KPK: Tuduhan Festivalisasi Perkara dan Fakta Hedonisme Pejabat Negara


KPK3-350x300 sumber harian terbit

Foto sumber: harian terbit

Panggung Festival yang Meledak dan Menjadi Top Hit Berita

Ibarat Panggung Sandiwara yang layarnya baru dibuka, muncul deretan wanita cantik yang sering keluar infotainment. Selanjutnya bermunculan sejumlah transaksi uang yang mencapai milyaran rupiah. Kemudian nampak deretan mobil-mobil yang tergolong mewah, serta rumah-rumah indah yang semuanya mempesona. Semuanya eye cathcing bagi para pemirsa. Pemirsa menahan napas dan hampir tak berkedip melihat alur kisah cerita yang penuh dinamika, petinggi partai yang terkenal bersih diduga terlibat pelanggaran hukum yang kotor dan sedang diperiksa KPK. Partai yang mengusung kebiasaan berjilbab ternyata terkait dengan wanita-wanita cantik tanpa jilbab.

Seorang petinggi partai terkait yang nampak temperamental ngotot membela: “Itu bagian dari festival KPK, dia menangkan opini publik. Mau menghukum orang dihancurin dulu moralnya.” Petinggi yang terkenal vokal dalam memberikan kritik kepada KPK menuding lembaga antikorupsi tersebut melakukan upaya festivalisasi, terutama dalam pemanggilan saksi siswi cantik tak berjilbab terkait perkara tersangka.

Tanggapan sang petinggi tersebut menjadi bulan-bulanan komentar para pembaca di berbagai media masa dan juga di media non formal seperti FB dan Twitter. Bahkan Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD mengatakan: “Kalau ngaku dari awal, nggak bakal ada pushtun & hal sensitif lain. Karena mereka tak mengaku, maka hal-hal lain yang tak perlu terungkap terpaksa harus diperdengarkan di pengadilan. Kalau KPK itu sudah menjadikan seseorang sebagai tersangka, lebih baik segera mengaku. Karena KPK kalau menetapkan tersangka, buktinya bukan hanya satu. KPK itu sudah punya bukti berbulan-bulan sebelumnya, dikuntit. Ada rekaman suaranya, ada rekaman fotonya, dalam pertemuan siapa yang hadir, pembicaraannya apa. Jika masih saja bersikeras melawan KPK maka ini bisa menjadi bumerang. Bisa-bisa, akan ada kejadian yang lebih memalukan lagi dibanding tersiarnya kabar soal pushtun itu.

 

Tanggapan Masyarakat dan KPK tentang Festivalisme dan Hedonisme

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto menyampaikan: “Statement yang mengatakan bahwa pemunculan banyak wanita yang terkait Fathonah itu dikatakan festivalisasi tidak benar. Modus pencucian uang yang paling terbaru adalah melalui kaum hawa. Bisa dilihat dari kasus Djoko Susilo juga. Ya kalau orang tidak paham hukum wajar berkomentar seperti itu.”

Bagaimana pendapat media masa? Dengan search google: “Gaya Hidup Pejabat Negara”, muncul berita yang isinya mengungkapkan bahwa pimpinan partai yang terkait masalah, mengenakan jam tangan seharga Rp 70 juta. Menurutnya, dia membeli arloji seharga Rp70 juta sebagai aksesoris untuk ‘memantaskan’ dirinya sebagai pejabat publik. Artinya, di mata pimpinan partai tersebut, standar seorang pejabat publik harus punya, diantaranya, jam tangan paling murah Rp70 juta. Seorang politisi partai yang berkuasa menggunakan jam tangan berharga Rp 450 juta. Itu baru harga jam tangan, bagaimana mobil para pejabat negara itu? Konon, ada tiga anggota DPR yang punya mobil seharga Rp 7 milyar. Bagaimana pula dengan rumahnya? Bagaimana gaya travelling ke mancanegara?

Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas bersuara keras: “Korupsi impor daging didominasi kartel dan penyembah hedonisme!” Menurut Busyro, ada 6,2 juta peternak yang sudah diriset KPK. Mereka mengatakan siap memenuhi stok daging hingga 93 persen. Tapi kenyataannya, impor tetap berjalan dalam jumlah besar. Sumber: Search google: Korupsi Impor Daging Didominasi Kartel dan Penyembah Hedonisme!

Hedonisme berkaitan dengan pemuasan nafsu panca indera dan mental emosional. Dan, keserakahan nafsu itu tidak ada batasnya, selalu meningkat dari sebelumnya. Sehingga kita juga membaca bahwa seorang mantan petinggi partai dianggap oleh karibnya: “semakin dikasih semakin gila”.

Ada peribahasa Sunda yang perlu direnungkan: “Mun kiruh ti girang komo ka hilirna?” (Apabila sudah keruh di hulu sungai, apalagi di hilir sungainya). Apabila para petinggi melakukan hedonisme, bagaimana dengan para bawahannya?

 

Fenomena “Seks” dan “Napsu Birahi”

Para psikolog menyimpulkan bahwa makan, minum, tidur dan seks adalah kebutuhan-kebutuhan dasar manusia. Empat hal itu disebut basic instincts. Para yogi, para resi, para pujangga berpendirian: “Tidak, itu bukanlah kebutuhan dasar “manusia”. Itu merupakan kebutuhan dasar raga manusia, fisik manusia, badan manusia. (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

Manusia dan hewan sama-sama mempunyai basic instinct. Bedanya manusia makan beef steak weldone atau sayuran yang ditumis sedangkan hewan makan daging dan sayuran mentah. Manusia tidur di kompleks real estate sedangkan hewan di tengah semak belukar. Manusia kawin memakai norma dan etika, sedangkan hewan kawin saat tiba musimnya. Hewan membunuh musuhnya untuk dimakannya, sedangkan manusia bisa membunuh banyak orang banyak hanya karena tersinggung “iman”nya. Hewan makan sampai kenyang, dan tidak menyimpan makanan untuk tujuh turunan. Kebutuhan seks dalam binatang bersifat biologis. Begitu butuh, mereka akan langsung mencari.  Dan asal dapat, entah dari mana dan dari siapa saja, mereka akan menikmatinya. Manusia bisa memilih, bisa menahan diri. Tetapi pada saat yang sama, naluri yang satu ini juga berkembang lebih jauh menjadi “hawa napsu”. Keinginan untuk menimbun harta, untuk memperoleh kedudukan dan ketenaran semuanya masih merupakan pengembangan seks. Bila manusia telah lupa akan kemanusiaannya, maka dia bisa menjadi seperti hewan bahkan lebih parah karena otak manusia jauh lebih cerdik daripada hewan.

Surat At-Tin 4-6: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”

 

Petinggi yang Kekeringan Empati terhadap Masyarakat

Pengaruh “individualisme, materialisme dan hedonisme” menyebar ke seluruh anak bangsa. Melihat  penawaran mansion dan apartemen mewah, kenyamanan berlibur mancanegara, kendaraan, perabot dan hiburan supermewah, mestinya sudah tak ada seorang warga negarapun yang kelaparan, yang tak sanggup mendapatkan nasi dalam kesehariannya. Tanpa terasa telah terbentuk “the affluent society”, masyarakat yang sangat berlebihan sifat konsumtifnya. Dana yang seharusnya bisa produktif untuk memutar roda ekonomi dipakai keperluan konsumtif pribadinya.

Hubungan seseorang dengan lainnya bisa berupa “apathy”, “sympathy” dan “empathy”. Seorang yang “apathy”, tidak peduli urusan orang lain, dia berkutat pada urusan pribadinya. Cuek dengan penderitaan orang lain. Emangnya Gue Pikirin? Bukankah takdir seseorang memang lain-lain?…… Seorang yang mempunyai “sympathy”, merasa kasihan dengan orang yang sedang menderita, tetapi dia sendiri tidak merasakan penderitaannya. Yang menderita itu kamu, saya ikut bela sungkawa…… Seorang yang mempunyai rasa “empathy”, ikut merasakan apa yang diderita orang lainnya. Berikut beberapa petunjuk tentang empathy.

Ibnu Abbas berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, bukanlah orang yang beriman yang ia sendiri kenyang sedangkan tetangga di sebelahnya kelaparan.”. (HR. Baihaqi, Misykat); “Tidaklah beriman kepadaku orang yang tidur malam dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan dan ia mengetahuinya.” (HR. Thabrani dan Hakim).

Seorang petinggi negara mesti paham bahwa masih banyak warga negara yang hidup kekurangan dan tidak elok memamerkan kemewahan.

 

Pendidikan yang Mengembangkan Rasa

Seseorang yang ingin memuaskan diri sendiri, mempunyai tingkat kesadaran para raksasa. Belum ada pengendalian diri padanya. Penampilan para raksasa masa kini bisa necis, berdasi, berjas, dan naik-turun mobil mewah, tidur di perumahan elite, tetapi hanya memikirkan kepentingan pribadinya. Jiwa sang raksasa belum tersentuh rasa. Seseorang disebut berkesadaran manusia kala meningkat rasa kemanusiaannya. Manusia menggunakan rasa, mempunyai tepa slira menghargai eksistensi orang lainnya. Apa yang tidak suka diperlakukan terhadapnya tidak akan dia lakukan kepada orang lainnya.

Pengetahuan yang kita peroleh dari sistem pendidikan kita bertujuan untuk mencerdaskan kita. Tidak demikian dengan Wedhatama. Sri Mangkunagoro rupanya memiliki definisi lain. Wedha berarti “Pengetahuan”. Utama berarti “Yang Tertinggi”. Apabila dilihat dengan meminjam kacamata Sri Mangkunagoro, Pengetahuan yang Tertinggi tidak bertujuan untuk  mencerdaskan otak kita. Pengetahuan Utama tidak untuk membuat kita cerdik atau cerdas, tetapi untuk mengembangkan rasa dalam diri kita. Rasa sinonim dengan batin…… Kembangkan rasa dulu. Jangan bersikeras untuk membuat putra-putri Anda cerdas. Kecerdasan tanpa diimbangi oleh rasa akan membuat mereka manusia yang tidak utuh, manusia yang pincang jiwanya. Mereka akan membahayakan tatanan  kemasyarakatan kita.  (Krishna, Anand. (1999). Wedhatama Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kita perlu merenungkan sistem pendidikan kita, mengapa bangsa kita mencetak para petinggi yang hedonistis, yang kehilangan empathy terhadap masyarakat banyak yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Disusun oleh TW

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: