KPK: Tuduhan Festivalisasi Perkara dan Fakta Hedonisme Pejabat Negara

KPK3-350x300 sumber harian terbit

Foto sumber: harian terbit

Panggung Festival yang Meledak dan Menjadi Top Hit Berita

Ibarat Panggung Sandiwara yang layarnya baru dibuka, muncul deretan wanita cantik yang sering keluar infotainment. Selanjutnya bermunculan sejumlah transaksi uang yang mencapai milyaran rupiah. Kemudian nampak deretan mobil-mobil yang tergolong mewah, serta rumah-rumah indah yang semuanya mempesona. Semuanya eye cathcing bagi para pemirsa. Pemirsa menahan napas dan hampir tak berkedip melihat alur kisah cerita yang penuh dinamika, petinggi partai yang terkenal bersih diduga terlibat pelanggaran hukum yang kotor dan sedang diperiksa KPK. Partai yang mengusung kebiasaan berjilbab ternyata terkait dengan wanita-wanita cantik tanpa jilbab.

Seorang petinggi partai terkait yang nampak temperamental ngotot membela: “Itu bagian dari festival KPK, dia menangkan opini publik. Mau menghukum orang dihancurin dulu moralnya.” Petinggi yang terkenal vokal dalam memberikan kritik kepada KPK menuding lembaga antikorupsi tersebut melakukan upaya festivalisasi, terutama dalam pemanggilan saksi siswi cantik tak berjilbab terkait perkara tersangka.

Tanggapan sang petinggi tersebut menjadi bulan-bulanan komentar para pembaca di berbagai media masa dan juga di media non formal seperti FB dan Twitter. Bahkan Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD mengatakan: “Kalau ngaku dari awal, nggak bakal ada pushtun & hal sensitif lain. Karena mereka tak mengaku, maka hal-hal lain yang tak perlu terungkap terpaksa harus diperdengarkan di pengadilan. Kalau KPK itu sudah menjadikan seseorang sebagai tersangka, lebih baik segera mengaku. Karena KPK kalau menetapkan tersangka, buktinya bukan hanya satu. KPK itu sudah punya bukti berbulan-bulan sebelumnya, dikuntit. Ada rekaman suaranya, ada rekaman fotonya, dalam pertemuan siapa yang hadir, pembicaraannya apa. Jika masih saja bersikeras melawan KPK maka ini bisa menjadi bumerang. Bisa-bisa, akan ada kejadian yang lebih memalukan lagi dibanding tersiarnya kabar soal pushtun itu.

 

Tanggapan Masyarakat dan KPK tentang Festivalisme dan Hedonisme

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto menyampaikan: “Statement yang mengatakan bahwa pemunculan banyak wanita yang terkait Fathonah itu dikatakan festivalisasi tidak benar. Modus pencucian uang yang paling terbaru adalah melalui kaum hawa. Bisa dilihat dari kasus Djoko Susilo juga. Ya kalau orang tidak paham hukum wajar berkomentar seperti itu.”

Bagaimana pendapat media masa? Dengan search google: “Gaya Hidup Pejabat Negara”, muncul berita yang isinya mengungkapkan bahwa pimpinan partai yang terkait masalah, mengenakan jam tangan seharga Rp 70 juta. Menurutnya, dia membeli arloji seharga Rp70 juta sebagai aksesoris untuk ‘memantaskan’ dirinya sebagai pejabat publik. Artinya, di mata pimpinan partai tersebut, standar seorang pejabat publik harus punya, diantaranya, jam tangan paling murah Rp70 juta. Seorang politisi partai yang berkuasa menggunakan jam tangan berharga Rp 450 juta. Itu baru harga jam tangan, bagaimana mobil para pejabat negara itu? Konon, ada tiga anggota DPR yang punya mobil seharga Rp 7 milyar. Bagaimana pula dengan rumahnya? Bagaimana gaya travelling ke mancanegara?

Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas bersuara keras: “Korupsi impor daging didominasi kartel dan penyembah hedonisme!” Menurut Busyro, ada 6,2 juta peternak yang sudah diriset KPK. Mereka mengatakan siap memenuhi stok daging hingga 93 persen. Tapi kenyataannya, impor tetap berjalan dalam jumlah besar. Sumber: Search google: Korupsi Impor Daging Didominasi Kartel dan Penyembah Hedonisme!

Hedonisme berkaitan dengan pemuasan nafsu panca indera dan mental emosional. Dan, keserakahan nafsu itu tidak ada batasnya, selalu meningkat dari sebelumnya. Sehingga kita juga membaca bahwa seorang mantan petinggi partai dianggap oleh karibnya: “semakin dikasih semakin gila”.

Ada peribahasa Sunda yang perlu direnungkan: “Mun kiruh ti girang komo ka hilirna?” (Apabila sudah keruh di hulu sungai, apalagi di hilir sungainya). Apabila para petinggi melakukan hedonisme, bagaimana dengan para bawahannya?

 

Fenomena “Seks” dan “Napsu Birahi”

Para psikolog menyimpulkan bahwa makan, minum, tidur dan seks adalah kebutuhan-kebutuhan dasar manusia. Empat hal itu disebut basic instincts. Para yogi, para resi, para pujangga berpendirian: “Tidak, itu bukanlah kebutuhan dasar “manusia”. Itu merupakan kebutuhan dasar raga manusia, fisik manusia, badan manusia. (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

Manusia dan hewan sama-sama mempunyai basic instinct. Bedanya manusia makan beef steak weldone atau sayuran yang ditumis sedangkan hewan makan daging dan sayuran mentah. Manusia tidur di kompleks real estate sedangkan hewan di tengah semak belukar. Manusia kawin memakai norma dan etika, sedangkan hewan kawin saat tiba musimnya. Hewan membunuh musuhnya untuk dimakannya, sedangkan manusia bisa membunuh banyak orang banyak hanya karena tersinggung “iman”nya. Hewan makan sampai kenyang, dan tidak menyimpan makanan untuk tujuh turunan. Kebutuhan seks dalam binatang bersifat biologis. Begitu butuh, mereka akan langsung mencari.  Dan asal dapat, entah dari mana dan dari siapa saja, mereka akan menikmatinya. Manusia bisa memilih, bisa menahan diri. Tetapi pada saat yang sama, naluri yang satu ini juga berkembang lebih jauh menjadi “hawa napsu”. Keinginan untuk menimbun harta, untuk memperoleh kedudukan dan ketenaran semuanya masih merupakan pengembangan seks. Bila manusia telah lupa akan kemanusiaannya, maka dia bisa menjadi seperti hewan bahkan lebih parah karena otak manusia jauh lebih cerdik daripada hewan.

Surat At-Tin 4-6: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”

 

Petinggi yang Kekeringan Empati terhadap Masyarakat

Pengaruh “individualisme, materialisme dan hedonisme” menyebar ke seluruh anak bangsa. Melihat  penawaran mansion dan apartemen mewah, kenyamanan berlibur mancanegara, kendaraan, perabot dan hiburan supermewah, mestinya sudah tak ada seorang warga negarapun yang kelaparan, yang tak sanggup mendapatkan nasi dalam kesehariannya. Tanpa terasa telah terbentuk “the affluent society”, masyarakat yang sangat berlebihan sifat konsumtifnya. Dana yang seharusnya bisa produktif untuk memutar roda ekonomi dipakai keperluan konsumtif pribadinya.

Hubungan seseorang dengan lainnya bisa berupa “apathy”, “sympathy” dan “empathy”. Seorang yang “apathy”, tidak peduli urusan orang lain, dia berkutat pada urusan pribadinya. Cuek dengan penderitaan orang lain. Emangnya Gue Pikirin? Bukankah takdir seseorang memang lain-lain?…… Seorang yang mempunyai “sympathy”, merasa kasihan dengan orang yang sedang menderita, tetapi dia sendiri tidak merasakan penderitaannya. Yang menderita itu kamu, saya ikut bela sungkawa…… Seorang yang mempunyai rasa “empathy”, ikut merasakan apa yang diderita orang lainnya. Berikut beberapa petunjuk tentang empathy.

Ibnu Abbas berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, bukanlah orang yang beriman yang ia sendiri kenyang sedangkan tetangga di sebelahnya kelaparan.”. (HR. Baihaqi, Misykat); “Tidaklah beriman kepadaku orang yang tidur malam dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan dan ia mengetahuinya.” (HR. Thabrani dan Hakim).

Seorang petinggi negara mesti paham bahwa masih banyak warga negara yang hidup kekurangan dan tidak elok memamerkan kemewahan.

 

Pendidikan yang Mengembangkan Rasa

Seseorang yang ingin memuaskan diri sendiri, mempunyai tingkat kesadaran para raksasa. Belum ada pengendalian diri padanya. Penampilan para raksasa masa kini bisa necis, berdasi, berjas, dan naik-turun mobil mewah, tidur di perumahan elite, tetapi hanya memikirkan kepentingan pribadinya. Jiwa sang raksasa belum tersentuh rasa. Seseorang disebut berkesadaran manusia kala meningkat rasa kemanusiaannya. Manusia menggunakan rasa, mempunyai tepa slira menghargai eksistensi orang lainnya. Apa yang tidak suka diperlakukan terhadapnya tidak akan dia lakukan kepada orang lainnya.

Pengetahuan yang kita peroleh dari sistem pendidikan kita bertujuan untuk mencerdaskan kita. Tidak demikian dengan Wedhatama. Sri Mangkunagoro rupanya memiliki definisi lain. Wedha berarti “Pengetahuan”. Utama berarti “Yang Tertinggi”. Apabila dilihat dengan meminjam kacamata Sri Mangkunagoro, Pengetahuan yang Tertinggi tidak bertujuan untuk  mencerdaskan otak kita. Pengetahuan Utama tidak untuk membuat kita cerdik atau cerdas, tetapi untuk mengembangkan rasa dalam diri kita. Rasa sinonim dengan batin…… Kembangkan rasa dulu. Jangan bersikeras untuk membuat putra-putri Anda cerdas. Kecerdasan tanpa diimbangi oleh rasa akan membuat mereka manusia yang tidak utuh, manusia yang pincang jiwanya. Mereka akan membahayakan tatanan  kemasyarakatan kita.  (Krishna, Anand. (1999). Wedhatama Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kita perlu merenungkan sistem pendidikan kita, mengapa bangsa kita mencetak para petinggi yang hedonistis, yang kehilangan empathy terhadap masyarakat banyak yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Disusun oleh TW

Iklan

Sahabat Karib Ahmad Fathonah: Memandang Wanita Sebagai Pemuas Syahwat Belaka

Berteman dengan Fathonah

Kata Fathonah hampir selalu ditemukan bersama: Shiddiq, Amanah dan Tabligh,  yaitu 4 akhlak mulia nabi yaitu “cerdas”, “benar”, “bisa dipercaya” dan “menyampaikan”. Akan tetapi kala search google image setelah ketik fathonah, maka di layar muncul foto-foto Ahmad Fathanah, yang bernama lengkap : Olong Ahmad Fedeli Luran yang terlibat Kasus Korupsi Daging Impor Sapi. Dari hasil pencarian tersebut selain foto Ahmad Fathonah juga ditemukan berbagai foto wanita-wanita yang sangat cantik. Foto-foto tersebut terkait berbagai artikel tentang pelanggaran hukum yang sedang ditangani oleh KPK, yang jauh dari sifat mulia nabi.

Ada hukum law of attraction bahwa pergaulan kita akan mengungkapkan karakter kita. Bulan-bulan ini media masa mengungkapkan nama Fathonah yang royal terhadap wanita-wanita cantik serta kelihaian lobby dengan membawa nama petinggi partai. Adalah suatu kesalahan seorang pemimpin yang memilih berkarib dengan Fathonah, sehingga seorang pengacara menyatakan sifat kedua karib tersebut sebelas-duabelas.

“Demikian penemuan para saintis, para ilmuwan segala jaman. Setiap elemen memiliki daya tarik untuk menarik elemen yang sama. Berarti penyakit akan menarik penyakit, kekacauan akan menarik kekacauan. Sebaliknya, keselarasan akan menarik keselarasan. Daya tarik dalam kehidupan kita sehari-hari juga persis demikian, apabila kita senang minum alkohol, pergaulan kita tak akan jauh dari orang orang yang senang minum alkohol. Apabila kita senang baca buku, teman teman akrab kita pasti juga para pembaca buku.” (Krishna, Anand. (2001). Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pesan Kitab Suci Untuk Memilih Pergaulan Yang Baik

Berbekal laptop atau sebuah HP kita dapat search didunia maya dengan perangkat google. Kala mengetik “pengaruh teman bergaul” dan di klik, maka keluarlah banyak artikel yang berkaitan dengan pengaruh teman bergaul. Di salah satu judul artikel ada ulasan mengenai Hukum-Hukum Al Qur’an dan Hadist yang berkaitan dengan hal tersebut, yang antara lain:

“Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an sesudah Al Qur’an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia.” (Al Furqan:27-29)

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927). Sumber: artikel “Pengaruh Teman Bergaul” – Muslim.or.id.

Antara Pengetahuan dan Praktek

Pengetahuan saja tidak cukup, contohnya adalah para perokok yang pasti sudah membaca bungkus rokok dan iklan baliho di Jalan Raya: “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin.” Dalam abad modern ini tidak mungkin seseorang tidak mengetahui bahayanya merokok. Mengapa tetap merokok? Karena pengetahuan kalah dengan kebiasaan. Adiksi atau kecanduan dengan mudah mengalahkan pengetahuan. Melanggar hukum seperti korupsi itu mempunyai resiko yang bahkan kini sampai pada resiko pemiskinan sang koruptor. Akan tetapi, mengapa berita tentang korupsi tak pernah sirna satu hari pun dari media masa?

Demikian pula seorang pemuka masyarakat, petinggi partai mestinya mengetahui berbahayanya pergaulan yang tidak baik. Apalagi beliau pernah tahu bahwa teman karibnya pernah kena masalah kriminal, melanggar hukum di Australia. Ayat-ayat dari Kitab Suci dan Hadist tentang bahayanya “pengaruh teman bergaul”, diduga bahkan hapal di luar kepala, bukan hanya terjemahannya akan tetapi juga dalam bahasa aslinya. Mengapa beliau nekat bergaul dengan teman karib yang membahayakan imannya? Karena akibat pergaulan itu menyenangkan panca indera dan mental-emosionalnya . Setiap saat manusia selalu diberi pilihan apakah dia memilih tindakan yang menyenangkan mental-emosional dan panca inderanya? ataukah dia memilih tindakan yang mulia? Baca lebih lanjut

Yang Pustun Apa Jawa Sarkiya? Terungkapnya Rekaman Yang Membuka Borok Kebejatan

rekaman percakapan fustun

Rekaman Kebejatan Pembicaraan yang Melecehkan Wanita

“Pada hari ini akan Kami tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berbicara kepada Kami, dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang telah mereka usahakan.” (Surat Yaasiin ayat 65)…… Ternyata tidak usah menunggu hari pembalasan di hari kiamat, di dunia pun ada hari pembalasan, walaupun mulut berdalih seribu alasan, akan tetapi rekaman mengungkapkan fakta kebenaran dengan kokoh.

Beberapa minggu terakhir ini di media masa terungkap tentang rekaman di persidangan. Dalam transkip pembicaraan antara nomor HP +62816940797 (Luthfi) dan HP bernomor 628118003535 (Fathanah), pada 9 Januari 2013, terselip kalimat-kalimat: “Istri-istri antum sudah menunggu semua.” ……. “Waduh; Hahaha” (Tertawa)……… “Yang mana aja?”; “Ada semuanya.” ……Yang pustun pustun apa jawa sarkia?”…..

Demikian ucapan dari mereka yang jelas-jelas memandang wanita dengan nilai rendah. Para pembaca akan berasosiasi siapakah teman-teman Fathonah yang pustun (dari sekitar Aghanistan, Pakistan) ataukah yang Jawa Sarkiya (Jawa Timur). Kalau otak mereka saja sudah demikian tercemar, mesti akan terungkap keluar sebagai perbuatan apabila pertahanan diri mereka bobol.

 

Rekaman Pembicaraan tentang Pelanggaran Hukum

Selain itu dalam pembicaraan tersebut di atas juga ada kalimat: “Ee tsamaniya alaf alheim ee huwa hiya ta I dunna kullu annukhud arbain milyar cash.” (ada Rp 40 miliar tunai).

Kadang-kadang masyarakat begitu menghormati bahasa Arab, akan tetapi mereka telah melecehkan bahasa Arab untuk perbuatan yang tidak benar.

Apakah mereka tidak tahu bahwa sumbangan sebuah perusahaan kepada sebuah partai maksimum Rp 7.5 Milyar? Apakah mereka memikirkan harga daging yang murah untuk masyarakat? Bagaimana keluhan para penjual bakso dengan harga daging yang tinggi yang membahayakan keberlangsungan periuk keluarga mereka? Ataukah hanya memikirkan kepentingan pribadi atau kelompok? Apakah ini perbuatan ini halal atau haram? Bagaimana fatwa majelis yang tentang hal ini? Akan tetapi pembicaraan tersebut jelas sudah melanggar hukum.

 

Rekaman Pembicaraan Terencana yang Patut Diduga Melanggar Hukum

Bukan hanya rekaman suara, akan tetapi foto skema yang diduga penggerogotan APBN di papan tulis tentang diskusi Luthfi dan Fathonah dengan Yudi Setiawan pun beredar di media masa.

Meskipun ada pihak yang membantah adanya pengejaran dana Rp. 2 Trilyun dari tiga Kementerian: Kememinfo, Departemen Sosial dan Departemen Pertanian, tapi Yudi Setiawan pembobol Bank Jabar merilis sebuah foto yang mengungkapkan adanya rencana pengumpulan dana fantastis dari tiga departemen yang dikuasai partai tertentu dengan nilai Rp. 2 Trilyun. Rekaman foto ini sekarang beredar di media masa. Tinggal search google: “portalpolitik Papan Tulis 2 Trilyun” dan kita akan dapat membacanya apa isinya.

Apakah mereka melihat Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara itu untuk membangun Indonesia, ataukah hanya melihat dari sudut sempit kepentingan mereka? Demikiankah tindakan pimpinan partai yang pernah berfoto dengan latar belakang motto:  Bersih Peduli Profesional? Baca lebih lanjut

Keruwetan di Lapas dan Keruwetan Kehidupan di Dunia

Penjara1-(Reuters)-dalam

Narapidana Koruptor Tidur Di Rumah

Anggota Komisi III DPR RI Eva Kusuma Sundari  meminta Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny Indrayana tak defensif dengan pengakuan Ketua KPK, Abraham Samad yang menyebutkan adanya narapida korupsi yang bebas keluar masuk penjara, bahkan menginap di rumah. “Wakil Menteri Hukum dan HAM tidak usah defensif minta KPK membuktikan karena sudah rahasia umum.” Kata Eva pada tanggal 10 Mei 2013.

Pada hari yang sama Khatibul Umam Wiranu, Politisi Demokrat mengatakan, “KPK telah bersusah payah menjebloskan koruptor ke penjara tentu harus dijaga ketat supaya tidak keluar masuk Lapas, pasalnya tidak elok jika Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny Indrayana, meminta KPK mengumumkan siapa saja terpidana korupsi tidur di rumah sendiri. Kalau sudah di LP, itu tugas dan tanggung jawab Kemenkumham mengawasi, mendata dan melarang terpidana keluar dengan seenaknya, Bukan tugas KPK yang mengumumkan terpidana korupsi yang keluar masuk LP.”

Kendornya Pengawasan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas)

Dari berbagai informasi nampaknya laju pertumbuhan penghuni lapas tidak sebanding dengan sarana lapas. Input tidak sebanding dengan output. Jumlah narapidana yang masuk lebih besar daripada narapidana bebas atau bebas bersyarat yang keluar dari Lapas. Selanjutnya, penghuni Lapas tidak hanya orang terhukum saja, akan tetapi ada juga tahanan kepolisian dan kejaksaan yang dititipkan di Lapas.

Banyaknya jumlah narapidana dan tahanan di sebuah Lapas tanpa diimbangi Sumber Daya Manusia dan sarana prasarana memadai rentan menimbulkan pelanggaran. Jumlah petugas yang sedikit menyebabkan rendahnya tingkat pengamanan/pengawasan.

Seorang narapidana yang baru pertama sekali masuk Lapas akan menghadapi kelompok petugas dan kelompok narapidana senior. Dengan terjadinya over kapasitas, pengaruh kelompok narapidana senior menjadi sangat besar, sehingga bisa jadi seorang pelaku kriminal menjadi lebih pintar dalam menjalankan kriminal setelah keluar Lapas.

Over Kapasitas di Lapas

Pada umumnya Lapas sudah over kapasitas, secara nasional angkanya mencapai 150%. Hampir 40 % dari total 452 Lapas dan Rutan yang ada di 33 provinsi di Indonesia over kapasitas. Pada sejumlah Lapas over kapasitas penghuni lapas mencapai 300% bahkan ada yang 500%.

Kondisi tersebut membuat warga binaan berada dalam situasi yang sangat tidak menguntungkan yakni mudah mengalami gangguan psikologi seperti mudah marah, gelisah, dan menutup diri. Kondisi tersebut juga menimbulkan tingginya potensi konflik antar Napi, potensi melarikan diri serta menjadi salah satu pemicu terjadinya kerusuhan di Lapas.

Jumlah narapidana seluruh Indonesia saat ini mencapai 157.684 orang  (50.751 tahanan dan 106.933 narapidana), dan 50% nya merupakan tahanan narkotika. Idealnya rasio petugas pengamanan dengan narapidana adalah 1 orang petugas pengamanan menangani 25 narapidana. Namun pada kenyataannya tidak demikian, pada tahun 2009, 1 orang petugas keamanan menangani 52 narapidana. Pada tahun tersebut  jumlah narapidana mencapai 132.372. Agar ideal  jumlah tersebut harus diawasi oleh 21.120 petugas yang setiap hari dibagi dalam 4 shift kerja (5.280 petugas per shift). Akan tetapi pada saat itu jumlah petugas pengamanan hanya ada 10.251 orang.

Pada bulan Mei 2012 Direktorat Jendral Pemasyarakatan masih membutuhkan minimal 10.000 petugas keamanan untuk menjaga Lembaga Pemasyarakatan dan Rumah Tahanan di seluruh Indonesia. Rata-rata Lapas bisa berisi 400 orang narapidana dijaga empat atau lima orang,  tentu itu sudah tidak logis lagi.

Direktur Indonesia Detention Center (IDC) Ali Arinoval pada peringatan hari LP Nasional tanggal 27 April 2013 menyampaikan, “Belum ada satu pun LP di Indonesia yang sudah memenuhi standard sebagai sebuah penjara. Ketidakseimbangan antara tahanan dan jumlah petugas lapas terjadi hampir di setiap lapas. Bayangkan saja, dari 400 tahanan, petugasnya tidak sampai 10 orang.”

Petugas pengamanan di Lembaga Pemasyarakatan Denpasar juga tidak sebanding dengan jumlah tahanan dan narapidana yang ada disana. Perbandingannya, satu petugas harus mengawasi 72 orang.

Penurunan Pelayanan Kesehatan

Lapas dijalankan berdasar Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan dan

Peraturan Pemerintah R I Nomor 32 TAHUN 1999 Tentang  Syarat Dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan.

Disebutkan bahwa salah satu hak Warga Binaan (Napi dan Tahanan) adalah memperoleh pelayanan kesehatan secara promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif di LAPAS. Akan tetapi, akibat over kapasitas maka ada 19 narapidana yang positif mengidap HIV/AIDS yang terpaksa disatukan dengan tahanan lain yang bebas HIV/AIDS karena ketiadaan ruangana khusus. Demikian terjadi di Lapas Tangerang menurut pemberitaan kabar6.com pada tanggal 20 Januari 2013 bahwa Lapas Overload, Penderita HIV/AIDS Satu Sel dengan Narapidana Sehat.

Over kapasitas dan pengawasan yang kurang juga menyebabkan Lapas menjadi tempat peredaran narkoba. Belum lagi masalah rokok yang banyak dihisap oleh sebagian besar narapidana yang membuat kondisi Lapas kurang sehat. Baca lebih lanjut

Berakhirnya Zaman Edan dan Lahirnya Indonesia Baru

buku indonesia baru

Merebaknya Epidemi Egoisme

Egoisme telah beranak-pinak menumbuhkembangkan individualisme, materialisme dan hedonisme ke seluruh negeri. Kekuatan dunia benda amatlah nyata. Melihat tayangan iklan tentang rumah dan apartemen mewah, ajakan berlibur ke ujung dunia, kendaraan dan perabot supermewah, mestinya sudah tak ada seorang warga negarapun yang kelaparan, yang tak sanggup mendapatkan nasi dalam kesehariannya. Betapa banyaknya rumah mewah yang dikuasai seorang pejabat yang terkena kasus KPK, mestinya tidak ada lagi perjuangan berat bagi seorang kepala rumah tangga di ibukota untuk memperoleh sertifikat Rumah Sangat Sederhana. Tetapi yang semestinya tersebut belum terjadi, ada yang bermewah-ria dan ada yang kesulitan hidup membelitnya. Masyarakat sudah sangat konsumtif sehingga dana yang seharusnya untuk memutar roda ekonomi dipakai untuk keperluan konsumtif. Anggaran Pemerintah pun digerogoti untuk memenuhi kebutuhan konsumtif para koruptor.

Demi perkembangan perusahaan, pabrik perakit kendaraan harus memutar otak mempengaruhi masyarakat agar mengganti kendaraan lama dengan kendaraan baru berdasar nilai gengsi diri, walaupun kendaraan lama masih laik jalan. Ego selalu dipicu untuk memenuhi “more” dan mengabaikan “enough” dan memikirkan kepentingan “all”. Bukan hanya dalam hal ltransportasi dalam segala bidang masyarakat selalu dipicu untuk memenuhi kebutuhan konsumtif. Sebuah ilusi besar yang menyemarakkan epidemi egoisme.

“Ego selalu terburu-buru. Selalu tergesa-gesa. Selalu mencari jalan pintas, short cut. Dan, demi kepentingannya, ia bisa mengabaikan kepentingan umum. Demi keuntungannya, ia bisa menyengsarakan, merugikan orang lain.“ (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Zaman Edan: Zaman Penuh Ketidakpastian

Epidemi egoisme telah menciptakan zaman edan seperti yang kita baca setiap hari di media masa. Mengikuti gelombang zaman edan kita menjadi galau, mana yang benar? Mana yang rekayasa? Putusan hakim atau hakim agung mana yang murni dari pertimbangan nurani tanpa pengaruh luar? Dakwaan Jaksa mana yang murni mempertimbangkan keadilan masyarakat? Berita Acara Pemeriksaan Polisi mana yang sesuai kaidah keprofesionalan. Pertimbangan Wakil Rakyat mana yang benar-benar mewakili rakyat dan bukan kepentingan pribadi atau golongan? Fatwa instansi keagamaan mana yang bersih dari kepentingan politik dan kekuasaan? Apa yang melatar belakangi Ujian Nasonal masih dilaksanakan, walau kasasi pemerintah telah ditolak Mahkamah Agung? Masih banyak deretan masalah yang tidak akan ada habisnya. Kesemuanya itu berakar pada egoisme yang mencari jalan pintas untuk memperoleh kepuasan pribadi/kelompok dengan menghalalkan segala cara.

Terjadi banyak disorientasi di tengah masyarakat, seperti penjelasan Anand Krishna, “Umumnya, manusia memang berorientasi pada Otak atau Hati. Ada yang ‘Head-Oriented’, ada yang ‘Heart-Oriented’. Orientasi pada Otak melahirkan para saintis, para politisi, para pengusaha yang mahir mencari keuntungan……. Sementara itu, Orientasi pada Hati melahirkan para seniman, para penyair, penulis, dan tentu saja para pendidik dan para pemuka agama. Kelompok kedua ini tidak terlalu pintar dalam urusan hitung-menghitung……. Di tanah air kita ada kalanya terjadi tumpang-tindih. Seorang artis, seorang pemandu kerohanian yang “heart oriented” menjadi pejabat, memasuki ranah politis. Kemudian seorang pengusaha yang “head oriented” memasuki bidang pendidikan, sehingga tujuan pembinaan anak bangsanya terpinggirkan oleh pencarian keuntungan semata.” (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post) Baca lebih lanjut