Ternyata Kita di Kubu Firaun Bukannya Musa


Nabi Musa

follower @fir_aun dan follower @moses

Dalam materi program online bilingual Neo Interfaith Studies (http://www.oneearthcollege.com/id/ ), Anand Krishna menyampaikan: “Qur’an pagi ini mengantar kita ke Al-A’raaf (ayat 113). Apa yang membedakan Musa dari para ahli sihir? Musa berkarya tanpa pamrih demi kepentingan umum. Para ahli sihir berkarya karena dijanjikan harta kekayaan dan kedudukan oleh Firaun. Sekarang mari kita bertanya pada  diri kita masing-masing, kita berada di kubu mana? Adakah diantara kita seorang Musa yang sedang berkarya untuk kepentingan umum tanpa mementingkan dirinya? Sayang, kita semua adalah budak Firaun, yang hanya mau “mengabdi” jika dibayar, dijanjikan ini dan itu. Kita lupa akan kerasulan dan kekhalifahan di dalam diri kita. Maka, kita tidak mencapai ketinggian yang dijanjikan Qur’an, kesadaran kita malah semakin merosot ke bawah. Ketika Musa berada di tengah kita pun, kita masih sibuk bergaul, dan bersosialisasi dengan budak-budak Firaun. Kita lupa akan potensi diri kita. Inilah penyakit utama yang di derita oleh umat manusia, oleh kita semua – penyakit lupa.”

Mengikuti Kebiasaan Rendah demi Kepentingan Diri Pribadi

Para Hakim Agung yang mengubah hukuman mati gembong narkoba perlu introspeksi, mereka berkarya demi keadilan dan kepentingan masyarakat luas ataukah hanya berkarya jika dibayar ekstra oleh siapa saja. Seluruh aparat yang berkaitan dengan keadilan yang bersedia menjatuhkan seseorang dengan keterangan palsu, tidak memakai hati-nuraninya demi imbalan tertentu adalah kelompok Firaun yang hanya mau bekerja bila mendapatkan imbalan ekstra. Bukan hanya aparat peradilan, mereka yang membuat Peraturan Daerah atau Undang-Undang yang menguntungkan suatu pihak atau membatasi kebebasan minoritas dengan imbalan tertentu juga termasuk di dalamnya. Boleh jadi dalam pikirannya mereka sangat benci Firaun, akan tetapi dalam prakteknya mereka menggunakan cara Firaun.

Seorang sahabat kami di FB menulis status: “ketidaksadaran, ketidakpedulian kita selama ini terhadap kebiasaan-kebiasaan rendahan kita, terhadap kecenderungan kita untuk tidak peduli pada kebaikan dan kemuliaan, telah mewujud sebagai sebuan entitas ketidak-adilan yang begitu kronis.” Kemudian, seorang Polisi di Jeneponto, Sulawesi Selatan menulis artikel di suatu blog: “Pelanggaran Lalu Lintas Simbol Keterpurukan Moral.”

 

Pelanggaran Lalu-Lintas  Simbol Keterpurukan Moral Bangsa

Benar sekali ketidaksadaran, ketidakpedulian kita terhadap kebiasaan rendah, egoistis, mau menang sendiri dan melupakan diri sebagai makhluk yang luhur dan mulia, lama-kelamaan menjadi karakter kita. Dan, kita menjadi permisif terhadap etika dan moral. Pelanggaran di jalan raya dapat dijadikan model dari pelanggaran di bidang hukum.

Kita melanggar lalu lintas karena kita tidak sadar dan tidak peduli terhadap kebiasaan rendah dan melupakan jatidiri kita sebagai makhluk yang mulia. Pengendara kendaraan tidak malu dan berani terang-terangan melanggar marka lalu-lintas, masyarakat tidak malu dan terang-terangan melanggar hukum. Ketika pengendara salah jalan dan diklakson pengendara lainnya, dia malah marah dan uring-uringan. Ketika seorang pejabat diingatkan pengamat tentang kegiatannya yang melanggar hukum malah nggrundel: “jangan ngurusin orang!” Ketika ditindak petugas, pengendara minta maaf dan sodorkan uang dibalik SIM. Ketika punya masalah pelanggaran hukum, sebelum dimuat wartawan cepat-cepat deal dengan petugas. Menyerobot jalur, melewati garis pembatas di tengah jalan, melawan arah, ngebut di jalan raya yang merugikan umum. Demikian pula yang terjadi di bidang hukum. Cerita penjebakan petugas dengan memasukkan butir ekstasi pun ada di masyarakat. Yang sangat memprihatinkan adalah bila mental oknum petugas yang ingin imbalan atas pelanggaran lintas telah menjadi mental pejabat negeri kita.

Sadarkah kita dengan memikirkan kepentingan pribadi, mengabaikan umum, melanggar peraturan kita telah menjadi pengikut Firaun? Sadarkah kita bahwa dengan mengutamakan imbalan terhadap pelanggar hukum kita telah menjadi pengikut Firaun? Pengikut Musa akan selalu beretika dalam berkendara di jalan raya. Pengikut Musa akan menegakkan peraturan agar lalu-lintas tertib bukan untuk imbalan pribadi. Kebiasaan rendah yang diulang-ulang akan menjadi karakter kita.

 

Memilih Kenyamanan Panca Indera atau Kemuliaan Diri

Terjemahan Surat At Tin 4-5: “Sungguh Kami menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk. Kemudian Kami mengembalikannya kepada yang serendah-rendahnya.”

Bila kita beriman dan beramal saleh kita akan memperoleh derajat yang sebaik-baiknya. Bila kita selalu menuruti hawa nafsu panca indera, kita akan dikembalikan kepada yang serendah-rendahnya.

Dalam buku “Masnawi Buku Kelima, Bersama Jalaluddin Rumi Menemukan Kebenaran Sejati”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2002 Anand Krishna menyampaikan: “Bila disuruh memilih antara ‘yang baik’ dan ‘yang nikmat’ biasanya manusia akan memilih ‘yang nikmat’. Itu sebabnya, seorang anak harus diberi iming-iming kenikmatan permen, ‘nasinya dihabiskan dulu’, kalau sudah habis, mama berikan permen. Permen kenikmatan sesungguhnya hanyalah iming-iming. Tidak penting. Yang penting adalah nasi. Bila masih kecil, pemberian iming-iming masih bisa dipahami. Celakanya, kita semua sudah kebablasan. Sudah dewasa, sudah bukan anak-anak lagi, tetapi masih membutuhkan iming-iming ‘permen kenikmatan’. Kemudian, demi ‘permen kenikmatan’ kita akan melakukan apa saja. Jangankan nasi, batu pun kita makan. Asal mendapatkan permen. Demi ‘permen kenikmatan’, kita tega mengorbankan kepentingan orang lain. Kitabersedia memanipulasi apa saja. Agama dan kepercayaan akan kita gadaikan bersama suara nurani.”

Dalam buku “Shri Sai Satcharita”, Sai das, Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia, 2010 Anand Krishna menyampaikan: “Dalam hidup ini kita memang selalu berhadapan dengan dua pilihan tersebut, shreya atau preya, yang memuliakan atau yang menyenangkan. Seorang pencari jatidiri hendaknya memilih shreya, atau yang memuliakan. Dan, tidak memilih preya, yang menyenangkan. Preya, yang menyenangkan, adalah pilihan mereka yang masih sepenuhnya berada dalam alam kebendaan. Para bijak selalu memilih ‘yang memuliakan’. Mereka yang tidak bijak memilih ‘yang menyenangkan’ karena keserakahan dan keterikatan mereka dengan dunia benda.

 

Petisi tentang Keadilan dan Hak Asasi Manusia bagi Anand Krishna

http://www.avaaz.org/en/petition/Justice_and_Human_Rights_for_Religious_Pluralist_and_Freedom_Fighter_Anand_Krishna/?fVCMlab&pv=4

Terjemahan dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:

Dibuat oleh Jane H. ditujukan kepada: Pemerintah Indonesia, Mahkamah Agung

Kenapa saya menggugah dan mengajak Anda untuk mendukung petisi ini?

Anand Krishna sudah dinyatakan tidak bersalah atas tuduhan pelecehan seksual yang dialamatkan padanya, dan sudah diputus bebas oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan (Jaksel) yang dipimpin oleh hakim paling jujur di Indonesia, Albertina Ho.

Albertina Ho, hakim wanita yang berani dan berintegritas ini, samasekali tidak menemukan satu pun bukti tindakan asusila yang dituduhkan kepada Anand Krishna. Pada tanggal 22 November 2011 Hakim Ho memutus bebas penulis produktif dan pelopor gerakan penghargaan terhadap keberagaman di Indonesia ini, dan memerintahkan pemulihan martabat dan hak-haknya sebagai warga negara seperti sedia kala.

Namun, Mahkamah Agung (MA) justru menjatuhkan hukuman 2,5 tahun pernjara terhadapnya. Dalam hal ini Majelis Hakim MA telah tidak menggunakan instrumen hukum sebagai sarana melindungi dan memuliakan kebenaran dan keadilan, tapi sebaliknya sewenang-wenang mencederai kedua nilai tersebut dan menginjak-injak hak asasi manusia.

Sebelumnya sidang perkara Anand Krishna dipimpin oleh Hari Sasangka. Proses pengadilan berjalan timpang dan sangat janggal. Yang terjadi adalah menghakimi tulisan, buku-buku, dan pemikiran Krishna terkait toleransi beragama dan pluralisme ketimbang berupaya membuktikan tuduhan Tara Pradipta Laksmi yang mengaku telah dilecehkan oleh mentor spiritual tersebut.

Sebagai oknum penegak hukum Sasangka dengan sengaja melanggar hukum dengan menjebloskan penulis 160-an buku itu di penjara Cipinang sebelum ada keputusan hukum tetap. Tindakan anti keadilan-kebenaran yang dilakukan Sasangka diprotes keras Anand Krishna dengan melakukan aksi mogok makan selama 49 hari dan diliputi media cetak di dalam dan luar negeri serta media online.

Hari Sasangka digantikan oleh Albertina Ho atas rekomendasi Komisi Yudisial. Tindakan KY ini berdasarkan laporan tim pengacara Anand Krishna beserta bukti-bukti kuat bahwa Hari Sasangka telah ber-indehoi dengan salah satu saksi pihak Tara Pradipta Laksmi bernama Shinta Kencana Kheng.

Tidak senang dengan keputusan Ho dan sengaja menabrak pasal 244 KUHP, Jaksa Martha Berliana Tobing mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung. Padahal pasal 244 KUHP terang benderang menyatakan bahwa vonis bebas tidak bisa dibawa ke MA, karena terdakwa telah dibebaskan dan dinyatakan tak bersalah oleh pengadilan pada tingkat di bawahnya.

Tak lama setelah membebaskan Krishna, Hakim Ho yang dikenal tak kenal kompromi walau dalam mengadili Gayus Tambunan, petugas pajak yang korup dan juga Jaksa nakal Cirus Sinaga sekalipun, beliau dipindahkan ke pelosok di kepulauan Bangka sana.

Dengan berlindung di balik peraturan Menteri tahun 1983 yang menyatakan bahwa putusan bebas di pengadilan yang lebih rendah bisa dikasasi ke MA dengan alasan demi “kondisi tertentu, hukum, keadilan, dan kebenaran” jaksa membawa kasus Anand ke Mahkamah Agung. Padahal peraturan menteri jelas lebih rendah ketimbang putusan hukum berkekuatan tetap. Kendati demikian, pada akhir Juli 2012, MA membatalkan keputusan bebas dari Albertina Ho atas Anand Krishna, mereka menjeratnya dengan pasal 294 KUHP.

JPU Martha Berliana Tobing telah dengan jelas melanggar dan menabrak rambu-rambu hukum. Dan, Mahkamah Agung sebagai benteng tekahir yang melindungi keadilan dan kebenaranmalah membenarkan tindakan JPU.

Tanpa sidang umum, majelis Hakim Agung yang terdiri dari Zaharudding Utama, Achmad Yamanie, dan Sofyan Sitompul mengabulkan kasasi illegal dan menghukum Anand Krishna 2,5 tahun penjara. Putusan tersebut adalah batal demi hukum karena tidak memenuhi syarat-syarat pada pasal 197 ayat 1 huruf d, f, h dan l. Di dalam putusan Mahkamah Agung tersebut mencantumkan kasus orang lain di pengadilan tinggi Bandung (perebutan kasus merek) namun Anand Krishnalah yang dihukum penjara atas kasus orang lain. Sekarang Anand Krishna mendekam di Lapas Cipinang menjalani hukuman yang seharusnya kasus tersebutlah ada batal demi hukum. Beliau sekarang dibungkam dibalik jeruji dan sebetulnya yang dikriminalisasi adalah pemikirannya.

Ketika hukum disalahgunakan, ketika integritas mereka yang bertanggung jawab menegakan hukum terjebak kepentingan pribadi, maka merupakan tanggung jawab semua orang merdeka untuk bahu-membahu berjuang mempertahankan kebebasan manusia yang paling hakiki. Upaya terbuka dan transparan oleh pihak ketiga yang independen dan tak memihak untuk meninjau ulang keputusan ini. Kiranya begitu jelas tak ada seorang pun yang berpendapat bahwa putusan MA terhadap Anand Krishna itu adil, transparan, tak memihak, dan independen.

 

Tidak Berpihak dalam Peristiwa Ketidakadilan

Uskup Desmond Tutu berkata: “Jika Anda netral dalam situasi ketidakadilan, Anda sudah memihak pada sang penindas. Jika seekor gajah menginjak ekor seekor tikus dan Anda mengatakan  bahwa Anda netral, sang tikus tidak akan bersimpati pada kenetralan Anda.”

Umat Firaun yang membiarkan Musa dizalimi Firaun telah berpihak kepada Firaun. Semoga kita semua bukan pengikut Firaun. Disusun oleh TW.

2 Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: