Anak Bangsa Yang Menghalalkan Segala Cara Untuk Menjatuhkan Anand Krishna

Prihatin atas berita-berita di koran dan internet tentang ketidakberpihakan sebagian oknum-oknum putra-putri bangsa terhadap Kebenaran dan Keadilan, di dalam hati terjadi perenungan yang dalam……

Untuk berapa lama kita hidup?

Apakah kita hidup selamanya?

Bukankah akan ada suatu masa di mana mulut dikunci dan seluruh anggota tubuh menjadi saksi atas perbuatan yang telah dilakukan dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya?

Mengapa tindakan kita mau menang sendiri dengan menghalalkan segala cara demi kepentingan pribadi/kelompok dan mengesampingkan kebenaran?

Mengapa kita menganggap bahwa masyarakat umum tidak perlu tahu prosesnya, yang penting secara hukum tindakan dibenarkan?

Mengapa yang dipentingkan pertimbangan dari segi hukum walau di dalamnya penuh manipulasi dan jauh dari rasa keadilan dan kebenaran?

Mengapa mengedepankan nafsu mau menang sendiri dan mengabaikan hati nurani?

Mengapa beberapa instansi yang dilapori melindungi oknum atas nama Korps dan bukan atas nama Kebenaran dan Keadilan?

Sudah saatnya suara diungkapkan kepada alam semesta……..

Dia Yang Maha Tahu, Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Adil akan memberikan balasan sesuai perbuatan yang dilakukan……..

Ibarat buah yang membesar di atas pohon kejahatan, maka alam semesta akan menunggu waktu masaknya buah, dan buah tersebut akan jatuh sendiri pada waktunya……

 

Berikut contoh ketidakadilan yang perlu disimak……

 

Siaran Pers Komunitas Pecinta Anand Ashram

Kebohongan Jaksa Muda Martha P Berliana dalam kasus Anand Krishna dilaporkan. Komunitas Pecinta Anand Ashram (KPAA), melapor kepada Kejaksaan Agung RepubIik Indonesia dugaan terjadinya kesengajaan Jaksa Muda Martha P Berliana (NIP. 19700416 199603 2 002) dalam melakukan kebohongan, pemutar-balikan fakta dan pengaburan dalam menyusun Permohonan Memori Kasasi terhadap Putusan Bebas PN Jakarta Selatan terhadap Anand Krishna, tanggal 22 Nopember 2011 lalu.

 

PROTES KERAS ini disampaikan karena telah dilakukan oleh Jaksa Muda Martha P Berliana berulang-ulang kali, mulai dari Surat Tuntutan, Replik dan sekarang Permohonan Memori Kasasi sehingga kami menduga ini dilakukan oleh Jaksa Muda Martha P Berliana sebagai upaya KESENGAJAAN, bukan lagi tindakan sekedar TIDAK PROFESSIONAL dalam melaksanakan tugasnya. Baca lebih lanjut

Iklan

Renungan Bhagavatam: Kaliya, Mengendalikan Insting Hewani Dalam Diri Manusia

Stop Press: Sisters n Brothers terkasih, tanpa terasa kita sudah mendalami Renungan Bhagavatam dalam 56 artikel. Berhubung kesibukan kami, maka kami akan menghentikan sharing Renungan Bhagavatam dalam FB, kompasiana dan blog-blog lainnya. Mohon doa restu semoga akhir Oktober 2011 sudah terbit Buku Renungan Bhagavatam dalam versi yang lebih lengkap. Artikel ini sebagai penutup sharing Renungan Bhagavatam dan sampai jumpa dalam bentuk buku.

Salam Kasih __/__

 

 

Pada suatu hari Krishna dan teman-temannya menggembala sapi-sapi ke arah Sungai Yamuna. Balarama kali ini tidak menemani mereka. Krishna dan temannya bermain-main di tepi hutan dan karena hari sangat panas, beberapa teman Krishna kehausan dan pamit mencari minum ke Sungai Yamuna. Akan tetapi kali ini mereka salah jalan dan masuk ke daerah bahaya di Danau Madu. Di dasar Danau Madu tinggallah ular cobra raksasa berkepala lima bernama Kaliya yang hidup bersama  beberapa istrinya. Kaliya mengeluarkan racun yang berbahaya yang memenuhi danau tersebut dan bahkan sedikit demi sedikit air dari danau sudah mulai mencemari Sungai Yamuna. Sungai Yamuna mengalir ke hilir melalui Kota Mathura tempat Kamsa dan di hilirnya lagi melalui Kota Hastinapura. Semua tanaman disekitar danau terkena polusi dan pada kering. Burung-burung yang melintasi danau pun pada jatuh terkena uap beracun yang berada di atas danau.

Setelah lama menunggu teman-teman mereka yang pergi ke sungai dan tidak balik, Krishna dan teman-temannya mengikuti jejak teman-teman mereka dan sampailah mereka di danau Madu. Krishna melihat teman-teman mereka pingsan dan segera meminta teman-temannya memindahkan mereka menjauhi danau. Krishna segera memanjat Pohon Kadamba di tepi danau. Pohon besar yang kering tanpa daun tersebut tetap bertahan hidup. Teman-teman Krishna melihat Krishna sampai di pucuk pohon dan segera meloncat ke dalam danau. Semua teman-temannya khawatir akan keselamatan Krishna, dan ada yang lari ke desa memanggil Nanda, Yashoda dan orang-orang tua para gembala. Cukup lama Krishna berada di dasar dan tiba-tiba muncul di permukaan danau diserang oleh Kaliya. Dan terjadilah perkelahian yang seru. Krishna sangat lincah dan tahan uap beracun yang dikeluarkan oleh Kaliya. Pada akhirnya Krishna menari-nari di atas lima kepala Kaliya. Kaliya kelelahan dan dari mulutnya keluar darah karena telah kehabisan racun berbisanya. Kaliya sadar bahwa bila Krishna ingin membunuhnya, maka dia akan mati dengan mudah. Para istrinya keluar dan mohon pengampunan dari Krishna. Nanda, Yashoda dan para gembala bersorak sorai melihat Krishna menari-nari berlompatan di atas lima kepala Kaliya. Akhirnya Krishna berkata, “Kaliya, kau kumaafkan, akan tetapi segera pergi dari danau ini bersama istrimu ke tempat tinggalmu di Pulau Ramanaka. Kau tak perlu takut Garuda mengejarmu, melihat bekas tapak kakiku di kepalamu, Garuda akan melepaskanmu. Hiduplah yang baik, karena semua racunmu telah habis…….

Dalam Buku “The Gita Of Management, Panduan Bagi Eksekutif Muda Berwawasan Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 disampaikan….. bahwa Kaliya adalah Kalaa Yavan, Si Hitam yang berasal dari Yunani yang berupaya melemahkan kerajaan-kerajaan di India dengan  meracuni Sungai Yamuna, dengan jalan masuk ke daerah pedalaman dan membuang racunnya sedikit demi sedikit. Dan, setelah Kaliya ditaklukkan dia lapor kepada Raja Yunani sehingga selama dua abad negara yang ekspansionis pada masanya tersebut tidak mengganggu India………

Sebagian Master memaknai Kaliya yang berkepala lima sebagi bahaya yang mengendap dalam pikiran manusia. Di danau pikiran manusia ada ular cobra raksasa beracun dengan lima kepala terus mengintai, menunggu kelalaian manusia. Kelima kepala ular cobra raksasa tersebut adalah  amarah, keinginan, keserakahan, keterikatan dan keangkuhan. Ketika manusia selalu ingat pada Tuhan dengan penuh penghayatan, maka ular cobra berkepala lima akan keluar dari kedalaman danau pikiran dan nampak di permukaan. Kemudian ular cobra tersebut dapat dibuat menjadi tenang…….. Dalam buku “Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2000 disampaikan…….. Tobat berasal dari suku kata taubah yang berarti “kembali”. Kembali pada diri sendiri, kembali meniti jalan ke dalam diri. Bertobat berarti “sadar kembali.” Dan, untuk meniti jalan ke dalam diri, untuk sadar kembali, dibutuhkan energi yang luar biasa. Sementara ini, seluruh energi kita habis terserap oleh perjalanan di luar diri. Rumi mengingatkan kita: Jangan pikir engkau bisa melakukan apa saja, kemudian bertobat dan selesai sudah perkaranya. Kalaupun taubah diterjemahkan sebagai “penyesalan”; yang menyesal haruslah hati, jiwa. Bukan mulut. Di atas segalanya, “penyesalan” berarti “kesadaran untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.”………….. Renungkan sebentar: Kesalahan-kesalahan yang kita buat mungkin itu-itu juga. Lagi-lagi kita jatuh di dalam lubang yang sama. Dalam hal membuat kesalahan pun rasanya manusia sangat tidak kreatif. Karena, sesungguhnya tidak banyak kesalahan yang dapat anda buat. Pendorongnya, pemicunya pun tidak terlalu banyak. Keinginan, amarah, keserakahan, keterikatan dan keangkuhan ya Panca-Provokator-itulah yang mendorong kita untuk berbuat salah. Yang kita sebut nabi, atau avatar, atau mesias, atau buddha telah menguasai kelima-limanya. Kita belum. Lalu, setelah menguasai kelima-limanya tidak berarti mereka tidak pernah berkeinginan atau marah. Mereka pun masih punya keinginan-setidaknya untuk berbagi kesadaran dengan kita. Mereka pun bisa marah kalau kita tidak sadar-sadar juga, padahal sudah berulang kali kupingnya dijewer. Keserakahan dan keterikatan mereka malah menjadi berkah bagi kita semua. Sampai mereka harus menurunkan kesadaran diri untuk menyapa kita, untuk membimbing kita, untuk menuntun kita. Kenapa? Karena mereka ingin memeluk kita semua. Keserakahan kita sebatas mengejar harta dan tahta; keserakahan mereka tak terbatas. Mereka mengejar alam semesta dengan segala isinya. Mereka ingin memeluk dunia, karena “tali persaudaraan “, karena “ikatan-persahabatan” yang mereka ciptakan sendiri. Keangkuhan dalam diri mereka merupakan manifestasi Kesadaran Diri. Ketika Muhammad menyatakan dirinya sebagai Nabi, dia tidak angkuh. Ketika Yesus menyatakan dirinya sebagai Putra Allah, dia pun sesungguhnya tidak angkuh. Ketika Siddhartha menyatakan bahwa dirinya Buddha, sudah terjaga, dia pun tidak angkuh. Ketika Krishna mengatakan bahwa dirinya adalah “Manifestasi Dia yang Tak Pernah Bermanifestasi, dia pun tidak angkuh. Keakuan kita lain – Ke-“Aku”-an mereka lain. Yang tidak menyadarinya akan membatui Muhammad, akan menyalibkan Yesus, akan meracuni Siddhartha, akan mencaci-maki Krishna……… Baca lebih lanjut

Renungan Bhagavatam: Dhenukasura, Melepaskan Diri Dari Perbudakan Hawa Nafsu

Raja Parikesit masih termenung memikirkan kisah Krishna kecil yang mewujud sebagai para anak gembala, para anak sapi, pakaian dan peralatan para anak gembala. Sang Raja teringat Upanishad yang menyampaikan bahwa Tuhan meliputi segala sesuatu, mestinya bukan hanya kala itu Sri Krishna mewujud menjadi banyak hal. Bukankah segala sesuatu di alam ini pada hakekatnya adalah proyeksi dari Tuhan? Mata batin Raja Parikesit dapat merasakan bahwa apa pun yang nampak olehnya, semuanya adalah proyeksi Tuhan dan dia wajib melayani semuanya sebaik-baiknya……..

 

Para sufi juga bersaksi bahwa tak ada Yang Lain kecuali Allah. Einstein pun berkata bahwa semua materi pada hakikatnya adalah energi, yang ada hanya energi. Dia adalah Energi Agung. Dalam buku “Shri Sai Sacharita”, Sai das, Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia, 2010 disampaikan wejangan seorang Sadguru untuk melampaui dualitas……… Makanan yang kauberikan kepada anjing itu telah Kuterima. Anjing itupun wujud-Ku, sebagaimana hewan-hewan lain. Ia yang melihat-Ku dalam setiap makhluk adalah kekasih-Ku. Sebab itu lampauilah dualitas yang disebabkan oleh rupa dan nama. Layanilah setiap makhluk hidup, sebagaimana kau melayani anjing itu, karena Aku berada di mana-mana, di dalam diri setiap makhluk. Lihatlah Tuhan dalam diri setiap makhluk inilah non-dualitas. Inilah inti pesan setiap Guru Sejati. Kitab-kitab suci pun mengajarkan kita hal yang sama. Tiada sesuatu yang beda antara ajaran-ajaran yang tertulis dan apa yang disampaikan oleh para Sadguru………..

 

Raja Parikesit tergugah dari renungannya, kala Resi Sukhabrahma datang, duduk di depannya dan melanjutkan kisahnya………

Kala Krishna mencapai usia enam tahun Krishna dan Balarama sudah dipercaya untuk menggembala sapi, mereka tidak menggembalakan anak sapi lagi.  Krishna, Balarama dan teman-teman  sebayanya setiap hari menggembalakan sapi ke bukit Govardhana yang banyak rumputnya. Kemudian mereka bermain-main di tepi hutan. Kali ini Balarama agak capek dan tidur-tiduran di bawah pohon. Krishna memijit-mijit betis Balarama. Dan beberapa temannya melepaskan lelah di dekat mereka dan beberapa masih tetap bermain di hutan.

Sebuah lingkungan kehidupan yang berbahagia. Tanaman dan hewan banyak memberikan banyak persembahan kepada makhluk lainnya. Lebah membuat madu berlebihan yang jauh melebihi kebutuhan dirinya sebagai cadangan sewaktu tanaman sedang tidak berbunga. Kelebihannya dipersembahkan kepada manusia. Ayam bertelur sebutir setiap hari, dan tidak semuanya dipergunakan untuk meneruskan kelangsungan jenisnya. Sapi juga memproduksi susu melebihi kebutuhan untuk anak-anaknya. Padi di sawah menghasilkan butir-butir gabah yang jauh melebihi kepentingan untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan kelompoknya. Pohon mangga juga menghasilkan buah mangga yang jauh lebih banyak dari yang diperlukan untuk mengembangkan jenisnya. Pohon singkong memberikan pucuk daunnya untuk dimakan manusia, akar ubinya pun juga dipersembahkan, mereka menumbuhkan singkong generasi baru dari sisa batang yang dibuang. Sifat alami alam adalah penuh kasih terhadap makhluk lainnya. Lebih banyak memberi kepada makhluk lainnya. Sikap yang altruistis memikirkan kepentingan orang lain selaras dengan alam. Egolah yang membuat manusia lebih mementingkan dirinya sendiri.

 

Dalam buku “The Gita Of Management, Panduan Bagi Eksekutif Muda Berwawasan Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 disampaikan………. Alam tidak selalu “memperoleh”. Ia lebih banyak memberi. Apa sebenarnya perolehan alam? Apa yang dapat kita berikan padanya? Barangkali “perhatian” – itu saja. Lalu, apakah kita selalu memperhatikan alam? Tidak juga. Malah lebih sering mengabaikannya, tidak memperhatikannya. Kendati demikian, ia tidak kecewa. Ia tetap menjalankan tugas serta kewajibannya sebagai “pemberi”. Segala perolehan kita sesungguhnya datang dari alam, atau setidaknya “lewat” alam……….

 

Pada waktu itu, Sridharma, Subala dan Stoka, 3 orang anak gembala yang sedang bermain mendekati Krishna dan Balarama. Mereka berkata, “Wahai Krishna dan Balarama, tidakkah kau membaui harum buah-buahan yang terbawa oleh angin ke tempat ini? Mereka berasal dari Hutan Talavana. Hutan Talavana penuh pohon buah-buahan, akan tetapi hutan tersebut dijaga oleh Dhenukasura, Asura berwujud keledai dan gerombolannya. Mereka tidak makan dan menikmati buah-buahan yang ada di hutan tersebut, akan tetapi mereka menjaganya dengan ketat. Bahkan para binatang pun tidak berani memasuki  wilayah hutan tersebut. Wahai Krishna dan Balarama, tolonglah kami untuk mendapatkan buah-buahan dari hutan tersebut. Bila kalian menemani, kami berani mengambilnya.” Baca lebih lanjut

Renungan Bhagavatam: Dan Brahma Pun Ditaklukkan Krishna, Dan Di Atas Langit Pun Masih Ada Langit

Resi Sukhabrahma berkata kepada Raja Parikesit, “Setelah kematian Aghasura, para gopal kecil, para penggembala kecil bercerita kepada orang tua mereka setelah satu tahun berlalu!” Raja Parikesit tak dapat menahan diri dan bertanya, “Wahai Guru, bagaimana mungkin anak-anak kecil bisa menahan rahasia selama satu tahun? Para Gopal memang patuh pada Krishna, akan tetapi bagaimana mungkin menjaga kerahasiaan selama satu tahun?” Resi Sukahabrahma tersenyum dan melanjutkan kisahnya………

Setelah pembunuhan Aghasura, Krishna mengajak teman-temannya pergi ke tepi Sungai Yamuna dan di bawah sebuah pohon yang rindang mereka duduk melingkar dan Krishna berada di tengah-tengah lingkaran. Semua mengeluarkan bekal makanan dari rumah yang disiapkan oleh ibunya masing-masing dan mulai makan sambil bersenda-gurau. Dasar anak-anak yang polos, peristiwa besar yang mereka alami terlupakan saat mereka makan dan bersenda-gurau. Mereka tidak usah belajar “the Power of Now”, hidup total dalam kekinian, karena bersama Krishna, mereka memang hidup dalam kekinian, tidak terfokus pada masa lalu dan tidak terfokus bagaimana nanti pulang ke rumah, sekarang mereka menikmati makan dan bersenda-gurau.

Krishna sedang melatih para temannya untuk melampaui mind, tadinya yang ada di kepala banyak teman-temannya adalah pertempuran Krishna dengan Aghasura, tetapi hal tersebut tidak boleh terjadi terlalu lama, masih banyak pelajaran baru yang akan diberikan. Dan dengan begitu cepat para gembala kecil melupakan peristiwa besar dengan senda-gurau, sehingga mereka dapat hidup lagi dalam kekinian. Teringat pada sesuatu boleh, tetapi tidak baik menghabiskan memori otak dengan hanya berpikir pada sesuatu tersebut. Tindakan Krishna tersebut selaras dengan pengetahuan modern. Dalam Buku “Neo Psyhic Awareness”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005 disampaikan bahwa otak kita terlalu banyak diisi memori yang tidak perlu yang hanya menghabiskan memori……… Sesungguhnya, saat ini pun otak kita sudah bekerja, sudah berfungi 100%. Memang, baru sebagian kecil dari kapasitasnya yang digunakan sehari-hari. Sisanya cuma untuk menyimpan data-data lama. Makin besar persentase yang digunakan dalam keseharian, walau hampir tak pernah melebihi 10%, membuat manusia makin cerdas, inteligen, makin sharp, makin tajam. Manusia seperti itulah yang menolak perbudakan. Manusia seperti itulah yang berkeinginan untuk hidup bebas merdeka. Manusia seperti itulah yang tidak mau lagi dikuasai oleh tradisi lama yang sudah usang, oleh doktrin dan dogma yang sudah tidak sesuai dengan martabat dan kesadaran manusia masa kini………. Mungkinkah kita menggunakan lebih besar persentase otak untuk keseharian? Mungkin, sangat mungkin, tetapi untuk itu kita harus menciptakan space. Persis seperti komputer, memori harus dibersihkan dulu. Program-program yang tidak terpakai harus di-delete, dihapus….. Ciptakan “ruang”! Saat ini jiwa kita penuh; pikiran kita penuh; otak kita penuh; hati kita penuh. Ya, penuh dengan memori lama, data yang sudah tidak dibutuhkan lagi. Beban pada jiwa kita sudah melampaui batas. Dalam keadaan seperti itu, bagaimana mengisinya dengan sesuatu yang baru? Otak yang penuh tidak dapat berpikir lagi. Ini yang terjadi pada kaum teroris. Otak mereka diisi dengan segala macam memori tentang masa lalu, sehingga mereka tidak dapat hidup dalam kekinian. Mereka tidak dapat berpikir tentang sesuatu yang mereka anggap lain dari isi kepala mereka. Barangkali hati mereka juga terbebani dengan rasa benci, amarah dan mereka tidak dapat merasakan sesuatu yang indah, karena bagi mereka segala sesuatu yang mereka anggap lain dari otak mereka tidak punya keindahan. Jiwa mereka diprogram untuk merusak, bukan untuk mencipta dan membangun. Para “pencipta” mereka menyadari betul hal ini. Sedemikian penuhnya mereka diisi, sehingga tidak ada lagi informasi baru yang dapat menembus diri mereka. Untuk memperoleh, atau lebih tepatnya, memasuki Alam Kesadaran Psikis, beban pikiran dan jiwa harus dikurangi. Bersihkan otakmu dari segala macam indoktrinasi……… Baca lebih lanjut

Renungan Bhagavatam: Aghasura, Dari Kesadaran Hewani Melewati Kesadaran Manusiawi Menuju Kesadaran Ilahi

Krishna adalah pemimpin para Gopala kecil, para anak-anak penggembala. Sore itu Krishna berkata bahwa besok pagi-pagi mereka akan mengadakan banyak permainan di hutan. Anak-anak sapi akan dibiarkan merumput di lapangan rumput tepi hutan dan mereka akan bermain penuh seharian di hutan dekat tempat tersebut. Anak-anak begitu bersemangat, sehingga pagi-pagi mereka bersama dengan Krishna dan Balarama menggiring rombongan anak-anak sapi mereka menuju lapangan rumput di tepi hutan. Para Gopala kecil tersebut percaya penuh terhadap Krishna, dan mereka sangat senang akan mendapatkan permainan baru, permainan tingkat lanjut. Kata-kata Krishna tentang permainan tingkat lanjut memberikan semangat kepada para Gopal kecil. Pertama kali Krishna berlari paling depan dan berkata tangkap aku dan semua anak-anak berlarian secepatnya mengejar Krishna. Latihan seperti inilah yang membuat fisik para Gopal menjadi kuat. Ketika Krishna membiarkan dirinya ditangkap, mereka bersorak-sorai, “Krishna terpegang, Krishna tertangkap!” Kemudian mereka beristirahat di tepi jalan sambil menirukan bermacam-macam suara penghuni hutan, ada yang meniru suara serigala melolong, ada yang meniru suara burung hantu, ada yang meniru suara harimau, ada yang meniru suara sapi dan ada juga yang menirukan suara katak. Kemudian mereka menceracau sendiri dengan kata-kata tanpa makna. Pada masa kini menceracau dengan kata tanpa makna disebut “Gibberish Meditation”. Para Gopala kecil sangat berbahagia dan kemudian  tertawa terpingkal-pingkal sepuasnya, sampai perut mereka mengeras. Setelah itu mereka diajak membayangkan bekas kampung halaman Gokula yang membuat mereka menangis haru bersama-sama. Dan, setelah itu mereka tentu saja diajak menari oleh Krishna…….

 

Dalam buku “Semedi 2, Meditasi untuk Peningkatan Kesadaran”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2002 disampaikan bahwa ada beberapa cara untuk mendapatkan kedamaian diri…….. Cara pertama adalah dengan mengalihkan kesadaran pada napas. Cara yang dipopulerkan oleh Buddha Gautama ini sudah teruji hasilnya. Ia menyebutnya Vipassana melihat ke dalam diri. Pada jamannya, cara ini memang merupakan cara yang paling efektif, tetapi sekarang ceritanya lain. Tingkat kegelisahan manusia begitu tinggi, sehingga cara ini hanya menjadi efektif, apabila terlebih dahulu kegelisahan dalam dirinya dimuntahkan ke luar. Program “Neo Self Empowerment I” menggunakan prinsip yang sama………. Cara kedua adalah dengan melelahkan mind. Cara ini tidak begitu efektif. Hasilnya bersifat temporer. Begitu pulih kembali, mind bekerja kembali. Dan bukan hanya itu, setelah istirahat sebentar, mind menjadi segar kembali. Ia semakin kuat. Cara kedua ini banyak digunakan di Indonesia, dan terakhir dipopulerkan oleh Maharishi Mahesh Yogi lewat apa yang beliau sebut “Transcendental Meditation”. Dalam metode ini Anda diharapkan mengulagi satu-dua kata atau satu kalimat singkat, terus-menerus…….. Cara ketiga adalah dengan menghabiskan mind. Cara ini merupakan Metode Milenia Mendatang. Cara ini akan menjadi semakin populer. Pada dasarnya, manusia masa kini kelebihan energi. Pekerjaan fisik telah berkurang banyak. Dan dengan perkembangan teknologi pekerjaan fisik itu akan semakin berkurang. Nah, energi yang berlebihan ini semakin mengaktifkan mind. Mind menjadi hiperaktif, sampai menyebabkan restlessness, kegelisahan. Kendati demikian, membendung arus energi yang berlebihan hampir mustahil. Untuk itu seluruh sistem harus diubah. Atau anda harus kembali ke masa lalu sesuatu yang tidak mungkin lagi. Atau anda harus melakukan lebih banyak pekerjaan manual. Makanan Anda harus lebih sederhana. Arus informasi yang anda harus dikurangi, karena informasi juga merupakan makanan bagi mind. Informasi juga memberi energi tambahan kepada mind. Semuanya itu tidak mungkin! Anda tidak dapat membendung kemajuan sains dan teknologi. Mau tidak mau, Anda akan tepengaruhi olehnya, kecuali jika Anda menyepi ke dalam hutan dan memutuskan hubungan dengan realita kehidupan. Satu-satunya jalan adalah secara rutin, setiap hari, Anda membuang energi yang berlebihan, yang tidak berguna, yang berpotensi menggelisahkan Ada. Dan ini pula yang kita lakukan, lewat latihan-latihan………… Tawa adalah emosi. Tangis adalah emosi. Senang dan sedih adalah emosi. Suka dan duka adalah emosi rasa panas dan rasa dingin adalah emosi. Dan, membendung emosi berarti membendung energi, padahal energi yang tertahan atau terbendung membuat kita gelisah. Jangan lagi membedakan antara energi positif dan energi negatif. Energi adalah energi. Positif dan negatif adalah interpretasi mind Anda. Energi berlebihan, entah diinterpretasikan positif oleh mind atau negatif, akan tetapi menggelisahkan Anda……..

 

Dalam Latihan “Neo Self Impowerment II” di Anand Ashram diadakan latihan secara bertahap:

Tahap Eksplorasi Diri: Sufi Whirling, Zikr/Chanting, Gibberish dan Offering Meditation.

Tahap Transformasi Diri: Cleansing, Chakra Empowerment, dan Toward Superconsciousness.

Tahap Annihilation, Penghancuran Ego: Laughing, Weeping, Cleansing, dan Dance Meditation. Baca lebih lanjut

Renungan Bhagavatam: Vatsasura Dan Bakasura, Kurangnya Pengendalian Diri Dan Berbuat Baik Dari Hasil Kejahatan

Para kepala keluarga di Gokula mengadakan pertemuan di rumah Nanda, kepala desa Gokula. Mereka membahas datangnya para Asura ke desa mereka. Mereka merasa bahwa desa mereka tidak aman dan mereka berpikir sebaiknya mereka pindah ke tempat lain. Adalah Upananda kakak dari Nanda yang menyarankan agar mereka pindah ke Brindavan. Ayah Upananda dan Nanda  bernama Parjanya pernah diminta Resi Narada untuk pergi ke Bukit Nandisvara. Parjanya melakukan pertapaan di sana selama bertahun-tahun. Setelah itu Parjanya tinggal di situ dengan keluarganya. Nanda dan komunitasnya pernah tinggal di daerah tersebut sebelum pindah ke Gokula.

Dan komunitas Nanda pun pindah dari Gokula ke Brindavan. Barisan pedati membawa barang-barang rumah tangga mereka. Para Gopi memakai pakaian terbagusnya, seakan-akan mereka sedang melakukan karnaval. Anak-anak menyanyikan lagu Krishna yang suka berkelakar dengan mereka. Para Brahmana sambil berjalan membaca mantra keselamatan. Rombongan sapi di belakang mereka dikawal para Gopala bersenjata busur dan panah. Para Gopala membunyikan terompet yang terbuat dari tanduk. Yashoda bersama Rohini berada dalam satu pedati bersama Krishna dan Rama. Perjalanan yang menyenangkan dan Bukit Nandisvara berbahagia menyambut kedatangan mereka.

Konon Shiva pernah berdoa kepada Narayana agar diizinkan untuk menyaksikan adegan-adegan kasih sayang antara Narayana dengan para bhaktanya. Shiva bertapa berabad-abad dan Narayana akhirnya mengabulkan permohonannya. Shiva akhirnya menjadi Bukit Nandisvara di Brindavan dimana para Gopi akan menginjak dia dan meninggalkan debu kaki padanya. Bukit kedua yang subur dan cocok untuk rumput para gembala adalah Bukit Govardhana, Go bermakna sapi dan Vardhana bermakna sumber makanan. Nama Brindavan berasal dari Brinda, Vrinda nama lain dari tanaman Tulasi. Pada waktu itu banyak sekali tanaman Tulasi di daerah tersebut. Di kaki bukit Nandisvara ada sebuah tempat pemujaan Narasimha Avatara dan Varaha Avatara. Nanda dinasehati Muni Garga agar memuja Narasimha Avatara dan Varaha Avatara agar mereka selamat dari gangguan para Asura.

Krishna tinggal di Gokula sampai dengan usia tiga tahun empat bulan. Kemudian tinggal di wilayah Brindavan sampai usia Krishna sekitar 10 tahun. Rama dikenal sebagai anak yang kuat sehingga sering dipanggil sebagai Balarama yang bermakna Rama yang kuat.

Dalam buku “The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 disampaikan……… Di Vrindavan itulah, Krishna memulai Leelanya, permainannya! Para Gopi dan Gopaal yang rela meninggalkan rumah mereka di Gokul dan pindah bersama Nand dan Yashoda adalah insan-insan terpilih, manusia-manusia pilihan. Mereka hanya belasan keluarga, tetapi setiap orang dalam keluarga itu adalah para resi, para pencinta Allah, yang lahir kembali ke dunia hanya untuk mencicipi manisnya cinta! Ya, mereka hanya lahir kembali untuk satu urusan itu saja. Selama sekian masa kehidupan, mereka mengejar ilmu, mendalami spiritualitas, dan bermeditasi, tetapi mereka tetap kering. Pencapaian mereka tidak berlembab, malah banyak di antara mereka yang “jatuh” karena kealotan mereka sendiri. Kemudian, dibantu oleh para dewa atau malaikat yang memang bertugas sebagai pemandu atau guarding and guiding angels – akhirnya mereka sadar bahwa “Cinta” adalah Aksara Terakhir. Cinta adalah Aksara Tunggal yang mengandung semua makna…….. Baca lebih lanjut

Renungan Bhagavatam: Krishna Dan Pedagang Buah, Kemuliaan Dalam Memberi

Krishna dan Rama senang bermain dengan anak-anak sebayanya di halaman rumah dan dijalan. Para Gopi dan Gopala senang dengan anak-anak kecil lucu yang suka menari dan jenaka. Mereka juga senang main hujan-hujanan di kala musim hujan tiba. Rohini dan Yashoda sering kewalahan saat mereka bermain lumpur di dekat rumah mereka. Krishna dan Rama pandai bersandiwara, sehingga para orang tua dan remaja di Gokula tidak pernah tahu bahwa mereka berdua adalah para avatara yang mempunyai tugas khusus menegakkan dharma.

Pada suatu hari ada seorang perempuan Nisadha yang sudah tua sebagai pedagang buah datang ke rumah Nanda. Kita masih ingat bahwa Rajarishi Kausika pernah mengutuk putra-putra Resi Vasistha dan juga kelimapuluh putra raja Kausika sendiri untuk menjadi orang Nisadha. Orang-orang Nisadha berkehidupan sebagai para pemburu yang sering berpindah-pindah tempat. Para perempuan Nisadha kadang membawa buah-buahan ke desa dan menukarnya dengan butir-butir gandum. Kali ini tinggal beberapa butir buah-buahan yang tersisa dan dia menawarkannya di depan rumah Nanda.

Krishna kecil mendatangi pedagang buah tersebut dan minta barter buah-buahan yang dibawanya dengan butir-butir gandum dari rumahnya. Sang perempuan pedagang tersenyum dan mengangguk. Krishna kecil masuk ke rumah membawa butir-butir gandum dengan kedua telapak tangannya yang kecil menemui sang pedagang di jalan. Akan tetapi disepanjang perjalanan, butir-butir gandum tersebut berjatuhan dan tinggal sedikit tersisa di telapak tangan yang diserahkan ke sang pedagang. Sudah bolak-balik Krishna mengambil butir-butir gandum dari rumahnya dan membawanya ke sang pedagang dan selalu saja tercecer di jalan dan tinggal sedikit yang tersisa di telapak tangannya. Sang pedagang tersenyum penuh kasih kepada Krishna kecil. Butir-butir gandum tersisa diletakkan sang pedagang ke keranjang. Dan kali ini sang pedagang memegang kedua telapak tangan Krishna yang lucu dan kecil. Sang pedagang mengambil seluruh sisa buah yang ada di keranjangnya dan memberikan kepada Krishna kecil yang segera didekapkan ke dada kecil Krishna. Sang perempuan tua pedagang tersenyum bahagia dapat menyenangkan anak kecil yang sangat menawan. Sang pedagang kemudian pamit kepada anak kecil tersebut dan meneruskan perjalanannya. Sudah seharian sang perempuan pedagang berjalan dan dia ingin beristirahat di bawah pohon yang rindang. Kala itu sang perempuan terkesima, ternyata butir-butir gandum yang jumlahnya sedikit yang dibawa anak kecil tersebut berubah menjadi banyak permata yang sangat berharga…………

Sang perempuan tua pedagang buah-buahan segera menemui keluarga dan beberapa kerabat dalam kelompoknya. Dia menceritakan kejadian yang menimpanya. Kemudian mereka bersepakat menghentikan kehidupan mereka sebagai pemburu yang suka berpindah dan hidup berumah-tinggal di pinggir sebuah hutan. Mereka dapat hidup layak dengan banyak permata yang didapat perempuan tersebut. Mereka menanam pohon buah-buahan di sekitar tempat tinggal mereka. Mereka hidup berbahagia dan sang perempuan tua menjadi menjadi wanita bijak yang selalu berdoa kepada Narayana yang telah mengubah penghidupan mereka……….

Dalam Bhagavad Gita 9:26-34 disampaikan……… Jika seseorang yang berhati bersih dan penuh kasih mempersembahkan daun, bunga, buah atau air, “Aku” menerimanya. Apa pun yang kamu lakukan, lakukanlah sebagai persembahan kepada-Ku. Ia yang berkarya tanpa keterikatan duniawi pasti akan mencapai Kesadaran Tertinggi. “Aku” yang berada dalam diri setiap makhluk sesungguhnya satu dan sama. “Aku” tidak membenci ataupun menganggap seseorang lebih penting daripada yang lain. Namun, mereka yang berkarya dalam kasih, akan selalu merasakan kehadiran”Ku”. Seseorang yang tersesat pun, apabila menyadari kehadiran-”Ku” di mana-mana, akan segera mencapai Kesadaran Tertinggi, karena ia telah memahami hal yang benar. Ia tidak akan pernah sesat lagi. Disebabkan oleh karma yang kurang baik, apabila seseorang lahir dalam keadaan yang kurang menguntungkan, akan mencapai Tujuan yang Tertinggi pula, apabila menyadari Kehadiran “Aku” di mana-mana. Apalagi mereka yang memang sudah lahir dalam keadaan yang menguntungkan. Mereka tentu akan mencapai Puncak Kesadaran yang Tertinggi itu. Pusatkan kesadaranmu pada “Aku”. Berpalinglah pada”Aku”. Berkaryalah demi “Aku”. Demikian kau akan dengan sangat mudah mencapai Kesadaran Tertinggi…….. Baca lebih lanjut