Konflik Antar Agama di Indonesia Sebagai Akibat Programming Sejak Kecil

buku iching-500x500

Melihat Kebenaran dari Satu Sisi

“Seorang anak kecil di bawah usia lima tahun memperoleh conditioning dari orang tua, mendapatkan programming dari masyarakat. Lalu, berdasarkan conditioning dan programming yang diperolehnya ia menjadi Hindu atau Muslim atau Kristen atau Katolik atau Buddhis, atau entah apa. Ia mulai melihat Kebenaran dari satu sisi, dan seumur hidup ia melihat Kebenaran dari satu sisi saja.” (Krishna, Anand. (2002). Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Moderen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Seluruh pertikaian, termasuk (mungkin harus dikatakan ‘lebih-lebih’) pertikaian berdasar agama terjadi hanya karena perbedaan conditioning itu. Kita lupa bahwa di balik kondisi-kondisi tersebut ada Langit Mahaluas yang tak terbagi oleh awan conditioning – Langit Kebenaran Yang Satu Adanya. Pertikaian terjadi karena kegagalan kita melihat Langit Kebenaran. Kita memperhatikan awan melulu. (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Program Kebenaran yang Diberikan Secara Repetitif Intensif Sejak Kecil

Seorang anak lahir membawa genetik bawaan dari orang tuanya, kemudian mendapatkan pengetahuan kebenaran dari orang tua, pendidikan dan lingkungan. Kebenaran dari anak tersebut adalah kebenaran menurut kerangka yang diberikan kepada dirinya. Beda negara, beda pendidikan, beda lingkungan akan menyebabkan perbedaan pemahaman kebenaran. Dengan pemahaman tersebut maka kita bisa mengapresiasi kebenaran sebagaimana yang dipahami oleh orang lain.

Seingat kami sewaktu tahun 60-an, saat kami masih Sekolah Dasar di Solo, perbedaan keyakinan tersebut tidak mempengaruhi pergaulan di masyarakat. Teman-teman kami ada yang orang tuanya berasal dari Muhammadiyah, NU, Katholik, Protestan, Kelenteng, Pangestu tetapi itu tidak mempengaruhi hubungan pergaulan. Pada waktu itu toleransi bersifat nyata, sesuai dengan budaya kita. Pertanyaannya, mengapa intoleransi semakin banyak terjadi di masyarakat masa kini? Apakah program kebenaraan yang diberikan lebih keras dibanding zaman dulu? Apakah anak-anak kita sudah dijejali program kebencian terhadap mereka yang berbeda keyakinan secara repetitif intensif?

Pengulangan secara repetitif intensif membuat sesuatu menjadi nyata. “Adolf Hitler menulis dalam otobiografinya bahwa jika kebohongan diulangi secara terus-menerus, maka pikiran manusia akan mempercayainya. Kebohongan pun diterimanya sebagai kebenaran. Pengulangan adalah metode hypnosis. Apa yang diulangi secara terus-menerus itu akan terukir pada dirimu. Inilah yang menyebabkan ilusi dalam hidup. (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual Hypnotherapy. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Contoh nyata dari pengulangan secara repetitif intensif yang berhasil adalah pemasangan iklan. “Industri periklanan sepenuhnya berlandaskan pengulangan. Para pemasang iklan mempercayai ilmu tersebut. Produsen rokok mengulangi terus menerus bahwa mereknyalah yang terbaik. Awalnya, barangkali Anda tidak percaya. Tetapi setelah diserang terus menerus dengan pengulangan, Anda akan luluh juga. Seberapa lama Anda dapat bertahan dan tidak mempercayai iklan yang membombardir mind Anda? Secara perlahan tapi pasti, anda mulai mempercayai iklan itu. Hitler: Adalah pengulangan yang membedakan kebenaran dari kepalsuan. (Sering kali) kepalsuan yang diulangi secara terus-menerus diterima sebagai kebenaran. Manusia bisa mempercayai apa saja. Ia bisa percaya pada kepalsuan. Ia bisa dibohongi dengan sangat mudah… ia dapat mempercayai apa saja yang diulangi secara terus-menerus!” (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual Hypnotherapy. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kebebasan Beragama dalam UUD 45

UUD 45 pasal 28 dan 29 menjamin kebebasan beragama.

Pasal 28 E: Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal diwilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.Setiap orang atas kebebasan meyakini kepercayaannya, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.

Pasal 29: Negara berdasar atas ketuhanan Yang Maha Esa.Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Ayat-Ayat Yang Menghormati Keyakinan Lain

Pada zaman dahulu, belum zamannya komputer, akan tetapi para pemuka agama dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk menghormati keyakinan orang lain. Beberapa ayat di bawah ini pada saat ini sering diberi pengertian tambahan yang membuat kita kurang rasa toleransi terhadap keyakinan lain.

Sesungguhnya orang-orang mumin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Rabb mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 2:62)

Sesungguhnya orang-orang mumin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 5:69)

Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. (QS.5:48)

Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud. QS.3:113.

Bukan Masalah Agama tetapi Masalah Programming

“Masalah terbesar yang dihadapi oleh bangsa kita bukan masalah agama. Tetapi masalah conditioning, masalah programming. Dan, masalah ini pula yang dihadapi oleh setiap bangsa, oleh seluruh umat manusia. Kita sudah terkondisi, terprogram untuk mempercayai hal-hal tertentu. Padahal kepercayaan harus berkembang sesuai dengan kesadaran kita. Jika terjadi peningkatan kesadaran , maka kepercayaan pun harus ditingkatkan. Seorang anak kecil mempercayai ibunya. Menjelang usia remaja, ia mulai mempercayai para sahabatnya, pacarnya. Kalau sudah bekerja, ia akan mulai mempercayai rekan kerjanya. Bersama usia dan pengalaman hidup , kepercayaan dia pun berkembang terus. Ia bahkan mulai mempercayai berita di koran. Ia akan mempercayai siaran radio dan televisi. Kepercayaan yang berkembang terus ini sangat indah. Kepercayaan yang berkembang terus itu membuktikan bahwa kesadaran anda sedang meningkat. Sampai pada suatu ketika, anda akan mempercayai Keberadaan. Pada saat itu, kepercayaan anda baru bisa disebut “spiritual”…… (Krishna, Anand. (2002). Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Moderen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kepatuhan Buta terhadap Programming

“Kepatuhan buta terhadap programming dapat membuat manusia menjadi mesin, persis seperti robot, membuat kita menjadi komputer. Program yang diberikan dapat menentukan setiap tindakan, ucapan, pikiran, perasaan dalam diri kita. Komputerisasi umat manusia sudah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu. Mereka yang berkuasa, mereka yang menjadi pemimpin, mereka yang berada pada pucuk pemerintahan telah melakukan programming. Tentu saja, programming ini harus menguntungkan mereka, kita hidup dalam ketidaksadaran. Sepertinya dibawah pengaruh hipnotis massa. Tindakan, ucapan, pikiran bahkan perasaan kita pun sesuai dengan programming yang telah diberikan kepada kita.” (Krishna, Anand. (1998). Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Sejak lahir, kita berhadapan dengan kepercayaan. Bukan pendidikan tetapi kepercayaan. Bukan pula pendidikan tentang kepercayaan-kepercayaan tetapi dogma dan doktrin dengan salah satu kepercayaan yang sudah baku. Sudah tidak ada tawar menawar lagi. Sejak lahir, seorang anak sudah diberi cap agama tertentu. la tidak diberi kesempatan untuk memilih dan harus menerima apa yang sudah ditentukan oleh kedua orangtuanya baginya. Hak pilih kita sudah dirampas sejak kelahiran. Generasi Robot. Sudah di-set, di-program, dan dikendalikan oleh remote control yang berada di tangan masyarakat. Robot tidak membutuhkan rasa percaya diri. Cukuplah ia berserah diri pada pemegang kendalinya. Bahkan ia tidak memiliki kesadaran bahwa dirinya bergerak hanya bila digerakkan oleh sang pengendali. Kita hidup sebagai budak dari dogma, doktrin, kepercayaan, lembaga, institusi, atau kepentingan lain dari masyarakat tertentu. Kita tidak merdeka, belum merdeka. Kita tidak memahami arti kebebasan” ……. “Manusia tidak diciptakan atau tercipta untuk menjadi robot. la pun tidak lahir untuk menciptakan robot-robot manusia dan tidak berhak mengubah manusia menjadi robot yang dapat di-set dan di-program. Sebagian besar Generasi Robot bahkan tidak sadar bahwa kemanusiaan dalam diri mereka sudah mati. Kemanusiaan mereka sudah dirampas sejak lahir. Kita telah menjadi korban dari kepentingan-kepentingan pribadi orang tua kita yang seharusnya memfasilitasi untuk berkembang dan tidak mengerdilkan jiwa kita supaya mengikuti kehendak mereka. Celakanya, orangtua kita pun demikian. Mereka pun adalah korban dari sistem yang sama. Ujung-ujungnya bukan mereka pula yang memegang kendali tetapi sebuah sistem yaitu masyarakat bersama institusi-institusi buatannya yang memegang kendali. Dengan kondisi seperti ini, rasanya sulit membawa perubahan total, drastis, dan sekaligus bagi seluruh umat manusia.” (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bahaya Programming yang Memecah-belah NKRI

Kebiasaan menerima kebenaran instan tanpa diolah lebih dulu sangat berbahaya. “Kebiasaan menerima ‘kebenaran siap-saji’ dapat disalahgunakan oleh penguasa, oleh imam agama apa saja. Kemudian, manusia menjadi robot. Ia dapat ‘disetel’, dapat ‘diprogram’, dapat diarahkan untuk berbuat sesuai dengan program yang diberikan kepadanya……… Ini yang dilakukan oleh ‘para otak teroris’. Lewat lembaga-lembaga pendidikan agama yang mereka gelar di mana-mana, sesungguhnya mereka memprogram otak-otak yang masih segar, dan mematikan kemampuannya untuk ber-ijtihad. Kemudian, dengan sangat mudah mereka memasukkan program Jihad versi mereka’. Dan terciptalah sekian banyak pelaku bom bunuh diri yang siap membunuh siapa saja yang menurut programming mereka bertentangan dengan agama, dengan syariat, dengan apa yang mereka anggap satu-satunya kebenaran.” (Krishna, Anand. (2005). Dari Sari’at Menuju Mohabbat. Jakarta: One Earth Media)

Dari kecil, anak-anak kita diracuni dengan pandangan-pandangan yang mengkotak-kotakkan jiwa mereka, “Kau Muslim, kau Hindu, kau Buddhis, kau Kristen, kau Katolik – Kau Cina, kau Bombay, kau Melayu, kau Sunda – kau ini, kau itu.” Bibit perpecahan ini harus dimusnahkan dengan penuh kesadaran. Semoga semakin banyak anak-anak bangsa yang sadar. Disusun oleh TW.

Indonesia Gawat Darurat karena Fundamentalisme, Sebuah Pandangan Internasional

Anand krishna last man standing www.humanitad.org

Sumber: http://www.humanitad.org/

 

Ulasan Video Youtube: “Anand Krishna: Last Man Standing” (A Film by Humanitad)

Peringatan Gus Dur di tahun 2004

“Pada tahun 2004 saya ketemu Gus Dur yang menyatakan bahwa Indonesia di ambang keadaan gawat darurat karena sedang digiring ke arah fundamentalisme. Prediksi Gusdur memang tepat, setelah melihat kejadian-kejadian Indonesia di tahun-tahun belakangan.” Demikian pernyataan Sacha Stone, Pendiri Humanitad dalam video “Anand Krishna: Last Man Standing” (A Film by Humanitad) http://www.youtube.com/watch?v=anjGKzTtvio. Video berdurasi 37 menit sudah dilihat lebih dari 35.000 pemirsa internasional sejak diupload pada bulan Mei 2013. Sedangkan yang dilengkapi subtitle Indonesia  http://www.youtube.com/watch?v=8JglZ_0-s5E&feature=share sudah dilihat lebih dari 360 pemirsa seminggu setelah diupload di youtube pada tanggal 5 Juni 2013.

Sacha Stone adalah pendiri Humanitad. Humanitad adalah organisasi netral, nirlaba internasional yang didedikasikan untuk menyatukan bangsa, agama dan budaya. Organisasi berfungsi sebagai fasilitator untuk pertukaran ide untuk melayani perbaikan manusia dan lingkungan.

 

Tanggapan Video Yang Memerlukan Perenungan Bersama Sebuah Bangsa

Berikut adalah contoh beberapa tanggapan dari sekitar lima puluhan tanggapan dari pemirsa luar negeri tentang video tersebut:

Tells it like it is. The Indonesian justice system is completely corrupted and out of control. This man should never have seen a day inside a prison, yet in a cell he remains, regardless of having been acquitted by the Indonesian supreme court. (Demikianlah kenyataannya. Sistem Peradilan Indonesia benar-benar rusak dan tidak terkontrol. Seharusnya orang ini tidak layak dipenjara, namun tetap dimasukkan penjara, terlepas dari pengabulan kasasi oleh Mahkamah Agung Indonesia).

Look around in all the countrys this is happing everywhere!! there are the people that force there will on others through LIES / MANIPULATION / BRIBERY / BLACKMAIL !!! then there are people that are for freedom / peace / truth / love of all mankind that people jest follow because of who they are and what they stand for and therefor the ones in power will do anything to distroy them !! (Lihatlah sekeliling di semua negara, hal ini terjadi dimana-mana. Ada orang-orang yang memaksakan kemauan terhadap orang lain melalui kebohongan/manipulasi/suap/pemerasan! Kemudian ada orang yang menyuarakan kebebasan/perdamaian/kebenaran/cinta terhadap seluruh umat manusia, orang mengikuti apa yang dia perjuangkan. Oleh karenanya mereka yang mempunyai kekuasaan melakukan apa pun untuk menghancurkan mereka).

 

Peristiwa Pemukulan Para Peserta AKKBB oleh FPI Pada 1 Juni 2008

Film dimulai dengan peristiwa 1 Juni 2008 saat AKKBB, Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan melakukan aksi damai memperingati hari lahir Pancasila di Monas Jakarta. Sebelum acara dimulai AKKBB termasuk NIM, National Integration Movement diserang FPI. Seluruh peserta aksi damai dikejar-kejar dan dipukuli beramai-ramai oleh FPI. Nampak dalam film seorang memakai kaus Aku Cinta Indonesia dipukuli oleh sekelompok FPI. Kemudian Gus Dur meminta mereka yang membuat ulah ini harus ditangkap. Habib Rizieq dan Munarman akhirnya dipenjara selama 18 bulan. Dalam video tersebut juga disampaikan bahwa paling tidak terjadi  1062 pelanggaran serius atas kebebasan beragama antara tahun 2007-2011, termasuk pembunuhan dan pembakaran rumah ibadah.

Nampaknya Humanitad cukup jeli dalam membuat film, karena sejak peristiwa 1 Juni 2008 kemudian diikuti banyak peristiwa lainnya seperti Lia Eden 2009, Ahmadiyah Cikeusik 2011, Syiah Sampang 2012, GKI Yasmin sampai Anand Krishna. Nampaknya gerakan fundamentalisme yang merongrong persatuan Indonesia seperti yang dikhawatirkan oleh Gus Dur mulai menjadi kenyataan.

 

Mengapa Anand Krishna Menjadi Target? Baca lebih lanjut

Tarian Aceh Budaya Lokal Yang Dimusnahkan Pelan Pelan Atas Nama Hukum Syariah

tari

 

Sumber: liputan6.com

 

Tarian Adat Aceh Sarat Dengan Islam

“Untuk apa melarang perempuan dewasa menari sekalipun itu tarian adat, konser-konser band di Lapangan Sudirman (Lhokseumawe, Aceh Utara) itu kenapa tidak dilarang?” ujar Yusdedi Pakar Budaya Aceh yang juga koreografer seni tari tradisional Aceh di Lhokseumawe, Aceh Utara. Tarian adat Aceh sarat dengan Islam, Tarian Saman, Seudati, dan Ranub Lampuan bagian dari syiar Islam sejak zaman kerajaan dulu. Lewat seni tari itu, orang-orang terdahulu melakukan syiar Islam untuk memperbaiki akhlak manusia. Kearifan Lokal Budaya Aceh bisa hilang. Adat bak po teumeuruhom, adat dan Islam sudah menyatu di Aceh dan seharusnya dijaga oleh para pemimpin.

Demikian salah satu tanggapan yang diperoleh dari harian Aceh Post dan berikut dari beberapa media lain saat search Google di dunia maya menanggapi pernyataan pelarangan menari bagi perempuan dewasa. Bupati Aceh Utara Muhammad Thaib menyatakan, “Perempuan menari tarian apa pun di depan laki-laki itu bertentangan dengan hukum syariah. Beda kalau yang menari itu anak-anak. Jika ingin menampil tarian adat saat penyambutan tamu maka akan lebih baik jika tarian itu dimainkan oleh anak-anak perempuan yang belum dewasa.” Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Utara menyatakan sangat setuju dan mendukung kebijakan yang dibuat oleh bupati Aceh Utara tersebut. Menurut MPU Aceh Utara, menari di depan orang banyak yang juga terdapat laki-laki bagi perempuan dewasa sama saja dengan maksiat.

 

Tanggapan Pelatih Tari Tentang Larangan Menari Bagi Perempuan Dewasa

Syeh Seudati dari Sanggar Jeumpa Puteh Aceh Utara, Syeh Yan Jeumpa menyebutkan seudati dan tari tradisional Aceh lainnya sangat terhormat.  Dari segi pakaian dan gerakan tarian, tidak ada yang melanggar syariat Islam. Larangan itu tidak tepat, sebaliknya mesti kita dorong generasi kita untuk merawat seni dan budaya Aceh jangan sampai hilang.

Pelatih tari Simeulue, Amsaruddin, menilai keterlibatan perempuan dalam seni tari sangat penting dan tidak melanggar norma. “Dalam dunia seni tari, yang menjadi bunganya adalah perempuan, jadi agak aneh jika seni tari tidak ada perempuan.”

 

Tanggapan Penari Tentang Larangan Menari Bagi Perempuan Dewasa

Dari search Google: Menjaga Seni Budaya pun kini dilarang, kita dapat merasakan kegalauan seorang penari Aceh. Aini, Alumni Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, pada saat kuliah selalu menggunakan jilbab. Dan selama kuliah telah melanglang buana ke berbagai negara untuk memperkenalkan seni tari tradisional Aceh. Dia telah bergelut dengan seni tari sejak masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) di Kabupaten Aceh Utara. Saat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, Aini juga bergabung dengan sanggar seni yang terdapat di IAIN Ar-Raniry. “Saya bingung, di mana salahnya tarian adat Aceh yang dimainkan oleh perempuan dewasa sehingga bupati melarang perempuan dewasa menari di depan umum? Tidak ada gerakan tarian adat Aceh yang erotis, pakaian adat Aceh juga sangat sopan, syair yang dibawa juga semuanya tentang nasehat, khususnya tentang syiar Islam.”

Sebagian besar tarian adat Aceh merupakan hasil ciptaan sejumlah ulama saat mengembangkan Islam di berbagai daerah di Aceh. Tari Saman misalnya berasal dari Kabupaten Gayo Lues yang dikembangkan oleh salah seorang ulama saat mengembangkan Islam di daerah Gayo Lues. Tarian Likok Pulo berasal dari pulau di Kabupaten Aceh Besar juga diciptakan oleh seorang ulama yang terdampar ke Pulau tersebut. Tari Seudati dari kata “syahadat” berasal dari pantai Timur Aceh yang juga diciptakan oleh ulama.

“Kami tidak meminta uang kepada pemerintah untuk menjaga warisan nenek moyang. Kami terus menari karena kami sadar hanya seperti itu seni budaya Aceh akan terus bertahan. Jika ulama zaman dulu membolehkan tarian ini dimainkan, bahkan mereka menciptakan tarian tersebut, kenapa malah sekarang dilarang karena alasan tidak sesuai dengan syariat Islam. Ini kan aneh. Kami menjaga seni budaya Aceh bukan untuk mencari uang. Kami tidak kaya dan tidak akan pernah kaya dengan menari tarian Aceh. Kami melakukan ini semua hanya untuk menjaga agar anak cucu kita kenal tarian nenek moyangnya.”

 

Memusnahkan Kesenian Adat Secara Pelan-Pelan

Tidak semua tari tradisional Aceh dapat dimainkan oleh anak-anak. Ada beberapa tarian Aceh jika dimainnya oleh anak-anak maka sangat berisiko anak-anak tersebut terluka. Dengan hanya anak-anak yang boleh menarikan tarian, maka tarian tersebut tidak akan lestari. Mungkin negeri tetangga justru akan melestarikan dan mengaku tarian tersebut berasal dari negerinya. Guru-guru hanya memberikan latihan sedangkan dia sendiri tidak boleh pentas. Akan terjadi degradasi tarian adat di Aceh.

Bagi suku Arab, keseragaman merupakan keutamaan yang didukung oleh alamnya. Mereka berada di tengah padang pasir yang sama dengan jumlah tanaman yang sangat terbatas. Cara pandang mereka terhadap kehidupan terbentuk oleh keterbatasan alam semacam itu. Kasusnya berbeda di sini. Filofosi kita, “Tampak Beda, Sesungguhnya Satu,” adalah hasil dari keberagaman sumber daya alam, kondisi geografis, dan budaya kita. Kembali ke awal tahun 1990-an ketika ilmuwan politik Samuel P Huntington mulai mengelaborasi teori sejarawan Bernard Lewis seputar Clash of Civilization atau benturan peradaban, banyak dari kita tak setuju dengannya. Barangkali, kita merasa istilah “civilization” atau peradaban terlalu provokatif. Yang dimaksud dengan peradaban sesungguhnya adalah “identitas agama dan budaya.” Perbenturan identitas macam inilah yang mereka ramalkan. Inilah yang terjadi saat ini. Aceh sedang terkoyak antara budaya lokalnya sendiri dan identitas keagamaannya. (Krishna, Anand. (2010). Youth Challenges And Empowerment. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Budaya Nusantara

Budaya Nusantara yang membentuk watak dasar, jiwa orang Indonesia, tak akan terkalahkan oleh pengaruh asing. Janganlah kau mengkhawatirkan hal itu. Jangan pula kau percaya bahwa sesuatu seperti itu akan terjadi. Budaya Asal kita sudah berusia lebih dari 5.000 tahun, sudah mapan, sudah memiliki bentuk khas Nusantara. Budaya-budaya asing yang saat ini mempengaruhi kita masih mencari bentuk, masih belum berakar. Lagi-lagi, silakan kau beragama Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddhis, apa saja, kau adalah Orang Indonesia-Indonesia yang beradab, dan sudah berbudaya, ketika budaya-budaya yang kau kagumi saat ini masih belum lahir. (Krishna, Anand. (2005). Dari Syari’at Menuju Mohabbat, Sebuah Dialog. One Earth Media)

Manusia Indonesia memiliki budaya sendiri, budaya asal yang sudah terekam pada DNA-nya. Sementara, para pakar agama sedang berjuang mati-matian memperkenalkan budaya asing. Entah itu budaya Arab, atau budaya India, atau budaya Barat atau budaya Cina. Selama upaya mereka sebatas “memperkenalkan”, oke-oke saja. Umumnya, mereka tidak berhenti disitu. Mereka berupaya untuk mencuci otak kita. Ya, otak saya dan otak anda, otak Manusia Indonesia! Ada upaya-upaya terorganisir untuk mengarabkan, mengindiakan, mencinakan, membaratkan otak kita. Saya pikir para pakar pun sama sekali tidak sadar bahwa upaya mereka selama ini telah menciptakan manusia-manusia berkepribadian ganda. Mayoritas Manusia Indonesia menderita konflik batin. Konflik antara agama dan budaya. Kita telah melupakan agama asal kita, budaya asal kita dan demikianlah jadinya. Banyak yang mengaku tidak menderita konflik batin. Padahal merekalah penderita paling parah. Begitu parah, sampai tidak sadar akan penderitaan. Mereka sudah terbiasa. Tidak sadar bahwa diri mereka sakit. Bahwa ada konflik dalam batin mereka. (Krishna, Anand. (2008). Sehat Dalam Sekejap, Medina. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Aceh Bagian Dari Kepribadian kami

Tinggal selama 4 tahun pada tahun 90-an di tanah rencong mempengaruhi kepribadian kami. Kami pernah tinggal di Sigli, Aceh Pidie kemudian pindah ke Banda Aceh sebelum pindah ke Bireuen, dulu termasuk Kabupaten Aceh Utara. Sebagai karyawan Proyek Irigasi Aceh Utara, maka kami berkesempatan melihat sungai, saluran irigasi, sawah dan kampung-kampung di Aceh Utara, bergaul dengan masyarakat dan tokoh-tokohnya.

Kami sering makan bersama keluarga  di warung makan makan mie Aceh, mie dengan tauge bumbu khas Aceh. Makan tidak di dalam warung akan tetapi di ruang terbuka di depan warung sambil menonton TV/Video yang diletakkan di depan warung. Kopi saring Aceh sangat khas, bukan kopi diletakkan di gelas dan diaduk, akan tetapi kopi diletakkan di atas saringan dan kemudian disiram air panas, dan air kopi tersebut ditampung di gelas. Walaupun kami tinggal di Sigli atau Bireuen, akan tetapi kami sering ke Banda Aceh. Makanan favorit kami adalah Nasi Goreng di lapangan Peunayong, nasi goreng yang cabainya digiling lembut, tak nampak bijinya sama sekali. Sayur nangka juga kegemaran keluarga kami. Kami paling suka nonton PM Toh, Pendongeng Hikayat Aceh.

Kadang kala kami berkunjung malam hari ke sahabat di kampung, rumahnya biasanya gelap, mungkin terbawa kebiasaan di zaman Belanda lampu sering dimatikan bila ada serangan udara. Kala kami mendatangi hajatan di kampung biasanya acara juga dilakukan malam hari setelah jam 10 malam. Konon terbiasa pada zaman pendudukan Belanda, para pemuda siang hari berada di hutan dan balik pada malam hari saat Tentara Belanda sedang di kota.

Ada filosofi pintu Aceh yang berpengaruh pada pribadi kami. Rumah Aceh itu adalah rumah panggung dengan tangga masuk berada di luar rumah, sedangkan pintu rumahnya tingginya sekitar 1.50 m. Saat masuk ke “rumah orang” harus pelan-pelan karena naik tangga tidak boleh terburu nafsu. Kemudian juga harus hati-hati, karena tangga sering kena hujan sehingga sering licin. Selanjutnya saat dibukakan tuan rumah kita harus menunduk karena atas pintu lebih rendah dari pada kita. Bila kita “masuk rumah” orang dengan kepala tengadah, maka kita kepala kita akan terbentur. Akan tetapi setelah kita masuk diterima tuan rumah, maka kita melihat ruangan sangat luas dan banyak sekali makanan berjumlah peuet ploh peuet (empat puluh empat macam).

 

Cinta Indonesia dan Satu Bumi Satu Langit Satu Umat Manusia

Ada suatu kejadian pada waktu sahur bulan di bulan puasa April 1991, dalam perjalanan dinas dari Bireuen ke Banda Aceh, kami tertembak di daerah perbatasan Kabupaten Aceh Utara dengan Kabupaten Pidie. Kami harus dibawa Ambulance dari Pidie ke Banda Aceh. Kondisi kami waktu itu sangat kritis, mungkin karena banyaknya darah yang keluar. Tekanan darah 0/60 mm Hg sehingga tempat tidur beroda tidak boleh didorong dan harus ditreatment lebih dulu. Sedikit gerak mungkin nyawa kami melayang. Kami harus menerima transfusi darah sebanyak 1.5 liter dari 8-9 teman-teman kami. Mungkin darah teman-teman dari berbagai daerah: Aceh, Sumatra Utara, Padang, Jawa telah bercampur dalam diri kami sehingga membuat kami lebih cinta terhadap Indonesia. Di Aceh kami tidak pernah mempermasalahkan suku dan ras, teman kami dari Aceh bangga bahwa Aceh adalah campuran dari Arab, China, Eropa dan Hindia, kulit para teman kami juga ada yang kuning, putih, sawo matang dan hitam.

Kebetulan kami juga pernah tinggal di Makassar, Luwu, Bengkulu, Aceh, Banten, Semarang dan Solo, sehingga rasa keindonesiaan kami semakin bertambah. Karena pekerjaan kami berkaitan dengan irigasi dan para petani, maka kami dapat merasakan bahwa para petani pada dasarnya sama, senang bila sawahnya memperoleh air dan tidak membeda-bedakan petugas berasal dari mana. Kemudian kami pernah mengikuti pendidikan S2 di Canada di universitas yang multi-culture, dan bepergian ke beberapa negara lain di Asia, Eropa dan Amerika, maka dalam diri kami terbentuk karakter untuk menghormati semua orang dari negara mana pun.

Pada prinsipnya kami berpendapat bahwa seseorang itu lahir dengan membawa karakter genetik bawaan dari orang tuanya. Setelah itu mendapatkan pengetahuan kebenaran lewat orang tua, pendidikan dan lingkungan. Sehingga pendapat seseorang tentang kebenaran itu bersifat relatif. Beda orang tua, beda pendidikan, beda lingkungan akan menyebabkan pandangan kebenaran yang berbeda. Ibarat komputer maka beda program yang dimasukkan, akan berbeda pula kebenaran yang dimilikinya. Kadang-kadang seseorang merasa tindakannya 100% benar, padahal mereka hanya memperoleh pengetahuan kebenaran tertentu secara repetitif intensif sejak kecil.

Dengan meditasi kita dapat melepaskan diri dari pengaruh conditioning yang telah mempengaruhi diri kita sehingga kita dapat menerima bahwa kita semua satu umat manusia. Hidup di satu bumi, berada di bawah satu langit, dan kita semua merupakan satu umat manusia. Disusun oleh TW