Blog Baru: Gita Kehidupan Sepasang Pejalan

1 foto thailand 2009

Ingin tahu Biografi Penulis

https://triwidodo.wordpress.com/

dan https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/

diusianya yang menginjak 60 tahun mulai menulis otobiografi dan pengalaman-pengalaman kehidupan yang dijalaninya.

Silakan Baca:

http://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/

 

Terima kasih

 

Perkawinan Sati Mahadeva, Teladan dari Seorang Panembah

sati kawin mahadeva sumber www metromasti com

Gambar Sati Mahadeva menikah sumber www metromasti com

Bhagavad Gita 4:24 : “Persembahan adalah Brahman – Gusti Pangeran, Sang Jiwa Agung, Tuhan Hyang Maha Esa; tindakan mempersembahkan pun Dia; dan Dia pula yang mempersembahkan kepada Api Hyang Menyucikan, yang adalah Dia juga. Demikian, seseorang yang melihat-Nya dalam setiap perbuatan, niscaya mencapai-Nya.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Mempersembahkan hidupnya pada Mahadeva

Kisah Sati mencintai Mahadeva sejak kecil adalah sebuah pelajaran bagi manusia yang selalu minta harta benda, kekuasaan,  dan ketenaran dari Tuhan. Padahal kesemuanya itu tidak ada yang abadi, tidak sesuatu pun dapat membahagiakan manusia selamanya. Yang abadi adalah Dia, maka fokus manusia seharusnya bukanlah pada milik-Nya akan tetapi pada Dia Hyang Maha Memiliki. Inilah contoh yang diberikan Sati bahwa dia tidak tergoda oleh kemewahan istana orang-tuanya, tidak tergoda oleh kekuasaan yang dimilikinya sebagai putri seorang Prajapati, bahkan Sati tidak tertarik kepada para Raja dan Pangeran yang disodorkan ayahandanya sebagai calon suaaminya. Sati hanya mendambakan Shiva sang Mahadeva. Dalam kisah memang digambarkan bahwa Sati maupun Mahadeva berwujud manusia, akan tetapi itu adalah contoh bagaimana seorang manusia yang sungguh-sungguh sangat mencintai Gusti Pangeran.

“Wahai Hyang Maha Tinggi, Sang Pencipta dan Pemelihara Semesta, Hanyalah Engkau yang kurindukan! Bukan kemewahan, pun bukan kekayaan, Anak, siswa, murid, pujian dan kedudukan. Tak satu pun yang kuhendaki. Aku tak butuh pengakuan sebagai. Seniman, penyair, atau penulis. Adalah kesadaran akan KasihMu yang. Tulus nan tanpa pamrih. Hanyalah itu yang kuinginkan dalam Setiap masa kehidupanku.” (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Jalan yang dilakukan Sati adalah lewat persembahan. Tindakan Sati meninggalkan istana untuk hidup di pertapaan tempat pemujaan Shiva di tengah hutan adalah sebagai persembahan. Tidakan Puasa Sati, untuk mengurangi konsumsi makanannya juga dilakukannya sebagai persembahan. Bertahun-tahun Sati menjalani hal demikian dan dia selalu mengurangi konsumsi makanannya sehingga akhirnya dia hanya makan satu helai daun sehari.  Puasa digunakannya untuk mendekatkan diri pada Hyang Maha Kuasa.

 

Sati memberikan keteladana bagaimana menjadi ‘Murid’

“Seorang ‘Murid’, dalam pemahaman bahasa Sindhi, bahasa ibuku, adalah seorang yang memiliki ‘murad’ atau keinginan tunggal yang sungguh-sungguh untuk mencapai kesadaran tertinggi. Silakan menyebut kesadaran tertinggi itu kesadaran murni, atau jika lebih suka dengan penggunaan istilah Gusti, atau Tuhan, maka gunakanlah istilah itu. Keinginan untuk menyadari kehadiran Gusti, Sang Pangeran, Hyang Maha Tinggi, atau Tuhan di dalam diri itulah keinginan tunggal yang dimaksud. Bila kita masih menginginkan sesuatu dari Tuhan, dan bukan Tuhan itu sendiri yang kita inginkan, maka kita belum menjadi murid. Murad kita, keinginan kita, masih belum sungguh-sungguh. Kita masih menginginkan manfaat dari Tuhan. Kita masih ingin memanfaatkan Tuhan. Apakah kesadaran kita sudah mencapai tingkat tempat kita bisa mengatakan bahwa hanya Dia Hyang Mahatinggi? Jika kita belum menganggapnya Hyang Mahatinggi, kita tak akan pernah memiliki murad atau keinginan tunggal untuk memiliki kehadiranNya dalam keseharian hidup kita. Bila kita belum menyadariNya sebagai Hyang Mahatinggi, kita akan menyejajarkan keinginan kita untuk menyadari kehadiranNya dengan keinginan-keinginan lain. Dan, itulah saat tercipta ilusi Dia sangat jauh.” (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dengan kesungguhan Sati, maka Shiva sang Mahadeva tergerak menemui Sati . Shiva menyelesaikan tapanya yang bahkan tidak tergerak saat dirayu Sang Kamadeva melalui gadis jelita Vasantha ciptaan Brahma. Vasantha sendiri adalah nama dari musim semi, musim yang membuat manusia berbahagia.

Shiva sang Mahadeva tergerak menyelesaikan tapanya dan menemui Sati yang telah mempersembahkan hidupnya kepadanya. Dikatakan bahwa Tuhan bersemayam dalam dada seorang panembahnya.

Saat Sati menyampaikan keinginan untuk menjadi istrinya, Mahadeva menyanggupinya dan berjanji akan segera meminangnya ke istana orang tuanya.

 

Shiva menikahi Sati

“Diriku ini Milik-Mu. Inilah penyerahan diri. Inilah keikhlasan dan kepasrahan diri yang sempurna. Tanpa embel-embel. Inilah cinta yang tak terbatas, dan tanpa syarat. Cinta seperti ini adalah suatu ‘kejadian’ yang jarang terjadi. Inilah kejadian yang ditunggu-tunggu oleh jiwa. Inilah kejadian yang dapat mengantar jiwa pada tahap evolusi berikutnya, tempat ia ‘menjadi’cinta. Tahap pertama adalah penyerahan diri: ‘Aku milik-Mu’. Inilah ‘kejadian’ awal. Saat kejadian ini, ego kita sudah knock out, flat on the ground. Ia sudah tidak berdiri tegak lagi. Ia sudah tidak berdaya. Diri-Mu adalah Milikku. Inilah langkah kedua setelah penyerahan diri. Setelah penyerahan diri, sekarang pernyataan kepemilikan diri. Aku telah menjadi milik Gusti Pangeran, sekarang Gusti Pangeran menjadi milikku. ‘Cintaku untuk-Mu semata untuk Melayani-Mu’ tak ada kepentingan pribadi, tak ada tuntutan birahi, tak ada urusan kepuasan diri. ‘Harapanku padaMu’, bukanlah supaya kau membalas cintaku, tapi ‘semoga Kau berkenan atas ungkapan kasihku padaMu’. Cinta macam apakah ini? Inilah Cinta Sejati, inilah Kasih Ilahi. Nafsu birahi selalu menuntut, cinta penuh emosi memberi, tapi selalu mengharapkan balasan/imbalan. Cinta sejati adalah ungkapan kasih ilahi yang selalu memberi, memberi, dan memberi. Ia tidak menuntut sesuatu. Ia tidak mengharapkan imbalan. Ia tidak peduli akan balasan.” (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sati merasa sangat bahagia dan pulang ke istana menunggu pinangan Shiva. Ibu Sati sangat senang bahwa tapa Sati telah berhasil. Akan tetapi Prajapati Daksha, sang ayahanda yang angkuh merasa tidak senang. Baginya Shiva adalah pertapa pengembara yang kotor yang tinggal di hutan dan berkawan dengan binatang. Bajunya pun hanya kulit harimau, bagaimana dia bisa menjadi menantu seorang Prajapati yang gemerlapan?

Sati sangat yakin pada kekuasan Shiva dan bila pernikahan itu harus terjadi maka tidak ada satu orang pun yang dapat menghalanginya. Shiva segera menemui Brahma dan mengatakan bahwa dia telah menemukan calon istri yang sempurna dan dia memutuskan untuk segera menikahinya. Brahma sangat senang dan berkata itu adalah harapan semua dewa. Brahma berjanji segera mengatur pernikahan sesegera mungkin.

Brahma segera ke istana Daksha, dan menyatakan bahwa tapa Sati telah berhasil dan Shiva akan meminangnya. Daksha tidak berkutik terhadap ayahandanya yang telah memberikan kekuasaan kepadanya sebagai prajapati. Mau tidak mau Daksha menyetujui permintaan Brahma.

Para dewa kemudian berkumpul di Kailasha dan mengucapkan selamat kepada Shiva. Shiva kemudian pergi ke istana Daksha ditemani Brahma, Vishnu dan para dewa lainnya. Dan pernikahan pun terjadi dengan sangat meriah.

Pernikahan Shiva Sati dirayakan pada bulan baru di bulan Februari yang disebut Mahashivaratri. Februari adalah bulan dimana Bunda Alam Semesta mengundang manusia untuk menabur benih. Bumi telah merasakan musim dingin yang lama dan sekarang adalah waktu untuk menabur benih, memulai kehidupan baru, musim semi yang baru.

 

Jalan Peningkatan Kesadaran Manusia

“Ketika kesadaran manusia meningkat, terbersihkanlah jiwanya, dan terkendalilah pikirannya. Atau sebaliknya, ketika jiwa manusia terbersihkan, dan pikiran terkendalikan, terjadilah peningkatan kesadaran. Anda boleh mulai dari ujung mana saja. Hasilnya sama. Upayakan peningkatan kesadaran, maka jiwa menjadi bersih dan pikiran terkendali. Upayakan kebersihan jiwa dan kendalikan pikiran, maka kesadaran mengalami peningkatan. Dari ujung manakah semestinya kita memulai? Terserah, dari yang mana saja. Mengupayakan kebersihan jiwa dan pengendalian pikiran adalah jalur meditasi. Inilah jalur perenungan, yang dalam bahasa sufi disebut jalur fiqr atau tafakkur. Sementara itu, mengupayakan peningkatan kesadaran adalah jalur cinta murni. Sesungguhnya bukan peningkatan kesadaran yang diupayakan oleh seorang pecinta, tapi pemindahan kesadaran. Ia memindahkan fokusnya dari dunia benda ke Hyang Mahamenawan. Jalur kedua ini adalah bagi para pecinta tanpa syarat, mereka yang tidak membutuhkan imbalan. Jika Anda belum siap dan menyalahartikan luapan emosi sebagai cinta sejati, Anda akan kecewa karena jalur ini adalah jalur tanpa tuntutan. Sementara, emosi Anda masih menuntut. Janganlah menggunakan jalur ini jika Anda belum memiliki cinta sejati terhadap Hyang Mahamenawan. Lebih baik menggunakan jalur pertama, jalur meditasi.” (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Kisah Sati Mahadeva bukan hanya memberikan teladan bagaimana seseorang yang selalu melakukan persembahan dapat mencapai apa yang dinginkannya, akan tetapi sudah berada dalam dekapan-Nya pun seseorang bisa lengah sehingga menjauhi-Nya. Silakan ikuti kisah selanjutnya.

http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2014/09/10/perkawinan-sati-mahadeva-teladan-dari-seorang-panembah/

Mahadeva: Kelahiran Bunda Alam Semesta sebagai Sati Putri Daksha

sati mahadev sumber www bolegaindia com

Gambar Sati Mahadeva sumber www bolegaindia com

“Penciptaan, Pemeliharaan, Dan Pemusnahan sekaligus pendauran-ulang menurut para bijak di masa lalu, terjadi karena percikan-percikan kekuasaan Gusti Pangeran. Gusti Pangeran, Tuhan, atau apa pun sebutannya, berada jauh di atas semua itu. Penciptaan dan segala sesuatu yang lain terjadi atas kehendak-Nya. Ia tidak perlu turun tangan sendiri untuk menciptakan seorang anak manusia. Segalanya terjadi atas kehendak-Nya.” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Anak Keturunan Brahma di Dunia

Sesuai dengan tugasnya untuk mencipta, Brahma mulai  menciptakan 4 Rsi: Sanaka, Sananda, Sanatana and Sanat-kumara dan minta mereka membuat anak keturunan untuk menyebar ke dunia. Keempat-empatnya menolak karena tidak tertarik berkeluarga dan fokus menjadi bhakta Vishnu. Brahma menahan kemarahannya dan sebagai akibatnya keluarlah Rudra lewat keningnya. Rudra menjadi Prajapati tetapi melakukan banyak kesalahan sehingga dia disuruh bertapa.

Brahma kemudian menciptakan Narada, Vasishtha, Bhrgu, Daksha, Kratu, Pulaha, Pulatsya, Angira, Atri dan Marici. Selanjutnya lahirlah Dharma, Adharma, Kardama dan banyak putra-putra lainnya. Kemudian Brahma menciptakan pasangan Swayambu Manu dan Satarupa. Dari mereka lahirlah 3 putri Akuti, Prasuti, Devahuti serta dua putra Priyavatra dan Uttanapada.  Akuti menikah dengan Ruchi putra Brahma, Dewahuti dengan Kardama putra Brahma dan Prasuti dengan Daksha Putra Brahma. Anak-keturunan Swayambu Manu semuanya mendiami dunia.

 

Pasangan Shiva Inkarnasi Parashakti

“Pengetahuan tentang Ia Hyang Melampaui Wujud adalah Pengetahuan Sejati. Hati-hati, jangan pula menyalahartikannya sebagai ‘Hyang Tak Berwujud’. Sebab itu, di awal tadi saya memilih untuk menerjemahkan Nirguna sebagai ‘Hyang Melampaui Wujud’. ‘Hyang Melampaui Wujud’ tidak berarti, ‘tidak boleh punya wujud’. Kita tidak bisa menyuruh Gusti Pangeran, ‘He, kalau sudah Tak Berwujud, ya tetap Tak Berwujud saja ya. Jangan lagi Berwujud!’ Kita tidak bisa memerintah Gusti Pangeran seperti itu. Suka-suka Dia. Kalau Dia mau mengungkapkan keberadaan-Nya lewat wujud; jika Dia ingin menunjukkan wajah-Nya kepada seorang pencinta, seorang bhakta, seorang panembah – kita tidak bisa melarang-Nya.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Konon Shiva berada dalam meditasi yang sangat dalam. Brahma yang muncul di tempat meditasi Shiva bersama Kamadeva Putra Brahma berkata, “Kamadeva kau harus menemukan cara agar Shiva menyelesaikan meditasinya!” Kamadeva menyanggupi asal Brahma menciptakan gadis cantik terlebih dahulu. Brahma kemudian menciptakan Vasanthi dan Malayani. Kamadeva berupaya membangunkan Shiva dibantu kedua gadis cantik tersebut tetapi Shiva tetap tidak tergerak. Malayani kemudian diajak pergi oleh Brahma. Dan, setelah beberapa lama Kamadeva pun tetap tidak berhasil dan kembali menghadap Brahma.

Brahma kemudian meminta bantuan Vishnu, dan Vishnu mengatakan agar Brahma langsung menemui Shiva. Sebelum minta Shiva menikah maka Brahma diminta berdoa kepada Parashakti, Bunda Alam Semesta agar Dia berkenan lahir ke dunia sebagai istri Shiva. Brahma kemudian minta pasangan Daksha dan Prasuti bertapa mohon perkenan Bunda Alam Semesta lahir ke dunia sebagai putri mereka.

Dalam Srimad Bhagavatam, dikisahkan Vishnu beberapa kali mewujud di dunia. Demikian pula Shiva pun mewujud sebagai Rudra Putra Brahma. Inkarnasi Dewa lahir di dunia untuk melenyapkan kejahatan, melindungi orang-orang saleh dan menemui “para pencari” untuk memberikan kedamaian dan sukacita kepada mereka.

Dikisahkan Daksha dan Prasuti bertapa selama 3.000 tahun dan Bunda Alam Semesta menemui mereka. Bunda berkenan akan lahir sebagai putri mereka dengan syarat, bahwa bila Daksha tidak menghormati sang dewi, maka Dia akan kembali ke Parabrahma.

Dari rahim istri Daksha lahir 60 anak perempuan. 10 putri menikah dengan Dharma. 13 putri menikah dengan Kashyapa. 27 putri menikah dengan Chandra. Masing-masing 2 putri menikah dengan Bhootan, Angirasa dan Krishashwana dan sisanya menikah dengan Tarkshya. Generasi penerus mereka menjadi penduduk bumi.

Kemudian Daksha dan istrinya berdoa lagi dan lahirlah Sati. Setelah Sati dewasa datanglah Brahma dan Narada dan mereka berkata kepada Sati bahwa keinginan rahasia yang disembunyikan dalam pikiran Sati untuk menjadi istri dari Shiva akan terlaksana.

 

Kejelitaan Sati dan Arogansi Prajapati Daksha

“Evolusi Spiritual adalah evolusi dari ketidaksadaran menuju kesadaran. Inilah evolusi yang sedang kita jalani saat ini. Ketidaksadaran memisahkan kita dari alam semesta, makhluk-makhluk lain bahkan dari sesama manusia. Kesadaran mempertemukan kita dengan alam semesta, makhluk-makhluk lain maupun dengan sesama manusia. Ketidaksadaran menciptakan kesombongan, arogansi seolah kita Mahatinggi, Mahabesar, Mahaterpilih, dan sebagainya. Kesadaran menciptakan keselarasan, keserasian, dan keharmonisan. Sesungguhnya tiada perbedaan antara kita. Kita semua satu adanya. Ketidaksadaran menciptakan jurang pemisah antara sesama makhluk sedangkan Kesadaran menciptakan jembatan untuk mempertemukan kita.” (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Sati tumbuh menjadi gadis jelita dan Daksha mulai berpikir bagaimana mungkin putri yang sangat cantik jelita kawin dengan pria yang selalu memakai baju harimau dan tinggal di hutan. Dalam kisah selanjutnya akan disampaikan perjalanan spiritual Daksha dari ketidaksadaran menuju kesadaran.

Sati minta pada sang ibu untuk mengajari bagaimana bermeditasi pada Shiva. Siang malam Sati bermeditasi pada Shiva.

Dikisahkan para dewa datang ke Kailasha menghadap Shiva, Sang Mahadewa dan mengatakan bahwa para asura di dunia sedang berkembang pesat. Mereka menguasai seantero dunia. Mereka mengingatkan bahwa adalah tugas Shiva untuk mendaur ulang, menghancurkan mereka. Brahma berkata bahwa walaupun mereka bertiga (Brahma, Vishnu dan Shiva) adalah satu, akn tetapi mereka mempunyai tugas masing-masing. Brahma mencipta, Vishnu memelihara, sedangkan Shiva mendaur ulang. Brahma dan Vishnu sudah punya istri, akan tetapi Shiva belum. Shiva mengatakan bahwa dia selalu bermeditasi, jadi untuk apa punya istri?

Atas bujukan Brahma yang kreatif, maka Shiva bersedia menikah, tetapi dengan syarat hanya dengan wanita yang bisa mewujud menjadi orang yang berbeda. Setiap kali Shiva bermeditasi maka istrinyapun juga bermeditasi. Vishnu dan Brahma senang dan berkata bahwa mereka sudah menemukan pasangan yang cocok yang merupakan inkarnasi dari Bunda Alam Semesta bernama Sati. Shiva setuju.

Ikuti kisah selanjutnya!

http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2014/09/07/mahadeva-kelahiran-bunda-alam-semesta-sebagai-sati-putri-daksha/