Pagar Hukum Dilompati, Rasa Malu Dipreteli, Nurani Dibarter Kepentingan Pribadi


Epidemi Kebejatan “Demi Kenyamanan Pribadi” Telah Menyebar ke Seluruh Negeri

“Kita mengajarkan moralitas kepada anak-anak kita. Di sekolah mereka sudah diberi pelajaran agama sesuai dengan kolom agama yang tertera pada kartu penduduk orang tua mereka. Kendati demikian, kebejatan tidak dapat dihadang juga. Kebejatan sudah menyusup kemana-mana. Kebatilan dan ketidakadilan merajalela. Di mana letak kesalahan sistem kita?” Demikian pertanyaan Anand Krishna dalam buku “Alpha & Omega Spiritualitas”, Anand Krishna, Gramedia, 2013.

buku alpha omega

Pengetahuan Tentang Kebenaran Ditaklukkan oleh Kebiasaan Jelek

Seorang teman saya sangat cerdas, sehingga pasti tahu bahwa merokok itu membahayakan kesehatan. Dia pasti sudah membaca berbagai peringatan diberbagai media masa, bahkan di bungkus rokok pun ada peringatan tentang kesehatan. Tetapi mengapa dia tetap merokok? Kebiasaan jelek hampir selalu menaklukkan pengetahuan tentang kebenaran.

Sebuah kebiasaan yang diulang terus menerus membuat synap-synap syaraf otak hampir permanen, dan akhirnya pikiran bawah sadar menjadi terpola. Kemudian untuk mengubahnya menjadi perjuangan yang sangat berat. Dalam bahasa meditasi, inilah yang disebut mind, synap-synap yang hampir permanen, sehingga manusia bertindak sesuai dengan “conditioning” yang diperolehnya. la diperbudak oleh “conditioning” tersebut, dan pikiran jernih tidak mampu mengubah kebiasaan jeleknya. Bukan hanya rokok yang membuat seseorang kecanduan dan sulit melepaskan pengaruhnya. Ketidaksadaran, ketidakpedulian terhadap semua kebiasaan-kebiasaan rendah, ketidakpedulian kita pada kebaikan dan kemuliaan, telah mewujud sebagai epidemi kebobrokan moral yang memperparah kesehatan sebuah bangsa.

 

Jajak Pendapat Kompas tentang Citra Aparat Hukum

Lembaga Indonesia Corruption Watch mengetengahkan jajak pendapat Kompas: “Timpangnya timbangan hukum membuat citra aparat hukum terpuruk, bahkan menyentuh titik nadir. Tajamnya pedang hukum yang mengena kepada orang kecil ternyata tumpul saat menghadapi orang yang memiliki kekuasaan. Timpangnya timbangan hukum membuat citra aparat hukum terpuruk, bahkan menyentuh titik nadir.”

Disebutkan dalam artikel tersebut bahwa “Status sosial, kekayaan, dan juga kedekatan seseorang dengan penguasa akan berpengaruh terhadap proses penegakan hukum”; “Rata-rata delapan dari setiap 10 responden menyatakan, proses penegakan hukum, baik di lembaga kepolisian, kejaksaan, maupun kehakiman, tidak memenuhi rasa keadilan masyarakat”; “Sekitar 65 persen responden menyatakan, proses hukum pada ketiga jenis kasus itu tidak adil”; Adapun pada kasus kriminal, sebanyak 55 persen responden juga menyatakan rata-rata penanganan kasusnya tidak adil.”

Jajak pendapat Kompas tersebut secara tidak langsung membuktikan bahwa dihukumnya Anand Krishna tidak memenuhi rasa keadilan masyarakat.

Apakah para aparat tersebut tidak mempunyai nurani? Apakah para aparat tersebut tidak mengetahui putusan yang benar itu bagaimana? Jelas orang-orang secerdas mereka tahu hal tersebut, akan tetapi pengetahuan tentang kebenaran dan hati nurani tersebut kalah oleh pola kebiasaan yang mereka lakukan. Seperti halnya orang yang tetap merokok demi kenyamanan dirinya dan mengabaikan pikiran jernih dan kesehatannya.

 

Mereka Yang Mengecam Pejabat Korup, Bila Menduduki Jabatan Yang Sama Mungkin Tidak Jauh Berbeda

Apakah orang awam akan melakukan korupsi bila mereka memperoleh kesempatan yang sama? Kemungkinan besar iya. Silakan baca artikel: Mengatasi Kebobrokan Moral Bangsa lewat Meditasi. (http://sosbud.kompasiana.com/2013/03/24/mengatasi-kebobrokan-moral-bangsa-lewat-meditasi–544823.html)

Sebuah eksperimen tentang pengaruh lingkungan terhadap perilaku manusia membuat simulasi tentang beberapa mahasiswa yang berperan sebagai sipir dan narapidana. Peneliti memasang kamera tersembunyi dan mikrofon untuk memantau apa yang mereka lakukan. Simulasi yang direncanakan selama 2 minggu ini dihentikan setelah berjalan 6 hari. Ternyata para sipir menjadi semakin agresif dan kasar sedangkan para narapidana menunjukkan tanda pasif dan rasa cemas yang ekstrim.

Hanya sedikit orang yang bisa bebas dari pengaruh lingkungan kata Zimbardo dalam bukunya “The Lucifer Effect”. The Lucifer Effect memberikan penjelasan tentang bagaimana seorang baik-baik bisa menjadi pelaku kejahatan. Bukan hanya genetik dan karakter bawaan, akan tetapi lingkungan menjadi katalisator  dalam kejahatan. Bila bangsa kita tidak melakukan upaya perbaikan moral, maka jelas semakin lama kebobrokan moral akan semakin menjadi-jadi.

 

Lingkungan dan Pendidikan Yang Buruk Mempengaruhi Generasi Penerus

Dalam buku “Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan”, Anand Krishna & Dr. Bambang Setiawan Ahli Bedah/Bedah Saraf (Neurosurgeon), PT. Gramedia Pustaka Utama, Kompas Gramedia, 2010 Anand Krishna menyampaikan: “Ketika kita masih kanak-kanak, di bawah usia lima tahun, hal-hal yang diajarkan oleh orang tua atau masyarakat menjadi bagian dari Neo-Cortex. Apa saja yang diamati atau sekadar dilihat oleh seorang anak dalam usia itu akan terekam dengan sendirinya. Kemudian antara usia 5 hingga 12 tahun terjadi muatan-muatan baru lewat sistem pendidikan. Hingga usia 12 tahun disebut Golden Years, Usia Emas, karena banyak sekali muatan ditambahkan pada Neo-Cortex yang kelak digunakan hingga akhir hayat. Pengertian ‘manipulasi’ di sini hendaknya tidak dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat negatif atau jelek karena manipulasi bisa juga untuk sesuatu yang baik. Dan sesungguhnya kita semua telah mengalami manipulasi’ serupa ketika masih berusia di bawah 12 tahun.”

Pengaruh terhadap anak selama Golden Years akan dibawanya hampir sepanjang kehidupan. Dibesarkan dalam lingkungan orang tua yang buruk, yang permisif. Program kekerasan dan ketidakadilan yang setiap hari muncul di televisi telah menjadi konsumsi otak si anak. Jangan dianggap isi otak si anak hanya dipenuhi game dan film kartun, mereka pun merekam apa yang terjadi di masyarakat, walau mereka tidak banyak komentar.

 

Rasa Malu Telah Sirna

Dalam buku “Jangka Jayabaya, Saatnya Bertindak Tanpa Rasa Takut dan Meraih Kejayaan, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005 Anand Krishna menyampaikan: “Sifat malu lahir dari kelembutan-kelembutan dalam diri manusia, kelembutan yang ada dalam diri setiap manusia. Sifat malu bukan rasa takut, misalnya takut dihukum atau didenda seorang penjahat bisa memberi kesan seolah dirinya sudah sadar. Peraturan-peraturan yang dibuat oleh negara atau oleh institusi agama yang hanya menimbulkan rasa takut, tidak akan berpengaruh terhadap peningkatan kesadaran manusia. Masyarakat  menjadi munafik. Hanyalah ‘rasa malu’ yang dapat menyadarkan manusia. Kemudian, seorang penjahat akan meninggalkan kejahatan untuk selamanya, karena sadar. Rasa malu membuat sadar, sekaligus lembut.”

Nampaknya bangsa kita sudah kehilangan rasa malu dalam melakukan tindakan yang memalukan.

 

Demi Kenyamanan Pribadi Hukum dan Hati Nurani Dilanggar

https://triwidodo.wordpress.com/2013/03/21/ternyata-kita-di-kubu-firaun-bukannya-musa/

Pengendara kendaraan di Indonesia tidak malu dan berani terang-terangan melanggar marka lalu-lintas; masyarakat tidak malu dan terang-terangan melanggar hukum. Ketika pengendara salah jalan dan diklakson pengendara lainnya, dia malah marah dan uring-uringan; Ketika seorang pejabat diingatkan pengamat tentang kegiatannya yang melanggar hukum malah nggrundel: “jangan ngurusin orang!” Ketika ditindak petugas, pengendara minta maaf dan sodorkan uang dibalik SIM; Ketika punya masalah pelanggaran hukum, sebelum dimuat wartawan cepat-cepat deal dengan petugas. Menyerobot jalur, melewati garis pembatas di tengah jalan, melawan arah, ngebut di jalan raya yang merugikan umum; Demikian pula yang terjadi di bidang hukum. Yang sangat memprihatinkan adalah bila mental oknum petugas yang ingin imbalan atas pelanggaran lintas telah menjadi mental pejabat negeri kita.

Kebiasaan buruk kita di jalan telah menjadi pola pikiran bawah sadaar dan ketika kita memperoleh jabatan, walaupun sudah disumpah demi kitab suci, walaupun berbagai peringatan hukum telah disampaikan, walaupun nasehat para tokoh agama sering didengar, kita akan mengikuti kebiasaan. Mengapa? Karena kebiasaan buruk menyamankan kita, sedangkan segala macam peringatan tidak menyamankan kita.

Dalam buku “Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2003, Anand Krishna menyampaikan: “Ibarat mobil, mind hanya punya tiga gigi, suka – tidak suka – dan cuwek. Selama ini yang dikerjakan mind hanya tiga pekerjaan itu. Dikuasai mind kita jadi budaknya.”

Kita hanya mau mengerjakan hal yang menyenangkan kita, yang tidak menyenangkan kita hindari, yang tidak menyangkut diri kita kita cuek, tidak peduli.

 

Hidup Meditatif Penuh Kesadaran

Bagaimana pun dalam buku “Alpha & Omega Spiritualitas”, Anand Krishna, Gramedia, 2013, Anand Krishna membesarkan hati orang yang sadar: “Inilah pertanda ‘kematangan jiwa’ – ketika setiap tindakan, ucapan, pikiran, dan perasaan kita menjadi meditatif, berkesadaran. Ketika kita tidak mementingkan diri tapi memperhatikan kepentingan kepentingan orang lain, kepentingan umum, barulah kita bertindak meditatif.”

Dalam buku “Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2003, Anand Krishna menyampaikan: “Bebaskan diri anda dari mind dengan membuat ketiga pekerjaannya sebagai tiga landasan kebijakan. Suka – sukailah kesadaran. Tidak suka – tidak sukailah ketidaksadaran. Cuwek – cuweklah terhadap yang menghujat anda.” Disusun oleh TW

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: