Standar Ganda Kejaksaan dan Polri terhadap Anand Krishna dan Susno Duadji


Standar Ganda Kejaksaan dan Polri

Hukum boleh sama, akan tetapi tindakan bisa berbeda. Eva Sundari Komisi II DPR RI melalui detik.com menyampaikan, “Kejaksaan tebang pilih, Anand Krishna (AK) dengan kasus yang sama, yaitu tidak terpenuhi KUHP pasal 197 yang harusnya batal menurut hukum ada pemaksaan eksekusi. Aparat Kejari Jakarta Selatan dikerahkan dibantu polisi menangkap paksa AK. Tapi ternyata untuk Susno Duadji (SD) dan salah satu bupati didiamkan saja hingga saat ini,” ujarnya.

Demikian pula tindakan Polri pun diduga juga mempunyai standar ganda. Dalam kasus Anand Krishna Jaksa bekerjasama dengan Polri, sedangkan dalam kasus Susno, Polri diduga melindungi tereksekusi.Anand Krishna pergi ke Polda dan kemudian diserahkan kepada Tim Eksekusi Jaksa untuk dibawa ke Cipinang. Sedangkan Susno Duadji, yang bersangkutan pergi ke Polda dan setelah Tim Jaksa pulang kemudian Susno Duadji pergi dengan bebas.

 

Melihat Permasalahan Secara Partial Administratif Dan Tidak Melihat Kasus Secara Menyeluruh

Mungkin saja masalahnya lain? Memang lain. Susno sudah dinyatakan bersalah di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Mahkamah Agung menguatkan putusan PN. Jaksel dan PT. DKI Jakarta, dia divonis bersalah dan dihukum pidana 3 tahun 6 bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Akan tetapi Pengacara dengan kelihaian argumentasi hukumnyan hanya memandang satu potong putusan MA yang cacat hukum dan melupakan esensi perkara keseluruhan.

Sedangkan Anand Krishna diputus bebas oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dibawah Ketua Majelis Hakim Albertina Ho yang terkenal jujur dan tidak berpihak. Melihat masalah cacat hukum yang terjadi pada Susno, Anand Krishna pun mengalami hal yang sama. Mulai dari Berita Acara yang diubah-ubah. Pengaduan Korban tanpa saksi mata dan masih perawan diteruskan oleh Kejaksaan dan masuk ke sidang pengadilan. Hanya karena Hakim Ketua Sidang yang lama terkena kasus selingkuh dengan saksi korban maka Hakim Ketua Sidang diganti dengan Albertina Ho. “Pengajuan kasasi Jaksa atas putusan bebas” merupakan cacat hukum, apalagi dengan memasukan perkara merk sebagai dasar yang tidak ada kaitannya dengan kasus. Selanjutnya pasal 197 pun juga tidak dipenuhi. Dalam hal Anand Krishna, jaksa eksekutor hanya berbekal perintah atasan dan sama sekali tidak mau melihat esensi ketidakadilan pada keseluruhan kasus.

 

Persekongkolan Tidak Bisa Bertahan Lama

Kami ingat pesan Anand Krishna dalam materi  Interfaith Studies pada program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/): “Persekongkolan tidak bisa bertahan lama. Sifat utama persekongkolan adalah mengacaukan, memisahkan mencerai-beraikan. Karena persekongkolan memang destruktif. Sifat ini pula yang digunakan oleh Yang Maha Kuasa untuk mencerai-beraikan persekongkolan dan melemahkan hingga akhirnya tidak bisa berkutik lagi!”

Kita bisa melihat mereka yang mengadakan koalisi untuk suatu tujuan, akhirnya koalisi tersebut akan tercerai-berai juga. Demikian pula mereka yang bersama-sama mengeksekusi Anand Krishna sekarang terlihat tercerai-berai juga. Kejaksaan mengeksekusi Anand Krishna dengan paksa dengan bantuan Polisi. Dan hanya dalam waktu 2 bulan Kejaksaan sudah bersitegang dengan Polri. Berapa banyak persekongkolan yang tercerai-berai setelah salah satu pihak diperiksa KPK.

Kita juga melihat perpecahan di beberapa partai, persekongkolan beberapa orang buyar. Sudah disebutkan bahwa persekongkolan bersifat merusak, maka Yang Maha Kuasa menggunakan sifat merusak tersebut untuk merusak persekongkolan.

 

Pelaku Kejahatan Merajalela Tanpa Tersentuh Hukum

Bukan hanya negara, alam ini juga mempunyai peraturan. Banyak orang yang lama hidup di dunia tanpa mengetahui peraturan main dunia, hukum dunia. Hukum Dunia berjalan sangat rapi. Dalam materi  Interfaith Studies pada program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/) yang membahas benang merah persamaan antar agama, juga disampaikan pandangan Dhammapada tentang perbuatan jahat kepada orang yang tidak bersalah. Dhammapada 9:125: “Barang siapa berbuat jahat terhadap orang baik, orang suci, dan orang yang tidak bersalah, maka kejahatan akan berbalik menimpa orang bodoh itu, bagaikan debu yang dilempar melawan angin.”

“Dalam Dhammapada 9:125 Buddha jelas sekali bahwa jika seorang pelaku kejahatan berupaya mencelakakan orang yang tidak bersalah, maka ia sendiri yang akan celaka. Lalu apa yang kita lihat selama ini dan di sekitar kita? Seolah pelaku kejahatan bisa merajalela, dan mereka yang tidak bersalah bisa seenaknya dianiaya. Untuk itu Buddha menjelaskan dalam ayat 119 bahwa ada juga perbuatan-perbuatan jahat yang “belum matang”. Ketika buah kejahatan itu matang, maka ia jatuh sendiri. Tinggal tunggu waktu.”

 

Setelah Matang Buah Perbuatan Jahat Akan Jatuh Dengan Sendirinya

Hakim Ketua Sidang kasus Anand Krishna, Hari Sasangka, menahan yang bersangkutan sebelum eksepsi tersangka diajukan. Padahal yang bersangkutan tidak lari dan tidak menghilangkan barang bukti. Selanjutnya dalam sidang perkara tersebut hanya berkutat pada pelecehan seksual sekitar 10%, sedangkan 90 % mempertanyakan pandangan Anand Krishna dalam 150 buku-bukunya yang laku dijual di toko buku. Sang Hakim berlindung di belakang “Imunitas” bahwa  putusan hakim tidak bisa diganggu-gugat, akan tetapi bila kumpulan buah “ketidakbaikan” sudah matang, maka buah “ketidakbaikan” tersebut akan jatuh dengan sendirinya. Sang Hakim terpeleset ada main dengan saksi korban, sehingga yang bersangkutan memperoleh sanksi, diganti  dan dimutasi ke luar Jawa. Oleh Pengganti Hari Sasangka, Albertina Ho Anand Krishna diputus bebas.

Jaksa kemudian mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung, dan Mahkamah Agung langsung mengabulkan. Kembali para Hakim Agung berlindung pada  “imunita”s bahwa putusan hakim tidak bisa diganggu-gugat. Akan tetapi Dhammapada telah mengatakan, “seolah pelaku kejahatan bisa merajalela, dan mereka yang tidak bersalah bisa seenaknya dianiaya. Hal tersebut terjadi karena buah kejahatan belum matang!” Akhirnya buah kejahatan Ahmad Yamanie matang, sang hakim agung Ahmad Yamanie terpeleset memanipulasi hukuman bandar narkoba sehingga dipecat. Selanjutnya terbukalah borok-borok dari Mahkamah Agung. Sehingga nampaknya masyarakat sudah kurang respek lagi dengan Mahkamah Agung.

 

Diam Membisu Kala Melihat Ketidakbenaran

Sebagaimana biasa nampaknya pimpinan pemerintah selalu tidak mau ikut-campur masalah hukum. Demikian juga dalam kasus Anand Krishna dan masalah-masalah ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat. Apakah Pemerintah juga tidak akan ikut campur setelah terjadi ketegangan antara 2 instasi pemerintah? Mungkinkah ada standar ganda pula?

Kami ingat pesan Anand Krishna: “Hendaknya kita menimbang kesenangan-diri yang kita anggap baik itu dengan menggunakan timbangan akal-sehat kita, budi kita, intelejensia kita, “seandainya saya diperlakukan dengan cara yang sama, apakah saya akan menerimanya?” Jelas tidak. Tidak ada satu pun orang yang “mau menderita” – mau celaka, atau sengsara.” Jika aku tidak mau diperlakukan seperti itu, maka aku pun semestinya tidak memperlakukan orang lain seperti itu.” – inilah inti keagamaan.

Bila masing-masing warga negara dan juga pimpinan pemerintah diam melihat ketidakbenaran maka akan ada suatu saat mereka pun akan mengalami hal yang sama. Mereka yang diam membisu kala melihat kebenaran dizalimi, pada suatu saat juga akan merasakan hal yang sama kala orang yang mereka sayangi dizalimi.

Mungkin mereka yang ikut ambil bagian dalam rekayasa kasus Anand Krishna, merasa di atas angin karena telah memasukkan Pak Anand ke Cipinang. Akan tetapi ingat, semakin lama Pak Anand di Cipinang dan dengan segala upaya keji untuk merusak mental yang bersangkutan, maka semakin besar tumpukan karma baik mereka yang terlibat rekayasa berkurang dengan cepat. Mereka malah mempercepat kejatuhan mereka sendiri. Buah kejahatan mereka seperti dikarbit sehingga cepat matang. Disusun oleh TW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: