Konflik Ego dan Kedamaian Transpersonal dari Ki Ageng Suryomentaram, Maslow ke Anand Krishna

 

 

Hidup dikendalikan oleh panca indera atau mengendalikan panca indera?

“Dasharatha adalah Ayahmu! Ia memiliki dasha atau ‘sepuluh’ ratha, atau kereta perang di bawah perintahnya. Yang dimaksud di sini adalah kereta-kereta dari indera serta organ-organ indera Anda sebagaimana telah dibahas sebelumnya. Inilah potensi Anda. Anda bisa memerintah mereka. Anda bisa mengendalikan mereka. Dengan membiarkan diri Anda terkendalikan oleh mereka, maka sesungguhnya Anda tidak menggunakan potensi Anda sama sekali.” Terjemahan bebas dari (Krishna, Anand. (2010). The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Kramadangsa” pemikiran Ki Ageng Suryomentaram

Sejak masih bayi, kita mencatat apa saja yang berhubungan dengan diri kita. Ki Ageng mengatakan tugas juru catat itu seperti  tanaman yang hanya bisa mencatat, tidak bisa bergerak bebas. Di luar diri otak mencatat dengan bantuan panca indera sedangkan di dalam diri otak mencatat dengan rasa (organ-organ panca indera yang berkaitan dengan pikiran). Catatan yang jumlahnya berjuta-juta tersebut seperti hidupnya hewan. Hewan bisa bergerak mencari makan sendiri. Makanan catatan tersebut berupa perhatian, bila diperhatikan catatan berkembang subur, bila tidak dberi perhatian catatan akan mati.

Menurut Ki Ageng, setelah catatan itu cukup banyak maka “Kramadangsa” (nama kita sendiri, misalnya Triwidodo) lahir. Kita menganggap diri kita dilengkapi dengan catatan (1)harta milikku, (2)kehormatanku, (3)kekuasaanku, (4)keluargaku, (5)bangsaku, (6)golonganku, (7)jenisku, (8)pengetahuanku, (9)kebatinanku, (10)keahlianku, (11)rasa hidupku. Kita hidup dalam dimensi ketiga, bisa bergerak bebas mencari makan sendiri dan menggunakan pikiran dan rasa. Catatan-catatan inilah asal mula ego.

Catatan-catatan/informasi itu bersifat seperti hewan, bila diganggu marah. Sedangkan Kramadangsa/diri kita sebagai manusia sebelum bertindak atau marah bisa berpikir dahulu. Itulah bedanya hewan yang “fight or flight”, bertarung atau ngacir, sedangkan manusia berpikir dulu sebelum bertindak. Apabila diri kita terlalu terobsesi tentang kekuasaan/jabatan, maka untuk memperoleh peningkatan ‘catatan  jabatan” kita bisa menggunakan segala cara untuk memperoleh jabatan, mengabaikan ‘catatan kehormatan’, ‘rasa hidup’ dan ‘kepentingan bangsa’. Artinya pikiran kita kurang jernih.

Peran seorang ketua partai politik yang ingin menjadi menjadi anggota legislatif, atau kepala daerah atau pun kepala negara bisa menumbuhkan konflik dengan peran’catatan kebatinan’ (hati nurani) dan ‘kepentingan bangsa’. Peran seorang dari  jenis lelaki yang sedang mendekati wanita cantik bisa menimbulkan konflik dengan peran catatan kehornatan dan keluarga.

 

Manusia Universal atau Transpersonal

Abraham Maslow menggunakan piramida kebutuhan manusia untuk mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan manusia yang selalu berkembang. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Kebutuhan fisik adalah kebutuhan terendah. Kebutuhan berikutnya adalah rasa aman, seperti kebutuhan rumah, kesehatan di hari tua, dapat menyekolahkan putra-putrinya dan lain-lain. Setelah itu ada kebutuhan sosial untuk berhubungan dengan orang lain. Kemudian baru kebutuhan harga diri, agar dirinya dalam pergaulan sosial bisa dihargai. Dan akhirnya adalah  kebutuhan untuk aktualisasi diri, kebutuhan untuk melaksanakan karya nyata di tengah masyarakat. Sebetulnya Maslow di hari tuanya paham bahwa itu semua merupakan kebutuhan personal dan menambahkan kebutuhan transpersonal manusia, akan tetapi kebutuhan yang terakhir tersebut kurang dapat dipahami orang dan kurang terekspose.

Menurut Ki Ageng apabila aku merasa menginginkan jabatan dan kemudian berpikir bagaimana caranya memperoleh jabatan, maka aku sedang menempuh ukuran ketiga yaitu Kramadangsa, ego. Apabila pada waktu mencari jabatan aku berpikir, jabatan itu apa? Apakah jabatan itu abadi? Apakah aku akan mencari jabatan dengan mengabaikan hati nurani dan mengorbankan persatuan kebangsaan? Kemudian aku sadar bahwa aku bukanlah kumpulan catatan/informasi  tentang jabatanku, kebatinan/hati nuraniku, bangsaku, maka kesadaran naik aku adalah saksi dari catatan/informasi . Dengan melampaui aku sebagai kumpulan catatan/ informasi maka menurut Ki Ageng kita sudah mulai menempuh sebagai Manusia Universal.

Anand Krishna mengatakan bahwa sistem pendidikan yang berfokus pada diri pribadi itu perlu diperbaiki. Beliau mengingatkan,

“Perlakukanlah orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan” – ini adalah kaidah utama dari semua agama dan kitab suci yang merupakan intisari dari psikologi spiritual transpersonal.”

“Memperdulikan sesama!” Kalimat bijak ini adalah sebuah panggilan terhadap kesadaran kita dari kesadaran personal menuju kesadaran transpersonal.

Lihat gambar kebutuhan Maslow

hirarki-kebutuhan-maslow

lapisan kesadaran manusia

Gambar Lapisan Kesadaran Manusia sumber: https://triwidodo.wordpress.com/2012/06/07/dari-hirarki-kebutuhan-manusia-menuju-hirarki-kesadaran-manusia/

Perjalanan kehidupan

“Perjalanan hidup kita bukanlah merupakan ziarah atau perjalanan suci dari kepalsuan menuju kebenaran, tetapi dari ‘kebenaran bernilai rendah’ menuju kepada ‘kebenaran bernilai tinggi’. Semuanya benar. Tidak ada sesuatu yang tidak benar. Hyang Maha Benar tidak mungkin menciptakan sesuatu yang tidak benar. Namun, apa yang benar bagi Anda saat ini belum tentu benar bagi saya saat ini juga. Besok-besok bisa menjadi benar.” (Das, Sai. (2012). Swami Sri Sathya Sai Baba Sebuah Tafsir. Koperasi Global Anand Krishna)

“Perjalanan spiritual, dimulai dari ‘aku’ yang terbatas menuju ‘kita’ yang terus menerus meluas. Ini adalah langkah pertama dalam perjalanan spiritual. Langkah kedua adalah dari ‘kita’ menuju ‘Dia’ Tuhan, Ayah dan Ibu Semesta yang Sejati. Perjalanan spiritual membawa kita melampaui bintang yang terjauh dan kerabat yang terdekat sekaligus. Perjalanan spiritual adalah perjalanan dari dan diatas segala perjalanan, satu-satunya perjalanan yang berharga untuk dilakukan. Perjalanan spiritual adalah perjalanan dari yang terbatas menuju yang tak terbatas.” (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Tertarik? Silakan ikut program online One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/id/)

Iklan

Jelita Draupadi di Antara Dendam Tak Berkesudahan Dua Keluarga

 

313180-mahabharat.jpg

Gambar Draupadi sumber: http://www.india-forums.com/forum_posts.asp?TID=3888818&TPN=134

 

“Kata-kata dapat menyejukkan hati atau membakar hati. Dan, kata-kata, aksara atau akshara-tidak pernah punah. la tidak mengenal kshara atau kepunahan. Setiap kata yang terucap oleh kita akan kembali ke kita. Sebab itu, berhati-hatilah selalu dalam menggunakan kata-kata. Fitnah yang kita lontarkan akan kembali kepada kita. Kebohongan yang kita sebarkan akan kembali pula kepada kita. Kepalsuan yang kita percayai menjadi kepercayaan kita. ABC , Always Be Careful!” (Krishna, Anand. (2008). Niti Sastra, Kebijakan Klasik bagi Manusia Indonesia Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Janji Drupada kepada Drona

Drupada dan Drona adalah dua sahabat di waktu anak-anak, mereka belajar bersama pada satu perguruan dan mengalami suka-duka bersama, bagaikan dua saudara. Sebagai anak-anak Drupada pernah mengatakan kepada Drona bahwa bila dia menjadi raja, kerajaannya akan dibagi dua antara dirinya dan Drona. Namanya saja janji monyet, janji anak-anak, akan tetapi Keberadaan menggunakan janji anak-anak tersebut sebagai salah satu pemicu Perang Besar Bharatayuda.

Drupada lupa kepada janjinya dan akhirnya menjadi raja di Panchala. Sedangkan Drona hidup terlunta-lunta, anak semata wayangnya yang masih kecil, Ashvattama minta minum susu saja tidak mampu mengabulkan, sehingga istri Drona menanak nasi dan mengambil airnya (bahasa Jawa, tajin) dan mengatakan itu susu kepada Ashvattama yang kegirangan dan berteriak pada teman-temannya bahwa dia minum susu.

Drona datang kepada Drupada dan sebagai sahabat minta diberikan seekor sapi, agar susunya dapat diperah untuk minum susu anaknya. Drupada dengan kebesaran seorang raja menolak, dia akan memberikan sapi sebagai anugrah raja kepada orang miskin, tapi bukan sebagai seorang sahabat yang membantu sahabat yang lain. Dia merasa bukan sahabat Drona. Kata-kata, aksara atau akshara-tidak pernah punah. la tidak mengenal kshara atau kepunahan. Setiap kata yang terucap oleh kita akan kembali ke kita. Kata-kata Drupada bagai sembilu, menyayat, mengakibatkan luka yang dalam pada Drona.

Drona sakit hati dan mengutuk akan datang lagi dengan murid-muridnya menagih janji Drupada. Drona akhirnya bertemu Parasurama yang dalam perjalanan akhir ke Himalaya. Harta-benda Parasurama sudah diserahkan ke para brahmana yang bertemu dengannnya dan kepada Drona dia mengajari ilmu kanuragan dan peperangan. Nasib baik mulai mendatangi Drona sehingga dia menjadi Guru di Kerajaan Hastina, mengajar Pandawa dan Korawa.

 

Dendam Raja Drupada

Sebagai Guru Daksina (persembahan murid kepada Guru yang telah memberikan ilmunya), Drona minta murid-muridnya menundukkan Raja Drupada. Dendam Drona terbalaskan, Pandawa dapat menundukkan kerajaan Panchala dan Arjuna membawa Drupada ke hadapan Drona. Drona minta separuh kerajaan yang kemudian diberikan kepada Ashvattama dan berkata kepada Drupada, karena Drupada tidak mempunyai putra agar Ashvattama dianggap sebagai putranya juga.

Kata-kata, aksara atau akshara-tidak pernah punah. la tidak mengenal kshara atau kepunahan. Setiap kata yang terucap oleh kita akan kembali ke kita. Drupada sakit hati dan dendam terhadap tindakan Drona yang mempermalukannya, bahkan menyebutnya tidak punya anak laki-laki. Dia sadar dia hanya mempunyai anak wandu (waria, setengah wanita setengah pria) Srikandi. Drupada mengembara dengan dendam membara selama 2 tahun sampai ketemu brahmana Yodya dan Upayodya yang mengajarinya untuk melakukan upacara persembahan Agnihotra untuk memperoleh putra sesuai dengan yang dikehendakinya. Drona ingin mempunyai putra setangguh Arjuna dan saudara-saudaranya sehingga dapat membalaskan dendam kepada Drona.

Sebagai hasil upacara persembahan Agnihotra, Drupada memperoleh putra Dhrishtadyumna dan putri Draupadi. Drupada tidak pernah mengira bahwa justru Draupadi akan lahir sebagai putri tegas-bijaksana yang mempunyai peran besar dalam menegakkan dharma. Setelah Draupadi bertemu Sri Krishna, hidup Draupadi berubah dan dia sangat patuh terhadap nasehat Sri Krishna.

 

Menjadi pihak adharma atau dharma adalah pilihan bukan takdir

“Dharma tidak selalu ‘menyenangkan’ sebagaimana kita mengartikan kata ‘kesenangan’. Ia adalah ketepatan. Kita masih ingat tutur Sri Krishna dalam Bhagavad Gita, ‘Ada yang menyenangkan atau Preya, dan ada yang memuliakan atau Shreya.’ Dharma adalah sesuatu yang memuliakan. Sesuatu yang menyenangkan tidak selalu memuliakan. Tetapi, sesuatu yang memuliakan sudah pasti menyenangkan pula, walau di awalnya tidak terasa demikian. “Sesuatu yang menyenangkan pada awalnya memang terasa manis, tetapi akhirnya terasa pahit. Sebaliknya, sesuatu yang memuliakan, awalnya barangkali terasa pahit – akhirnya manis.Dharma adalah sesuatu yang memuliakan.” (Krishna, Anand.  (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post)

Seorang teman mengatakan bahwa perang Bharatayuda pasti akan terjadi, karena itu adalah wahana untuk mengalahkan adharma dan menegakkan dharma di zaman itu. Bila perang Bharatayuda adalah sebuah kepastian, maka selalu akan ada yang menjadi pihak adharma dan selalu ada yang menjadi pihak dharma. Tanpa pihak adharma dan pihak dharma, perang tidak akan terjadi. Bila takdirnya demikian, apakah menjadi pihak adharma sudah skenario alam? Menurut pendapat pribadi kami sampai dengan saat ini, memang akan selalu ada pihak adharma dan pihak dharma, persoalannya adalah bukan takdir seseorang menjadi adharma atau dharma, persoalan utama adalah pilihan setiap orang, apakah dia akan memilih pihak adharma atau memilih pihak dharma.

Karna tahu bahwa Duryudana dan Shakuni jahat, akan tetapi karena memilih membalas budi kebaikan Duryudana yang telah memberinya kehormatan duniawi, maka dia pilih memihak Kaurawa. Ini adalah sebuah pilihan. Bisa saja Karna memilih pihak Pandawa. Menjadi adharma atau dharma adalah pilihan kita dengan resiko masing-masing.

Saat Karna curhat kepada Sri Krishna tentang diskriminasi yang dialaminya sebagai putra sais kereta, Krishna menjawab, “Berjuanglah untuk memperoleh kehormatan akan tetapi jangan melawan dharma. Gunung (adharma) yang sangat besar pun tidak akan mampu menahan aliran sungai (dharma) yang dalam perjalanan menuju samudra!” Karna lupa akan nasehat Krishna dan berpihak pada Adharma.

 

Draupadi mengikuti Sri Krishna dan berpihak pada dharma

Dalam kisah Mahabharata setiap orang selalu mempunyai pilihan yang akan membawanya  ke jalan dharma atau jalan adharma. Adalah Draupadi yang bisa menghormati Srikandi yang bangga sebagai panglima perang Kerajaan Panchala, dan dapat merasakan kekecewaan Srikandi saat Raja Drupada menunjuk Dhrishtadyumna sebagai panglima perang menggantikan Srikandi dengan alasan Dhrishtadyumna adalah seorang pria. Bagi Draupadi menjadi wanita atau waria tidak mengurangi sifat kedharmaan.

Saat Draupadi protes kepada ayahandanya atas perlakuannya terhadap Srikandi, Draupadi bahkan sampai diusir ke luar istana. Hanya pada saat Sri Krishna akan membunuh Drupada yang sudah tak berdaya, Draupadi membela dengan melindungi ayahandanya dan rela mati demi ayahandanya. Sri Krishna tersenyum dan menarik senjata gadanya. Kata-kata Sri Krishna kemudian mengubah kehidupan dirinya. Sri Krishna berkata, “Aku tidak akan membunuhmu, untuk menegakkan dharma aku butuh kamu dan Arjuna!” setelah peristiwa tersebut Drupada sadar dan menjadi raja dan orang tua yang baik. selama ini anak-anaknya yang mempunyai kepribadian sendiri tidak dihormatinya, bagi Drupada anak-anaknya adalah alat untuk membalaskan dendam pribadinya kepada Drona. Melihat ayahandanya yang dapat disadarkan Sri Krishna, Draupadi semakin yakin pada kebijakan Sri Krishna dan patuh terhadap semua nasehatnya.

 

Menjadi Alat Sri Krishna

“Kita hanyalah alat. Hyang bekerja adalah Dia. Serahkan semuanya kepada Dia. Kita berdoa supaya bisa menjadi alat yang baik di tanganNya – alat tanpa ego. Gita 2: 27-28: Ia yang lahir harus mati, ia yang mati harus lahir. Jangan gelisah, karena hukum ini memang tak terelakkan. Makhluk-makhluk yang kau lihat ini, wahai Arjuna, pada awal mulanya Tak-Nyata, pada masa pertengahannya terasa Nyata dan pada akhirnya menjadi Tak-Nyata lagi. Lantas apa gunanya kamu bersedih hati? (yang diketahui manusia hanya antar lahir dan mati saja. kita ini sebenarnya hanya alatNya, yang dikirimkan untuk melakukan tugas-tugasNya, jadi kita seharusnya berbhakti sesuai dengan kehendakNya).” (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Menjadi alat Sri Krishna, Draupadi bersedia melakukan peran yang penuh cobaan dan hinaan yang tak tertahankan bagi orang biasa. Menjadi alat Sri Krishna seseorang akan merasakan kebahagiaan sejati dalam dirinya walaupun bagi orang awam mungkin nampak banyak menderita.

Draupadi yakin pada Sri Krishna, sehingga dia bisa menjadi alat Sri Krishna yang merancang skenario penegakan dharma. Pada waktu svayamvara memperebutkan dirinya, Draupadi diberitahu Sri Krishna hanya ada dua ksatria yang bisa lolos svayamvara yaitu Karna dan Arjuna. Bila Draupadi tidak mau menjadi istri Karna, dia bisa menolaknya. Kala Karna mau maju sedangkan Arjuna belum nampak, Draupadi memilih tindakan menolak dengan alasan Karna adalah putra seorang Sais Kereta. Karna sangat marah, demikian pula para Kaurawa yang tadinya berharap  Karna dapat mewakili Duryudana memperoleh Draupadi. Sebelumnya Shakuni meminta Karna ikut svayamvara mewakili Duryudana, bila Draupadi menjadi istri Duryudana, kerajaan Hastina akan semakin kuat. Kata-kata Draupadi menempatkan Kerajaan Panchala menjadi musuh Hastina. Apalagi setelah para Kaurawa tahu bahwa brahmana pemenang svayamvara adalah Arjuna dari Pandawa.

 

Dilema Draupadi

Arjuna dan saudara-saudaranya membawa Draupadi ke tempat Kunti yang sedang melakukan puja dengan mata tertutup. Kala Arjuna menyampaikan bahwa dia memperoleh hadiah, tanpa membuka mata, Kunti memberi perintah agar hadiahnya dibagi 5. Apa pun yang diperoleh Arjuna harus dibagi rata dengan saudaranya. Saat Kunti membuka mata, dia kaget ternyata yang dimaksud hadiah adalah Putri Draupadi yang nampak sedang menangis terisak-isak mendengar kata-katanya. Yudistira menyalahkan ibunya mengapa memberi perintah sebelum benar-benar memahami duduk perkaranya. Kunti ingin membatalkan perintahnya, namun sesuai dengan kebiasaan zaman itu, kata-kata yang diucapkan harus ditepati atau akan ada akibat dari kata-kata tersebut di kemudian hari.

Solusinya adalah keempat bersaudara akan menjadi pertapa sungguhan yang tidak kawin, sehingga kata-kata Kunti tidak bisa dilaksanakan. Arjuna menyarankan Draupadi kawin dengan Yudistira dan dia dan saudara-saudaranya yang lain akan menjadi pertapa sungguhan. Draupadi tidak setuju, karena dia telah menolak Karna mengikuti svayamvara mewakili Duryudana. Drupadi pada akhirnya bahkan mau mempunyai suami lima bersaudara. Drupada yang datang langsung marah dan membawa Draupadi kembali ke istana.

Mpu Vyaasa, sang penulis Mahabharata  datang dan menasehati Kunti bahwa Yudistira tidak bisa membujang selamanya. Bila Yudistira tidak kawin, maka dia tidak akan bisa menjadi raja Hastina, dan Hastina akan diperintah oleh raja Duryudana yang berpihak pada adharma. Mpu Vyaasa mengingatkan, Kunti mengajak Pandawa pergi dari istana hanya untuk menyelamatkan diri mereka sendiri tanpa memikirkan kepentingan rakyat banyak.

 

Nasehat Sri Krishna

Sewaktu Pandawa datang ke istana lagi dan Drupada bertambah marah dan akan menyerang mereka, Krishna datang dan mengingatkan kata-kata Drupada di depan api agnihotra yang tidak senang dengan kelahiran anak perempuan. Drupada berkata bahwa bila lahir anak perempuan biarlah putrinya selalu mengalami penderitaan. Drupada sadar dan menyesali kata-kata yang pernah diucapkannya di depan api suci.

Sri Krishna kemudian menemui Draupadi dan mengujinya, mengapa dia mau menikahi Pandawa? Draupadi menjawab, kalau menuruti dirinya pribadi maka dia hanya mau kawin dengan Arjuna. Akan tetapi bila Yudistira membujang selamanya, Kerajaan Hastina akan diperintah oleh Duryudana yang jahat sehingga dunia akan menderita. Krishna tersenyum, “Menikahi lima bersaudara adalah tindakan adharma, akan tetapi untukmu ini bukan adharma, karena engkau memikirkan kebahagiaan banyak orang! Kau lahir lewat api pemujaan, api akan selalu menyucikanmu dan saat engkau dalam kesulitan panggillah Aku, Aku akan menolongmu!”

Mpu Vyaasa minta Pandawa bersumpah bahwa Draupadi selama setahun penuh akanmenjadi istri Yudistira, tahun berikutnya istri Bhima dan seterusnya istri adik-adiknya. Setiap akhir tahun Pandawa dan Draupadi akan bersemedi mensucikan diri.

 

Berbagai Cobaan bagi Draupadi

Masih banyak cobaan yang akan dialami oleh Draupadi, bahkan dia dipermalukan di depan sidang di Istana Hastina, kala Dursasana melepas kain sarinya. Pada saat kritis tersebut Draupadi minta pertolongan Sri Krishna dan dia terselamatkan.

Di akhir perang Bharatayuda saat pasukan Pandawa tidur kelelahan di malam hari setelah memenangkan peperangan, Ashvattama masuk ke tenda putra-putra Pandawa, dan semua putra Draupadi dibunuh olehnya. Dhrishtadyumna yang tidur di tenda tersebut juga dibunuh oleh Ashvattama yang dendam karena Drona, ayahandanya dibunuh pihak Pandawa dengan cara memperdayainya.

Draupadi sangat sedih, akan tetapi ingat bahwa walaupun dia hidup menjalankan dharma, akan tetapi hukum sebab-akibat di dunia tetap berlaku. Ayahandanya, Drupada mati di hari ke 15 perang Bharatayuda oleh panah Drona. Kemudian di hari yang sama Drona diperdaya Pandawa. Bhima membunuh gajah bernama Ashvattama dan semua pasukan Pandawa berteriak Ashvattama mati. Drona mendatangi Yudistira dan bertanya apakah benar Ashvattama mati? Dan Yudistira mengiakan bahwa (Gajah, dengan suara sangat pelan) Ashvattama mati. Drona kemudian limbung dan melakukan meditasi dan Dhrishtadyumna datang membunuh Drona. Kini, Dhrishtadyumna dan anak-anaknya telah mati semua dibunuh anak Drona.

Kembali Draupadi ingat Sri Krishna dan dia akan tunduk pada Sri Krishna. Ketika Draupadi menyaksikan Ashvattama tidak dibunuh Arjuna melainkan diusir dari Hastina, Draupadi menerima dengan tenang. Hidup bukan untuk balas-membalas dendam yang tak ada habisnya

 

Dharma Artha Kama Moksha

“Pertama: Dharma atau kebajikan. Kebajikan adalah ketepatan bertindak. Kebajikan juga berarti kebaikan dalam arti kata seluas-luasnya. Meraih pendidikan yang baik dan tepat adalah juga dharma. Menjalankan tugas kewajiban kita dengan baik dan tepat adalah juga dharma. Menjalani hidup ini demi kebaikan adalah juga dharma. Ketepatan dalam hal berpikir dan berperasaan adalah juga dharma. Dharma adalah kemanusiaan dalam diri manusia. Dharma adalah kesadaran berperikemanusiaan. Bagi seorang prajurit, membunuh musuh di medan perang adalah dharma. Bagi seorang rohaniwan, dharma adalah memaafkan seorang penjahat, sekalipun ia telah berlaku keji dan membunuh. Bagi seorang pengusaha, dharma adalah membantu memutarkan roda ekonomi, bukan hanya mencari uang untuk diri sendiri. Dan, bagi seorang pekerja, dharma adalah melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Setiap orang dituntut untuk menjalankan dharmanya sendiri, atau swadharma melaksanakan tugas kewajibannya seusai dengan kemampuannya.

“Kedua: artha atau harta, uang, materi. Carilah harta, kumpulkan uang dengan cara dharma dengan baik dan tepat, tanpa merugikan orang lain.

“Ketiga: kama atau napsu, keinginan. Gunakan harga yang dicari dengan cara dharma itu untuk memenuhi segala kebutuhan serta keinginan kita, tetapi jangan lupa menjaga keinginan itu supaya tidak melebihi penghasilan.

“Keempat: moksha atau kebebasan, juga dapat diartikan sebagai “pembebasan” yang secara khusus berarti bebas dari siklus kelahiran dan kematian. Ini adalah Tujuan hidup manusia. Sekali hidup sebagai manusia semestinya sudah cukup untuk mengakhiri siklus kehidupan di dunia ini, sehingga jiwa dapat berevolusi lebih lanjut. Barangkali dalam alam yang berbeda.

“Dharma, artha dan kama adalah tujuan-tujuan dalam hidup. Moksha adalah tujuan hidup, tujuan akhir. Karena itu, sesungguhnya keempat hal tersebut saling berkaitan. Yang satu tidak dapat dipisahkan dari yang lain.

“Urutan dharma, artha, kama dan moksha ini penting sekali. Jangan mengacaukan urutan ini. Carilah uang dengan jalan dharma, dengan cara yang baik dan bijak. Berkeinginanlah sesuai dengan penghasilan. Dan, akhir, janganlah terikat dengan dunia ini, karena keterikatan berarti perbudakan, dan seorang budak tidak bisa menikmati hidup. Semewah apa pun sangka dimana kita berada, sangkat tetaplah sangkar. Walaupun terbuat dari emas, sangkah merampas kebebasan kita.” (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Melakoni Nasehat Jernih Krishna, Draupadi Keluar Dari Jalan Buntu Yang Nyaris Membuat Putus Asa

draupadi sayembara 1

Gambar Draupadi sumber: https://www.facebook.com/OfficialShaheerSheikh/photos/a.1448557682029847.1073741842.1435762876642661/1460099264209022/?type=3&theater

 

“Apabila Anda menjadikan Krishna sais Kereta Kehidupan Anda, Anda tidak akan pernah mengalami kegagalan. Saat ini, kita menempatkan Nafsu Berahi, Keserakahan, Keangkuhan, dan lain sebagainya, pada posisi sais. Itu sebabnya kita mengalami kegagalan, kekalahan. Apabila Anda menempatkan Akal Sehat dan Pikiran Jernih pada posisi sais, hidup Anda akan berubah menjadi suatu lagu yang indah. Anda akan menikmatinyadan mereka yang mendengar pun akan ikut menikmatinya. Hidup Anda dapat menjadi suatu Perayaan.” (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Lebih licik dari Shakuni

Paman Shakuni berkata kepada Duryudana, Putra Mahkota Raja Hastina bahwa Vasudeva Krishna adalah wujud manusia yang paling cerdas dari Ras Arya. Dia tidak dapat dibeli, dan menurut Shakuni, Vasudeva Krishna bahkan lebih licik daripada dirinya sendiri.

Betulkah Krishna “licik”? Sepengetahuan kami, Krishna hanya bertindak berdasar dharma, kita perlu mempertimbangkan apakah kita lebih memilih tindakan yang polos tetapi dharma ditaklukkan, sehingga umat manusia menderita berkepanjangan? Tugas Krishna di dunia adalah menegakkan dharma di dunia, kala adharma merajalela. Untuk mengalahkan Rsi Drona, Krishna memberi nasehat pada Yudisthira, ingin dharma tegak dengan menyatakan Asvatthama mati atau tidak menipu tapi dharma dikalahkan? Karena Drona hanya bisa kalah bila mendengar putra kesayangannya Asvatthama menderita. Untuk mengalahkan Bhisma, Krishna memberi nasehat agar Srikandi berada di depan Arjuna, karena Bhisma tidak akan melawan perempuan.

Bagi Krishna perang itu bukanlah antara dua belah pihak berseteru. Perang itu bukanlah antara Pandava dan Kaurava. Perang itu antara Dharma dan Adharma, antara Kebijakan dan Kebatilan. Dalam diri Shakuni sebenarnya mengakui bahwa dirinya licik dan mau menang sendiri, oleh karena itu Shakuni bergetar kala dipanggil “Paman Shakuni” oleh Krishna, karena demi Dharma, Raja Kamsa, paman Krishna sendiri pun dibinasakan olehnya.

 

Draupadi Menolak Karna ikut “Svayamvara”

“Dharma tidak selalu ‘menyenangkan’ sebagaimana kita mengartikan kata ‘kesenangan’. Ia adalah ketepatan. Kita masih ingat tutur Sri Krishna dalam Bhagavad Gita, ‘Ada yang menyenangkan atau Preya, dan ada yang memuliakan atau Shreya.’ Dharma adalah sesuatu yang memuliakan. Sesuatu yang menyenangkan tidak selalu memuliakan. Tetapi, sesuatu yang memuliakan sudah pasti menyenangkan pula, walau di awalnya tidak terasa demikian. Sesuatu yang menyenangkan pada awalnya memang terasa manis, tetapi akhirnya terasa pahit. Sebaliknya, sesuatu yang memuliakan, awalnya barangkali terasa pahit – akhirnya manis. Dharma adalah sesuatu yang memuliakan. (Krishna, Anand.  (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post)

Draupadi berada pada situasi yang sulit. Arjuna yang ditunggunya untuk memenangkan “Svayamvara”/Sayembara untuk mempersunting putri raja tidak nampak, sedangkan Karna nampaknya akan dapat memenangkan sayembara. Akan tetapi Krishna berkata kepada Drupada ayahandanya, dan nampaknya dimaksudkan agar dia dapat mendengarnya. “Hanya dua orang yang dapat memenangkan sayembara yaitu Arjuna dan Karna. Tapi bila Draupadi tidak suka menjadi istri Karna maka dia dapat menolaknya. Semuanya tergantung Draupadi!”

Dikisahkan sebagaimana pemirsa melihat di Serial Mahabharata di AN Teve, Karna akan mewakili sahabatnya Duryudana ikut lomba, dengan alasan tradisi bahwa Bhisma pun pernah mengikuti Sayembara untuk saudaranya, akan tetapi hal tersebut ditolak oleh Raja Drupada yang mengatakan bahwa hal tersebut adalah tradisi Hastina bukan Panchala. Baginya keputusan putrinya akan dipatuhinya. Selanjutnya Duryudana mengatakan bahwa Karna sebagai Raja Angga bisa mewakili dirinya sendiri mengikuti Sayembara.

Karna bisa mengangkat busur Shiva dan sedang membidik ke atas dengan memperhatikan air kolam yang di bawah. Draupadi melakoni nasehat Krishna dan berteriak, “Berhenti! Aku tidak mau menjadi istri putra kusir.” Karna sangat marah, mengutuk Draupadi yang membeda-bedakan peserta Sayembara menurut kasta. Akan tetapi Karna, meletakkan busur dan kembali ke tempat duduk.

Dalam hati Draupadi hanya ada Arjuna, dan resiko dikutuk pun diterima dengan penuh kesadaran, apalagi Draupadi sangat percaya terhadap Krishna. Mengikuti nasehat Krishna akan keluar dari masalah sepelik apa pun.

Masalah bertambah besar kala Duryudana menyatakan bahwa Draupadi telah mempermalukan para Pangeran dan Raja yang mengikuti Sayembara dan berniat mematahkan busur. Akan tetapi busur tersebut tidak dapat dipatahkannya bahkanbusur tersebut telah  menyebabkan telapak tangan Duryudana terluka, dan busur tersebut terbang dan kembali ke tempat semula. Duryudana semakin malu dan bertambah marah serta mengatakan akan menunggu sampai ada peserta yang dapat memenangkan Sayembara. Bagaimana bila tidak ada yang memenangkan Sayembara?

 

Krishna mengingatkan Arjuna

“Dharma atau kebajikan. Kebajikan adalah ketepatan bertindak. Kebajikan juga berarti kebaikan dalam arti kata seluas-luasnya. Meraih pendidikan yang baik dan tepat adalah juga dharma. Menjalankan tugas kewajiban kita dengan baik dan tepat adalah juga dharma. Menjalani hidup ini demi kebaikan adalah juga dharma. Ketepatan dalam hal berpikir dan berperasaan adalah juga dharma. Dharma adalah kemanusiaan dalam diri manusia. Dharma adalah kesadaran berperikemanusiaan. Bagi seorang prajurit, membunuh musuh di medan perang adalah dharma. Bagi seorang rohaniwan, dharma adalah memaafkan seorang penjahat, sekalipun ia telah berlaku keji dan membunuh. Bagi seorang pengusaha, dharma adalah membantu memutarkan roda ekonomi, bukan hanya mencari uang untuk diri sendiri. Dan, bagi seorang pekerja, dharma adalah melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Setiap orang dituntut untuk menjalankan dharmanya sendiri, atau swadharma melaksanakan tugas kewajibannya seusai dengan kemampuannya.” (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Hati Draupadi gundah, gelisah, Arjuna belum nampak juga, akan tetapi Krishna hanya tersenyum, sehingga Draupadi menjadi tenang kembali. Pandawa yang menyamar sebagai para brahmana sebenarnya sudah meninggalkan kota, kala bertemu seorang brahmana yang lumpuh yang ingin datang ke istana. Pandawa tidak tega dan akhirnya Bhima menggendong sang brahmana ke kota dan melihat Sayembara. Atas nasehat Krishna, Drupada mengumumkan bahwa para Brahmana pun boleh ikut Sayembara.

Melihat banyaknya ksatria Kaurava dan beberapa raja lainnya, Pandawa takut penyamarannya terbuka, kemudian Pandawa memutuskan meninggalkan tempat Sayembara. Tiba-tiba Krishna dari atas panggung menghentikan mereka dengan teriakannya. “Apa gunanya punya ilmu yang berharga, bila melihat orang yang sedang kesusahan diam saja. Untuk apa ilmunya bila tidak untuk dimanfaatkan demi dharma?” Draupadi dan ayahandanya Raja Drupada sedang berada dalam posisi sulit, karena Duryudana telah meminta Sayembara diteruskan sampai ada pemenangnya. Bagaimana pun sampai saat itu tak ada seorang pun yang mampu memenangkan Sayembara.

Tidak ada segores pun rasa bersalah Arjuna sewaktu menaklukkan Raja Drupada, sebagai Gurudaksina (persembahan seorang murid pada Gurunya) kepada Drona. Kekalahan Drupada telah mengakibatkan kerajaannya separoh diambil Drona dan dia sangat dipermalukan. Krishna mengetahui segalanya, bahwa membantu Drupada, Arjuna akan menyelesaikan utang perbuatannya.

Mendengar kata-kata Krishna, Arjuna tersentuh, dia menimbang-nimbang bahwa sebelumnya seorang brahmana yang lumpuh pun dibantu agar dapat menghadiri acara Sayembara. Mengapa Raja Drupada dan Draupadi yang sedang memperoleh masalah besar tidak dibantunya? Mengapa dia membiarkan Duryudana yang jahat dan Shakuni yang licik mempermalukan Draupadi dan Raja Drupada?

Kata-kata Krishna merasuk dalam diri Arjuna dan kemudian Arjuna masuk arena, dapat mengangkat busur dan membidik sasarannya. Arjuna memenangkan Sayembara.

 

Sri Krishna dalam diri Manusia

Sifat pikiran adalah tidak pernah tenang, setiap pilihan selalu saja ada resiko yang membuat gelisah. Pikiran selalu berada dalam keraguan. Adalah hati nurani, intuisi  yang membuat pilihan mantap. Hati nurani, intuisi, integensia melampaui pikiran. Dalam Kitab Bhagavad Gita, Arjuna yang gelisah memperoleh pencerahan dari Sri Krishna. Bagi Arjuna, Sri Krishna adalah hati nurani yang mewujud sebagai pemandu dirinya. Sri Krishna adalah Guru Sejati dalam diri yang mewujud untuk membimbing perjalanan hidupnya.

Gelisah itu sangat manusiawi, Arjuna menghadapi hal serupa di tengah pasukan yang akan bertempur di medan Kurukshetra. Bukan hanya Arjuna, kita semua pernah mengalami kegelisahan serupa. Para leluhur selalu membayangkan perang bharatayudha terjadi di dalam diri. Arjuna dan Sri Krishna pun berada dalam diri. Menghadapi masalah yang sulit dipecahkan pikiran, maka Arjuna bertanya kepada Sri Krishna, pikiran jernih atau kesadaran atau Gusti atau apa pun istilahnya, yang bersemayam di dalam diri. Bila ragu, bila bimbang, bila gelisah tanyalah kepada Sri Krishna yang bersemayam dalam diri. Dialah Sang Mahaguru Sejati. Setelah berpikir dengan jernih mencari solusi, serahkan semuanya kepada Gusti. Apa pun yang akan terjadi, semuanya pasti demi kebaikan diri. Dengan demikian, dalam pengambilan keputusan tak ada kebimbangan lagi.