhkan hukuman karena permasalahan pasal 197 KUHAP, Anand Krishna dijebloskan paksa ke LP Cipinang walau pasal 197 tidak terpenuhi. Cipinang. Silakan baca: http://hukum.kompasiana.com/2013/03/16/agama-hanya-di-bibir-saja-542579.html

 

Bukan Hanya Dialog Interfaith

Bhikku Sanghasena pendiri Mahabodhi International Meditation Center di India dengan spontan mengucapkan “Wonderful!”,  saat melihat Anand Ashram, nampak banyak orang dari anak kecil sampai dewasa, berbeda profesi, berbeda suku, berbeda ras, berbeda agama dapat bekerja bersama, meningkatkan kesadaran dalam suasana bahagia. Anand Ashram  memandang setiap orang sebagai manusia tidak melihat perbedaan agama dan kebangsaan. Pandangan Anand Krishna tentang Kebhinnekaan tidak hanya diwujudkan dalam tulisan akan tetapi dipraktekkan dengan model di tengah masyarakat.

Berbicara masalah kedamaian dunia. Kita perlu merenung: “Mengapa tidak ada kedamaian?” Karena ada “division”, ada pembagian. Karena ada pembagian maka timbullah friksi, muncullah perkelahian. Pembagian, pengkotak-kotakan sudah terjadi menyeluruh dalam setiap kehidupan manusia, pembagian negara, agama, ras, warna kulit, geografi dan sebagainya. Semua orang menginginkan kedamaian, kebahagiaan, kemakmuran, betul demikian semuanya…… akan tetapi hanya kedamaian, kebahagiaan dan kemakmuran bagi kelompoknya. Kelompok Amerika hanya memperjuangkan bagi Amerika, demikian pula Eropa, Asia ataupun suatu agama hanya memperjuangkan kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan bagi umat seagamanya saja. Dan selalu kita hanya memikirkan kelompok kita dan mengabaikan kelompok lain di luar kita, itulah sebabnya tidak pernah tercapai perdamaian……. Terlalu banyak pengkotak-kotakan dalam kehidupan, pada hal secara fundamental kita itu sama-sama manusia…… Harus ada transformasi, atau perubahan sikap mental, perubahan “attitude”.

Anand Ashram adalah sebuah model “Indonesia Baru” yang telah mengaplikasikan interfaith dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya sebuah dialog yang hanya baik di atas panggung dan begitu turun panggung tetap mempertahankan pola lama, pola yang merasa dirinya sendiri paling benar. Semoga kita benar-benar menjadi pengikut para Nabi. Disusun oleh TW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: