Menghadapi Buah Simalakama, Arjuna Berlindung pada Sri Krishna: Renungan Kisah Indraprastha


arjuna mahabharat sumber bagusseven blogspot com

Gambar Arjuna, sumber: bagusseven blogspot com

Mengikuti Perjanjian Usang, Kerajaan Baru Gagal Berdiri, Merusak Perjanjian berarti Melawan Indra, Raja Para Dewa

“Krishna adalah pemberontak, Yesus adalah pemberontak, demikian pula Siddharta, Muhammad, setiap nabi, setiap avatar, setiap mesias, dan setiap sadguru. Mereka semua dikenang sebagai Pembaharu. Karena mereka melakukan pemberontakan terhadap sistem yang sudah usang, kadaluarsa, tetapi mapan. Mereka semua memberontak terhadap kemapanan system yang korup. Seorang sanyasi, sadhu, bikshu, pejalan spiritual, atau apa pun sebutannya, sedang mengikuti jejak mereka. Ia mengatakan ‘tidak’ terhadap sistem yang ingin memperbudaknya. Ia menolak menjadi bagian dari kawanan domba. Tak peduli ada yang membantunya atau tidak; ada yang mendukungnya atau tidak; ia berdiri tegak di tengah medan perang, Dan menyatakan perang dengan decisive, definite— do or die!” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Arjuna harus memilih pilihan yang sama-sama pahit. Di satu pihak, Dewa Indra, “ayahanda” nya telah berjanji kepada Taksakha dan bangsa ular yang akan dilindungi dan tidak diganggu hidupnya di Hutan Khandavaprastha.  Di pihak lain, Dhristarastra, raja Hastina telah memberikan tanah Khandavaprastha kepada Pandawa agar mereka mendirikan pemerintahan di tempat tersebut. Rakyat yang” bedol desa” mengikuti Pandawa pindah ke Khandavaprastha diserang ular beracun dari pasukan Taksakha. Perjanjian dengan Indra telah membuat Taksakha lupa diri, sehingga setiap manusia yang berada di dekat wilayahnya akan dibunuh pasukannya yang berupa ular-ular berbisa. Mengikuti Perjanjian Indra-Taksakha, kerajaan baru akan gagal berdiri, dan rakyatnya akan mati kena bisa ular, sedangkan merusak Perjanjian berarti Melawan Indra, Raja Para Dewa yang merupakan “ayahanda”nya sendiri.

Pada saat pikiran bergolak mencari solusi terbaik, Arjuna mengheningkan diri dan mendengarkan nasehat Sri Krishna, sang pikiran jernih. Bagi Arjuna, Sri Krishna adalah pikiran jernih, pemandu hidup yang mewujud ke dunia untuk membimbing kehidupannya. Oleh karena Sri Krishna turun ke dunia untuk menegakkan dharma, maka Arjuna pun menerima dirinya sebagai “alat”Nya untuk menegakkan dharma.

Kita pun sering dihadapkan pada pilihan sulit dalam mengarungi kehidupan, dapatkah kita meneladani Arjuna mencari solusi dengan mendengarkan pikiran jernih Sri Krishna?

 

Khandavaprastha

“Kita masih hidup dengan ego kita, keangkuhan dan arogansi kita, kebencian dan amarah kita, kelemahan dan kekerasan hati kita. Dengan jiwa yang masih kotor itu, kita memperoleh kekuasaan, kedudukan, dan harta, maka jelaslah kita menghalalkan segala macam cara.” (Krishna, Anand. (2008). Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals For Changing The World. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Konon leluhur Pandawa, Maharaja Pururawa, Nahusa, dan Yayati memerintah kerajaan di Khandavaprastha. Kemudian datang bencana kekeringan yang dahsyat sehingga, anak-keturunannya memindahkan ibukota ke Hastina. Desa sekeliling Khandavaprastha telah menjadi sangat gersang, sedangkan Khandavaprastha sendiri telah menjadi hutan belukar ditinggali Taksakha dan bangsa ular.

Shakuni adalah seorang yang cerdas dan sangat licik, Shakuni benar-benar terperangkap dalam “Maya”. Baginya Kerajaan Hastina adalah nyata. Keponakannya, Duryudana harus berhasil menjadi maharaja Hastina, Pandawa harus dienyahkan dari muka bumi agar tidak mengganggu keponakannya. Bila Duryudana menjadi maharaja, maka Kerajaan Hastina akan berada dibawah genggamannya. Dia akan bisa melakukan apa saja dan bisa menyingkirkan semua orang-orang yang tidak disenanginya.

Bhisma yang ingin Hastina menjadi kerajaan kuat, sebenarnya tidak menyetujui usul Vidura untuk membagi dua Kerajaan Hastina. Duryudana, putra sulung Raja Dhristarastra juga tidak ikhlas memberikan sebagian kerajaannya kepada Pandawa. Akan tetapi melihat bahwa bila Pandawa tinggal di Hastina akan selalu direcoki dan diperdaya oleh Kaurawa, maka akhirnya Bhisma menyetujui Pandawa diberikan sebagian wilayah Hastina untuk mendirikan pemerintahan sendiri.

Adalah Shakuni yang mengatur agar Pandawa diberikan 5 desa termasuk Khandavaprastha, yang wilayahnya sebenarnya di luar kendali Hastina. Shakuni memberitahu Duryudana bahwa daerah tersebut sangat gersang, sedangkan Khandavaprastha dihuni oleh Raja Ular Taksakha dan pasukannya yang dilindungi oleh Dewa Indra. Biarlah Pandawa dan rakyat yang ikut dengan mereka dihancurkan oleh pasukan ular Taksakha.

Berjaga-jaga agar Pandawa tidak menyerang balik Hastina, maka Shakuni telah minta pada Raja Dhristarastra agar Kunti, ibu Pandawa tinggal di Hastina dan tidak ikut pindah ke daerah baru. Menurut perhitungan Shakuni adalah tidak mungkin Pandawa akan menyerang tempat tinggal ibunya sendiri.

Shakuni bahkan menyakinkan Duryudana bahwa bila Pandawa berhasil mendirikan kerajaan di Khandavaprastha, maka Shakuni akan minta Duryudana dan pasukan Kaurawa menyerang Pandawa dan menguasai kota yang sudah menjadi besar.

“Kekuatan dan kekuasaan tanpa kebijaksanaan tidak hanya berbahaya dan membahayakan, tapi juga merusak dan menghancurkan. Kekuatan dan kekuasaan tanpa kebijaksanaan persis seperti kuda-kuda liar tanpa kendali. Kekuatan dan kekuasaan hanyalah menjadi berkah jika terkendali oleh kebijaksanaan.” (Krishna, Anand. (2010). A New Christ, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles. Re-editing, Terjemahan Bebas, dan Catatan Anand Krishna oleh Anand Krishna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Arjuna mungkin tidak secerdas Shakuni. Arjuna mungkin tidak tahu tipu muslihat apa yang ada di benak Shakuni. Akan tetapi Arjuna yakin sepenuh hati pada Sri Krishna dan keyakinan serta kepatuhan terhadap Sri Krishna sudah cukup untuk menyelamatkannya dari berbagai gelombang kehidupan. Akankah Sri Krishna berdiam diri dengan rencana jahat Shakuni? Menghadapi kelicikan Adharma, Krishna selalu mempunyai solusi dengan dasar pikiran yang jernih.

 

Pertarungan Arjuna dengan Indra

Yudistira mengatakan bahwa pusat pemerintahan sebaiknya berada di Hutan Khandavaprastha, akan tetapi Dewa Indra telah mempunyai perjanjian untuk melindungi Taksaka dan bangsa ular di hutan tersebut. Bagi Sri Krishna, perjanjian Dewa Indra dengan Taksaka bukan harga mati, bukan sesuatu yang harus abadi. Yang abadi hanyalah Dia Hyang Maha Abadi, yang lainnya selalu bisa berubah. Perjanjian bisa diperbaiki, demi penegakan Dharma, rakyat Pandawa harus diselamatkan. Kerajaan di Khandavaprastha harus berdiri dengan kuat untuk persiapan melawan kekuatan adharma.

Krishna meminta Arjuna mendatangkan Dewa Agni dan minta pertolongannya untuk membakar Hutan Khandavaprastha. Agni mau melaksanakan, melahap semua pohon dan isinya di hutan akan tetapi minta pertolongan Arjuna untuk menghadapi Indra. Untuk itu Agni memberikan Gendewa Brahma kepada Arjuna. Krishna tersenyum, Gendewa tersebut akan berguna pada saatnya perang besar yang akan datang di kemudian hari.

Arjuna memanahkan panah api ke Khandavaprastha dan hutan mulai terbakar, semua hewan ketakutan. Indra yang pernah berjanji melindungi Taksakha dan bangsa ular di hutan tersebut segera mengirimkan petir dan hujan untuk memadamkan api. Akan tetapi kemudian Arjuna memanah dengan Gendewa pemberian Agni sehingga ribuan anak panahnya bisa membentuk payung menahan air hujan sehingga tidak bisa membasahi hutan yang sedang terbakar.

Indra akan mengeluarkan senjata Vajranya, saat Sri Krishna berkata, “Indra, kehancuran Hutan Khandava sudah terjadi, temanmu Taksakha selamat, karena ia berada di luar hutan. Tidak ada seorang pun yang yang mengalahkan Krishna dan Arjuna. Hentikan kemarahanmu! Menegakkan dharma jauh lebih penting daripada mempertahankan perjanjian usang!”

Indra muncul dan bangga melihat kesaktian Arjuna, sang “putra” dan kemudian menganugerahkan sebuah senjata kepada Arjuna. Selanjutnya Indra melihat Sri Krishna yang memegang Sudarsana Cakra dan memberi hormat kepadaNya. Krishna berkata, “Aku adalah teman Arjuna, ia adalah bagian dari diriku!” Indra tersenyum dan berkata lirih, “Paduka, siapa yang bisa mengalahkan Nara dan Narayana, Arjuna dan Krishna?”

 

Mendirikan Istana Indraprasta

Para ular pergi meninggalkan hutan dan rakyat Pandawa yang terkena bisa ular sembuh kembali. Ada beberapa hewan dan asura yang datang minta perlindungan pada Arjuna. Krishna berkata bahwa salah satu asura tersebut adalah Mayasura, Vishvakarmanya para asura, arsitek pembangun istana. Krishna minta Arjuna membebaskan Mayasura dan minta Mayasura membangun istana di Khandavaprastha. Istana tersebut diberi nama Indraprastha, Wilayah Utama Indra.

Kerajaan Indraprastha berkembang dengan pesat dan Draupadi menjadi permaisuri Pandawa. Setelah kerajaan menjadi semakin besar, Pandawa segera menyiapkan Upacara Yajna untuk menahbiskan Yudistira sebagai seorang Maharaja.

 

Sri Krishna dalam Diri Manusia

Sebagai manusia kadang kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang membingungkan, setiap solusi selalu saja mempunyai kelemahan dan itu membuat pikiran semakin bimbang dan was-was. Seperti Arjuna yang dihadapkan pada konflik pikiran antara mematuhi Kesepakatan Indra dengan Taksakha ataukah  melindungi rakyatnya mendirikan Kerajaan di Khandavaprastha. Beruntunglah Arjuna yang memiliki Sri Krishna sebagai pemandu.

Pada saat kebingungan Arjuna selalu mohon petunjuk pada Sri Krishna seperti yang diungkapkan dalam Bhagavad Gita 2:6-7: “Saya tidak tahu mana yang lebih baik. Saya telah dikepung kelemahan. Jadi, saya bingung menghadapinya. Wahai Madhava, saya pasrah kepadamu sebagai murid. Tolong berilah perintah kepada saya mana yang benar untuk saya kerjakan!”

Bagaimana dengan kita yang tidak seberuntung Arjuna? Tidak didampingi seorang Kṛishna?

“Dwaraka adalah nama Kerajaan Sri Krishna. Disebut demikian, karena istananya memiliki sembilan pintu atau dwara. Istana penuh pintu masuk, itulah arti kata Dwaraka. Beda dengan istana-istana lain, yang pintu masuknya selalu dibatasi satu buah saja demi keamanan, istana Sri Krishna memang sengaja dibuat dengan banyak pintu, supaya rakyat bisa secara bebas masuk ke dalam istana untuk bertemu dengan raja mereka. Sri Krishna hendak meruntuhkan dinding pemisah antara rakyat jelata dengan raja, yang baginya adalah pelayan masyarakat. Kecuali arti jelas itu, ada pula arti lain dari kata Dwaraka. Sembilan pintu yang dimaksud adalah sembilan lubang pada tubuh kita, dua mata, dua lubang hidung, dua lubang telinga, satu lubang pusar, satu lubang alat kelamin, dan satu lubang dubur. Dwaraka adalah badan kita, badan manusia. Dan penghuni sekaligus pemilik istana itu adalah kita, Sang Aku Sejati, jati diri setiap manusia.” (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Artinya Sri Krishna pun bersemayam dalam diri kita. Asal kita yakin, kita akan selalu memperoleh petunjukNya.  Saat kita betul-betul membutuhkan petunjuk Krishna, kita akan memperolehnya. Krishna bisa berwujud apa saja, siapa saja.  Krishna bisa mewujud sebagai Guru Pemandu Rohani, seorang sahabat, bahkan buku yang sedang kita baca.

 

http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2014/08/03/menghadapi-buah-simalakama-arjuna-berlindung-pada-sri-krishna-renungan-kisah-indraprastha/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: