Medan Perang Kurukshetra dalam Diri


kurukshetra 1 sumber www indianspiritualjourneys com

Ilustrasi Medan Perang Kurukshetra sumber: www indianspiritualjourneys com

Kejahatan dan Kebaikan dalam Diri

Pertempuran di medan perang Kurukshetra bukan hanya peristiwa historis yang terjadi sekitar tahun 3.000 SM, akan tetapi juga perang yang sedang berlangsung terjadi tiap hari, setiap hari dalam kehidupan kita. (Krishna, Anand. (2012). Musings on the Bhagavad Gita: From Confusion to Courage, Artikel dalam The Bali Times)

Pada Zaman Treta Yuga, masa terjadinya kisah Ramayana, kaum raksasa yang selalu ingin menang sendiri hidup terpisah dalam suatu kelompok, maka lebih gampang menjaga masyarakat yang baik, dan lebih mudah membasmi kelompok yang jahat. Pada Zaman Dvapara Yuga, mereka yang baik maupun yang jahat bercampur di tengah masyarakat. Untuk membasmi kejahatan, masyarakat perlu dipilah, ikut Koalisi Korawa atau ikut Koalisi Pandawa, dan setelah itu baru yang jahat dapat dimusnahkan. Pada masa kini, baik sifat jahat maupun sifat buruk ada dalam diri setiap manusia. Untuk membasmi kejahatan dengan cara lama, maka seluruh manusia akan ikut terbunuh. Dalam masa kini, kedamaian masyarakat akan sulit tercapai sebelum terjadi kedamaian dalam diri setiap manusia.

 

Wujud Kasar dan Wujud Halus dari Segala Sesuatu

Dalam Sandeha Nivarini, Sai Baba menyampaikan bahwa Sthula-rupa dan Sukshma-rupa, wujud kasar dan wujud halus, bukan hanya karakteristik pikiran saja. Wujud kasar dan wujud halus adalah karakteristik dari segala sesuatu, bahkan, semua nama dan rupa. Wujud kasar hanya untuk memahami wujud halus. Wujud halus dari matahari pun ada, tanpa wujud halus matahari, bagaimana bisa ada kemegahan, cahaya, kebijaksanaan dan penerangan dalam diri? Wujud halus langit adalah hati, wujud halus matahari adalah buddhi, intelegensia yang menerangi langit. Cahaya dari buddhi seterang cahaya matahari.  Wujud halus bulan adalah kasih. Sinarnya yang lembut menyenangkan langit hati.

Perang fisik antara Pandawa dan Korawa pun mempunyai “wujud halus” perang di dalam diri. Pandawa dan Korawa sedang melakukan “perang halus” setiap hari. Dalam wujud perang halus ini, kualitas jahat diwakili oleh Korawa sedangkan kualitas baik diwakili oleh Pandawa. Sathya, Dharma , Santhi, Prema dan Ahimsa adalah wujud halus dari Pandawa. Kualitas jahat amat banyak dan membentuk gerombolan adalah wujud halus dari Korawa. Mereka bertempur untuk menguasai kerajaan hati. Mereka adalah ajnani dan sujnani, karakter tidak bijaksana dan karakter bijaksana. Penguasa yang tidak bijaksana yang buta adalah Dhristarastra sedangkan Pandu adalah ayah dari karakter bijaksana. Jutaan emosi, pikiran dan perasaan adalah para prajurit. Panca indera adalah kereta perangnya. Wujud halus Sri Krishna adalah “saksi” yang dipahami sebagai atma. Dia adalah sais dari kereta jiwa.

Hastinapura adalah kota dari tulang-belulang, atau tubuh kita. Kota ini mempunyai 9 gerbang. Korawa dan Pandawa lahir dan berkembang di kota tersebut. Dalam diri kita, mereka saling waspada dan benci satu sama lain. Perang ini terjadi pada semua orang sampai saat ini. Mungkinkah perang ini berakhir? Mungkin, ketika manusia melampaui karakter baik dan buruk sehingga akan tercapai kedamaian.

 

Melampaui Ilusi atau Maya dengan Menemukan Jatidiri

Raja-raja penguasa mengobarkan perang karena mereka yakin dengan diri mereka. Ilusi atau maya adalah persoalan yang mendorong pribadi-pribadi untuk berperang. Ketika kita pause, berhenti sejenak dari ilusi, maka perang tidak akan berkobar. Bila kita dapat melepaskan diri dari ilusi atau maya, bila kita bisa melepaskan perasaan “aku” dan “milikku”, dan maka kita akan memperoleh kedamaian. Dengan menemukan Jatidiri maka ilusi atau maya terlampaui.

Berikut ini adalah artikel Bapak Anand Krishna “Nyanyian Ilahi 2” dalam situs http://www.aumkar.org

 

LAMPAUI KEGELISAHAN DENGAN MENEMUKAN JATIDIRI!

Krishna: Kau tidak berperang untuk memperebutkan kekuasaan; kau berperang demi keadilan, untuk menegakkan Kebajikan. Janganlah kau melemah di saat yang menentukan ini. Bangkitlah demi bangsa, negeri, dan Ibu Pertiwi.

Arjuna: Dan, untuk itu aku harus memerangi keluarga sendiri? Krishna, aku bingung, tunjukkan jalan kepadaku.

Krishna: Kau berbicara seperti seorang bijak, namun menangisi sesuatu yang tak patut kau tangisi. Seorang bijak sadar bahwa kelahiran dan kematian, dua-duanya tak langgeng.

Jiwa yang bersemayam dalam diri setiap insan, sesungguhnya tak pernah lahir dan tak pernah mati. Badan yang mengalami kelahiran dan kematian ibarat baju yang dapat kau tanggalkan sewaktu-waktu dan menggantinya dengan yang baru. Perubahan adalah Hukum Alam – tak patut kau tangisi.

Suka dan duka hanyalah perasaan sesaat, disebabkan oleh panca-inderamu sendiri ketika berhubungan dengan hal-hal di luar diri. Lampauilah perasaan yang tak langgeng itu.

Temukan Kebenaran Mutlak di balik segala pengalaman dan perasaan. Kebenaran Abadi, Langgeng dan Tak Termusnahkan. Segala yang lain diluar-Nya sesungguhnya tak ada – tak perlu kau risaukan. Temukan Kebenaran Abadi Itu, Dia Yang Tak Terbunuh dan Tak Membunuh. Dia Yang Tak Pernah Lahir dan Tak pernah Mati. Dia Yang Melampaui Segala dan Selalu Ada. Kau akan menyatu dengan-Nya, bila kau menemukan-Nya. Karena, sesungguhnya Ialah yang bersemayam di dalam dirimu, diriku, diri setiap insan. Maka, saat itu pula kau akan terbebaskan dari suka, duka, rasa gelisah dan bersalah. Kebenaran Abadi Yang Meliputi Alam Semesta, tak terbunuh oleh senjata seampuh apapun jua. Tak terbakar oleh api, tak terlarutkan oleh air, dan tidak menjadi kering karena angin.

Sementara itu, wujud-wujud yang terlihat olehmu muncul dan lenyap secara bergantian. “Keberadaan” muncul dari “Ketiadaan” dan lenyap kembali dalam “Ketiadaan”. Jiwa tak berubah dan tak pernah mati; hanyalah badan yang terus-menerus mengalami kelahiran dan kematian. Apa yang harus kau tangisi?

Badanmu lahir dalam keluarga para Satria, ia memiliki tugas untuk membela negara dan bangsa. Bila kau melarikan diri dari tanggungjawabmu, kelak sejarah akan menyebutmu pengecut. Bila kau gugur di medan perang, kau akan mati syuhda, namamu tercatat sebagai pahlawan. Dan, bila kau menang, rakyat ikut merayakan menangnya Kebajikan atas kebatilan. Sesungguhnya kau tak perlu memikirkan kemenangan dan kekalahan. Lakukan tugasmu dengan baik.

Berkaryalah demi kewajibanmu. Janganlah membiarkan pikiranmu bercabang, bulatkan tekadmu, dan dengan keteguhan hati, tentukan sendiri jalan apa yang terbaik bagi dirimu. Berkaryalah demi tugas dan kewajiban, bukan demi surga, apa lagi kenikmatan dunia. Janganlah kau merisaukan hasil akhir, tak perlu memikirkan kemenangan maupun kegagalan. Dengan jiwa seimbang, dan tak terikat pada pengalaman suka maupun duka, berkaryalah dengan penuh semangat! Bebaskan pikiranmu dari pengaruh luar; dari pendapat orang tentang dirimu, dan apa yang kau lakukan. Ikuti suara hatimu, nuranimu.

Arjuna: Bagaimana Krishna, bagaimana mendengarkan suara hati?

Krishna: Bebas dari segala macam keinginan dan pengaruh pikiran, kau akan mendengarkan dengan jelas suara hatimu – itulah Pencerahan! Saat itu, kau tak tergoyahkan lagi oleh pengalaman duka, dan tidak pula mengejar pengalaman suka. Rasa cemas dan amarah pun terlampaui seketika.

Ia yang tercerahkan tidak menjadi girang karena memperoleh sesuatu; tidak pula kecewa bila tidak memperolehnya. Dirinya selalu puas, dalam segala keadaan. Pengendalian Diri yang sampurna membuatnya tidak terpengaruh oleh pemicu-pemicu di luar. Ia senantiasa sadar akan Jati-Dirinya.

Keterlibatan panca-indera dengan pemicu-pemicu di luar menimbulkan kerinduan, kemudian muncul keinginan. Dan, bila keinginan tak terpenuhi, timbul rasa kecewa, amarah. Manusia tak mampu lagi membedakan tindakan yang tepat dari yang tidak tepat.

Seorang bijak yang tercerahkan terkendali panca-inderanya, maka ia dapat hidup di tengah keramaian dunia, dan tak terpicu oleh hal-hal diluar diri. Demikian dengan keseimbangan diri, ia menggapai kesadaran yang lebih tinggi. Jiwanya damai, dan ia pun memperoleh Kebahagiaan Kekal Sejati.

Pengendalian Diri menjernihkan pandangan manusia, ia menggapai kesempunaan hidup. Saat ajal tiba, tak ada lagi kekhawatiran baginya, ia menyatu kembali dengan Yang Maha Kuasa.

 

Situs artikel terkait

http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Desember 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: