Interfaith: A Live in experience!

“Kita tidak bisa menerima ‘apa adanya’. Kita selalu membandingkan dengan ‘apa yang sudah ada’ dalam referensi kita. Kesalahpahaman, pertikaian dan perang antar agama semuanya terjadi karena itu. Yang memiliki referensi Yesus akan membandingkan kehidupan dan perilaku Muhammad dengan Yesus. Sudah jelas, tidak cocok. Muhammad adalah Muhammad, Yesus adalah Yesus. Begitu pula mereka yang memiliki referensi Veda, lalu membandingkannya dengan Dhammapada atau sebaliknya. Subconscious mind membuat kita kehilangan kemampuan untuk melihat sesuatu sebagaimana adanya.” (Krishna, Anand. (2001). Medis dan Meditasi, Dialog Anand Krishna dengan Dr. B. Setiawan.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Toleransi beragama dan kesetaraan muncul dari sebuah “pemahaman jiwa” bahwa kita ini “pada dasarnya” satu. Tanpa adanya “pemahaman jiwa” ini, toleransi beragama dan persamaan hanya akan menjadi utopia, hanya gagasan belaka.

Cobalah “Interfaith, a Life in Experience” 16-18 Mei 2014 di One Earth Retret Ciawi.

 

Flyer-Blue-1

Berbagi Cinta, Peduli Warga Korban Banjir di Kabupaten Pati Bumi Minatani

Reporter Danar Wijayanto

Foto teman-teman Joglosemar

7 duduk hening memperhatikan nafas perut sebelum therapy for free anxiety

Kecamatan Juwana merupakan salah satu dari 21 kecamatan di Kabupaten Pati (Bumi Minatani) yang paling parah menderita banjir pada bulan Januari 2014.

 

Yayasan Anand Ashram bersama Apotik Srikandi Babarsari Jogja dan Puskesmas Juwana

pada hari Minggu 16 Februari 2014 melakukan kegiatan PPSTK (Pusat Pemulihan Stress dan Trauma Keliling) di Desa Growong Lor, Kecamatan Juwana yang berjarak lebih kurang 15 km sebelah timur kota Pati. PPSTK merupakan wadah pelayanan kesehatan baik fisik maupun mental bagi warga korban bencana alam. Berawal dari pelayanan warga korban gempa Bantul 2006, PPSTK merupakan salah satu bentuk pelayanan masyarakat dari Yayasan Anand Ashram dengan melakukan Pelayanan Medis, Terapi untuk Menghilangkan Kecemasan (TherFA – Therapy for Free Anxiety), Terapi Ceria pada Anak dan Terapi Relaksasi bagi warga korban bencana.

 

Menurut seorang petugas BABINSA, Bintara Pembina Desa, Bapak Solikul Hadi yang ikut memantau banjir di Kecamatan Juwana hanya ada 2 desa yang benar-benar tidak terkena dampak banjir Januari tahun 2014. Banjir bulan Januari 2014 adalah banjir paling parah, jalan di muka Balai Desa terendam banjir sehingga batas jalan dan saluran pembuangan besar di tepi jalan tidak nampak, bahkan ruang PAUD terendam hingga 20 cm. Rumah warga terendam sekitar 1 betis orang dewasa. Banjir terjadi kurang lebih dua minggu, merupakan banjir terlama dan terparah dalam 50 tahun ini.

 

 

Tim PPSTK berangkat dari Jogja Sabtu 15 Februari 2014 pukul 8 pagi dan berjalan dengan kecepatan rendah melewati jalan penuh abu gunung Kelud dengan pandangan mata yang terbatas Jogja-Solo menuju Purwodadi. Setelah pertigaan Waduk Kedungombo, debu sudah menipis akan tetapi ganti kondisi jalan yang termasuk parah sehingga kendaraan tetap berjalan pelan. Sampai daerah Sukolilo sekitar 20 km dari Pati jalan kabupaten sudah lumayan baik akan tetapi kendaraan tetap berjalan pelan sekali karena terhambat rombongan acara haul warga setempat. Sampai Pati disambut hujan deras dan kemudian sekitar pukul 4 sore beberapa teman melakukan survey ke lokasi. Masuk lokasi dipandu Pak Lurah yang naik sepeda motor dan kendaraan melewati jalan kampung sempit yang terendam air sepanjang beberapa ratus meter dengan kedalaman sekitar 30 cm.

 

Acara PPSTK pada hari Minggu 16 Februari dimulai pukul 8 pagi hingga pukul 12 siang memperoleh sambutan hangat dari warga sekitar.

 

Tercatat ada 119 warga memperoleh pelayanan medis oleh Dr. Djoko selaku Koordinator PPSTK, dibantu 2 orang petugas Puskesmas setempat yang telah mengenal warga dan pemberian obat oleh Sister Rina, anggota tim PPSTK yang tinggal di Pati. Pelayanan yang dilakukan di Balai Desa dipenuhi warga yang duduk menunggu panggilan untuk dicheck tekanan darahnya oleh petugas Puskesmas setempat dan Dokter PPSTK Djoko Pramono yang asli kelahiran Pati.

 

Terapi Relaksasi dengan koordinator Sister Rahma melakukan terapi terhadap 44 warga. Sebelum Terapi CeriaAnak-anak selesai Sister Rahma dan Bu Rosita tak sempat beristirahat karena banyaknya warga perempuan yang antri minta diterapi. Warga berterima kasih usai merasakan manfaat terapi dan beberapa memanggil keluarganya agar ikut mencicipi terapi.

 

11 anak-anak warga didampingi beberapa ibu anak-anak tersebut mengikuti dengan ceria kegiatan yang di bawah koordinator Kak Ganjar. Terapi Ceria bagi anak-anak warga ini melatih anak-anak bernafas dengan benar dengan analogi balon, membuang sampah, mencuci tangan dengan sabun disisipi dengan latihan yoga misalnya dalam bentuk latihan postur pohon.

 

Pada pukul 10 kegiatan Pelayanan Medis, Terapi Relaksasi dihentikan agar seluruh warga yang hadir mengikuti Terapi untuk Menghilangkan Kecemasan yang dipandu Pak Triwidodo dibantu Brother Erwin. Sambil duduk warga memperhatikan latihan yang dilakukan peraga Kak Ganjar dan Mbak Renti. Melihat wajah yang damai dan lega setelah melakukan terapi ini, nyata bahwa terapi ini sangat bermanfaat bagi warga yang rumahnya telah terendam selama 2 minggu.

Bahkan istri pak Solikul Hadi (BABINSA) sempat mencucurkan air mata secara spontan sewaktu mengikuti terapi ini.Tanya jawab usai terapi berjalan seru dan warga berterima kasih dan merasa enteng dan bersemangat untuk menghadapi kehidupan nyata sehari-hari

 

Seperti PPSTK sebelumnya di Kebonharjo Semarang, para pemuka masyarakat mengatakan masih ada warga di Kecamatan yang sama memerlukan kegiatan yang sama.

1 kompasiana

Warga memenuhi Balai Desa Growonglor, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati menunggu terapi medis

 

4 kompasiana

Terapi Medis

 

2 kompasiana

Pemberian obat

 

3 kompasiana

Terapi rileksasi

 

5 terapi relaksasi

Terapi Relaksasi

 

6 terapi ceria

Menekankan value kebersihan dan kesehatan dengan belajar mencuci tangan dengan sabun

 

6 postur pohon anak-anak warga korban banjir Juana bersama kak Ayiek

Postur Pohon menjadi favorit anak-anak warga korban banjir.

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Penjelasan Manfaat Latihan Therapy For Free Anxiety bagi warga korban bencana

 

8 PPSTK Anand Ashram dari Joglosemar Bro Tunggul diwakili His Son

Program Pemulihan Stres dan Trauma Pasca Bencana Letusan Gunung Kelud 2014

Reporter Ahmad Syukri

Foto Michael cs

gambar tambahan PPSTK lengkap

Datang dari berbagai kota, Yogyakarta, Solo, Semarang, Magelang, Pati, Tulung Agung, Surabaya, Jember, Blitar dan Kediri, para anggota Tim PPSTK (Pusat Pemulihan Stres & Trauma Keliling) yang berada di bawah naungan Yayasan Anand Ashram(berafiliasi dengan PBB) beserta sayap sayap kegiatannya, OEIEF(One Earth Integral Education Foundation), One Earth College for Higher Learning , Foradoksi BIP (Forum Pengajar Dokter Psikolog bagi Ibu Pertiwi), Forum Kebangkitan Jiwa, dan NIM( National Integration Movement) telah bekerja sama dengan para guru dan pengasuh Sekolah Alam (TK-Play Grup) Ramadhani Kediri, Aliansi Remaja Kediri (Areri), Psikologi  STAIN Kediri, Apotik Srikandi Babarsari Yogyakarta,  Perangkat desa Puncu dan beberapa guru SDN Puncu 2 melaksanakan program Pemulihan Stress dan Trauma Keliling di Desa Puncu, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri yang terletak di lereng Gunung Kelud.

 

Pada awalnya lokasi dipilih untuk kegiatan adalah di Balai Desa Puncu yang sedang direhabilitasi, karena hampir semua gentengnya berlubang dan plafon nya hancur. Namun Tim Survey pada sore hari sebelumnya menetapkan lokasi PPSTK digelar di SD Puncu 2 yang terletak di samping Balai Desa agar acara tidak terganggu bila datang bantuan untuk desa sewaktu-waktu. Kondisi bangunan sekolah sendiri masih sangat memprihatinkan, karena rusak dan masih dalam perbaikan.

 

Pagi hari Minggu tanggal 23 Maret 2014, dua ruangan kelas dipersiapkan oleh tim gabungan menjadi tempat Pemeriksaan dan Pengobatan Medis, Terapi Relaksasi dan Terapi untuk Menghilangkan Kecemasan (TherFA – Therapy for Free Anxiety), dengan menepikan bangku-bangku ke pinggir ruangan dan menyiapkan segala peralatan yang diperlukan.

 

Kegiatan dimulai pukul 08.15  hingga pukul 12.00 dengan agenda Pemeriksaan & pengobatan gratis, Terapi Releksasi untuk remaja dan dewasa, Terapi Ceria untuk anak-anak. Serta TherFA (Therapy for Free Anxiety- Terapi Membebaskan diri dari rasa Cemas) – terapi yang menjadi ciri khas dan utama untuk membantu korban bencana  untuk melepaskam dari rasa cemas, takut, khawatir dan trauma – pukul 10.00 sampai pukul 11.00.

 

 

 

Pelayanan pengobatan diberikan kepada 100-an pasien dewasa dan anak anak oleh dr .Djoko Pramono dari Yayasan Anand Ashram dibantu oleh 6 rekan dari Aliansi Remaja Kediri( ARERI) mulai dari pendaftaran pasien, melakukan pengukuran tekanan darah dan membantu membagikan obat. Dari sebagian besar pasien dewasa mengeluh pusing, nyeri kepala dan susah tidur karena mereka masih trauma pada saat kejadian banyak yang tidak sempat mengungsi pada saat hujan batu yang merusakkan genting serta plafon rumah mereka bahkan ada yang sampai atapnya roboh tidak kuat menyangga hujan batu yang terjadi. Apalagi ada issue akan terjadi banjir lahar bila hujan terus turun. Sebagian besar pasien dirujuk untuk melakukan Terapi Relaksasi dan TherFA untuk menghilangkan kecemasan serta trauma saat erupsi Kelud terjadi.

 

 

 

Pelayanan Terapi Relaksasi yang diatur oleh Erwin sebagai ketua Tim melayani sekita 40-an orang, baik tua,  muda maupun anak-anak. Bahkan termasuk ibu berusia 100 tahun  yang masih kuat berjalan dari rumahnya untuk mendapatkan terapi.

 

 

 

Sesi TherFa(Therapy for Free Anxiety) – yang diikuti oleh lebih kurang 30-an orang dan dipandu oleh Triwidodo – membuat banyak wajah tampak lega. Beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak merasa lega setelah bisa menangis dan terbebaskan dari rasa cemas, takut, khawatir yang menghantui mereka setiap hari. Teringat waktu mereka berkumpul di Balai Desa dan SD sambil bersembunyi di bawah meja. Dihujani batu-batu membara yang menghancurkan genteng dan merusak plafon. Mereka hanya bisa berlindung tanpa bisa berbuat banyak.

 

 

 

Di halaman sekolah dari pk.08.00 sampai dengan pk.10.00 berlangsung  Program Pesta Ceria Anak dipandu oleh Mira, Lily, Atik, Ardi dan Ayiek yang berjalan meriah, diikuti lebih dari 100 anak dari SDN Puncu 2. Mereka menyanyi bersama, menirukan berbagai  model tawa, permainan-permainan kocak yang mengundang gelak tawa. Pada program Pesta Ceria Anak tersebut diselipkan pemberian value pendidikan karakter. Anak-anak juga diajarkan beberapa gerakan yoga untuk membantu anak –anak memulihkan kecerian serta melepaskan rasa takut dan cemas yang mereka rasakan.

 

 

 

Kegiatan diakhiri dengan foto bersama TIM PPSTK dan penyerahan kenang-kenangan buku “Think on These Things karya Anand Krishna serta kaos “ Aku Bangga Jadi Orang Indonesia”  kepada pihak Sekolah dan rekan-rekan Aliansi Remaja Kediri.

 

 

 

“Semangat selfless service atau berkarya tanpa pamrih pribadi, dan volunteerism atau jiwa kerelawanan bukanlah sesuatu yang baru bagi kita. Semangat gotong-royong  ini adalah bagian dari budaya kita, budaya nusantara. Demikian ditulis Anand Krishna dalam bukunya “Karma Yoga bagi Orang Modern, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru.

 

“Berkarya Tanpa Pamrih Pribadi memberikan kebahagiaan tersendiri”, demikian kometar Sunarno dan istri, Pengasuh dari Sekolah Alam Ramadhani. Dan mereka bersyukur memperoleh kesempatan istimewa ini untuk turut berkontribusi.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Dr Djoko memeriksa pasien, kebanyakan sakit radang pernapasan

 

2 PPSTK G. Kelud Terapi Relaksasi jpg

Terapi Relaksasi

 

9 Terapi Ceria jpg

Pesta Ceria Anak-Anak

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Relawan Aliansi Remaja Kediri( ARERI) melakukan pendaftaran pasien, dan melakukan pengukuran tekanan darah

 

setelah therfa

Menangis karena lega usai Terapi penghilang Kecemasan-Therfa

 

DP ppstk rev.1