Jelita Draupadi di Antara Dendam Tak Berkesudahan Dua Keluarga


 

313180-mahabharat.jpg

Gambar Draupadi sumber: http://www.india-forums.com/forum_posts.asp?TID=3888818&TPN=134

 

“Kata-kata dapat menyejukkan hati atau membakar hati. Dan, kata-kata, aksara atau akshara-tidak pernah punah. la tidak mengenal kshara atau kepunahan. Setiap kata yang terucap oleh kita akan kembali ke kita. Sebab itu, berhati-hatilah selalu dalam menggunakan kata-kata. Fitnah yang kita lontarkan akan kembali kepada kita. Kebohongan yang kita sebarkan akan kembali pula kepada kita. Kepalsuan yang kita percayai menjadi kepercayaan kita. ABC , Always Be Careful!” (Krishna, Anand. (2008). Niti Sastra, Kebijakan Klasik bagi Manusia Indonesia Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Janji Drupada kepada Drona

Drupada dan Drona adalah dua sahabat di waktu anak-anak, mereka belajar bersama pada satu perguruan dan mengalami suka-duka bersama, bagaikan dua saudara. Sebagai anak-anak Drupada pernah mengatakan kepada Drona bahwa bila dia menjadi raja, kerajaannya akan dibagi dua antara dirinya dan Drona. Namanya saja janji monyet, janji anak-anak, akan tetapi Keberadaan menggunakan janji anak-anak tersebut sebagai salah satu pemicu Perang Besar Bharatayuda.

Drupada lupa kepada janjinya dan akhirnya menjadi raja di Panchala. Sedangkan Drona hidup terlunta-lunta, anak semata wayangnya yang masih kecil, Ashvattama minta minum susu saja tidak mampu mengabulkan, sehingga istri Drona menanak nasi dan mengambil airnya (bahasa Jawa, tajin) dan mengatakan itu susu kepada Ashvattama yang kegirangan dan berteriak pada teman-temannya bahwa dia minum susu.

Drona datang kepada Drupada dan sebagai sahabat minta diberikan seekor sapi, agar susunya dapat diperah untuk minum susu anaknya. Drupada dengan kebesaran seorang raja menolak, dia akan memberikan sapi sebagai anugrah raja kepada orang miskin, tapi bukan sebagai seorang sahabat yang membantu sahabat yang lain. Dia merasa bukan sahabat Drona. Kata-kata, aksara atau akshara-tidak pernah punah. la tidak mengenal kshara atau kepunahan. Setiap kata yang terucap oleh kita akan kembali ke kita. Kata-kata Drupada bagai sembilu, menyayat, mengakibatkan luka yang dalam pada Drona.

Drona sakit hati dan mengutuk akan datang lagi dengan murid-muridnya menagih janji Drupada. Drona akhirnya bertemu Parasurama yang dalam perjalanan akhir ke Himalaya. Harta-benda Parasurama sudah diserahkan ke para brahmana yang bertemu dengannnya dan kepada Drona dia mengajari ilmu kanuragan dan peperangan. Nasib baik mulai mendatangi Drona sehingga dia menjadi Guru di Kerajaan Hastina, mengajar Pandawa dan Korawa.

 

Dendam Raja Drupada

Sebagai Guru Daksina (persembahan murid kepada Guru yang telah memberikan ilmunya), Drona minta murid-muridnya menundukkan Raja Drupada. Dendam Drona terbalaskan, Pandawa dapat menundukkan kerajaan Panchala dan Arjuna membawa Drupada ke hadapan Drona. Drona minta separuh kerajaan yang kemudian diberikan kepada Ashvattama dan berkata kepada Drupada, karena Drupada tidak mempunyai putra agar Ashvattama dianggap sebagai putranya juga.

Kata-kata, aksara atau akshara-tidak pernah punah. la tidak mengenal kshara atau kepunahan. Setiap kata yang terucap oleh kita akan kembali ke kita. Drupada sakit hati dan dendam terhadap tindakan Drona yang mempermalukannya, bahkan menyebutnya tidak punya anak laki-laki. Dia sadar dia hanya mempunyai anak wandu (waria, setengah wanita setengah pria) Srikandi. Drupada mengembara dengan dendam membara selama 2 tahun sampai ketemu brahmana Yodya dan Upayodya yang mengajarinya untuk melakukan upacara persembahan Agnihotra untuk memperoleh putra sesuai dengan yang dikehendakinya. Drona ingin mempunyai putra setangguh Arjuna dan saudara-saudaranya sehingga dapat membalaskan dendam kepada Drona.

Sebagai hasil upacara persembahan Agnihotra, Drupada memperoleh putra Dhrishtadyumna dan putri Draupadi. Drupada tidak pernah mengira bahwa justru Draupadi akan lahir sebagai putri tegas-bijaksana yang mempunyai peran besar dalam menegakkan dharma. Setelah Draupadi bertemu Sri Krishna, hidup Draupadi berubah dan dia sangat patuh terhadap nasehat Sri Krishna.

 

Menjadi pihak adharma atau dharma adalah pilihan bukan takdir

“Dharma tidak selalu ‘menyenangkan’ sebagaimana kita mengartikan kata ‘kesenangan’. Ia adalah ketepatan. Kita masih ingat tutur Sri Krishna dalam Bhagavad Gita, ‘Ada yang menyenangkan atau Preya, dan ada yang memuliakan atau Shreya.’ Dharma adalah sesuatu yang memuliakan. Sesuatu yang menyenangkan tidak selalu memuliakan. Tetapi, sesuatu yang memuliakan sudah pasti menyenangkan pula, walau di awalnya tidak terasa demikian. “Sesuatu yang menyenangkan pada awalnya memang terasa manis, tetapi akhirnya terasa pahit. Sebaliknya, sesuatu yang memuliakan, awalnya barangkali terasa pahit – akhirnya manis.Dharma adalah sesuatu yang memuliakan.” (Krishna, Anand.  (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post)

Seorang teman mengatakan bahwa perang Bharatayuda pasti akan terjadi, karena itu adalah wahana untuk mengalahkan adharma dan menegakkan dharma di zaman itu. Bila perang Bharatayuda adalah sebuah kepastian, maka selalu akan ada yang menjadi pihak adharma dan selalu ada yang menjadi pihak dharma. Tanpa pihak adharma dan pihak dharma, perang tidak akan terjadi. Bila takdirnya demikian, apakah menjadi pihak adharma sudah skenario alam? Menurut pendapat pribadi kami sampai dengan saat ini, memang akan selalu ada pihak adharma dan pihak dharma, persoalannya adalah bukan takdir seseorang menjadi adharma atau dharma, persoalan utama adalah pilihan setiap orang, apakah dia akan memilih pihak adharma atau memilih pihak dharma.

Karna tahu bahwa Duryudana dan Shakuni jahat, akan tetapi karena memilih membalas budi kebaikan Duryudana yang telah memberinya kehormatan duniawi, maka dia pilih memihak Kaurawa. Ini adalah sebuah pilihan. Bisa saja Karna memilih pihak Pandawa. Menjadi adharma atau dharma adalah pilihan kita dengan resiko masing-masing.

Saat Karna curhat kepada Sri Krishna tentang diskriminasi yang dialaminya sebagai putra sais kereta, Krishna menjawab, “Berjuanglah untuk memperoleh kehormatan akan tetapi jangan melawan dharma. Gunung (adharma) yang sangat besar pun tidak akan mampu menahan aliran sungai (dharma) yang dalam perjalanan menuju samudra!” Karna lupa akan nasehat Krishna dan berpihak pada Adharma.

 

Draupadi mengikuti Sri Krishna dan berpihak pada dharma

Dalam kisah Mahabharata setiap orang selalu mempunyai pilihan yang akan membawanya  ke jalan dharma atau jalan adharma. Adalah Draupadi yang bisa menghormati Srikandi yang bangga sebagai panglima perang Kerajaan Panchala, dan dapat merasakan kekecewaan Srikandi saat Raja Drupada menunjuk Dhrishtadyumna sebagai panglima perang menggantikan Srikandi dengan alasan Dhrishtadyumna adalah seorang pria. Bagi Draupadi menjadi wanita atau waria tidak mengurangi sifat kedharmaan.

Saat Draupadi protes kepada ayahandanya atas perlakuannya terhadap Srikandi, Draupadi bahkan sampai diusir ke luar istana. Hanya pada saat Sri Krishna akan membunuh Drupada yang sudah tak berdaya, Draupadi membela dengan melindungi ayahandanya dan rela mati demi ayahandanya. Sri Krishna tersenyum dan menarik senjata gadanya. Kata-kata Sri Krishna kemudian mengubah kehidupan dirinya. Sri Krishna berkata, “Aku tidak akan membunuhmu, untuk menegakkan dharma aku butuh kamu dan Arjuna!” setelah peristiwa tersebut Drupada sadar dan menjadi raja dan orang tua yang baik. selama ini anak-anaknya yang mempunyai kepribadian sendiri tidak dihormatinya, bagi Drupada anak-anaknya adalah alat untuk membalaskan dendam pribadinya kepada Drona. Melihat ayahandanya yang dapat disadarkan Sri Krishna, Draupadi semakin yakin pada kebijakan Sri Krishna dan patuh terhadap semua nasehatnya.

 

Menjadi Alat Sri Krishna

“Kita hanyalah alat. Hyang bekerja adalah Dia. Serahkan semuanya kepada Dia. Kita berdoa supaya bisa menjadi alat yang baik di tanganNya – alat tanpa ego. Gita 2: 27-28: Ia yang lahir harus mati, ia yang mati harus lahir. Jangan gelisah, karena hukum ini memang tak terelakkan. Makhluk-makhluk yang kau lihat ini, wahai Arjuna, pada awal mulanya Tak-Nyata, pada masa pertengahannya terasa Nyata dan pada akhirnya menjadi Tak-Nyata lagi. Lantas apa gunanya kamu bersedih hati? (yang diketahui manusia hanya antar lahir dan mati saja. kita ini sebenarnya hanya alatNya, yang dikirimkan untuk melakukan tugas-tugasNya, jadi kita seharusnya berbhakti sesuai dengan kehendakNya).” (Krishna, Anand. (2002). Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Menjadi alat Sri Krishna, Draupadi bersedia melakukan peran yang penuh cobaan dan hinaan yang tak tertahankan bagi orang biasa. Menjadi alat Sri Krishna seseorang akan merasakan kebahagiaan sejati dalam dirinya walaupun bagi orang awam mungkin nampak banyak menderita.

Draupadi yakin pada Sri Krishna, sehingga dia bisa menjadi alat Sri Krishna yang merancang skenario penegakan dharma. Pada waktu svayamvara memperebutkan dirinya, Draupadi diberitahu Sri Krishna hanya ada dua ksatria yang bisa lolos svayamvara yaitu Karna dan Arjuna. Bila Draupadi tidak mau menjadi istri Karna, dia bisa menolaknya. Kala Karna mau maju sedangkan Arjuna belum nampak, Draupadi memilih tindakan menolak dengan alasan Karna adalah putra seorang Sais Kereta. Karna sangat marah, demikian pula para Kaurawa yang tadinya berharap  Karna dapat mewakili Duryudana memperoleh Draupadi. Sebelumnya Shakuni meminta Karna ikut svayamvara mewakili Duryudana, bila Draupadi menjadi istri Duryudana, kerajaan Hastina akan semakin kuat. Kata-kata Draupadi menempatkan Kerajaan Panchala menjadi musuh Hastina. Apalagi setelah para Kaurawa tahu bahwa brahmana pemenang svayamvara adalah Arjuna dari Pandawa.

 

Dilema Draupadi

Arjuna dan saudara-saudaranya membawa Draupadi ke tempat Kunti yang sedang melakukan puja dengan mata tertutup. Kala Arjuna menyampaikan bahwa dia memperoleh hadiah, tanpa membuka mata, Kunti memberi perintah agar hadiahnya dibagi 5. Apa pun yang diperoleh Arjuna harus dibagi rata dengan saudaranya. Saat Kunti membuka mata, dia kaget ternyata yang dimaksud hadiah adalah Putri Draupadi yang nampak sedang menangis terisak-isak mendengar kata-katanya. Yudistira menyalahkan ibunya mengapa memberi perintah sebelum benar-benar memahami duduk perkaranya. Kunti ingin membatalkan perintahnya, namun sesuai dengan kebiasaan zaman itu, kata-kata yang diucapkan harus ditepati atau akan ada akibat dari kata-kata tersebut di kemudian hari.

Solusinya adalah keempat bersaudara akan menjadi pertapa sungguhan yang tidak kawin, sehingga kata-kata Kunti tidak bisa dilaksanakan. Arjuna menyarankan Draupadi kawin dengan Yudistira dan dia dan saudara-saudaranya yang lain akan menjadi pertapa sungguhan. Draupadi tidak setuju, karena dia telah menolak Karna mengikuti svayamvara mewakili Duryudana. Drupadi pada akhirnya bahkan mau mempunyai suami lima bersaudara. Drupada yang datang langsung marah dan membawa Draupadi kembali ke istana.

Mpu Vyaasa, sang penulis Mahabharata  datang dan menasehati Kunti bahwa Yudistira tidak bisa membujang selamanya. Bila Yudistira tidak kawin, maka dia tidak akan bisa menjadi raja Hastina, dan Hastina akan diperintah oleh raja Duryudana yang berpihak pada adharma. Mpu Vyaasa mengingatkan, Kunti mengajak Pandawa pergi dari istana hanya untuk menyelamatkan diri mereka sendiri tanpa memikirkan kepentingan rakyat banyak.

 

Nasehat Sri Krishna

Sewaktu Pandawa datang ke istana lagi dan Drupada bertambah marah dan akan menyerang mereka, Krishna datang dan mengingatkan kata-kata Drupada di depan api agnihotra yang tidak senang dengan kelahiran anak perempuan. Drupada berkata bahwa bila lahir anak perempuan biarlah putrinya selalu mengalami penderitaan. Drupada sadar dan menyesali kata-kata yang pernah diucapkannya di depan api suci.

Sri Krishna kemudian menemui Draupadi dan mengujinya, mengapa dia mau menikahi Pandawa? Draupadi menjawab, kalau menuruti dirinya pribadi maka dia hanya mau kawin dengan Arjuna. Akan tetapi bila Yudistira membujang selamanya, Kerajaan Hastina akan diperintah oleh Duryudana yang jahat sehingga dunia akan menderita. Krishna tersenyum, “Menikahi lima bersaudara adalah tindakan adharma, akan tetapi untukmu ini bukan adharma, karena engkau memikirkan kebahagiaan banyak orang! Kau lahir lewat api pemujaan, api akan selalu menyucikanmu dan saat engkau dalam kesulitan panggillah Aku, Aku akan menolongmu!”

Mpu Vyaasa minta Pandawa bersumpah bahwa Draupadi selama setahun penuh akanmenjadi istri Yudistira, tahun berikutnya istri Bhima dan seterusnya istri adik-adiknya. Setiap akhir tahun Pandawa dan Draupadi akan bersemedi mensucikan diri.

 

Berbagai Cobaan bagi Draupadi

Masih banyak cobaan yang akan dialami oleh Draupadi, bahkan dia dipermalukan di depan sidang di Istana Hastina, kala Dursasana melepas kain sarinya. Pada saat kritis tersebut Draupadi minta pertolongan Sri Krishna dan dia terselamatkan.

Di akhir perang Bharatayuda saat pasukan Pandawa tidur kelelahan di malam hari setelah memenangkan peperangan, Ashvattama masuk ke tenda putra-putra Pandawa, dan semua putra Draupadi dibunuh olehnya. Dhrishtadyumna yang tidur di tenda tersebut juga dibunuh oleh Ashvattama yang dendam karena Drona, ayahandanya dibunuh pihak Pandawa dengan cara memperdayainya.

Draupadi sangat sedih, akan tetapi ingat bahwa walaupun dia hidup menjalankan dharma, akan tetapi hukum sebab-akibat di dunia tetap berlaku. Ayahandanya, Drupada mati di hari ke 15 perang Bharatayuda oleh panah Drona. Kemudian di hari yang sama Drona diperdaya Pandawa. Bhima membunuh gajah bernama Ashvattama dan semua pasukan Pandawa berteriak Ashvattama mati. Drona mendatangi Yudistira dan bertanya apakah benar Ashvattama mati? Dan Yudistira mengiakan bahwa (Gajah, dengan suara sangat pelan) Ashvattama mati. Drona kemudian limbung dan melakukan meditasi dan Dhrishtadyumna datang membunuh Drona. Kini, Dhrishtadyumna dan anak-anaknya telah mati semua dibunuh anak Drona.

Kembali Draupadi ingat Sri Krishna dan dia akan tunduk pada Sri Krishna. Ketika Draupadi menyaksikan Ashvattama tidak dibunuh Arjuna melainkan diusir dari Hastina, Draupadi menerima dengan tenang. Hidup bukan untuk balas-membalas dendam yang tak ada habisnya

 

Dharma Artha Kama Moksha

“Pertama: Dharma atau kebajikan. Kebajikan adalah ketepatan bertindak. Kebajikan juga berarti kebaikan dalam arti kata seluas-luasnya. Meraih pendidikan yang baik dan tepat adalah juga dharma. Menjalankan tugas kewajiban kita dengan baik dan tepat adalah juga dharma. Menjalani hidup ini demi kebaikan adalah juga dharma. Ketepatan dalam hal berpikir dan berperasaan adalah juga dharma. Dharma adalah kemanusiaan dalam diri manusia. Dharma adalah kesadaran berperikemanusiaan. Bagi seorang prajurit, membunuh musuh di medan perang adalah dharma. Bagi seorang rohaniwan, dharma adalah memaafkan seorang penjahat, sekalipun ia telah berlaku keji dan membunuh. Bagi seorang pengusaha, dharma adalah membantu memutarkan roda ekonomi, bukan hanya mencari uang untuk diri sendiri. Dan, bagi seorang pekerja, dharma adalah melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Setiap orang dituntut untuk menjalankan dharmanya sendiri, atau swadharma melaksanakan tugas kewajibannya seusai dengan kemampuannya.

“Kedua: artha atau harta, uang, materi. Carilah harta, kumpulkan uang dengan cara dharma dengan baik dan tepat, tanpa merugikan orang lain.

“Ketiga: kama atau napsu, keinginan. Gunakan harga yang dicari dengan cara dharma itu untuk memenuhi segala kebutuhan serta keinginan kita, tetapi jangan lupa menjaga keinginan itu supaya tidak melebihi penghasilan.

“Keempat: moksha atau kebebasan, juga dapat diartikan sebagai “pembebasan” yang secara khusus berarti bebas dari siklus kelahiran dan kematian. Ini adalah Tujuan hidup manusia. Sekali hidup sebagai manusia semestinya sudah cukup untuk mengakhiri siklus kehidupan di dunia ini, sehingga jiwa dapat berevolusi lebih lanjut. Barangkali dalam alam yang berbeda.

“Dharma, artha dan kama adalah tujuan-tujuan dalam hidup. Moksha adalah tujuan hidup, tujuan akhir. Karena itu, sesungguhnya keempat hal tersebut saling berkaitan. Yang satu tidak dapat dipisahkan dari yang lain.

“Urutan dharma, artha, kama dan moksha ini penting sekali. Jangan mengacaukan urutan ini. Carilah uang dengan jalan dharma, dengan cara yang baik dan bijak. Berkeinginanlah sesuai dengan penghasilan. Dan, akhir, janganlah terikat dengan dunia ini, karena keterikatan berarti perbudakan, dan seorang budak tidak bisa menikmati hidup. Semewah apa pun sangka dimana kita berada, sangkat tetaplah sangkar. Walaupun terbuat dari emas, sangkah merampas kebebasan kita.” (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: