Mengatasi Kebobrokan Moral Bangsa lewat Meditasi


Kebobrokan Moral Bangsa Semakin Memprihatinkan

Baru saja masyarakat disuguhi drama pemalsuan vonis Hakim Agung, kali ini muncul siaran langsung episode baru seorang hakim tertangkap tangan menerima suap oleh KPK. Nampaknya pemeran utama KPK harus kerja keras, kejar tayang berbagai episode yang membutuhkan stamina yang prima. Mengapa hukum yang dipilih sebagai highlight, karena sampai saat ini sesuai perundang-undangan putusan seorang hakim tidak bisa diganggu gugat. Seperti putusan Tuhan. Walau jelas banyak oknum yang jauh dari Tuhan dan sangat sulit menemukan Hakim sekaliber Albertina Ho di tumpukan para hakim yang bersedia menggadaikan hati nuraninya.

Tindakan main hakim sendiri terhadap preman yang kita baca di media menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap peradilan formal merosot drastis. Bukti nyata dapat dilihat dari beberapa pernyataan warga masyarakat yang malah mendukung tindakan main hakim sendiri tersebut. Mereka yang kontra, yang mengutuk tindakan main hakim sendiri berpedoman pada peraturan hukum yang berlaku. Sedangkan masyarakat yang pro, yang mendukung tindakan main hakim sendiri berpedoman bahwa hukum sudah tidak dapat menjamin rasa keadilan lagi. Pengadilan yang berlarut-larut dan gampang masuk angin di tengah perjalanan membuat jenuh sebagian masyarakat. Sebagian suara pembaca bahkan menuduh para pejabat dan anggota DPR yang mengutuk aksi hakim sendiri karena mereka takut perlakuan serupa terhadap mereka. Mereka benar berdasar hukum formal dan berbagai dukungan pengacara yang ahli berkilah, akan tetapi masyarakat sudah jenuh terhadap hukum formal yang jauh dari rasa keadilan.

Pengaruh Lingkungan Jahat terhadap Karakter Warga

Mengapa moral bangsa semakin bobrok? Apakah kebobrokan moral yang berkecamuk di tengah masyarakat semakin merusak masa depan generasi muda penerus bangsa sehingga mereka akan menjadi semakin bobrok? Kita dapat merenungkan Eksperimen Penjara Stanford untuk menyadari  bahwa lingkungan yang buruk akan mempengaruhi karakter masyarakat.

Pada tahun 1971, seorang psikolog Philip Zimbardo dan rekan-rekannya mengadakan eksperimen tentang pengaruh lingkungan terhadap perilaku manusia. Mereka mendirikan simulasi penjara di ruang bawah tanah Universitas. 24 mahasiswa dipilih secara acak untuk memainkan peran sebagai sipir dan narapidana. Para peserta dipilih dari 70 orang relawan yang tidak mempunyai latar belakang kriminal, sehat medis dan psikologis. Tentu saja para relawan mereka mendapat imbalan $15 per hari. Dalam simulasi tersebut para narapidana berada seharian penuh dalam penjara sedangkan para sipir dilakukan pergantian setiap 8 jam. Peneliti memasang kamera tersembunyi dan mikrofon untuk memantau apa yang mereka lakukan. Simulasi yang direncanakan selama 2 minggu ini dihentikan setelah berjalan 6 hari. Ternyataa para sipir menjadi semakin agresif dan kasar sedangkan para narapidana menunjukkan tanda pasif dan cemas yang ekstrim.

Hanya sedikit orang yang bisa bebas dari pengaruh lingkungan kata Zimbardo dalam bukunya “The Lucifer Effect”. The Lucifer Effect memberikan penjelasan tentang bagaimana seorang baik-baik bisa menjadi pelaku kejahatan. Bukan hanya genetik dan karakter bawaan, akan tetapi lingkungan menjadi katalisator  dalam kejahatan. Bila bangsa kita tidak melakukan upaya perbaikan moral, maka jelas semakin lama kebobrokan moral akan semakin menjadi-jadi.

Hidup Di Tengah Masyarakat Tanpa Terpengaruh Masyarakat

Leluhur kita memberi nasehat: “Jadilah teratai yang berbunga indah di tengah lumpur dunia, tidak terpengaruh lingkungan! Daun teratai tidak memiliki keterikatan, berbagai debu yang menempel akan jatuh sendiri karena tetesan embun. Bunga teratai hanya melihat matahari kesadaran, akarnya boleh terendam lumpur akan tetapi tubuh dan bunganya tidak tersentuh kekotoran.”

Dalam tulisan kami tentang “Membebaskan Diri Dari Hipnotis Dunia” https://triwidodo.wordpress.com/2012/06/22/

Kami mengutip pandangan Anand Krishna. Dalam buku “Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan”, Anand Krishna & Dr. Bambang Setiawan Ahli Bedah/Bedah Saraf (Neurosurgeon),  PT. Gramedia Pustaka Utama, Kompas Gramedia, 2010 disampaikan: “Ibarat Super Komputer yang Mahacanggih, ke dua bagian utama otak kita bekerja sesuai dengai fungsinya masing-masing. Bagian Limbic memuat basic programming, yaitu program dasar untuk menjalankan komputer. Inilah insting insting hewani, atau lebih tepat disebut insting-insting dasar kehidupan. Sedangkan bagiai Neo-Cortex memuat program/aplikasi yang dibutuhkan manusia. Muatan pada bagian ini dapat ditambah, dikurangi, dihapus, diperbaiki, atau di’manipulasi’……… Ketika kita masih kanak-kanak, di bawah usia lima tahun, hal-hal yang diajarkan oleh orang tua atau masyarakat menjadi bagian dari Neo-Cortex. Apa saja yang diamati atau sekadar dilihat oleh seorang anak dalam usia itu akan terekam dengan sendirinya. Kemudian antara usia 5 hingga 12 tahun terjadi muatan-muatan baru lewat sistem pendidikan. Hingga usia 12 tahun disebut Golden Years, Usia Emas, karena banyak sekali muatan ditambahkan pada Neo-Cortex yang kelak digunakan hingga akhir hayat. Pengertian ‘manipulasi’ di sini hendaknya tidak dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat negatif atau jelek karena manipulasi bisa juga untuk sesuatu yang baik. Dan sesungguhnya kita semua telah mengalami manipulasi’ serupa ketika masih berusia di bawah 12 tahun.”

Pengaruh terhadap anak selama golden years akan dibawanya hampir sepanjang kehidupan. Dibesarkan dalam lingkungan orang tua yang buruk, yang permisif. Program kekerasan dan ketidakadilan yang setiap hari muncul di televisi telah menjadi konsumsi otak si anak. Jangan dianggap isi otak si anak hanya dipenuhi game dan film kartun, mereka pun tahu apa yang terjadi di masyarakat, walau mereka tidak banyak komentar. Itulah sebabnya sejak kecil anak-anak perlu dilatih meditasi. Silakan melihat sekolah yang digagas oleh Anand Krishna.

http://www.oneearthschool.org/

Ada berbagai cara melakukan meditasi dalam berbagai agama. Nama lain yang hampir identik adalah kontemplasi, tafakur atau semedi. Meditasi adlh salah satu cara agar kita lebih reseptif dan sadar terhadap diri kita sendiri. Dengan melakukan meditasi kesadaraan akan berkembang, rasa cinta dalam diri akan tumbuh. Dengan melakukan latihan meditasi 20 menit setiap pagi dan sore, maka kita pengaruh buruk dari luar terhadp diri kita akan dapat kita atasi.

Charter for Global Harmony

Bahkan latihan meditasi secara rutin dapat mendukung terciptanya Global Harmony. Silakan lihat situs:

http://www.charterforglobalharmony.org/?p=341

Anand Krishna percaya bahwa Keselarasan Global (Global Harmony) tidak bisa dipaksakan kelahirannya. Hukum dan peraturan apa pun tidak akan pernah mampu membantu manusia mewujudkan hal ini, kecuali terlebih dahulu ada kedamaian dalam hati setiap insan. Jadi, pertama dan utama setiap individu harus berdamai, mengalami dan merasakan kedamaian dengan dirinya sendiri. Kedamaian Batin setiap individu (Inner Peace)  niscaya otomatis mewujud sebagai Kasih yang Mengikat Masyarakat Majemuk dalam Persaudaraan Communal Love), baik sebagai satu komunitas bangsa maupun dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Pada gilirannya Kasih yang Mengikat Masyarakat Majemuk dalam Persaudaraan (Communal Love) ini yang mengantar kita mencapai Keselarasan Global (Global Harmony).

Anand Krishna menyerukan kepada masyarakat dunia untuk menyisihkan waktu sekurang-kurangya 20 menit setiap hari untuk bermeditasi. Silakan menggunakan teknik yang cocok atau sesuai dengan tradisi/sistem kepercayaan masing-masing. Sebab, hanya dengan menoleh ke dalam diri dan meditasi manusia dapat mencecap Kedamaian Batin (InnerPeace). Berbarengan dengan latihan pemberdayaan diri lewat meditasi, kami juga mengajak semua manusia untuk melakukan karya pelayanan sosial tanpa pamrih. Durasinya minimal 2 jam dalam seminggu atau 8 jam setiap bulan. Layanan sosial tersebut hendaknya tidak ditujukan kepada sebuah kelompok tertentu saja. Namun harus menjangkau komunitas-komunitas masyarakat yang berbeda suku, agama  dan afiliasi politiknya.

Kezaliman Hukum terhadap Anand Krishna

Berikut ini adalah tulisan kami tentang kezaliman hukum terhadap Anand Krishna:

“Agama hanya di Bibir saja”

http://hukum.kompasiana.com/2013/03/16/agama-hanya-di-bibir-saja-542579.html

“Kita ini Pengikut Abu Jahal, Firaun, Pilatus atau Pengikut Para Nabi”

Sumber: http://hukum.kompasiana.com/2013/03/18/kita-ini-pengikut-abu-jahal-firaun-pilatus-atau-pengikut-para-nabi-543199.html

“Ternyata Kita di Kubu Firaun Bukannya Musa”

Sumber :  https://triwidodo.wordpress.com/2013/03/21/ternyata-kita-di-kubu-firaun-bukannya-musa/

Yang memuat Petisi tentang Keadilan dan Hak Asasi Manusia bagi Anand Krishna

http://www.avaaz.org/en/petition/Justice_and_Human_Rights_for_Religious_Pluralist_and_Freedom_Fighter_Anand_Krishna/?fVCMlab&pv=4

Dibuat oleh Jane H. ditujukan kepada: Pemerintah Indonesia, Mahkamah Agung

Kenapa saya menggugah dan mengajak Anda untuk mendukung petisi ini?

Anand Krishna sudah dinyatakan tidak bersalah atas tuduhan pelecehan seksual yang dialamatkan padanya, dan sudah diputus bebas oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan (Jaksel) yang dipimpin oleh hakim paling jujur di Indonesia, Albertina Ho.

Albertina Ho, hakim wanita yang berani dan berintegritas ini, samasekali tidak menemukan satu pun bukti tindakan asusila yang dituduhkan kepada Anand Krishna. Pada tanggal 22 November 2011 Hakim Ho memutus bebas penulis produktif dan pelopor gerakan penghargaan terhadap keberagaman di Indonesia ini, dan memerintahkan pemulihan martabat dan hak-haknya sebagai warga negara seperti sedia kala.

Namun, Mahkamah Agung (MA) justru menjatuhkan hukuman 2,5 tahun pernjara terhadapnya. Dalam hal ini Majelis Hakim MA telah tidak menggunakan instrumen hukum sebagai sarana melindungi dan memuliakan kebenaran dan keadilan, tapi sebaliknya sewenang-wenang mencederai kedua nilai tersebut dan menginjak-injak hak asasi manusia.

Sebelumnya sidang perkara Anand Krishna dipimpin oleh Hari Sasangka. Proses pengadilan berjalan timpang dan sangat janggal. Yang terjadi adalah menghakimi tulisan, buku-buku, dan pemikiran Krishna terkait toleransi beragama dan pluralisme ketimbang berupaya membuktikan tuduhan Tara Pradipta Laksmi yang mengaku telah dilecehkan oleh mentor spiritual tersebut.

Sebagai oknum penegak hukum Sasangka dengan sengaja melanggar hukum dengan menjebloskan penulis 160-an buku itu di penjara Cipinang sebelum ada keputusan hukum tetap. Tindakan anti keadilan-kebenaran yang dilakukan Sasangka diprotes keras Anand Krishna dengan melakukan aksi mogok makan selama 49 hari dan diliputi media cetak di dalam dan luar negeri serta media online.

Hari Sasangka digantikan oleh Albertina Ho atas rekomendasi Komisi Yudisial. Tindakan KY ini berdasarkan laporan tim pengacara Anand Krishna beserta bukti-bukti kuat bahwa Hari Sasangka telah ber-indehoi dengan salah satu saksi pihak Tara Pradipta Laksmi bernama Shinta Kencana Kheng.

Tidak senang dengan keputusan Ho dan sengaja menabrak pasal 244 KUHP, Jaksa Martha Berliana Tobing mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung. Padahal pasal 244 KUHP terang benderang menyatakan bahwa vonis bebas tidak bisa dibawa ke MA, karena terdakwa telah dibebaskan dan dinyatakan tak bersalah oleh pengadilan pada tingkat di bawahnya.

Tak lama setelah membebaskan Krishna, Hakim Ho yang dikenal tak kenal kompromi walau dalam mengadili Gayus Tambunan, petugas pajak yang korup dan juga Jaksa nakal Cirus Sinaga sekalipun, beliau dipindahkan ke pelosok di kepulauan Bangka sana.

Dengan berlindung di balik peraturan Menteri tahun 1983 yang menyatakan bahwa putusan bebas di pengadilan yang lebih rendah bisa dikasasi ke MA dengan alasan demi “kondisi tertentu, hukum, keadilan, dan kebenaran” jaksa membawa kasus Anand ke Mahkamah Agung. Padahal peraturan menteri jelas lebih rendah ketimbang putusan hukum berkekuatan tetap. Kendati demikian, pada akhir Juli 2012, MA membatalkan keputusan bebas dari Albertina Ho atas Anand Krishna, mereka menjeratnya dengan pasal 294 KUHP.

JPU Martha Berliana Tobing telah dengan jelas melanggar dan menabrak rambu-rambu hukum. Dan, Mahkamah Agung sebagai benteng tekahir yang melindungi keadilan dan kebenaranmalah membenarkan tindakan JPU.

Tanpa sidang umum, majelis Hakim Agung yang terdiri dari Zaharudding Utama, Achmad Yamanie, dan Sofyan Sitompul mengabulkan kasasi illegal dan menghukum Anand Krishna 2,5 tahun penjara. Putusan tersebut adalah batal demi hukum karena tidak memenuhi syarat-syarat pada pasal 197 ayat 1 huruf d, f, h dan l. Di dalam putusan Mahkamah Agung tersebut mencantumkan kasus orang lain di pengadilan tinggi Bandung (perebutan kasus merek) namun Anand Krishnalah yang dihukum penjara atas kasus orang lain. Sekarang Anand Krishna mendekam di Lapas Cipinang menjalani hukuman yang seharusnya kasus tersebutlah ada batal demi hukum. Beliau sekarang dibungkam dibalik jeruji dan sebetulnya yang dikriminalisasi adalah pemikirannya.

Ketika hukum disalahgunakan, ketika integritas mereka yang bertanggung jawab menegakan hukum terjebak kepentingan pribadi, maka merupakan tanggung jawab semua orang merdeka untuk bahu-membahu berjuang mempertahankan kebebasan manusia yang paling hakiki. Upaya terbuka dan transparan oleh pihak ketiga yang independen dan tak memihak untuk meninjau ulang keputusan ini. Kiranya begitu jelas tak ada seorang pun yang berpendapat bahwa putusan MA terhadap Anand Krishna itu adil, transparan, tak memihak, dan independen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: