Yang Pustun Apa Jawa Sarkiya? Terungkapnya Rekaman Yang Membuka Borok Kebejatan


rekaman percakapan fustun

Rekaman Kebejatan Pembicaraan yang Melecehkan Wanita

“Pada hari ini akan Kami tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berbicara kepada Kami, dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang telah mereka usahakan.” (Surat Yaasiin ayat 65)…… Ternyata tidak usah menunggu hari pembalasan di hari kiamat, di dunia pun ada hari pembalasan, walaupun mulut berdalih seribu alasan, akan tetapi rekaman mengungkapkan fakta kebenaran dengan kokoh.

Beberapa minggu terakhir ini di media masa terungkap tentang rekaman di persidangan. Dalam transkip pembicaraan antara nomor HP +62816940797 (Luthfi) dan HP bernomor 628118003535 (Fathanah), pada 9 Januari 2013, terselip kalimat-kalimat: “Istri-istri antum sudah menunggu semua.” ……. “Waduh; Hahaha” (Tertawa)……… “Yang mana aja?”; “Ada semuanya.” ……Yang pustun pustun apa jawa sarkia?”…..

Demikian ucapan dari mereka yang jelas-jelas memandang wanita dengan nilai rendah. Para pembaca akan berasosiasi siapakah teman-teman Fathonah yang pustun (dari sekitar Aghanistan, Pakistan) ataukah yang Jawa Sarkiya (Jawa Timur). Kalau otak mereka saja sudah demikian tercemar, mesti akan terungkap keluar sebagai perbuatan apabila pertahanan diri mereka bobol.

 

Rekaman Pembicaraan tentang Pelanggaran Hukum

Selain itu dalam pembicaraan tersebut di atas juga ada kalimat: “Ee tsamaniya alaf alheim ee huwa hiya ta I dunna kullu annukhud arbain milyar cash.” (ada Rp 40 miliar tunai).

Kadang-kadang masyarakat begitu menghormati bahasa Arab, akan tetapi mereka telah melecehkan bahasa Arab untuk perbuatan yang tidak benar.

Apakah mereka tidak tahu bahwa sumbangan sebuah perusahaan kepada sebuah partai maksimum Rp 7.5 Milyar? Apakah mereka memikirkan harga daging yang murah untuk masyarakat? Bagaimana keluhan para penjual bakso dengan harga daging yang tinggi yang membahayakan keberlangsungan periuk keluarga mereka? Ataukah hanya memikirkan kepentingan pribadi atau kelompok? Apakah ini perbuatan ini halal atau haram? Bagaimana fatwa majelis yang tentang hal ini? Akan tetapi pembicaraan tersebut jelas sudah melanggar hukum.

 

Rekaman Pembicaraan Terencana yang Patut Diduga Melanggar Hukum

Bukan hanya rekaman suara, akan tetapi foto skema yang diduga penggerogotan APBN di papan tulis tentang diskusi Luthfi dan Fathonah dengan Yudi Setiawan pun beredar di media masa.

Meskipun ada pihak yang membantah adanya pengejaran dana Rp. 2 Trilyun dari tiga Kementerian: Kememinfo, Departemen Sosial dan Departemen Pertanian, tapi Yudi Setiawan pembobol Bank Jabar merilis sebuah foto yang mengungkapkan adanya rencana pengumpulan dana fantastis dari tiga departemen yang dikuasai partai tertentu dengan nilai Rp. 2 Trilyun. Rekaman foto ini sekarang beredar di media masa. Tinggal search google: “portalpolitik Papan Tulis 2 Trilyun” dan kita akan dapat membacanya apa isinya.

Apakah mereka melihat Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara itu untuk membangun Indonesia, ataukah hanya melihat dari sudut sempit kepentingan mereka? Demikiankah tindakan pimpinan partai yang pernah berfoto dengan latar belakang motto:  Bersih Peduli Profesional?

 

Pentingnya Rekaman Sebagai Bukti Nyata yang Tercatat di Dalam Lembar Sejarah

Kami pernah menulis note: Rekaman CCTV Kezaliman Hukum Terhadap Anand Krishna

https://triwidodo.wordpress.com/2012/09/06/rekaman-cctv-kezaliman-hukum-terhadap-anand-krishna/

Bagaimana pun banyak pejabat terkait yang hanya berpegangan pada hukum formal, bahwa Mahkamah Agung telah memutuskan bahwa seseorang bersalah maka, dia dihukum. Mereka mengabaikan Putusan Sidang Pengadilan Negeri yang dipimpin Hakim Berkualitas Albertina Ho yang telah memutus bebas Anand Krishna. Mereka berpendapat bahwa Keputusan Kasasi oleh Achmad Yamanie ( sekarang telah dipecat), Zaharuddin Utama (diduga kena masalah dan mungkin sudah pesiun) adalah mewakili Lembaga Tertinggi Hukum di Indonesia. Mereka tidak melihat kasasi yang cacat hukum yang memasukkan perkara orang lain, pidana sengketa merk yang tidak berkaitan sama sekali dengan kasus. Ya ini adalah pengadilan di dunia dan belum pengadilan di hari pembalasan. Semua orang akan diadili mengenai perbuatannya masing-masing.

Dedengkot Hukum di Indonesia, Almarhum Prof. Dr. Satjipto Rahardjo, SH menekankan dibutuhkannya petugas hukum yang baik. Di tangan petugas hukum yang jelek, peraturan yang baik pun dapat dilanggar. Beliau mengungkapkan…… “Berikan pada saya jaksa dan hakim yang baik, maka dengan peraturan yang buruk sekalipun saya bisa membuat putusan yang baik”. Mengutamakan perilaku manusia daripada peraturan perundang-undangan sebagai titik tolak paradigma penegakan hukum, akan membawa kita untuk memahami hukum sebagai proses dan proyek kemanusiaan.

 

Kami juga pernah menulis note: Agama Hanya di Bibir Saja

https://triwidodo.wordpress.com/2013/03/18/agama-hanya-di-bibir-saja/

Kita bangga sekali bahwa semua warga negara beragama, dan itu ditunjukkan di KTP selalu tertulis agama yang kita anut. Betulkah kita sudah beragama? Apakah tindakan kita sudah mencerminkan tanda bahwa kita sudah beragama? Apakah pembicaraan antara Luthfi dan Fathonah tersebut merupakan petunjuk bahwa dia telah beragama dengan benar? Diduga banyak orang yang menggapai cita-cita dengan menghalalkan segala cara. Jangan-jangan agama hanya dipakai sebagai kedok, dan nafsu yang telah menguasai diri dijadikan penguasa. Kita menuruti nafsu dengan mencari pembenaran dari segi agama. Agama selalu dikaitkan dengan hati-nurani, akan tetapi nampaknya kita akan kecewa berat kala merenungkan rekaman pembicaraan Luthfi Fathonah tersebut di atas.

 

Siapa yang Menam Benih akan Menuai

“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. Mereka datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong” (Terjemahan Qur’an Surat Ibrahim [14]: 42-43).

Disebutkan bahwa kafir adalah mempersekutukan Tuhan dengan sesuatu. Orang-orang yang menukar kebenaran dengan uang sebenarnya mereka telah “menuhankan” uang. Mereka telah kafir karena mempersekutukan Tuhan dengan uang. Disebutkan pula bahwa orang zalim adalah mereka yang berani melanggar terhadap aturan Tuhan. Mereka yang berani melakukan dusta dalam pengadilan termasuk mereka yang zalim. Mereka yang mengubah-ubah keterangan dalam sidang pengadilan termasuk mereka yang zalim.

Hukum sebab-akibat berjalan sangat rapi. Seseorang yang melakukan kejahataan dan masih tampak sejahtera, disebabkan oleh tumpukan kebaikan yang pernah dilakukan sebelumnya. Bila tumpukan kebaikan telah habis, bila benih kejahatan yang ditaburkannya telah menjadi pohon yang berbuah dan buah kejahatannya telah matang, maka buah kejahatan tersebut akan jatuh dengan sendirinya.

Mungkin mereka yang ikut ambil bagian dalam rekayasa kasus Anand Krishna, merasa di atas angin karena telah memasukkan Pak Anand ke Cipinang. Akan tetapi ingat, semakin lama Pak Anand di Cipinang dan dengan segala upaya keji untuk merusak mental beliau, maka semakin besar pula tumpukan karma baik mereka yang terlibat rekayasa berkurang dengan cepat. Mereka malah mempercepat kejatuhan mereka sendiri. Menurut kami, akan ada waktunya bagi mereka untuk merasakan hidup dalam penjara. Bila mereka belum sempat merasakan penjara semasa hidup mereka, maka bagi yang percaya, dikehidupan selanjutnya mereka tetap akan merasakannya, mereka akan lahir lagi untuk merasakan derita. Biarlah alam sebagai saksi. Disusun oleh TW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: