Gawat: Takut Menyatakan Kebenaran Karena Pikiran Jernih Masyarakat Telah Di-hack


how to hack the human brain

Kesadaran Gerombolan

Kita terbawa oleh mob consciousness—kesadaran gerombolan. Kita terbiasa mengungkapkan pendapat “umum” dan bahkan menerima pendapat “mayoritas”. Itulah sebab segerombolan orang jahat—orang yang berniat jahat—selalu menggunakan media untuk mempengaruhi Anda. Ketika Anda melihat sekian banyak orang menonton pertunjukkan tertentu, Anda ikut menontonnya. Ketika Anda mendengar sekian banyak orang membicarakan sesuatu, Anda ikut membicarakannya. Kesadaran gerombolan ini membuat Anda semakin malas untuk memutar otak. Lama-lama otak Anda melemah dan mempercayai apa saja yang disuguhkan padanya. Inilah yang sedang terjadi saat ini. *dikutip dari buku “Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2013

Simulasi Lima Monyet Yang Memukuli Teman Sendiri Yang Berani Melawan Kebiasaan

Sumber: http://www.youtube.com/watch?v=0xCVaKTqb3c&list=PL6D1A7A80E0732B81&index=1

Lima monyet ditempatkan dalam satu sel berteralis besi. Di salah satu pojok atas sel tersebut digantungkan satu sisir pisang. Ada seekor monyet mencoba mengambil pisang, dan begitu ada yang mencoba mengambil pisang, maka kelima monyet tersebut disemprot dengan air dan pengambilan pisang gagal. Setiap ada monyet yang mau mengambil pisang kelima monyet tersebut disemprot dengan air.

Selanjutnya salah satu monyet diganti monyet baru. Sebagai monyet baru maka dia berupaya untuk mengambil pisang tersebut, akan tetapi monyet tersebut dipukuli dan dilarang mengambil pisang. Demikianlah saat satu persatu monyet simulasi diganti monyet baru selalu saja monyet yang akan mengambil pisang dipukuli beramai-ramai, padahal mereka sudah tidak disemprot air lagi. Bahkan saat 5 monyet baru yang menggantikan 5 monyet simulasi awal dan belum pernah merasakan semprotan air tetap saja memukuli monyet yang berupaya mengambil pisang.

Demikianlah, para manipulator otak cukup menghukum seseorang kala dia berani melawan kebiasaan yang telah dipolakan. Masyarakat akan menghukum mereka yang berani melawan kebiasaan. Apalagi kalau “penghukuman” tersebut dibiarkan oleh pemerintah, masyarakat menjadi semakin takut. Pikiran masyarakat yang jernih telah di-hack dan itu dimanfaatkan para manipulator otak. Sekelompok orang garis keras bisa meng-hack masyarakat bila pemerintah membiarkan hal tersebut terjadi.

Kasus Anand Krishna

“Krishna adalah pemberontak, Yesus adalah pemberontak, demikian pula Siddharta, Muhammad, setiap nabi, setiap avatar, setiap mesias, dan setiap sadguru. Mereka semua dikenang sebagai Pembaharu, karena mereka melakukan pemberontakan terhadap sistem yang sudah usang, kadaluarsa, tetapi mapan. Mereka semua memberontak terhadap kemapanan system yang korup.” *dikutip dari buku “Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2012.

Untuk meng-hack masyarakat, para manipulator otak membombardir masyarakat dengan berita pelecehan Anand Krishna di banyak media masa, walaupun tidak didukung dengan data faktual. Kala masyarakat sudah di-hack maka Oknum Polisi, Hakim dan Jaksa dengan mudah menyeret Anand Krishna ke Pengadilan Jakarta Selatan. Di media online Tempo Interaktif (25/2/2010) pengacara Tara Pradipta Laksmi, Agung Mattauch mengaku, “Pelecehan hanya entry gate untuk persoalan yang lebih serius. Ini adalah penodaan agama.” Silakan baca tulisan kami di kompasiana:

http://hukum.kompasiana.com/2013/02/22/indonistan-bola-gelinding-lia-eden-aliran-sesat-ahmadiyah-syiah-anand-krishna-535947.html

http://hukum.kompasiana.com/2012/08/30/rekaman-cctv-kezaliman-hukum-terhadap-anand-krishna-489020.html

http://hukum.kompasiana.com/2012/10/20/kontroversi-pengabulan-kasasi-terhadap-putusan-bebas-hakim-albertina-ho-502319.html

Keputusan hakim tidak bisa diganggu-gugat, tetapi karena Hakim Hari Sasangka melakukan perbuatan tercela dalam kasus Anand Krishna, maka hakim ketua sidang pengadilan tersebut diganti oleh Albertina Ho. Jelas Albertina Ho tidak bisa di-hack para manipulator, maka sang hakim yang kredibel tersebut memberikan vonis bebas terhadap Anand Krishna. Setelah memberi vonis bebas kepada Anand Krishna, Albertina Ho dipindah ke luar Jawa. Mungkinkah ini salah satu cara meng-hack para hakim agar melakukan putusan sesuai “kebiasaan”? Wallahualam!

Kembali Jaksa Martha Berliana mengajukan kasasi yang entah bagaimana akhirnya ditangani oleh Hakim Agung Achmad Yamanie cs yang masyarakat telah paham bahwa oknum Hakim Agung tersebut mudah di-hack dan akhirnya oknum hakim agung tersebut dipecat. Tetapi perlu diingat bahwa dia dipecat karena mengganti hukuman bandar narkoba 15 tahun menjadi 12 tahun, sedangkan putusan dari hukuman mati menjadi 15 tahun tidak bisa diganggu-gugat.

propic AK

Eksekusi Terhadap Kasasi Yang Cacat Hukum

Pengabulan Kasasi dalam kasus ini memang perlu mendapat perhatian, 2 (dua) di antara 3 (tiga) Hakim Agung yang menjadi Majelis Hakim Agung di kasus Anand Krishna, telah tersangkut kasus yang merusak kredibilitas mereka, yaitu dugaan suap 1,7 M (pada Hakim Agung Zaharuddin Utama) dan upaya pemalsuan vonis (pada Hakim Agung Achmad Yamanie). Banyak kejanggalan hukum dan kasasi tidak memenuhi unsur-unsur yang disyaratkan oleh Pasal 197 (1) ayat d, e, f dan h UU No. 8/1981 tentang KUHAP. (Terhadap Susno Duaji belum dilakukan tindakan, akan tetapi terhadap Anand Krishna tetap dilakukan)

Dalam Putusan MA itu juga tidak adanya pertimbangan hukum bagi pengabulan kasasi dan memuat pertimbangan yang berasal dari kasus pidana pemalsuan merek dari Pengadilan Tinggi Jawa Barat di tahun 2006 yang sama sekali tidak terkait dengan kasus ini. Kejanggalan Putusan MA ini juga diamini kalangan akademisi hukum, seperti Prof Dr Nyoman Serikat Putrajaya SH MH (Guru Besar Hukum Pidana Universitas Diponegoro), Prof Dr Edward Omar Sharif Hiariej SH MHum (Guru Besar Hukum Pidana Universitas Gajah Mada), Dr I Dewa Gede Palguna SH MH (Mantan Hakim Konstitusi 2003-2008) dan Dr. IB Surya Jaya SH MH (Ahli Hukum Pidana Universitas Udayana) dalam Eksaminasi Publik atas Kasus Anand Krishna ini di Jogjakarta (18/10) dan Denpasar (25/10) pada tahun 2012.

Demikian pula pendapat Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang berpendapat bahwa proses kasus terhadap kasus ini berindikasi adanya pelanggaran HAM terhadap Anand Krishna. Komnas HAM telah menulis surat kepada Mahkamah Agung, Kejaksaan Agung dan Kepolisian untuk tidak menahan Anand Krishna tetapi surat tersebut bagai menabrak tembok bisu.

Simulasi tentang Orang yang Takut Berbeda Pendapat dengan Pendapat Umum

Sumber: http://www.youtube.com/watch?v=0xCVaKTqb3c&list=PL6D1A7A80E0732B81&index=1

Seseorang sebagai obyek penelitian dimasukkan di tengah beberapa orang yang sudah direkayasa untuk mengemukakan pendapat yang tidak benar. Seseorang bertanya mana yang lebih panjang dari 3 buah garis. Beberapa orang yang telah direkayasa menjawab bahwa garis yang pendek itu lebih panjang dan ternyata si obyek penelitian tidak mau berbeda pendapat dengan pendapat umum. Dia telah mengesampingkan pikiran jernihnya karena telah di-hack oleh pendapat umum. Demikian terjadi pada beberapa orang sebagai obyek penelitian.

Akan tetapi bila semua orang disuruh menulis pilihannya tanpa mengemukakan pendapat secara lisan, si obyek penelitian ternyata memakai pikiran jernih dan menjawab dengan benar. Bagaimana pun ada hal yang menggembirakan dalam simulasi tersebut. Kala ada seorang saja yang berpendapat benar, walau sebagian besar berpendapat salah, maka si obyek penelitian berani mengemukakan kebenaran.

Seorang Pembaharu berani berbeda pendapat dengan pola sistem yang sudah usang, kadaluarsa, walaupun sudah mapan. Para Pembaharu memberontak terhadap kemapanan system yang korup. Itulah sebabnya para pembaharu selalu dimusuhi mereka yang ingin memanipulasi masyarakat.

Mengapa Penulis (Pembaharu) Dimusuhi Kelompok Tertentu

Dalam buku “Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2013 disampaikan:

Tulisan adalah musuh utama penguasa zalim. Seperti yang dikatakan oleh seorang penulis asal Inggris, Edward Bulwer-Lytton (1803-1873): “the pen is mightier than the sword” Terjemahannya: Pena lebih sakti daripada pedang. Sejarah membuktikan hal tersebut. Bukan saja kitab-kitab suci seperti Veda, Dhammapada, Torah, Alkitab, Al-Qur’an, Sri Guru Granth Sahib, dan sebagainya, tetapi karya-karya klasik oleh sekian banyak penulis dari setiap bangsa di dunia juga membuktikan hal itu. Sebab itu, rezim zalim yang ingin mempertahankan kekuasaannya dan ingin mengelabui  generasi-generasi mendatang akan selalu berupaya untuk mematahkan pena para penulis yang peduli kebenaran. Zaman dulu, mereka membakar buku. Ternyata tidak membantu. Satu buku yang lolos dan terselamatkan sudah cukup untuk mengubah sejarah. Apalagi di zaman internet, hampir mustahil memusnahkan satu pun buku. Setiap buku bermutu yang tertulis setelah tahun 1990an sudah hampir bisa dipastikan tidak akan pernah punah. Setiap buku, setiap penulis yang kredibel, “sudah” menjadi abadi. Oleh karena itu, pihak-pihak yang tidak suka dikritik—entah penguasa, kroninya, atau juga pihak-pihak yang ingin berkuasa—menempuh jalur lain. Mereka berusaha untuk menjatuhkan kredibilitas para penulis yang dianggapnya “berbahaya”. Inilah yang sering terjadi saat ini.

Peningkatan Kesadaran Masyarakat

Semoga semakin banyak orang yang sadar. Peningkatan kesadaran adalah suatu kepastian. Melihat benih kesadaran warga di jejaring sosial Facebook, Twitter, Kompasiana dan lain-lainnya nampaknya sebagian masyarakat sudah bisa melepaskan diri dari belenggu hack dogma pola lama dan tidak takut lagi menyuarakan kebenaran di tengah masyarakat. Mereka berani bersuara dan berbagi kesadaran untuk mencerdaskan bangsa. Dan orang-orang yang memakai pikiran jernih akan mendukungnya. Kemenangan Jokowi melawan gerombolan para status quo adalah bagian dari perkembangan warga negara yang telah sadar. Disusun oleh TW.

3 Tanggapan

  1. …kebetulan saya termasuk orang yang tidak mudah percaya pada hal-hal yang dipercaya sebagian masyarakat, hanya saja untuk menyuarakannya masih lihat-lihat sikon. Nice blog Mas, saya juga menyukai spiritualitas…

  2. Saya tidak pernah percaya pada kasus pak anand yg di nyatakan bersalah karena realitasnya beliau tidak bersalah..dan masyarakat bali pun tidak percaya akan kasus ini karena kami perpikir ini murni bukan kasus tapi di kasuskan oleh sekelompok orang yg tidak suka akan pemikiran dan tulisan pak anand..pada akhirnya kebenaran dan keadilan akan selalu berjaya atas ke zaliman…butuh kesabaran dan pemahaman atas kerja suatu proses untuk menuju kebenaran..nice blog…lanjutkan untuk menyuarakan keadilan serta kebenaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: