Tarian Aceh Budaya Lokal Yang Dimusnahkan Pelan Pelan Atas Nama Hukum Syariah


tari

 

Sumber: liputan6.com

 

Tarian Adat Aceh Sarat Dengan Islam

“Untuk apa melarang perempuan dewasa menari sekalipun itu tarian adat, konser-konser band di Lapangan Sudirman (Lhokseumawe, Aceh Utara) itu kenapa tidak dilarang?” ujar Yusdedi Pakar Budaya Aceh yang juga koreografer seni tari tradisional Aceh di Lhokseumawe, Aceh Utara. Tarian adat Aceh sarat dengan Islam, Tarian Saman, Seudati, dan Ranub Lampuan bagian dari syiar Islam sejak zaman kerajaan dulu. Lewat seni tari itu, orang-orang terdahulu melakukan syiar Islam untuk memperbaiki akhlak manusia. Kearifan Lokal Budaya Aceh bisa hilang. Adat bak po teumeuruhom, adat dan Islam sudah menyatu di Aceh dan seharusnya dijaga oleh para pemimpin.

Demikian salah satu tanggapan yang diperoleh dari harian Aceh Post dan berikut dari beberapa media lain saat search Google di dunia maya menanggapi pernyataan pelarangan menari bagi perempuan dewasa. Bupati Aceh Utara Muhammad Thaib menyatakan, “Perempuan menari tarian apa pun di depan laki-laki itu bertentangan dengan hukum syariah. Beda kalau yang menari itu anak-anak. Jika ingin menampil tarian adat saat penyambutan tamu maka akan lebih baik jika tarian itu dimainkan oleh anak-anak perempuan yang belum dewasa.” Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Utara menyatakan sangat setuju dan mendukung kebijakan yang dibuat oleh bupati Aceh Utara tersebut. Menurut MPU Aceh Utara, menari di depan orang banyak yang juga terdapat laki-laki bagi perempuan dewasa sama saja dengan maksiat.

 

Tanggapan Pelatih Tari Tentang Larangan Menari Bagi Perempuan Dewasa

Syeh Seudati dari Sanggar Jeumpa Puteh Aceh Utara, Syeh Yan Jeumpa menyebutkan seudati dan tari tradisional Aceh lainnya sangat terhormat.  Dari segi pakaian dan gerakan tarian, tidak ada yang melanggar syariat Islam. Larangan itu tidak tepat, sebaliknya mesti kita dorong generasi kita untuk merawat seni dan budaya Aceh jangan sampai hilang.

Pelatih tari Simeulue, Amsaruddin, menilai keterlibatan perempuan dalam seni tari sangat penting dan tidak melanggar norma. “Dalam dunia seni tari, yang menjadi bunganya adalah perempuan, jadi agak aneh jika seni tari tidak ada perempuan.”

 

Tanggapan Penari Tentang Larangan Menari Bagi Perempuan Dewasa

Dari search Google: Menjaga Seni Budaya pun kini dilarang, kita dapat merasakan kegalauan seorang penari Aceh. Aini, Alumni Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, pada saat kuliah selalu menggunakan jilbab. Dan selama kuliah telah melanglang buana ke berbagai negara untuk memperkenalkan seni tari tradisional Aceh. Dia telah bergelut dengan seni tari sejak masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) di Kabupaten Aceh Utara. Saat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, Aini juga bergabung dengan sanggar seni yang terdapat di IAIN Ar-Raniry. “Saya bingung, di mana salahnya tarian adat Aceh yang dimainkan oleh perempuan dewasa sehingga bupati melarang perempuan dewasa menari di depan umum? Tidak ada gerakan tarian adat Aceh yang erotis, pakaian adat Aceh juga sangat sopan, syair yang dibawa juga semuanya tentang nasehat, khususnya tentang syiar Islam.”

Sebagian besar tarian adat Aceh merupakan hasil ciptaan sejumlah ulama saat mengembangkan Islam di berbagai daerah di Aceh. Tari Saman misalnya berasal dari Kabupaten Gayo Lues yang dikembangkan oleh salah seorang ulama saat mengembangkan Islam di daerah Gayo Lues. Tarian Likok Pulo berasal dari pulau di Kabupaten Aceh Besar juga diciptakan oleh seorang ulama yang terdampar ke Pulau tersebut. Tari Seudati dari kata “syahadat” berasal dari pantai Timur Aceh yang juga diciptakan oleh ulama.

“Kami tidak meminta uang kepada pemerintah untuk menjaga warisan nenek moyang. Kami terus menari karena kami sadar hanya seperti itu seni budaya Aceh akan terus bertahan. Jika ulama zaman dulu membolehkan tarian ini dimainkan, bahkan mereka menciptakan tarian tersebut, kenapa malah sekarang dilarang karena alasan tidak sesuai dengan syariat Islam. Ini kan aneh. Kami menjaga seni budaya Aceh bukan untuk mencari uang. Kami tidak kaya dan tidak akan pernah kaya dengan menari tarian Aceh. Kami melakukan ini semua hanya untuk menjaga agar anak cucu kita kenal tarian nenek moyangnya.”

 

Memusnahkan Kesenian Adat Secara Pelan-Pelan

Tidak semua tari tradisional Aceh dapat dimainkan oleh anak-anak. Ada beberapa tarian Aceh jika dimainnya oleh anak-anak maka sangat berisiko anak-anak tersebut terluka. Dengan hanya anak-anak yang boleh menarikan tarian, maka tarian tersebut tidak akan lestari. Mungkin negeri tetangga justru akan melestarikan dan mengaku tarian tersebut berasal dari negerinya. Guru-guru hanya memberikan latihan sedangkan dia sendiri tidak boleh pentas. Akan terjadi degradasi tarian adat di Aceh.

Bagi suku Arab, keseragaman merupakan keutamaan yang didukung oleh alamnya. Mereka berada di tengah padang pasir yang sama dengan jumlah tanaman yang sangat terbatas. Cara pandang mereka terhadap kehidupan terbentuk oleh keterbatasan alam semacam itu. Kasusnya berbeda di sini. Filofosi kita, “Tampak Beda, Sesungguhnya Satu,” adalah hasil dari keberagaman sumber daya alam, kondisi geografis, dan budaya kita. Kembali ke awal tahun 1990-an ketika ilmuwan politik Samuel P Huntington mulai mengelaborasi teori sejarawan Bernard Lewis seputar Clash of Civilization atau benturan peradaban, banyak dari kita tak setuju dengannya. Barangkali, kita merasa istilah “civilization” atau peradaban terlalu provokatif. Yang dimaksud dengan peradaban sesungguhnya adalah “identitas agama dan budaya.” Perbenturan identitas macam inilah yang mereka ramalkan. Inilah yang terjadi saat ini. Aceh sedang terkoyak antara budaya lokalnya sendiri dan identitas keagamaannya. (Krishna, Anand. (2010). Youth Challenges And Empowerment. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Budaya Nusantara

Budaya Nusantara yang membentuk watak dasar, jiwa orang Indonesia, tak akan terkalahkan oleh pengaruh asing. Janganlah kau mengkhawatirkan hal itu. Jangan pula kau percaya bahwa sesuatu seperti itu akan terjadi. Budaya Asal kita sudah berusia lebih dari 5.000 tahun, sudah mapan, sudah memiliki bentuk khas Nusantara. Budaya-budaya asing yang saat ini mempengaruhi kita masih mencari bentuk, masih belum berakar. Lagi-lagi, silakan kau beragama Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddhis, apa saja, kau adalah Orang Indonesia-Indonesia yang beradab, dan sudah berbudaya, ketika budaya-budaya yang kau kagumi saat ini masih belum lahir. (Krishna, Anand. (2005). Dari Syari’at Menuju Mohabbat, Sebuah Dialog. One Earth Media)

Manusia Indonesia memiliki budaya sendiri, budaya asal yang sudah terekam pada DNA-nya. Sementara, para pakar agama sedang berjuang mati-matian memperkenalkan budaya asing. Entah itu budaya Arab, atau budaya India, atau budaya Barat atau budaya Cina. Selama upaya mereka sebatas “memperkenalkan”, oke-oke saja. Umumnya, mereka tidak berhenti disitu. Mereka berupaya untuk mencuci otak kita. Ya, otak saya dan otak anda, otak Manusia Indonesia! Ada upaya-upaya terorganisir untuk mengarabkan, mengindiakan, mencinakan, membaratkan otak kita. Saya pikir para pakar pun sama sekali tidak sadar bahwa upaya mereka selama ini telah menciptakan manusia-manusia berkepribadian ganda. Mayoritas Manusia Indonesia menderita konflik batin. Konflik antara agama dan budaya. Kita telah melupakan agama asal kita, budaya asal kita dan demikianlah jadinya. Banyak yang mengaku tidak menderita konflik batin. Padahal merekalah penderita paling parah. Begitu parah, sampai tidak sadar akan penderitaan. Mereka sudah terbiasa. Tidak sadar bahwa diri mereka sakit. Bahwa ada konflik dalam batin mereka. (Krishna, Anand. (2008). Sehat Dalam Sekejap, Medina. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Aceh Bagian Dari Kepribadian kami

Tinggal selama 4 tahun pada tahun 90-an di tanah rencong mempengaruhi kepribadian kami. Kami pernah tinggal di Sigli, Aceh Pidie kemudian pindah ke Banda Aceh sebelum pindah ke Bireuen, dulu termasuk Kabupaten Aceh Utara. Sebagai karyawan Proyek Irigasi Aceh Utara, maka kami berkesempatan melihat sungai, saluran irigasi, sawah dan kampung-kampung di Aceh Utara, bergaul dengan masyarakat dan tokoh-tokohnya.

Kami sering makan bersama keluarga  di warung makan makan mie Aceh, mie dengan tauge bumbu khas Aceh. Makan tidak di dalam warung akan tetapi di ruang terbuka di depan warung sambil menonton TV/Video yang diletakkan di depan warung. Kopi saring Aceh sangat khas, bukan kopi diletakkan di gelas dan diaduk, akan tetapi kopi diletakkan di atas saringan dan kemudian disiram air panas, dan air kopi tersebut ditampung di gelas. Walaupun kami tinggal di Sigli atau Bireuen, akan tetapi kami sering ke Banda Aceh. Makanan favorit kami adalah Nasi Goreng di lapangan Peunayong, nasi goreng yang cabainya digiling lembut, tak nampak bijinya sama sekali. Sayur nangka juga kegemaran keluarga kami. Kami paling suka nonton PM Toh, Pendongeng Hikayat Aceh.

Kadang kala kami berkunjung malam hari ke sahabat di kampung, rumahnya biasanya gelap, mungkin terbawa kebiasaan di zaman Belanda lampu sering dimatikan bila ada serangan udara. Kala kami mendatangi hajatan di kampung biasanya acara juga dilakukan malam hari setelah jam 10 malam. Konon terbiasa pada zaman pendudukan Belanda, para pemuda siang hari berada di hutan dan balik pada malam hari saat Tentara Belanda sedang di kota.

Ada filosofi pintu Aceh yang berpengaruh pada pribadi kami. Rumah Aceh itu adalah rumah panggung dengan tangga masuk berada di luar rumah, sedangkan pintu rumahnya tingginya sekitar 1.50 m. Saat masuk ke “rumah orang” harus pelan-pelan karena naik tangga tidak boleh terburu nafsu. Kemudian juga harus hati-hati, karena tangga sering kena hujan sehingga sering licin. Selanjutnya saat dibukakan tuan rumah kita harus menunduk karena atas pintu lebih rendah dari pada kita. Bila kita “masuk rumah” orang dengan kepala tengadah, maka kita kepala kita akan terbentur. Akan tetapi setelah kita masuk diterima tuan rumah, maka kita melihat ruangan sangat luas dan banyak sekali makanan berjumlah peuet ploh peuet (empat puluh empat macam).

 

Cinta Indonesia dan Satu Bumi Satu Langit Satu Umat Manusia

Ada suatu kejadian pada waktu sahur bulan di bulan puasa April 1991, dalam perjalanan dinas dari Bireuen ke Banda Aceh, kami tertembak di daerah perbatasan Kabupaten Aceh Utara dengan Kabupaten Pidie. Kami harus dibawa Ambulance dari Pidie ke Banda Aceh. Kondisi kami waktu itu sangat kritis, mungkin karena banyaknya darah yang keluar. Tekanan darah 0/60 mm Hg sehingga tempat tidur beroda tidak boleh didorong dan harus ditreatment lebih dulu. Sedikit gerak mungkin nyawa kami melayang. Kami harus menerima transfusi darah sebanyak 1.5 liter dari 8-9 teman-teman kami. Mungkin darah teman-teman dari berbagai daerah: Aceh, Sumatra Utara, Padang, Jawa telah bercampur dalam diri kami sehingga membuat kami lebih cinta terhadap Indonesia. Di Aceh kami tidak pernah mempermasalahkan suku dan ras, teman kami dari Aceh bangga bahwa Aceh adalah campuran dari Arab, China, Eropa dan Hindia, kulit para teman kami juga ada yang kuning, putih, sawo matang dan hitam.

Kebetulan kami juga pernah tinggal di Makassar, Luwu, Bengkulu, Aceh, Banten, Semarang dan Solo, sehingga rasa keindonesiaan kami semakin bertambah. Karena pekerjaan kami berkaitan dengan irigasi dan para petani, maka kami dapat merasakan bahwa para petani pada dasarnya sama, senang bila sawahnya memperoleh air dan tidak membeda-bedakan petugas berasal dari mana. Kemudian kami pernah mengikuti pendidikan S2 di Canada di universitas yang multi-culture, dan bepergian ke beberapa negara lain di Asia, Eropa dan Amerika, maka dalam diri kami terbentuk karakter untuk menghormati semua orang dari negara mana pun.

Pada prinsipnya kami berpendapat bahwa seseorang itu lahir dengan membawa karakter genetik bawaan dari orang tuanya. Setelah itu mendapatkan pengetahuan kebenaran lewat orang tua, pendidikan dan lingkungan. Sehingga pendapat seseorang tentang kebenaran itu bersifat relatif. Beda orang tua, beda pendidikan, beda lingkungan akan menyebabkan pandangan kebenaran yang berbeda. Ibarat komputer maka beda program yang dimasukkan, akan berbeda pula kebenaran yang dimilikinya. Kadang-kadang seseorang merasa tindakannya 100% benar, padahal mereka hanya memperoleh pengetahuan kebenaran tertentu secara repetitif intensif sejak kecil.

Dengan meditasi kita dapat melepaskan diri dari pengaruh conditioning yang telah mempengaruhi diri kita sehingga kita dapat menerima bahwa kita semua satu umat manusia. Hidup di satu bumi, berada di bawah satu langit, dan kita semua merupakan satu umat manusia. Disusun oleh TW

Iklan

2 Tanggapan

  1. budaya luhur…
    mungkin pikiran mereka…

    Ahh..kita sudah punya budaya korup dan budaya politik dagang sapi plus budaya kapitalisme…

    itu cukup…kata mereka..

    hufftt…

    nice info pak…:-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: