Indonesia Gawat Darurat karena Fundamentalisme, Sebuah Pandangan Internasional


Anand krishna last man standing www.humanitad.org

Sumber: http://www.humanitad.org/

 

Ulasan Video Youtube: “Anand Krishna: Last Man Standing” (A Film by Humanitad)

Peringatan Gus Dur di tahun 2004

“Pada tahun 2004 saya ketemu Gus Dur yang menyatakan bahwa Indonesia di ambang keadaan gawat darurat karena sedang digiring ke arah fundamentalisme. Prediksi Gusdur memang tepat, setelah melihat kejadian-kejadian Indonesia di tahun-tahun belakangan.” Demikian pernyataan Sacha Stone, Pendiri Humanitad dalam video “Anand Krishna: Last Man Standing” (A Film by Humanitad) http://www.youtube.com/watch?v=anjGKzTtvio. Video berdurasi 37 menit sudah dilihat lebih dari 35.000 pemirsa internasional sejak diupload pada bulan Mei 2013. Sedangkan yang dilengkapi subtitle Indonesia  http://www.youtube.com/watch?v=8JglZ_0-s5E&feature=share sudah dilihat lebih dari 360 pemirsa seminggu setelah diupload di youtube pada tanggal 5 Juni 2013.

Sacha Stone adalah pendiri Humanitad. Humanitad adalah organisasi netral, nirlaba internasional yang didedikasikan untuk menyatukan bangsa, agama dan budaya. Organisasi berfungsi sebagai fasilitator untuk pertukaran ide untuk melayani perbaikan manusia dan lingkungan.

 

Tanggapan Video Yang Memerlukan Perenungan Bersama Sebuah Bangsa

Berikut adalah contoh beberapa tanggapan dari sekitar lima puluhan tanggapan dari pemirsa luar negeri tentang video tersebut:

Tells it like it is. The Indonesian justice system is completely corrupted and out of control. This man should never have seen a day inside a prison, yet in a cell he remains, regardless of having been acquitted by the Indonesian supreme court. (Demikianlah kenyataannya. Sistem Peradilan Indonesia benar-benar rusak dan tidak terkontrol. Seharusnya orang ini tidak layak dipenjara, namun tetap dimasukkan penjara, terlepas dari pengabulan kasasi oleh Mahkamah Agung Indonesia).

Look around in all the countrys this is happing everywhere!! there are the people that force there will on others through LIES / MANIPULATION / BRIBERY / BLACKMAIL !!! then there are people that are for freedom / peace / truth / love of all mankind that people jest follow because of who they are and what they stand for and therefor the ones in power will do anything to distroy them !! (Lihatlah sekeliling di semua negara, hal ini terjadi dimana-mana. Ada orang-orang yang memaksakan kemauan terhadap orang lain melalui kebohongan/manipulasi/suap/pemerasan! Kemudian ada orang yang menyuarakan kebebasan/perdamaian/kebenaran/cinta terhadap seluruh umat manusia, orang mengikuti apa yang dia perjuangkan. Oleh karenanya mereka yang mempunyai kekuasaan melakukan apa pun untuk menghancurkan mereka).

 

Peristiwa Pemukulan Para Peserta AKKBB oleh FPI Pada 1 Juni 2008

Film dimulai dengan peristiwa 1 Juni 2008 saat AKKBB, Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan melakukan aksi damai memperingati hari lahir Pancasila di Monas Jakarta. Sebelum acara dimulai AKKBB termasuk NIM, National Integration Movement diserang FPI. Seluruh peserta aksi damai dikejar-kejar dan dipukuli beramai-ramai oleh FPI. Nampak dalam film seorang memakai kaus Aku Cinta Indonesia dipukuli oleh sekelompok FPI. Kemudian Gus Dur meminta mereka yang membuat ulah ini harus ditangkap. Habib Rizieq dan Munarman akhirnya dipenjara selama 18 bulan. Dalam video tersebut juga disampaikan bahwa paling tidak terjadi  1062 pelanggaran serius atas kebebasan beragama antara tahun 2007-2011, termasuk pembunuhan dan pembakaran rumah ibadah.

Nampaknya Humanitad cukup jeli dalam membuat film, karena sejak peristiwa 1 Juni 2008 kemudian diikuti banyak peristiwa lainnya seperti Lia Eden 2009, Ahmadiyah Cikeusik 2011, Syiah Sampang 2012, GKI Yasmin sampai Anand Krishna. Nampaknya gerakan fundamentalisme yang merongrong persatuan Indonesia seperti yang dikhawatirkan oleh Gus Dur mulai menjadi kenyataan.

 

Mengapa Anand Krishna Menjadi Target?

Dalam film tersebut Anand Krishna menyampaikan Visi Satu Bumi, Satu Langit dan satu Umat manusia yang disebutkannya merupakan visi para resi sejak zaman dahulu kala. Untuk mencapainya harus dimulai dengan kesehatan holistik baik pada lingkungan, politik, ekonomi dan sosial. Anand Krishna menulis lebih dari 150 buku tentang perdamaian dan hidup holistik, juga mendirikan sekolah, klinik, ashram sebagai tempat pelayanan guna membangun kesadaran dan pelestarian budaya. Anand Krishna menyatukan semua orang dari berbagai latar belakang agama sosial politik.

Dengan vokal Anand Krishna menyuarakan apresiasi terhadap semua agama. Mereka yang sadar perlu berbagi cara hidup meditatif dimulai dengan “inner peace”, dilanjutkan “communal love” menuju “global harmony”.

Pada tahun 2005 Anand Krishna menggagas berdirinya NIM, National Integration Movement. (http://nationalintegrationmovement.org/id/)

“Republik adalah milik kita bersama, milik seluruh bangsa Indonesia. Republik bukan miliknya orang Indonesia yang berdiam di Jawa dan Sumatra saja. Republik adalah juga milik saudara-saudara yang berdiam di Borneo, Sulawesi, di Kepulauan Sunda Kecil, di Maluku, di Papua. Darah saudara-saudara ikut membasahi tanah ini, tatkala kita menjelmakan Republik ini. Terlepas dari ideologi apapun, jagalah “Persatuan!” Jagalah “Keutuhan! ” – Soekarno

“Indonesia dibangun dengan cita-cita yang lebih luhur dengan nilai yang lebih tinggi yaitu Pancasila, lahirnya Pancasila menunjukkan betapa tinggi budi dari para perintis kemerdekaan kita.” – Anand Krishna

Dalam rangka menumbuhkan kembali semangat kebangsaan serta kebanggaan sebagai orang Indonesia, National Integration Movement bekerjasama dengan Dephan, Depsos, Pemda DKI menggelar acara Simposium Kebangsaan “BagiMu Ibu Pertiwi”, sekaligus pencanangan Hari Bhakti Bagi Ibu Pertiwi pada tanggal 1 September 2005. Hadir dalam acara tersebut antara lain Gubernur Lemhannas Prof. Dr. Muladi, SH, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, KH Abdurrahman Wahid, Siswono Yudo Husodo, Gubernur DKI Sutiyoso. Kegiatan ini diharapkan dapat mempererat persatuan kita sebagai anak-anak bangsa dan menghilangkan segala bentuk ancaman disintegrasi, terutama dalam konteks sosial yang disebabkan oleh fanatisme kelompok yang berlebihan. Para pendukung fundamentalis di Indonesia gerah dengan kevokalan Anand Krishna.

 

Kesaksian Wartawan Senior Dalam Video

Di film tersebut kita dapat melihat kesaksian yang berani dan mengagetkan dari seorang wartawan senior yang mendengar banyak suara dari berbagai kalangan karena profesinya. Dia mengungkap mengapa Anand Krishna dikriminalisasikan. Bila dibunuh Anand Krishna akan menjadi martir dan pandangan kebangsaannya semakin berkembang. Oleh karena itu Anand Krishna perlu dibunuh karakternya dan dijebloskan ke penjara lewat rekayasa kasus, karena pihak-pihak yang mendukung fundamentalisme tak suka dengan gerakan integrasi nasional dan global harmoni. Disebutkan di film tersebut bahwa ada kelompok yang hendak mengganti dasar negara Pancasila.

 

Rekayasa Kasus Anand Krishna

Anand Krishna dituduh melakukan tindakan pelecehan seksual. Tuduhan tersebut tidak terbukti dan bahkan selama lebih dari 1 tahun sidang hanya terkait dengan 10% masalah utama tersebut. Sisanya berupa penghakiman pandangan Anand Krishna yang sebenarnya telah ditulis dalam 140-an buku yang dijual bebas di luar tanpa masalah. Materi pertanyaan hakim dan jaksa 90 persen sama sekali tidak berhubungan dengan pelecehan seks.

Dugaan pelecehan seksual  Anand Krishna diawali dengan munculnya kasus seorang terapis Dewi Yogo yang mengaku sudah memberikan terapi kepada Tara lebih dari 40 kali selama 3 bulan dan tidak ada kontak dengan dunia luar (dikarantina) hingga kemudian disimpulkan bahwa Tara mengalami pelecehan seksual. Sesuatu yang terasa ganjil, mengapa Tara baru mengaku mengalami pelecehan setelah diterapi? Pengacara Tara, Agung Mattauch pun mengaku, “Pelecehan hanya entry gate untuk persoalan yang lebih serius. Ini adalah penodaan agama.” Dalam sidang terbukti bahwa hakim dan jaksa mencecar Anand Krishna sekitar 90% khusus atas pandangan Anand Krishna dalam buku-bukunya, dan tidak fokus dalam masalah pelecehan itu sendiri.

Sejak pengadilan digelar Agustus 2010, tak ada satupun saksi yang menyaksikan terjadinya pelanggaran Pasal 290 KUHP. Kesaksian pelapor dan para saksi yang memberatkan selalu berubah-berubah dan berbeda antara yang tertera di BAP dan keterangan pelapor dan saksi di dalam ruang sidang. Pelapor Tara mengaku dalam ruang sidang bahwa tanggal 21 Maret 2009 adalah hari terjadinya dugaan pelecehan seksual yang terjadi di Ciawi. Pada hari yang dimaksud, Pak Anand berada di Sunter – Jakarta, karena memberikan ceramah di acara open house yang diadakan 2 minggu sekali.

Kemudian ternyata Hakim Ketua Sidang Pengadilan Hari Sasangka ketahuan berselingkuh dengan saksi yang memberatkan dan yang akhirnya dipindahkan ke luar Jawa sebagai hakim non-palu. Albertina Ho memanggil ulang semua saksi dan datang ke lokasi kejadian dan terungkaplah rekayasa kasus. Kemudian Anand Krishna divonis bebas pada tanggal 22 Nopember 2011.

Jaksa Martha Berliana mengajukan kasasi dan kemudian, 3 oknum Mahkamah Agung: Zaharuddin Utama (yang menyatakan Prita Mulyasari bersalah dan menghukum 6 bulan penjara, serta  menghukum Rasminah dalam kasus pencurian 6 piring dengan hukuman 130 hari penjara, diduga menerima suap Rp. 1.7 M kasus Misbakhun); Achmad Yamanie (yang terlibat pembatalan vonis hukuman mati pemilik pabrik ekstasi Henky Gunawan menjadi 15 tahun penjara melalui upaya PK dan yang membebaskan bandar narkotika jenis sabu-sabu Naga Sariawan Cipto Rimba alias Liong-liong dari hukuman 17 tahun menjadi hukuman bebas, dan dipecat karena pemalsuan vonis); dan Sofyan Sitompul mengabulkan kasasi Jaksa Penuntut Umum tersebut. Ketiga oknum Hakim Agung mengabaikan seluruh fakta persidangan yang dipimpin Albertina Ho yang memberi vonis bebas terhadap Anand Krishna.

Kejaksaan hanya mendasarkan pada hukum formal untuk menjebloskan Anand Krishna ke penjara dan sama sekali tidak melihat cacat hukum dalam prosesnya. Sebagaimana biasa, Kepala Negara hanya berpendapat tidak mencampuri urusan hukum. Bila hukum sudah diselewengkan maka tak ada cara lain, selain protes dan berbagi kesadaran agar tidak akan ada lagi warga negara yang “dianandkrishna”-kan. Demikian kira-kira harapan Humanitad si pembuat film.

 

Pesan Sacha Stone, Pendiri Humanitad

“Dalam sejarah Indonesia, Saudara kita yang terkasih, Anand Krishna, adalah putra Indonesia yang paling banyak mencurahkan seluruh hidupnya untuk melayani umat manusia, terutama dalam mempromosikan kerukunan lintas agama dan keyakinan, kedamaian dan keadilian sosial. Sangatlah ironis bahwa dia yang berjiwa indah dan penuh kasih ini sekarang menjadi korban kegagalan peradilan, dalam skala yang sangat tidak ada bandingnya di peradilan manapun di dunia demokrasi.” Humanitad adalah pembuat video “Anand Krishna: Last Man Standing”

Disusun oleh TW

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: