Catatan Akhir Tahun 2014: Selalu Ingat Tuhan, Berkarya Tanpa Pamrih dan Berbagi Berkah


happy new year 2015

Happy New Year di Anand Krishna Center Joglosemar, Jogja (foto Mas Tunggul)

 

Melihat layar lewat Skype

Belasan orang memandang layar besar yang dihubungkan dengan kabel ke laptop yang sudah terkoneksi lewat Skype. Dan terpampanglah gambar Anand Asram Ubud, Anand Ashram Sunter di Hall Anand Krishna Center Joglosemar, Jogja. Semua orang berteriak bahagia, inilah adalah ungkapan spontan yang membahagiakan dan membangkitkan semangat di akhir tahun 2014.

Kala Bapak Anand Krishna muncul dan menyapa di layar, hati semua orang berbunga-bunga, inilah saat yang ditunggu di penghujung tahun 2014 ini.

Diawali dengan agnihotra, chanting, bhajan, makan bihun bersama dan dilanjutkan mendengarkan kisah Shri Sai Satcharita semua orang menunggu detik-detik yang berbahagia lewat koneksi dengan Anand Ashram Ubud.

Sebuah momen yang perlu dirayakan untuk mengakhiri tahun 2014. Terima kasih kepada semua teman-teman yang mempersiapkan sehingga acara ini terlaksana. Terima kasih Bapak Anand Krishna yang telah berbagi kasih dengan teman-teman di Bali, Jakartaa dan Jogjakarta.

 

Ingat Tuhan, Berkarya Tanpa Pamrih dan Berbagi Berkah

Kitab suci yang tebal dari penganut Sikh ( dan menurut pencatat bisa diperluas dengan seluruh kitab yang disucikan) hanya memuat 3 kata: Selalu Ingat Tuhan; Selalu bekerja keras sekuat tenaga tanpa pamrih; dan Selalu berbagi berkah.

Pernyataan Bapak Anand Krishna ini menghunjam dalam dalam diri.

  1. Selalu Ingat Tuhan.
  2. Berkarya Tanpa Pamrih
  3. Berbagi Berkah.

 

Sudahkah dalam satu tahun 2014 kita semua melaksanakan hal tersebut? Siapkah di tahun Baru 2015 kita melakukan hal tersebut!

Kalau hanya memikirkan kepentingan keluarga, kepentingan “family”, semua hewan pun sudah melakukan hal yang sama. Sebagai manusia kita berkarya mestinya bukan hanya untuk kepentingan keluarga, akaan tetapi untuk kepentingan umum, kepentingan umat manusia dan bahkan bagi seluruh makhluk.

Atithi Devo Bhava, tamu yang tidak diundang adalah Tuhan. Sudahkah kita melakukan hal demikian? Tamu yang datang dengan pemberitahuan lebih dahulu adalah “family”.

Bapak Anand Krishna menyampaikan tidak ada seorang tamu pun yang datang ke rumah orang tuanya yang pulang tanpa minum atau makan sesuatu. Ibu beliau selau menjamu semua tamu.

Pak Anand juga menyampaikan kisah Shirdi Baba yang berjanji akan berkunjung ke rumah seseorang pengikutnya. Sang pengikut telah mempersiapkan hidangan untuk Sang Guru yang akan mengunjunginya. Jam 12 tepat sesuai sesuai rencana, Shirdi Baba belum datang juga. 10 menit kemudian datang seorang peminta-minta. Dan sang tuan rumah menolaknya, “Guru saya akan datang, tunggulah setelah datang dan kau akan saya berikan hidangan!”

Ditunggu sampai jam 4 sore Sang Guru tidak datang juga. Dan, temannya menghadap Shirdi Baba dan menanyakan mengapa beliau tidak hadir ke rumah sahabatnya. Dia menyampaikan bahwa sang tuan rumah dan para sahabat sudah menunggu. Shirdi Baba berkata, “Saya sudah datang dan kalian tidak mengenaliku!.”

Atithi Devo Bhava, sang peminta-minta yang datang setelah jam 12 seharusnya dianggap Tuhan yang datang, tetapi sang tuan rumah dan para sahabatnya belum bisa mempraktekkan nasehat tersebut.

Kisah tersebut menyentuh hati nurani terdalam, apa yang sudah kita lakukan selama ini. Adakah nasehat yang sudah dihayati dipraktekkan dalam kehidupan nyata?

Bahkan apabila kita tidak memiliki sesuatu apa pun, kita masih bisa memberikan sebuah senyuman. Bapak Anand Krishna juga berkisah bahwa Giam lo ong, Sang Yama  itu ibarat tulang foto yang tidak tahu kapan mengambil gambar, menjepret kita. Saat menjepret itulah napas yang kita tarik dihembuskan untuk yang terakhir kalinya. Mengapa kita tidak selalu senyum sehingga saat dijepret kita dalam keadaan tersenyum? Hehehe bila kita selfie dengan tongsis, kita bisa mempersiapkan diri saat kita diambil gambarnya, akan tetapi Sang Yama tidak tunduk pada keinginan kita!

 

Perjalanan Kembali ke Solo dan Perjalanan Kehidupan

Pulang dari Center di Jogja, saya istri dan Mas Rahmad mengendarai kendaraan pelan-pelan, karena banyak sekali sepeda motor dan mobil berlalu lalang pada dini hari setelah Pk. 00 tersebut.

Saya mengendarai sendiri, karena teman yang biasa menyetir Solo-Jogja pp sedang sakit. Di sepanjang jalan, kita melihat kembang api sekali-sekali menghiasi langit. Suara knalpot motor meraung-raung dan beberapa anak muda tanpa helm menarik perhatian pengendara lainnya.

Sampai di dekat kompleks Candi Prambanan jalan menjadi macet, mungkin lebih dari setengah jam. Sudahkah mereka yang memenuhi jalan di tahun baru tersebut selalu mengingat Tuhan! Apa yang dipikir oleh mereka? Ada pasangan muda yang naik motor membawa bayi mereka menyelinap kerumunan mobil dan motor. Apakah ini juga tindakan ingat Tuhan? Apakah mereka yang merayakan akhir tahun ini melakukan tanpa pamrih? Ataukah hanya menyenangkan keinginan panca indra serta pikiran dan perasaan?

Mungkin mereka juga telah berbagi berkah kepada tukang penjual terompet dan kepada stasiunSPBU dengan membeli bahan bakar. Mungkin mereka telah berbagi berkah dengan membeli kembang api yang mahal dan tidur di hotel berbintang. Untuk kepentingan pribadi, family atau untuk kemanusiaan?

Hidup  adalah sebuah perjalanan. Seperti perjalanan dari Solo ke jogja dan kembali lagi ke Solo. Sudahkah sepanjang perjalanan kehidupan kita lalui dengan melakukan tindakan: “Selalu ingat Tuhan, Bekerja keras tanpa pamrih pribadi, dan berbagi berkah yang diberikan kepada kita?

Semoga!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: