Harga Berbagai Menu Pelanggaran Hukum yang Dijajakan di Pasar Gelap Bangsa


buku alpha omega

Price Tag (harga yang ditempelkan) pada Perkara yang Menyangkut Peradilan

Diberitakan bahwa KPK telah menyita sejumlah uang di ruangan Wakil Ketua Pengadilan Negeri Bandung di luar Rp 150 juta yang ditemukan saat operasi tangkap tangan pada tanggal 22 Maret 2013. Nampaknya ini bagian  dari Rp 1 M yang dijanjikan kepadanya atas suatu perkara. Ibarat barang yang ditawarkan di Mall, perkara pun diberi price tag oleh penjual dan dibeli oleh konsumen. Hakim senior Gol IV/c yang mengantongi sejumlah sertifikat pelatihan hakim termasuk dalam perkara korupsi memberikan angka Rp 1 M sebagai tempelan price tag pada perkara terkait.

Pada tanggal 29 Januari 2013 bertempat di kantor PT Indoguna Utama, Pondok Bambu KPK memantau serah terima uang suap  impor daging sapi. Kembali impor daging sapi diberi price tag Rp 1 M yang disepakati penjual dan pembeli.

Price tag bagi restitusi Pajak Bhakti Investama yang tertangkap tangan pada bulan Juni 2012 adalah sebesar Rp 285 juta.

Pada tanggal 17 Agustus 2012, KPK menangkap hakim di Semarang. Dikisahkan seorang hakim memasang price tag penurunan hukuman Rp 500 juta, akan tetapi terjadi deal kala ditawar pembeli seharga Rp 150 juta.

Pada bulan Maret 2011, Ketua Pengadilan Negeri Palangkaraya akan meresmikan Gedung Pengadilan Antikorupsi. Seseorang menyumbang sukarela sebesar Rp 20 juta. Ini contoh price tag partisipasi acara peresmian.

Nampaknya betapa pun musykilnya menu masakan pelanggaran hukum tetap dapat disiapkan dengan harga yang sepadan.

 

Bukan Hanya pada Bidang Peradilan

Pemberian harga yang dijadikan deal suka sama suka dalam pengurusan KTP/Paspor/Visa/SIM pun ada. Ada price tag resmi dan ada price tag khusus “pengertian” agar pengurusan berjalan cepat tanpa bertele-tele. Bahkan melangkahi marka jalan bisa ditahan SIM/STNK dengan prosedur berbelit atau deal dengan price tag tertentu. Suka sama suka dan tidak merugikan pemerintah menjadi alasan perbuatan permisif. Yang tidak dipikirkan mereka adalah tindakan permisif tersebut menjadi kebiasaan, merusak mental, menimbulkan kecanduan dan memicu keserakahan. Bagikan epidemi sifat permisif tersebut menyebar dengan cepat dan merusak kesehatan negeri.

Sebuah fit and property test pun ada price tag-nya. Konon Penyusunan Undang-Undang/Peraturan Daerah pun punya price tag. Daftar Isian Proyek pun tak lepas dari tag pricing. Tag pricing tersebut pada gilirannya membebani pelaksana/konsultan proyek dan muncullah mark-up atau penurunan kualitas/kuantitas proyek.

Bahkan gembong narkotika pun pernah menyampaikan price tag bagi penurunan hukuman dalam sebuah wawancara yang bisa di-search di dunia maya. Adami Wilson, narapidana Nusakambangan, warga negara Nigeria terpidana mati kasus narkoba 10 tahun lalu masih nekat menjalani bisnis haram dengan memanfaatkan kurir untuk mendistribusikan narkoba. Pada bulan Oktober 2012 dalam sebuah wawancaraa Adami Wilson berdalih bahwa tindakannya untuk mencari uang, setelah punya Rp.3 M hukuman mati bisa diskon menjadi 20 tahun. Kalau hanya Rp 1 M hanya berubah dari hukuman mati menjadi hukuman seumur hidup. Demikian price tag penurunan hukuman menurut mendiang gembong narkoba tersebut. Dengan mengungkapkan price tag tersebut maka Kasasi, PK maupun grasi sudah akan tertutup baginya dan pertengahan bulan lalu dia telah dieksekusi.

 

Price Tag Dunia menurut Anand Krishna

Sudah sedemikian parahkah moral bangsa kita? Kita perlu merenungkan pesan Anand Krishna dalam buku “Alpha & Omega Spiritualitas”, Anand Krishna, Gramedia, 2013: “Price tag yang terpasang itu adalah sesuai dengan harga yang ditentukan oleh pasar. Harga yang ditentukan bersama oleh para penjual dan pembeli. Harga sesuai price tag bukanlah harga sesungguhnya. Jam tangan yang cost-nya barangkali tidak lebih dari 10 juta rupiah, dipasangi price tag 100 juta rupiah, dan Anda membelinya. Bagaimana bisa? Kok mau? Karena “merk”nya. Berarti Anda membayar 10 kali lipat dari harga sesungguhnya, hanya karena “merk”. Demikian sistem penghargaan di pasar yang ditentukan oleh para penjual dan diamini oleh para pembeli.”

“Kesejatian atau kebenaran apa yang akan Anda peroleh dari pasar dunia? Price tag tidak mencerminkan apa-apa. Semuanya ditentukan oleh kaidah-kaidah ekonomi, kaidah penawaran dan permintaan. Di Pasar Dunia ini, keadilan pun diperjualbelikan. Maka, janganlah berharap banyak dari dunia benda. Temukan kesejatian, kebenaran, kepuasan, dan kebijaksanaan di dalam diri Anda sendiri!”

 

Pujian, Makian dan Harga Kenyamanan adalah Price Tag Dunia

“Pujian dan makian yang Anda peroleh dari dunia, semua itu price tag, penghargaan oleh pasar berdasarkan kaidah penawaran dan permintaan. Ketika Anda ‘belum dibutuhkan’, maka tidak dipasangi harga. Ketika Anda ‘dibutuhkan’ maka dipasangi harga, bahkan diberi gelar kehormatan. Ketika ‘politically incorrect’, seorang pahlawan disia-siakan, ketika ‘politically correct’, kesia-siaan pun dihargai. Janganlah menjadi bagian dari permainan gila. Kehormatan sejati adalah apa yang  Anda peroleh dari jiwa dan oleh jiwa. Kebenaran sejati adalah kasih yang Anda peroleh dari para Sadguru dan sesama panembah. Kehormatan sejati adaalah rasa hormat yang muncul dari diri Anda bagi sesama makhluk.” Demikian pesan Anand Krishna dalam buku “Alpha & Omega Spiritualitas”, Anand Krishna, Gramedia, 2013.

 

Kezaliman Semakin Merajalela, Tapi Kesadaran Mulai Bertunas Dimana-Mana

Seorang sahabat di kompasiana berkomentar: “Berharap kepada negara, aparat hukum sulit dipercaya. Berharap kepada masyarakat, sanksi sosial tidak lagi kunjung tiba. Sudah sebegitu parahnya sistem hukum kita?” Keputusasaan sahabat pena tersebut bisa dipahami. Akan tetapi seorang sahabat diskusi menyampaikan: “Kejahatan harus berkembang terus sampai nampak semakin jelas kejahatannya sampai akhirnya meledak, baru kebaikan berkembang!”

Melihat kesemrawutan penegakan hukum, kita memang sangat prihatin dan gemas. Nampaknya “kita harus belajar menghukum orang yang bersalah dan membebaskan orang yang tidak bersalah”. Dan, untuk mata pelajaran sesederhana itu pun bangsa kita belum lulus, masih harus belajar dan mengulang-ulang terus. Betapa banyak orang tidak bersalah yang dihukum dan orang bersalah yang dibebaskan. Kasus Anand Krishna yang penuh rekayasa adalah sebagai contoh nyata. Anand Krishna sudah diputus bebas oleh Hakim Albertina Ho, akan tetapi masih saja dipaksakaan masuk penjara dengan putusan MA yang cacat hukum.

Walau bagaimana pun melihat benih kesadaran warga di jejaring sosial Facebook dan Twitter, nampaknya sebagian masyarakat sudah bisa melepaskan diri dari belenggu dogma pola lama dan tidak takut lagi bersuara terhadap pemaksaan ketidakadilan yang terjadi di tengah masyarakat. Mereka berani bersuara dan berbagi kesadaran untuk mencerdaskan bangsa. Kemenangan Jokowi adalah bagian dari perkembangan warga negara yang telah sadar.

Kami ingat formula Sejarawan Arnold Toynbee bahwa peradaban itu lahir berkembang sampai puncak dan kemudian degradasi dan mati. Seperti halnya kehidupan manusia, yang lahir, berkembang sampai dewasa, menjadi tua, mulai degradasi sampai akhirnya meninggal dunia. Bahwa kezaliman dan ketidakadilan yang merajalela akan semakin meningkat intensitasnya sampai puncaknya dan kemudian mengalami degradasi dan mati dengan sendirinya. KPK perlu didukung agar korupsi dan manipulasi yang sudah tua usianya mengalami degradasi lebih cepat. Kita juga lebih baik mulai berfokus pada perkembangan bayi kesadaran, kebaikan dan keadilan agar berkembang dengan sehat.

 

Kisah Kera yang Diajari Mencuci Ketela Sebelum Memakannya

Kita perlu merenungkan pelajaran tentang sekelompok kera yang dilatih mencuci ketela sebelum memakannya yang pernah disampaikan oleh Anand Krishna. Di sebuah pulau di Jepang beberapa kera diajari mencuci ketela sebelum memakannya. Pekerjaan yang melelahkan dan memerlukan  kesabaran luar biasa untuk membuat karakter baru mengalahkan insting hewani yang telah mendarah-daging. Akan tetapi setelah 3 ekor kera berhasil, kemudian 9 ekor, kemudian 100 ekor kera di pulau tersebut berhasil melakukan kebiasaan baru. Dan ternyata kera-kera di pulau lain yang terpisah dengan laut pun melakukan kebiasaan baru yang sama. Kesadaran adalah sebuah energi yang berkembang membesar. Peningkatan kesadaran adalah suatu keniscayaan yang tidak dapat dibendung. Sedangkan kezaliman dan ketidakadilan sudah mulai menunjukkan penuaan dan akan berangsur-angsur mati.

Dalam buku “INDONESIA  BARU”, Anand Krishna, One Earth Media, 2005 Anand Krishna menyampaikan: “Indonesia Baru yang kulihat ialah Indonesia buatan Putera-Puterinya sendiri. Indonesia yang dibuat oleh Orang-Orang Indonesia sendiri, dengan kesadaran “keindonesiaannya”. Bangunan Indonesia Baru tidak menggunakan bahan baku asing. Bahan baku impor. Bila ada pernak-pernik dari luar negeri, itu hanyalah sebagai pemanis. Tidak lebih dari itu. Kekuatan indonesia Baru datang dari dalam tubuhnya sendiri. Jiwa Indonesia Baru tidak membutuhkan dorongan dari luar untuk menumbuhkembangkan semangat yang dibutuhkan untuk membangun, mencipta, dan bertahan menghadapi segala tantangan. Semangat Gotong Royong – itulah yang menjadi modal dasar bagi Indonesia Baru. Inilah yang kulihat!”

Anand Krishna dalam buku “Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2012 menyampaikan dengan penuh keyakinan: “Kita sedang menuju dunia (baru) di mana kasih dan kesadaran akan kemahahadiran Tuhan menjadi landasan bagi setiap interaksi antarmanusia, sehingga terwujudlah harmoni yang sejati.”

Semoga warga negara yang sadar selalu berbagi kesadaran. Broadcast kesadaran merupakan tugas dan kewajiban bagi mereka yang telah sadar. Disusun oleh TW

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: