Nandi Wahana Mahadeva, Persembahan Kepatuhan Sepanjang Masa

 

Nandi sumber www youtube com

Gambar Nandi sumber www youtube com

“Ketika titik yang dituju di”niat”kan sebagai satu-satunya kiblat dan kita mencintai kiblat itu, maka one ‘pointed’ness terjadi dengan sendirinya tanpa perlu diupayakan. Sebagai seorang-pelajar, siswa atau mahasiwa, apa yang menjadi kiblatmu? Apa yang menjadi tujuanmu ke sekolah atau kampus? Pikirkan, renungkan, kemudian bertanyalah pada diri sendiri berapa banyak waktu yang kau gunakan untuk mencapai tujuan itu dan berapa banyak waktu yang kau sia-siakan untuk mengejar hal-hal lain. Belajar. Ke sekolah untuk belajar, ke kampus untuk belajar. Bukan untuk pacaran, bukan untuk berpolitik. Apakah kau one’pointed’ terhadap pelajaranmu? Silakan berkenalan dengan siapa saja, berteman siapa saja, bersahabat dengan siapa saja, tetapi tidak one’pointed’ terhadap apa pun, selain pelajaranmu, tujuanmu ke sekolah dan ke kampus. One ‘pointed’ness adalah latihan mental dan emosional untuk memperkuat syaraf dan nyalimu. Latihan ini juga membutuhkan tenaga yang luar biasa, tenaga ribuan kuda, yang hanya dimiliki oleh kaum muda. Maka, tentukan kiblatmu, cintailah kiblatmu. Arahkan seluruh kesadaranmu dan tunjukkan seluruh energimu untuk mencapainya.” (Krishna, Anand. (2001). Youth Challenges And Empowerment. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Kelahiran Nandi, berkorban jiwa dan raga demi menggapai Cita-Cita

Resi Shilada bertapa dengan keras untuk memperoleh seorang putra. Indra berkenan dengan tapa sang resi dan menanyakan apa keinginan sang resi. Setelah mengetahui bahwa keinginannya adalah memiliki anak yang hidup kekal, maka sang resi diminta bertapa memuja Shiva. Resi Shilada bertapa ribuan tahun sehingga rayap mulai mngerumuni tubuhnya. Kulitnya juga mulai dimakan serangga, kemudian dagingnya dan bahkan darahnya,  sehingga akhirnya hanya tertinggal tulangnya saja. Bukan hanya seluruh jiwanya terfokus pada cita-cita, akan tetapi fisiknya, mulai dari kulit, daging, darah yang mengalir pada seluruh tubuh dan bahkan tulangnya semuanya dikerahkan untuk menggapai cita-cita dengan melakukan persembahan kepada Mahadeva. Seorang pelajar/mahasiswa/karyawan/ilmuwan ataupun seorang “pejalan spiritual” yang bertindak sedemikian fokusnya dengan penuh semangat dan rela berkorban demi cita-cita yang akan diraihnya akan berhasil.

Shiva berkenan, hadir dan memberkati sang resi. Resi Shilada kemudian melakukan yajna agnihotra dan muncullah Nandi yang memperoleh penghormatan dari semua dewa yang hadir pada upacara Yajna. Sang resi membesarkan Nandi dengan penuh perhatian dan pada usia tujuh tahun Nandi sudah hapal Veda. Dewa Mitra dan Varuna yang datang ke tempat sang resi mengatakan bahwa walaupun sang anak mempunyai peruntungan yang luar biasa akan tetapi usianya tidak lama. Pada umur delapan tahun dia akan meninggal dunia. Sang ayah sangat sedih dan Nandi berkata supaya ayahnya tidak perlu bersedih.

Dalam diri Nandi terdapat semangat bergelora seperti yang dimiliki sang ayah. Nandi kemudian bertapa memuja Dewa Shiva. Pada tahun ke delapan ternyata Nandi masih hidup dan terus bertapa hingga ratusan tahun. Shiva berkenan dan memberkatinya dengan kalung yang mmembuatnya abadi. Shiva berkata bahwa Nandi akan menjadi Wahananya dan akan dipuja bersama dirinya. Selanjutnya Nandi berubah wujud menjadi setengah banteng dan setengah manusia dan menemani Mahadeva selamanya. Mahadeva sangat senang dengan Nandi dan sangat percaya kepadanya.

 

Hidup Nandi hanya dipersembahkan kepada Mahadeva

“Seorang panembah mengubah irama napasnya menjadi irama ilahi. Seluruh hidupnya menjadi sebuah lagu indah yang menyanyikan keangungan-Nya. Bagi seorang panembah sejati tiada lagi perpisahan antara jam kerja, jam libur, jam keluarga, setiap menit, setiap detik adalah saat untuk menyembah. Seorang panembah mengubah seluruh hidupnya menjadi suatu persembahan. Ia melakukan segala sesuatu dengan semangat panembahan, persembahan. Ia menjalani hidup dengan penuh kesadaran. Panembahan bukanlah pekerjaan mereka yang belum sadar. Mereka yang belum, atau tidak sadar, tidak dapat menjalani hidup seperti itu. Mereka masih menghitung untung-rugi, sementara seorang Panembah sudah tidak peduli akan hal itu. (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Nandi tidak terbawa oleh nafsu pancaindra, tidak tergoyahkan dalam menghadapi semua rintangan. Nandi berkarya sebagai persembahan kepada Mahadeva dengan penuh keyakinan, tidak khawatir dan berkecil hati. Bukan hanya tubuh Nandi yang berkembang menjadi besar, akan tetapi jiwanya tumbuh menjadi besar. Kebesaran jiwa Nandi mengundang kebesaran, keyakinan Nandi mengundang keyakinan, alam semesta memberkati Nandi.

Nandi dikisahkan dapat mengambil wujud apa pun, seperti dalam salah satu episode di ANTV, dia mengambil wujud ikan raksasa kala Parvati dalam wujud putri nelayan akan dikawinkan dengan nelayan yang bisa menaklukkan ikan raksasa tersebut. Adalah Mahadeva yang mengubah wujudnya menjadi nelayan penakluk ikan raksasa tersebut dan itu merupakan skenario Shiva dan Nandi. Nandi selalu siap melayani Shiva dan mengabdikan hidupnya untuk Shiva.

 

Berdoa di telinga Nandi

“Adalah perasaan kita yang memberi kesan kasar dan halus. Dan, perasaan kita tergantung pada kesadaran kita. Jika kesadaran kita terfokus pada dunia, getaran itu terasa kasar. Jika kesadaran kita terfokus pada Gusti Pangeran, getaran itu terasa halus. Kasar dan halus tidak bersifat absolut. Kasar bisa terasa halus, dan halus bisa terasa kasar. Dalam menjalani kepercayaan atau agama, jika seorang masih memikirkan pahala yang bersifat ‘materi’ kenyamanan dunia, atau kenikmatan surga maka sesungguhnya ia masih berada pada frekuensi rendah. Ia sedang bergetar dengan keras sekali. Sementara itu, seorang panembah yang berada di tengah keramaian dunia, jika kesadarannya terfokus pada Gusti Pangeran, ia akan berada pada frekuensi yang tinggi. Ia sedang bergetar halus.” (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Banyak pemuja Shiva yang berdoa di dekat telinga Nandi. Mereka berdoa dengan membayangkan Nandi sungguhan yang hidup pada arca Shiva-Nandi untuk memudahkan imaginasinya. Dikisahkan Parvati kehilangan ingatan dan Shiva menjadi sangat terganggu. Kemudian Shiva dan Parvati bermeditasi bersama dengan berdampingan. Mereka sangat dalam bermeditasi dan Nandi juga kemudian ikut bermeditasi duduk di depan Mahadeva. Nandi ingin memastikan bahwa ia berhubungan langsung dengan Mahadeva dengan duduk persis di hadapannya. Adalah musuh Mahadeva, Asura Jalandhara menculik Parvati dan Shiva serta Nandi tidak menyadari dan melanjutkan meditasinya.

Para dewa khawatir dan tidak tahu bagaimana caranya memberitahu kepada Mahadeva tentang kejadian tersebut. Ganesha, putra Parvati diminta menyampaikan informasi tersebut kepada Mahadeva, akan tetapi dia tidak bergerak sedikit pun atas pemberitahuan Ganesha tersebut. Ganesha kemudian berdoa di dekat telinga Nandi. Nandi yang mendengar berita tersebut langsung memberitahukan lewat gelombang pikirannya kepada Mahadeva. Nandi tidak menyampaikan berita lewat mulut akan tetapi lewat gelombang pikiran. Gelombang pikiran yang sama antara Guru dan Murid ini disebut Shaktipaat, yang terjadi ketika keduanya sedang bergetar bersama. Kemudian, seorang guru tidak lagi membutuhkan bicara untuk menyampaikan pemikirannya. Sang siswa pun tidak membutuhkan sepasang telinga untuk mendengarkan wejangan guru. Memahami apa yang disampaikan Nandi lewat getaran pikiran, Mahadeva, Sang Guru kemudian menyelesaikan meditasi dan meyelamatkan Parvati. Itulah sebabnya sebagian pemuja Shiva berdoa di dekat telinga Nandi.

 

Mengikuti Mahadeva minum racun demi menyelamatkan makhluk di dunia

Mahadeva berkata kepada para pemujanya, agar bisa menjadi bhakta yang baik haruslah meneladani Nandi. Dikisahkan bahwa para Dewa dan para Asura sedang bekerja sama mengaduk samudera susu. Silakan baca https://triwidodo.wordpress.com/2011/07/08/renungan-bhagavatam-perebutan-amerta-dan-kurma-avatara/

Tiba-tiba dari dalam samudera susu muncullah racun yang sangat mematikan—Halahala. Ngeri terhadap racun tersebut, seluruh makhluk pun melarikan diri menuju Mahadeva dan memohon pertolongan kepadanya. Mahadeva kemudian datang dan menangkupkan telapak tangannya, mengumpulkan racun tersebut dan menelannya. Begitu dahsyatnya kekuatan racun tersebut, sehingga membuat tenggorokan Mahadeva menjadi biru. Beberapa tetes racun tersebut  menetes melalui sela-sela jari-jari Shiva. Nandi segera menelan tetesan racun tersebut, jangan sampai makhluk lain menderita karena terkena sisa racun yang sangat berbahaya. Para dewa khawatir Nandi akan menderita bahaya karena minum tetesan racun tersebut. Shiva berkata bahwa Nandi merasakan pahit getir bersamanya, melihat dia minum racun maka Nandi pun ikut minum tetesan racun tersebut. Mahadeva meyakinkan bahwa Nandi akan baik-baik saja.

Sampai sekarang kisah Nandi, sebagaimana kisah Hanuman dan kisah para bhakta sejati menjadi teladan dan panduan kehidupan bagi para pejalan spiritual. Bila kita mengikuti Sang Utusan, Sang Pembawa Pesan, Sang Pemandu seperti yang dilakukan Nandi, maka hidup kita akan mencapai kebahagiaan sejati.

 

http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2014/08/28/nandi-wahana-mahadeva-persembahan-kepatuhan-sepanjang-masa/

Dadu Yudhisthira Shakuni: Solusi Tanpa Pertumpahan Darah atau Pemicu Perang Berdarah-Darah?

yudistira main dadu 2 sumber dishayulinda blogspot com

Gambar Shakuni lawan judi Yudhisthira sumber: dishayulinda blogspot com

 

Mandataris

“Seorang Raja hanyalah Mandataris. Seorang raja diberi mandat untuk mengurusi kerajaan. Ia bukan pemilik. Ia tidak dapat berbuat semaunya. Tugas seorang raja adalah melayani rakyat; tidak lebih tidak kurang.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Yudhisthira membuat kerajaan dipertaruhkan di meja judi, juga saudara-saudaranya yang patuh terhadapnya ikut dipertaruhkan. Bahkan kemudian dirinya sendiri pun dipertaruhkan. Karena  kalah terus dia pun akhirnya menjadi budak Duryudana. Setelah menjadi budak dia sudah tidak berhak bersuara dan permaisuri Draupadi pun menjadi taruhan dan dilecehkan di muka umum.

Yudhisthira berbuat kesalahan. Yudhisthira sudah mengkhianati amanah yang diembannya, mandat yang diberikan kepadanya. Saudara-saudaranya bukan miliknya, istrinya dan semua kepemilikan yang lain adalah milik Hyang Maha Memiliki, dan kita hanya menerima amanah. Sebuah kesalahan yang fatal karena Yudhisthira senang main dadu, memiliki karakter “tidak enakan” bila menolak ajakan orang lain serta berprasangka baik terhadap pihak yang berkali-kali menzaliminya.

 

“Tidak enakan” dan Berprasangka Baik terhadap Pihak yang Menzaliminya Berkali-kali

“Tidak enakan. Segan untuk mengatakan ‘tidak’. Kurang, atau bahkan tidak tegas. Inilah kelemahan utama seorang pemimpin. Tanpa ketegasan, seseorang tidak bisa memimpin. Mau memimpin dengan kerendahan hati? Silakan. Tapi, selain kerendahan hati, ketegasan pun diperlukan. Tanpa ketegasan, semuanya akan amburadul. Silakan memimpin dengan kasih, tidak perlu bertangan besi. Tapi tidak bisa juga bertangan mentega yang kena panas sedikit langsung meleleh.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Yudhisthira diundang main dadu ke Hastina oleh Duryudana. Semua saudara-saudaranya sudah memperingatkan, akan tetapi Yudhisthira merasa tidak enak, diundang ke Hastina ya seharusnya datang. Apalagi main dadu adalah tradisi yang masih berlaku di masa itu.

Yudhisthira selalu berbaik sangka terhadap orang lain. Memang sebagai orang yang sudah melakoni jalan spiritual, dia berupaya bebas dari menghakimi orang lain. Akan tetapi, Yudhisthira dan saudara-saudaranya sudah berkali-kali dizalimi, dijebak dan dicoba dibunuh, mengapa dia tidak waspada? Mereka memang familinya, saudaranya, akan tetapi tidakkah dia ingat apa yang mereka lakukan sebelumnya?

Mengapa Kaurawa mengundangnya main judi saat Sri Krishna sedang tidak berada di Indraprastha, saat sedang menghadapi Raja Salwa yang menyerang kerajaannya? Judi adalah tradisi masa itu, akan tetapi bukankah Sri Krishna selalu menolak tradisi yang sudah busuk? Apakah Yudhisthira tidak ingat sejarah Dewi Vinata ibu Garuda yang bermain taruhan dengan Dewi Kadru ibu para ular? Dewi Kadru yang licik mengubah ekor Kuda Uchaisvara yang putih menjadi hitam dengan cara menyuruh anak-anaknya menutupi ekor tersebut. Dan hasilnya Dewi Vinata menjadi budak Dewi Kadru dan para ular sampai dibebaskan oleh Garuda.

 

Menyusahkan Saudara, Istri dan Rakyat

“Hidup di Alam Dharma berarti saat hidup di planet bumi ini, di dunia ini, awasilah karma Anda, tindakan Anda, supaya tidak menyusahkan orang lain. Bertindaklah secara bijak dan dengan penuh kesadaran bahwa jika Anda ingin bahagia, damai, dan tenang, maka orang lain pun sama, menginginkan kebahagiaan, kedamaian, dan ketenangan. Ketika Anda menyadari hal tersebut, ‘aku ingin bahagia, orang lain pun ingin bahagia juga’, maka terjadilah peningkatan kesadaran.” (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Yudhisthira terlalu PD untuk bermain dadu, dia yakin bahwa Dharma akan melindunginya. Aura judi membuat keserakahan dalam diri berkembang. Yudihisthira terobsesi menaklukkan Duryudana dan para Kaurawa tanpa peperangan, tanpa pertumpahan darah, tanpa merepotkan saudara-saudara dan rakyatnya. Akan tetapi Yudhisthira melupakan resiko yang besar sekali.

Setiap orang selalu mempunyai pilihan sebelum melakukan suatu tindakan. Dengan berkarya sepenuh hati, pilihan yang diambil hampir pasti membawa hasil yang sepadan. Namun bila dia memilih tindakan yang tidak bisa diperkirakan hasilnya yang memungkinkan dia akan kehilangan sesuatu yang berharga, maka dia telah terlibat dalam suatu perjudian. Perjudian selalu melibatkan resiko, dan Yudhisthira berjudi dengan resiko kehilangan saudara-saudara, istri dan kerajaan. Yudhistira telah lupa diri bahwa tindakannya beresiko menyusahkan orang banyak.

 

Skenario Keberadaan

“Setiap avatar, setiap Buddha tidak pernah ‘mengagendakan’ hidup. Mereka sedang ‘mengalir’, mengikuti arus kehidupan. Mereka tidak memiliki rencana ‘pribadi’, mereka tengah mengikuti cetak biru Keberadaan.”  (Krishna, Anand. (2000). Ah Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

Adakah semacam blueprint, cetak-biru Keberadaan tentang kekalahan judi Yudhisthira, sehingga Pandawa dipermalukan, dengan terpaksa menjadi budak dan melepas pakaian bangsawan bahkan Permaisuri Draupadi pun ditarik kain sarinya di depan para pembesar Hastina? Beruntunglah Draupadi dilindungi Sri Krishna sehingga kainnya tidak bisa habis walaupun tumpukan kainnya sudah menggunung dan membuat Dursasana kewalahan. Semua Pembesar Kerajaan Hastina merasa ngeri akan akibat dari melecehkan Draupadi di muka umum. Solusi tanpa pertumpahan darah Yudhisthira dengan main dadu justru menjadi pemicu perang berdarah-darah. Akhirnya Pandawa bersama Draupadi harus menjalani pengasingan selama 13 tahun. Shakuni bersama Duryudana ingin menjauhkan Pandawa dari rakyat. Akan tetapi permainan dadu yang curang dan dilecehkannya Draupadi tersebut menjadi pemicu perang Bharatayudha.

Sri Krishna, semaca kecil hidup bersama para gopi dan gopala di Brindavan menghadapi para Asura sakti suruhan Kamsa yang ingin membunuhnya. Setelah menjadi raja, Sri Krishna membantu Pandawa menegakkan kebenaran di dunia. Pada saat Yudhisthira diundang main dadu, Sri Krishna sedang berperang melawan Salva yang menyerang Dvaraka untuk balas dendam atas kematian Sishupala. Apakah Sri Krishna hidup mengalir sesuai cetak-biru yang telah diketahuinya?

Bapak Anand Krishna menyampaikan bahwa cetak-biru selalu ada, dan kita sebagai manusia tidak tahu bagaimana akhir skenario tersebut.

Yang penting adalah kita belajar dari hikmah permainan dadu Yudhisthira, hidup adalah pilihan dan kita perlu memilih dengan tepat. Kita pun jangan meneladani Duryudana dan Shakuni yang dengan tipu daya mengalahkan Yudistira. Memang selama benih tindakan belum menjadi pohon dan berbuah, Duryudana dan Shakuni akan menikmati kemenangan. Akan tetapi setelah buah kejahatan mereka matang, mereka akan menerima akibat yang setimpal dengan perbuatan mereka.

 

Raja Parikesit berhadapan dengan Kali

Setelah Sri Krishna meninggalkan dunia, Dharma menghadapi masalah besar. Dengan kewaskitaannya, Maharaja Parikesit cucu Arjuna dan pengganti Maharaja Yudhisthira, mampu melihat Dharma sebagai sapi berkaki satu. Kakinya yang tinggal satu pun sedang diserang oleh Kali. Kaki pertama “tapa”, pengendalian diri sudah rusak karena manusia bertindak tanpa pengendalian diri. Kaki kedua “sauca”, kesucian diri dalam pikiran, ucapan dan tindakan. Kesucian pun gugur ternodai keterikatan. Kaki ketiga “divya”, welas asih. Dan, welas asih pun telah musnah karena tertutup oleh hawa nafsu. Hanya tinggal satu kaki yang bisa membuat dirinya masih tegak, yaitu “satya”, kaki kebenaran dan Kali masih berusaha menyerang kaki tersebut. Betul-betul Zaman telah memasuki Kegelapan, Kali Yuga.

Dalam buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) disampaikan kisah yang intinya, Kali bersimpuh di hadapan Maharaja Parikesit: “Gusti yang menciptakan kebaikan juga menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah bayang-bayang kebaikan. Hamba telah diciptakan, dan hamba tetap membutuhkan ruang agar diri hamba tetap eksis. Berikan hamba tempat di paling sudut yang paling tertutup. Bagaimana pun sudah merupakan bawaan hamba untuk tetap mendatangi pintu-pintu yang dibuka sendiri oleh manusia. Para manusia yang telah mengundang hamba dan sudah menjadi kewajiban hamba untuk tidak menolak undangan mereka!”

Kekalahan main judi Kakek Yudhistira terhadap Duryudana dan Shakuni sangat membekas pada diri sang maharaja, sehingga Parikesit berkata bahwa Pintu Pertama yang bisa dimasuki Kali adalah Pintu Judi. Pintu Kedua adalah Pintu Mabuk, Pintu Ketiga adalah Pintu Zinah, Pintu Keempat adalah Pintu Pembunuhan dan Pintu Kelima adalah Pintu emas.

Masihkah kita mencoba memasuki Pintu Judi dimana Kali siap menerkam jiwa kita?

http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2014/08/23/dadu-yudhisthira-shakuni-solusi-tanpa-pertumpahan-darah-atau-pemicu-perang-berdarah-darah/

Mahabharata: Warisan Genetika Kakek Bijak Menjadi Dua Kelompok Cucu yang Baik dan yang Jahat

Pandawa Kaurawa 1 sumber sunshinelovianettesherry wordpress com

Gambar Pandawa Kaurawa sumber sunshinelovianettesherry wordpress com

“Sesungguhnya kita semua, tanpa kecuali sadar atau tidak, tengah memetik buah dari masa lalu. DNA yang merancang hidup kita saat ini sudah memiliki muatan informasi yang diperolehnya dari gen orangtua kita. Kemudian ditambah dengan apa saja yang kita peroleh dari pengalaman-pengalaman dalam hidup ini sejak usia kanak-kanak atau bahkan sebelumnya. Sedangkan muatan-muatan yang relatif baru adalah muatan-muatan yang tengah dirancang saat ini. Program-program atau rancangan-rancangan baru ini tidak hanya mempengaruhi kita sendiri tetapi kelak akan menentukan sifat genetik anak cucu kita. Mereka akan memperolehnya sebagai warisan sebagaimana kita pun memperolehnya sebagai warisan dari orangtua. Demikian lingkaran genetika ini tak terputuskan kecuali seperti yang telah disampaikan sebelumnya, ada upaya sungguh-sungguh yang intensif untuk memutuskannya dan mengubahnya atau bahkan membentuk lingkaran baru.” (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Genetika Vyaasa dalam diri Pandawa dan Kaurawa

Nenek buyut Pandawa dan Kaurawa adalah Dewi Satyawati, yang di Jawa dikenal sebagai “Roro Amis” yang setelah kawin dengan Bhagawan Parasara bau amis nelayannya sembuh dan menjadi berbau harum dan melahirkan Vyaasa, penulis kisah Mahabharata. Ditinggalkan oleh Parasara yang meneruskan perjalanan ke Himalaya, Satyawati kawin dengan Prabu Santanu yang telah berputra Devabrata. Satyawati hanya mau kawin bila anaknya menjadi putra mahkota, sehingga Devabrata bersumpah tidak akan kawin seumur hidup sehingga dikenal sebagai Bhisma, dia yang bersumpah dahsyat. Bibit ambisius ini menjadi salah satu benih genetika Raja-Raja Hastina.

Akan tetapi putra pertama Satyawati, Citragada meninggal di waktu muda dan putra kedua Wichitrawirya meninggal serta meninggalkan dua permaisuri yang belum berputra. Kedua permaisuri tersebut adalah putri-putri dari Raja Kasi. Sesuai kebiasaan zaman itu untuk memperoleh keturunan dilakukan perkawinan Niyoga. Niyoga adalah tradisi zaman dahulu, di mana seorang wanita/janda  meminta bantuan untuk melahirkan seorang anak. Orang yang ditunjuk adalah seorang yang suci dan terhormat. Sang wanita hanya bertujuan memperoleh putra dan bukan untuk kesenangan. Demikian juga orang yang dipilih, melakukannya demi kasih sayang kepada semua makhluk dan bukan demi kesenangan.

Adalah Vyaasa yang diminta sebagai pelaku pria oleh Satyawati, sang ibu untuk berhubungan dengan Ambalika dan Ambika. Menurut legenda yang tersebar di Jawa, Vyaasa membuat dirinya menakutkan sehingga Ambalika menutup mata dan lahirlah Dhristarastra yang buta. Sedangkan Ambika tidak berani melihat wajah Vyaasa sehingga wajahnya pusat pasi dan menoleh ke samping, sehingga lahirlah Pandu yang pucat dan lehernya “tengeng”, kaku kesamping. Setelah itu kedua permaisuri menyuruh seorang dayang mewakili mereka dalam kamar yang gelap. Karena sang dayang bahagia maka lahirlah Vidura.

 

Genetika Kaurawa dari Dhristarastra dan Gandhari

“Ibarat Genetika dari suami dan kakek-neneknya digabung dengan genetika dari istri dan kakek-neneknya diaduk dan diambil segenggam akan menjadi genetika sang anak.” Demikian penjelasan Bapak Anand Krishna yang kami dengar saat beliau menyampaikan bahwa “bibit, bobot dan bebet” ajaran leluhur masih relevan hingga masa kini.  Bibit yang baik dari kedua belah pihak suami dan istri memungkinkan anak mempunyai bibit yang baik dan kemudian tinggal memfasilitasi dengan  lingkungan yang baik.

Dhristarastra sejak kecil merasa tidak bahagia, karena Pandu, adiknya menjadi pemuda normal, sedangkan dirinya menjadi pemuda buta. Hatinya semakin menderita saat Pandu yang diangkat sebagai Raja Hastina. Rasa frustasi ini mempengaruhi genetika Dhristarastra.

Raja Gandhara mengizinkan Gandhari kawin dengan Dhristarastra yang buta karena ingin mempunyai cucu-cucu sebagai bagian dari Dinasti Hastina yang agung. Gandhari adalah permaisuri Dhristarastra yang baik yang mengorbankan dirinya, menutupi matanya dengan kain dan tidak mau melihat agar dapat merasakan penderitaan suaminya Akan tetapi dalam dirinya juga ada genetika Raja Gandhara yang menurunkan Shakuni yang cerdas, licik dan ambisius sebagai adik Gandhari. Kebaikan Gandhari pun kadang tertutup kala dirinya frustasi seperti saat mengandung 2 tahun dan tidak melahirkan juga, sedangkan Kunti istri Pandu telah melahirkan Yudistira. Kandungannya dipukul dan gugurlah daging yang kemudian oleh Resi Vyaasa dibagi menjadi 100 potongan dan ditempatkan dalam tempat, yang sekarang mungkin disebut tube untuk menyemaikan benih di luar kandungan. Dalam diri Kaurawa terdapat genetika Raja Gandhara yang menurunkan Shakuni.

 

Genetika Kunti dalam Diri Pandawa

“Yang menarik, 3000 tahun sebelum Masehi, kita sudah memiliki suatu teknologi rekayasa genetika. Bila membaca kisa-kisah pewayangan di Jawa yang menurut saya sebetulnya adalah catatan sejarah kita, Dewi Kunti melihat bahwa sperma suaminya tidak begitu kuat. Karena itu dilakukan proses penambahan. Ya, bisa dengan menambahkan unsur-unsur tertentu. Misalnya, dengan unsur angin, api, air, atau udara yang masing-masing memiliki variasi getaran yang berbeda-beda satu sama lain.” (Krishna, Anand dkk. (2006). Mengungkap Misteri Air. One Earth Media)

Pandu tidak dapat mempunyai putra karena akan mati saat berhubungan suami istri. Atas persetujuan Pandu, Kunti menggunakan mantra untuk memanggil kekuatan dewa agar putra-putranya lahir. Madri sebagai istri kedua Pandu pun memperoleh putra dengan cara demikian.  Sehingga Pandawa memiliki Genetika Kunti. Kunti sendiri adalah saudari dari Vasudewa yang merupakan ayah dari Sri Krishna, Balarama dan Subhadra. Sehingga genetika ayah Vasudewa mengalir ke Pandawa lewat Kunti dan ke Krishna lewat Vasudewa.

 

Pengaruh Lingkungan bagi Kaurawa dan Pandawa

“Proses pembombardiran dilakukan dengan cara ‘pengulangan yang intensif dan terus menerus’ atau repetitive and intensive. Cara ini pula yang digunakan oleh para ahli periklanan. Mereka membombardir otak kita dengan berbagai macam informasi tentang apa saja yang diiklankan. Televisi adalah pembombardir supercanggih. Tak henti-hentinya sepanjang hari dan setiap beberapa menit sekali, televisi mengiklankan sekian banyak produk. Dengan cara itu mereka dapat mempengaruhi otak kita dan ‘memaksa’ untuk membeli sesuatu yang sesungguhnya tidak dibutuhkan. Pernahkah menyaksikan iklan tentang peralatan kesehatan dan sebagainya yang biasa mengulangi kalimat-kalimat yang sama hingga puluhan kali dalam beberapa menit? Terasa bodoh, tetapi sebenarnya tidak. Mereka pintar bahkan lick Mereka tahu persis bahwa dengan cara itulah mereka dapat mempengaruhi otak kita dan menanam informasi tentang produk mereka. Membombardir, pengulangan yang intensif secara terus menerus, adalah cara yang sama, ilmu yang sama, metode yang sama yang dapat diterapkan untuk merusak maupun memperbaiki mental kita. Pilihan berada di tangan kita. Jika kita melakukannya sendiri, maka pasti demi kebaikan diri sendiri. Jika kita membiarkan orang lain atau pihak lain melakukannya, maka itu adalah demi kepentingan mereka.” (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kaurawa sangat dipengaruhi Shakuni yang licik, ambisius dan jahat. Pembombardiran informasi dilakukan secara repetitive dan intensive kepada Kaurawa oleh Shakuni karena ayah dan ibunya tidak dapat melihat dan tidak dapat mendidik dengan sempurna. Bagi suami mungkin perilaku Gandhari sangat baik. Akan tetapi bagi putra-putranya dia menjadi ibu yang kurang baik karena terlalu memperhatikan ayah dan alpa terhadap pendidikan anak dan dibiarkan dipengaruhi oleh Shakuni.

Lingkungan Pandawa dipengaruhi oleh single parent Kunti yang bijak. Setelah Pandawa mempunyai istri Draupadi, Ibu Kunti dengan bijak memilih tinggal di Istana Hastina dan gantian Draupadilah yang membombardir Pandawa dengan keberanian melawan kezaliman. Adalah Sri Krishna yang menjadi Guru Pemandu Arjuna dan saudara-saudaranya untuk memberikan pemikiran jernih yang tidak terkungkung oleh tradisi yang sudah tidak kompatibel dengan zaman.

 

Hukum Sebab-Akibat yang diterima Kaurawa dan Pandawa

“Manusia dijerat oleh Hukum Evolusi dan Hukum Sebab-Akibat. Makhluk-makhluk lain tidak dijerat oleh Hukum Sebab-Akibat. Bagi mereka hanya ada satu hukum – Hukum Evolusi. Seperti halnya anak-anak kecil di bawah umur. Hukum yang berlaku bagi orang dewasa tidak berlaku bagi mereka. Hukum Sebab-Akibat merupakan hukum dua arah. Dasarnya adalah ‘dualitas’ – perbedaan antara baik dan buruk, antara panas dan dingin. Sebaliknya Hukum Evolusi merupakan hukum satu arah. Maju terus, meningkat terus – tidak pernah mundur, tidak pernah merosot. Hukum Sebab-Akibat hanya berlaku bagi jenis kehidupan yang memiliki mind. Karena sesungguhnya mind-lah yang menciptakan dualitas antara baik dan buruk, antara panas dan dingin. Mineral, tumbuh-tumbuhan dan binatang hanya memiliki thought – satuan pikiran. Sekian banyak thoughts dan bahkan feelings, pikiran dan rasa. Tetapi semuanya masih dalam bentuk recehan, satuan-satuan kecil. Belum mengkristal untuk menciptakan mind. Kendati binatang-binatang berkaki empat sudah mulai menunjukkan adanya ‘simptom’ mind, tetapi masih belum cukup berkembang, belum cukup mengkristal. Dalam diri manusialah, mind baru mengkristal sepenuhnya.” (Krishna, Anand. (2000). Shambala, Fajar Pencerahan di Lembah Kesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Tindakan Kaurawa yang licik dan curang terhadap Pandawa dan mempermalukan Draupadi akhirnya menerima balasannya pada Perang Bharatayuda. Demikian pula tindakan baik Pandawa membuat Yudistira dan anak keturunan Arjuna menjadi Raja Hastina.

 

Betulkah Film Serial Mahabharata Digemari Masyarakat Karena Kisah Mahabharata Sudah Ada Dalam Genetika Masyarakat Indonesia?

“Dalam DNA kita, masih tersimpan memori tentang keluhuran nilai-nilai budaya ini (penghormatan terhadap air, penulis). Mari kita angkat kembali nilai-nilai ini ke permukaan dan kita gunakan untuk membangkitkan bangsa. Menyadarkan bahwa sesungguhnya kita semua satu. Kita bisa beragama Islam, Kristen, Hindu, Buddha atau apa saja, namun budaya kita adalah budaya Indonesia. Budaya yang tinggi. Budaya yang mampu mempersatukan. Mampu melahirkan Bhinneka Tunggal Ika.” (Krishna, Anand dkk. (2006). Mengungkap Misteri Air. One Earth Media)

Leluhur kita sudah lama mengenal Mahabharata. Dr. Radjiman Wedyadiningrat dari Boedi Utomo menulis tentang Bhagavad Gita, demikian pula Presiden Soekarno sering menyitir kisah Mahabharata. Candi-candi di Dieng yang dirikan pada Zaman Mataram Kuno pun mempunyai nama-nama Arjuna, Bhima dan sebagainya. Bagi leluhur kita, pergelaran Wayang Kulit dengan kisah Mahabharata sejak zaman Majapahit telah merasuk ke dalam jiwa masyarakat. Kedatangan Film Serial Mahabharata yang menarik, mungkin saja membangkitkan genetika leluhur yang diwarisi anak-anak sekarang sehingga mudah terkesan dengan kisah-kisah Mahabharata.

 

http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2014/08/17/mahabharata-warisan-genetika-kakek-bijak-menjadi-dua-kelompok-cucu-yang-baik-dan-yang-jahat/

 

Bara Api Draupadi Menggelorakan Semangat Pandawa Melawan Kaurawa

draupadi dan pandawa sumber www india-forum com

Gambar Draupadi dan Pandawa sumber: www india-forum com

“Kromosom perempuan adalah X-X, 23-23 – dia sempurna. Kromosom laki-Iaki adalah X-Y, 23-22, dia kehilangan satu poin. Sudah diketahui bersama bahwa kromosom “X” pada laki-laki diturunkan dari ibunya. X adalah energi Feminin, yang menggerakkan kita. Seorang laki-laki tidak akan tercipta tanpa X, dia tidak bisa hidup hanya dengan kombinasi Y-Y. Sedangkan perempuan bisa hidup tanpa Y, dia bisa  hidup hanya dengan kombinasi X-X. Di balik kesuksesan seorang laki-laki ada perempuan yang berperan. Dan pernyataan ini pun memang benar karena perempuan merupakan personifikasi dari Sumber Kekuatan. Dalam tradisi Veda, ini disebut Shakti. Dan, Shakti bermakna Energi, Sumber Kekuatan. Kekuatan perempuan terletak pada kelembutan dan kehalusan budinya, yang membuatnya penuh kasih dan empati. Kaum perempuan oleh, karena itu bisa menjadi perawat yang hebat. Mereka lebih perhatian. Sebagai ibu, dia merawat. Sebagai saudari, dia mendukung. Sebagai istri atau kekasih, dia memperkuat.” (Krishna, Anand. (2009). The Gospel Of Obama. Koperasi Global Anand Krishna bekerja sama dengan Yayasan Anand Ashram)

 

Sita, Shakti Pemicu Peperangan antara Pasukan Sri Rama dengan Pasukan Rahwana

Sita adalah wanita (shakti)pemicu perang antara Sri Rama dibantu pasukan wanara melawan Rahwana dengan pasukan raksasa. Sita dikisahkan lahir dari bumi, Sita adalah Ibu bumi, mempunyai sifat bumi/tanah yang rendah hati, rela berkorban dan selalu menghidupi makhluk yang hidup di atasnya. Sita bersifat setia dan penurut, bila Rahwana akan memperkosanya, dia siap bunuh diri. Akan tetapi Sita tetap memperoleh perlindungan ilahi, Rahwana telah dikutuk seorang perempuan bahwa bila dia memperkosa seorang wanita, maka dia akan langsung mati, sehingga Rahwana sabar menunggu kerelaan Sita untuk menjadi istrinya. Sita adalah wanita yang taat, saat diminta menunggu Sri Rama untuk menjemputnya di Alengka dia patuh, bahkan saat diminta Sri Rama masuk ke dalam api penyucian demi meyakinkan rakyat Ayodya dia pun patuh dan dia selamat.

 

Draupadi, Shakti Pemicu Peperangan antara Pasukan Koalisi Pandawa dengan Pasukan Koalisi Korawa

Setting panggung Mahabharata berbeda dengan setting panggung Ramayana. Selain Bhima yang suka bertarung, empat Pandawa yang lain terlalu baik dalam menghadapi Adharma Kaurawa yang selalu berupaya memusnahkan para Pandawa. Sri Krishna tahu dan harus memberi pelajaran Bhagavad Gita kepada Arjuna untuk berperang melawan adharma yang mewujud sebagai saudara-saudara sepupu, kakek, guru dan handai-taulannya. Karena itulah Sri Krishna membutuhkan Draupadi yang lahir dari api, yang mempunyai sifat tegas dan cerdas serta berani menunjukkan keberanian untuk melawan hal yang merugikan dia dan keluarganya. Api tidak sederhana seperti tanah. Api selalu menuju ke atas. Memberi bantuan bagi dia yang menggunakannya dengan baik, tapi membakar segala sesuatu yang melawan dirinya.

 

Bara Api Draupadi

“Api memiliki kekuatan untuk mengubah bentuk. Panasnya dapat mengubah api menjadi uap, kayu menjadi abu, dan logam menjadi cairan. Kilauan pada wajah kita, kilauan pada kulit kita, semuanya karena Api – Agni. Ketika seorang berada dalam keadaan stres/depresi berat dan wajahnya tidak berkilau lagi; atau ketika seorang menderita penyakit kulit – maka ketahuilah bahwa ia kekurangan unsur api.” (Krishna, Anand. (2012). Cinta yang Mencerahkan Gayatri Sadhana Laku Spiritual bagi Orang Modern. Azka)

Pandawa menjadi berkilau karena api Draupadi. Yudistira yang suka damai berani perang melawan adharma akibat Draupadi. Api juga menunjukkan semangat yang menyala-nyala. Dikisahkan dalam kehidupan sebelumnya, Draupadi adalah devoti Shiva dan bertapa dengan penuh semangat mohon memperoleh suami yang mulia, kuat, ahli memanah, tampan dan bijak. Dalam kehidupan berikutnya dia memperoleh suami Lima Pandawa. Beruntunglah dalam kehidupan berikutnya Draupadi menjadi devoti Sri Krishna, lain dengan Shiva yang mengabulkan permohonan dengan segala resikonya ditanggung sendiri, Sri Krishna selalu memandunya untuk memutuskan masalah dengan bijak.

 

Berani Menentang Kezaliman

Pada waktu Svayamvara memperebutkan dirinya, Draupadi telah menanam benih permusuhan antara Kaurawa yang selalu menjerumuskan Pandawa dengan pihak Pandawa. Pada waktu Upacara Rajasuya, penahbisan Yudistira sebagai Maharaja dia juga telah mengambil keputusan bijak tidak menghukum Duryudana, Karna dan Dursasana  yang telah menghunus senjata mereka kecuali meminta senjata mereka untuk dikirimkan ke Kerajaan Hastina. Bagi Duryudana ini adalah sebuah penghinaan yang membuat mereka semakin benci dengan Draupadi dan Pandawa. Pada waktu Yudistira kalah bermain dadu, Draupadi sengaja dilecehkan di muka umum dengan ditarik kain sarinya oleh Dursasana sebagai penghinaan untuk menjatuhkan harga diri para Pandawa. Beruntunglah Sri Krishna selalu melindunginya. Selanjutnya  Draupadi mempermaklumkan perang melawan Kaurawa sebelum terjadinya perang Mahabharata, dengan mengatakan tidak akan mengikat rambutnya sebelum keramas dengan darah Dursasana. Draupadi mengajari Pandawa untuk protes dan membalas di dunia yang jahat dimana orang baik selalu menderita. Pada saat anak-anaknya mati dibunuh Ashvattama usai perang Bharatayuda dia minta Arjuna mencari Ashvattama sampai ketemu hari itu juga. Akan tetapi Draupadi pun menerima saat Ibu Kunti minta Ashvattama tidak dihukum mati melainkan diusir ke gurun Arvashtan yang tandus.

Karena dekat dan patuh pada Sri Krishna, maka Draupadi pun menjadi wanita yang bijak. Oleh karena setiap Pandawa menjadi istrinya selama setahun penuh, maka dia menyetujui Para Pandawa mempunyai istri lain. Mereka harus menunggu giliran selama 4 tahun untuk menjadi suaminya. Walaupun demikian istri-istri Pandawa tersebut tidak tinggal di istana kecuali Subhadra yang merupakan adik Sri Krishna.

Oleh karena hal-hal tersebut, leluhur kita di Nusantara jarang memberi nama putrinya dengan nama Draupadi. Sebagai orang tua mereka tidak tega kita melihat kehidupan Draupadi yang penuh cobaan, sedangkan sebagai suami mereka tidak nyaman juga mempunyai istri yang cerdas dan mempunyai pendirian yang tegas. Leluhur kita memilih nama Sita, Utari untuk putrinya ataupun nama dewi seperti Sri, Laksmi, Saraswati, Hapsari, Savitri dan sebagainya namun bukan Draupadi.

 

Para Wanita Pendukung Sang Pembawa Kebenaran

Bibi Chatijah adalah wanita pertama yang percaya kepada Nabi Muhammad, dan selalu mendampingi Nabi dengan setia melewati berbagai cobaan sampai akhir hayatnya. Konon, beliau pun selama hidupnya dalam mendampingi Nabi sekitar 28 tahun berumah tangga, tidak pernah dimadu Nabi dikarenakan penghormatan nabi terhadapnya. Bunda Maria dan Maria Magdalena tetap menunggui Gusti Yesus di salib sampai diturunkan dari tiang salib, sementara murid-murid prianya konon tidak menungguinya.

“Seorang cendekiawan yang hanya menggunakan otak dan logika – cenderung menjadi kering, keras, kaku, alot. Berwujud pria atau wanita, sami mawon – sama saja. Kecendekiaan adalah sifat maskulin……. Yang tidak bisa menerima Siddhartha siapa? Yang ingin membunuh Muhammad siapa? Yang menyalibkan Yesus siapa? Yang menghujat Krishna siapa? Tanpa kecuali, mereka semua adalah para ahli kitab. Para intelektual. Mereka-mereka yang sudah memiliki konsep. Mereka-mereka yang sudah kaku, keras, alot. Lalu siapa pula yang bisa langsung menerima para Buddha, para nabi, para mesias, para avatar? Mereka-mereka yang polos, berhati tulus, tidak berkepentingan dengan konsep-konsep baku. Amrapali, Khadija, Maria Magdalena, Radha. Incidentally, mereka semua adalah wanita, tidak sombong, tidak memiliki ijazah dari universitas, bahkan tidak memperoleh pengakuan dari masyarakat. Mereka tidak peduli. Mereka tidak takut mengungkapkan kebenaran.” (Krishna, Anand. (2001). Tantra Yoga. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama)

http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2014/08/12/bara-api-draupadi-menggelorakan-semangat-pandawa-melawan-kaurawa/

Sri Krishna, Draupadi dan Subhadra Mengubah Tradisi yang Sudah Usang

draupadi dan subhadra

Gambar Draupadi dan Subhadra sumber: http://www.starplus.in/mahabharat/

 

“Ya, aku tahu tradisi dan peraturan. Tetapi aku juga tahu bahwa tradisi dan peraturan itu diciptakan untuk manusia, demi kebaikan manusia. Bukan sebaliknya. Manusia tidak diciptakan demi tradisi dan peraturan. Tradisi dan peraturan adalah ciptaan manusia. Manusia adalah ciptaan Tuhan.” (Krishna, Anand. (2000). Shangrila, Mengecap Sorga di Dunia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Krishna dan Draupadi Mengubah Tradisi yang Merugikan Wanita

Atas nasehat Shakuni, Duryudana minta Karna mengikuti Svayamvara memperebutkan Draupadi. Perkawinan Duryudana dengan putri kerajaan Panchali akan menambah kekuatan Hastina. Akan tetapi raja Draupada setelah belajar pada Sri Krishna menolak, Draupadi akan dijodohkan dengan pengikut Svayamvara. Alasan Duryudana bahwa Kakek Bhisma memperebutkan putri lewat Svayamvara untuk dihadiahkan kepada adiknya yang menjadi putra mahkota Hastina sudah diterima masyarakat dan sudah menjadi tradisi bangsa Arya. Drupada mengingatkan bahwa salah seorang putri (Dewi Amba) tidak suka dirinya dihadiahkan kepada adik Bhisma, dia ingin Bhisma yang mengawininya. Ini adalah masalah satria mewakili dalam Svayamvara. Drupadi hanya diberikan kepada pengikut Svayamvara.

Duryudana yang marah minta Karna mengikuti Svayamvara bagi Karna sendiri. Krishna yang berpikiran jernih dan bebas dari tradisi yang mengikatnya mengatakan kepada Draupadi bahwa kita tidak boleh membeda-bedakan status kebangsawanan seseorang, akan tetapi bila Draupadi tidak senang dengan Karna, dia bisa menolaknya. Karena wanita yang akan menjadi istri, yang akan merasakan akibatnya. Draupadi menolak Karna untuk bertanding dan menunggu Arjuna datang mengikuti Svayamvara.

“Krishna adalah pemberontak, Yesus adalah pemberontak, demikian pula Siddharta, Muhammad, setiap nabi, setiap avatar, setiap mesias, dan setiap sadguru. Mereka semua dikenang sebagai Pembaharu. Karena mereka melakukan pemberontakan terhadap sistem yang sudah usang, kadaluarsa, tetapi mapan. Mereka semua memberontak terhadap kemapanan system yang korup. Seorang sanyasi, sadhu, bikshu, pejalan spiritual, atau apa pun sebutannya, sedang mengikuti jejak mereka. Ia mengatakan ‘tidak’ terhadap sistem yang ingin memperbudaknya. Ia menolak menjadi bagian dari kawanan domba. Tak peduli ada yang membantunya atau tidak; ada yang mendukungnya atau tidak; ia berdiri tegak di tengah medan perang, Dan menyatakan perang dengan decisive, definite— do or die!” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Permaisuri dari Lima Bersaudara

Akibat kesalahan ucap Ibu Kunti, Pandawa dan Draupadi berada dalam dilema. Berdasar tradisi saat itu seorang istri hanya mempunyai seorang suami. Sebuah masalah pelik muncul, bila Draupadi kawin dengan Arjuna, maka keempat saudaranya akan membujang seumur hidup dan pergi mengembara agar kata-kata Kunti tidak berlaku. Resi Vyaasa mengingatkan bahwa bila hal itu yang terjadi maka Yudistira tidak bisa menjadi raja Hastina, karena raja harus mempunyai permaisuri. Sedangkan Arjuna tidak mungkin menjadi raja karena yang lahir lebh dahulu sebelum Duryudana hanyalah Yudistira dan Bhima. Bila Duryudana menjadi raja, maka dipastikan rakyat akan sengsara, karena yang dipikirkan oleh Duryudana hanyalah kesejahteraan raja bukan kesejahteraan rakyatnya. Arjuna kemudian minta Draupadi kawin dengan Yudistira. Leluhur kita dari Nusantara menganggap Draupadi kawin dengan Yudistira sehingga masalah terselesaikan dan bisa mensosialisaikan ke masyarakat yang tidak mengenal poliandri. Akan tetapi Draupadi menolak, dia sudah menolak Karna ikut Svyamvara atas nama Duryudana, mengapa Arjuna ikut Svayamvara atas nama Yudistira?

Bagi Sri Krishna, yang sudah tahu apa yang terjadi di masa depan, maka beliau tahu bahwa “alat” Keberadaan untuk menegakkan dharma adalah lima Pandawa sebagai satria dan Draupadi sebagai pemersatu Pandawa. Draupadi akhirnya berani mengorbankan kehormatannya kawin dengan lima Pandawa demi penegakan dharma, demi kesejahteraan rakyat Hastina dan menghilangkan ego putri raja yang seharusnya kawin dengan seorang suami saja. Ini adalah tindakan yang sangat “berani” dan Sri Krishna mendukungnya.

Tradisi memang ditentang, akan tetapi bila melihat sejarah peradaban manusia, maka dalam kitab Srimad Bhagavatam dikisahkan 10 bersaudara Praceta putra-putra Raja Prachinabarhis, kawin dengan seorang putri bernama Pramloca. Dari rahim Pramloca lahirlah Daksha. Daksha sebagai prajapati yang pernah melawan Shiva dan membuat putrinya sendiri, Dewi Sati bunuh diri, sekarang lahir lagi sebagai putra Pramloca dengan sepuluh Praceta. Daksha ini disebutkan tidak kalah dibanding Brahma, Sang Pencipta. Semua anak-anak dan cucu-cucu Daksha menurunkan anak keturunan manusia yang memenuhi dunia saat ini.

Draupadi telah berkorban demi persatuan Pandawa, sehingga Pandawa juga berkorban, bahwa hanya Draupadilah permaisuri mereka, Tidak ada istri lain yang tinggal di istana mereka. Selama satu tahun Draupadi hanya menjadi istri satu Pandawa, dan pandawa yang lain tidak boleh masuk kamar Draupadi.

 

Perkawinan Subhadra dengan Arjuna Melawan Tradisi Perkawinan Penjodohan Orang Tua

Shakuni yang ingin memperkuat Hastina, minta Duryudana belajar ilmu gada kepada Balarama, kakak Krishna dan Subhadra. Akhirnya Subhadra dijodohkan dengan Duryudana. Subhadra sendiri tidak menyukai Duryudana, di hatinya hanya ada Arjuna. Sri Krishna mengatur agar Subhadra bertemu Arjuna yang sedang menjalani pengasingan setelah menabrak komitmen Pandawa terhadap Permaisuri Draupadi.

Subhadra didukung Krishna untuk “kawin lari” dengan Arjuna. Krishna sendiri telah melarikan Rukmini yang telah dijodohkan dengan Shisupala. Demi menghormati perasaan wanita, Sri Krishna mulai mendobrak tradisi. Selama ini banyak wanita terpaksa kawin dengan orang yang tidak dicintainya.

Kakek Pandawa, Bhisma berpegang pada tradisi bahwa bila sudah dijodohkan maka melawan tradisi tersebut tersebut adalah tindakan adharma. Krishna menyampaikan kepada Bhisma bahwasanya tradisi itu seperti buah mangga. Sewaktu lahir, terasa pahit dan hanya orang tertentu yang berani memakannya. Ketika tradisi menjadi mangga yang masih muda, yang melaksanakan masih sedikit, maka terasa asam bagi sebagian besar orang. Akan tetapi saat tradisi sudah menjadi mangga yang masak, terasa manis, maka semua orang ingin melaksanakan tradisi tersebut. Ada waktunya buah “tradisi” sudah menjadi busuk dan mengikuti tradisi menjadi tidak menyenangkan. Orang yang berpegang pada tradisi mengatakan bahwa mereka yang melanggar tradisi dianggap sesat. Akan tetapi pada kenyataannya orang sudah tidak nyaman dengan tradisi tersebut sehingga masyarakat menjadi munafik, takut dianggap sesat padahal sudah tidak melaksanakannya.

Bhisma merenung dan bertanya, siapa yang berhakmengatakan sebuah tradisi sudah busuk? Apakah kitab menyatakan demikian, ataukah Sri Krishna yang menyatakan bahwa sebuah tradisi sudah busuk? Sri Krishna tersenyum, yang mengatakan tradisi masih manis atau sudah busuk adalah Sang Kala, waktu. Krishna menambahkan bahwa saat itu adalah waktunya Sankranti bagi Hastinapura, matahari sedang berubah arah. Kebiasaan lama akan berganti dengan kebiasaan baru. Setiap orang harus menentukan dirinya akan berpihak pada pola lama atau berganti memasuki pola baru.

Bila rakyat sudah memilih pemimpin yang jujur, bupati/walikota yang jujur, gubernur yang jujur, presiden yang jujur, maka apakah para pejabat dan pemimpin partai politik mengikuti pola baru sang pemimpin ataukah masih akan mengikuti pola lama melawan keinginan rakyat?

 

Sudahkah kita merdeka atau masih diperbudak oleh tradisi yang sudah kadaluwarsa?

“Anda tidak bebas ! mungkin sudah merdeka, tetapi hanya memproklamasikan kemerdekaan tidak membebaskan diri anda ! Anda telah diperbudak selama ribuan tahun dan saat ini pun anda masih diperbudak. Anda diperbudak oleh berbagai tradisi, peraturan dan konsep yang sudah kadaluwarsa, sudah usang. Mereka yang memprogram anda tidak menginginkan kebebasan anda. Kenapa? Karena begitu anda bebas, anda tidak dapat dikuasai. Untuk menguasai anda, kepatuhan anda sangat dibutuhkan; kepastian anda sangat dibutuhkan. Anda harus statis. Dan dengan menggunakan dalil stabilitas, anda telah dilatih dan dipaksa untuk jalan atau lari ditempat. Itu sebabnya, manusia dapat diramalkan. Manusia yang sudah diperbudak oleh masyarakat, dapat diramalkan. Suatu masyarakat yang terbelenggu oleh berbagai tradisi dan peraturan yang sudah dapat diramalkan.” (Krishna, Anand. (1998). Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2014/08/08/sri-krishna-draupadi-dan-subhadra-mengubah-tradisi-yang-sudah-usang/

Menghadapi Buah Simalakama, Arjuna Berlindung pada Sri Krishna: Renungan Kisah Indraprastha

arjuna mahabharat sumber bagusseven blogspot com

Gambar Arjuna, sumber: bagusseven blogspot com

Mengikuti Perjanjian Usang, Kerajaan Baru Gagal Berdiri, Merusak Perjanjian berarti Melawan Indra, Raja Para Dewa

“Krishna adalah pemberontak, Yesus adalah pemberontak, demikian pula Siddharta, Muhammad, setiap nabi, setiap avatar, setiap mesias, dan setiap sadguru. Mereka semua dikenang sebagai Pembaharu. Karena mereka melakukan pemberontakan terhadap sistem yang sudah usang, kadaluarsa, tetapi mapan. Mereka semua memberontak terhadap kemapanan system yang korup. Seorang sanyasi, sadhu, bikshu, pejalan spiritual, atau apa pun sebutannya, sedang mengikuti jejak mereka. Ia mengatakan ‘tidak’ terhadap sistem yang ingin memperbudaknya. Ia menolak menjadi bagian dari kawanan domba. Tak peduli ada yang membantunya atau tidak; ada yang mendukungnya atau tidak; ia berdiri tegak di tengah medan perang, Dan menyatakan perang dengan decisive, definite— do or die!” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Arjuna harus memilih pilihan yang sama-sama pahit. Di satu pihak, Dewa Indra, “ayahanda” nya telah berjanji kepada Taksakha dan bangsa ular yang akan dilindungi dan tidak diganggu hidupnya di Hutan Khandavaprastha.  Di pihak lain, Dhristarastra, raja Hastina telah memberikan tanah Khandavaprastha kepada Pandawa agar mereka mendirikan pemerintahan di tempat tersebut. Rakyat yang” bedol desa” mengikuti Pandawa pindah ke Khandavaprastha diserang ular beracun dari pasukan Taksakha. Perjanjian dengan Indra telah membuat Taksakha lupa diri, sehingga setiap manusia yang berada di dekat wilayahnya akan dibunuh pasukannya yang berupa ular-ular berbisa. Mengikuti Perjanjian Indra-Taksakha, kerajaan baru akan gagal berdiri, dan rakyatnya akan mati kena bisa ular, sedangkan merusak Perjanjian berarti Melawan Indra, Raja Para Dewa yang merupakan “ayahanda”nya sendiri.

Pada saat pikiran bergolak mencari solusi terbaik, Arjuna mengheningkan diri dan mendengarkan nasehat Sri Krishna, sang pikiran jernih. Bagi Arjuna, Sri Krishna adalah pikiran jernih, pemandu hidup yang mewujud ke dunia untuk membimbing kehidupannya. Oleh karena Sri Krishna turun ke dunia untuk menegakkan dharma, maka Arjuna pun menerima dirinya sebagai “alat”Nya untuk menegakkan dharma.

Kita pun sering dihadapkan pada pilihan sulit dalam mengarungi kehidupan, dapatkah kita meneladani Arjuna mencari solusi dengan mendengarkan pikiran jernih Sri Krishna?

 

Khandavaprastha

“Kita masih hidup dengan ego kita, keangkuhan dan arogansi kita, kebencian dan amarah kita, kelemahan dan kekerasan hati kita. Dengan jiwa yang masih kotor itu, kita memperoleh kekuasaan, kedudukan, dan harta, maka jelaslah kita menghalalkan segala macam cara.” (Krishna, Anand. (2008). Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals For Changing The World. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Konon leluhur Pandawa, Maharaja Pururawa, Nahusa, dan Yayati memerintah kerajaan di Khandavaprastha. Kemudian datang bencana kekeringan yang dahsyat sehingga, anak-keturunannya memindahkan ibukota ke Hastina. Desa sekeliling Khandavaprastha telah menjadi sangat gersang, sedangkan Khandavaprastha sendiri telah menjadi hutan belukar ditinggali Taksakha dan bangsa ular.

Shakuni adalah seorang yang cerdas dan sangat licik, Shakuni benar-benar terperangkap dalam “Maya”. Baginya Kerajaan Hastina adalah nyata. Keponakannya, Duryudana harus berhasil menjadi maharaja Hastina, Pandawa harus dienyahkan dari muka bumi agar tidak mengganggu keponakannya. Bila Duryudana menjadi maharaja, maka Kerajaan Hastina akan berada dibawah genggamannya. Dia akan bisa melakukan apa saja dan bisa menyingkirkan semua orang-orang yang tidak disenanginya.

Bhisma yang ingin Hastina menjadi kerajaan kuat, sebenarnya tidak menyetujui usul Vidura untuk membagi dua Kerajaan Hastina. Duryudana, putra sulung Raja Dhristarastra juga tidak ikhlas memberikan sebagian kerajaannya kepada Pandawa. Akan tetapi melihat bahwa bila Pandawa tinggal di Hastina akan selalu direcoki dan diperdaya oleh Kaurawa, maka akhirnya Bhisma menyetujui Pandawa diberikan sebagian wilayah Hastina untuk mendirikan pemerintahan sendiri.

Adalah Shakuni yang mengatur agar Pandawa diberikan 5 desa termasuk Khandavaprastha, yang wilayahnya sebenarnya di luar kendali Hastina. Shakuni memberitahu Duryudana bahwa daerah tersebut sangat gersang, sedangkan Khandavaprastha dihuni oleh Raja Ular Taksakha dan pasukannya yang dilindungi oleh Dewa Indra. Biarlah Pandawa dan rakyat yang ikut dengan mereka dihancurkan oleh pasukan ular Taksakha.

Berjaga-jaga agar Pandawa tidak menyerang balik Hastina, maka Shakuni telah minta pada Raja Dhristarastra agar Kunti, ibu Pandawa tinggal di Hastina dan tidak ikut pindah ke daerah baru. Menurut perhitungan Shakuni adalah tidak mungkin Pandawa akan menyerang tempat tinggal ibunya sendiri.

Shakuni bahkan menyakinkan Duryudana bahwa bila Pandawa berhasil mendirikan kerajaan di Khandavaprastha, maka Shakuni akan minta Duryudana dan pasukan Kaurawa menyerang Pandawa dan menguasai kota yang sudah menjadi besar.

“Kekuatan dan kekuasaan tanpa kebijaksanaan tidak hanya berbahaya dan membahayakan, tapi juga merusak dan menghancurkan. Kekuatan dan kekuasaan tanpa kebijaksanaan persis seperti kuda-kuda liar tanpa kendali. Kekuatan dan kekuasaan hanyalah menjadi berkah jika terkendali oleh kebijaksanaan.” (Krishna, Anand. (2010). A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles. Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan Anand Krishna oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Arjuna mungkin tidak secerdas Shakuni. Arjuna mungkin tidak tahu tipu muslihat apa yang ada di benak Shakuni. Akan tetapi Arjuna yakin sepenuh hati pada Sri Krishna dan keyakinan serta kepatuhan terhadap Sri Krishna sudah cukup untuk menyelamatkannya dari berbagai gelombang kehidupan. Akankah Sri Krishna berdiam diri dengan rencana jahat Shakuni? Menghadapi kelicikan Adharma, Krishna selalu mempunyai solusi dengan dasar pikiran yang jernih.

 

Pertarungan Arjuna dengan Indra

Yudistira mengatakan bahwa pusat pemerintahan sebaiknya berada di Hutan Khandavaprastha, akan tetapi Dewa Indra telah mempunyai perjanjian untuk melindungi Taksaka dan bangsa ular di hutan tersebut. Bagi Sri Krishna, perjanjian Dewa Indra dengan Taksaka bukan harga mati, bukan sesuatu yang harus abadi. Yang abadi hanyalah Dia Hyang Maha Abadi, yang lainnya selalu bisa berubah. Perjanjian bisa diperbaiki, demi penegakan Dharma, rakyat Pandawa harus diselamatkan. Kerajaan di Khandavaprastha harus berdiri dengan kuat untuk persiapan melawan kekuatan adharma.

Krishna meminta Arjuna mendatangkan Dewa Agni dan minta pertolongannya untuk membakar Hutan Khandavaprastha. Agni mau melaksanakan, melahap semua pohon dan isinya di hutan akan tetapi minta pertolongan Arjuna untuk menghadapi Indra. Untuk itu Agni memberikan Gendewa Brahma kepada Arjuna. Krishna tersenyum, Gendewa tersebut akan berguna pada saatnya perang besar yang akan datang di kemudian hari.

Arjuna memanahkan panah api ke Khandavaprastha dan hutan mulai terbakar, semua hewan ketakutan. Indra yang pernah berjanji melindungi Taksakha dan bangsa ular di hutan tersebut segera mengirimkan petir dan hujan untuk memadamkan api. Akan tetapi kemudian Arjuna memanah dengan Gendewa pemberian Agni sehingga ribuan anak panahnya bisa membentuk payung menahan air hujan sehingga tidak bisa membasahi hutan yang sedang terbakar.

Indra akan mengeluarkan senjata Vajranya, saat Sri Krishna berkata, “Indra, kehancuran Hutan Khandava sudah terjadi, temanmu Taksakha selamat, karena ia berada di luar hutan. Tidak ada seorang pun yang yang mengalahkan Krishna dan Arjuna. Hentikan kemarahanmu! Menegakkan dharma jauh lebih penting daripada mempertahankan perjanjian usang!”

Indra muncul dan bangga melihat kesaktian Arjuna, sang “putra” dan kemudian menganugerahkan sebuah senjata kepada Arjuna. Selanjutnya Indra melihat Sri Krishna yang memegang Sudarsana Cakra dan memberi hormat kepadaNya. Krishna berkata, “Aku adalah teman Arjuna, ia adalah bagian dari diriku!” Indra tersenyum dan berkata lirih, “Paduka, siapa yang bisa mengalahkan Nara dan Narayana, Arjuna dan Krishna?”

 

Mendirikan Istana Indraprasta

Para ular pergi meninggalkan hutan dan rakyat Pandawa yang terkena bisa ular sembuh kembali. Ada beberapa hewan dan asura yang datang minta perlindungan pada Arjuna. Krishna berkata bahwa salah satu asura tersebut adalah Mayasura, Vishvakarmanya para asura, arsitek pembangun istana. Krishna minta Arjuna membebaskan Mayasura dan minta Mayasura membangun istana di Khandavaprastha. Istana tersebut diberi nama Indraprastha, Wilayah Utama Indra.

Kerajaan Indraprastha berkembang dengan pesat dan Draupadi menjadi permaisuri Pandawa. Setelah kerajaan menjadi semakin besar, Pandawa segera menyiapkan Upacara Yajna untuk menahbiskan Yudistira sebagai seorang Maharaja.

 

Sri Krishna dalam Diri Manusia

Sebagai manusia kadang kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang membingungkan, setiap solusi selalu saja mempunyai kelemahan dan itu membuat pikiran semakin bimbang dan was-was. Seperti Arjuna yang dihadapkan pada konflik pikiran antara mematuhi Kesepakatan Indra dengan Taksakha ataukah  melindungi rakyatnya mendirikan Kerajaan di Khandavaprastha. Beruntunglah Arjuna yang memiliki Sri Krishna sebagai pemandu.

Pada saat kebingungan Arjuna selalu mohon petunjuk pada Sri Krishna seperti yang diungkapkan dalam Bhagavad Gita 2:6-7: “Saya tidak tahu mana yang lebih baik. Saya telah dikepung kelemahan. Jadi, saya bingung menghadapinya. Wahai Madhava, saya pasrah kepadamu sebagai murid. Tolong berilah perintah kepada saya mana yang benar untuk saya kerjakan!”

Bagaimana dengan kita yang tidak seberuntung Arjuna? Tidak didampingi seorang Kṛishna?

“Dwaraka adalah nama Kerajaan Sri Krishna. Disebut demikian, karena istananya memiliki sembilan pintu atau dwara. Istana penuh pintu masuk, itulah arti kata Dwaraka. Beda dengan istana-istana lain, yang pintu masuknya selalu dibatasi satu buah saja demi keamanan, istana Sri Krishna memang sengaja dibuat dengan banyak pintu, supaya rakyat bisa secara bebas masuk ke dalam istana untuk bertemu dengan raja mereka. Sri Krishna hendak meruntuhkan dinding pemisah antara rakyat jelata dengan raja, yang baginya adalah pelayan masyarakat. Kecuali arti jelas itu, ada pula arti lain dari kata Dwaraka. Sembilan pintu yang dimaksud adalah sembilan lubang pada tubuh kita, dua mata, dua lubang hidung, dua lubang telinga, satu lubang pusar, satu lubang alat kelamin, dan satu lubang dubur. Dwaraka adalah badan kita, badan manusia. Dan penghuni sekaligus pemilik istana itu adalah kita, Sang Aku Sejati, jati diri setiap manusia.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Artinya Sri Krishna pun bersemayam dalam diri kita. Asal kita yakin, kita akan selalu memperoleh petunjukNya.  Saat kita betul-betul membutuhkan petunjuk Krishna, kita akan memperolehnya. Krishna bisa berwujud apa saja, siapa saja.  Krishna bisa mewujud sebagai Guru Pemandu Rohani, seorang sahabat, bahkan buku yang sedang kita baca.

 

http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2014/08/03/menghadapi-buah-simalakama-arjuna-berlindung-pada-sri-krishna-renungan-kisah-indraprastha/