Keruwetan di Lapas dan Keruwetan Kehidupan di Dunia


Penjara1-(Reuters)-dalam

Narapidana Koruptor Tidur Di Rumah

Anggota Komisi III DPR RI Eva Kusuma Sundari  meminta Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny Indrayana tak defensif dengan pengakuan Ketua KPK, Abraham Samad yang menyebutkan adanya narapida korupsi yang bebas keluar masuk penjara, bahkan menginap di rumah. “Wakil Menteri Hukum dan HAM tidak usah defensif minta KPK membuktikan karena sudah rahasia umum.” Kata Eva pada tanggal 10 Mei 2013.

Pada hari yang sama Khatibul Umam Wiranu, Politisi Demokrat mengatakan, “KPK telah bersusah payah menjebloskan koruptor ke penjara tentu harus dijaga ketat supaya tidak keluar masuk Lapas, pasalnya tidak elok jika Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny Indrayana, meminta KPK mengumumkan siapa saja terpidana korupsi tidur di rumah sendiri. Kalau sudah di LP, itu tugas dan tanggung jawab Kemenkumham mengawasi, mendata dan melarang terpidana keluar dengan seenaknya, Bukan tugas KPK yang mengumumkan terpidana korupsi yang keluar masuk LP.”

Kendornya Pengawasan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas)

Dari berbagai informasi nampaknya laju pertumbuhan penghuni lapas tidak sebanding dengan sarana lapas. Input tidak sebanding dengan output. Jumlah narapidana yang masuk lebih besar daripada narapidana bebas atau bebas bersyarat yang keluar dari Lapas. Selanjutnya, penghuni Lapas tidak hanya orang terhukum saja, akan tetapi ada juga tahanan kepolisian dan kejaksaan yang dititipkan di Lapas.

Banyaknya jumlah narapidana dan tahanan di sebuah Lapas tanpa diimbangi Sumber Daya Manusia dan sarana prasarana memadai rentan menimbulkan pelanggaran. Jumlah petugas yang sedikit menyebabkan rendahnya tingkat pengamanan/pengawasan.

Seorang narapidana yang baru pertama sekali masuk Lapas akan menghadapi kelompok petugas dan kelompok narapidana senior. Dengan terjadinya over kapasitas, pengaruh kelompok narapidana senior menjadi sangat besar, sehingga bisa jadi seorang pelaku kriminal menjadi lebih pintar dalam menjalankan kriminal setelah keluar Lapas.

Over Kapasitas di Lapas

Pada umumnya Lapas sudah over kapasitas, secara nasional angkanya mencapai 150%. Hampir 40 % dari total 452 Lapas dan Rutan yang ada di 33 provinsi di Indonesia over kapasitas. Pada sejumlah Lapas over kapasitas penghuni lapas mencapai 300% bahkan ada yang 500%.

Kondisi tersebut membuat warga binaan berada dalam situasi yang sangat tidak menguntungkan yakni mudah mengalami gangguan psikologi seperti mudah marah, gelisah, dan menutup diri. Kondisi tersebut juga menimbulkan tingginya potensi konflik antar Napi, potensi melarikan diri serta menjadi salah satu pemicu terjadinya kerusuhan di Lapas.

Jumlah narapidana seluruh Indonesia saat ini mencapai 157.684 orang  (50.751 tahanan dan 106.933 narapidana), dan 50% nya merupakan tahanan narkotika. Idealnya rasio petugas pengamanan dengan narapidana adalah 1 orang petugas pengamanan menangani 25 narapidana. Namun pada kenyataannya tidak demikian, pada tahun 2009, 1 orang petugas keamanan menangani 52 narapidana. Pada tahun tersebut  jumlah narapidana mencapai 132.372. Agar ideal  jumlah tersebut harus diawasi oleh 21.120 petugas yang setiap hari dibagi dalam 4 shift kerja (5.280 petugas per shift). Akan tetapi pada saat itu jumlah petugas pengamanan hanya ada 10.251 orang.

Pada bulan Mei 2012 Direktorat Jendral Pemasyarakatan masih membutuhkan minimal 10.000 petugas keamanan untuk menjaga Lembaga Pemasyarakatan dan Rumah Tahanan di seluruh Indonesia. Rata-rata Lapas bisa berisi 400 orang narapidana dijaga empat atau lima orang,  tentu itu sudah tidak logis lagi.

Direktur Indonesia Detention Center (IDC) Ali Arinoval pada peringatan hari LP Nasional tanggal 27 April 2013 menyampaikan, “Belum ada satu pun LP di Indonesia yang sudah memenuhi standard sebagai sebuah penjara. Ketidakseimbangan antara tahanan dan jumlah petugas lapas terjadi hampir di setiap lapas. Bayangkan saja, dari 400 tahanan, petugasnya tidak sampai 10 orang.”

Petugas pengamanan di Lembaga Pemasyarakatan Denpasar juga tidak sebanding dengan jumlah tahanan dan narapidana yang ada disana. Perbandingannya, satu petugas harus mengawasi 72 orang.

Penurunan Pelayanan Kesehatan

Lapas dijalankan berdasar Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan dan

Peraturan Pemerintah R I Nomor 32 TAHUN 1999 Tentang  Syarat Dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan.

Disebutkan bahwa salah satu hak Warga Binaan (Napi dan Tahanan) adalah memperoleh pelayanan kesehatan secara promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif di LAPAS. Akan tetapi, akibat over kapasitas maka ada 19 narapidana yang positif mengidap HIV/AIDS yang terpaksa disatukan dengan tahanan lain yang bebas HIV/AIDS karena ketiadaan ruangana khusus. Demikian terjadi di Lapas Tangerang menurut pemberitaan kabar6.com pada tanggal 20 Januari 2013 bahwa Lapas Overload, Penderita HIV/AIDS Satu Sel dengan Narapidana Sehat.

Over kapasitas dan pengawasan yang kurang juga menyebabkan Lapas menjadi tempat peredaran narkoba. Belum lagi masalah rokok yang banyak dihisap oleh sebagian besar narapidana yang membuat kondisi Lapas kurang sehat.

Pembinaan Warga Binaan yang kurang Efektif

Sesuai Peraturan Pemerintah R I Nomor 32 TAHUN 1999 Tentang  Syarat Dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan, yang disebut “Pembimbingan” adalah pemberian tuntunan untuk meningkatkan kualitas ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, intelektual, sikap dan perilaku, profesional, kesehatan jasmani dan rohani Klien Pemasyarakatan.

Over kapasitas juga membuat kualitas “Pembimbingan” menurun sehingga seorang narapidana yang keluar dari Lapas bisa kumat untuk melakukan kejahatan yang bahkan lebih canggih dari sebelum masuk Lapas karena memperoleh pengetahuan dari sesama napi. Lapas yang diharapkan menjadi tempat untuk mengubah mental para narapidana malah membuat mereka naik kelas, dari penjahat kelas teri menjadi penjahat kelas kakap.

Kesejahteraan Para Sipir

Tingkat kesejahteraan para sipir dibandingkan kebutuhan hidup di masyarakat yang konsumtif relatif juga masih rendah, sehingga  etos kerja mereka juga rendah, dan pada gilirannya mengganggu sistem kerja di Lapas. Akibatnya, beberapa sipir bahkan lebih loyal kepada napi daripada kepada negara.

Akibat kekurangan SDM, maka seringkali digunakan narapidana binaan untuk melaksanakan peran yang sama dengan petugas jaga yang ada, seperti halnya sipir. Tenaga terampil itu diambilkan dari napi yang telah dibina, namun hanya diperbantukan pada hal-hal yang bukan mencakup penjagaan dan juga pengamanan serta pengawasan di lapas. Tentu saja kualitas pengawasan oleh sesama napi tersebut cukup rawan.

Dampak Sebuah Pemberitaan di Lapas

Belakangan ini beberapa menyorot tentang beberapa tahanan di Lapas Cipinang, yg diberitakan sering berada diluar. Mungkin hal demikian terjadi, dan dilakukan oleh 2 atau 3 orang. Namun, dampaknya adalah terhadap seluruh Tahanan di Cipinang. Para petugas menjadi takut, Dirjen merasa perlu memperketat semua aturan. Pernahkah terpikir oleh wartawan dan editor tentang dampak negatif dari sebuah pemberitaan? Seorang pimpinan akan menekan bawahannya dan bawahannya akan menekan bawahanya lagi sampai akhirnya petugas akan menekan napi. Dan yang ditekan adalah napi yang lemah.

Kita Semua Sebenarnya Hidup Dalam Penjara Dunia

Merenungkan penderitaan yang dialami para narapidana akibat kurangnya sarana dan prasarana di Lapas, kita pun juga merasakan penderitaan yang hampir mirip di kehidupan nyata akibat kurangnya sarana dan prasarana yang kita peroleh dalam kehidupan ini. Ketakutan terhadap Sipir dan Kelompok Narapidana Senior pun juga dirasakan dlam dunia. Ancaman Narkoba dan HIV Aids pun juga kita rasakan di masyarakat.

Dalam buku “Ah Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2000 disampaikan: “Sementara ini, kita belum pernah hidup bebas. Kita belum kenal kebebasan. Kita hidup dalam kurungan. Dan yang mengurungi kita adalah pikiran. Berlapis-lapis pikiran yang mengurungi kita. Apa maksud Sang Buddha? Sementara ini, kita belum pernah hidup bebas. Kita belum kenal kebebasan. Kita hidup dalam kurungan. Dan yang mengurungi kita adalah pikiran. Berlapis-lapis pikiran yang mengurungi kita.”

“Ada tiga lapisan utama: Lapisan Pertama adalah yang Anda warisi dari kelahiran sebelum ini. Obsesi-obsesi anda dari masa lalu, keinginan-keinginan yang tidak tercapai dalam masa kelahiran sebelumnya, sehingga anda masih harus lahir kembali.” (Ini mewujud sebagai karakter bawaan sejak lahir seseorang… *penulis). Lapisan Kedua adalah yang terbentuk dalam kelahiran ini. Keinginan-keinginan dan obsesi-obsesi baru. Lapisan ketiga adalah yang Anda peroleh dari masyarakat. Hukum negara, dogma agama, kode etik yang berlaku dalam kelompok anda semuanya ikut membentuk lapisan yang ketiga ini.”

“Dan lapisan-lapisan tersebut bagaikan kurungan. Anda hidup dalam kurungan yang berlapis-lapis. Anda belum pernah hidup bebas. Seorang Yesus sangat persuasive. Seorang Muhammad sangat lembut. Mereka akan memberikan gambaran ‘surga’. Mereka ingin anda bebas dari kurungan. Dan mereka tahu persis, jika tidak diberikan iming-iming surga, anda tidak akan berani keluar dari kurungan. Buddha sedang mengundang Anda untuk membebaskan diri dari “kurungan”. Tetapi anda tidak berani. Anda masih ragu-ragu. Anda masih bimbang, “Di dalam kurungan, hidup saya sudah cukup secure. Cukup terjamin. Sudah bisa makan enak. Sudah bisa jalan-jalan ke Mal. Sudah bisa nonton film. Sudah bisa ke diskotik. Di luar sana, semua itu ada nggak?”

Informasi Lapas diperoleh dari berbagai berita di internet dan penulis mempunyai data sumber terkait.

Disusun oleh TW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: