Mahabharata: Warisan Genetika Kakek Bijak Menjadi Dua Kelompok Cucu yang Baik dan yang Jahat


Pandawa Kaurawa 1 sumber sunshinelovianettesherry wordpress com

Gambar Pandawa Kaurawa sumber sunshinelovianettesherry wordpress com

“Sesungguhnya kita semua, tanpa kecuali sadar atau tidak, tengah memetik buah dari masa lalu. DNA yang merancang hidup kita saat ini sudah memiliki muatan informasi yang diperolehnya dari gen orangtua kita. Kemudian ditambah dengan apa saja yang kita peroleh dari pengalaman-pengalaman dalam hidup ini sejak usia kanak-kanak atau bahkan sebelumnya. Sedangkan muatan-muatan yang relatif baru adalah muatan-muatan yang tengah dirancang saat ini. Program-program atau rancangan-rancangan baru ini tidak hanya mempengaruhi kita sendiri tetapi kelak akan menentukan sifat genetik anak cucu kita. Mereka akan memperolehnya sebagai warisan sebagaimana kita pun memperolehnya sebagai warisan dari orangtua. Demikian lingkaran genetika ini tak terputuskan kecuali seperti yang telah disampaikan sebelumnya, ada upaya sungguh-sungguh yang intensif untuk memutuskannya dan mengubahnya atau bahkan membentuk lingkaran baru.” (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Genetika Vyaasa dalam diri Pandawa dan Kaurawa

Nenek buyut Pandawa dan Kaurawa adalah Dewi Satyawati, yang di Jawa dikenal sebagai “Roro Amis” yang setelah kawin dengan Bhagawan Parasara bau amis nelayannya sembuh dan menjadi berbau harum dan melahirkan Vyaasa, penulis kisah Mahabharata. Ditinggalkan oleh Parasara yang meneruskan perjalanan ke Himalaya, Satyawati kawin dengan Prabu Santanu yang telah berputra Devabrata. Satyawati hanya mau kawin bila anaknya menjadi putra mahkota, sehingga Devabrata bersumpah tidak akan kawin seumur hidup sehingga dikenal sebagai Bhisma, dia yang bersumpah dahsyat. Bibit ambisius ini menjadi salah satu benih genetika Raja-Raja Hastina.

Akan tetapi putra pertama Satyawati, Citragada meninggal di waktu muda dan putra kedua Wichitrawirya meninggal serta meninggalkan dua permaisuri yang belum berputra. Kedua permaisuri tersebut adalah putri-putri dari Raja Kasi. Sesuai kebiasaan zaman itu untuk memperoleh keturunan dilakukan perkawinan Niyoga. Niyoga adalah tradisi zaman dahulu, di mana seorang wanita/janda  meminta bantuan untuk melahirkan seorang anak. Orang yang ditunjuk adalah seorang yang suci dan terhormat. Sang wanita hanya bertujuan memperoleh putra dan bukan untuk kesenangan. Demikian juga orang yang dipilih, melakukannya demi kasih sayang kepada semua makhluk dan bukan demi kesenangan.

Adalah Vyaasa yang diminta sebagai pelaku pria oleh Satyawati, sang ibu untuk berhubungan dengan Ambalika dan Ambika. Menurut legenda yang tersebar di Jawa, Vyaasa membuat dirinya menakutkan sehingga Ambalika menutup mata dan lahirlah Dhristarastra yang buta. Sedangkan Ambika tidak berani melihat wajah Vyaasa sehingga wajahnya pusat pasi dan menoleh ke samping, sehingga lahirlah Pandu yang pucat dan lehernya “tengeng”, kaku kesamping. Setelah itu kedua permaisuri menyuruh seorang dayang mewakili mereka dalam kamar yang gelap. Karena sang dayang bahagia maka lahirlah Vidura.

 

Genetika Kaurawa dari Dhristarastra dan Gandhari

“Ibarat Genetika dari suami dan kakek-neneknya digabung dengan genetika dari istri dan kakek-neneknya diaduk dan diambil segenggam akan menjadi genetika sang anak.” Demikian penjelasan Bapak Anand Krishna yang kami dengar saat beliau menyampaikan bahwa “bibit, bobot dan bebet” ajaran leluhur masih relevan hingga masa kini.  Bibit yang baik dari kedua belah pihak suami dan istri memungkinkan anak mempunyai bibit yang baik dan kemudian tinggal memfasilitasi dengan  lingkungan yang baik.

Dhristarastra sejak kecil merasa tidak bahagia, karena Pandu, adiknya menjadi pemuda normal, sedangkan dirinya menjadi pemuda buta. Hatinya semakin menderita saat Pandu yang diangkat sebagai Raja Hastina. Rasa frustasi ini mempengaruhi genetika Dhristarastra.

Raja Gandhara mengizinkan Gandhari kawin dengan Dhristarastra yang buta karena ingin mempunyai cucu-cucu sebagai bagian dari Dinasti Hastina yang agung. Gandhari adalah permaisuri Dhristarastra yang baik yang mengorbankan dirinya, menutupi matanya dengan kain dan tidak mau melihat agar dapat merasakan penderitaan suaminya Akan tetapi dalam dirinya juga ada genetika Raja Gandhara yang menurunkan Shakuni yang cerdas, licik dan ambisius sebagai adik Gandhari. Kebaikan Gandhari pun kadang tertutup kala dirinya frustasi seperti saat mengandung 2 tahun dan tidak melahirkan juga, sedangkan Kunti istri Pandu telah melahirkan Yudistira. Kandungannya dipukul dan gugurlah daging yang kemudian oleh Resi Vyaasa dibagi menjadi 100 potongan dan ditempatkan dalam tempat, yang sekarang mungkin disebut tube untuk menyemaikan benih di luar kandungan. Dalam diri Kaurawa terdapat genetika Raja Gandhara yang menurunkan Shakuni.

 

Genetika Kunti dalam Diri Pandawa

“Yang menarik, 3000 tahun sebelum Masehi, kita sudah memiliki suatu teknologi rekayasa genetika. Bila membaca kisa-kisah pewayangan di Jawa yang menurut saya sebetulnya adalah catatan sejarah kita, Dewi Kunti melihat bahwa sperma suaminya tidak begitu kuat. Karena itu dilakukan proses penambahan. Ya, bisa dengan menambahkan unsur-unsur tertentu. Misalnya, dengan unsur angin, api, air, atau udara yang masing-masing memiliki variasi getaran yang berbeda-beda satu sama lain.” (Krishna, Anand dkk. (2006). Mengungkap Misteri Air. One Earth Media)

Pandu tidak dapat mempunyai putra karena akan mati saat berhubungan suami istri. Atas persetujuan Pandu, Kunti menggunakan mantra untuk memanggil kekuatan dewa agar putra-putranya lahir. Madri sebagai istri kedua Pandu pun memperoleh putra dengan cara demikian.  Sehingga Pandawa memiliki Genetika Kunti. Kunti sendiri adalah saudari dari Vasudewa yang merupakan ayah dari Sri Krishna, Balarama dan Subhadra. Sehingga genetika ayah Vasudewa mengalir ke Pandawa lewat Kunti dan ke Krishna lewat Vasudewa.

 

Pengaruh Lingkungan bagi Kaurawa dan Pandawa

“Proses pembombardiran dilakukan dengan cara ‘pengulangan yang intensif dan terus menerus’ atau repetitive and intensive. Cara ini pula yang digunakan oleh para ahli periklanan. Mereka membombardir otak kita dengan berbagai macam informasi tentang apa saja yang diiklankan. Televisi adalah pembombardir supercanggih. Tak henti-hentinya sepanjang hari dan setiap beberapa menit sekali, televisi mengiklankan sekian banyak produk. Dengan cara itu mereka dapat mempengaruhi otak kita dan ‘memaksa’ untuk membeli sesuatu yang sesungguhnya tidak dibutuhkan. Pernahkah menyaksikan iklan tentang peralatan kesehatan dan sebagainya yang biasa mengulangi kalimat-kalimat yang sama hingga puluhan kali dalam beberapa menit? Terasa bodoh, tetapi sebenarnya tidak. Mereka pintar bahkan lick Mereka tahu persis bahwa dengan cara itulah mereka dapat mempengaruhi otak kita dan menanam informasi tentang produk mereka. Membombardir, pengulangan yang intensif secara terus menerus, adalah cara yang sama, ilmu yang sama, metode yang sama yang dapat diterapkan untuk merusak maupun memperbaiki mental kita. Pilihan berada di tangan kita. Jika kita melakukannya sendiri, maka pasti demi kebaikan diri sendiri. Jika kita membiarkan orang lain atau pihak lain melakukannya, maka itu adalah demi kepentingan mereka.” (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kaurawa sangat dipengaruhi Shakuni yang licik, ambisius dan jahat. Pembombardiran informasi dilakukan secara repetitive dan intensive kepada Kaurawa oleh Shakuni karena ayah dan ibunya tidak dapat melihat dan tidak dapat mendidik dengan sempurna. Bagi suami mungkin perilaku Gandhari sangat baik. Akan tetapi bagi putra-putranya dia menjadi ibu yang kurang baik karena terlalu memperhatikan ayah dan alpa terhadap pendidikan anak dan dibiarkan dipengaruhi oleh Shakuni.

Lingkungan Pandawa dipengaruhi oleh single parent Kunti yang bijak. Setelah Pandawa mempunyai istri Draupadi, Ibu Kunti dengan bijak memilih tinggal di Istana Hastina dan gantian Draupadilah yang membombardir Pandawa dengan keberanian melawan kezaliman. Adalah Sri Krishna yang menjadi Guru Pemandu Arjuna dan saudara-saudaranya untuk memberikan pemikiran jernih yang tidak terkungkung oleh tradisi yang sudah tidak kompatibel dengan zaman.

 

Hukum Sebab-Akibat yang diterima Kaurawa dan Pandawa

“Manusia dijerat oleh Hukum Evolusi dan Hukum Sebab-Akibat. Makhluk-makhluk lain tidak dijerat oleh Hukum Sebab-Akibat. Bagi mereka hanya ada satu hukum – Hukum Evolusi. Seperti halnya anak-anak kecil di bawah umur. Hukum yang berlaku bagi orang dewasa tidak berlaku bagi mereka. Hukum Sebab-Akibat merupakan hukum dua arah. Dasarnya adalah ‘dualitas’ – perbedaan antara baik dan buruk, antara panas dan dingin. Sebaliknya Hukum Evolusi merupakan hukum satu arah. Maju terus, meningkat terus – tidak pernah mundur, tidak pernah merosot. Hukum Sebab-Akibat hanya berlaku bagi jenis kehidupan yang memiliki mind. Karena sesungguhnya mind-lah yang menciptakan dualitas antara baik dan buruk, antara panas dan dingin. Mineral, tumbuh-tumbuhan dan binatang hanya memiliki thought – satuan pikiran. Sekian banyak thoughts dan bahkan feelings, pikiran dan rasa. Tetapi semuanya masih dalam bentuk recehan, satuan-satuan kecil. Belum mengkristal untuk menciptakan mind. Kendati binatang-binatang berkaki empat sudah mulai menunjukkan adanya ‘simptom’ mind, tetapi masih belum cukup berkembang, belum cukup mengkristal. Dalam diri manusialah, mind baru mengkristal sepenuhnya.” (Krishna, Anand. (2000). Shambala, Fajar Pencerahan di Lembah Kesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Tindakan Kaurawa yang licik dan curang terhadap Pandawa dan mempermalukan Draupadi akhirnya menerima balasannya pada Perang Bharatayuda. Demikian pula tindakan baik Pandawa membuat Yudistira dan anak keturunan Arjuna menjadi Raja Hastina.

 

Betulkah Film Serial Mahabharata Digemari Masyarakat Karena Kisah Mahabharata Sudah Ada Dalam Genetika Masyarakat Indonesia?

“Dalam DNA kita, masih tersimpan memori tentang keluhuran nilai-nilai budaya ini (penghormatan terhadap air, penulis). Mari kita angkat kembali nilai-nilai ini ke permukaan dan kita gunakan untuk membangkitkan bangsa. Menyadarkan bahwa sesungguhnya kita semua satu. Kita bisa beragama Islam, Kristen, Hindu, Buddha atau apa saja, namun budaya kita adalah budaya Indonesia. Budaya yang tinggi. Budaya yang mampu mempersatukan. Mampu melahirkan Bhinneka Tunggal Ika.” (Krishna, Anand dkk. (2006). Mengungkap Misteri Air. One Earth Media)

Leluhur kita sudah lama mengenal Mahabharata. Dr. Radjiman Wedyadiningrat dari Boedi Utomo menulis tentang Bhagavad Gita, demikian pula Presiden Soekarno sering menyitir kisah Mahabharata. Candi-candi di Dieng yang dirikan pada Zaman Mataram Kuno pun mempunyai nama-nama Arjuna, Bhima dan sebagainya. Bagi leluhur kita, pergelaran Wayang Kulit dengan kisah Mahabharata sejak zaman Majapahit telah merasuk ke dalam jiwa masyarakat. Kedatangan Film Serial Mahabharata yang menarik, mungkin saja membangkitkan genetika leluhur yang diwarisi anak-anak sekarang sehingga mudah terkesan dengan kisah-kisah Mahabharata.

 

http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2014/08/17/mahabharata-warisan-genetika-kakek-bijak-menjadi-dua-kelompok-cucu-yang-baik-dan-yang-jahat/

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: