Renungan Kebangsaan: Kelemahan Guru Besar Drona Dalam Negara Hastina

Guru Besar adalah seorang Brahmana, seseorang yang mengajarkan dan meyebarkan kebenaran. Seorang Guru Besar pada hakikatnya adalah seorang Duta Ilahi, Utusan Ilahi. Dia datang ke dunia untuk memupuk, membimbing dan mengembangkan kesadaran para muridnya. Pandita Drona adalah Guru Besar dalam Kerajaan Hastina. Seharusnya Pandita Drona membimbing para Pandawa dan Korawa untuk bersatu, meningkatkan kesadaran dan memperjuangkan kebenaran, akan tetapi Pandita Drona telah memihak para Korawa dan memojokkan para Pandawa. Guru Drona ikut memecah belah bangsa Hastina, demi kenyamanan diri.

Pandita Drona pernah mengalami trauma di waktu muda dan tidak dapat melupakan rasa sakit hati tersebut. Drona pernah bersahabat dan sebagai saudara satu perguruan dengan Drupada. Kebetulan Drupada kemudian mendapatkan istri seorang putri raja, dan Gandamana, sang putra mahkota raja tersebut tidak mau menjadi raja karena sudah menjadi patih di Hastina, sehingga Drupada diangkat sebagai raja. Drona sakit hati kala dihina sahabatnya Drupada yang telah menjadi Raja. Setelah Drona menjadi Guru Besar di Hastina, Drona menggerakkan murid-muridnya untuk mengalahkan Drupada dan meminta separuh wilayahnya sebagai tempat tinggalnya.

Pandita Drona juga pernah tidak menerima Bambang Ekalaya sebagai murid, karena takut akan menjadi saingan Arjuna, putera dari Pandu yang “memberi status Guru” kepadanya. Ketika mengetahui Bambang Ekalaya mampu menjadi pemanah ahli dengan belajar di depan patung dirinya, maka dia meminta Bambang Ekalaya untuk patuh terhadap dirinya, karena telah menganggap dia sebagai gurunya. Dan, ketika Bambang Ekalaya mengiyakan, dia diminta memenuhi etika kepatuhan seorang murid untuk memenuhi apa pun perintah Gurunya. Bambang Ekalaya mematuhi perintah Drona untuk memotong ibu jarinya, sehingga dia tidak dapat menggunakan panahnya lagi.

Pandita Drona juga pernah menyuruh Bhima sebagai saingan Duryudana untuk mencari Tirta Kamandanu, yang berada di tengah samudera, agar Bhima menemui ajal, sehingga tidak ada lagi saingan bagi Duryudana. Akan tetapi Bhima justru dapat menemukan jatidirinya yang digambarkan para leluhur sebagai Dewaruci, kembaran Bhima dalam ukuran mini, ketika menjalankan perintah Pandita Drona tersebut.

Sebagai seorang Guru Besar, mestinya Pandita Drona paham tentang kebenaran dan menyuarakan kebenaran. Akan tetapi Pandita Drona sudah menjadi pekerja gajian Kerajaan Hastina, beliau lebih dekat ke statusnya yang “dihidupi” yang patuh dan memberikan alasan pembenaran bagi tindakan pimpinan Hastina daripada sebagai pemandu pimpinan Hastina. Beliau telah menurunkan kebrahmanaannya menjadi sudra, pekerja tidak punya pilihan kecuali patuh terhadap majikannya. Dan itu adalah pilihan Pandita Drona. Para profesor yang mencari kedudukan dalam istana dan melupakan kebrahmanaannya, dan melupakan tugasnya sebagai pengajar tentang kebenaran, seharusnya cepat sadar. Para Doktor pada hakikatnya sudah dipercaya menjadi filosuf pada bidangnya, memahami bidangnya dan menerjemahkan filsafatnya dalam keseharian dan menyebarkannya kepada setiap orang, bukan bekerja sebagai seorang pesuruh dari penguasa. Baca lebih lanjut

Iklan

Renungan Kebangsaan: Menggunakan Para Shakuni Untuk Melanggengkan Sebuah Dinasti

Dinasti politik sendiri sebenarnya adalah sebuah fenomena universal, baik di negara dengan sistem non-demokrasi maupun demokrasi. Keluarga Saud di Arab Saudi, beberapa keluarga kerajaan di Timur Tengah dan Korea Utara adalah contoh berlangsungnya sebuah dinasti di negara non-demokrasi. Akan tetapi di negara-negara demokrasi seperti Pakistan, India, Sri Lanka, Bangladesh juga mengenal dinasti politik. Semua orang memiliki hak politik yang sama untuk ikut dan dipilih dalam sistem pemilihan umum. Hanya sekarang ini di Indonesia, baik di Pusat maupun di banyak Daerah muncul fenomena tumbuh suburnya politik dinasti dalam suksesi kepemimpinan. Semacam paradoks dalam sistem demokrasi, tidak dilarang tetapi kurang etis dan rawan menciptakan oligarki, sebuah hubungan antara penguasa dengan elite-elite di sekelilingnya yang cenderung menyebabkan terjadinya KKN, Korupsi, Kolusi dan Nepotisme……. Power tends to corrupt, absolute power corrupt absolutely…… demikian quotation yang diyakini oleh banyak orang.

Kita juga dapat melihat realita suksesi kepemimpinan kekhalifahan. Kaum Sunni berpendapat bahwa khalifah dipilih berdasarkan musyawarah atau pemungutan suara di antara umat muslim, sedangkan Kaum Syiah berpendapat bahwa Baginda Nabi telah memberikan banyak indikasi yang menunjukan bahwa Ali bin Abi Talib, keponakan sekaligus menantunya, sebagai pengganti diri beliau. Kemudian terjadilah gejolak dalam setiap suksesi kekhalifahan, sehingga setelah Abu Bakar dan Umar, maka khalifah Utsman maupun Ali terbunuh. Setelah kematian Ali, Muawiyah mengambil alih kekuasaan kekhalifahan. Dia kemudian dikenal sebagai pendiri Bani Umayyah, sebuah dinasti. Dibawah kekuasaan Muawiyah, kekhalifahan dijadikan jabatan turun-menurun. Pada akhir kekuasaan bani Umayyah, pendukung Bani Hasyim dan pendukung Ali bersatu untuk meruntuhkan kekuasaan Umayyah pada tahun 750. Pemimpin kekhalifahan selanjutnya adalah Bani Abbasiyah, sebuah dinasti yang merupakan keturunan dari Abbas bin Abdul-Muththalib. Kita melihat para penguasa dengan segala cara mempunyai keinginan untuk melanggengkan sebuah dinasti walau pada awalnya ditekankan pemilihan berdasar musyawarah.

Para leluhur telah memberikan memberikan contoh agar kita merenungkan tindakan Raja Hastina, Drestarastra yang menggunakan segala cara untuk menjadikan Duryudana, sang putra sebagai raja pengganti dan memojokkan Pandawa yang menurut hukum di masa tersebut sebagai pewaris tahta yang sah, untuk disingkirkan dari pemerintahan. Power tends to corrupt, absolute power corrupt absolutely…… demikian nyang terjadi di negara Hastina.

Awalnya Drestarastra adalah raja yang baik walaupun dirinya buta. Selama masih ada Widura, saudara seayah beda ibu dan Bhisma, putra kakeknya yang memberikan pandangan-pandangan bijak kepadanya, sang raja dapat menjalankan pemerintahan dengan baik. Akan tetapi di dekat sang raja juga ada Shakuni, saudara istrinya yang ambisius dan kebetulan dekat dengan putra-putranya yang cenderung membuat Drestarastra menjadi tidak adil. Shakuni sangat benci kepada Pandu dan putra-putranya. Dia mengharapkan adiknya Gendari menjadi permaisuri bagi Pandu yang kala itu menjadi raja Hastina, akan tetapi oleh Pandu, Gendari dihadiahkan kepada Drestarastra, saudara Pandu yang buta. Shakuni juga pernah berharap untuk mempersunting Dewi Kunti, tapi kalah saingan dengan Pandu. Pada saat Pandu meninggal dan tahta Hastina dipegang oleh Drestarastra, dia mengadakan tipu muslihat untuk membunuh patih Hastina, Gandamana agar dapat menggantikannya sebagai patih Hastina. Ternyata Gandamana tidak mati dalam perangkap yang dibuat Shakuni, keluar dari perangkap dia menganiaya Shakuni sampai fisiknya cacat, walaupun demikian Shakuni tetap dipertahankan menjadi patih Hastina. Semestinya sejak ketahuan bahwa Shakuni berbuat tipu muslihat yang jahat kepada Patih Gandamana, Drestarata tidak lagi mempercayai Shakuni. Akan tetapi Shakuni adalah saudara istrinya dan paman yang dekat dari putra-putranya, maka seakan-akan kejahatan Shakuni dibiarkannya saja. Drestarastra tidak mempertimbangkan track record Shakuni yang cacat. Baca lebih lanjut

Renungan Kebangsaan: Politik Adu Domba Untuk Memecah Belah Bangsa Sudah Digambarkan Dalam Kisah Sugriwa Dan Subali

Sugriwa dan Subali konon asalnya adalah manusia yang masih memiliki potensi kera yang tidak tenang, sembrono dan mudah terhasut. Mereka sudah bertapa selama bertahun-tahun, sudah semestinya mereka melampaui sifat-sifat kekeraan, akan tetapi ternyata sifat kesembronoan dan ketergesaan masih ada dalam diri mereka.

Sugriwa menerima pesan Subali, saat Subali akan menyerbu Raksasa Lembusura dan Maesasura ke dalam Goa Kiskenda. Subali berpesan darahku putih, apabila di mulut goa ini mengalir keluar darah merah berarti aku menang, apabila yang mengalir darah putih, berarti aku mati, maka tutuplah goa ini dengan batu besar dari luar, sehingga mereka tidak bisa keluar lagi. Sugriwa lamat-lamat mendengar perkelahian yang terjadi jauh di dalam goa. Kemudian Sugriwa melihat darah merah bercampur darah putih keluar dari goa, maka dia kemudian langsung menutup pintu goa dan lapor kepada para dewa bahwa Lembusura dan Maesasura sudah mati karena ada darah merah mengalir keluar, akan tetapi Subali juga sudah mati karena darah putih pun juga mengalir ke luar. Di sinilah kesembronoan dari Subali bahwa darah putih bukan hanya berasal dari Subali, tetapi aliran darah yang terjadi karena pecahnya otak Lembusora dan Maesasura pun juga berwarna merah bercampur putih.

Sugriwa juga melakukan ketergesaan dan kesembronoan dengan menutup goa. Mungkin Sugriwa kurang jeli melihat bahwa jauh lebih banyak darah merah dari pada darah putihnya. Sugriwa kemudian menjadi raja kera dan memerintah istana Kiskenda serta mendapat hadiah Dewi Tara yang cantik sebagai isterinya. Sugriwa juga tidak seperti Bharata yang menolak tahta yang sebenarnya bukan haknya melainkan hak Sri Rama. Kala Sri Rama pergi menyelesaikan tugas di hutan, Bharata meletakkan sandal Sri Rama di atas singgasana sebagai simbol bahwa dia hanya pelaksana tugas dari Sri Rama yang berhalangan hadir. Sugriwa paham bahwa yang mengalahkan raksasa adalah Subali, yang berhak mendapat hadiah adalah Subali, akan tetapi Sugriwa tetap mau menerima tahta dan hadiah Dewa, dengan alasan Subali telah mati.

Subali yang berhasil membunuh kedua raksasa, kemudian dengan susah payah selama berbulan-bulan akhirnya berhasil keluar goa. Subali kecewa mendengar Sugriwa sudah menjadi raja dan mendapatkan istri Dewi Tara. Subali sadar bahwa ada misteri dalam setiap nasib. Mungkin hal tersebut terjadi karena datangnya akibat dari perbuatan dirinya di kehidupan yang lalu.

Subali juga teringat kejadian kala dia dan Sugriwa memperebutkan “cupu manik astagina” di waktu kecil. Mereka berebut “cupu” yang kemudian dilemparkan ayahnya ke telaga Madirda. Dia dan Sugriwa menceburkan diri ke dalam telaga dan tubuh mereka berubah menjadi kera, sedangkan adik mereka Anjani ikut menuju telaga dan mencuci muka dengan air telaga, sehingga muka Anjani berubah menjadi wajah kera. Bertiga mereka menangis menghadap sang ayahanda yang kemudian memberi nasehat, “Kalian harus belajar mengendalikan diri, dimulai dari mengendalikan fisik makan dan minum. Kemudian sadarilah diri fisikmu, energi hidupmu, mental emosionalmu, intelegensiamu. Anjani, bersyukurlah, sebagai wanita kau sudah memiliki kelembutan. Bertapalah seperti Kodok di telaga ini. Kodok adalah binatang yang luar biasa. Dia bisa hidup di air dan bisa hidup di darat. Bila kau bisa sadar di alam jaga dan juga sadar di alam mimpi, maka kau akan menjadi bijaksana dan kau akan dikaruniai putra perkasa.” Baca lebih lanjut

Renungan Kebangsaan: Menoleh Perjuangan Figur Satria Wibisana Di Tengah Kebiadaban Para Raksasa Yang Menggunakan Hukum Rimba

Leluhur bangsa Indonesia telah memberikan nasehat lewat ceritera wayang tentang beberapa karakter penduduk dalam kehidupan bernegara. Ada contoh negara Ayodya dengan tokoh Dasarata, Sri Rama, Laksmana, Bharata dan Satrugna serta Dewi Sinta. Ada negara Kiskenda dengan tokoh Subali, Sugriwa dan Hanuman. Ada kerajaan Hastina dengan tokoh Drestarasta, Sakuni dan Duryudana. Ada Kerajaan Amarta dengan tokoh Pandawa. Dan kali ini diambil setting negara Alengka…… Wibisana adalah figur warga masyarakat yang sadar untuk selalu “meruwat”, mengembalikan sifat kemanusiaan dari pengaruh “diyu”, sifat raksasa yang masih ada dalam diri.

Dikisahkan bahwa Dewi Sukesi gagal dalam memaknai Kitab “Sastra Jendra Pangruwating Diyu”, dan bahkan hamil akibat buah cinta terlarangnya dengan Resi Wisrawa. Di kemudian hari dari rahimnya terlahir segumpal darah, bercampur sebuah wujud telinga dan kuku. Segumpal darah itu menjadi raksasa bernama Rahwana yang melambangkan nafsu angkara manusia. Sedangkan telinga menjadi raksasa sebesar gunung yang bernama Kumbakarna, yang meski pun berwujud raksasa tetapi hatinya bijak, ia melambangkan penyesalan ayah ibunya. Sedangkan kuku menjadi raksasa wanita yang bertindak semaunya bernama Sarpakenaka. Setelah beberapa lama, Wisrawa dan Sukesi melahirkan seorang putera bernama Wibisana. Anak terakhir ini berupa manusia sempurna yang baik dan bijaksana, karena terlahir dari cinta sejati, jauh dari hawa nafsu kedua orang tuannya. Ini adalah semacam tamsil bahwa dalam satu keluarga (negara) seperti Alengka hanya satu perempat masyarakat kita yang berjiwa satria seperti Wibisana, lainnya masih bersifat raksasa…….

Kisah tersebut juga dapat dimaknai bahwa seperempat masyarakat kita berkarakter seperti Rahwana. Rahwana adalah figur dari orang yang cerdas, yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya termasuk membeli para pendukungnya. Dia memberi jabatan kepada orang yang mendukung kepentingan pribadinya. Dia menyelamatkan pejabat yang bermasalah asal mendukungnya. Dia adalah orang yang tega mengorbankan siapa pun, termasuk mengorbankan teman kolega, koalisi, atau kelompoknya sendiri. Dia tega menghancurkan musuhnya dengan segala cara. Menghabisi mereka yang beda keyakinan, beda pendapat dengan dirinya……. Rahwana yang juga disebut Dasamuka bisa dimaknai mempunyai sepuluh kepala, sepuluh otak, sangat cerdas dan mempunyai keserakahan yang luar biasa. Rahwana merupakan perwujudan dari sifat rajas yang agresif dan di dominasi unsur alami api yang beraura kemerahan. Dalam sistem chakra, dia mewakili chakra ketiga yang berfokus pada kenyamanan yang berpusat di daerah sekitar perut. Baca lebih lanjut

Figur Duryudana, Burisrawa, Drestarasta Dan Sengkuni Di Tengah-Tengah Bangsa

Sepasang suami istri sedang browsing internet lewat internet menyimak perkembangan peristiwa-peristiwa yang terjadi di tengah bangsa. Mereka membaca banyak kasus diantaranya…..

http://www.antaranews.com/berita/253997/ky-hakim-kasus-antasari-azhar-abaikan-bukti

http://freeanandkrishna.com

Sang Istri: Aku miris melihat kejadian-kejadian di negeri kita. Rasanya aku tidak mengenali tokoh-tokoh yang karakter mereka bukan seperti karakter orang Indonesia yang telah tercatat dalam rekaman benak kita. Kemudian aku ingat pelajaran wayang, bahwa “wayang kuwi wewayanganing ngaurip”, wayang itu adalah refleksi kehidupan manusia. Sehingga aku kembali ingat bahwa karakter-karakter yang nampak asing tersebut pernah digambarkan para leluhur dalam kisah pewayangan. Bila kemarin kita bicara tentang Dasamuka cs kini aku ingat tentang Duryudana cs.

Sang Suami: Benar istriku aku melihat banyak sosok yang mirip Duryudana. Duryudana adalah seorang raja di Hastina yang pongah, keras kepala dan mudah terhasut oleh pamannya Sengkuni yang menjadi patih kerajaan. Demi kekuasaan yang diperolehnya dia berusaha mempertahankannya sampai titik darah penghabisan dan menghalalkan segala cara untuk melanggengkan kekuasaannya. Etika moral sudah diabaikannya. Dia bahkan membuat skenario untuk memperdaya dan berusaha membunuh Sri Krishna yang datang sebagai Duta Perdamaian…… Duryudana baru sadar saat dia tergolek luka parah setelah kalah perang melawan Bhima dan tengah menunggu Bathara Yamadipati datang menjemputnya. Bhima tak tega lagi untuk  membunuhnya, sehingga justru  membiarkan dirinya lebih lama menderita. Saat itu Duryudana mendengar bahwa istrinya Banowati sudah menyerah dan ingin menjadi istri Arjuna, musuhnya. Dia juga ingat bahwa anaknya Leksmana Mandrakumara yang diharapkannya menjadi pengganti dirinya ternyata mempunyai bawaan bodoh, sial dan pengecut. Bahkan dalam perang Bharatayudha saat putranya akan membunuh Abimanyu putra Arjuna yang sudah terkapar karena masuk perangkap dan luka parah ditembus banyak anak panah, dengan sisa tenaganya Abimanyu bisa membunuh putranya………

Sang Istri: Duryudana adalah gambaran dari seorang yang telah dibutakan mata hatinya oleh hasrat keduniawian. Dia adalah figur seorang pejabat, pemimpin instansi yang pongah, keras kepala mudah terhasut orang kepercayaannya yang licik. Dia haus kekuasaan, kemewahan kenikmatan duniawi akan tetapi keluarganya tidak berbahagia. Dia bersama orang-orang kepercayaan memperdaya, menyutradarai pembunuhan karakter seorang utusan pembawa perdamaian……..  Boleh-boleh saja diberitakan seorang mantan pejabat yang menutup mata dengan khusnul khatimah. Ucapan terima kasihnya memenuhi setengah halaman berbagai koran. Yang melayat ribuan orang dan dimuat berbagai televisi. Akan tetapi pada saat sebelum ajal, dia akan merasakan bahwa dia telah banyak membuat kesalahan, kekuasaannya yang dibangga-banggakan dirasakan hanya seperti “mampir ngombe”, sangat sebentar. Pada kenyataannya dia menyesal mengapa tidak melakukan kebenaran semasa hidupnya……

Sang Suami: Tokoh berikutnya adalah Burisrawa. Burisrawa adalah putra Prabu Salya. Tiga saudara perempuannya menjadi istri Baladewa, istri Duryudana dan istri Karna. Burisrawa mempunyai badan yang kekar dan ahli bermain pedang. Dia ditakuti musuh-musuhnya karena ketelengasannya dalam membunuh lawan-lawannya. Dia seorang yang sombong atas kesaktiannya, sering menuruti kata hatinya, pendendam, mau menang sendiri, suka membuat keonaran dan hampir selalu menakut-nakuti lawan. Dia juga tergila-gila pada Subadra, istri Arjuna bahkan mau memperkosanya.

Sang Istri: Burisrawa adalah figur seorang pejabat yang bergaya preman. Dia mempunyai koneksi dengan beberapa pejabat puncak. Suka mengintimidasi kaum minoritas. Dia bisa menggerakkan masa untuk menghancurkan kelompok yang tidak disukainya. Dan para penguasa akan mendiamkannya karena dia punya lobby-lobby yang kuat. Dia yang menginginkan istri orang lain dapat dimaknai dia menginginkan harta dan jabatan orang lain dan untuk memperolehnya dia menggunakan cara-cara preman.

Sang Suami: Tokoh berikutnya adalah Drestarasta. Dia seorang raja yang buta dari negeri Hastina. Sebetulnya dia hanya menggantikan tahta Pandu, adiknya yang meninggal dan berjanji akan mengembalikan tahtanya kepada Pandawa, putra-putra Pandu setelah mereka dewasa. Akan tetapi karena dia lemah pendirian dan mudah dipengaruhi oleh saudara iparnya, Patih Sengkuni yang licik, maka dia tidak berniat menyerahkan tahtanya kepada Pandawa tetapi kepada putra-putranya. Tahta sudah di tangan mengapa harus dilepaskan? Mengapa tidak melakukan rekayasa agar putranya yang mendapatkan tahtanya. Bukankah semuanya bisa diatur? Keputusan raja yang tidak benar inilah yang memicu perang bharatayudha. Korawa ingin mempertahankan kekuasaan sedangkan Pandawa menginginkan haknya. Akan tetapi walau Pandawa minta sebagian haknya pun tidak diberikan oleh para Korawa. Drestrasta termasuk seorang pendendam. Dia sangat benci kepada Bhima yang membunuh Duryudana, putra kesayangannya. Setelah perang usai, dia menerima sembah sujud dari para Pandawa yang masih menganggap dia sebagai pamannya. Saat Bhima akan melakukan sembah, dia berencana akan menggunakan kesaktiannya, “aji lebur saketi” yaitu apa saja yang dipegangnya akan hancur menjadi abu. Akan tetapi, karena dia buta matanya, saat Bhima menghaturkan sembah dan akan dipegang Drestarasta, Kresna menyuruh Bhima mengangkat arca batu ke hadapan Drestarasta dan setelah dipegang patung tersebut menjadi hancur berkeping-keping…… Baca lebih lanjut

Beberapa Karakter Utama Manusia Zaman Alengka di Tengah-Tengah Bangsa Kita

Sepasang suami istri sedang membaca dukungan para tokoh terhadap Pak Anand Krishna yang sedang mengalami ketidakadilan dan beliau sudah puasa makan selama 39 hari untuk memprotes ketidakadilan yang menimpanya. Di antaranya adalah….

http://www.mediaindonesia.com/read/2011/04/15/218333/37/5/Pengadilan-Terhadap-Anand-Krisna-tidak-Wajar

Sang Istri: Aku baru saja membaca buku “Rupa &Karakter Wayang Purwa”, sebuah ensiklopedi karakter wayang yang bagus……. Wayang adalah simbol dari karakter manusia. Biasanya dalam satu kotak wayang kulit ada sekitar 250 wayang, tetapi wayang yang lengkap bisa mencapai 400 buah. Berarti ada contoh simbol dari 400 karakter manusia. Sehingga kita bisa melihat karakter apa yang sesuai dengan diri kita. Karakter kita bukan harga mati, kita bisa mengubahnya, akan tetapi merupakan suatu perjuangan yang berat untuk memperbaiki karakter kita.

Sang Suami: Baiklah istriku, mari melihat tokoh-tokoh yang ada di Zaman Alengka. Pertama Resi Wisrawa…. Resi Wisrawa adalah seorang raja yang merasa sudah cukup lama berkuasa dan meninggalkan kenyamanan istana guna mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Akan tetapi sang resi masih punya keterikatan dengan sang putra, Danaraja yang menggantikannya sebagai raja Lokapala. Sang putra mabuk kepayang ingin mempersunting Dewi Sukesi, akan tetapi sang putra takut karena semua kesatria yang datang meminang sang putri harus memenangkan pertarungan melawan Patih Harya Jambumangli adik Prabu Sumali yang diam-diam jatuh cinta kepada sang keponakan. Semua kesatria yang datang meminang telah dibunuhnya.

Sang Istri: Wisrawa merupakan figur seorang yang sudah pensiun, sudah mantan pejabat, tetapi belum mempercayai putra-putrinya agar hidup mandiri. Dia sedang mencari jalan pulang kembali kepada Yang Maha Kuasa, tetapi karena keterikatannya pada putra-putrinya yang dianggapnya belum mapan, maka dia terus terikat dengan duniawi yang bisa menggelincirkannya.

Sang Suami: Figur selanjutnya, Dewi Sukesi, putri raja Alengka, putri Prabu Sumali, seorang putri cantik, cerdas, sangat percaya diri serta penuh semangat. Sang putri menerima saran sang ayahanda bahwa pemilihan suaminya melalui pertarungan antar kesatria tidak perlu diperpanjang lagi. Dewi Sukesi kemudian memilih calon suami siapa pun juga yang dapat menjabarkan kitab “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu”.

Sang Istri: Dewi Sukesi menggambarkan figur seorang wanita yang cantik, cerdas, putra pejabat yang ambisius yang ingin memperoleh apa pun yang menjadi ambisinya. Walaupun ambisinya dapat menimbulkan resiko yang berbahaya.

Sang Suami: Resi Wisrawa berangkat ke Alengka  untuk mendapatkan jodoh bagi sang putra. Akan tetapi sewaktu menguraikan makna “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” kepada Dewi Sukesi, mereka berdua terlena dan melakukan hubungan suami istri. Apa pun alasannya seorang laki-laki yang berdekatan dengan seorang wanita cantik, mudah tergelincir dari cita-cita sebelumnya. Dewi Sukesi ingin menjadi murid dari Resi Wirawa dalam hal ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Ilmu yang dapat meruwat, mengembalikan kembali sifat keraksasaan menjadi sifat keilahian.

Sang Istri: Seorang murid sejati adalah seseorang yang berkeinginan tunggal atau “murad” untuk mengalami penyatuan dengan Keberadaan, manunggal dengan Gusti. Sang murid telah paham bahwa dunia ini hanya sebuah ilusi, permainan pikiran, dan oleh karena itu Keberadaan membimbingnya sehingga dia dapat bertemu dengan Guru untuk memandunya dalam menjalani kehidupan spiritual. Sang Guru dan Sang Murid hanya melaksanakan ridho Keberadaan. Mungkin contoh yang baik hubungan antara Guru dan Murid adalah hubungan antara Sri Rama dengan Hanuman. Hanuman pasrah total kepada Sri Rama yang merupakan wujud keilahian, Hanuman tidak memiliki keinginan secuilpun kecuali dekat dengan Sri Rama dan menjalankan perintah Sri Rama.

Sang Suami: Resi Wisrawa dalam mengupas Sastrajendra masih menuruti ego pribadi untuk mendapatkan jodoh bagi sang putra. Dewi Sukesi dalam menerima pengetahuan juga masih mempunyai keterikatan terhadap ego pribadi untuk mencari suami yang hebat. Mereka berdua masih menuruti hasrat ego-nya, bukan ridho Keberadaan, mereka belum mencerminkan hubungan antara Guru dan Murid Sejati. Dalam buku “Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan…….. Mereka yang jiwanya telah mati sibuk mencari kehidupan. Mereka yang jiwanya hidup mengejar kematian. Suatu paradoks tetapi Begitulah adanya. Apabila anda tidak merasa hidup, Anda akan selalu mengejar kehidupan. Apabila Anda tidak merasa sehat, Anda akan mengejar kesehatan. Apa pun yang Anda rasakan tidak “ada” dalam diri Anda, akan Anda kejar. Anda akan membanting tulang untuk memperolehnya. Sebaliknya, mereka yang merasakan dirinya hidup, mereka yang telah mengenal kehidupan dari dekat, mereka yang telah puas menjalani kehidupan tidak akan mengejar kehidupan lagi. Mereka yang sehat tidak mengejar kesehatan……..

Sang Istri: Sifat keraksasaan dalam diri harus diruwat, dikembalikan ke keadaan asalnya. Dan untuk mensucikan jiwa, harus menggunakan raga. Oleh karena itu Resi Wisrawa mengajak Dewi Sukesi, untuk kembali membumi untuk menyelesaikan tugas mengendalikan keraksasaan, mengendalikan Diyu dalam diri! Dewi Sukesi yang merasa belum terpuaskan keingintahuannya, belum mau menyudahi penjelasan tentang Satrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu……. Begitu larutnya mereka dalam penjabaran Sastrajendra, sampai mereka lupa bahwa “Diyu”, sang raksasa dalam diri mereka yang lama terpendam bangkit dan menutup kesadaran mereka. Keduanya bahkan gagal memaknai Sastrajendra, Sang Tulisan Agung. Mereka melakukan hubungan suami istri. Mereka tidak dinikahkan oleh orang tua atau dinikahkan oleh pelaksana ritual pernikahan, tetapi mereka dinikahkan oleh syahwat mereka………. Mereka melahirkan empat anak, Rahwana atau Dasamuka, Kumbakarna, Sarpakenaka dan Gunawan Wibisana……

Sang Suami: Tokoh berikutnya adalah Rahwana. Rahwana adalah seorang yang ulet dan gigih dalam mengejar cita-citanya. Hal itu dibuktikan dengan tindakan dia yang bertapa selama 100 tahun memohon kepada Dewa Brahma (Kekuasaan untuk mencipta segala sesuatu). Rahwana berhasrat menciptakan kenyamanan duniawi terutama kenyamanan atas kekuasaan dan kekayaan. Oleh karena itu dia Ingin sakti luar biasa tidak bisa kalah oleh saingannya. Rahwana menghalalkan segala cara. Rahwana yang juga disebut Dasamuka bisa dimaknai mempunyai sepuluh kepala, sepuluh otak, sangat cerdas dan mempunyai keserakahan yang luar biasa. Rahwana merupakan perwujudan dari sifat agresif. Baca lebih lanjut

Merebaknya Aji Mumpung di Tengah Bangsa Dan Buku Kamasutra

Sepasang suami istri sedang membicarakan protes mogok makan Pak Anand Krishna yang sudah memasuki hari ke 36. (http://freeanandkrishna.com)

Mereka gelisah karena hanya sedikit sekali masyarakat yang peduli, dan mulai hari ini mereka ingin mengungkapkan pandangan-pandangan Pak Anand Krishna tentang kemanusiaan dan kebangsaan. Syukur ada yang tertarik dan membenahi diri, bila tidak ada pun , mereka tidak akan kecewa karena minimal mereka telah bersuara………

Sang Suami: aku baru saja browsing tentang korupsi di negeri kita dan berhenti di berita:

http://cetak.kompas.com/read/2010/10/27/02432065/indeks.korupsi..stagnan

Angka Indeks Persepsi Korupsi Indonesia tahun 2010 tetap 2,8 atau berada di peringkat ke-110 dari 178 negara yang disurvei. Nilai ini sama persis dengan tahun 2009 sehingga bisa dimaknai pemberantasan korupsi di negeri ini jalan di tempat. Nilai Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia sama dengan Bolivia, Gabon, Benin, Kosovo, dan Kepulauan Solomon. IPK Indonesia lebih rendah dibandingkan Singapura (9,3) yang tertinggi di Asia Tenggara, Brunei Darussalam (5,5), Malaysia (4,4), dan Thailand (3,5). Indonesia hanya lebih baik dibandingkan Vietnam (2,7), Timor Leste (2,5), Filipina (2,4), Kamboja (2,1), dan Myanmar (1,4). Stagnannya pemberantasan korupsi disebabkan sistem hukum dan politik di Indonesia masih korup. Anggota DPR, DPRD, dan pemilu kepala daerah harus umbar duit. Pemberantasan korupsi melalui penindakan atau pencegahan juga tidak terintegrasi.

Sang Istri: Mungkinkah ini ada hubungannya dengan kebiasaan bangsa kita untuk menggunakan “aji mumpung”, memanfaatkan peluang selagi ada kesempatan? Aji mumpung adalah “menggunakan peluang yang ada untuk keuntungan diri sendiri”. Aji mumpung untuk menggunakan wewenang, kekayaan, kepandaian, garis keturunan, jalur politik dan segala kelebihan yang dimiliki untuk menguntungkan diri sendiri……..

Sang Suami: Berbagai Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Daerah, Kode Etik, Dewan Kehormatan sudah banyak dibuat, akan tetapi para oknum selalu mencari celah kelemahan dari berbagai peraturan yang ada. Mengapa peraturan kurang efektif membendung aji mumpung? Mengapa?……. mumpung masih menjabat, berupaya mengembalikan investasi yang pernah dikeluarkan untuk memperoleh jabatannya, untuk memperkaya diri, untuk mempertahankan kekuasaan sebelum kekuasaan hilang; mumpung ada aturannya dan paham celah-celah untuk menerobos pagar peraturan; mumpung tersedia anggaran yang dikelola dan pimpinan maklum serta hanya bilang yang penting aman secara administratif; mumpung para pemeriksa anggaran juga mau mengerti; mumpung masyarakat pemilih bodoh atau diam sehingga bisa mengumpulkan dana untuk pemilihan mendatang dan mengisi rekening, nanti kalau sudah mendekati pemilihan masyarakat dapat didekati lagi dengan uang………

Sang Istri: Baginda Rasul memberi nasehat agar manusia berbuat baik: mumpung masih hidup sebelum mati, mumpung masih muda sebelum tua, mumpung masih sehat sebelum sakit, mumpung masih punya sebelum miskin, mumpung masih ada kelonggaran sebelum menderita kesempitan….. Akan tetapi nasehat bijak tersebut cukup dihapalkan dan disuarakan di depan umum, prakteknya mumpung mendapatkan tempat basah, nanti keburu ada mutasi……

Sang Suami: Apakah hal-hal tersebut terjadi karena di dalam diri ada hasrat yang bergelora untuk memuaskan diri pribadi, sehingga ego kita selalu memanfaatkan peluang yang muncul? Dalam buku “Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra”, karya Pak Anand Krishna, terbitan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2004 disampaikan bahwa……. Manusia mewarisi naluri hewani, animalistic instinct, naluri yang hanya berkepentingan dalam diri sendiri. Naluri yang dapat mendesak manusia berbuat apa saja demi keuntungan pribadi. “Nota Sakti” yang sering dikeluarkan oleh para pejabat tinggi, lobbying, korupsi suap-menyuap, penyelewengan, nepotisme, dan masih banyak hal-hal lain semua berasal dari naluri hewani……..  Selanjutnya Pak Anand menjelaskan 7 lapisan kesadaran manusia……. Lapisan Kesadaran pertama, Kesadaran Dasar Manusia, berkaitan dengan “makanan”. Begitu seorang bayi lahir, kesadaran awalnya adalah “rasa lapar”, dan dia mulai mencari makanan. Kesadaran Awal ini oleh para praktisi yoga dikaitkan pula dengan “pembuangan”. Karena itu, secara simbolis diletakkan di sekitar dubur. Ada pemasukan, ada pengeluaran. Binatang akan puas jika diberi makanan apa saja. Sebaliknya, manusia sudah bisa memilih. Mau ini, tidak mau itu. Seseorang yang sangat mementingkan makanan dan dapur, sesungguhnya masih berada pada lapisan kesadaran yang satu ini………..

Lapisan Kesadaran Kedua, Kesadaran Diri Sebagai Energi, berkaitan dengan “seks”. Bayi yang kita pikir “belum tahu apa-apa” bisa main-main dengan alat kelaminnya. Karena itu, Lapisan Kesadaran Kedua ini secara simbolik diletakkan di sekitar alat kelamin. Kebutuhan seks dalam binatang bersifat biologis. Begitu butuh, mereka akan langsung mencari.  Dan asal dapat, entah dari mana dan dari siapa saja, mereka akan menikmatinya. Manusia bisa memilih. Dia bisa menahan diri. Tetapi pada saat yang sama, naluri yang satu ini juga berkembang lebih jauh menjadi “hawa napsu”. Keinginan untuk menimbun harta, untuk memperoleh kedudukan dan ketenaran semuanya masih merupakan pengembangan dari lapisan kesadaran kedua……… Baca lebih lanjut