Kecenderungan Manusia dan Hikmah Ramayana dalam Kehidupan Kita


ramayana-Trail

Ilustrasi Ramayana sumber: www ramdas org

Sifat Tenang-Satvika, Rajas-Agresif, Tamas-Malas-malasan

“Alam ini memiliki tiga sifat utama: sifat tenang, sifat agresif, dan sifat malas-malasan. Ketiga sifat inilah yang mengikat manusia dengan badannya. Di antara ketiga sifat tersebut, sifat pertama membawakan ketenangan, namun tetap mengikat manusia dengan cara menimbulkan keinginan untuk memperoleh kebahagiaan dan pengetahuan. Sifat kedua menimbulkan nafsu dan mengikat manusia dengan menimbulkan keinginan untuk bekerja. Sifat ketiga terciptakan oleh kebodohan dan membelenggu diri manusia dengan cara menimbulkan keterikatan pada tidur berkelebihan, keangkuhan, dan lain sebagainya. Sifat pertama mengikat manusia dengan kebahagiaan; sifat kedua dengan pekerjaan; dan sifat ketiga dengan ketidakpedulian.” (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) BG 14: 5-9

 

Melampaui Tiga Guna

Apakah Sri Rama merasa sangat menderita dalam kisah Ramayana? Jelas tidak. Ini adalah permainan, Leela Sri Rama. Apa yang dapat membahagiakanNya? Apa yang dapat membuatNya menderita? Dengan kehendakNya Dia menciptakan segalanya. Sri Rama melakukan peran dalam panggung sandiwara duniawi Ramayana untuk menunjukkan “Guna”, sifat utama manusia dan bagaimana melampauinya.

“Sifat pertama melahirkan kebijakan; sifat kedua ketamakan; sifat ketiga kesesatan, ketidakpedulian, dan kebodohan. Mereka yang memiliki sifat pertama mengalami perkembangan. Mereka yang memiliki sifat kedua berada di tengah-tengah. Mereka yang memiliki sifat ketiga hanya mengalami kemerosotan. Ia yang melihat ketiga sifat tersebut berasal dari alam dan menyadari bahwa ‘sang Aku’ melampaui sifat-sifat tersebut, akan menyatu dengan ‘Aku’. Ia yang btelah melampaui sifat-sifat ini terbebaskan dari segala macam duka yang disebabkan oleh kelahiran, kematian, kemusnahan, dan mencapai kesadaran ‘SangAku’ yang langgeng, abadi. Arjuna bertanya: Bagaimana ciri-ciri seseorang yang telah melampaui ketiga sifat tersebut? Bagaimana perilakunya dan bagaimana ia dapat melampaui sifat-sifat tersebut? Mohon dijelaskan Krishna. Krishna menjawab: Ia yang tidak membenci sesuatu, dan tidak pula merindukan sesuatu. Ia yang tetap teguh dan tidak tergoyahkan oleh sifat-sifat alami. Ia yang menganggap sama suka dan duka, emas dan batu, dan lain sebagainya. Ia yang tidak terpengaruh oleh cacian dan pujian dan sama terhadap kawan dan lawan. Ialah yang telah melampauiketiga sifat alam itu. Ia yang menjadikan hidupnya sebagai pengabdian dalam kasih dan untuk kasih – Ialah yang telah melampaui ketiga sifat alam dan layak untuk menyatu dengan ‘Sang Aku’. Ketahuilah bahwa ‘Akulah Yang Teringgi, Yang Langgeng dan Abadi’ dan tidak dapat dijelaskan, namun menyebabkan Kebahagiaan Sejati yang tak terbandingkan.” (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) BG 14: 17-27

 

Hikmah Ramayana

Dalam Sandeha Nivarini Sai Baba menyampaikan bahwa kita lahir di “maya”, dibesarkan di “maya”, dan misi manusia adalah untuk melampaui “maya”. Sifat utama manusia atau Guna tidak dapat diekspresikan tanpa adanya indera, oleh karena itu kita lahir dengan indera, dibesarkan dalam  indera, kita harus menguasai indera.

Ibarat layar bioskop. Kita bisa melihat gambar-gambar yang silih berganti di layar, dan itulah “maya” kita hidup dalam berbagai gambar di layar. Bagaimana pun semua gambar yang membuat kita merasa susah dan senang hanya bersifat sementara. Sementara ini, kita belum melampaui gambar-gambar yang sementara di layar untuk melihat layar berbingkai yang permanen.

Sri Rama, lahir sebagai putra Dasharatha, sepuluh kereta yang merupakan kereta-kereta dari indera serta organ-organ indera. Dasharatha adalah lambang dari diri kita. Ibu kita, atau tiga permaisuri Dasharatha mewakili ketiga Guna, sifat utama manusia. Kausalya adalah sathvaguna, sifat tenang. Kaikeyi adalah rajoguna, sifat agresif. Sedangkan Sumitra adalah Tamoguna, sifat bermalas-malasan. Kaikeyi yang agresif mudah terhasut Manthara, pembantunya, sehingga menginginkan Bharata, putranya untuk menggantikan Dasharatha, sebagai raja Ayodhya. Ketika Bharata pergi, sang ibu membersihkan jalan bagi putranya menuju tahta dengan cara mengusir Rama, Sita istri Rama, dan Lakshmana ke hutan. Dasharatha walau dengan penuh kesedihan terpaksa mengikuti kecenderungan agresif dari Kaikeyi.

Dalam rimba kehidupan, Jiwa atau Sita terperangkap oleh Ego, Rahwana. Untuk memperoleh kembali jiwa yang terperangkap oleh ego, maka Sri Rama, dalam perjalanan kegelisahan bertemu dengan kera kembar perkasa, Subali yang melambangkan keputusasaan dan saudaranya Sugriva yang melambangkan viveka, kemampuan memilah, diskriminasi. Dengan bantuan Hanuman atau Keberanian Sri Rama memilih Sugriva melenyapkan keputusasaan. Berapa banyak manusia yang kala menghadapi permasalahan yang berat, jatuh dalam keputusasaan dan menyerah? Dengan bantuan Sugriva, viveka, diskriminasi dan pasukannya yang penuh semangat, kekuatan dan ketabahan yang diwakili oleh Jambavan, Anggada dan para wanara lainnya serta rasa bhakti Hanuman, Sri Rama membuat Setubandha, jembatan untuk menyeberangi samudera ilusi atau maya. Setelah dapat menyeberangi maya, maka Sri Rama mengalahkan sifat Tamas yang dilambangkan oleh Kumbhakarna dan kemudian sifat Rajas yang diwakili oleh Rahwana. Dan, setelah itu Sri Rama menobatkan sifat Satvika, Vibhisana sebagai raja. Persatuan antara Sita dan Rama adalah Ananda, kebahagiaan abadi.

Ramayana terjadi dalam setiap orang, apakah orang tersebut masih dalam tahap tergoda oleh kijang kencana dunia, ataukah dia sedang menghadapi keputusasaan, mungkin juga dia sudah menjadi bhakta, panembah sudah bertemu Hanuman, sehingga sudah siap untuk menyeberangi samudera ilusi untuk mengalahkan sifat agresif, bermalas-malas dan berteman dengan kecenderungan yang tenang, seimbang. Demikian piawainya Resi Walmiki menguasai ilmu duniawi dan spiritual, sehingga bisa menggambarkan karakter para pelaku dengan sifat utama yang sesuai dengannya.

 

Mempraktekkan Pemahaman dalam Kehidupan Sehari-hari  

“Pengetahuan sedikit, asal dipraktekkan, diterjemahkan dalam hidup sehari-hari lewat karya nyata jauh lebih berharga daripada banyak pengetahuan yang ‘nganggur’, yang tidak dipraktekkan, tidak diterjemahkan dalam hidup sehari-hari. Jangan “mengoleksi pengetahuan”. Anda boleh menimbun ratusan, bahkan ribuan ‘ton’ pengetahuan. Apa gunanya? ‘Sekilo’ yang digunakan jauh lebih bermakna … Kepalamu, otakmu jangan dijadikan perpustakaan. Pengetahuan hendaknya dipraktekkan, tidak hanya ditimbun terus. Anda hanya membebani otak anda.” (Krishna, Anand. (1999). Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Pemahaman kisah Ramayana perlu dipraktekkan dalam keseharian. Menurut Sai Baba dalam Sandeha Nivarini, kita memiliki Veda, Sastra, Purana dan Ithihasa. Kita diberi nasehat untuk mengambil hikmahnya, mematuhi jalan yang diajarkan, mengumpulkan pengalaman, memahami makna dan pesan para bijak, mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, menganggap Paramatma sebagai Guru dan melakukan Sadhana dengan cinta yang tak tergoyahkan. Dia akan muncul memberikan petunjuk. Dia mungkin juga memberkati sebagai akibat dari praktek Sadhana, sehingga kita bisa bertemu Sadguru.

“Shankara sangat berhati-hati dalam hal penggunaan kata. Yang disebut obat mujarab untuk membebaskan diri dari penyakit ketidaksadaran bukanlah ‘Kesadaran akan Sang Aku Sejati’, tetapi ‘senantiasa memelihara kesadaran akan Sang Aku Sejati’. Bahkan istilah Sanskerta yang digunakan adalah Nirantara Abhyastaa. Nirantara berarti senantiasa, setiap saat—continuously, without a break. Dan Abhyastaa bukan semata-mata ‘memelihara’, tetapi juga ‘melakoni’, mempraktekkan. ‘Kesadaran akan Sang Aku Sejati’ mudah diperoleh. Siapa saja bisa memperolehnya. Yang sulit adalah ‘pemeliharaan’ kesadaran itu. Lebih sulit lagi, ‘melakoninya’ di dalam hidup sehari-hari. But if you succed to do that, bila Anda berhasil memelihara dan melakoninya, maka: Terbebaskanlah dirimu dari ketidaksadaran, dari kegelisahan, dari kecemasan, dari kebingungan, kebimbangan dan keraguan yang disebabkan oleh ketidaksadaran.” (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Desember 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: