Seks? Mencintai Gusti Pangeran Melampaui Seks? Kisah Para Brahmachari dalam Ramayana

hanuman lakshamana Rama Sita sumber devotionalimages blogspot com

Ilustrasi Hanuman dan Lakshmana bersama Rama dan Sita sumber: devotionalimages blogspot com

Brahmacharya atau Hidup dalam Kesadaran Tuhan

Brahmacharya biasanya diterjemahkan sebagai hidup selibat. Ada juga yang menterjemahkannya sebagai ‘tidak memanjakan indera-indera kenikmatan’.  Definisi ini mungkin lebih cocok untuk para pendeta dan pertapa peminta-minta. Namun Brahmacharya bukanlah hanya dimaksudkan untuk mereka saja. Siapapun bisa melakukannya. Seharusnya malah semua orang melakukannya. Brahma sering diterjemahkan sebagai Tuhan, walaupun sesungguhnya maksudnya adalah aham sejati, ‘diri’ sejati. Acharya adalah ‘orang yang melakukannya’, para praktisioner. Karenanya Brahmacharya mengacu pada penerapan ketuhanan dalam kehidupan. Brahmacarya berarti hidup dalam kesadaran Tuhan. Tidak masalah apakan anda sudah mengambil sumpah selibat atau tidak, satu yang sudah jelas. Anda tidak bisa lagi terlalu bermanja-manja dengan kenikmatan duniawi. Kenikmatan semacam itu jadi tidak berarti saat anda mencapai kenikmatan kesadaran tinggi yang lebih tinggi.” (Krishna, Anand. (2009). One Earth One Sky One Humankind, Celebration of Unity of Diversity. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dikisahkan bahwa sebenarnya Sri Rama, Gusti yang mewujud di dunia bisa bersabda, “Rahwana kau mati, Sita kau kembali!” dan kisah Ramayana akan selesai begitu singkat. Para Guru Suci mengatakan bahwa Ramayana merupakan sebuah drama untuk menunjukkan kepada dunia adanya pengabdian Hanuman. Secara fisik dia berwujud kera, akan tetapi berkat pengabdian dan dedikasinya kepada Sri Rama dan misi Sri Rama maka ia diteladani sebagai bhakta tulen, seorang panembah sejati.

Sewaktu bertemu Rama, Sugriva menunjukkan beberapa perhiasan wanita yang dijatuhkan untuk memberi tanda ke arah mana dia dibawa terbang Rahwana. Rama melihat gelang, kalung dan anting-anting dan yakin bahwa itu adalah milik Sita. Lakshmana diminta Rama melihatnya dan Lakshmana hanya mengenali gelang kaki Sita. Ketika ditanya Rama, Lakshmana menjawab bahwa selama ini dia hanya melihat kaki Sita. Yang dipikirkan hanyalah Rama dan dia sangat menghormati Rama dan istrinya. Rama sangat berbahagia mendengar jawaban Lakshmana. Ekagrata, one-pointedness yang pantas diteladani manusia dari Lakshmana.

 

Hanuman, Bhakta Sri Rama

“Bhagavad Gita menjelaskan bahwa seorang Bhakta, seorang Pengabdi atau Pecinta Allah selalu sama dalam keadaan suka maupun duka. Keseimbangan dirinya tak tergoyahkan oleh pengalaman-pengalaman hidup. Ilmu apa yang dikuasai oleh seorang Bhakta sehingga ia tidak terombang-ambing oleh gelombang suka dan duka? Temyata, ilmu matematika yang sangat sederhana. Seluruh kesadaran seorang Bhakta terpusatkan kepada la yang dicintainya. Kesadaran dia tidak bercabang. la telah mencapai keadaan Onepointedness – Ekagrataa. One, Eka – Satu…. la sudah melampaui dualitas. la telah menyatu dengan Hyang dicintainya. la telah menyatu dengan Cinta itu sendiri. Pecinta, Hyang dicintai, dan Cinta – tiga-tiganya telah melebur dan menjadi satu.” (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

Pada saat awal bertemu Sri Rama dan Lakshmana, Hanuman melihat aura yang terpancar dari mereka berdua yang membuatnya terpesona. Hanuman bertanya, “Apakah Paduka penyebab utama dari dunia ini yang mewujud sebagai manusia untuk menjembatani antara duniawi dan ilahi?” Rama dan Lakshmana kemudian membuka jatidiri mereka. Hanuman segera bersujud kepada Sri Rama dan berkata, “Paduka, meskipun hamba banyak kesalahan mohon pelayan ini tidak dibuang dan dilupakan oleh Paduka!” Setelah itu Hanuman hanya berfokus pada Sri Rama, yang dipikir Hanuman hanya Sri Rama dan tidak terlintas sedikitpun pikiran tentang seks.

 

Kalung Sita

Dalam buku (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) disampaikan sebuah legenda tentang kepulangan Sri Rama dan Sita ke Ayodhya. Ibu Sita memberikan hadiah kalung permata kepada Hanuman. Hanuman langsung menggigit batu-batu permata tersebut. Lakshmana naik pitam dan bertanya mengapa Hanuman tidak menghargai hadiah dari Ibu Sita? Hanuman menjawab bahwa dia sedang mencoba membaui aroma Sri Rama dalam batu-batu permata tersebut. Sri Rama mendekat dan bertanya apakah Hanuman menemukan aroma Sri Rama dalam batu-batu permata tersebut? Hanuman mengatakan bahwa aroma Sri Rama tidak terdapat dalam batu-batu permata tersebut.

Lakshmana berang dan bertanya bahwa apakah Hanuman berpikir bahwa kalung pemberian Ibu Sita itu tidak ada harganya karena tidak ada aroma Sri Rama? Hanuman menjawab bahkan tubuhnya pun tidak berharga bila tidak memiliki aroma Sri Rama. Rama kemudian memberikan perintah agar Hanuman menunjukkan bahwa tubuhnya beraroma Sri Rama. Hanuman segera menyobek dadanya sendiri dan tepat di tengah-tengah dadanya terdapat gambar Sri Rama dan aroma kasturi kesukaan Sri Rama tersebar ke seluruh penjuru.

 

Lakshmana, Membhaktikan Hidupnya bagi Sri Rama

“Bagi seorang sanyasi, Brahmacharya adalah langkah awal. Tanpa pengendalian diri seorang sanyasi tidak mampu menjalankan perannya sebagai pengabdi, sebagai pelayan. Dan jika ia tidak mampu melayani tanpa pilih kasih, tidak mampu mengabdi tanpa pamrih, untuk apa menjadi sanyasi? Jika Anda ingin tetap menjalankan brahmacharya, sebaiknya menyisihkan setidaknya 2 x 45 menit setiap hari untuk latihan yoga asana  yang dapat membantu Anda mengendalikan keinginan seks. Selain itu pola makan pun mesti diperbaiki. Pure vegetarian diet, puasa sekali atau dua kali setiap minggu, dan menghindari karbohidrat yang berlebihan, semua itu akan membantu Anda. Bacaan Anda, tontonan Anda, semuanya mesti diatur kembali supaya menunjang kehidupan Anda sebagai brahmachari. Mereka yang tidak memperoleh pelajaran brahmacharya di usia dini memang harus bekerja lebih keras. Tapi Anda bisa. Anda pasti berhasil. Fokus!” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Meskipun dikisahkan sebagai Grhastha, perumahtangga, Lakshmana adalah seorang Brahmachari ideal. Selama 14 tahun mendampingi Sri Rama, yang terpikirkan oleh Lakshmana hanyalah Sri Rama dan misi Sri Rama. Rama berkata bahwa Meghanada putra Rahwana adalah Komandan Raksasa yang tak terkalahkan di tiga dunia, bahkan Indra pun dikalahkan sehingga dia dikenal sebagai Indrajit. Hanya Lakshmana yang dapat mengalahkan Indrajit yang dapat menghilang dan mempunyai ilmu sihir. Dan kemenangan itu diperoleh karena kemurnian Lakshmana.

 

Diuji Sri Rama

“Walaupun tidak kawin, jika seseorang memikirkan seks melulu, maka energinya sudah pasti tersedot ke bawah. Sama saja. Jadi urusannya bukanlah kawin atau tidak kawin, urusannya adalah ‘seks secara berlebihan’, termasuk ‘memikirkan’ seks melulu. Mengapa saya mesti menjelaskan hal ini secara panjang lebar? Karena sebagai sanyasi Anda mesti memahami fenomena ini. Jangan sampai merasa sudah ‘beres’ hanya karena membujang. Paramhansa Yogananda mengingatkan bahwa sperma yang keluar dalam satu kali ejakulasi adalah sepadan dengan satu quart darah (kurang lebih 0.94 liter, hampir 1 liter). Lalu bagaimana jika tidak terjadi ejakulasi? Bagimana jika seorang hanya memikirkan seks saja? Energinya tetap tersedot ke bawah. Paramhansa Yogananda mewanti-wanti kaum pria. Karena alasan itu (berkurangnya darah setiap kali ejakulasi), dan keinginan seks seorang pria yang memang lebih kuat, maka perjalanan spiritual baginya tidak semudah bagi seorang perempuan.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Ada suatu kisah yang disampaikan seorang Guru bahwa pada suatu hari Sri Rama menguji Lakshmana. Sita sedang tidur di pangkuan Sri Rama dan dia membisiki Lakshmana untuk menggantikannya karena dia mempunyai kepentingan mendesak dan tidak ingin membangunkan Sita. Lakshmana patuh dan membiarkan Sita tidur di pangkuannya. Setelah pergi Sri Rama segera datang kembali mewujud sebagai burung beo dan memperhatikan tingkah laku Lakshmana.

Lakshmana yang berdekatan dengan seorang wanita jelita tercantik di dunia ternyata menutup mata dan membaca japa, Sumitra… Sumitra… Sumitra. Rupanya Lakshmana membayangkan bahwa yang tidur di pangkuannya adalah Sumitra, ibunya.

 

Brahmacharya

Brahmachari berarti ia yang Berperilaku seperti Brahma atau Pencipta. Perhatikan ciptaannya, tidak ada sesuatu yang terulang. Dua helai daun dari satu pohon yang sama pun tidak persis sama. Penciptaan, pemeliharaan, Dan Pemusnahan sekaligus pendauran-ulang menurut para bijak di masa lalu, terjadi karena percikan-percikan kekuasaan Gusti Pangeran. Gusti Pangeran, Tuhan, atau apa pun sebutannya, berada jauh di atas semua itu. Penciptaan dan segala sesuatu yang lain terjadi atas kehendakNya. Ia tidak perlu turun tangan sendiri untuk menciptakan seorang anak manusia. Segalanya terjadi atas kehendakNya. Sebab itu remaja yang mengolah dirinya disebut Brahmachari berperilaku seperti Brahma atau sang pencipta. Kemudian gelar yang diperolehnya juga sudah tepat: Srajanahaar, sang pencipta—ia ibarat cahaya atau sinar matahari yang tengah berbagi kehidupan dengan sesama makhluk hidup.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Selama enam tahun pertama seorang anak belajar menggunakan fisiknya, inderanya, menggerakkan otot-ototnya, menyesuaikan setiap gerakan dengan keinginannya. Awalnya ia mesti diajari supaya tidak ngompol dan buang air di toilet, di tempat yang sudah tersedia untuk keperluan itu. Itulah pelajaran awal pengendalian diri. Pengendalian fisik, indra, dan gerakan otot adalah proses pembelajaran awal menuju brahmacharya. Jadi brahmacharya bukan sesuatu yang aneh, kuno, kolot, atau terkait dengan salau satu kepercayaan. Brahmacharya adalah bagian dari kehidupan manusia. Tanpa pengendalian diri, sulit membedakan manusia dari hewan. Selama enam tahun pertama ini, seorang anak belum bisa mengendalikan emosinya. Jika mau menangis, ia akan menangis. Ia tidak memperhatikan waktu dan tempat. Mau berteriak, berteriak saja. Mau tertawa, tertawa saja.

“Ia mulai belajar mengendalikan emosinya dalam masa enam tahun berikutnya. Masa inilah yang biasa disebut golden years, di mana lapisan-lapisan mental/emosionalnya mulai berkembang. Ia terinspirasi oleh cerita-cerita yang didengarnya, dibacanya; oleh acara-acara di televisi; oleh pelajaran di sekolah; oleh keadaan di rumah, di lingkungan sekitarnya; dan oleh pergaulannya. Demikianlah mulai terbentuk karakter seorang anak, berdasarkan faktor-faktor di atas, mana yang lebih dominan. Kekacauan yang terjadi saat ini, banyak pejabat tinggi yang semestinya melayani masyarakat malah menyusahkan masyarakat, para pengusaha nakal yang tidak peduli dengan keadaan bangsa dan Negara, para profesional yang lupa kode etik profesinya, semuanya disebabkan oleh pendidikan yang salah selama 12 tahun awal.

“Selanjutnya, padas usia 13 tahun ke atas ketika ia memasuki usia puber, ia mulai memberontak. Ia ingin mencoba segala hal yang baru. Ia ingin menguji kekuatan mental, emosional, dan kehendaknya. Jika dilarang melakukan sesuatu, ia malah tertantang untuk mencobanya. Banyak perokok berat mulai merokok pada usia ini. Demikian pula korban alcohol. Sebab itu, amat penting sebelum memasuki usia puber seorang anak belajar untuk mengendalikan emosi dan pikirannya. Jika hal itu tidak terjadi, usia puber hanyalah pertanda bencana.

“Kemudian, sekitar usia 19 tahun seorang remaja menentukan sendiri jalur hidupnya. Ia tidak mau diintervensi. Lagi-lagi, tanpa pengedalian diri, dan tanpa arahan yang tepat, seorang remaja tumbuh menjadi orang dewasa yang tidak bertanggung jawab, dan hanya mementingkan diri.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Diilhami oleh Buku Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual.

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10151382463028899&set=a.10150718394503899.454510.382009333898&type=1&theater

 

Situs artikel terkait

http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Januari 2014

Iklan

Seks? Melampaui Insting Seks? Kisah Resi Suka putra Vyasa, Guru Parikshit

sukadeva menyampaikan Srimad Bhagavatam sumber www harekrsna com

Ilustrasi Sukadeva menyampaikan Srimad Bhagavatam sumber www harekrsna com

Senggama dengan Semesta

“Seks sebagaimana dipahami dan dilakukan saat ini hanya memboroskan energi. Kenikmatan yang dirasakan hanya bertahan beberapa saat saja. Tidak lama kemudian, Anda lapar lagi, haus lagi, mencari lagi. Dan ketika ketertarikan terhadap pasangan Anda memudar, Anda mengejar pemicu baru. Seks tidak pernah memuaskan. Entah dengan predikat Tantra, atau polos tanpa predikat, tanpa atribut, tanpa dupa dan lilin. Kembali pada seks yang tidak pernah memuaskan. Alasannya seks tidak memenuhi kebutuhan jiwa. Jiwa membutuhkan senggama agung dengan semesta, bukan passion, bukan birahi, tetapi compassion, kasih.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dalam bahasa Sansekerta burung beo juga dikenal sebagai burung Suka. Ketika buah yang sudah masak dipotong oleh paruh burung Suka, rasa manis ditingkatkan. Demikian pula buah Veda yang sudah matang yang keluar dari ‘paruh’ Sukadeva bertambah manis. Seperti burung Suka yang menambah manis buah yang masak, maka Sukadeva mempunyai kemampuan untuk menyajikan  Srimad Bhagavatam lebih menarik daripada yang dituturkan oleh Resi Vyasa. Dikatakan Sukadeva putra Vyasa berfokus pada pelayanan dan sudah melampaui insting seks.

 

Kelahiran Sukadeva

Srimad Bhagavatam dibawa oleh Resi Narada diberikan kepada Resi Vyasa. Resi Vyasa menyampaikannya kepada Sukadeva, putranya. Sukadeva menyampaikan kepada Raja Parikshit seminggu sebelum sang raja meninggal dunia. Sukadeva sudah bebas dari segala keterikatan sejak dalam rahim ibunya. Dia tidak mengalaami pelatihan setelah kelahirannya. Sebagai jiwa sempurna, Sukadeva tidak perlu menjalani evolusi spiritual. Sukadeva telah menyampaikan Srimad Bhagavatam bagi jiwa-jiwa yang mendambakan kebebasan dari segala keterikatan.

Dikisahkan bahwa Shiva sedang menyampaikan Srimad Bhagavatam kepada Parvati. Dan, Parvati sendiri tidak begitu perhatian dan bahkan mulai tertidur. Seekor burung beo yang berada di dekat Shiva mendengarkan dengan penuh seksama. Shiva sadar Parvati belum fokus mendengarkannya dan hanya burung kakatua yang mendengarkan dengan penuh seksama. Shiva cemas burung beo tersebut hanya menghapalnya tanpa makna yang seakan-akan mengejek dirinya. Oleh karena itu Shiva mengejar sang burung untuk mengakhiri hidupnya. Sang burung ketakutan dan segera terbang dikejar Shiva. Sang burung terbang ke Ashram Vyasa dan masuk ke mulut Vatika istri Vyasa. Selama enam belas tahun burung beo tersebut tinggal dalam rahim Vatika sebelum lahir dengan nama Sukadeva.

 

 

Vyasa, Ayahanda Sukadeva Masih Membedakan Jenis Kelamin

Sukadeva sudah tidak mempunyai pikiran tentang seks. Sukadeva tidak menikah dan mengembara dengan bertelanjang bulat. Pada suatu saat ayahnya, Resi Vyasa penulis Mahabharata dan Srimad Bhagavatam mengejar Suka yang berjalan di tepi kolam yang banyak gadis sedang mandi tanpa memakai baju. Saat Vyasa akan lewat, para gadis segera terburu-buru memakai baju dan ini membuat heran Vyasa.

“Aku sudah tua, sudah tidak layak melakukan seks dan juga mengenakan pakaian resi. Mengapa kalian cemas dan buru-buru memakai baju? Mengapa kalian tenang saja bertelanjang saat Suka lewat?”

Para gadis menjawab, “Wahai Bapa Resi yang terhormat, Suka putra Bapa tidak tahu mana pria dan mana wanita, sedangkan Bapa Resi tetap membedakan jenis kelamin antara pria atau wanita. Kami dapat merasakannya!”

 

Insting Seksual

“Seks adalah insting dasar kedua setelah pertahanan diri. Sebab itu, sekali-kali jika merasa tergoda, tidak perlu menyalahkan diri. Tidak perlu menghakimi atau menghukum diri. Sifat dari godaan itu mesti dipahami dan tidak ditindaklanjuti menjadi suatu kegiatan, itu saja. Intinya: Sadarilah godaan itu sebagai godaan, dan biarkanlah lewat dengan sendirinya. Jangan diteruskan menjadi suatu kegiatan. Saat merasa tergoda, Anda mesti bersikap tenang, pindahkan fokus Anda pada Tuhan, pada tujuan Anda menjadi seorang sanyasi. Maka, tidak lama kemudian, energi yang menggoda itu, energi yang hendak menyeret kesadaran Anda ke bawah itu, akan berpindah haluan dan mengalir ke atas lagi.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Svami Sivananda menulis yang terjemahan bebasnya, “ Anda mungkin menjadi tua, rambut Anda berubah abu-abu, tetapi pikiran Anda masih berkaitan dengan seks. Mungkin Anda sudah tidak mempunyai kemampuan berhubungan seks karena telah mendekati pikun, akan tetapi pikiran belum lepas dari seks. Mengidamkan seks adalah benih nyata untuk lahir kembali.”

“Bahkan seorang pria buta yang tidak kawin dan belum melihat wajah seorang wanita pun mempunyai dorongan seksual yang kuat. Mengapa? Hal ini disebabkan karena kekuatan samskara atau impresi kelahiran sebelumnya yang tertanam dalam pikiran bawah sadar. Apa pun yang Anda pikir, Anda lakukan semuanya dicetak atau tak terhapuskan impresinya dalam pikiran bawah sadar. Impresi ini hanya dapat dibakar atau dilenyapkan oleh fajar kesadaran Atman atau Diri Agung.”

“Dari dasar samskara, impresi kelahiran sebelumnya dan vasana, kecenderungan perilaku dalam pikiran muncul kalpana, imaginasi melalui Smriti atau memori. Kemudian datang keterikatan. Seiring dengan imaginasi muncul emosi dan dorongan. Kemudian datang iritasi seksual – craving and burning, keinginan kuat dan gelora api dalam pikiran dan seluruh tubuh. Seperti bahan bakar atau uap yang menggerakkan mesin, insting dan dorongan menggerakkan tubuh ini. Insting adalah penggerak utama dari semua kegiatan manusia. Mereka memberikan dorongan bagi tubuh dan menggerakkan indra untuk bertindak. Insting menciptakan kebiasaan. Dorongan insting memasok energi penggerak kegiatan mental. Mereka membentuk kehidupan manusia.”

 

Seks, Kebutuhan Dasar  Manusia atau Kebutuhan Dasar Raga Manusia?

“Para psikologi menyimpulkan bahwa makan, minum, tidur dan seks adalah kebutuhan-kebutuhan dasar manusia. Empat hal itu disebut basic instincts. Para yogi, para resi, para pujangga berpendirian: ‘Tidak, itu bukanlah kebutuhan dasar ‘manusia’. Itu merupakan kebutuhan dasar raga manusia, fisik manusia, badan manusia. Dan, sesungguhnya bukan saja manusia – itu merupakan kebutuhan dasar fisik semua makhluk hidup.’ Aku merenungkan kata-kata itu. Aku bertanya kepada diri sendiri: ‘Apakah aku dapat hidup dengan makan, minum, tidur dan seks saja?’ Kudengar jawabannya dari seorang pujangga dari Timur Tengah yang pernah berkunjung ke wilayah kita, Isa Sang Masiha: ‘Tidak…… Sekedar roti saja tidak cukup. Manusia membutuhkan sesuatu yang lain demi keberlangsungan hidupnya.’ Banyak roti, banyak gandum di gudang Paman Sam. Adakah semua itu membahagiakan dirinya? Seorang Osama dapat mengganggu dan merusak kebahagiaannya dengan begitu mudah. ‘Apa arti harta yang kau timbun, jika kau kehilangan jiwamu?’ Seorang Penyair bertanya lewat syairnya. Kehilangan jiwa? Apakah kita sudah memiliki Kesadaran Jiwa, sehingga dapat merasakan hilangnya jiwa – atau hilangnya kesadaran itu? Siapakah aku? Untuk apa aku berada di dunia ini? Aku datang dari mana? Mau pergi ke mana? Jika pertanyaan-pertanyaan semacam ini belum jua menghantui kita – maka jelas kesadaran kita masih berada pada tingkat yang paling rendah. Pada tingkat dimana makan, minum, tidur dan seks adalah kebenaran. Dan, tidak ada kebenaran lain di luar itu.” (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

 

Platonic Love  Antara Suami-Istri

Sukadeva melayani Tuhan dengan segenap jiwa dan raga sejak lahir. Hanuman, Lakshmana, Bhisma memutuskan tidak kawin agar lebih terfokus pada pelayanan. Mungkinkah seorang Grhastha, perumah-tangga melayani Tuhan dengan segenap jiwa dan raga?

“Sanyas bukanlah pilihan hidup untuk semua orang. Sanyas adalah pilihan hidup buat mereka yang betul-betul sudah memutuskan untuk melayani Tuhan dengan segenap jiwa dan raga. Untuk melayani Tuhan yang bersemayam dalam tiap diri setiap makhluk. Buat mayoritas, jalan hidup ‘beranak cucu dan bertambah’ itulah yang tepat. Itulah pola hidup, jalan hidup, buat mayoritas. Sesungguhnya mayoritas tidak bisa tidak menjalani hidup demikian. Alam mendorong mereka untuk beranakcucu dan bertambah. Kemudian bersama-sama pula Anda dapat mengurangi frekuensi hubungan seks, dan lebih banyak menggunakan energy Anda untuk hal-hal yang bernilai lebih tinggi. Inilah yang disebut Platonic Love. Sekarang platonic love diartikan sebagai hubungan cinta yang tidak melibatkan fisik. Tidak demikian. Plato tidak mengatakan demikian. Plato tidak menyarankan agar nafsu birahi ditekan atau dikekang. Ia menyarankan pengendalian diri secara berangsur, secara perlahan, tetapi pasti, hingga suatu ketika hubungan seks tidak memiliki arti lagi. Anda tidak menginginkannya lagi.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Situs artikel terkait

http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

http://www.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Januari 2014