Konflik Antar Agama di Indonesia Sebagai Akibat Programming Sejak Kecil


buku iching-500x500

Melihat Kebenaran dari Satu Sisi

“Seorang anak kecil di bawah usia lima tahun memperoleh conditioning dari orang tua, mendapatkan programming dari masyarakat. Lalu, berdasarkan conditioning dan programming yang diperolehnya ia menjadi Hindu atau Muslim atau Kristen atau Katolik atau Buddhis, atau entah apa. Ia mulai melihat Kebenaran dari satu sisi, dan seumur hidup ia melihat Kebenaran dari satu sisi saja.” (Krishna, Anand. (2002). Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Moderen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Seluruh pertikaian, termasuk (mungkin harus dikatakan ‘lebih-lebih’) pertikaian berdasar agama terjadi hanya karena perbedaan conditioning itu. Kita lupa bahwa di balik kondisi-kondisi tersebut ada Langit Mahaluas yang tak terbagi oleh awan conditioning – Langit Kebenaran Yang Satu Adanya. Pertikaian terjadi karena kegagalan kita melihat Langit Kebenaran. Kita memperhatikan awan melulu. (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Program Kebenaran yang Diberikan Secara Repetitif Intensif Sejak Kecil

Seorang anak lahir membawa genetik bawaan dari orang tuanya, kemudian mendapatkan pengetahuan kebenaran dari orang tua, pendidikan dan lingkungan. Kebenaran dari anak tersebut adalah kebenaran menurut kerangka yang diberikan kepada dirinya. Beda negara, beda pendidikan, beda lingkungan akan menyebabkan perbedaan pemahaman kebenaran. Dengan pemahaman tersebut maka kita bisa mengapresiasi kebenaran sebagaimana yang dipahami oleh orang lain.

Seingat kami sewaktu tahun 60-an, saat kami masih Sekolah Dasar di Solo, perbedaan keyakinan tersebut tidak mempengaruhi pergaulan di masyarakat. Teman-teman kami ada yang orang tuanya berasal dari Muhammadiyah, NU, Katholik, Protestan, Kelenteng, Pangestu tetapi itu tidak mempengaruhi hubungan pergaulan. Pada waktu itu toleransi bersifat nyata, sesuai dengan budaya kita. Pertanyaannya, mengapa intoleransi semakin banyak terjadi di masyarakat masa kini? Apakah program kebenaraan yang diberikan lebih keras dibanding zaman dulu? Apakah anak-anak kita sudah dijejali program kebencian terhadap mereka yang berbeda keyakinan secara repetitif intensif?

Pengulangan secara repetitif intensif membuat sesuatu menjadi nyata. “Adolf Hitler menulis dalam otobiografinya bahwa jika kebohongan diulangi secara terus-menerus, maka pikiran manusia akan mempercayainya. Kebohongan pun diterimanya sebagai kebenaran. Pengulangan adalah metode hypnosis. Apa yang diulangi secara terus-menerus itu akan terukir pada dirimu. Inilah yang menyebabkan ilusi dalam hidup. (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual Hypnotherapy. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Contoh nyata dari pengulangan secara repetitif intensif yang berhasil adalah pemasangan iklan. “Industri periklanan sepenuhnya berlandaskan pengulangan. Para pemasang iklan mempercayai ilmu tersebut. Produsen rokok mengulangi terus menerus bahwa mereknyalah yang terbaik. Awalnya, barangkali Anda tidak percaya. Tetapi setelah diserang terus menerus dengan pengulangan, Anda akan luluh juga. Seberapa lama Anda dapat bertahan dan tidak mempercayai iklan yang membombardir mind Anda? Secara perlahan tapi pasti, anda mulai mempercayai iklan itu. Hitler: Adalah pengulangan yang membedakan kebenaran dari kepalsuan. (Sering kali) kepalsuan yang diulangi secara terus-menerus diterima sebagai kebenaran. Manusia bisa mempercayai apa saja. Ia bisa percaya pada kepalsuan. Ia bisa dibohongi dengan sangat mudah… ia dapat mempercayai apa saja yang diulangi secara terus-menerus!” (Krishna, Anand. (2012). Neo Spiritual Hypnotherapy. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kebebasan Beragama dalam UUD 45

UUD 45 pasal 28 dan 29 menjamin kebebasan beragama.

Pasal 28 E: Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal diwilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.Setiap orang atas kebebasan meyakini kepercayaannya, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.

Pasal 29: Negara berdasar atas ketuhanan Yang Maha Esa.Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Ayat-Ayat Yang Menghormati Keyakinan Lain

Pada zaman dahulu, belum zamannya komputer, akan tetapi para pemuka agama dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk menghormati keyakinan orang lain. Beberapa ayat di bawah ini pada saat ini sering diberi pengertian tambahan yang membuat kita kurang rasa toleransi terhadap keyakinan lain.

Sesungguhnya orang-orang mumin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Rabb mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 2:62)

Sesungguhnya orang-orang mumin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 5:69)

Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. (QS.5:48)

Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud. QS.3:113.

Bukan Masalah Agama tetapi Masalah Programming

“Masalah terbesar yang dihadapi oleh bangsa kita bukan masalah agama. Tetapi masalah conditioning, masalah programming. Dan, masalah ini pula yang dihadapi oleh setiap bangsa, oleh seluruh umat manusia. Kita sudah terkondisi, terprogram untuk mempercayai hal-hal tertentu. Padahal kepercayaan harus berkembang sesuai dengan kesadaran kita. Jika terjadi peningkatan kesadaran , maka kepercayaan pun harus ditingkatkan. Seorang anak kecil mempercayai ibunya. Menjelang usia remaja, ia mulai mempercayai para sahabatnya, pacarnya. Kalau sudah bekerja, ia akan mulai mempercayai rekan kerjanya. Bersama usia dan pengalaman hidup , kepercayaan dia pun berkembang terus. Ia bahkan mulai mempercayai berita di koran. Ia akan mempercayai siaran radio dan televisi. Kepercayaan yang berkembang terus ini sangat indah. Kepercayaan yang berkembang terus itu membuktikan bahwa kesadaran anda sedang meningkat. Sampai pada suatu ketika, anda akan mempercayai Keberadaan. Pada saat itu, kepercayaan anda baru bisa disebut “spiritual”…… (Krishna, Anand. (2002). Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Moderen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kepatuhan Buta terhadap Programming

“Kepatuhan buta terhadap programming dapat membuat manusia menjadi mesin, persis seperti robot, membuat kita menjadi komputer. Program yang diberikan dapat menentukan setiap tindakan, ucapan, pikiran, perasaan dalam diri kita. Komputerisasi umat manusia sudah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu. Mereka yang berkuasa, mereka yang menjadi pemimpin, mereka yang berada pada pucuk pemerintahan telah melakukan programming. Tentu saja, programming ini harus menguntungkan mereka, kita hidup dalam ketidaksadaran. Sepertinya dibawah pengaruh hipnotis massa. Tindakan, ucapan, pikiran bahkan perasaan kita pun sesuai dengan programming yang telah diberikan kepada kita.” (Krishna, Anand. (1998). Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Sejak lahir, kita berhadapan dengan kepercayaan. Bukan pendidikan tetapi kepercayaan. Bukan pula pendidikan tentang kepercayaan-kepercayaan tetapi dogma dan doktrin dengan salah satu kepercayaan yang sudah baku. Sudah tidak ada tawar menawar lagi. Sejak lahir, seorang anak sudah diberi cap agama tertentu. la tidak diberi kesempatan untuk memilih dan harus menerima apa yang sudah ditentukan oleh kedua orangtuanya baginya. Hak pilih kita sudah dirampas sejak kelahiran. Generasi Robot. Sudah di-set, di-program, dan dikendalikan oleh remote control yang berada di tangan masyarakat. Robot tidak membutuhkan rasa percaya diri. Cukuplah ia berserah diri pada pemegang kendalinya. Bahkan ia tidak memiliki kesadaran bahwa dirinya bergerak hanya bila digerakkan oleh sang pengendali. Kita hidup sebagai budak dari dogma, doktrin, kepercayaan, lembaga, institusi, atau kepentingan lain dari masyarakat tertentu. Kita tidak merdeka, belum merdeka. Kita tidak memahami arti kebebasan” ……. “Manusia tidak diciptakan atau tercipta untuk menjadi robot. la pun tidak lahir untuk menciptakan robot-robot manusia dan tidak berhak mengubah manusia menjadi robot yang dapat di-set dan di-program. Sebagian besar Generasi Robot bahkan tidak sadar bahwa kemanusiaan dalam diri mereka sudah mati. Kemanusiaan mereka sudah dirampas sejak lahir. Kita telah menjadi korban dari kepentingan-kepentingan pribadi orang tua kita yang seharusnya memfasilitasi untuk berkembang dan tidak mengerdilkan jiwa kita supaya mengikuti kehendak mereka. Celakanya, orangtua kita pun demikian. Mereka pun adalah korban dari sistem yang sama. Ujung-ujungnya bukan mereka pula yang memegang kendali tetapi sebuah sistem yaitu masyarakat bersama institusi-institusi buatannya yang memegang kendali. Dengan kondisi seperti ini, rasanya sulit membawa perubahan total, drastis, dan sekaligus bagi seluruh umat manusia.” (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bahaya Programming yang Memecah-belah NKRI

Kebiasaan menerima kebenaran instan tanpa diolah lebih dulu sangat berbahaya. “Kebiasaan menerima ‘kebenaran siap-saji’ dapat disalahgunakan oleh penguasa, oleh imam agama apa saja. Kemudian, manusia menjadi robot. Ia dapat ‘disetel’, dapat ‘diprogram’, dapat diarahkan untuk berbuat sesuai dengan program yang diberikan kepadanya……… Ini yang dilakukan oleh ‘para otak teroris’. Lewat lembaga-lembaga pendidikan agama yang mereka gelar di mana-mana, sesungguhnya mereka memprogram otak-otak yang masih segar, dan mematikan kemampuannya untuk ber-ijtihad. Kemudian, dengan sangat mudah mereka memasukkan program Jihad versi mereka’. Dan terciptalah sekian banyak pelaku bom bunuh diri yang siap membunuh siapa saja yang menurut programming mereka bertentangan dengan agama, dengan syariat, dengan apa yang mereka anggap satu-satunya kebenaran.” (Krishna, Anand. (2005). Dari Sari’at Menuju Mohabbat. Jakarta: One Earth Media)

Dari kecil, anak-anak kita diracuni dengan pandangan-pandangan yang mengkotak-kotakkan jiwa mereka, “Kau Muslim, kau Hindu, kau Buddhis, kau Kristen, kau Katolik – Kau Cina, kau Bombay, kau Melayu, kau Sunda – kau ini, kau itu.” Bibit perpecahan ini harus dimusnahkan dengan penuh kesadaran. Semoga semakin banyak anak-anak bangsa yang sadar. Disusun oleh TW.

2 Tanggapan

  1. Sebenarnya orang yang mempermasalahkan semua agama adalah orang yang picik dan kurang memahami indahnya Toleransi antar umat beragama..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: