Sri Krishna, Draupadi dan Subhadra Mengubah Tradisi yang Sudah Usang


draupadi dan subhadra

Gambar Draupadi dan Subhadra sumber: http://www.starplus.in/mahabharat/

 

“Ya, aku tahu tradisi dan peraturan. Tetapi aku juga tahu bahwa tradisi dan peraturan itu diciptakan untuk manusia, demi kebaikan manusia. Bukan sebaliknya. Manusia tidak diciptakan demi tradisi dan peraturan. Tradisi dan peraturan adalah ciptaan manusia. Manusia adalah ciptaan Tuhan.” (Krishna, Anand. (2000). Shangrila, Mengecap Sorga di Dunia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Krishna dan Draupadi Mengubah Tradisi yang Merugikan Wanita

Atas nasehat Shakuni, Duryudana minta Karna mengikuti Svayamvara memperebutkan Draupadi. Perkawinan Duryudana dengan putri kerajaan Panchali akan menambah kekuatan Hastina. Akan tetapi raja Draupada setelah belajar pada Sri Krishna menolak, Draupadi akan dijodohkan dengan pengikut Svayamvara. Alasan Duryudana bahwa Kakek Bhisma memperebutkan putri lewat Svayamvara untuk dihadiahkan kepada adiknya yang menjadi putra mahkota Hastina sudah diterima masyarakat dan sudah menjadi tradisi bangsa Arya. Drupada mengingatkan bahwa salah seorang putri (Dewi Amba) tidak suka dirinya dihadiahkan kepada adik Bhisma, dia ingin Bhisma yang mengawininya. Ini adalah masalah satria mewakili dalam Svayamvara. Drupadi hanya diberikan kepada pengikut Svayamvara.

Duryudana yang marah minta Karna mengikuti Svayamvara bagi Karna sendiri. Krishna yang berpikiran jernih dan bebas dari tradisi yang mengikatnya mengatakan kepada Draupadi bahwa kita tidak boleh membeda-bedakan status kebangsawanan seseorang, akan tetapi bila Draupadi tidak senang dengan Karna, dia bisa menolaknya. Karena wanita yang akan menjadi istri, yang akan merasakan akibatnya. Draupadi menolak Karna untuk bertanding dan menunggu Arjuna datang mengikuti Svayamvara.

“Krishna adalah pemberontak, Yesus adalah pemberontak, demikian pula Siddharta, Muhammad, setiap nabi, setiap avatar, setiap mesias, dan setiap sadguru. Mereka semua dikenang sebagai Pembaharu. Karena mereka melakukan pemberontakan terhadap sistem yang sudah usang, kadaluarsa, tetapi mapan. Mereka semua memberontak terhadap kemapanan system yang korup. Seorang sanyasi, sadhu, bikshu, pejalan spiritual, atau apa pun sebutannya, sedang mengikuti jejak mereka. Ia mengatakan ‘tidak’ terhadap sistem yang ingin memperbudaknya. Ia menolak menjadi bagian dari kawanan domba. Tak peduli ada yang membantunya atau tidak; ada yang mendukungnya atau tidak; ia berdiri tegak di tengah medan perang, Dan menyatakan perang dengan decisive, definite— do or die!” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Permaisuri dari Lima Bersaudara

Akibat kesalahan ucap Ibu Kunti, Pandawa dan Draupadi berada dalam dilema. Berdasar tradisi saat itu seorang istri hanya mempunyai seorang suami. Sebuah masalah pelik muncul, bila Draupadi kawin dengan Arjuna, maka keempat saudaranya akan membujang seumur hidup dan pergi mengembara agar kata-kata Kunti tidak berlaku. Resi Vyaasa mengingatkan bahwa bila hal itu yang terjadi maka Yudistira tidak bisa menjadi raja Hastina, karena raja harus mempunyai permaisuri. Sedangkan Arjuna tidak mungkin menjadi raja karena yang lahir lebh dahulu sebelum Duryudana hanyalah Yudistira dan Bhima. Bila Duryudana menjadi raja, maka dipastikan rakyat akan sengsara, karena yang dipikirkan oleh Duryudana hanyalah kesejahteraan raja bukan kesejahteraan rakyatnya. Arjuna kemudian minta Draupadi kawin dengan Yudistira. Leluhur kita dari Nusantara menganggap Draupadi kawin dengan Yudistira sehingga masalah terselesaikan dan bisa mensosialisaikan ke masyarakat yang tidak mengenal poliandri. Akan tetapi Draupadi menolak, dia sudah menolak Karna ikut Svyamvara atas nama Duryudana, mengapa Arjuna ikut Svayamvara atas nama Yudistira?

Bagi Sri Krishna, yang sudah tahu apa yang terjadi di masa depan, maka beliau tahu bahwa “alat” Keberadaan untuk menegakkan dharma adalah lima Pandawa sebagai satria dan Draupadi sebagai pemersatu Pandawa. Draupadi akhirnya berani mengorbankan kehormatannya kawin dengan lima Pandawa demi penegakan dharma, demi kesejahteraan rakyat Hastina dan menghilangkan ego putri raja yang seharusnya kawin dengan seorang suami saja. Ini adalah tindakan yang sangat “berani” dan Sri Krishna mendukungnya.

Tradisi memang ditentang, akan tetapi bila melihat sejarah peradaban manusia, maka dalam kitab Srimad Bhagavatam dikisahkan 10 bersaudara Praceta putra-putra Raja Prachinabarhis, kawin dengan seorang putri bernama Pramloca. Dari rahim Pramloca lahirlah Daksha. Daksha sebagai prajapati yang pernah melawan Shiva dan membuat putrinya sendiri, Dewi Sati bunuh diri, sekarang lahir lagi sebagai putra Pramloca dengan sepuluh Praceta. Daksha ini disebutkan tidak kalah dibanding Brahma, Sang Pencipta. Semua anak-anak dan cucu-cucu Daksha menurunkan anak keturunan manusia yang memenuhi dunia saat ini.

Draupadi telah berkorban demi persatuan Pandawa, sehingga Pandawa juga berkorban, bahwa hanya Draupadilah permaisuri mereka, Tidak ada istri lain yang tinggal di istana mereka. Selama satu tahun Draupadi hanya menjadi istri satu Pandawa, dan pandawa yang lain tidak boleh masuk kamar Draupadi.

 

Perkawinan Subhadra dengan Arjuna Melawan Tradisi Perkawinan Penjodohan Orang Tua

Shakuni yang ingin memperkuat Hastina, minta Duryudana belajar ilmu gada kepada Balarama, kakak Krishna dan Subhadra. Akhirnya Subhadra dijodohkan dengan Duryudana. Subhadra sendiri tidak menyukai Duryudana, di hatinya hanya ada Arjuna. Sri Krishna mengatur agar Subhadra bertemu Arjuna yang sedang menjalani pengasingan setelah menabrak komitmen Pandawa terhadap Permaisuri Draupadi.

Subhadra didukung Krishna untuk “kawin lari” dengan Arjuna. Krishna sendiri telah melarikan Rukmini yang telah dijodohkan dengan Shisupala. Demi menghormati perasaan wanita, Sri Krishna mulai mendobrak tradisi. Selama ini banyak wanita terpaksa kawin dengan orang yang tidak dicintainya.

Kakek Pandawa, Bhisma berpegang pada tradisi bahwa bila sudah dijodohkan maka melawan tradisi tersebut tersebut adalah tindakan adharma. Krishna menyampaikan kepada Bhisma bahwasanya tradisi itu seperti buah mangga. Sewaktu lahir, terasa pahit dan hanya orang tertentu yang berani memakannya. Ketika tradisi menjadi mangga yang masih muda, yang melaksanakan masih sedikit, maka terasa asam bagi sebagian besar orang. Akan tetapi saat tradisi sudah menjadi mangga yang masak, terasa manis, maka semua orang ingin melaksanakan tradisi tersebut. Ada waktunya buah “tradisi” sudah menjadi busuk dan mengikuti tradisi menjadi tidak menyenangkan. Orang yang berpegang pada tradisi mengatakan bahwa mereka yang melanggar tradisi dianggap sesat. Akan tetapi pada kenyataannya orang sudah tidak nyaman dengan tradisi tersebut sehingga masyarakat menjadi munafik, takut dianggap sesat padahal sudah tidak melaksanakannya.

Bhisma merenung dan bertanya, siapa yang berhakmengatakan sebuah tradisi sudah busuk? Apakah kitab menyatakan demikian, ataukah Sri Krishna yang menyatakan bahwa sebuah tradisi sudah busuk? Sri Krishna tersenyum, yang mengatakan tradisi masih manis atau sudah busuk adalah Sang Kala, waktu. Krishna menambahkan bahwa saat itu adalah waktunya Sankranti bagi Hastinapura, matahari sedang berubah arah. Kebiasaan lama akan berganti dengan kebiasaan baru. Setiap orang harus menentukan dirinya akan berpihak pada pola lama atau berganti memasuki pola baru.

Bila rakyat sudah memilih pemimpin yang jujur, bupati/walikota yang jujur, gubernur yang jujur, presiden yang jujur, maka apakah para pejabat dan pemimpin partai politik mengikuti pola baru sang pemimpin ataukah masih akan mengikuti pola lama melawan keinginan rakyat?

 

Sudahkah kita merdeka atau masih diperbudak oleh tradisi yang sudah kadaluwarsa?

“Anda tidak bebas ! mungkin sudah merdeka, tetapi hanya memproklamasikan kemerdekaan tidak membebaskan diri anda ! Anda telah diperbudak selama ribuan tahun dan saat ini pun anda masih diperbudak. Anda diperbudak oleh berbagai tradisi, peraturan dan konsep yang sudah kadaluwarsa, sudah usang. Mereka yang memprogram anda tidak menginginkan kebebasan anda. Kenapa? Karena begitu anda bebas, anda tidak dapat dikuasai. Untuk menguasai anda, kepatuhan anda sangat dibutuhkan; kepastian anda sangat dibutuhkan. Anda harus statis. Dan dengan menggunakan dalil stabilitas, anda telah dilatih dan dipaksa untuk jalan atau lari ditempat. Itu sebabnya, manusia dapat diramalkan. Manusia yang sudah diperbudak oleh masyarakat, dapat diramalkan. Suatu masyarakat yang terbelenggu oleh berbagai tradisi dan peraturan yang sudah dapat diramalkan.” (Krishna, Anand. (1998). Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2014/08/08/sri-krishna-draupadi-dan-subhadra-mengubah-tradisi-yang-sudah-usang/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: